Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rated :T

Pair :Sasuhina

"Sumimasen!" Perlahan membuka pintu pemeriksaan tadi, Ino melangkahkan kakinya masuk dengan pasti, tapi tanpa di sangka langkah Ino tiba-tiba terhenti ketika melihat Sepasang manusia yang sangat dia kenal sedang duduk di hadapan Shizune yang kini menyerahkan sebuah kertas.

"Anak dalam kandunganmu terlihat sangat sehat." Ucap Shizune pada sepasang manusia di depannya.

"Sasuke-kun! Hinata-chan!" Panggil Ino yang masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar dan lihat saat ini.

《 PLAN 》

Merasakan suara orang memanggil namanya sangat familiar di telinganya, tanpa ragu Hinata mengolehkan kepalanya kearah orang tersebut.

"Ino-chan." Kaget Hinata yang kemudian langsung menolehkan wajahnya kearah Sasuke yang berada di sampingnya.

"Hinata-chan! Bisa kita bicara?" Ajak Ino masih dengan keterkejutannya.

"Sa-sasuke-kun-!"

"Pergilah! Aku akan menunggumu di mobil." Setelah memotong perkataan Hinata, Sasuke langsung keluar dari ruangan tersebuat mendahului Hinata dan Ino.

"Apa maksud dari semua ini Hinata?" Selidik Ino ketika dirinya dan Hinata sudah berada di bangku diluar klinik yang mereka datangi.

"Kenapa kau ada di sini Hinata? Bukankah seharunya kau ada di Suna. Dua minggu lalu Kakashi sensei mengatakan jika kau mendapat biasiswa di Suna." Lanjut Ino dengan menampakkan wajah bingungnya.

"Kupikir ponselmu yang tidak bisa dihubungi itu karenakan kau ingin fokus belajar? Tapi apa yang sekarang ku lihat Hinata, kau dan Sasuke-kun... dokter kandungan?" Bingung Ino yang mulai frustasi memikirkan banyaknya pertanyaan di kepalanya yang menginginkan jawaban.

"Go-gomen Ino-chan." Hinata membuka suara dengan wajah menunduk, untuk berusaha menyembunyikan wajah sedihnya sekaligus sekuat mungkin menahan air mata untuk tidak membasahi pipinya.

"Jangan meminta maaf Hinata, kau cukup menjelaskan semuanya agar aku mengerti." Tuntut Ino dengan menggoyangkan bahu Hinata.

"Hiks! Ino-chan Gomen, tapi aku tidak bisa-"

"Apa yang tidak bisa kau jelaskan Hinata." Potong Ino dengan berusaha sekuat mungkin menahan emosinya, ketika Hinata masih setia akan kebungkamannya.

"Jika kau terus diam seperti ini, itu sama saja jika kau telah membenarkan semua pemikiran terburukku tentangmu Hinata." Lanjut Ino dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

"Asal kau tahu Hinata, Hari sebelum kau menghilang dari sekolah Sakura sempat melihatmu berpelukkan dengan Sasuke di tangga UKS, dan saat itu aku sama sekali tidak percaya dengan apa yang Sakura katakan, karena aku tau persis jika kau tidak mungkin bisa menghianati Sakura yang sudah sangat lama menyukai Sasuke." lanjut Ino dengan sedikit mulai terbawa emosi.

Perkataan Ino membuat air mata Hinata jatuh seketika.

"Tapi semua pendapatku seketika berubah, ketika aku melihat kau dan Sasuke-"

"Ino-chan Hiks! Hiks! Semua itu tidak seperti yang kau pikirkan." Potong Hinata dengan langsung memeluk Ino.

"Jika tidak! Maka jelaskan semuanya padaku Hinata." Tuntut Ino dengan seketika melepaskan pelukkan Hinata darinya dengan pandangan serius.

Perlakuan kasar Ino membuat Hinata terkejut laur biasa.

"Jika kau terus diam seperti ini tampa mengatakan apapun Hinata, aku akan sangat membencimu, karena itu artinya kau memang sudah menghianati persabatan yang sudah kita jaga selama in-"

"Se-semuanya hisk! terjadi begitu saja Ino-chan, ma-malam itu Sasuke-kun meminum obat yang kau berikan padaku dan kami-"

"Ja-jangan katakan jika kalian-," perkataan Ino seketika terhenti ketika melihat anggukan kepala dari Hinata.

"Ke-kenapa kau tidak menceritakan lebih awal semua ini padaku Hinata." Ino Menatap Hinata dengan pendangan bersalah.

"Aku sudah mencobanya, tapi ketika aku tau jika kau tidak datang malam itu, aku memutuskan untuk merahasiakan semuanya, dan bersikap seolah-olah tidak ada yang terjadi, tapi! Tapi semuanya tidak semudah yang ku pikirkan karena ternyata aku hamil." Menuduk Hinata dengan seketika kedua tanganya memegang perutnya yang masih terlihat rata.

"Aku mengerti sekarang kenapa kau tidak ingin menjelaskan apapun padaku Hinata, karena kau tidak ingin aku merasa bersalah akan keadaanmu sekarang ini yang tengah hamil akibat permintaan bodohku saat itu." Sadar Ino dengan seketika mengempalkan kedua tanganya untuk memendam rasa marah pada dirinya sendiri.

"Bodohnya aku! Seharusnya aku tau jika kau pasti berhasil melakukannya karena kau sangat peduli dengan Sakura sama seperti aku peduli dengannya. Dan aku benar-benar orang jahat! Dimana Bisa-bisanya aku sempat berpikir buruk tentangmu. Seharusnya kau marah padaku Hinata! Bukannya meminta maaf hiks!" Lanjut Ino dengan tangisan yang tidak bisa ditahanya.

"Kau tidak salah Ino-chan." Sambung Hinata dengan seketika menyentuh bahu Ino sekaligus menatap Ino dengan senyuman menangkan.

"Hinata-chan gomen hiks! Hisk! Jika saja aku tidak pernah merencanakan hisk! rencana bodoh itu semua ini tidak akan terjadi." Tangis Ino semakin menjadi-jadi.

"Ino-chan jangan menyalahkan dirimu sendiri." Memegang erat tangan Ino yang bergetar, Hinata sekaligus menghapus jejak air mata di pipi Ino.

"Sekarang bagaimana denganmu? Apa Sasuke bertanggung jawab atas keadaanmu ini?" Berusaha menghentikan tangisannya, Ino menatap Hinata dengan padangan sedikit ragu.

"Ka-kami sudah menikah." Jawab Hinata yang menatap Ino dengan takut-takut

"Sukurlah!" Lega Ino. "Tapi Hinata, apa Sasuke-kun bersikap baik padamu saat kau menjadi istrinya?" Selidik Ino.

"Sa-sasuke-kun baik. Ta-tapi Ino-chan! Kau tidak marah ka-karena aku sudah menikah dengan Sasuke-kun?" heran Hinata dengan menatap Ino bingung.

"Kenapa aku harus marah? Sudah seharusnya Sasuke menikahimu Hinata, malah aku akan sangat marah jika Sasuke-kun tidak menikahimu." Lega Ino.

"Ta-tapi bagaimana dengan Sakura-chan?" Khawatir Hinata.

"Hah! Kau benar Hinata, tapi tenanglah! Aku kan mencoba menjelaskannya, jadi kau jangan khawatir." Senyum Ino menatap Hinata dengan yakin.

"Walaupun aku tidak yakin Sakura akan mengerti, tapi aku akan tetap berusaha sekeras mungkin Hinata" batin Ino

"Kita tau bagaimana sikap Sakura-chan jika menyangkut Sasuke-kun, jadi Ino-chan tidak perlu meyakinkannya Sakura-chan untuk ini, Ino-chan hanya perlu merahasiakan semua ini, karena-" ada jeda sebelum Hinata melanjutkan kalimatnya.

"Ketika anak ini lahir, aku akan pergi tanpa di ketahui siapapun, jadi Sakura-chan tidak aka-"

"Apa yang kau katakan Hinata, hilangkan semua pemikiran bodoh itu! Jika bukan untukmu lakukan untuk anakmu, kau dan Sasuke tetap harus bersama. Mengenai Sakura kau hanya perlu diam sampai aku berhasil meyakinkan Sakura." Lanjut Ino meyakinkan.

"Tapi, sampai kapan Ino-chan?"

"Sudah Hinata! Kau cukup fukos pada anakmu, mengenai Sakura aku yang akan mengenanganinya. Ahh aku lupa! aku ada urusan jadi harus segera pergi." bohong Ino ketika merasakan tidak bisa lagi menjawab pertanyaan Hinata.

"Gomen Hinata-chan, dan ingat jangan pernah menghindari ku lagi.

Kita harus saling menelpon ya Hinata-chan." Sekilas memeluk Hinata, Ino melambaikan tangannya ketika sudah beberapa langkah meninggalkan Hinata.

"Baguslah kau menyadari kesalahanmu, jika saja kau berani menyalahkan Hinata, kau tidak akan tau apa yang akan terjadi padamu Yamanaka." gumam Sasuke yang semakin meyembunyikan dirinya di balik pohon ketika melihat Ino yang sudah meninggalkan Hinata.

, KHS ,

"Sakura-chan! Apa yang sedang kau lakukan?" Sapa Ino ketika Sakura sudah berada di depan loker Sasuke.

Sekilas menatap Ino, Sakura kembali memperhatikan loker Sasuke yang ada di depannya.

"Sakura-chan jangan katakan jika kau ingin menaruh surat cintamu ke loker Sasuke lagi." Khawatir Ino dengan menatap Sakura ragu.

"Kali ini tidak Ino-chan." Respon Sakura.

"Syukurlah! Apa jangan-jangan Sakura sudah mulai menyerah terhadap Sasuke-kun." Batin senang Ino dengan melemparkan senyumannya pada Sakura.

"Kau melakukan hal yang benar Sakura-chan, sudah seharusnya kau berhenti menyukai Sasuke-kun." lanjut Ino dengan menghadapkan tubuh Sakura padanya.

"Apa maksudmu Ino-chan? Aku memang tidak akan meletakkan surat ini di loker Sasuke-kun, karena... kau lihatlah sendiri." Sakura mengahadapakan wajah Ino keloker Sasuke.

"Kau lihat sendirikan, sudah terlalu banyak surat didalamnya jadi tidak mungkin jika aku meletakkan suratku juga."

Mendengar semua penjelasan dari Sakura membuat Ino mengacak rambutnya frustasi.

"Ada apa denganmu Ino-chan." heran Sakura ketikamelihat tingkah aneh sahabatnya.

"Tidak papa, aku akan kekelas saja." Setelah mengatakan itu Ino meninggalkan Sakura sendurian.

"Bagaimana caraku meyakinkan Sakura." Batin Ino saat menuju kelasnya.

《 SKIP TIME 》

"Sasuke-kun apa kau ada waktu akhir pekan ini?" Menatap Sasuke penuh harap, Sakura memainkan tasnya ketika melihat Sasuke akan keluar kelas.

Tampa peduli akan perktaan Sakura, Sasuke terus melangkah menuju pintu keluar. Tapi tiba-tiba langkahnya seketika terhenti saat merasakan tangannya tengat di tahan seseorang.

"Sasuke-kun! Berkencanlah denganku." Ajak Sakura dengan memamerkan senyumanya sekaligus mempererat pegangnya pada tangan pada Sasuke.

"Cih! Sadar lah Haruno, aku tidak akan pernah tertarik padamu." Menatap tajam kearah Sakura, Sasuke langsung menarik tangannya dengan paksa agar tangan Sakura terlepas darinya.

"Tapi Sasu-"

"Bukankah aku sudah pernah menolakmu? Setidaknya milikkilah harga diri sebagai seorang wanita." Kesal Sasuke dan langsung meninggalkan Sakura begitu saja.

"Sakura-chan!" Panggil Ino yang juga berada di kelas tersebut.

"Syukurlah seluruh murid sudah pulang, setidaknya Sakura-chan tidak terlalu malu dengan penolakkan Sasuke barusa, tapi! Sepertinya ini waktu yang tepat untuk menyakinkan Sakura untuk berhenti menyukai Sasuke." Batin Ino ketika melihat wajah sedih Sakura.

"Sakura-chan sebaiknya kau berhenti saja menyukai Sasuke-kun yang selalu mengatakan hal kasar padamu." Sedikit keraguan, tapi Ino berusaha mulai meyakinkan Sakura.

"Hentikan pemikiranmu itu Ino, asal kau tau saja kenapa aku sampai ingin bunuh diri karena Sasuke-kun. Itu semua karena penolakkan Sasuke jauh lebih menyakitkan dari pada saat ini, jadi untuk perlakukan Sasuke-kun yang tadi tidak akan bisa membuatku menyerah begitu saja." Mantap Sakura dengan ekspresi wajah yang mulai tegar.

"Tapi dia selalu mengatakan hal kasar pada mu Sakura-chan sebagai tanda penolakkannya." lanjut Ino.

"Sasuke-kun memang selalu mengatakan hal kasar, dan semua itu juga dia lakukan pada semua gadis yang mendekatinya, itu artinya Sasuke-kun tidak membenciku, dia hanya belum menyukaiku. Jadi selama dia tidak membenciku aku akan selalu berusaha agar Sasuke-kun bisa menyukaiku." Antusias Sakura dengan menyeringai

"Ta-tapi Sakura-chan! Bagaimana jika Sasuke-kun bisa bersikap lembut terhadap wanita lain." Gugup Ino.

"Maksudmu apa Ino-chan! Aku tidak mengerti?"

"Mi-misalnya Se-seperti mengantar seorang wanita ketempat tertentu." jelas Ino dengan menatap Sakura dengan selidik.

"Itu tidak mungkin Ino-chan, karena setauku Sasuke-kun tidak pernah berkencan dengan siapapun." jelas Sakura dengan percaya diri.

"Tapi bagaimana jika seandainya Sasuke-kun sudah menikah dan istrinya sedang hamil, apa yang akan kau lakukan?"

"Ha.. ha.. ha. Apa yang sedang kau bicarakan Ino, semua itu tidaklah mungkin." Sakura menertawakan pertanyaan Ino yang di anggap Sakura sangat mustahil terjadi.

"Ayolah Sakura kau cukup jawab saja pertanyanku." tuntut Ino.

"Baiklah! jika memang semua itu benar-benar terjadi, aku akan mendatangi wanita tersebut dan langsung mengancamnya untuk menjauhi Sasuke-kun, kau puas Ino." sebal Sakura dengan berjalan keluar dari kelas mereka mendahuli Ino.

"Bukankan wanita itu sedang hamil, apa kau masih tetap akan mengancamnya seperti itu?" Setengah berlari Ino kembali menyusul Sakura.

"Iya! Aku akan tetap melakukannya, jika perlu aku akan menggunakan anaknya sebagai ancaman." lanjut Sakura yang langsung mendapat tatapan terkejut dari Ino.

"Sudahlah Ino, hentikan semua pertanyaan bodohmu itu, aku harus segera pulang karena sekarang aku sudah sangat terlambat. Ja Ino-chan." Sakura langsung berlari menjahui Ino dengan melambaikan tanganya pada Ino yang masih terdiam mematung.

"Gomen Hinata-chan! Aku tidak bisa meyakinkan Sakura-chan, karena aku juga tidak mungkin mengatakan jika kaulah wanita yang kubicarakan" sesal Ino dengan berjalan, keluar dari sekolahan tersebut.

Kediaman Ucihiha

Apa Ino-chan berhasil meyakinkan Sakura-chan?" Gumam Hinata dengan menatap dirinya di cermin kamar mandi.

"Ku harap Ino-chan berhasil meyakinkan Sakura-!" Potong Hinata dengan menggelengkan kepalanya

"Apa yang baru saja aku katakan." mempererat kaitan handuk di tubunya, Hinata masih setia menatap wajahnya di cermin

"Sudahlah! Aku harus segera memakai paka-"

"Masih betah berdiri di sana Hime!"

Ucap Sasuke yang sedang bersender di pintu masuk kamar mandi.

Mendengar suara barinton Sasuke seketika menghentikan perkataan Hinata, dengan refleks Hinata langsung menutupi tubuhnya dengan kedua tangan mungilnya.

"Sasuke-kun!" Kaget Hinata dengan wajah memerahnya.

"Ke-kenapa Sasuke-kun tidak mengetuk dulu." Gugup Hinata saat sudah berdiri membelakangi Sasuke.

"Ini kamarku, jadi untuk apa aku mengetuk pintu." mendekati Hinata yang masih membelakanginya, Sasuke memposisikan wajahnya tepat pada telinga Hinata.

"Ingin mandi bersama hm!" Bisik Sasuke dengan suara beratnya.

"A-a-aku su-sudah mandi Sasuke-kun" gugup Hinata dengan wajah yang sudah sepenuhnya memerah.

"A-aku harus segera memakai pakainku" lanjut Hinata dan langsung meninggalkan Sasuke di kamar mandi.

"Apa yang baru saja Sasuke-kun katakan." Menggelengkan kepalanya Hinata berusaha menghilangkan pemikiran diotaknya.

"Hah! Dimana aku meletakkan pakainku, kenapa tiba-tiba aku menjadi lupa" dengan terus berjalan di sekitar tempat tidur, Hinata terus mencari keberadaan bajunya.

"Mencari ini Hime" mengangkat baju di tangannya, Sasuke keluar dari kamar mandi dan mendekati Hinata.

"Bajuku!" Spontan Hinata yang ingin mengambil bajunya di tangan Sasuke tapi gerakannya terhenti ketika Sasuke tiba-tiba mengangkat bajunya lebih tinggal.

"Sasuke-kun." panggil Hinata penuh tanya.

"Kenapa? Kau menginginkannya" seringai Sasuke dengan langsung mendapat anggukan kepala dari Hinata.

"Tapi aku lebih suka melihatmu dengan menggunakan handuk saj-"

Cklek

"Baka Ototou kau ada di dalam kan" ucap Itachi dengan langsung membuka pintu kamar Sasuke.

Melihat pintu kamar yang terbuka dengan sigap Sasuke membalik tubuhnya membelakangi pintu sekaligus menarik Hinata dalam pelukkannya agar tidak ada yang bisa melihat tubuh Hinata untuk saat ini.

"Kau tidak bisa mengetuk terlebih dahulu baka Aniki" geram Sasuke yang semakin meyembunyikan tubuh Hinata dengan tubuhnya.

"Ayolah tidak perlu marah seperti itu, aku mana tau kalian sedang bermesraan." Sekilas menyeringai Itachi kembali melanjutkan kalimatnya.

"Turunlah kebawah ada hal penting yang ingin ku sampaikan." setelah mengatakan kalimat terakhirnya, Itachi langsung menutup pintu kamar SasuHina tersebut.

"Hampir saja" lega Sasuke dengan melepas pelukkannya pada Hinata yang sekarang wajahnya sudah sangat memerah.

"Pakailah, kita kebawah bersama setelah aku mandi" memberikan pakaian yang di pegangnya pada Hinata, Sasuke langsung pergi kekamar mandi.

"Sepertinya Sasuke-kun sudah akan selesai mandi, aku harus menyiapkan baju ganti untuknya." perlahan membuka lemari Sasuke dan Hinata mengambil baju di dalamnya dan ketika Hinata ingin mengambil celana di lemari tersebut, tiba-tiba perhatian Hinata tertuju pada sebuah kamera yang dia kenal.

"Bukankah ini kamera milik Ino-chan." Heran Hinata ketika sudah mengeluarkan kamera itu dari lemari Sasuke.

Dengan sedikit ragu Hinata membuka kamera tersebut untuk meyakinkan dirinya jik itu bukan kamere milik Ino.

Klik!

Hinata seketika membulatkan matanya saat melihat foto yang ada di kamera tersebut.

TBC

Mohon maaf jika ada ketidak sengajaan typo bertebaran

Arigatou yang sudah nyempatin membaca

06-07-2018

See You Next Chapter