Disclaimer: Masashi Kishimoto
Warning: OOC, OC, AU, cerita pasaran, alur ngebut, cerita GaJe, sedikit incest, dll
Love you, Onii-san
chapter 2
Normal POV
Hyuuga Hinata.
Nama gadis yang merangkap sebagai atasan sekaligus rekan kerja Naruto itu adalah Hyuuga Hinata. Naruto sedikit tertegun, namun ia buang jauh-jauh seluruh rasa gugupnya, kini ia harus bersikap profesional dan sopan terhadap rekan kerjanya ini. "Ah, baiklah Hyuuga-sama, sebelumnya aku minta maaf terhadap dua hal, pertama karena aku menabrakmu kemarin, kedua atas keterlambatanku hari ini."
"Tidak masalah, aku sama sekali tak merasa terganggu, lagipula aku menikmati waktu saat menunggumu." sanggah gadis Hyuuga itu dengan sopan disertai senyuman hangat.
Naruto menjadi salah tingkah dibuatnya, ia menggaruk bagian belakang kepalanya yang sebenarnya tidak gatal, konyol melihat sikap Naruto seperti itu. Naruto pun membuka laci meja kerjanya, mencari berkas-berkas yang menurutnya penting, "Hyuuga-sama ini laporan perusahaan bulan ini, sengaja aku simpan di laci mejaku agar aku tidak lupa mengambilnya." ujar Naruto seraya menyerahkan berkas itu.
"Ah, satu lagi, jangan panggil aku dengan sebutan itu, aku merasa seperti ayahku jika kau panggil seperti itu, panggil saja aku dengan nama depanku, Hinata." celoteh gadis Hyuuga itu dengan detail.
"Baik Hinata-sama." ucap Naruto.
"Tidak perlu terlalu resmi, Hinata saja cukup." ujar gadis itu.
"T-tapi," Naruto hendak menolak, namun dipotong oleh anak atasannya itu.
"Cukup Hinata saja, dari dulu aku tidak suka panggilan yang terlalu resmi."sang gadis cukup keras kepala dengan kemauannya.
Naruto tak ambil pusing, ia lebih memilih untuk melanjutkan tugas kerjanya yang menumpuk, "baik, Hinata-san, apakah seperti itu sudah benar?" tanya Naruto yang kini sedang memfokuskan dirinya pada layar laptop. "Ya, seperti itu lebih baik, ah, aku lupa, mohon kerja samanya Naruto-kun." ujar gadis yang dipanggil Hinata ini seraya membungkukan tubuhnya.
Naruto agak heran, pemuda bersurai kuning itu tidak terbiasa diberi hormat oleh seseorang yang derajatnya jauh di atas dirinya. Naruto menjawab dengan kaku, ia bangkit dari kursinya dan ikut membungkukan tubuh, "aku juga, mohon kerja samanya Hinata-san, mulai hari ini kita bisa saling membantu dalam pekerjaan." ujarnya dengan sopan.
...
Sementara itu Naruko, sang adik masih dalam perjalanan menuju sekolahnya, ia berjalan seorang diri, pikirannya jauh berangan dalam nalar yang luas. Ia dan kakaknya, Naruto, sejak kedua orangtuanya meninggal, kian hari menjadi begitu dekat, perasaannya terhadap sang kakak telah lebur, bukan lagi rasa sayang seorang adik kepada kakaknya, melainkan rasa sayang dari wanita kepada pria, seketika ia menggelengkan kepalanya.
"Bakka, apa yang kupikirkan, dia adalah kakakku.." ucap Naruko dengan lesu.
Ia berjalan dengan santai, seketika ada yang menepuk pundaknya, ia pun menoleh ke samping, sosok bersurai pink nan mempesona itu berusaha menegurnya. "Naruko-chan, kau sedang berkhayal ya?" tanya orang itu, Naruko merasa senang karena yang menegurnya itu teman sekelasnya yang, bahkan lebih dari itu, ia adalah teman dekatnya.
"Aaah, Sakura-chan, tumben sekali kau datang pagi." ujar Naruko.
"Haaaaa? apa katamu? bukannya kamu yang tumben datang pagi? biasanya kan kau selalu telat." sanggah Sakura, teman dari Naruko tersebut.
"Heei, jangan cemberut begitu dong, aku kan cuma bercanda Sakura-chan hehehe." ujar Naruko kembali, berusaha menenangkan Sakura.
"Err, ngomong-ngomong Sakura-chan, aku ingin meminta pendapatmu atas suatu hal, nanti akan kubicarakan setelah pulang sekolah." lanjut Naruko yang kini berbicara dengan serius.
"Huuuh, kamu ini, pasti kalau ada maunya saja berbicara serius denganku kan?" tanya Sakura memastikan.
"Nanti aku traktir dessert terbaru di kafe dekat stasiun deh hehehe." Naruko memohon dengan sangat.
"Bagaimana kalau dirumahmu saja, siapa tau aku bisa bertemu dengan kakakmu yang tampan itu." ujar Sakura menawarkan.
"Enak saja, tidak bisa, kakakku ada lembur hari ini, jadi ia pasti akan pulang larut malam." Naruko seperti tidak rela kakaknya dikagumi oleh temannya sendiri.
"Huuh kau ini, seperti biasa, selalu mengatakan kalau kakakmu tidak berada di rumah, dasar peliit!" ejek Sakura kepada Naruko. Akhirnya mereka pun saling mengejek sampai masuk ke sekolah.
~oOo~
Normal POV
"Naruto-kun, sudah waktunya makan siang, kau tidak mau istirahat terlebih dahulu?" tanya Hinata pada Naruto.
Naruto yang masih asyik menatap layar laptopnya diam tak merespon pertanyaannya, namun ia tetap sabar, dan kembali bertanya, "Naruto-kun, kau tidak mau mengambil waktu istirahatmu?" tanyanya sekali lagi. Dan kali ini pandangan dari pria bersurai kuning itu berpindah ke gadis di depannya itu, "ah yaa, duluan saja Hinata-san, masih banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan." jawab Naruto sembari terssenyum.
"Baiklah kalau begitu, aku makan siang duluan, Naruto-kun." ujar Hinata seraya keluar ruangan dan menutup pintu itu.
Naruto masih fokus akan pekerjaannya, disampingnya tampak tumpukan berkas-berkas perusahaan yang harus Naruto kerjakan, jemari Naruto saling menari berirama menekan keyboard laptop. Ia benar-benar tak bermain-main jika menyangkut pekerjannya, ia tak mau atasannya kecewa, sebab ia masih mempunyai beban tanggungan, ya, ia harus bisa menghidupi adiknya dengan segala kebutuhannya. Seketika matanya tertuju pada bingkai foto yang berdiri di pojok meja kerjanya, bingkai foto yang menyimpan potret ia dan keluarganya secara utuh, sudah sangat lama sejak terakhir Naruto merasakan kehangatan keluarga, kini ia harus berjuang mati-matian.
DRRRRT
Tiba-tiba saja ponselnya berbunyi, segera ia buka ponselnya itu, ternyata itu pesan dari Naruko yang mengabarkan bahwa akan ada darmawisata dari sekolahnya. Naruto pun menepuk keningnya, keluar uang lagi, pikirnya, selama beberapa bulan ini beban tanggungannya jadi semakin besar, salahkan Naruko karena mempunyai sifat hedon yang tinggi, ditambah lagi dengan darmawisata yang pasti membutuhkan uang yang tidak sedikit.
Sudah agak lama sejak Hinata menyuruh Naruto untuk beristirahat, namun pria ini tak kunjung berhenti menyelesaikan pkerjaannya. Ia bagaikan robot yang terlalu memaksakan diri, namun dengan pikiran tegas ia mengelabuhi rasa lelahnya, dan seketika pipinya terasa dingin, sedingin es. "Aku membelikanmu sekaleng soda dan bento, jangan memaksakan dirimu, sebuah orang memiliki titik lelah."
"Ah, terimakasih Hinata-san." Naruto pun mengalah, ia memilih untuk berhenti sejenak, dan berdiri dari kursi kerjanya untuk merenggangkan badan.
Naruto segera membuka bento serta memakannya dengan lahap, Hinata yang melihatnya hanya tersenyum tulus, ia merasa bahagia karena telah berbuat hal baik. Naruto yang sebenarnya terasa sangat lapar ketika itu, berusaha terlihat sopan di depan anak dari atasannya itu. Setelah bentonya habis, ia membuka kaleng soda dan meminumnya, ia benar-benar bersyukur saat ini.
"Gochisousamadeshita..." ucap Naruto.
"Naruto-kun, ayo kita lanjutkan lagi." ajak Hinata yang kini beranjak ke meja kerjanya.
"Hmm.." sahut Naruto menanggapinya.
...
Di Sebuah Kafe
"HAAAAAAA?"
Sakura kaget bukan main setelah mendengar pernyataan dari sahabatnya, pernyataan yang benar-benar baru diketahuinya beberapa detik yang lalu. Ia berpikir bahwa sahabatnya ini sudah gila, ia bahkan tak memikirkan hubungan darah yang ia punya. Sakura yakin, Naruko sudah tak memiliki akal dan pikiran lagi, ia bahkan hampir saja menganggap sahabatnya itu gila.
"A-apa benar yang kau katakan itu?" Sakura berusaha memastikan.
"Yang mana?" Naruko malah balik bertanya.
"Yang barusan kau katakan itu, dasar bakka.." Sakura agak gusar dengan pikiran Naruko yang lamban.
"Hmm, itu semua benar, sepertinya aku mulai mencintai kakakku sendiri, bukan sebagai seorang adik yang mencintai kakaknya, tapi lebih sebagai wanita ke lelaki yang disukainya." ungkap Naruko jujur.
"Bagaimana bisa? dan sejak kapan kau merasa seperti itu?" tanya Sakura yang sifat ingin tahunya menyeruak keluar.
"Entahlah aku tak tahu, tapi bersama onii-san aku bisa merasa nyaman, aku baru menyadarinya baru-baru ini." jawab Naruko jujur.
Sakura diam sejenak, menatap sahabatnya itu dengan tatapan tak percaya, kalau dipikir-pikir memang wajar, kakak Naruko adalah seorang pekerja keras yang rela menyia-nyiakan kesempatan bersenang-senangnya yang biasa dilakukan oleh pemuda yang seumuran dengannya hanya untuk bekerja dari pagi hingga malam. Lagipula ia lumayan tampan, bahkan sampai membuat adiknya sendiri menyukai dirinya, sungguh luar biasa.
"Tapi menurutku, kau tidak boleh mencintainya, bukannya melarangmu, tapi dia kan kakakmu sendiri.." ujar Sakura berusaha mengingatkan sahabatnya.
"Aku tahu, maka dari itu aku meminta saranmu untuk menghilangkan perasaan ini, aku mohon Sakura-chan." pinta Naruko dengan tatapan memelas.
Sakura menghela napasnya, mau tak mau iya harus membantu temannya itu untuk melepaskan perasaan yang salah. "Baiklah, namun aku ingin kepastian tekadmu, Naruko-chan." pinta Sakura, yang kini terlihat menghabiskan sisa makanannya, ia merasa harus memutar otak dalam hal ini. Sementara Naruko memejamkan matanya, ia berusaha membulatkan tekadnya, ia ingin yang terbaik untuk dirinya jugak kakaknya.
"Ya, aku akan berusaha.." ucap Naruko singkat.
~oOo~
Normal POV
Malam Hari
Naruto merenggangkan pergelangan tangannya, seharian bekerja membuatnya merasa pegal-pegal, ia keluar dari kantornya dengan tampang lesu. Dari kejauhan ia melihat anak atasannya yang seharian ini menemaninya sedang berdiri, entah apa yang sedang dilakukannya. Naruto mempercepat langkahnya, berusaha menegur Hinata, walau dengan perasaan agak canggung.
"Hinata-san?" tegur Naruto dengan sedikit ragu.
"E-eh? Naruto-kun?" tentu saja Hinata kaget.
"Apa yang sedang anda lakukan? menunggu jemputan?" tanya Naruto penasaran.
"T-tadinya begitu, namun setelah kutelepon, ternyata supirku sedang sakit, aku tidak tega, sehingga aku bilang bisa pulang sendiri, padahal aku baru kembali ke Jepang beberapa minggu dan banyak jalan yang aku lupa.." Hinata mencurahkan seluruh bebannya.
"Hmmm,, bukankah mansion keluarga Hyuuga sangat jauh dari sini?" tanya Naruto yang juga bingung dengan keadaan ini.
"T-tidak, sekarang ini aku tinggal di Apartement of Konoha, jadi tidak terlalu jauh." sanggah Hinata.
"Apartement of Konoha? itu tidak begti jauh dari rumahku, kita searah." ujar Naruto.
"Kau tahu jalan kesana?" tanya Hinata memastikan.
"Tentu saja, aku kan setiap hari selalu melewatinya." ujar Naruto dengan mantap.
Akhirnya Hinata pun setuju untuk pulang bersama Naruto, hitung-hitung dia bisa mengenal lebih jauh rekan kerjanya ini, karena pelajaran yang ia dapat selama ia kuliah di luar negeri adalah, jadikan rekan kerja sebagai teman. Mereka berjalan bersama, menuju stasiun terdekat, ada beberapa topik yang mereka bicarakan, kebanyakan masalah pekerjaan, desir angin mewarnai perjalanan mereka, rembulan benderang memantau mereka.
...
Di kediaman Namikaze
Malam kala itu sangat membosankan bagi Naruko, setelah sore tadi ia mencurahkan segala beban hatinya pada Sakura, dan sahabatnya itu berjanji akan membantunya. Kini ia seorang diri di rumah, setelah selesai beres-beres rumahnya, kini ia beranjak untuk membuat makan malam. Apa makanan yang tepat untuk menyambut kakaknya nanti? ia sendiri pun masih bingung, ia pun membuka kulkasnya, kosong.
"Aaaaaaah gawaaat, aku lupa belanjaaa!"
Naruko meremas rambutnya, ia kesal dengan kecerobohannya sendiri, buru-buru ia ke kamarnya dan mengambil dompetnya, kemudian ia segera menuju minimarket terdekat, dalam perjalanan memikirkan masakan apa yang enak untuk makan malam kali ini. Ia berjalan dengan amat tergesa, ia merogoh sakunya dan mengambil ponsel, kemudian menelepon kakaknya.
"Moshi-moshi, Nii-san, apa kau akan lembur lagi?" tanya Naruko segera sesaat setelah tersambung.
"Naruko? tidak, aku tidak lembur, aku sedang berada di kereta." jawab Naruto di sebrang sana.
"Disana Nii-san sudah makan belum?" tanya Naruko lagi.
"Kebetulan aku belum ada makan malam sama sekali, apa kau sedang memasak, Naruko?" Naruto balik bertanya.
"Hmmm, aku sedang belanja untuk makan malam." jawab Naruko.
"Eeeh? baru belanja sekarang? yang benar sajaaaa..." protes Naruto.
"Maaf, aku ini kan sedikit pelupa." ujar Naruko dengan nada sedikit rasa bersalah.
"Haaaaah, ya sudah, mau bagaimana lagi? kau beli yang ringan-ringan saja." usul Naruto.
"Baiklah, mungkin aku akan memasak okonomiyaki saja." Naruko pun akhirnya memutuskan.
"Ya sudah, tidak apa-apa.."
"Arigatou Nii-san hehehe." ujar Naruko seraya menutup ponselnya.
Naruko kembali berjalan dengan riang sambil diiringi beberapa siulan pelan, ia ingin mengejutkan kakaknya dengan kemampuan memasaknya yang sudah meningkat. Perasaan yang tumbuh dihatinya, bukan tanpa sebab, ia telah melihat perjuangan kakaknya demi dirinya, apa yang telah sang kakak korbankan demi dirinya. Awalnya hanya sebatas rasa kagum, kemudian meningkat ke rasa suka, hingga akhirnya ia benar-benar menyayanginya, walau ia tahu itu salah.
~oOo~
Normal POV
Naruto dan Hinata keluar dari stasiun yang walaupun telah larut malam masih padat dengan pengunjung, mereka lelah setelah lama berdesak-desakan. "Apartement of Konoha tidak jauh dari stasiun ini, bahkan dengan berjalan kaki pun bisa." jelas Naruto yang sudah hapal betul daerah sekitar sini. Hinata hanya mangut tanda mengerti.
"Bagaimana kalau kita mencari tempat makan dahulu, sepertinya aku sudah mulai lapar." ajak Hinata.
"T-tidak terimakasih, adikku sedang membuat makan malam di rumah." tolak Naruto secara halus.
"Waah, adikmu bisa memasak?" tanya Hinata spontan.
"Hmm tidak terlalu pintar, namun setidaknya bisa menhemat keuangan kami hehehe." ujar Naruto dengan sedikit malu.
"Kau sungguh beruntung, berbeda sekali dengan adik perempuanku yang sangat tomboy." Hinata bicara dengan sebuah senyuman hangat.
Naruto sedikit menggaruk kepalanya, ia merasa canggung dengan pujian tersebut, yang bahkan sebenarnya tidak terlalu benar. Ide datang dari kepala Naruto, mungkin saja atasannya ini ingin mencoba masakan adiknya, mungkin saja ia akan suka, Naruto hanya berniat untuk mengajak Hinata makan, tidak ada niatan yang lebih, bahkan untuk merayu saja tidak terpikir olehnya, namun ini akan menjadi awal dari perkara yang panjang.
"Hinata-san, bagaimana kalau kita makan dirumahku saja?" tawar Naruto.
"K-kau t-tidak keberatan?" tanya Hinata.
"Tentu saja tidak, lagi pula rumahku tidak jauh dari apartemenmu, kau bahkan bisa pulang lebih cepat lewat rumahku." jawab Naruto dengan hangat.
Beberapa detik, beberapa detik mata Hinata terpaku pada wajah Naruto, entah apa yang dipikirkannya, namun yang pasti beberapa detik itulah yang akan mengubah persepsi Hinata tentang Naruto. Gadis bersurai indigo itu pun kemudian menundukan pndangannya, masih abstrak apa yang ada dalam pikirannya, hingga kemudian tangan Naruto menyentuh pundaknya.
"Hinata-san? kau tak apa?" tanya Naruto.
"A-aku tak apa." jawab Hinata berusaha terlihat tak ada masalah.
"Bagaimana? mau makan malam di rumahku?" tanya Naruto memastikan.
"Hnn, baiklah Naruto-kun." akhirnya Hinata bersedia.
...
Di kediaman Namikaze
Naruko baru saja selesai membersihkan dapur yang kotornya bukan main setelah ia selesai memasak, yang tadinya seperti kapal pecah, kini dapurnya sudah sangat rapi. Naruko melepas celemek serta menyeka keringatnya, pada saat itu ia nampak terlihat sexy dengan tubuh yang proporsional. Ia pun beranjak ke meja makan, menata piring serta peralatan makan lainnya, serta menata okonomiyaki yang ia buat ke dalam masing masing piring.
"Semoga Nii-san suka hihihi." ujarnya dengan senyuman.
"Aah, lebih baik aku mandi terlebih dahulu." lanjutnya lagi.
Akhirnya pun ia menggunakan waktu luangnya untuk mandi, setelah seharian Naruko beraktivitas, ia pun muli menyalakan shower, dan mengalirkan air ke sekujur tubuhnya. Segar, hanya itulah kata yang terlintas dalam benaknya, ia tak pernah merasakan perasaan sedalam ini, sampai-sampai air matanya pun mengalir pelan, pikirannya menerawang ke masa yang telah lalu.
Sekelebat bayangan tentang masa-masa kecilnya dulu, ketika ia menjadi gadis paling lemah dikelas, hanya tangan kakaknya yang mengenggamnya dan membawanya bangkit. Kakaknya yang selalu periang, beda dengannya yang selalu murung, ketika itu yang selalu memberi semangat adalah keluarganya, namun kini, ia harus kembali murung, walau dibalut dengan senyum cerianya...
Ah... Naruko menggelengkan kepalanya, tidak sepatutnya ia bersedih tanpa alasan seperti ini. Ia pun menyudahi kegiatan mandinya, segera ia membalut tubuhnya dengan handuk dan berlalu ke kamarnya. Ia berpakaian dengan cepat, ia memilih menggunakan kaus santai serta celana pendeknya, karena menurutnya hanya ia sendiri di rumahnya sekarang ini.
"Tadaima!"
Ia mendengar suara kakaknya, senyumnya sumringah, segera ia keluar dari kamarnya dengan rambur yang masih tergerai, dengan tergesa-gesa ia menuruni tangga. Ia berlari ke pintu depan bagai anak kecil hanya untuk sekedar menjawab salamnya, Naruko agak kesal akan keterlambatan kakaknya, mungkin ia akan memukul kepala kuning kakaknya dengan spatula penggorengan.
"Okaeri! dasar bakka, kau tidak tahu kalau aku sangat mengkhawatirkan..." kata-kata Naruko tertahan ketika tatapannya tertuju pada dua sosok di depannya.
"Mu..."
"Gomen hehehe, bukankah tadi pagi sudah kubilang bahwa aku akan sedikit lembur hari ini?" ujar Naruto mencoba meminta maaf.
"Aaah, ini atasan sekaligus rekan kerjaku mulai sekarang, dia sangat tertarik dengan masakanmu yang padahal menurutku bisa saja." jelas Naruto dengan acuh tak acuh.
'DEGG'
Bersambung...
Bales review dulu yooo setelah sekian lamanya aku gak bales review akhirnya sekarang kesampean juga hehehe
Veira Sadewa: yo ni udah dilanjut kok hehhe
Dudung: hmmm, saran yg bagus...
Yarkus Maximus: udah dilanjut nih hehehe
Arafim123: nih udah dilanjut dong hehehe
Julian Robert: udah lanjut dong hehehe
Hashirama Senju: makasih hiks... terharu
Hayabashi Ken: nih lanjutannya
Dheasyzahwasafitri: udah di next nih
...
Author note
Holla readersku yang sangat kusayang, maaf lama banget aku hiatus, karena setiap manusia memiliki rasa jnuhnya masing-masing hehehe, tapi sekarang sudah ku lanjut kok, nikatin yaah hehehe
