Disclaimer: Masashi Kishimoto
Warning: OOC, OC, AU, cerita pasaran, alur ngebut, cerita GaJe, sedikit incest, dll
Love you, Onii-san
chapter 3
Normal POV
Sudah seminggu berlalu sejak Naruto mengajak Hinata makan di rumahnya, namun perang dingin antara pemuda itu dengan adiknya masih berlanjut sampai sekarang, entahlah, Naruto pun tak tahu menahu apa mau sang adik, semua di mulai setelah atasannya pamit dari rumahnya, setelah itu, Naruko mendiamkan kakknya tanpa alasan yang jelas.
Flashback
"Ku harap, Hinata-san merasa puas dengan hidangan yang disajikan, meskipun bukan hidangan yang mewah sama sekali." ujar Naruto setelah menutup pintu rumahnya.
'FYUUUH'
Naruto bernapas lega, entahlah, dia berharap dapat meninggalkan kesan yang baik bagi atasan barunya itu, tawaran makan itu hanya berarti persahabatan bagi Naruto, tidak melebar kemana-mana. Kini masih ada waktu bagi dirinya untuk memeriksa beberapa berkas yang belum empat ia periksa tadi siang, cukup melelahkan memang, namun ia harus menjalani perkejaannya dengan maksimal, karena ia tidak hanya menanggung hidupnya saja, melainkan juga hidup adiknya itu. Terbersit lagi di pikirannya masalah darmawisata adiknya, mungkin sebaiknya ia bertanya apa saja yang diperlukan adiknya untuk kegiatan darmawisata itu, barangkali bisa ia cicil satu demi satu, pemuda itu pun melangkah ke kamar adiknya, sejak selesai makan malam memang Naruko langsung mengurung dirinya di kamar, meninggalkan Naruto dan Hinata yang berbincang masalah pekerjaan.
Tok! Tok! Tok!
"Naruko, apa kau masih bangun?"
Tak ada jawaban, namun Naruto mendengar samar-samar suara musik dari earphone milik adiknya, dan ia yakin Naruko masih belum tidur.
Tok! Tok! Tok!
"Hooy Naruko, jangan mendengarkan musik terlalu kencang melalui earphone, bisa bahaya bagi telingamu.."
Masih belum digubris oleh sang adik.
Tok! Tok! Tok!
"Naruko, aku tahu kau masih belum tidur, keluarlah sebentar, ada yang mau kubicarakan denganmu, masalah darmawisata.." ujar Naruto sudah mulai jengkel.
Tok! Tok! Tok! Tok!
"Urusaaaii!" akhirnya Naruko membuka pintu kamarnya dan memasang tampang tak kalah jengkel.
"A-aku, i-ingin membicarakan apa saja barang yang kau perlukan untuk darmawisata, barangkali bisa kucicil untuk membelinya.."
"Nanti saja." ujar Naruko singkat.
"B-baiklah ka-kalau be..." belum selesai Naruto bicara, adiknya sudah memotong.
"Wanita tadi itu siapa?" tanyanya sambil bersedekap tangan, mimik wajahnya penuh emosi serta penasaran.
"E-eh? kau menanyakan siapa wanita tadi? pffttt hahahaha.." Naruto yang hendak menahan tawanya karena mendengar pertanyaan sang adik, namun tak bisa, akhirnya ia tertawa lepas juga.
"Jangan tertawa dan jawab aku!" seru Naruko yang tak suka dengan kelakuan kakaknya itu.
"Pertanyaanmu seolah-olah ibu mertua saja, hahaha, m-maaf Naruko, baiklah aku jawab, tadi itu adalah atasanku yang baru saja diangkat, ia adalah anak dari hyuuga-san, direktur perusahaanku yang waktu itu tidak sengaja bertemu dengan kita, apa kau ingat?" jawab Naruto.
"Baru saja kenal, dan Onii-chan sudah mengajaknya makan malam di rumah, Onii-chan selalu saja begitu!" seru Naruko dengan nada tinggi.
"Oyy, apa maksudmu Naruko? dia itu atasanku, dan wajar bagiku untuk mengajaknya makan di rumah kita, lagipula supir yang biasa menjemputnya sedang sakit, dan apartemennya dekat daerah rumah kita, aku rasa itu adalah hal yang wajar..."
'BLAAM'
Naruko baru saja membanting pintu kamarnya dan Naruto tak tahu apa yang terjadi pada adiknya, apa yang salah dengan mengajak makan malam, bukankah itu dapat menjaga baik dengan atasan?. Entahlah, Naruto tak mengerti, dan ia tak berniat untuk memusingkan hal itu, lebih baik ia kembali dengan berkas-berkas yang sedang menunggunya.
dan sejak itu Naruko tak mau berbicara dengan sang kakak.
...
Bahkan sudah beberapa hari ini Naruto tak mengambil lembur yang harunya dapat ia ambil, dengan alasan untuk lebih memperhatikan sang adik, beberapa kali ia meminta maaf pada Hinata karena tak bisa lembur, namun sikap Naruko masih sama seperti seminggu yang lalu, membuat Naruto pusing tak karuan, diabaikan bagai hantu, ia memaklumi emosi anak remaja yang kadang suka labil, dan suka marah tanpa alasan, mungkin adiknya sedang mengalami masa seperti itu, ya, Naruto adalah kakak yang tak peka pada adiknya. Hari ini ini peran terbalik, Narutolah yang menunggu adiknya pulang, waktu sudah menunjukan pukul sebelas malam, dan Naruko belum juga pulang, entah sekarang gadis dimana, pemuda itu sibuk menggonta-ganti channel televisi, tubuhnya memang ada di sofa, namun pikirannya mengawan-awang mengkhawatirkan Naruko, takut-takut sang adik kenapa-napa, kemudian ia tepiskan pikiran-pikiran itu. Makanan yang tadi telah Naruto siapkan, kini sudah dingin, ia berharap dengan menyiapkan adiknya makan malam, maka ia akan kembali akur dengan sang adik, namun sekarang sepertinya harapan itu pupus terbawa angin, akhirnya ia merasakan apa yang Naruko rasakan tiap kali dirinya pulang larut malam, terlebih rasa khawatir seperti ini, sangat menganggu.
Tak lama Naruto mendegar suara pintu terbuka, ia langsung beranjak, berharap itu adalah sang adik, dan benar saja, Naruko muncul dengan wajah lesu dan masih berseragamkan sekolah, tampak gadis itu tak mempedulikan kakaknya, tak ada ucapan salam, ia hanya lewat saja di hadapan Naruto.
"Naruko, kenapa baru pulang jam segini? kau darimana saja?"
"..."
Tak ada jawaban, bahkan Naruko tak meletakkan sepatu di dalam rak, seperti seharusnya.
"Kau sudah makan? tadi aku memasak sup miso, mungkin sudah dingin, kalau kau mau aku bisa memanaskannya lagi untukmu." ujar Naruto penuh perhatian.
Dan masih tak ada balasan.
Habis kesabaran pemuda bersurai kuning ini, ia menarik lengan sang adik, membawa lalu mendorongnya ke sofa dengan sedikit kasar yang sontak membuat Naruko kaget dan sedikit membelalakan mata, karena baru pertama kali kakaknya bersiap seperti itu padanya, namun sebentar saja, karena Naruko berdiri lagi dan berhadapan dengan sang kakak seolah menantang dan menunjukkan kalau gadis itu tak takut.
"Aku sudah berusaha bersikap baik kepadamu belakangan ini, namun itu tak mengubah apapun, kau masih saja tak mengacuhkanku, jelaskan, sebenarnya kau ini kenapa?" tanya Naruto dengan nada yang mulai meninggi.
Naruko terlihat sedikit gemetar, namun ia masih kukuh pada pendiriannya, "bukan urusanmu!"
Gusar, kedua tangan Naruto mencengkram bahu sang adik, lalu menggoyangkannya.
"Bukan urusanku kau bilang? bukan urusanku? aku ini kakakmu, kau tahu? dan kita tinggal di rumah yang sama! tentu saja itu menjadi urusanku! sejak Okaa-san dan Otou-san tidak ada, kau adalah tanggung jawabku, baka! aku ini bukan orang asing! kau tahu, aku mengkhawatirkanmu pulang selarut ini! kalau aku yang pulang malam, alasanku pasti jelas, sedangkan kau..." Naruto mulai membentak adiknya sendiri, ia marah, napasnya bergejolak.
Sudah mulai terlihat air di pelupuk mata sang adik, namun gadis itu masih cukup keras kepala, ia menepis kedua tangan Naruto, seraya berkata, "aku tak peduli, aku juga tidak berharap punya kakak seperti Onii-chan.." dengan suara gemetar.
DEGG!
Naruto menggeretakkan giginya, secara reflek, tangannya bergerak hendak menampar adiknya yang mulai bertingkah itu, namun hampir sejengkal tangan Naruto ingin menyentuh pipi lembut adiknya, sudah ia urungkan niatan tersebut, lalu...
PUKK!
Naruko memejamkan mata, ia pasrah untuk apa yang akan terjadi, sang kakak akan menamparnya, ia pasrah, karena Naruko juga merasa bahwa dirinya keras kepala, namun sejenak kemudian, tak ada rasa sakit yang ia rasakan, malah ia merasa hangat di malam yang dingin itu. Naruko membuka matanya, dan, ia melihat dekapan hangat sang kakak, Naruto memeluknya dengan lembut, penuh kasih sayang, matanya sayu, tak ada senyum di wajah pemuda itu.
"Gomenasai, Naruko, aku terbawa emosi.." ujar sang kakak dengan suara serak.
Dan Naruko luluh juga.
Gadis itu menundukkan kepalanya di pundak sang kakak, dan ia balas memeluk erat, lalu dtumpahkannya semua air mata yang ia tahan, diiringi tangis yang riuh, membuat baju Naruto basah penuh air mata sang adik, namun pemuda itu tak peduli, ia biarkan sang adik mengeluarkan seluruh emosinya. Naruko yang sedang sesenggukan itu merasakan kehangatan yang luar biasa, ia pun mersa nyaman dengan dada bidang sang kakak, ia memeluk Naruto lebih erat lagi bagaikan anak kecil.
setelah tangisnya mulai mereda, barulah Naruko mulai bicara meski tak begitu jelas.
"Onii-chan..."
"Gomenasai.."
"Jangan tinggalkan aku.."
Naruko bergumam, mungkin lelah dengan bebannya seharian ini, setelah menumpahkan segala tangisnya, gadis itu tertidur dalam pelukan kakaknya, persis seperti anak kecil. Naruto yang sadar adiknya tertidur, setelah tak lagi mendengar suara sang adik, kemudian ia menggendong Naruko dengan gaya bridal, lalu membawanya ke kamar sang adik, lalu menyelimutinya agar hangat setelah mengelap bekas-bekas air mata sang adik dengan tangannya. Naruto mematikan lampu dan menutup kamar Naruko dengan pelan, ia baru teringat, Naruko masih memakai seragam sekolah, namun ia biarkan saja, toh besok weekend, yang berarti sekolah libur.
Melihat Naruko tertidur tadi, sang kakak jadi teringat di malam pertama kepindahan ia dan keluargannya ke rumah ini, waktu itu umurnya masih dua belas tahun, sementara Naruko lima tahun, di rumah sebelumnya mereka tidur dalam satu kamar, namun di rumah yang sekarang kamar mereka terpisah...
Flashback
"Ah, sial! sulit sekali melawan raja terakhir di game ini!" umpat Naruto kesal.
Waktu menunjukan pukul satu dini hari, namun, Naruto kecil masih belum juga tidur, mungkin ia masih belum terbiasa untuk tidur di kamar barunya, di kamar lamanya, ia berbagi kamar dengan adiknya, Naruko, ia gadis kecil imut yang senang sekali menempel dengan kakaknya, dan kadangkala membuat Naruto risih, namun bocah itu sungguh sayang pada sang adik, tak perlu diutarakan lagi. Kini, di rumah baru yang mereka tempati, mereka memiliki kamar yang terpisah, karena rumah yang baru ini lumayan lebih luas dibanding rumah mereka yang lama, terima kasih kepada ayah dan ibu, sehingga Naruto dapat bermain game dengan lebih leluasa tanpa gangguan sang adik.
Sebenarnya Naruto masih memikirkan kejadian tadi siang, dimana ia tanpa sengaja membuat adiknya terluka, bermula dari ia yang sedang bermalas-malasan di kamar barunya sambil membaca beberapa manga, kebetulan pintu kamarnya terbuka, dan masuklah sang adik, gadis kecil manis dengan surai yang sama seperti yang dimiliki kakaknya. Ibu sedang memasak di dapur, jadi tak ada yang menjaga Naruko kecil, dan gadis itu merasa bosan dengan mainan-mainannya, sehingga ia mengajak kakaknya untuk bermain permainan yang seru. Tadinya Naruto menolak, namun melihat wajah sang adik membuat ia luluh dan akhirnya ia pun menggendong sang adik, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi dan membawanya berlari seolah-olah sedang terbang. Namun akibat kelalaian Naruto, ia terpeleset, menyebabkan ia jatuh dan sang adik terpelanting di lantai, Naruko kecil pun menangis menjerit-jerit, akibatnya, Naruto dimarahi habis-habisan oleh sang ibu dan disuruh membantu menyusun barang-barang yang masih ada di dalam kardus pindahan.
Ah, ia masih saja memikirkan hal itu, fokusnya saat ini harus pada konsol game yang sedang ia mainkan, ia mengejar target untuk melawan boss terakhir pada malam ini, namun...
Tok! Tok! Tok!
"Onii-chan, Onii-chan sudah tidul belum?" panggil suara di balik pintu yang pastinya adalah Naruko kecil.
Naruto penasaran, kenapa malam-malam begini sang adik memanggilnya, ia pun beranjak dari tempat tidur dan membuka pintu, tampak Naruko kecil memegang boneka kesayangannya, boneka katak yang ia namai Gamabunta.
"Naruko, ada apa?" tanya sang kakak penasaran.
"Aku takut tidul sendilian.." ucap polos Naruko kecil.
Naruto merasa hal ini wajar, karena ini pertama kali adiknya tidur sendiri.
"Aku boleh tidul di kamal Onii-chan?" tanya sang adik dengan wajah memohon.
"Heeeh, apa boleh buat, masuklah Naruko."
Naruko mengekor kakaknya ke tempat tidur, sementara sang kakak menyeret futon yang ada di kolong tempat tidurnya kemudian menggelarnya, demi sang adik ia menghentikan kegiatan bermain game, Naruto menatap wajah adiknya, di dahinya tertempel plester, bekas luka tadi siang, sementara yang di tatap keheranan dan berkedip beberapa kali.
"Nah, sekarang Naruko tidur di tempat tidur ya, aku tidur tidur di futon ini, selimutnya dipakai, cuaca sedang dingin." ujar Naruto lembut.
"Yokatta."
Akhirnya Naruko berbaring di tempat tidur sambil memeluk boneka Gamabunta, sementara Naruto berbaring di futon, ia masih belum bisa tidur, walau dipaksakan untuk memejamkan mata pun masih tidak bisa, ia pun memulai obrolan dengan adik kecilnya.
"Naruko.."
"Hnn, Onii-chan belum tidul?"
"Belum, etoo, yang tadi siang masih sakit tidak?"
"Sudah tidak sakit kok Onii-chan, Okaa-san hebat, sekalang sudah sembuh." jawab Naruko dengan gembira.
"Syukurlah.."
"Onii-chan."
"Hnn?"
"Aku benci lumah ini."
"Kenapa memangnya?"
"Di lumah kita yang dulu, kita bisa tidul sama-sama, tapi di lumah ini tidak."
"Tapi kan kita masih bisa main sama-sama."
"Gimana kalau di kamalku ada monstel?"
"Aku pasti akan melindungimu dari monster, Naruko."
"Onii-chan akan melindungiku?"
"hnn"
"Janji?"
"Ya, janji."
"Janji juga kita akan tetap sama-sama."
"Ya, janji."
Naruko menengok sang kakak yang berada di futon, kemudian mengulurkan tangannya dan mengangkat jari kelingking.
"Janji jari kelingking.." ujar sang adik.
Naruto terkekeh, dan ia pun mengikuti apa yang adiknya lakukan, jarinya menyentuh jari Naruko, sebuah janji yang dibuat oleh adik dan kakak, sungguh mengharukan.
"Onii-chan, jangan tinggalkan aku ya hihihi.." ujar Naruko kecil seraya tersenyum.
xXx
Normal POV
Mengerjap, kepala Naruto terasa pusing sekali, ia mulai membuka matanya, dan tepat di depan matanya adalah laptop, pemuda ini tertidur di meja kerjanya, setelah semalam suntuk membuat beberapa folder untuk keperluan kantor. Hari ini Naruto libur, namun bukan berarti folder-folder ini bisa diliburkan juga, akhirnya ia bisa menyelesaikan beberapa jam yang lalu dan mendapat jatah tidur kurang lebih empat jam. setelah kejadian tadi malam ia sudah dapat bernapas lega mengenai sang adik, namun bebannya masih terasa sampai sekarang, mungkin ia akan memanjakan diri sendiri dahulu, terlebih hari ini ia tidak memiliki agenda yang penting.
"Aaah, badanku pegal sekali." ujar Naruto, umur memang tidak bisa dibohongi.
Pemuda itu beranjak dari kursinya, dan menuju pintu kamarnya, ia harus mandi untuk menyegarkan tubuh serta pikiran, ia tidak mau jadi babi pemalas yang kerjaannya hanya bermalas-malasan di pagi hari. Banyak hal berubah pada diri Naruto sejak kematian kedua orang tuanya, selain beban moril dan tanggung jawab sebagai kepala keluarga menggantikan ayahnya, ia juga harus menghilangkan kebiasaan buruk yang dulu sering ia lakukan, seperti bangun siang misalnya, dan hal itu ternyata berguna bagi dirinya.
Keluar dari kamar, ia mencium aroma harum masakan dari dapur, dan kebetulan perutnya sudah berbunyi bagai musik yang tak enak didengar, pemuda itu memasuki dapur, dan tampak di sana ada Naruko yang sedang menyiapkan sarapan.
"O-ohayou." sapa Naruko pada sang kakak.
'E-eh?' Naruto heran setengah mati.
"O-ohayou." balas sang kakak dengan ekspresi tidak percaya.
"A-aku menghangatkan sup miso tadi malam, kelihatannya masih bagus." ujar Naruko yang sedang mengaduk sup di dalam panci lalu menuangkannya ke dalam mangkuk.
"Kenapa diam saja di situ? cepat mandi, Onii-chan, lihatlah, kau bahkan masih memakai piyamamu." protes Naruko melihat sang kakak yang diam mematung di sudut dapur.
"S-siap kapten!"
...
"Itadakimasu!" Naruto memakan dengan lahap sup miso yang sebenarnya buatan dirinya sendiri.
Naruko memandang sang kakak yang lahap dengan perasaan puas, meski ada sedikit pandangan yang tak biasa yang ia keluarkan, senyumnya juga terlihat dipaksakan, namun pagi ini Naruko terlihat cantik, dengan rambut yang dikuncir dua, dengan baju berwarna merah muda serta celana jeans yang dikenakannya.
Makanan Naruto telah ludes habis masuk ke dalam perut, tak lupa ia ucapkan terimakasih kepada adiknya itu.
"Onii-chan, tentang yang tadi malam, sebaiknya, kita lupakan saja ya." ujar Naruko merasa bersalah.
Sementara sang kakak hanya menatap wajahnya sebentar, ia mengerti, kemudian ia mengangguk seraya berkata, "yang lalu biarlah berlalu, Naruko, aku juga salah karena..."
"Tidak tidak tidakk,, Onii-chan baka! sudah, tidak perlu dibahas kembali!" seru Naruko dengan wajah merah padam.
"Ngomong-ngomong, kau mau pergi kemana? pakaianmu terlihat rapi, dan, eh? kau berdandan ya?"
'E-eh?'
Naruko blushing
"A-apa-apaan k-kau ini Onii-chan! a-aku hanya ingin belajar kelompok di rumah Sakura!" bisa-bisanya Naruko merona dengan pujian sang kakak, perasaan ini harusnya ia singkirkan saja.
"Huuuh, padahal aku ingin memintamu menmaniku ke toko buku."
"Dasar curaaang! sekalinya aku ada urusan, kau malah asyik jalan-jalan." Naruko cemberut, sementara sang kakak hanya menggeretakan gigi dan bergumam dalam hati.
'Dasar bocah ini! pasti dia berharap aku membelikannya pernak-pernik wanita yang bodoh itu.'
...
Sesekali, hanya sesekali, Naruto ingin memanjakan dirinya sendiri, mungkin dengan belanja beberapa manga dan novel seru yang belum sempat terbeli olehnya, dari kecil ia menyukai manga, terutama shonen manga, beberapa manga yang ia koleksi masih tersusun rapi di rak buku dalam kamarnya, yang tentunya tidak ia izinkan Naruko untuk menyentuhnya. Ia juga menyukai novel, genre misteri sangan menegangkan, ia begitu mengagumi tokoh-tokoh seperti Sherlock Holmes, Arsene Lupin, dan juga Hercule Poirot, ia pernah bercita-cita menjadi detektif sewaktu kecil, namun tak kesampaian sampai sekarang, malah jadi karyawan, namun sampai sekarang ia masih sangat mengagumi novel-novel misteri semacam itu.
Pemuda itu memakai setelan yang tidak menonjol sama sekali, hanya kemeja flanel berwarna oranye serta celana bahan yang lusuh seperti belum disetrika, tiba Naruto di toko buku yang cukup besar di daerah Tokyo, aroma-aroma buku yang sangat khas ini begitu ia sukai, ini surga bagi dirinya, jika surga itu memang ada. Toko ini lebih seperti mall, karena dilengkapi dengan beberapa kafe di tiap lantai, berbagai jenis buku bacaan tersedia, sangat lengkap, novel berbagai genre berbagai penulis pun ada, dan Naruto sudah tak sabar.
Ia menaiki eskalator untuk tiba di lantai dua, dimana banyak terdapat rak buku manga dan novel, Naruto melihat-lihat, barangkali ada manga atau novel yang disukainya. Dan pemuda itu baru ingat, mungkin nanti ia juga akan membeli beberapa buku pengetahuan untuk sang adik, mungkin itu dapat membantunya untuk belajar, mungkin masih terlalu cepat, namun Naruto berharap sang adik dapat lulus sekolah dengan nilai yang memuaskan, serta memasuki universitas yang bagus, tidak seperti dirinya yang hanya lulusan Sekolah Menengah Atas, ia tidak sempat merasakan bangku kuliah, karena sejak lulus sekolah ia harus berusaha menhidupi dirinya dan sang adik.
Sepertinya itu lebih penting, sehingga Naruto memutuskan untuk naik ke lantai tiga dimana lantai tersebut merupakan pusat buku-buku pelajaran dan pengetahuan, baru setelah ini ia akan membeli novel dan manga untuk dirinya. Ia melihat-lihat, ada berbagai macam buku, ada buku tentang pengetahuan sosial, buku tentang pengetahuan alam, matematika, bahkan budaya dan sastra juga ada. Sangat lengkap, sampai-sampai Naruto bingung buku apa yang akan ia belikan untuk sang adik, sampai pada saat ia teringat sesuatu, sang adik sangat menyukai ilmu sosial, persis seperti dirinya dulu, ia memutuskan untuk menuju rak buku pengetahuan tentang ilmu sosial, sangat banyak di rak itu.
Fokus Naruto saat itu hanya pada tertuju pada rak buku, seperti pandangannya pun begitu, hanya melihat buku-buku sosial yang tersusun rapi di dalam rak itu, tak memperhatikan sekitarnya, bahkan satu inci pun tidak. Naruto baru tersadar ketika ia merasakan ada seseorang yang menepuk pundaknya, reflek, ia segera menoleh ke belakang.
"Naruto-kun?"
"E-eh, Hinata-san?"
Bersambung...
Aku mau bales review dulu yaa hehehe
Esya. 27. BC: terimakasih telah mereview fic gaje ini, iya, nanti saya pikirkan untuk mengubah rate fic ini menjadi M hehehe
Steven yunior Roger: hehehe, makasih steven, kalo baca ini jangan lupa di review lagi ya, review dari kamu sangat berharga loh buatku hehehe
shi-senpai: sudah dilanjut dong qaqa hehehe
Arafim123: makasih udah ngasih review ya arafim, iya akan aku pikirkan untuk mengubah rate kok, tapi sejauh ini belum ada unsur dewasanya kan hehehe, wah kita sama-sama shipper NaruNaru rupanya ya hehehe
Fleuris Saya: aaaaaaaaa, ini yang bikin aku semangat buat ngelanjutin fic ini hehehehe, arigatou, maap kalo aku hiatus lama ya hiksss :( tapi fic ini tetep dilanjut kok
Frenz: makasih frenz, sudah dilanjut :)
Physeter: waah silakan physeter untuk fav fol hehehe, makasih banyak, semoga dapat meramaikan dunia perfanfican hehehe
Wid: hai, salam balik, kita samaan loh hehehe
Kenshin Takegawa: hai kenshin, makasih atas reviewnya loh hehehe, eh tapi aku gak bisa janji bakal update kilat, maap ya :( karena aku juga punya utang sama ficku yang lain, tapi aku usahain untuk tetep ngelanjutin fic ini kok kenshin hehehe
Uniahns: salam kenal juga uniahns hehe
Reza: aduh, kayaknya tamatnya masih lama banget deh hehehe, tapi boleh tuh sarannya
Namikaze: sudah update ya qaqa hehe
Nusantaraadip: sudah dilanjut ya hehehe
Author Note
AAAAAAAAAAA~ aku kangen fanfiction, setelah hiatus selama beberapa tahun sekarang aku kembali hehehe, maapin aku ya readersku tersayang, terlalu banyak kesibukan di real life sehingga beberapa fic jadi terbengkalai, jadi inget dulu mulai buat akun fanfiction pas kelas 9 smp, sekarang udah kuliah semester 6,, waktu terasa cepat ya hehehe, oh iya, fanficku yang lain juga akan kulanjutin kembali kok, doakan aja ya minna-san hehehe
