Fate/Zero © Urobuchi Gen
Floccinaucinihilipilification© Nunnallyy
Arturia Pendragon & Gilgamesh
OOC, Typo, AU.
Chapter two : Evanescent
Pemuda itu memang kaya, ia tinggal di apartemen di tengah kota. Ia mendapat alamat itu dengan sedikit memaksa dari salah satu teman Gilgamesh yang menatapnya tidak suka. Mungkin Gilgamesh sudah menyebarkan kabar tentang dirinya yang bebal. Ia tidak peduli, ia harus meminta maaf dan memperbaiki kehidupan Gilgamesh.
Ketika ia mengetuk pintu, yang terdengar adalah usiran dengan kata-kata kasar. Itu suara Gilgamesh, dan tidak terdengar tengah tenang. Ini memang berbahaya, menampakkan diri di depannya saat ini terlalu berisiko, namun ia juga memperhitungkan uang yang ia keluarkan untuk bisa mencapai tempat ini.
"Ini aku, Arturia."
Ia memberanikan diri menyebutkan nama. Siap jika Gilgamesh mengeluarkan kata- kata yang tidak nyaman di telinga, namun di luar dugaan, hening yang menyambutnya.
Ada bunyi kunci yang dibuka, lalu seseorang yang hanya mengenakan bawahan saja menyambutnya di balik pintu, dengan tatapan dingin. Ia tidak mendapat keramahan, tapi itu tidak ia jadikan masalah besar.
"Kau, pulanglah. Aku sudah bosan."
Arturia sudah membuka mulutnya, ia akan melayangkan alasan untuk tetap tinggal. Tetapi malah seorang perempuan dengan pakaian kurang bahan keluar dari apatemen Gilgamesh.
Arturia tidak nyaman dengan posisi duduknya, makanan yang ia bawa terongok begitu saja di atas meja. Alih alih duduk berhadapan, Gilgamesh malah duduk di kusen jendela yang terbuka. Bahaya sebenarnya, apartemen ini ada di lantai lima, taruhannya nyawa jika sampai jatuh menyentuh jalan aspal yang ramai dengan kendaraan.
Arturia menyayangkan tindakkan Gilgamesh yang merorok, ia terbatuk bebrapa kali, tidak terbiasa dengan peran perokok pasif hingga Gilgamesh mau mengalah dengan mematikan batang rokok yang baru terhisap setengah meski dengan sumpah serapah.
"Aku tidak pernah melihatmu merokok sebelumnya."
Gilgamesh tertawa sumbang, "Memangnya apa yang kau tahu tentang aku?"
Arturia diam, karena merasa kalimat Gilgamesh barusan adalah benar.
"Katakan Arturia apa maumu sampai datang ke tempatku?"
"Kembalilah pada kehidupanmu."
"Kehidupanku yang mana?"
Gilgamesh masih betah dalam posisi topless, salah satu alasan bagi Arturia untuk tetap berbicara tanpa melihat pada objek tujuannya.
"Aku minta maaf, Gil."
"Kumaafkan."
Ia mengeluarkan sebatang rokok dari kotak yang tersimpan di atas nakas.
"Kau sudah mendapatkan apa yang kau mau, pulanglah. Asap rokok tidak baik untuk kesehatanmu."
Arturia merasa Gilgamesh 180 derajat sangat berbeda dari yang biasanya, apakah ini sisi lain yang tidak ia tahu, atau sifatnya memang begitu?
Arturia beranjak, ia merebut paksa rokok yang sudan diapit bibir Gilgamesh yang tipis.
"Jauhilah hal-hal yang bisa membuatmu mati muda."
Sorot mata itu, membuat ia ingin menangis. "Biarkan aku mati dengan begini."
"PLAK!"
"Apa hidupmu tidak berharga? Kau hancur hanya karena seorang wanita!"
"Wanita itu yang terlalu berharga!"
Dia tidak berbohong, Gilgamesh tidak pernah berbohong padanya, yang selalu berburuk sangka bahwa laki-laki itu tengah bersandiwara.
Saat itu, entah mendapat keberanian dari mana. Sepasang tangan Arturia terulur, merengkuh Gilgamesh ke dalam pelukannya. Ia mengabaikan rasa takut ketika pandangannya menyapa permukaan tanah di bawah sana. Rasa bersalahnya terlalu dominan. Ia mengelus punggung pemuda itu yang menggigil. Sejurus kemudian, Gilgamesh menangis tanpa suara.
Menyayat hatinya dengan lara.
Arturia ikut menumpahkan air mata.
.
.
.
.
Perlu usaha keras dan waktu yang banyak untuk memulihkan Gilgamesh dari rasa kecewa, mengembalikannya pada dunianya. Perkuliahannya yang sempat tertunda dan juga menjauhkan ia dari dunia kelam yang menghisapnya. Wanita malam, lampu dansa, bahkan minuman keras menjadi temannya di dalam kekecewaan.
Arturia selalu datang mengunjunginya selama sepekan penuh, membawakan makanan, membujuknya untuk kembali kuliah. Bahkan ia tidak peduli jika ibunya marah ketika uang simpanannya hanya tinggal setengah dan ia sering menggunakan kartu kredit yang tagihannya dibawar oleh kedua orang tuanya.
"Apa yang terjadi, Arturia?"
Begitu ibunya bertanya lewat saluran udara, terdengar sedih dan kecewa. Ia lebih memilih mendapat amukan ayahnya daripada tangisan ibunya.
"Aku baik-baik saja ibu, hanya saja sedang banyak keperluan. Maafkan aku."
"Apa perlu ibu menemanimu? Ah Kiritsugu itu, sudah kubilang padanya memberiakanmu hidup sendiri adalah pilihan yang salah."
Selalu begitu, ibunya memang kerap kali tidak sepaham dengan ayahnya. Mereka dua kutub yang enggan menyelesaikan masalah dengan dengan satu kata sepakat. Perlu debat yang panjang hingga akhirnya salah satu dari mereka menjadi pemenang.
"Tidak usah bu. Aku baik-baik saja."
Hening. Ia bisa membaca situasi, di saat seperti ini harus melontarkan kalimat yang bisa membeli rasa kecewa ibunya.
"Nanti aku pulang kok. Pekan depan. Aku berjanji."
Setelah telepon di tutup, ia memutar otak agar bisa pulang tepat waktu.
.
.
.
.
Ketika seseorang sudah ditelan kecewa, sulit memulihkannya kembali pada rasa percaya. Arturia banyak menghela nafas dengan sikap Gilgamesh yang belum seutuhnya kembali dengan benar.
Seperti suatu pagi ia mengetuk pintu apartemen pemuda itu untuk sebuah kencan. Tetapi yang membuka malah gadis berambut ikal tanpa atasan. Tubuhnya di lilit selimut tebal yang membuat Arturia ingin menamparnya saat itu juga.
Ia nyelonong masuk. Di atas tempat tidur Gilgamesh terkapar dengan beberapa botol minuman di sisi ranjang. Arturia jengah, kali ini ia ingin menghabisi Gilgamesh dengan satu kali tebasan benda tajam.
"Bangun pemalas!"
Perlu waktu satu jam sampai kesadaran Gilgamesh kembali dan ia bisa berbicara tanpa tersekat halusinasi.
"Kau ini bagaimana, sih."
Arturia selalu memulai dengan sebuah nasihat.
"Berhubungan bebas akan banyak merugikan. Dan lagi, kau 'kan sudah janji tidak akan mabuk lagi."
Lebih dari sekedar kalimat itu. Arturia sebenarnya ingin menangis, bagaimana pun ia juga perempuan. Melihat seorang pemuda yang meniduri gadis lain membuatnya tersulut emosi, meski berkali-kali ia terus beralibi, hubungan ini bukan atas cinta dan kasih, melaikan sebuah balas budi.
"Tidak akan diulangi."
Arturia menatap sepasang ruby yang memandangnya sayu.
"Selalu begitu. Nanti aku akan bertemu gadis yang mana lagi yang membuka pintu?"
"Kau cemburu?"
Arturia memilih bangkit dari duduknya, ia mengambil alih pekerjaan sebagai maid yang belum tuntas. Ia akan memasak, makan di luar dan jalan-jalan akan batal.
Seharusnya ia tidak keluar, jika memang Gilgamesh berniat mengajaknya kencan seharusnya pemuda itu yang menggedor kediamannya. Tetapi tetap saja, rasa khawatir enggan enyah dari benaknya setelah lewat dua jam dari waktu yang dijanjikan.
Dua semester.
Gilgamesh bisa kembali normal.
Dalam artian sikapnya kembali seperti semula. Saat masa pedekate. Arturia sangat bersyukur, semua bisa kembali seperti semula.
"Arturia sayang,"
Kecuali untuk sebuah embel-embel yang memalukan itu.
"Kita makan es krim dulu yuk."
Itu artinya ia harus menghabiskan waktu berjam-jam bersama Gilgamesh. Oh dan jangan lupakan sikap posesifnya yang tidak pernah sedetikpun melepaskan genggaman tangannya, kecuali saat-saat darurat. Atau tiba-tiba memeluknya, tanpa membaca situasi.
Perlu digaris bawahi.
Tanpa membaca situasi.
Gilgamesh akan memeluknya di parkiran, setelah keluar dari kamar pas, dan setiap saat pemuda itu mau. Tanpa melihat orang sekitar. Untuk waktu sudah agak malam jadi yang berkeliaran tidak ada anak-anak di bawah umur.
Setelah selesai makan, Gilgamesh menyeretnya ke toko sepatu. Katanya ia ingin membeli sepatu untuk pertandingan futsal lusa. Arturia sudah mengantuk, tetapi ia masih mengangguk.
Saat ia memiliki kesempatan untuk bebas, ia melengos pergi menuju rak yang berlainan dengan alasan, "Biar cepat menemukan sepatu yang bagus."
Saat ia menemukan sebuah sepatu berwarna hitam dan merah terang, tanpa pikir panjang ia langsung bawa ke hadapan kekasihnya.
Gilgamesh tengah berdiri, dengan seorang perempuan berambut hijau yang duduk di sebuah kursi yang disediakan untuk pelanggan yang akan mencoba sepatu dengan ukuran yang sesuai.
Awalnya Arturia berpikir bahwa itu adalah orang lain, tetapi mereka terlibat pembicaraan yang mau tidak mau membuatnya harus mencuri dengar.
"Kau pergi terlalu jauh."
"Tetapi aku kembali."
"Kau menghilang terlalu lama."
"Maafkan aku. Tetapi percayalah padaku, semuanya masih tetap sama."
Saat itu, tidak biasanya Gilgamesh tidak menyadari kehadiran Arturia. Merasa menjadi orang yang tidak punya urusan, ia meninggalkan mereka dalam pembicaraan yang entah apa temanya. Arturia tidak mau tahu.
Sekitar setengah jam kemudian, Gilgamesh sudah berdiri di belakangnya dan mengajaknya pulang. Dengan sebuah kantong yang membuat Arturia menaikkan alis. Tidak seperti biasanya Gilgamesh membeli barang tanpa bertanya dulu kepadanya.
"Malam ini kau menginap di apartemenku."
Kedua matanya seperti akan keluar dari tempatnya.
"Kau gila! Aku tidak mau!"
"Ini sudah terlalu larut."
Sepasang mata Arturia menyipit.
"Turunkan aku di sini, aku naik bus!"
Dari kaca panjang di atas kemudi, ia melihat sepasang mata yang menawan, menatapnya tajam.
"Diam. Dan patuhi aku."
Bukan.
Lagi-lagi bukan seperti Gilgamesh yang biasanya.
Tidak ingin memperkeruh masalah, ia menurut. Dan bersumpah tidak akan memejamkan matanya satu detikpun sampai pagi. Persetan dengan kuliah, ia harus memperkuat pertahanan ketika masuk kandang singa liar.
"Tidur Arturia."
Dalam balutam kaos oblong tangan panjang dan celana katun kebesaran Arturia duduk bersila di atas tempat tidur Gilgamesh. Hei jangan bercanda, ia akan tetap pada prinsipnya.
"Aku tidak akan memerkosamu. Tidur saja."
Kedua pupil berwarna jade itu mengecil. Bisa-bisanya Gilgamesh mengeluarkan kata-kata vulgar. Bukannya percaya, itu malah membuat ketakutannya semakin berlipat ganda.
Gilgamesh yang sudah terbaring menatapnya datar dan berujar. "Apa aku harus menyanyikan lullaby?"
Mereka tidur satu ranjang! Bagaimana bisa ia tidur tenang. Satu album yang isinya lullaby tidak akan bisa membayar rasa takutnya.
"Tidak usah."
Tetapi ia tidak sampai hati bila mengusir Gilgamesh untuk tidur di sofa. Ia akan senang hati jika bisa tidur di sofa, tetapi jangan harap Gilgamesh akan mengizinkannya.
Satu jam kemudian ia gagal untuk terus terjaga.
Di sepertiga malam, Gilgamesh tidak ada di sampingnya.
Ketika ia bangun, Gilgamesh tidur tanpa selimut di atas sofa. Membuatnya merasa iba. Arturia kehilangan selimutnya.
Terpaksa, ia harus menghadiri kelas dengan kemeja kebesaran milik Gilgamesh, dan celana jeans bekas kemarin.
"Wow! Arturia sudah manjadi seorang wanita!"
Celetuk Rin, kepala suku sekaligus temannya yang cukup dekat.
"Berisik."
"Wah! Bagaimana pengalaman pertama-"
"Berisik Rin. Aku tidak melakukan apapun dengan Gilgamesh."
"Hm?"
Pandangan matanya menggoda, Arturia mengabaikannya dan menelungkupkan tangan di atas meja, menjatuhkan kepalanya di sana. Ia ingin tidur.
Kelasnya selesai, dan waktu terasa panjang. Arturia melangkah gontai di sepanjang kolidor, ia akan menunggu di gerbang, mengingat jadwal ia dan kekasihnya ada di waktu yang sama.
Arturia mengabaikan pandangan orang-orang padanya, rasa kantuk lebih menggoda untuk dipedulikan. Ia akan tidur di mobil Gilgamesh sebentar, lalu melanjutkan tidur di kasurnya yang nyaman.
"Arturia?"
Ia melakukan gerakan slow motion ketika menoleh kepada orang yang memanggilnya.
Gilgamesh di sana, berjalan cepat menuju ke arahnya.
"Kau pulang sendiri saja, ya?"
Seperti mengalami disorientasi. Arturia menatap Gilgamesh dengan tatapan tidak mengerti.
"Aku ada perlu sebentar. Maafkan aku Arturia, aku sangat meyesal."
Lenyap.
Ia harus berjalan dan menunda rencana tidur sekejapnya.
Gilgamesh mengecup puncak kepalanya.
"Hati-hati sayang."
Berbeda.
Lagi-lagi Gilgamesh tidak seperti biasanya. Kemungkinan pemuda itu meninggalkannya adalah nol koma nol nol nol sekian persen. Mungkin urusan itu tidak bisa ditinggalkan. Arturia berusaha memikirkan hal-hal yang baik.
.
.
.
.
Gilgamesh tidak masuk kuliah.
Satu hari ia maklumi, tetapi ini sudah tiga hari. Sejak ia pulang sendiri.
"Tanyakan langsung padanya."
Arturia memberikan pandangan tajam yang menuntut.
"A...aku tidak tahu masalahnya. Sungguh."
Arturia meninggalkan teman nongkrong Gilgamesh yang berkeringat dingin.
Lantas di depan pintu apartemen pemuda itu ia terdampar. Menyingkirkan tugas dan kewajiban yang harus ia selesaikan. Rasa penasaran lebih dominan dari sekedar tanggung jawabnya.
"Masuk."
Ia melihat Gilgamesh yang kusut. Duduk menunduk di atas sofa, tanpa mengenakan atasan. Celana jeans panjang tidak ia tanggalkan. Sepasang rubby menatapnya sekilas, kemudian beralih pada lantai lagi.
"Kau sudah makan?"
Gilgamesh diam.
Arturia meletakkan dua paket makan siang di atas kabinet pada dapur pemuda itu.
"Kau kenapa?"
Masih bergeming.
Mencoba mengikis jarak, sebelah tangannya terulur guna menyingkap poni panjang yang menjuntai.
Tetapi tangannya ditepis dengan kasar.
"Hei!"
Arturia berseru atas dasar refleks belaka.
"Ada apa? Kau sangat kacau."
Arturia memunguti pakaian dan beberapa cangkang makanan yang berserakan di lantai.
"Tinggalkan aku sendiri."
Arturia tidak bisa mencernanya. Alih-alih menanggapi, gadis itu malah mengabaikan
Gilgamesh dan permintaannya.
"Ayo mandi. Setelah itu kita makan dan-"
"Jangan ikut campur!"
Arturia tidak menemukan botol minuman keras, itu berarti Gilgamesh bertindak atas dasar kesadarannya
"Kau kenapa? Aku tidak mengerti."
Arturia mendekat lagi. Ia memegang lutut Gilgamesh dan bertanya. "Ceritakan padaku apa-"
"KELUAR!"
Terdorong ke belakang. Ia terjerembab karena terkejut dengan bentakkan pemuda itu.
Ada tangan imajiner yang mengaduk emosinya. Ia menatap Gilgamesh nanar dan berlalu dengan membanting pintu secara kasar.
.
.
.
.
つづく
.
.
a/n : Malam ini keadaan tubuh saya kurang fit akibat tugas kuliah dan deadline menulis yang semakin menumpuk. Yeah! Saya tertekan, dan menjadikan kegiatan menulis fict ini sebagai pelarian. Saya ingin meminta maaf jika saya cenderung random dalam mengupdate kelanjutan ceritanya. Moushiwake arimase.
At last, I love you Gilgamesh. Meski Levi tetap menjadi nomor satu.
See you guys!
.
Nunnallyy, 25 April 2018
