Seseorang datang dari masalalu.
Melebarkan sekat, menciptakan jarak yang pilu.
Merampasmu, dari sisiku.
Atau, aku selama ini hanya meminjammu?
Lalu, apa yang aku harapkan dari hubungan ini yang tidak maju sama sekali?

Jika selama ini kamu berpura-pura,
Jahat sekali telah membiarkan aku mencari definisi seorang diri
Tentang detak jantung yang tidak beraturan
Tentang perut yang diisi kupu-kupu terbang
Tentang selaksa seseorag yang berkelebat dalam tiap malam
Sehingga aku tidak butuh tidur,
Tidak butuh mimpi
Aku hanya butuh kamu

.

.

.

.

Fate/Zero © Urobuchi Gen

Floccinaucinihilipilification© Nunnallyy

Arturia Pendragon & Gilgamesh

OOC, Typo, AU.

Chapter four : Enmeshed

Jurnalnya penuh dengan coretan pulpen berwarna merah tanda revisi, berkali-kali ia mengerang frustasi, menyisir rambutnya ke belakang dengan jari. Sungguh, saat ini ia ingin lari. Menuju gurun pasir di timur tengah, laut mati, atau antartika, hutan antah-beratah juga tidak masalah. Ia ingin melepaskan diri dari realita. Benar kata seniornya, perkuliahan di tingkat akhir adalah masa-masa kritis di mana bisikan untuk bunuh diri lebih tinggi dari gedung pencakar langit di Dubay.

Ia sadar tidak bisa berlari seperti orang yang kehilangan kewarasan. Maka, yang ia butuhkan adalah eksistensi seseorang. Ia memasukkan jurnal laknat yang ia bayar dengan gadang selama sepekan ke dalam tas selempangnya yang berwarna biru pudar. Mengeluarkan benda pintar dari saku celana, ia membuka aplikasi pesan dan mencari nama Rin di sana.

Sial.

Seseorang dengan inisial G membuat ia membatu. Di saat yang sama, udara terasa begitu mahal. Ia bukan orang sentimental yang mudah mengekspresikan emosi, terlebih sesuatu yang mendefinisikan sikap cengeng. Tetapi ketika kepenatan sudah menumpuk, cairan bening itu lolos juga.

Arturia yang tengah bersila lekas mengubah posisinya. Berdiri, dan mengambil ancang-ancang untuk pergi.

Ini salah jurnal, salah dosen pembimbingnya yang telat datang, salah jam tangan yang mendadak tidak jalan, dan juga salah hujan yang menjatuhinya tanpa ampun. Semua salah keadaan yang kejam. Iya. Salah mereka. Membuat Arturia menangis tanpa suara. Air matanya lolos begitu saja. Beberapa titik, tidak terhitung. Ia diam, tangisnya tidak berkesudahan. Arturia tidak paham bagaimana cara menghentikannya.

Ia duduk sendiri di bawah pohon momiji, pada sebuah kursi bercat putih tulang yang menghadap kolam bundar. Berkali-kali, ajakan untuk bunuh diri berusaha memengaruhi. Berkali-kali, Arturia berdiri, dan ia siap untuk berenang di senja yang penuh awan, dengan gaya batu. Tujuannya hanya satu, tenggelam, dan tidak ditemukan.

Ia membeli satu cup es krim rasa coklat dengan kismis di atasnya. Namun ia tidak menyentuhnya. Rasanya hambar, berbanding terbalik dengan hatinya yang bisa meraskan macam-macam rasa.

Sudah hampir dua jam ia duduk diam. Setengahnya ia pakai untuk menguras air matanya. Bahkan ia duduk tanpa mengelap bangku taman bekas hujan, ia tidak peduli rok midi yang dikenakannya akan basah pada beberapa bagian, ia juga tidak peduli dengan jurnalnya yang kehujanan dan harus diprint ulang, tidak peduli juga pada smartphonenya yang mati karena kehilangan daya. Tidak peduli. Ia berusaha untuk tidak memedulikan sekitar. Anak-anak yang diteriaki untuk segera pulang, awan kelam yang memayungi semesta, lampu taman yang sudah menyala, tidak satupun dari semua yang bisa mengusiknya.

Pemuda sialan itu tidak berniat melakukan tindakkan lebih selain meneleponnya satu kali setelah pertemuan mereka di basement. Panggilan yang sengaja ia abaikan, tetapi sampai sekarang tidak pernah lagi terdengar.

Burung gagak terbang rendah, suaranya mampu memutus rantai ingatan Arturia sejenak. Dikira-kira, mungkin sekarang sudah pukul tujuh malam.

Tanggal 8 April, ada satu pecan berlalu sejak ia menatap ruby milik seseorang yang sekarang entah di mana, entah dengan siapa, entah sedang apa. Yang jelas … tidak ada dirinya dalam hidup pemuda itu. Dan dalam hidupnya selalu tentang pemuda itu.

Arturia menyerah pada gravitasi. Ia menunduk, kedua tangannya menelungkup wajahnya. Ia menguras lagi symbol kecengengan manusia.

.

.

.

.


Hari rabu, ia mendapat pesan untuk sebuah bimbingan dadakkan. Ia meloncat dari tempat tidurnya ketika membaca kalimat singkat itu. Kepalanya sangat berat, hidungnya mengucurkan air, dan ia yakin keningnya juga hangat. Salahnya yang mengabaikan makan malam, membiarkan angina masuk ke tubuhnya melalui hujan, dan tidur dalam buaian tangisan.

Jurnalnya belum direvisi, belum diprint lagi. Dengan keadaan tubuh yang lebih membutuhkan kasur tetapi pendidikannya lebih butuh konsul, ia akhirnya berjuang mati-matian untuk menyelesaikan jurnal dengan keadaan yang mengerikan.

Namun, kengerian tidak sampai di sana. Setelah ia menyimpan beban sebesar dosa manusia, dan jurnalnya punya hasil tiga kali lipat lebih baik dari sebelumnya, kengerian lain datang.

Pemuda yang mengacaukan dirinya tengah duduk di undakkan tangga menuju lantai dua. Arturia yang punya janji di lantai tiga, akan pulang ke rumah dengan segera, secara otomatis harus melewati tangga. Dan ia yakin tidak akan pernah bisa bersikap biasa. Apalagi dengan penampilannya yang tidak baik-baik saja. Ia bisa saja memutar arah, dan duduk di kelas kosong lebih lama. Namun, sungguh! Ia lebih butuh plester demam daripada memberi makan gengsinya.

Arturia memutuskan untuk membuang ikat rambutnya, ia menggerai rambut blondenya demi menyamarkan wajahnya yang pucat, pipinya dan hidungnya yang merah, juga matanya yang sembab. Ia berjalan cepat sambil menunduk, melewati kerumunan orang-orang populer dan seseorang yang membuat detak jantungnya bekerja lebih keras. Membuat setiap lantai yang ia pijak seperti duri beracun yang menusuk-nusuk telapak kaki, membuat udara seperti memusuhi.

Satu tangga.

Dua tangga.

Tiga empat lima… dua belas.

Ia yakin jika langkahnya tidak mencurigakan, ia yakin jika hawa keberadaannya samar, dan ia yakin bisa lolos dari pelaku yang menggenggam hatinya erat sampai berdarah. Yang paling ia yakini jika kengerian di hari itu hanya sebatas pertemuan mereka. Namun, tangannya di tahan oleh telapak tangan lebar yang sangat ia rindukan.

Tangan itu sudah berubah menjadi dingin.

"Arturia, kau demam?"

Ia menepis tangan itu kasar. Bisa-bisanya pemuda itu berbicara dengan sangat normal seperti tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka. Sedangkan ia mati-matian berusaha agar tidak mati.

"Ada apa?"

Ada apa katanya.

Arturia memberikan tatapan paling mematikan yang ia bisa. Namun dengan mata sembab semua terlihat sia-sia.

"Kau sakit."

Andai hati adalah organ luar yang bisa dilihat dengan mata telanjang, wujud hatinya sudah lebih parah dari rupa wajahnya.

"Aku baik."

Dari dulu, Arturia Kiritsugu seperti ditakdirkan secara mutlak sebagai pihak yang kalah jika lawannya adalah seorang pemuda tampan bernama Gilgamesh. Setelah beradu mulut tentang siapa yang sakit dan siapa yang sok tahu, Gilgamesh menutupnya dengan menggendong ia di bahunya. Sungguh, Arturia tidak mau menjadi pusat perhatian sampai gerbang. Maka ia lagi-lagi mengalah untuk kebaikkan dirinya.

Nikatnya hanya ke apotik membeli plester demam, tetapi Gilgamesh memilih klinik. Pemuda itu menahannya di mobil, masuk ke swalayan sendirian, dan kembali dengan dua kantong besar berisi belanjaan. Pemuda itu masuk ke rumahnya, menyuruhnya mengganti pakaian dan meminta izin untuk dapurnya yang jarang digunakan. Lalu Gilgamesh menidurkan ia di tempat tidur yang tidak sempat ia rapikan. Membuat lemon hangat, dan mengambil kursi untuk diposisikan di samping ranjangnya. Kemudian memegang tangannya.

Arturia punya benteng pertahanan yang dibangun oleh rasa sakit dan kecewa. Semua tidak akan bisa menahan serangan Gilgamesh yang secara tiba-tiba dan bertubi-tubi. Tidak akan pernah bisa kokoh. Semua kembali berwujud sebagai batu-bata.

Arturia tersenyum paksa. Ia memandang ruby milik pemuda itu yang berkilat cemas. Ia kemudian membawa lengan kanannya untuk menutupi matanya. Sepertinya kemarin ia tidak menguras air matanya dengan benar. Sekarang saja, jumlahnya masih melimpah ruah.

"Arturia …" panggilan itu serupa sihir yang bisa menambah debit air matanya.

"Ada apa? Apa maumu? Kenapa kau bersikap begini kepadaku? Katakan. Jangan biarkan aku mengimajinasikan hal-hal yang bisa membuatku tidak waras."

Gilgamesh hanya menggenggam tangannya erat, tanpa mengatakan apapun.

Lagi-lagi semuanya abstrak.

Ia tidak butuh jawaban jika itu bisa membuat lelakinya pergi.

Lagi-lagi ia kalah telak.

.

.

.

.

A/N : saya menemukan moodbooster di hari ini. dan saya sedang rindu pair ini. saya akan berusha menyelesaikan fict ini meski lambat. saya menulis Author Note ini dengan kepala berat, saya perlu istirahat. ini adalah hari yang hebat.

.

Nunaly, 14 Februari 2019