Disclaimer @ Masashi Kishimoto

Warning : Gaje, Thypo, abal, OOC, OC, alur berantakan, and anymore

Genre : Romance, crime, General,Tragedy

Rate : M ( bahasa kasar ala pergaulan/kehidupan jalanan)

chapter 3

Let's Happy Read

Sorot cahaya lampu kuning redup di pinggiran jalan kompleks membuat samar sebuah mobil yang terparkir di bahu jalan, terlebih warna mobil tersebut berkelir black titan menjadikan semakin tersamarkan berpadu dengan gelapnya malam hari. Seorang remaja bersurai pirang menyandarkan tubuhnya pada sandaran jok, kepalanya hanya menoleh ke kanan menatap puing-puing bangunan yang telah hancur melalui pintu mobil yang telah terbuka. Mata safir indah itu masih menerawang seakan puing-puing bangunan mewah itu mempunyai kesan dan kenangan tersendiri bagi dirinya.

Reruntuhan bangunan yang disana memang tempat dulunya tinggal, sebuah mansion megah yang diisi dengan kebahagiaan bersama kedua orang tuanya, namun kini bangunan tersebut telah hancur menjadi puing-puing batu bata berserakan. Kebahagiaan dan kedamaian keluarganya terenggut oleh orang-orang jahat yang tamak akan duniawi, kejadian malam tragedi itu telah berlalu tapi kehilangan kedua orang tua telah menjadi mimpi buruk bagi remaja pirang.

Manik safir sesaat menyendu tatapannya seakan kosong menerawang entah kemana, secuil kisah lamunan memori merasuki didalam benak.

Dua orang suami istri tengah duduk di taman teras samping mansion, kedua pasangan muda berbeda warna surai tersebut menyoraki bocah pirang berusia lima tahun yang sedang belajar sepeda, di belakang bocah pirang yang tengah menggowes sepeda seekor anjing besar jenis alaskan malamute ikut mengejar-ngejar sibocah pirang atau dikata sedang mengganggunya..

"Ayoo.. Naru-chan kau pasti bisa, sayang!!". Seru keras wanita bersurai merah panjang.

"Kaa-chan, singkirkan Kurama dariku, ini sangat menanggu sekali, ttebayo!". keluh Naruto kecil, kaki kecilnya menendang-nendang anjing besar tersebut. Konsentrasinya buyar terganggu akibat Kurama yang mengendus-ngendus kakinya yang tengah mengayuh pada pedal.

"Kurama tidak menganggu, ia hanya ingin bermain-main denganmu saja, nak". Kushina menyahut dengan tergelak, raut wajah cantiknya terlihat riang. "Semangat sayang, kalau kau itu bisa. Kaa-chan akan memasakan mu Ramen kaldu sebagai hadiah, ttebane!".

Mendengar kata Ramen, bocah pirang kecil semangatnya berubah drastis.

Sepeda mini itu melaju namun gerakannya terpatah-patah, sang ayah pirang melambai-lambaikan tangannya untuk menyemangati agar lekas sampai ke tempatnya. "Ayo..Naruto! kemari-kemari, jangan lekas mengeluh..Anak Tou-chan pasti bisa!".

Walau harus bersusah payah akhirnya Naruto kecil lekas sampai di ujung taman teras, kepala pirangnya ditepuk lembut oleh sang ayah yang mengapresiasikan keberhasilan anaknya. "Wahh! anakku memang sangat hebat, Tou-chan bangga padamu, nak". Sanjung Minato.

"Hm, tentu saja aku harus bisa agar tidak lagi diejek oleh Sasuke-teme, dia itu sangat menyebalkan, Tou-chan!". ujarnya antusias semangat untuk mengalahkan rival teman mainnya.

"Sudah-sudah, hari sudah mulai sore lebih baik kita masuk kedalam. Sesuai janjiku tadi, Kaa-chan akan membuatkan kalian Ramen kaldu, plus toping yang itu khusus buat Naru-chan". sela Kushina

"Yatta! Benarkah itu Okaa-chan?, buat Naru nanti yang banyak ya Okaa-chan!". seru riang bocah.

Wanita cantik bersurai merah mencolek hidung mungi nan lancip putranya. "Tentu saja, tapi nanti harus kau yang habiskan, ttebane".

"Sugoii! oke..kapten".

Ketiga orang itu pun berjalan masuk kedalam rumah sesekali diselingi celotehan dan candaan anak pirang kecil mereka dengan dibelakang diikuti anjing besar yang setia mengekor.

Lamunan Naruto buyar ketika sorot lampu kendaraan yang tengah melintas menembus kaca mobilnya hingga menyilaukan mata safirnya, pemuda pirang tersadar dan itu pun membuatnya tersenyum miris dengan apa yang ia lamunkan.

"Rasanya aku benar-benar ingin kembali ke masa-masa dulu dan mengulangnya lagi, ttebayo". ujar Naruto pada semilir angin malam yang berhembus melalui pintu mobil.

"Ini memang terlalu sulit untuk melupakannya, tapi kenangan itu sangat membekas di otak anakmu ini, Tou-san, Kaa-san.Tapi sekarang aku sudah bersama Obaa-chan dan Ero-Jii yang selalu ada untukku, walau terkadang rasa kesedihan itu masa ada". Sambung lekas Naruto menatap nanar.

Tangan itu pun terjulur ke atas dashboard mengambil minuman Pilsner kaleng dan meneguknya setengah sebagai pengusir rasa dingin, dilanjutkan menyulut rokok putihnya dan menghembuskan asapnya kemudian.

Drrtt..Drttt!!

Getaran smartphone di laci dashboard mengejutkan Naruto, lantas ia pun memunggut benda tersebut dan menempelkan ke telinganya.

"Hallo, dimana posisimu?".

"Iya Ji-chan, aku masih di sekitaran kompleks, memangnya mengapa? apa ada informasi lanjutan terbaru?". Naruto menjawab panggilan dari seberang.

"Segeralah kesana! beberapa orang tengah menunggu seseorang disana! nanti tempat koordinat dan foto targetnya akan segera ku kirim ke emailmu, setelah ini".

"Boleh, nanti aku kesana. Memangnya berapa orang yang masih terkait dengan kejadian eksekusi kemarin?".

"Tidak usah bertanya berapa jumlahnya! apa kau sanggup 'ya atau tidak' , mereka lah yang telah merebut kebahagiaan keluarga kita, hutang nyawa harus dibayar nyawa. Jangan mengecewakan martabat leluhur kita, Paham!".

Mendadak kening pemuda pirang itu mengernyit menanggapi jawaban obrolan dari seberang, kini raut mukanya terlihat berubah ekspresi. Wajah tampan itu berubah mendingin setelah mendapat informasi dari seberang telepon.

"Arigatou Ji-chan, kali ini aku tidak akan membiarkan mereka lolos. Demi Kaa-san dan Tou-san, mereka harus menebusnya".

Naruto pun menutup saluran panggilan, menyematkan kembali ponsel ke laci dashboard. Pegangan pada setir kemudi semakin mengerat melampiaskan rasa amarahnya, lantas ia pun menutup pintu dan menstater mobilnya guna bergegas.

Menginjak pedal gas dalam dan mengoper tuas persneling lalu melepas pedal kopling, Engine RB26DETT itu pun meraung keras.

Mbrumm!!

Kenmeri black titan itu pun melaju menuju ke arah jalan raya, semakin lama suara deruan mobilnya menghilang ditelan gelapnya malam.

0.0.0.0.0

Dalam ruangan kamar bernuansa cat berwarna merah muda, seorang remaja perempuan bersuarai pink sesekali iris emeraldnya mencuri-curi pandang keluar jendela. Tubuh gadis cantik itu setengah membungkuk seperti tengah mengawasi sesuatu diluar rumah, tepatnya ke arah pintu pagar mansion mewahnya. Beberapa petugas security tengah menjaga di pos depan gerbang, menjaga keamanan kediaman keluarga Haruno.

Ponsel pintarnya masih setia menempel dikuping kanan, Sakura benar-benar sedang tidak mood, terlalu bosan di dalam kamarnya.

"Sungguh Pig, aku tidak bisa keluar dari rumah ini. Ayahku benar-benar menyuruh mereka mengawasi dan menjaga rumah ini dengan ketat, selagi ayah dan ibu dinas keluar kota. Kau tau sendiri bukan, kedua orang tuaku selalu protektif terhadap keadaanku sebagai anak tunggal. Cepatlah bantu aku berpikir Ino-Pig, aku sudah mati kebosanan disini".

Suara penelpon di seberang tak kalah kencang dari toa.

"Kau pikir aku sedang bersenang-senang disini. Hei Forehead!. Aku sudah membawa mobilmu, untung saja tadi sepulang sekolah kau menitipkannya padaku dan sekarang ini kau terkurung di dalam rumahmu sendiri!. Ya ampun Forehead, pokoknya aku tunggu kau di luar pagar samping kiri rumahmu!!".

Sakura menepuk jidat lebarnya sendiri, teman babi-gendutnya benar-benar tidak bisa diandalkan, terpaksa gadis merah muda itu harus memutar otak kepalanya untuk mencari akal agar bisa terbebas.

"Tidak perlu kau menunggu ku di tempat itu Pig!". Sakura membalik badannya lantas mengambil mantel hijau dengan kerah berbulu dan Clutch bag nya di atas meja rias.

"Apa maksudmu Forehead?, sungguh aku tidak mengerti, apa gegara masalah ini mendadak otakmu menjadi konslet, kita harus secepatnya ke Cafe Mars Racing!".

Suara frontal Ino mendenging di ponsel membuat Sakura jengah, bukan hanya tidak bisa diandalkan teman barbie hidupnya itu juga lemot dalam situasi seperti ini, begitulah pemikiran Sakura tentang sahabat blonde nya itu.

Mantel hijau berbulu itu segera ia kenakan. "Ok Pig, pokoknya aku akan turun ke bawah sekarang dan teleponnya jangan kau tutup. Aku sudah ada ide, nanti aku hubungi kembali".

"Ide yang bagaimana Forhead? lalu aku harus bagaim_".

Suara Ino semakin lama semakin mengecil bahkan sudah tak terdengar ketika smartphone berwarna pink itu di masukan ke dalam kantong mantel oleh Sakura, biarkan saja mungkin sahabat pirangnya mencak-mencak karena tidak mendapat tanggapan.

Bergegas keluar kamar dengan cara mengendap-ngendap, Sakura setengah berlari menuruni tangga. Tangan kirinya penuh dengan jinjingan sepatu kets dan Clutch bag nya. Ketika sampai dibawah ia berjalan tenang mendekat ke arah jendela, kepala bersurai merah muda itu celingak-celinguk mengawasi situasi, ia berpikir jikalau ada security yang menjaga di dalam rumahnya.

Merasa aman ia pun membuka tirai jendela setengah, iris emerald nya mengintip mengawasi situasi di luar rumah. Pandangannya menatap salah satu beberapa pohon di samping pagar, oke sekarang ia tau apa yang akan mesti dilakukannya.

Merogoh kembali ponselnya di saku lantas menempelkannya di kuping. "Hallo Ino, kau masih di tempatmu? segeralah bawa mobilku ke pagar samping kanan dekat pohon nomor tiga yang menjorok keluar, cepat sedikit Ino-pig". ujar Sakura dengan suara perlahan mungkin agar tidak berisik sampai keluar.

"Hei..hei Jidat, maksudmu apa mengacuhkan ku tadi dan sekarang kau malah memerintahkan ku! kalau memutar terpaksa aku harus memutar mobilmu kembali melewati pintu pagar utama dan kau_".

Suara kesal Ino dipotong langsung oleh Sakura. "Cepatlah Ino-Pig!, aku sedang tidak ingin berdebat denganmu, lagi pula kita tidak ingin terlambat ke Cafe itu bukan dan bagaimana pun caranya kau harus menunggu ku disitu!". Sambungan telepon diputus oleh Sakura, ia pun kembali memasukan smartphone nya ke kantong mantel.

Dengan perlahan dan mengendap-ngendap, Sakura berjalan menuju pintu samping mansion dengan pandangannya masih mengawasi sekitar, setelah melewati pintu ia berjalan keluar teras. Kaki mungil putih itu bergerak lamat-lamat, namun...

Krakk!!

Tidak disengaja kaki mungil itu menginjak pecahan genting diantara rumput-rumput dan menimbulkan bunyi keras, tentu saja bunyi itu di dengar oleh salah satu Security yang sedang berada di halaman depan.

"Heyy..Siapa disana!?".

Seru keras Security tersebut dan mengarahkan sorot lampu senternya ke samping halaman mansion, sebelum sorotan cahaya senter mengenai si gadis bubble gum, gadis itu melesat atau meloncat kembali ke tiang mansion, berjongkok dan bersembunyi di balik tiang besar itu.

Sinar lampu temaram di teras makin menguntungkan Sakura untuk bersembunyi, memang halaman samping kurang penerangan jika di malam hari karena beberapa buah lampu berdaya watt kecil.

"Kusso, ceroboh sekali kau, Sakura. Sakura no baka". ujar pelan Gadis itu merutuki dirinya sendiri, tangannya menepuk-nepuk jidat lebarnya.

Tidak mendapati sahutan, si Security mulai melangkahkan kakinya berjalan menuju samping mansion hingga derap langkahnya berbunyi disertai cahaya terang senter menyoroti halaman samping.

Tapp..tapp!!

Suara langkah kaki semakin mendekat dan itu terdengar di indera pendengaran Sakura, membuat jantung gadis itu semakin berdetak kencang. Antara jika ketahuan dan ketakutan membuat ia tidak bisa berkutik.

Peluh keringat mulai membanjiri pelipisnya, sekarang gadis itu harus bersabar, memikirkan caranya agar bisa keluar dari situasi ini dan jika usaha ini berhasil, maka dirinya bisa berkumpul dan bersenang-senang dengan teman-teman anggota Rookie nya, berkumpul di suatu Cafe seperti yang disebutkan Ino.

Tarik nafas perlahan guna menormalkan debaran jantung, angin segar memasuki rongga hidung Sakura lantas ia pun menghembuskan perlahan.

'Cepatlah berpikir Sakura, dan tenangkan dirimu, pasti ada akal bagaimana pun caranya'. batin Sakura mulai menyemangati dirinya.

Dengan masih berjongkok tangan putihnya tidak sengaja menyentuh sesuatu, ketika ia sedang menggaruk kakinya yang gatal akibat rumput basah yang terkena embun. Sebuah kerikil kecil pun ia ambil. 'Sepertinya aku punya ide, semoga ini berhasil dan aku pun bisa pergi dengan selamat'. Pikir gadis itu dengan ide konyolnya. Kerikil kecil itu pun ia lempar ke atas dan melesat ke halaman depan dan mengenai sesuatu.

Takkkk!!!

Bunyi keras berasal dari tembok depan dan itu membuat si Security menghentikan langkahnya, cahaya senter disekitar persembunyian Sakura padam, rupanya si Security mengalihkan sorotan senternya ke sumber berasal.

"Heyy.. Siapa disana? Jangan main-main denganku!!".

"Kucingkah, manusiakah, atau hantu!". Ulang keras si Security berjalan dengan mendekati pagar depan, pandangannya meneliti sekitar tapi tidak mendapati gerak-gerik apa pun.

Tak mendapati suara balasan, si Security mulai waspada dengan bulu kuduk mulai merinding. "Hiii..." Langkah kakinya semakin menderap atau bisa dibilang langkah seribu, berlari menuju ke arah pos jaga.

Dibalik tiang mansion Sakura merasa senang luar biasa usahanya berhasil, sebagai pelampiasaannya ia bertingkah konyol menjulur-njulurkan lidahnya beserta menarik-narik pipi tembamnya. "Wek..wek". ia bermaksud meledek si Security bermental cemen.

" Astaga, Ino-Pig". Seakan tersadar dengan tingkah konyolnya , ia pun mulai ingat dengan tujuannya, Sakura pun berlari sekencang mungkin menuju pohon di depan pagar tembok samping, berlari dengan menenteng sepatu dan tasnya.

Dengan cepat ia pun melemparkan tas dan sepatunya ke atas melewati tembok pagar halaman. Kepala pink itu mendongak ke atas, menatap horor. "Tinggi sekali pohonnya, apa aku bisa memanjatnya?". Keluh gadis pink, tapi pikiran terbesit rasa senang jika telah keluar. Ia pun mulai kembali berjibaku memeluk pohon, maksudnya memanjat dengan cara mendekap pohon.

Bersusah payah Sakura memanjat hingga ia pun sampai diatas, kaki mungilnya mulai melangkah dari dahan ke dahan lainnya dengan berpegangan erat dahan diatasnya, hingga dahan terakhir yang menjorok diatas pagar halaman. Sampai di atas pagar dengan selamat, Sakura mulai celingukan menatap ke bawah mencari dimana sahabat barbienya berada.

"Hei, Ino-Pig!. Aku disini, cepatlah bantu aku turun".

Mendengar ada suara yang memanggil, Ino yang masih bersandar di badan mobil berkelir pink ia pun menoleh, tepatnya ke atas pagar. Gadis pirang itu pun sangat terkejut. "Astaga Forhead! kau benar-benar nekat, bagaimana caranya aku membantumu untuk turun, disini tidak ada tangga?".

"Sstt..pelankan suaramu Pig, nanti ketahuan penjaga. Apa pun jadilah, bila perlu tangkap tubuhku ketika sampai dibawah, aku akan meloncat dari pagar ini". cerocos Sakura dengan suara pelan.

Ino kembali terkejut, apa sahabat bubble gum nya sudah gila mau melompat dari pagar setinggi empat meter, tapi kalau tidak nekat maka keduanya akan terlambat ke tempat yang ia janjikan.

"Hei Jidat! apa kau sudah tidak waras?".

Suara Ino menghardik, tapi naas ketika mata aqumarine nya melotot mendapati Sakura sudah memasang ancang-ancang untuk meloncat, Ino pun merentangkan kedua tangannya guna menangkap Sakura dari bawah, namun..

"Forhead tunggu seben_".

Wushh!!

Bukkkk!!

Sakura sudah terlanjur meloncat dan berhasil, tubuhnya pun menimpa sahabat pirangnya bahkan perkataan gadis pirang itu tak terselesaikan keburu badannya sudah merasakan sakit di sekujur tubuh.

"Ugh.. Ayo Ino-Pig kita pergi dari sini". gumam Sakura mulai mendirikan tubuhnya, memang ia tidak begitu merasakan sakit.

"Ugh..S-sialan kau Forhead!, tubuhku sakit sekali rasanya seakan remuk".

Erangan suara Ino tidak Sakura pedulikan, ia malah menyeret gadis pirang itu guna membantunya lekas berdiri, berjalan dengan tertatih sambil memunguti sepatu dan tasnya, lantas berjalan mendekati mobil pink kesayangannya.

Blam!!

Kedua gadis itu memasuki mobil Porsche Caymen GTs dengan Sakura sebagai Drivernya, tentu ia tau kalau Ino tubuhnya masih terasa sakit jadi tidak memungkinkan. Di dalam kabin pun penuh umpatan kata sumpah-serapah yang dilayangkan Ino, sedang Sakura menanggapinya dengan tertawa terbahak-bahak.

"Lets go party, Ino-Pig!. Hahahaha!".

Mbrummm!!

Sedetik kemudian Porsche Caymen GTs itu pun melaju kencang, menuju jalan raya setelah meninggalkan jalanan kawasan kompleks elit.

0.0.0.0.0

Di pusat keramaian kota Konoha tepatnya gedung-gedung bertingkat saling menjulang menantang langit dan bermandikan cahaya, sebuah mobil berbody lebar berkelir orange gelap terparkir di salah satu sudut jalan raya. Di dalamnya sang Driver tidak mempedulikan orang-orang yang lewat maupun hingar-bingar kendaraan yang berlalu lalang, maniknya masih tertuju ke sebuah gedung dengan bertuliskan 'The Kakuzu Bar's.

Aktivitas keluar masuk para pengunjung terlihat ramai di Club malam tersebut, sudah menjadi ciri khas kota besar jika hiburan malam akan selalu ramai terlebih tempat-tempat yang seperti itu sangat pas untuk melepas penat bagi mereka yang lelah akan rutinitas keseharian mereka dalam bekerja, khususnya penduduk Konoha yang bekerja sebagai orang kantoran.

Tidak mendapati apa yang dicarinya, sang Driver yang masih setia menunggui di kabin mobil. Guna mengusir rasa bosan Ia pun membuka salah satu kaleng Pilsner dan meneguknya perlahan.

Glekk!!

"Ah, nikmat sekali".

Komentar sang Driver setelah meneguk minuman beralkohol dengan kandungan alkohol dibawah lima persen tersebut. Sebatang rokok putih sudah terselip di bibir, sang Driver pun menyalakan koreknya hingga menimbulkan suara 'Jtiikk'. Asap berhembus dari bibir tipis tersebut hingga asapnya menyebar ke seluruh ruang kabin mobil, hanya jendela kaca yang terbuka sedikit asap nikotin keluar melalui celah itu.

Kepala bertudung Hoodie itu pun masih mengawasi pintu masuk gedung bar, matanya teliti mengamati tiap sisi sudut bangunan, jikalau orang yang dicarinya tengah bersembunyi. Aktivitasnya di dalam mobil sedikit terganggu akibat ketukan diluar kaca mobil.

Tokk!! Tokk!!

Mau tak mau ia pun membuka kaca tersebut, nampak sosok yang tengah membungkukan badan disertai kepalanya memakai topi hitam berlambang, setelan pakaian putih hitam, Radio HT tercantel di bahunya, dan di belakangnya ada sesosok satu lagi yang berpakaian sama memakai seragam KDP (Konoha Departement Police).

"Selamat malam tuan?". ujar formal sang petugas tersebut, matanya menyorot tajam.

Sang Driver tersenyum canggung bahwa yang mengetuk kaca mobilnya seorang polisi dan yang di belakang adalah rekannya. Sang Driver pun sedikit grogi. "Selamat malam pak..Izumo". ucap sang Driver dengan sedikit mengeja name tag yang melekat di dada dibawah lencana.

"Oh..tenang pak Izumo mobil ini legal kok, surat-surat kendaraan dan SIM nya ada". lanjutnya dengan tangan menggapai-gapai laci tengah mencari barang disebutnya.

Dalam benak sang Driver, jika ada sesosok petugas yang menghampiri sebuah kendaraan kalau tidak menilang ya pasti soal menanyakan keabsahan surat-surat kendaraan.Tapi yang dilihat sang Driver, petugas tersebut masih bergeming menatap dirinya penuh maksud bahkan omongannya belum mendapat tanggapan dari petugas, tentu kesan grogi menjadi rasa menegang yang dirasakan oleh sang Driver.

"P-pak I-Izumo ini surat-suratnya, boleh di periksa sekarang". Sang Driver menyodorkan dua kertas lipatan persegi empat melalui kaca jendela, namun apa yang dilihat oleh dirinya.

Si petugas malah membalikan badannya berjalan mengitari mobil dengan tatapan memperhatiakan detial tiap sudut lekukan body mobil, dari kap mesin yang berwarna hitam, velg alloy ring 18, bemper, Grill lampu, lampu depan-belakang, dan terakhir list patah-patah berwarna hitam yang melekat di samping kiri-kanan mobi berkelir orange tersebut.

Sang Driver merasa was-was akan tingkah petugas bernama Izumo itu, namun apa kejadian selanjutnya...

"Hey Kotetsu! aku sudah memeriksa bagian-bagian lekuk mobil ini, sudah ku pastikan ini memang Hemi Cuda 70', kau harus membayarku sekarang juga!". Oceh petugas Izumo menadahkan tangan, jarinya menari-nari meminta sejumlah uang.

"Tidak bisa! ini pasti mobil Chevrolet Camarro SS 68' , lihat saja dari ciri khasnya sudah terlihat lebih kekar, atap lebih miring menyatu dengan tutup bagasi lebih pendek!". Tolak keras rekannya yang bernama Kotetsu dengan berkacak pinggang.

"Hey, apa matamu kurang jelas!, jelas-jelas itu Hemi Cuda!".

"Sudah pasti itu Camarro SS!".

"Bukan Camarro! yang pasti itu Hemi Cuda, sekarang bayar!".

"Enak saja, tidak bisa! sudah ketahuan di lihat dari depan Grill nya itu Camarro SS!".

Perdebatan diantara kedua petugas yang berakhir dengan saling tarik-menarik kerah baju membuat sang Driver cengo di tempat, tingkah mereka tak ubahnya seperti anak kecil. Rasa was-was dan tegang yang dirasakan sang Driver semenjak dari tadi menjadi swetdrop oleh kelakuan absurd mereka.

"Hey kawan! mobilmu itu Hemi Cuda kan!'. ujar Izumo menolehkan kepala memastikan apakah tebakannnya itu benar.

sang Driver tersenyum canggung. "Hehe..benar Hemi Cuda 70' atau lebih tepatnya Plymouth Barracuda 447 AAR tahun 1970, kalau bagian Grill depan sudah aku modif sedemikan rupa beserta aksesorisnya". ungkap sang Driver membuat Izumo tersenyum lebar.

"Kau tau kawan, aku dan partner ku sedang bertaruh jika ada mobilnya yang lewat atau pun parkir dan jika berhasil menebaknya dengan benar maka dialah pemenangnya. Kau tau, kami melakukan ini hanya untuk mengusir rasa bosan kami di pos Polisi perempatan sana. Dan sekarang akulah yang menang". terang Izumo sok mengakrab kan diri, sedang sang Driver manggut-manggut tak jelas.

"Nah sekarang kau sudah mendengar sendiri bukan, Kotetsu. Sekarang bayar, mana duitnya!". Izumo kembali mulai menggeledah tiap kantong Kotetsu

"Apa maksudmu, Hei..heii Izumo, mau apa kau dengan menggerayangi kantongku, hah!". sarkas Kotetsu mendorong rekannya.

Perdebatan kedua petugas kembali terjadi hingga terjadi dorong-dorongan kecil, sementara sang Driver mengabaikan tingkah kekonyolan Polisi absurd tersebut, ia melanjutkan kembali aktivitasnya mengintai keadaan gedung bar yang berada di seberang jalan.

Di pintu depan The Kakuzu Bar's telah keluar tiga orang pengunjung, ketiga orang tersebut salah satunya adalah bosnya yang tengah berjalan di belakang kedua anak buahnya. Sosok si bos bersurai klimis perak panjang dan dikuncir dengan mengenakan mantel hitam panjang sebetis, dua anak buahnya bersurai hitam panjang sebahu dan mengenakan setelan jas berwarna hitam, terlihat wajah keduanya kembar. Tampaknya mereka bertiga sedang menunggu sebuah kendaraan keluar dari tempat parkiran.

Sebuah mobil mewah Jaguar berkeliar hitam keluar dari basement dan berhenti di depan ketiga pengunjung itu, sang valet keluar dari mobil lantas menyerahkan kunci ke salah satu diantara mereka. Ketiganya pun memasuki mobil, lantas kendaraan mewah berkelir hitam itu pun melaju menuju ke arah jalan raya, menembus padatnya lalu lintas kota.

Dari balik Windshield mata sang Driver Plymouth Barracuda terus mengamati mobil Jaguar hitam yang tengah berbelok ke arah jalan raya, tidak mau buruannya lepas, ia pun menyalakan mesin mobilnya hingga raungan Engine V8 Hemi menggelegar.

Mbruumm!! Mbrummm!!

Mobil berkelir orange itu pun bergegas melesat meninggalkan jejak asap kendaraan, melaju dan berbelok menuju jalan raya. Dua petugas polisi yang bertingkah absurd mendadak tersadar ketika mobil orange sudah mulai berjalan menjauh.

"Hey kawan! aku belum mengambil gambar foto mobilmu untuk aku koleksi buat anakku!".

Lamat-lamat suara teriakan salah satu petugas konyol terdengar sampai ke dalam kabin namun sang Driver mengacuhkannya, ia hanya melirik sekilas spion samping dan tersenyum sinis.

"Dasar merepotkan, ia pikir ini mobil rental buat mengambil gambar sesuka hati, bergaya ala jepret sana jepret sini lantas di upload di Medsos dengan tag 'Hei lihat mobil baru ku' dan menjadi trending topic di seluruh wilayah kantor polisi Jepang. Jika seandainya seperti itu semakin susah buatku untuk menjalankan kegiatan seperti yang akan aku lakukan sekarang". Rutuk sang Driver mengoper tuas persneling sembari menginjak kopling, ia kembali memacu mobilnya dengan menginjak gas secara penuh.

Mbrummmm!!!

Jalanan protokol kota Konoha yang padat kendaraan tak membuat mobil mewah Jaguar kehilangan kecepatannya, mobil tersebut sesekali menyalip kendaraan kanan-kiri di depannya dengan tetap melaju kencang. Sang pengendara mobil Jaguar belum menyadari sepenuhnya bahwa mereka telah di ikuti oleh sebuah mobil lain semenjak meninggalkan bar.

Di dalam kabin mobil Jaguar di bangku belakang sang bos terduduk, sosok bersurai klimis perak panjang mulutnya terus berkomat-kamit mengoceh mantera makian kesal terhadap seseorang.

"Sialan Kakuzu! aku sudah bersusah payah menunggui di tempatnya tapi si muka kusut rentenir itu tidak datang-datang. Maunya apa? Dia pikir hidup hanya untuk uang-uang, aku sungguh tidak tau nantinya harus berbicara apa kepada ketua. Bangsat kau Kakuzu membuatku pusing saja, sialan!!".

Dua anak buahnya yang berada di bangku depan nampak terdiam, mereka takut tidak berani menyela nyanyian sang bos, jika salah kata mereka lebih memilih diludahi oleh mulutnya dari pada diludahi amunisi kaliber 9mm senjata api milik sang bos.

"Hey kalian! sewaktu di bar salah satu diantara kalian berbicara dengan si asisten rentenir, apa yang dibicarakan olehya?!". Si bos bernama Hidan itu menanyai kedua anak buahnya, nadanya setengah kesal dan menggertak.

Tangan yang sedang menyetir sedikit bergetar karena kaget oleh nyanyian cempreng sang bos.

"I-itu b-bukan aku bos, s-saat itu aku berada di luar ruangan bersama seorang kenalanku. Mungkin Meizu yang sedang bersama asisten Kakuzu-san saat itu, aku tidak sengaja melihat dia dan Meizu menuju ke salah satu kamar, entah apa yang sedang dilakukannya". Pandangan Gozu masih terfokus ke depan lantas melirik ke samping saudara kembarnya tengah duduk.

"Hey sialan! jadi kau masih menjalin hubungan dengan mantan penari striptis itu, dan kau memanjakannya dengan penis kecil sialanmu itu!, apa saja yang kalian bicarakan dengan si asisten rentenir sialan itu?!".

Sang bos tampak murka meminta menuntut jawaban dari anak buahnya, bangku kulit yang kusut karena cengkeraman olehnya menjadi bertambah kusut seperti tampang mukanya.

Meizu melirik tajam saudara kembarnya, seolah 'kenapa kau melibatkanku dan mengapa aku harus menceritakannya'."N-namanya M-Machiru Hyamori b-bos". ucapnya tergagu.

"Aku tidak peduli siapa nama wanita sialan itu! Yang ingin ku tau apa wanita sialan itu mengatakan sesuatu kepadamu tentang aktivitas Kakazu akhir-akhir ini! itu saja sialan!".

"Emm.. M-Machiru-chan m-memang mengetahui sesuatu, bahwa Kakuzu sedang mengadakan transaksi gelap di pelabuhan dan jadwal kedatangan barangnya di perkiraan pekan depan. B-begitu b-bos". ungkap Meizu dengan tubuh menegang.

"Oww..oww! Tampaknya Kakuzu sialan itu ingin menikungku, sudah berani bermain diluar ketetapan organisasi. Berbisnis tanpa melibatkan organisasi adalah suatu kesalahan besar, sudah menjadi kesepakatan jika berbisnis harus ada laporan tertulis di organisasi Akatsuki, terlebih mitra bisnisnya masih dalam wewenang mitra Akatsuki. Oh Dewa Jasin-sama itu berita baik".

Mendadak tampang Hidan berubah ekspresi bibir pucatnya menyeringai menyeramkan, jika saja di depannya ada kucing kawin mungkin saja kucing itu akan lari terbirit-birit.

"Hey Meizu! masukan informasi itu ke dalam buku agenda laporanku, aku ingin tau reaksi Kakuzu sialan itu ketika pertemuan organisasi nanti, jika buku laporan itu sampai di tangan ketua". Perintah cepat Kakuzu.

"S-siap bos!".

Sang anak buah menggeledah setiap isi laci dashboard untuk mencari setumpuk kertas yang dimaksud Hidan, Gozu masih setia berkendara dengan pandangan fokus ke jalan sesekali ia memutar setirnya, mencari celah di antara kendaraan-kendaraan yang berjalan di depannya guna menyalip.

Mbrummmm!!!

Deru raungan suara mobil bersumber dari arah belakang, lampu depannya menyorot terang hingga memantul di kaca spion mobil mewah Jaguar. Tentunya Gozu sebagai seorang bajingan, insting bajingannya pun kambuh untuk mewaspadai kedatangan mobil misterius itu sesekali ia melirik spion samping, memantau jikalau mobil misterius itu muncul di samping kanan-kiri mobilnya.

Gelagat Gozu sedikit tertangkap Meizu yang duduk di bangku samping, ia juga merasa kendaraan yang ditumpanginya berjalan semakin kencang. "Ada apa Gozu? aku rasa kau semakin mengebut saja".

"Apa kau lihat mobil yang di belakang kita, sepertinya kita telah di buntuti sejak tadi".

Merasa penasaran Meizu pun ingin melongok ke spion samping kiri mobilnya, ia membuka kaca mobil dikarenakan jendela kaca mobil Jaguar ini berjenis tipe kaca film gelap, tepat ketika jendela kaca terbuka ia melihat pantulan bayangan tangan menggenggam sebuah pistol Glock 17 keluar dari jendela kaca mobil misterius yang tengah membidik...

Dorrrrrr!!!

Prankkkk!!!

Muntahan amunisi kaliber 9mm menghancurkan kaca spion samping kiri mobil Jaguar, Gozu pun membanting keras setir ke kanan sebagai antisipasi, tentunya bantingan setir membuat guncangan pada kendaraan yang ditumpanginya lebih terasa. Penumpang di belakang terjungkal ke depan membentur bangku jok dan membuat Hidan murka, karena rasa terkejut yang luar biasa.

"Sialan! siapa yang telah melakukan ini! kalian tau mobil ini baru ku beli beberapa minggu yang lalu, lantas kalian ingin mengendarai seenaknya. Sialan!".

"Bos! sebaiknya anda gunakan sabuk pengaman dan sepertinya ada yang mencoba mencelakai kita!". saran Gozu mengacuhkan keadaan bosnya, ia lebih memilih menambah laju kendaraannya, mengoper tuas transmisi jenis Auto Triptonic itu lalu menekan pedal gas secara penuh.

Mbrrummmm!!! Pimm..Pimmm!!

Mobil Jaguar mewah itu melaju dengan sangat kencang dan di belakangnya mobil Playmouth Barracuda atau Hemi Cuda terus menempel ketat di jalur lalu lintas yang padat, suara klakson kendaraan terdengar berasal dari mobil Jaguar guna meminta kendaraan yang berada di depan menyingkir namun justru makian kasar yang terucap dari pengendara-pengendara itu.

Di jalur protokol yang memiliki sisi 2 jalur, jalur searah muat tiga kendaraan dan satunya jalur berlainan arah juga sama muat tiga kendaraan. Perputaran roda semakin kencang ketika raungan Engine V8 Hemi semakin menderu membelah padatnya lalu lintas malam hari kota Konoha, semakin melaju kencang berusaha menyalip mobil Jaguar berkelir hitam depan kirinya.

Di dalam kabin Hemi Cuda berinterior warna karamel yang tersamar karena terbias lampu-lampu kota, raut wajah yang terhalang tudung Hoodie itu tersenyum misterius. "Bermain-main sedikit dengan kalian tidak masalah bukan terlebih jika diamati secara mendetail sopirnya seperti seorang amatiran, namun tetap saja sang Shinigami akan menjemput ajal kalian..hehehe".

Setir pun ia belokan seperempat ke kiri, tuas persneling dioper guna mengurangi transmisi sembari menginjak pelan pedal kopling, ketika dilepas torsi pun meningkat alhasil mobil Hemi Cuda orange semakin kuat mendorong beban. Mobil orange itu semakin memepet dari samping belakang Mobil Jaguar.

Brakkk!!!

Mobil Hemi Cuda menyenggol pelan bemper belakang mobil Jaguar dan terus mendorong hingga laju mobil Jaguar seakan-akan menepi kesisi bahu jalan. Masih dengan melaju kencang mobil mewah Jaguar itu terdesak hingga menyerempet dan membentur mobil-mobil lain yang sedang terpakir di bahu jalan.

Brakkk!! Brakkkk!!

Suara keras berasal dari body samping kiri mobil Jaguar yang ringsek dipenuhi goresan-goresan memanjang, mobil Hemi Cuda orange masih terus menekan seolah mengadu kekuatan besarnya torsi tenaga Engine V8 Hemi.

Di dalam kabin mobil Jaguar tak henti-hentinya makian Gozu mengoceh dengan keadaan panik, ia terus berusaha mengendalikan batang setir kemudinya

"Keparat! Kau, Meizu jangan diam saja, cari pistolmu! cepat tembaki mobil keparat itu!".

Mendapati suara bentakan kasar, Meizu secara tergopoh-gopoh meraih sesuatu benda yang dimaksud di atas dashboard.

"Bagaimana aku bisa mau menembak, kalau tidak celah untuk mengarahkan senjata api ini!" Kepala Meizu menatap jendela kaca yang terlalu mepet dengan mobil-mobil terparkir yang diserempeti oleh mobil ditumpanginya.

"Harusnya kau tau keadaanku dengan posisi yang sedang terjepit!". sambung Meizu, ia menudingkan pistolnya menunjuk celah jendela kaca mobil terlalu dekat.

Tingkah ketololan anak buahnya membuat Hidan semakin bertambah kesal, rapalan mantera cemprengnya pun kembali terdengar. "Demi dewa Jasin-sama! Otakmu sama kecilnya dengan penismu! BUKA ATAP KACA SOONROOF NYA SIALAN!!, Hey Meizu! mau ku potong nanti penis kecilmu untuk persembahan Jasin-sama!".

"Diamlah bos! mau ku tabrakan mobilmu, biar cepat kau segera bertemu dengan dewa sesat Jasin mu!". Hardik keras Gozu, suara cempreng Hidan mengganggu konsentrasi mengemudinya.

Tegakan tubuh Hidan terjungkal akibat mobil dipacu mendadak. "Oioioi..Anak buah sialan! menyetirlah dengan benar, sialan!".

Dari balik Windshield mobil Plymouth Barracuda, sang Driver melihat sesosok manusia tengah mengacungkan pistol dari atap mobil Jaguar, keluar dari soonroof yang siap membidik...

Dorrrrr!! Dorr!!

Ia pun membanting setir ke kanan sembari mengurangi kecepatan mobilnya, menghindari muntahan timah panas yang nyaris memecahkan kaca depannya. Tangan atletis sang Driver pun meraih sepucuk Glock 17 yang terletak di dashboard, mengarahkannya melalui celah jendela mobil disaat ia pun tengah berkendara. Membidik tepat kepala Meizu.

Doorrr!! Dorrrr!!

"Aaarghh!".

Senyum terlukis dibibir sang Driver Hemi Cuda bahwa salah satu targetnya telah tewas, ia pun kembali menaikan kecepatan mobilnya ketika mobil Jaguar melarikan diri, mobil berkelir hitam itu mengambil kesempatan membebaskan diri disaat mobil Hemi Cuda menghindari tembakan Meizu, memanfaatkan celah ketika baku tembak sedang terjadi.

Di jalur protokol searah dua mobil berbeda kelir saling memacu kecepatan, yang satu ingin melarikan diri, yang satunya tetap mengejar. Deru mesin V8 Hemi Cuda semakin menggelegar di malam hari, raungan Exaust monster vintage menambah ramai kebisingan dijalanan aspal Konoha malam hari.

Mbruummm..Mbruuummmm!!

To Be Continue...

Author Note:

Akhir kata ffn yang sempat mandeg pun mulai berbenah kembali, Gomenasai mina-san khusus para Readers.

Berbulan-bulan mandeg membuat alur cerita ffn ini sedikit lupa, terpaksa Author membuat alur tema yang baru lagi, semoga kesan romance nya tidak ancur hahahaha :D #plak

Mulai awal ide kepikiran membuat ffn ini terinspirasi dari lagunya Silverchir-Miss u love dan juga Author yang suka menonton acara Roadkill di Youtube, and Film2 nya om Vin Diesel and Paul walker.

Thank's yang sudah Fol and Fav.

Don't like Don't Read