SOTUS adalah singkatan untuk Seniority, Order, Tradition, Unity, dan Spirit.
Senioritas, perintah, tradisi, kesatuan, dan semangat. Lima pilar Fakultas Teknik yang merupakan hal wajib yang patut dipegang teguh. Dan, mahasiswa teknik umumnya memiliki solidaritas dan loyalitas yang tinggi terhadap fakultasnya. Hampir separuh dari total mahasiswa di kampus adalah mahasiswa teknik. Sehingga dapat dikatakan bahwa Fakultas Teknik sebenarnya mampu untuk berdiri sendiri, tapi realita tidak berbicara demikian.
Namun, bukan berarti Fakultas Teknik akan tunduk terhadap semua peraturan yang dibuat kampus. Ia memiliki otoritasnya sendiri.
Kampus mungkin punya Presiden Mahasiswa. Seluruh mahasiswa bertekuklutut di bawah karisma dan kekuasaan Sang Presiden. Fakultas lain pun memiliki Ketua mahasiswanya masing-masing.
Fakultas Teknik? Dia mempunyai satu sosok yang lebih agung. Sang Kaisar.
"Aku tidak tahu harus mengatakan apa, tapi kau hebat, Jae!"
Siang itu, satu baris dari sekian banyak meja di kafetaria diduduki oleh para senior tingkat 3 dengan seragam lapangan berwarna merah menyolok. Di sekitarnya berseliweran mahasiswa berkaus putih tengah menenteng buku kecil sambil menolehkan kepala ke sana-ke mari.
Para mahasiswa baru itu meminta tanda tangan para senior. Lima hari untuk seribu tanda tangan. Gila.
Ada yang menari, menyanyi, bahkan diperintahkan untuk menyampaikan perasaan cinta dari satu senior ke senior lainnya. Tidak masalah kalau itu pernyataan dari senior laki-laki kepada senior perempuan, atau bahkan sebaliknya. Tapi ini, dari senior laki-laki ke senior laki-laki lainnya, melalui junior perempuan pula. Lebih gila lagi.
"Kau tahu mereka berdua tampan! Aku tidak percaya!" Si junior perempuan sesenggukan, merasa tidak terima dengan kenyataan bahwa yang tampan lebih menyukai yang tampan juga. Temannya mencoba menyemangati tanpa kata, hanya mengusap pundak dan punggung si junior perempuan lalu mengajaknya berlalu menghindari meja para senior yang duduk melingkari Sang Kaisar.
"Pak Yoo Jaesuk bukan orang yang kaku. Terlebih dia adalah alumnus Cassiopeia. Aku yakin dia akan selalu mendukung semua kegiatan kita, asalkan tidak sampai melanggar hukum." Kwon Boa bertopang dagu seraya tersenyum. Semua orang di sekelilingnya ikut tersenyum. "Kaisar kita satu ini sudah melakukan hal yang seharusnya. Jika aku jadi Dekan, aku pun akan setuju dengan apa yang dilakukan Jaejoong." Jung Jessica tersenyum lebar, menyodorkan camilannya kepada Jaejoong sambil mengedipkan sebelah mata.
Amber tertawa lebar, "Berhenti melakukan itu, Jess, atau Tunangan-Amerika mu akan segera terbang kemari dan membawamu pergi ke Kutub Utara," candanya. Jessica mendengus sebal dan menarik kembali kantung camilannya. Gadis itu mengunyah kembali camilannya, lalu menyodorkan kantung camilan kepada si gadis tomboy Amber yang duduk tepat di samping Sang Kaisar. Amber merogoh kantung camilan Jessica dengan antusias.
"Bilang saja kau iri!" Amber memberikan cengiran terbaiknya. Jessica mendengus geli dan menawarkan camilan kepada teman-teman yang duduk di sekelilingnya.
Jaejoong tersenyum kecil, "Aku harap usahaku ini tidak dikacaukan oleh tertib administrasi yang merepotkan," ia melirik Choi Siwon dari ekor matanya. Lelaki berlesung pipi itu membuka mulut secara perlahan melihat tatapan Jaejoong, "iya, 'kan?" lanjut Jaejoong dengan penuh penekanan.
Siwon melingkarkan tangannya di bahu Boa dengan segera sebelum gadis itu menyadari tatapan tajam Sang Kaisar dan memilih untuk menyelamatkan dirinya sendiri. "Kami tidak akan mengecewakanmu, Jae. Iya, 'kan, Nona Kwon?" Siwon mengembangkan senyum dengan pipi serta alis terangkat dan mata yang dibuka lebar.
Boa meringis melihat tatapan aneh Siwon. Laki-laki itu tampan tapi sinting. Ia mengedikkan bahu. "Tentu."
Suasana yang tadinya damai, bagi Sang Kaisar dan para pendamping setianya, tiba-tiba diramaikan oleh pekikan perempuan, baik itu senior maupun junior.
Penasaran dengan apa yang sedang terjadi, Changmin menegakkan tubuh jangkungnya yang semula duduk di sebelah kiri Sang Kaisar. "Ada apa?" tanyanya kepada mahasiswa tingkat 2 berambut lucu di barisan meja sebelah. "Sepertinya ada artis yang datang ke sini. Jika dia ke mari, aku harus minta tanda tangan dan foto. Aku harap benar-benar ada artis di kampus kita," jawabnya dengan ekspresi polos. Tak ternoda. Walaupun hanya setetes... otaknya.
Changmin mengernyitkan dahi, tidak paham. Anak itu makan siang dengan apa tadi? Atau mungkin dia salah minum? Changmin melirik segelas minuman berwarna hijau pekat aneh di tangan Cho Kyuhyun. Masih utuh.
Dan, masih menunggu korban selanjutnya. Karena biasanya ada saja satu dari sekian teman idiotnya yang menyambar minuman Kyuhyun secara sembarangan.
Mata bulat Changmin kembali menatap si junior rambut lucu. "Lee Taemin, sebaiknya kau segera pulang ke kamarmu, cuci kaki, lalu tidur siang."
Taemin membelalakkan mata. "Kak, itu ada artis, Kak! Aku mau minta tanda tangan dan foto!"
Laki-laki itu menyambar buku-buku yang berserakan di atas meja dan dengan sembarangan memasukkannya ke dalam tas punggung biru terang miliknya. Dengan tergesa ia berlari meninggalkan Changmin dan para senior yang melongo melihat tingkah ajaib junior tingkat 2 satu itu.
"Entah kenapa aku prihatin dengan Donghae." Lee Donghae, mahasiswa tingkat 3 fakultas ekonomi dan bisnis, teman dari kamar sebelah versi Siwon. "Memang dia siapanya Donghae?"
"Adik kecil tersayangnya."
Semua meringis serempak. Termasuk Sang Kaisar.
Choi Minho hanya menurut bagai anak ayam kehilangan induknya saat tangan kanannya disambar oleh dua tangan kurus milik pemuda yang belum jelas asal muasalnya. "Kak, aku minta foto!" pemuda itu bahkan berani memberi instruksi, bukan bertanya. Minho mengangguk dalam keterkejutan.
Sementara Yunho hanya bisa diam terpaku menatap pemandangan membingungkan di hadapan. Minho jelas-jelas tidak tahu juga mengapa ia diseret oleh bocah yang tiba-tiba berlari ke arahnya dan meminta foto bersama, berdua saja. Yunho tersentak saat sebuah benda berbentuk persegi panjang bernama ponsel disodorkan dan disodok dengan semena-mena ke dadanya.
"Kak, tolong fotokan aku dengan kakak artis ini," pintanya. Yunho melongo.
Dan, mulai mengambil foto keduanya.
Minho mengusap tengkuknya gugup. "Err... maaf, sepertinya kau salah orang."
Mata bulat Taemin menatap mata Minho secara langsung dengan tatapan yang tidak bisa Minho artikan. Hal itu makin membuatnya gugup. Keringat dingin perlahan mulai membasahi telapak tangan, dan kelopak mata berkedip cepat. Padahal di sini ia yang menjadi korban, tapi kenapa ia yang gugup setengah mati?
"Tapi Kakak tampan." Taemin berkedip pelan, "seperti artis," lanjutnya.
Minho sungguh tidak bisa berkata-kata. Bocah ini sungguh di luar ekspektasi.
"Minho, sepertinya kita harus cepat-"
"O—oke, oke." Minho pun beringsut dari sisi bocah ajaib itu dan segera menghampiri Yunho, yang sebenarnya bahkan tidak berjarak lebih dari limar meter di hadapan. Tak buang waktu, ia bergegas menarik tangan Yunho setelah tersenyum singkat kepada si bocah ajaib berambut lucu.
"Sampai jumpa, Kak Minho~"
Tengkuk Minho meremang sejadi-jadinya.
Setelah sadar dari keterkejutan di siang hari, tawa Yunho meledak mengingat sahabatnya satu itu dipanggil dengan sebutan "Kakak Artis" oleh seorang mahasiswa teknik berwujud mungil dan berambut lucu. Minho memberikan tatapan maut terbaiknya saat Yunho tak urung menghentikan tawanya. Mereka bahkan tidak sadar jika telah memancing keramaian di rumah orang, kafetaria Fakultas Teknik.
Para mahasiswi memandang keduanya dengan tatapan mendamba. Bagaimana tidak, dua lelaki tampan berpakaian rapi tiba-tiba mendaratkan kaki di tengah-tengah neraka para mahasiswa baru—mari lupakan sejenak para senior mereka yang juga tampan dan super tampan, mereka iblis yang menyamar!
"Kak Presiden, aku disuruh meminta nomor ponsel Kakak. Apakah boleh?"
Yunho menghentikan tawa mengoloknya pada Minho sesaat mendengar suara seorang gadis di depannya. Dia memakai kaus bewarna putih, mengenakan tanda pengenal yang dikalungkan di leher, dan kedua tangannya menyodorkan buku kecil serta pena. "Maaf, siapa yang menyuruhmu?"
Gadis itu, yang nampaknya mahasiswa baru, dengan ragu menjawab, "Seniorku, Kak, tapi aku belum tahu siapa namanya. Untuk itu, aku harus meminta nomor ponsel Kakak terlebih dahulu sebelum ia memberitahukan nama dan tanda tangannya untukku."
Alis Yunho bertaut, kemudian ia menolehkan kepala dan menatap Minho dengan tatapan yang hanya dimengerti oleh laki-laki itu. Minho mengedikkan bahu. "Bagaimana kalau username akun media sosial saja? Kau bisa menyampaikan permintaan maaf dariku dan tolong katakan pada seniormu kalau nomor ponselku adalah privasi yang tidak bisa kuberikan kepada sembarang orang."
Gadis itu terdiam sejenak sebelum akhirnya menganggukkan kepala. "Tidak apa-apa, Kak. Kau bisa menuliskannya di sini," ia memberikan buku dan pena. Yunho menuliskan alamat akun sosial media miliknya. Gadis itu tersenyum sumringah, "terima kasih, Kak," ucapnya sembari membungkuk singkat, lalu pergi meninggalkan dua laki-laki tersebut. Yunho pun membalas ucapan terima kasih itu dengan senyuman.
"Kau tahu, kudengar saat ini mereka sedang disibukkan dengan kegiatan orientasi fakultas. Kalau tidak salah, namanya SOTUS. Dan, dari apa yang kudengar juga, SOTUS adalah kegiatan yang sangat ketat dan sedikit... barbar?" Yunho kembali menautkan kedua alisnya saat mendengar penuturan Minho.
BAM!
Suara permukaan meja yang dipukul dengan keras.
"KAU TIDAK HAFAL VISI DAN MISI FAKULTAS TAPI BERANI MEMINTA TANDA TANGAN KAISAR?!"
Seketika hening.
"MAHASISWA BARU! BERKUMPUL DI LAPANGAN! SEKARANG!"
Yunho dan Minho dapat mendengar keluhan dan gerutuan dari para mahasiswa baru. "Dasar Hyuk bodoh! Bisa-bisanya dia tidak hafal visi dan misi fakultas. Arrrrgghhh... matilah kita!" gerutu seorang mahasiswa baru yang melintas di hadapan mereka.
Sebagai mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis, tentu ini adalah suatu hal yang jarang ditemukan Yunho dan Minho. Dan, mereka mau tidak mau sedikit merasa terkejut.
Tidak sampai satu menit, kafetaria steril dari keberadaan para mahasiswa baru berkaus putih. Tidak hanya itu, sembilan puluh persen area kafetaria juga telah ditinggalkan oleh para mahasiswa.
Minho menepuk bahu Yunho, "Sepertinya yang tadi duduk di meja itu adalah Kaisar, dan mereka sudah pergi. Kau tetap ingin menemuinya sekarang?"
Yunho berpikir sejenak. "Tentu," jawabnya yakin. Minho mengangguk.
Yunho tidak pernah habis pikir dengan sistem yang dianut oleh fakultas satu ini.
Menurut Yunho, ini adalah anomali dari sebuah sistem yang ia pelajari selama di Universitas Cassiopeia.
Satu-satunya anomali.
Ia tahu semua fakultas memiliki otonominya masing-masing. Mereka punya ketuanya sendiri. Tetapi, Fakultas Teknik rasanya amat berbeda. Mereka memanggilnya dengan sebutan Kaisar, bukan Ketua!
Hei, bahkan sebagai Presiden ia merasa segan dengan panggilan 'Kaisar Teknik'.
Dalam beberapa bulan kepengurusannya selama menjadi Presiden, Yunho tidak pernah bertemu secara langsung dengan Sang Kaisar Fakultas Teknik. Bahkan dalam beberapa kali pertemuan dan konsolidasi bersama para ketua tingkat fakultas, Kaisar tidak pernah hadir. Sekali pun. Hanya dalam beberapa kesempatan ia bertemu dengan sepupunya yang adalah mahasiswa teknik sebagai delegasi Kaisar.
Jadi, mana tahu ia siapa dan bagaimana sosok dari Kaisar teknik tersebut.
Ringisan meluncur refleks dari mulut Yunho tatkala melihat langsung kegiatan SOTUS yang lebih mirip pelatihan militer ketimbang kegiatan orientasi mahasiswa. Hukuman berlari tujuh kali mengelilingi lapangan diberikan kepada seluruh mahasiswa baru hanya untuk keteledoran satu orang saja.
"Tuan Presiden, apa yang sedang kaulakukan di sini?"
Jung Yonghwa, sepupu Yunho datang menghampiri.
Hari ini begitu panas. Bahkan Yunho bisa melihat bulir keringat di dahi Yonghwa dari kejauhan.
Yunho menyelipkan kedua tangan ke saku celana yang ia kenakan. "Aku ingin menemui Kaisar," jawabnya tanpa bertele-tele. Yonghwa menaikkan sebelah alis. "Kurasa kau sudah melihatnya. Kami sedang sibuk sekarang. Kau bisa datang lagi nanti malam, kalau kau mau." Yunho menangkap nada mengusir di kalimat sepupunya itu. Ia mendengus, "Sesibuk apa Kaisar kalian sampai-sampai tidak mau menyapa Presiden hari ini?"
Yonghwa tertawa pelan, lalu seringai menghiasi wajahnya. "Maaf, Yunho, sebaiknya kau kembali lagi nanti setelah kegiatan hari ini selesai. Kaisar benar-benar tidak ingin diganggu."
"Apa kau mau mengacaukan kegiatan fakultas kami hari ini? Kalau itu benar, apakah itu yang disebut dengan tugas Presiden Mahasiswa?" Yonghwa memainkan kata-kata dalam ucapannya.
Kedua rahang Yunho terkatup kencang. Sepupunya satu ini memang pandai menarik ulur kesabaran orang lain.
Menghela napas lalu berkata, "Baiklah. Jam berapa kegiatan ini selesai?"
Yonghwa memiringkan kepala dengan jari telunjuk dan jempol mengusap dagu perlahan. Keningnya mengerut dalam seolah sedang berpikir keras. "Aku rasa lebih baik kau bertanya langsung kepada Kaisar."
Minho siap menarik kerah seragam lapangan berwarna merah Yonghwa sebelum Yunho berdiri di depannya, mencegah Minho menyambar wajah si sepupu menyebalkan dengan kepalan tangan.
Yunho hampir membuka mulutnya untuk berbicara kembali ketika suara familier menyambutnya dengan pekikan. "Presiden Yunho!"
Jessica berlari pelan melintasi lapangan menghampiri tiga orang laki-laki di tepian lapangan. Ia bahkan tidak menyadari tensi yang meningkat drastis di antara tiga orang laki-laki tersebut.
"Sedang apa kau di sini?" tanyanya.
Tatapan mata Yunho beralih ke Jessica, lalu kembali beralih ke Yonghwa. "Aku ingin bertemu dengan Kaisar kalian."
Jessica membalas, "Maaf, Yunho, tapi Kaisar sedang tidak bisa diganggu sekarang," ia menggelengkan kepala. Senyum sesal menghiasi bibirnya yang dipoles pengilap bibir.
"Tolong katakan kepada Kaisar kalian dulu bahwa aku datang ke sini ingin bertemu dengannya."
Jessica kembali menggeleng. "Benar-benar tidak bisa, Yunho. Maafkan kami. Kau bisa datang lain kali, atau datang lagi nanti malam setelah tugas kami hari ini selesai."
"Dia tidak mendengarkanku dengan baik, Sica," adu Yonghwa seraya bertolak pinggang di samping saudari kembarnya. "aku tidak tahu kapan dia mau bersahabat dengan sepupunya ini." Ekspresi menghanyutkan dipasang Yonghwa untuk menarik simpati orang di sekelilingnya.
Yunho memutar kedua matanya malas. Sepupunya satu ini memang benar-benar...
"Kalau begitu akhir pekan kita jalan-jalan bersama saja!"
"TIDAK."
Untuk pertama kalinya, Yunho dan Yonghwa memberikan jawaban yang sama.
Jessica pun tertawa.
*
