Lima belas menit berlalu setelah waktu menunjukkan pukul tujuh malam.
Yunho dengan sabar mengamati jarum jam tangannya yang bergerak pelan menelan detik demi detik yang bergulir.
60 menit bukanlah waktu yang sedikit, apalagi jika digunakan untuk duduk diam menunggu seseorang.
Setelah menyelesaikan kelas terakhir hari ini tepat pukul enam sore, Yunho langsung mengendarai mobil kesayangannya untuk diparkirkan di pelataran parkir Fakultas Teknik. Ia kira jam enam sore adalah batas waktu kegiatan SOTUS, namun ternyata ia salah. Jadi menyesal kenapa tidak menanyakan tepat pukul berapa kegiatan itu selesai kepada dua sepupu kembarnya itu. Tahu begini ia akan pulang ke asrama terlebih dahulu walau hanya untuk sekedar mencuci muka dan berganti baju.
Mau ditinggal sekarang pun sayang, sudah terlanjur menunggu.
Minho juga tidak bisa ikut menemaninya kali ini. Sudah ada janji, katanya. Padahal Yunho tahu kalau Minho tidak mau ikut karena masih kesal dengan Yonghwa.
Yunho segera mengalihkan atensi saat terdengar suara ramai orang-orang mengobrol di koridor. Tak lama kemudian, ratusan mahasiswa baru teknik muncul dari ujung koridor samping aula pertemuan Fakultas Teknik, masih dengan mengenakan kaus yang sama. Mereka mengobrol akrab sembari mengumbar senyum seperti tanpa beban.
Padahal sebelumnya Yunho yakin seratus persen kalau mereka mengalami kelelahan luar biasa saat mengikuti kegiatan SOTUS seharian ini.
Apa yang mereka lakukan setelah ia pergi? Yunho menghela napas pelan.
Tak berselang lama, Jessica muncul dari ujung koridor tepat di belakang mahasiswa baru yang berjalan paling terakhir. Gadis itu mengedarkan pandangan, lalu melambaikan tangan ke arahnya. "Yunho, di sini!"
Yunho menganggukkan kepala singkat, bangkit, dan berlari kecil menuju Jessica.
"Kau sudah menunggu lama?"
"Lebih dari yang kaubayangkan."
Kekehan pelan meluncur dari bibir Jessica. "Ayo, Kaisar sudah menunggumu di ruang pertemuan."
Helaan napas kembali dikeluarkan Yunho. Ini sudah seperti ingin bertemu dengan seorang Presiden Direktur sebuah perusahaan ternama. Bahkan untuk dirinya yang seorang Presiden Mahasiswa saja tidak begini!
Kaisar memang luar biasa.
Suasana di ruang pertemuan tiba-tiba hening setelah Yunho menapakkan kakinya di ruang yang dipenuhi oleh mahasiswa teknik berseragam merah. Ada juga yang mengenakan kemeja putih dengan sepotong kain merah di lengan, dan ada yang mengenakan kemeja putih dengan rompi medis berwarna biru gelap.
Ada sekitar delapan puluh orang, tidak begitu pasti berapa jumlah keseluruhannya, tapi semua mata tertuju padanya.
Yunho merasa ditelanjangi dengan tatapan seperti itu.
Ini bahkan lebih menegangkan ketimbang pidato pertamanya saat menjadi Presiden!
Langkah riang Jessica seolah memberitahukan padanya kalau hal ini adalah hal yang biasa. Tapi tidak bagi Yunho, tentu saja. Diam-diam ia merinding sampai ke tulang.
Rasanya lebih seperti memasuki sarang serigala daripada sekedar berkunjung ke Fakultas Teknik.
"Selamat datang, Tuan Presiden!" siapa lagi kalau bukan sepupunya tersayang yang menyapa.
Yonghwa melebarkan kedua tangannya dengan bibir menyeringai. "Kaisar sudah menunggu kedatangan Anda."
"Berhenti menggodanya, Yongi," Jessica menghampiri saudara kembarnya lalu menurunkan tangan Yonghwa yang menggantung di udara dengan tepukan yang mendarat di sana, "jangan menyulut pertengkaran lagi," lanjutnya. Yonghwa tertawa puas tanpa membalas ucapan Jessica.
Tawa Yonghwa seolah meluluhkan suasana yang semula tegang. Para mahasiswa teknik yang berada dalam ruangan itu pun mulai kembali ke aktivitasnya masing-masing, mengobrol dan makan makanan ringan.
Seorang laki-laki jangkung menghampiri Yunho. Senyum menghiasi wajahnya yang tampan. Ia mengulurkan tangan, mengajak Yunho untuk berjabat tangan, "Jung Yunho, Presiden?" tanyanya.
Yunho menyambut uluran tangan laki-laki itu, kepalanya mengangguk.
"Shim Changmin." Laki-laki itu memperkenalkan diri sebelum melepas jabatan tangan di antara keduanya.
"Silakan duduk. Kaisar sedang ke toilet sebentar, dia akan segera kembali."
Oh, Yunho kira laki-laki ini adalah Sang Kaisar.
Lima menit kemudian, seorang laki-laki dengan seragam lapangan merah yang tak dikancingkan dan kaus hitam polos di baliknya memasuki ruang rapat dengan langkah santai.
Tinggi badannya tidak melebihi Yunho, malah lebih pendek beberapa sentimeter. Tapi tetap nampak proporsional dengan posturnya yang tegap. Rambutnya sedikit berantakan dan agak basah sehabis mencuci muka.
Yunho belum bisa melihat seperti apa wajahnya karena kepala laki-laki itu masih tertunduk. Jemari laki-laki tersebut memainkan poninya yang jatuh di depan dahi untuk kemudian ditarik ke belakang agar tidak menghalangi pandangan.
Setelah menengadahkan kepala, laki-laki itu membuat Yunho tertegun.
Ia sampai tidak bisa berkata-kata.
"Oh, Presiden?"
Yunho segera mengendalikan diri. Tangannya terulur ke arah laki-laki itu. "Aku Jung Yunho. Kau pasti Kaisar, benar?"
Mata bulat itu menatap tangan Yunho cukup lama, sampai Yunho merasa tangannya pegal. Dan, sebelum Yunho menarik kembali tangannya, laki-laki itu mendekat dan menyambut uluran tangan Yunho. "Kim Jaejoong."
Kim Jaejoong. Yunho ingat. Laki-laki itu adalah satu-satunya mahasiswa di angkatannya yang berani menentang instruksi Presiden Mahasiswa secara frontal saat mereka masih mahasiswa baru, dulu. Yang membuat keos kegiatan orientasi kampus karena kekeraskepalaan dan kenekatannya. Si Pemberontak Kecil dari Fakultas Teknik.
Bagaimana dia lupa dengan orang yang satu ini?!
"Changmin," panggil Jaejoong. Changmin menolehkan kepala, mulutnya sibuk mengunyah keripik kentang rasa barbekyu yang disuapkan Kyuhyun padanya. "Hm?"
Jaejoong mengedikkan kepalanya ke samping.
Mengerti dengan isyarat Jaejoong, Changmin segera beranjak dari duduknya lalu berdiri setelah minum dari botol air yang disodorkan pacarnya. "Teman-teman, sebaiknya kita segera mulai rapat kita kali ini. Tapi sepertinya kita harus pindah ke ruang aula karena ruangan ini akan dipakai oleh Kaisar. Ayo!" instruksi Changmin sembari mengajak Kyuhyun untuk bangun dan membereskan bungkus makanan ringan miliknya.
Perbuatan itu secara refleks membuat Yunho menaikkan sebelah alis heran. Kenapa mereka lebih memilih memindahkan puluhan orang ke ruangan lain ketimbang membiarkan dua orang keluar untuk mencari ruangan lain hanya untuk berbicara?
Tak berapa lama kemudian, di ruangan itu hanya menyisakan Yunho dan Jaejoong yang duduk saling berhadapan.
"Jadi?"
Yunho bisa dengan cepat menyimpulkan kalau Kim Jaejoong ini orang yang irit bicara.
Berdeham satu kali sebelum akhirnya membuka suara, "Aku datang ke sini tentu bukan tanpa alasan," Yunho mengawali.
"Kau pasti sudah tahu bagaimana kondisi kampus kita saat ini. Karena beberapa perbedaan kultur antar fakultas, sering kali kita, sebagai pemimpin, kurang bisa bekerjasama satu sama lain. Tetapi, karena perbedaan itu pula, sinergitas akan dibangun."
Jaejoong bersidekap. Raut wajahnya yang datar benar-benar tidak bisa Yunho baca.
"Aku sangat memahami bagaimana kalian sebagai pemimpin mencintai fakultas kalian. Tapi dengan ego masing-masing yang selalu dibawa dalam forum, itu tidak akan dapat menyelesaikan permasalahan. Kita berada di bawah naungan almamater yang sama, sudah selayaknya kita menggalakan semangat persatuan.
"Maka dari itu, untuk dapat lebih memahami satu sama lain, aku menawarkan kerjasama sebagai tanda persaudaraan di antara kita semua."
Jaejoong masih diam mendengarkan.
"Kabinet akan mengadakan kegiatan olahraga yang terbuka bagi seluruh mahasiswa Cassiopeia. Semua fakultas diharapkan mengikuti kegiatan ini. Bergabunglah dengan kami sebagai tanda kerjasama dan persaudaraan kita."
Sumpah, jantung Yunho rasanya siap meledak kapan saja karena berdegup amat kencang!
Menghela napas pelan, Yunho berusaha untuk menenangkan diri setelah kalimat berbau diplomatis itu meluncur dari mulutnya.
Ekspresi Jaejoong kini berubah. Tampaknya ia sedang berpikir, menimbang tawaran kerjasama Sang Presiden Mahasiswa.
"Kau tadi mengatakan kalau kita bersaudara, benar?"
Yunho mengangguk.
"Kupikir ini adalah kesepakatan."
"Ini adalah kesempatan kita untuk memperbaiki dan menguatkan tali persaudaraan yang dulu sempat longgar. Tolong pikirkan baik-baik."
Jaejoong memiringkan kepala, "Apa yang kaupahami tentang persaudaraan, Presiden?" tanyanya. Ia menyeringai saat mendapati Yunho berpikir untuk sekedar menjawab pertanyaannya.
Yunho belum bisa menjawab. Otaknya berpikir keras, memilah jawaban yang sekiranya tidak akan disalahartikan oleh Sang Kaisar.
"Aku menginginkan kesepakatan," ujar Jaejoong tepat ketika Yunho membuka mulut hendak menjawab pertanyaan sebelumnya.
Yunho menyilangkan tangan di depan dada. "Kesepakatan apa yang kauinginkan?" Mata tajamnya mengikuti Jaejoong yang bangkit dan menghampiri meja yang di atasnya terdapat dua botol air mineral dan sekotak Pocky rasa stroberi.
Jaejoong tersenyum tipis. Kemudian dibawanya dua botol air dan sekotak camilan itu kembali ke tempat duduk tadi. Ia memberikan satu botol air kepada Yunho, yang juga diterimanya tanpa banyak bicara.
Meneguk satu, dua kali, Jaejoong menyeka sudut bibirnya yang basah dengan perasaan lega. Sungguh, dari tadi sore ia belum sempat minum ataupun menyentuh makanan sama sekali!
Dan, pembicaraan ini membuat kerongkongannya kering.
"Aku hanya minta satu kesepakatan."
"Aku akan mendengarkan," Yunho membuka penutup botol lalu meminum air di dalamnya.
"Aku ingin Park Yoochun menjadi Ketua Dewan."
Yunho tersedak mendengar permintaan Kaisar satu ini. Yang benar saja?!
Dewan adalah istilah yang disematkan kepada mahasiswa yang mengikuti organisasi kampus yang memiliki tugas legislasi (membuat peraturan, undang-undang organisasi kampus). Ketua Dewan memiliki jabatan yang tingginya satu tingkat di bawah Presiden Mahasiswa. Jelas merupakan jabatan yang sangat strategis sekaligus seksi. Dan Kaisar menginginkan hal itu?
Setelah berdeham beberapa kali untuk meredakan perih di tenggorokan karena tersedak air tadi, Yunho meluruskan punggungnya seraya menatap kedua mata Jaejoong. "Itu tidak mungkin. Ketua Dewan saat ini masih ada dan aktif. Tidak mungkin dilakukan pergantian apabila tidak-"
"Kalau begitu aku tidak akan mengizinkan mahasiswa teknik untuk ikut serta dalam kegiatanmu," balas Jaejoong tegas. Jemari tangan kanannya memainkan botol minuman yang sudah setengah tandas. Kedua pasang mata itu masih saling bertatapan. Dalam. Saling berupaya untuk mendominasi.
"Kau tahu itu tidak mungkin untuk-"
"Kau tahu bahwa mustahil untuk mengikutsertakan mahasiswa teknik Cassiopeia tanpa ada persetujuan dari Kaisar, Presiden." Jaejoong kembali memotong ucapan Yunho.
Yunho mengatupkan rahang kencang. "Aku tidak bisa menurunkan Leeteuk dari jabatannya dengan semena-mena."
Leeteuk adalah Ketua Dewan saat ini. Mahasiswa fakultas pertanian, tingkat 3.
Kedua alis Jaejoong terangkat, "Kalau begitu, buat seolah-olah memang dia pantas untuk diturunkan," ujarnya datar tapi penuh dengan penekanan.
Mendengar pernyataan tersebut, Yunho tertawa sinis sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Kaisar satu ini memang benar-benar berbahaya.
"Aku tahu selama ini Fakultas Teknik dan fakultas pertanian tidak pernah akur dalam segala hal, bahkan mungkin saling bermusuhan dan melempar pisau di belakang sana. Tapi bukankah aku sudah bilang kalau kita akan mencoba untuk memperbaiki hubungan ini, dimulai dari keikutsertaan dalam kegiatan yang akan diadakan oleh Kabinet nanti?"
Kali ini, Jaejoong terdiam.
Yunho sama-sama diam.
Dua menit berselang, suara kotak camilan dan bungkus Pocky yang dibuka memecah keheningan. Jaejoong merogoh bungkus Pocky untuk mengeluarkan satu batang biskuit panjang berbalut krim stroberi. Ia memberikannya pada Yunho.
Sang Presiden yang masih bingung dengan keadaan pun menerima sebatang Pocky dari tangan Sang Kaisar.
"Tawaranmu akan kupikirkan dulu," kata Jaejoong sembari menyelipkan sebatang Pocky lainnya di bibir. Senyum aneh terulas di bibirnya yang tengah menghimpit batangan beraroma manis tersebut. Tanpa berbicara lebih banyak, ia pun berjalan keluar ruangan meninggalkan Yunho yang duduk seorang diri di sana.
Sungguh, perasaan Yunho tidak begitu baik saat melihat senyum yang terkembang di wajah androgini laki-laki itu.
Yunho menghela napas lagi. Ia harap kebahagiaan dalam hidupnya tidak berkurang satu per satu karena selalu mengeluh lewat helaan napas. Ujung biskuit dengan krim merah muda pemberian Jaejoong digigitnya dengan penuh penghayatan.
Satu minggu kemudian.
Pip
Sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Yunho.
/ Teknik siap bergabung dengan kalian 3 /
Kabar dari Jessica membuat bibirnya menjerat senyuman dengan cepat.
.
