"Menurutmu ini hanya akan berlalu seperti apa yang kita bayangkan?"

Yoongi mengangkat kepalanya, menatap Jimin yang berdiri di hadapannya dengan pandangan skeptis. "Mungkin.. kau dan aku sudah mengenal Namjoon dengan terlampau baik."

"Tapi ini namanya kita memanfaatkan orang lain. Aku lebih memilih Namjoon menggunakan jasa bayi tabung dan ibu pengganti apabila dia memang sangat tidak menginginkan istri." Jimin menghela napas pelan, "Aku tidak suka usulan ini, kau tahu? Aku benci direndahkan."

"Tidak akan ada yang berani merendahkanmu di rumah ini. Tidak akan ada, tidak seorangpun." Yoongi menyahut, terdengar tidak suka.

"Ya, aku memang tidak. Lalu bagaimana dengan dia? Aku benci permainan kotor kalian. Aku mengerti ini demi kehidupan kita sendiri, aku tahu. Aku sangat menyadari kita hidup dimana kita akan dibunuh jika kita tidak membunuh. Tapi, bisakah kalian setidaknya memikirkan perasaannya? Dia manusia, demi Tuhan."

"Jimin,"

Jimin menoleh ke arah Yoongi, Yoongi terlihat sangat tidak suka, bahkan mungkin dia mulai murka. Dan Jimin langsung menyadari kalau dia baru saja melakukan suatu kesalahan fatal.

"Ya, aku tahu. Tapi apakah menurutmu kita ini manusia? Jangan berbicara soal perasaan di sini. Kita tidak mengagungkan hal bodoh itu." Yoongi berdiri dari posisi duduknya di sebuah kursi berlengan yang terletak di sudut kamar, "Ingat posisimu, Jimin. Ingatlah kau berada di sini karena apa dan jangan karena aku memilikimu, maka kau beranggapan kalau kau bisa menyuarakan pendapatmu."

"Aku tahu,"

"Nah, kalau kau sudah tahu, maka diamlah dan jadi anak baik." Yoongi berjalan menuju pintu kamarnya, "Aku harus pergi, ada pekerjaan setelah sarapan."

"Apa kau akan pulang malam nanti?"

"Tidak,"

Jimin terdiam, tapi dia mengangguk pelan. "Oke, siang nanti aku akan pergi bersama Taehyung ke sekolahnya. Ada pertemuan wali murid."

Yoongi mendengus, "Dan sejak kapan kau menjadi walinya? Kupikir kau calon kekasihnya?"

"Aku tahu, tapi Namjoon jelas tidak akan mau mengurus urusan bodoh seperti urusan pendidikan Taehyung. Dan harus ada yang mengurusnya agar anak itu lulus sekolah."

Yoongi terkekeh sinis, dia berbalik untuk menatap Jimin. "Kau seperti calon pasangannya."

"Oh ya, tentu saja. Aku calon pasangan kalian berdua, ingat?" Jimin tersenyum miring, "Tidak ada yang akan menentangku, karena aku memiliki kalian berdua di dalam genggamanku."

Yoongi mengangguk santai, "Kau submisif yang pintar."

"Kalau aku tidak pintar, aku tidak akan berakhir menjadi salah satu pria carrier dengan kedudukan tinggi." Jimin memiringkan kepalanya, menatap Yoongi dengan pandangan yang cenderung meremehkan. "Dan aku tidak akan segan-segan melakukan apapun, mempertaruhkan apapun, hanya untuk mendapatkan tempat tidur yang nyaman dan makanan untuk hari ini."

Yoongi terkekeh, "Kau tahu aku tertarik padamu karena itu, kan? Teruslah permainkan kartu itu, dan mungkin kau akan membuatku berada di bawah kakimu."

"Oh Yoongi, aku yakin kau sudah sadar kalau aku tidak mudah termakan permainan kata-katamu."

"Menurutmu begitu?" Yoongi menaikkan salah satu alisnya, "Oke, anggap saja begitu. Kau pasti tidak akan percaya kalau aku berbicara serius, kan?"

"Aku berhenti mempercayaimu sejak kau membawaku masuk ke rumah ini." Jimin menyipitkan matanya, "Bahkan, aku juga berhenti mempercayai orang lain. Aku belajar dengan baik bahwa rasa percaya dan bergantung pada seseorang hanya akan membawamu pada kehancuran dirimu sendiri."

"Itu bagus, itu berarti aku tidak salah memilih carrier untuk masuk ke dalam rumah ini." Yoongi membuka pintu kamar mereka, bersiap untuk melangkah keluar namun dia terhenti. "Ah, ada satu hal lagi." Yoongi mengintip Jimin dari balik bahunya, "Kalau kau sebegitu pedulinya pada carrier baru itu, mungkin sebaiknya kau mengajarinya sedikit cara bertahan hidup di neraka ini." Yoongi menyeringai pada Jimin sementara Jimin hanya diam dengan raut wajah kaku, "Sampai nanti, sayang."

Pintu tertutup dan Jimin masih berdiri diam di posisinya.

"Kau salah," bisik Jimin. "Aku tidak akan membantu dia bertahan hidup di sini, aku akan membantunya dan membantu diriku sendiri untuk keluar dari tempat terkutuk ini."


Heaven and Hell

.

.

.

a BTS fanfiction

by

Black Lunalite

.

.

.

.

Warn!

Mafia!AU, BL, contains some abuse and abusive relationship.

This story is pure fiction.

Read at your own risk.


.

.

.

.


Part 2: The Devil in Hell


'Aku akan membuatmu hamill anakku.'

Tidak ada yang bisa Seokjin lakukan selain terdiam kaku, bahkan dia sama sekali tidak bereaksi ketika Namjoon mengatakan kalau pagi ini Hoseok akan memeriksa tubuhnya lagi karena jika Namjoon menginginkan keturunan dari dalam tubuh Seokjin, maka dia harus memastikan seluruh tubuh Seokjin dalam kondisi baik.

Selain itu, Namjoon juga memberikan penawaran berupa perlindungan penuh untuk dirinya dan bayinya.

Tapi bagi Seokjin, apapun yang akan ditawarkan oleh pria itu hanyalah sebuah penawaran penuh kesalahan di setiap sudutnya. Penawaran itu hanya akan membawa Seokjin ke dalam penderitaan yang sama.

Penawaran itu hanya seperti sebuah penawaran dalam perjanjian bersama iblis dengan taruhan darahnya.

Ya, karena Seokjin memang bertaruh dengan darahnya, nyawanya, dan harga dirinya.

Seokjin tidak masalah jika dia harus bekerja sampai nyaris mati hanya untuk membayar hutangnya pada pemilik tempat ini.

Seokjin tidak keberatan, karena dia tahu dia bekerja untuk anaknya.

Tapi Seokjin tidak mau mengorbankan harga dirinya sebagai bahan taruhan dalam meja perjudian bersama seorang Kim Namjoon.

Ini terasa seperti dia menjual dirinya untuk kehidupannya bersama anaknya.

Anaknya itu miliknya. Itu milik Seokjin. Tapi kejadian di satu malam dan uang dalam nominal besar telah membuat Seokjin harus membayar hutang untuk mendapatkan anaknya sendiri.

Seokjin semakin yakin bahwa mungkin Tuhan memang membencinya. Tapi Seokjin harap Tuhan tidak membenci Jungkook kecilnya. Bahkan Seokjin rela memberikan semua keberuntungannya dan sisa hidupnya pada Tuhan apabila itu akan membuat Jungkooknya keluar dari rumah ini dengan selamat.

Jungkook adalah seorang carrier. Sama sepertinya.

Dan Seokjin akan berjuang mati-matian agar anaknya bisa dihargai di mata orang lain. Seokjin akan berjuang agar anaknya bisa berdiri dengan kedua kakinya sendiri dan mampu berjalan dengan kepala yang terangkat ke atas.

Dan untuk mencapai semua itu, Seokjin rasa dia harus memenangkan perjudian ini. Walaupun dirinya sendiri adalah taruhannya.


.

.


"Mama? Mama kenapa?"

Seokjin tersentak kembali dari lamunannya saat mendengar suara bernada polos dari anaknya. Seokjin menoleh cepat ke arah anaknya yang sedang memegang sendok di satu tangan dan mulut penuh butiran nasi. Seokjin menggeleng pelan, memasang senyum untuk menenangkan anaknya, "Mama baik-baik saja. Kookie sudah kenyang?"

Jungkook menunduk menatap mangkuknya yang sudah kosong, "Sudah, tapi Kookie ingin itu." Jungkook menuding ke arah sepiring buah stroberi segar di atas meja. "Apa itu, Mama? Apakah itu permen?"

"Itu.."

"Itu buah stroberi."

Seokjin menoleh dengan gerakan terlampau cepat ke arah asal suara dan dia melihat Taehyung berdiri di sana, dengan seragam sekolah menengah atas yang melekat sempurna di tubuhnya.

Tunggu, seragam sekolah?

Taehyung tersenyum lebar, rambut coklat terangnya disisir rapi tanpa gel rambut atau apapun dengan poni yang jatuh menutupi dahinya dengan rapi, dia juga mengenakan kacamata dengan frame berbentuk persegi berukuran cukup besar, seragamnya terpasang rapi, cenderung terlalu rapi malah.

Dia sama sekali tidak terlihat sebagai seorang pemuda yang mendatangi acara pelelangan manusia dan baru saja membeli seorang anak kecil.

Taehyung menarik kursi di depan Jungkook dan mengambilkan stroberi untuk anak itu, tapi sebelum dia memberikannya pada Jungkook, dia mencelupkan buah itu ke dalam stoples berisi selai cokelat dengan santainya.

"Makanlah, ini akan terasa jauh lebih enak dengan cokelat. Sungguh, rasanya seperti surga." Taehyung berujar semangat dan Jungkook mengambil stroberi penuh cokelat itu dengan ragu-ragu.

Jungkook melirik ibunya saat buah stroberi itu berada di antara jemari mungilnya, dan saat melihat ibunya mengangguk, maka Jungkook bergerak melahap buah itu perlahan. Dia menggigitnya sedikit dan matanya langsung melebar saat stroberi itu mendarat di mulutnya.

"Enak sekali!" pekik Jungkook.

Taehyung tertawa, tangannya terulur dan dia mengacak-acak poni tebal Jungkook. "Sudah kubilang, rasanya seperti surga." Kemudian pandangan matanya beralih ke Seokjin, dan dia melirik piring di depan Seokjin yang masih belum dibalik, tanda bahwa pria itu belum makan. "Kau tidak makan, Hyung?"

Seokjin nyaris terlonjak mendengar panggilan akrab itu, "Aku.." Seokjin berdehem, "Maksudku, aku.. hanya berpikir kalau itu tidak sopan."

Taehyung menyipitkan matanya tidak suka dan Seokjin bergerak gelisah di kursinya.

Dia baru saja melakukan sebuah kesalahan. Seokjin tahu itu.

"Maaf.."

"Aku tidak melarangmu makan jika itu yang kau khawatirkan, Hyung." ujar Taehyung. "Aku hanya tidak suka kau menunda makan hanya karena kau berpikir itu tidak sopan. Kau tamu di sini, Hyung. Jadi itu tidak salah sama sekali. Lagipula, tidak perlu sesungkan itu padaku, aku bahkan lebih muda darimu, Hyung."

Seokjin terdiam, dia menjalin jemarinya di atas pangkuan dan memainkannya dengan acak, kebiasaannya saat sedang gugup. "Maaf.."

"Tidak, jangan meminta maaf. Kau tidak melakukan kesalahan, tidak ada yang salah dengan sikapmu, Hyung. Justru sebaliknya, kesopananmu benar-benar membuatku kagum. Andai saja aku bisa sesopan dirimu, Hyung." Taehyung tersenyum setelah dia menyelesaikan kalimatnya sementara Seokjin tertegun.

"A-aku.. hanya.." Seokjin berujar gugup, dia tidak tahu harus memberi respon seperti apa karena memang berbeda dengan dirinya, orang-orang yang berada di rumah ini sangat penuh dengan kuasa. Dan nasib anaknya berada di tangan mereka semua, Seokjin hanya berusaha menjadi sebaik mungkin agar dia bisa terus berada di sisi anaknya.

"Taehyung! Kenapa belum berangkat? Kau akan terlambat!"

Taehyung menoleh ke arah asal suara dan senyum lebarnya kembali terpampang lebar di wajahnya saat melihat Jimin yang menatapnya dengan mata melebar kesal.

"Cepat ke sekolah!" seru Jimin lagi.

Taehyung terkekeh pelan, dia berdiri, berlari kecil menghampiri Jimin dan setelahnya menangkup wajah Jimin dan memberinya sebuah kecupan di bibir. Itu adalah jenis kecupan basah karena Seokjin benar-benar mendengar suara perpaduan bibir mereka.

Dan itu berhasil membuat Seokjin terpaku.

Dia bisa menduga Jimin carrier, tapi.. bukankah dia pasangan seseorang berambut hitam bernama Yoongi? Semalam saat memperkenalkan diri, Jimin jelas-jelas mengatakan kalau dia adalah 'kekasih Yoongi'.

Jimin mendesis pelan dan mendorong tubuh Taehyung menjauh darinya kemudian mengusap bibirnya sendiri. Sementara Taehyung tidak keberatan sama sekali melihat tindakan Jimin, dia justru tertawa keras, kemudian memeluk Jimin dan hal itu membuat Jimin menginjak kakinya dengan keras hingga Taehyung melompat mundur seraya mengaduh dengan heboh.

"Cepat sekolah!" bentak Jimin lagi.

Taehyung mengangguk, masih melompat-lompat ringan dengan satu kaki sementara kaki yang satunya sedang dielus-elus olehnya.

Seokjin berusaha menahan dirinya sendiri untuk tertawa karena sumpah demi apapun, mereka berdua benar-benar seperti menyajikan sebuah slapstick comedy.

Seokjin menggigit bagian dalam pipinya, berusaha sekuat mungkin menahan tawa terlebih lagi ketika Taehyung yang masih melompat-lompat ringan dengan satu kaki tidak sengaja menabrak kursi makan dan akhirnya dia terjatuh dengan keras di lantai.

Taehyung mengumpat, lancar sekali, dan Seokjin menoleh ke arah anaknya, berharap anaknya tidak menangkap umpatan itu. Dan untungnya anaknya terlalu sibuk dengan stroberinya sehingga dia sama sekali tidak menyadari kerusuhan yang terjadi di dekatnya.

"Hal bodoh macam apa yang sedang kalian berdua lakukan?!"

Suara tegas dan berat yang berasal dari tuan rumah utama rumah ini membuat Jimin dan Taehyung menoleh dan Seokjin terdiam ketakutan. Seokjin menggeser posisinya agar menutupi Jungkook dari pandangan Namjoon tapi kelihatannya itu sia-sia karena Namjoon jelas-jelas sudah melirik ke arah anaknya.

Taehyung bergerak bangun dengan ringkas, "Tidak ada, aku mau ke sekolah."

Namjoon mengangguk, "Hn,"

Jimin menghela napas pelan, "Pergi sana, dan jangan bawa mobil sendiri. Kau belum punya surat izin, astaga."

Taehyung mengangkat bahunya acuh, "Seperti para anjing-anjing pemerintahan itu berani menangkap salah satu dari kita saja." Taehyung terkekeh kemudian dia menyeringai ke arah Namjoon.

Namjoon tersenyum miring, "Kau belajar dengan baik."

Jimin menghela napas pelan, "Astaga, apa dosaku sampai terjebak bersama kalian?!"

Namjoon mengangkat bahunya, dia berjalan menuju kursi utama di meja makan dan duduk di sana. "Entahlah, coba tanya pada Yoongi. Dia yang menjeratmu lebih dulu kan? Seperti laba-laba menjerat serangga di jaringnya."

Jimin menyipitkan matanya, memandang Namjoon dengan sinis. "Aku benci padamu, kau tahu itu, kan?"

"Aku tahu. Justru kalau kau mengatakan kau mencintaiku, itu akan terdengar sangat aneh." Namjoon berujar acuh, dia memandang ke arah cangkir kopinya yang kosong, "Mana kopiku?"

Jimin melirik cangkir Namjoon, "Master kopi kesayanganmu sedang cuti. Dia pergi pagi-pagi tadi karena ibunya sakit, kudengar ibunya terserang serangan jantung."

Namjoon mendongak dengan gerakan cepat, "Jadi maksudmu aku tidak akan mendapat kopi pagi ini?!"

Jimin berdecak, "Jangan menyulitkan pekerjamu, dia ada urusan yang penting. Wajar jika dia cuti dan tidak bisa membuatkanmu kopi."

Namjoon mendengus, "Kau terlalu baik pada pekerja di rumah ini."

Jimin memutar bola matanya, "Aku memang ramah pada siapapun, tidak sepertimu." Jimin menarik kursi di sebelah Namjoon, "Sudah, aku mau sarapan."

Namjoon menatap cangkir kopinya, "Fuck, I need my morning coffee!"

Jimin melempar Namjoon dengan serbet, membuat Namjoon menggeram dan membentak 'Apa?!' dengan keras pada Jimin.

Jimin melotot pada Namjoon, dia menggerakkan kepalanya ke arah Seokjin dan Jungkook. Dia melihat Jungkook yang sudah berhenti makan, duduk dengan tangan mungilnya yang gemetar dan stroberi berlumuran cokelat yang jatuh di dekat tangan mungilnya.

Kelihatannya bayi itu terkejut karena suara bentakan Namjoon.

Sementara ibunya, ibunya tidak jauh berbeda dengan anaknya. Pria itu berdiri merapat pada anaknya dan samar-samar Namjoon bisa melihat tangannya gemetar dan perlahan-lahan bergerak untuk menangkup tangan kecil bayinya yang berlumuran cokelat.

Namjoon berdehem, dia menunduk dan mengumpat pelan, "Sial, ini karena aku belum mendapat asupan kafein."

Jimin menghela napas pelan sementara Taehyung yang ternyata masih berdiri di dekat mereka mengangkat bahunya.

"Oh, sudahlah. Aku mau sekolah." Dia berjalan meninggalkan meja makan namun sebelum dia pergi, dia sempat berbalik dan menatap Jungkook, "Jungkook! Tunggu aku pulang sekolah ya! Aku akan mengajakmu bermain!" dia berujar semangat seraya melambai riang pada Jungkook, benar-benar mengabaikan bayi itu yang justru semakin pucat.

Jimin berdecak pelan menatap Taehyung yang berjalan pergi sambil melompat-lompat ringan, "Si idiot satu itu.." kemudian setelahnya Jimin menatap ke arah Seokjin dan Jungkook yang masih gemetar di ujung meja. "Duduklah, Seokjin. Dan makanlah sesuatu, Hoseok akan datang ke sini setelah dia selesai melakukan pemeriksaan pagi pada para pasiennya."

Seokjin terdiam, dia melirik Namjoon yang masih menggerutu dan sedang memotong telur di piringnya dengan beringas. "A-aku.. b-bisa mem-membuat kopi.."

Oh sialan, persetan dengan suaranya dan kegugupannya saat berbicara. Seokjin bahkan beruntung dia tidak melukai bibirnya karena memaksakan diri berbicara disaat bibirnya gemetar hebat karena ketakutan.

Kepala Namjoon terangkat, "Apa kau berencana meracuniku dalam kopi yang kau buat?"

Astaga, darimana pikiran sejahat itu datang?

Seokjin menggeleng-geleng dengan cepat. Dia tidak pernah berpikiran untuk meracuni Namjoon. Bahkan, Seokjin tidak pernah berpikiran untuk menyakiti siapapun yang berada di rumah besar ini.

Jimin menghela napas pelan, "Dia hanya mencoba berbuat baik. Kau berpikir seseorang yang dengan baiknya memberikan susu pisang untuk Taehyung akan mencoba meracunimu? Otakmu itu perlu dicuci."

Namjoon masih diam, dia menatap Seokjin dengan pandangan tajam dan menilai.

Dan Seokjin, dia merasa seperti sedang diadili.

Dia merasa seperti narapidana yang menanti vonis hukuman mati dan Namjoon adalah hakim yang nantinya akan menentukan apakah dirinya akan hidup atau mati.

"Oke, tapi jika rasa kopimu tidak enak. Aku akan menjadi orang pertama yang menyirammu dengan air panas." Namjoon berujar dingin dan Jimin lagi-lagi mendesis kesal.

Seokjin mengangguk cepat, dia mengangguk dengan gerakan cepat dan berbalik, mengambil Jungkook ke dalam gendongannya dan berjalan cepat menuju dapur.

"Dia tahu letak dapur?" ujar Namjoon, terdengar seperti berbicara pada dirinya sendiri tapi Jimin menoleh ke arah Namjoon.

"Dia bahkan membantu memasak sarapan pagi ini. Semua pelayan mengira dia tamumu dan mereka semua ketakutan setengah mati saat melihat Seokjin menggulung lengan pakaiannya untuk membantu mereka." Jimin menjawab dengan santai seraya memotong roti di piringnya.

Namjoon menoleh ke arah Jimin, "Namanya Seokjin?"

Jimin memutar bola matanya, "Kau bahkan tidak tahu namanya? Kau tidak tahu namanya dan kau sudah mengatakan padanya kalau kau akan menghamilinya agar dia bisa keluar dari sini?" Jimin terperangah, "Aku benar-benar tidak percaya ini."

"Hei," Namjoon berujar memperingatkan, "Hati-hati dengan mulutmu sendiri."

Jimin berhenti memakan sarapannya, "Oke, aku akan ke kamarku." Jimin meletakkan pisau dan garpunya kemudian berdiri dari posisi duduknya.

Tak lama setelah Jimin pergi, Seokjin kembali dari dapur bersama dengan Jungkook yang berjalan di belakangnya seraya mencengkram ujung pakaian ibunya. Anak kecil itu mengintip dengan hati-hati saat ibunya berjalan semakin dekat dengan Namjoon.

Seokjin meletakkan cangkir berisi kopi itu dengan tangan gemetar, bahkan dia nyaris saja menumpahkan isinya karena tangannya benar-benar gemetar hebat.

Namjoon melirik cairan kopi yang berada di dalam cangkir. "Kau tahu apa yang akan terjadi kalau kopi ini terasa mengerikan, kan?"

Seokjin tersentak, dia berdiri dengan gemetar dan tidak tahu harus menggeleng ataukah mengangguk.

Namjoon melirik Jungkook yang langsung menyembunyikan tubuhnya di balik tubuh ibunya, anak kecil itu terlihat seperti mencoba mencari perlindungan. Padahal ibunya benar-benar terlihat dia tidak sanggup melindungi dirinya sendiri, jadi bagaimana mungkin anaknya sangat percaya pada ibunya?

Bodoh sekali.

Namjoon berdecak pelan kemudian dia meraih cangkir kopi itu dan menyesap isinya.

Seokjin terdiam, dia menunduk dalam dan hanya berani menatap Namjoon dari balik poninya, tubuhnya berkeringat dingin karena gugup dan dia sangat berharap rasa kopi buatannya sesuai dengan selera Namjoon.

Namjoon mengecap lidahnya dengan suara keras kemudian lidahnya terjulur untuk menjilat sisa kopi itu di sekitar bibirnya. Dan Seokjin merasa bahwa dia mungkin akan benar-benar mati sekarang.

"Hai!"

Pekikan penuh suara ceria itu membuat Namjoon mendongak dari cangkirnya, Seokjin juga ikut menoleh dengan ragu-ragu dan dia melihat dokter yang semalam memeriksanya, Hoseok, sedang berjalan ke arah mereka dengan senyum lebar di wajahnya.

"Aku datang untuk memeriksa kondisimu lagi, Seokjin." Hoseok menatap kepala Seokjin yang dibalut perban, "Ah, lukanya berdarah lagi, aku akan mengganti perbannya."

Seokjin hanya bisa berdiri diam dengan kaku. Dia tidak tahu lukanya berdarah lagi, dia bahkan tidak merasakan apapun, berada di sekitar Namjoon benar-benar membuat semua rasa sakitnya tertelan karena lebih didominasi oleh rasa takut.

Hoseok berjalan semakin dekat ke arah mereka dan dia merogoh sesuatu dari balik mantelnya, "Hari ini aku iseng pergi ke bagian anak dan lihat apa yang kutemukan." Hoseok mengeluarkan sesuatu yang terlihat seperti sekantung kecil biskuit yang dibungkus dengan plastik bening dan diikat dengan pita berwarna merah muda cerah. "Lihat, ini biskuit sehat. Hari ini ada demo memasak di rumah sakit." Hoseok tersenyum dan menyodorkan biskuit itu untuk Jungkook, "Ini untukmu."

Jungkook tidak bergerak untuk mengambil biskuit itu, sebaliknya, dia justru mendongak menatap ibunya, menunggu ibunya memberi persetujuan. Dan ketika Seokjin mengangguk, Jungkook mengulurkan jari kecilnya dengan ragu-ragu dan mengambil biskuit itu.

Hoseok yang melihat perbuatan Jungkook mendongak menatap ibu dari bayi itu, dia sangat yakin Seokjin melakukan itu agar Jungkook tidak sembarangan menerima sesuatu dari orang asing. Tapi pertanyaannya adalah, kenapa?

Kenapa Seokjin melakukan itu?

Apakah dia melakukan itu karena tidak mau anaknya dikasihani oleh orang lain?

Atau apakah ada alasan lain?

Hoseok menarik napas dalam dan berdiri dari posisinya, "Oke, sebaiknya kita ke kamar untuk memeriksa lukamu." Hoseok tersenyum pada Seokjin, "Apa kau sudah sarapan? Aku membawa obat pereda nyeri untukmu."

Seokjin mengangguk cepat dan Jungkook yang berdiri merapat pada ibunya menggeleng pelan, "Mama belum sarapan."

Hoseok membulatkan matanya, "Oh, benarkah? Terima kasih atas informasinya, Jungkook-ah." Hoseok tersenyum pada Jungkook kemudian dia kembali menatap Seokjin, "Nah, kau harus sarapan."

Seokjin menggeleng pelan, "A-aku.. tidak lapar."

Hoseok berdecak, "Jangan berbohong padaku." tangan dokter itu terulur dan dia mengambil empat buah muffin di atas meja, "Ayo, aku akan memeriksa lukamu."

"Hoseok,"

Hoseok menoleh ke arah Namjoon yang baru saja memanggilnya, "Hmm?"

"Siang nanti, bawa dia ke rumah sakitmu. Aku ingin kau melakukan pemeriksaan menyeluruh pada dirinya." Namjoon menjelaskan tanpa menatap si dokter yang sedang berdiri dengan bingung.

"Pemeriksaan menyeluruh?"

"Ya, pastikan dia tidak memiliki penyakit atau lainnya. Orang yang nantinya akan mengandung pewarisku harus sehat. Aku tidak mau anakku cacat."

Hoseok memiringkan kepalanya dengan bingung, "Pewaris?" ujarnya tidak fokus dan setelahnya mata Hoseok membulat. "Namjoon! Kau! Jangan bilang kalau kau berencana untuk.."

"Hoseok," Namjoon berujar memperingatkan dan Hoseok langsung membungkam mulutnya.

Dokter itu melirik Seokjin dengan sedih kemudian dia meraih tangan Seokjin dan menyeret pria itu untuk meninggalkan ruang makan, tentunya dengan Jungkook yang mengikuti kemanapun ibunya pergi.

Setelah Hoseok dan pasangan ibu – anak itu pergi, Namjoon mendesah pelan, dia kembali menyesap kopinya dan bergumam puas. "Kopinya lumayan juga."


.

.

.


Seokjin tidak mengerti, dia benar-benar tidak mengerti kenapa semua orang berperilaku sangat baik padanya. Dia merasa dia adalah pihak yang bersalah di sini, anaknya dijual karena kebodohannya dan orang-orang di sini membelinya, bukankah seharusnya mereka memperlakukan Seokjin seenaknya?

Tapi kenapa mereka justru berperilaku sangat baik padanya?

Bahkan Hoseok memeriksa luka di kepalanya dengan hati-hati, menyuruhnya makan dan banyak beristirahat, dan juga memeriksa memar yang ada di tubuh Jungkook dengan hati-hati.

Setelah memeriksa lukanya, Hoseok meninggalkan Seokjin di kamar yang ditempatinya bersama Jungkook dan menyuruhnya untuk tidur sebentar dan Hoseok akan menjemputnya nanti untuk pemeriksaan di rumah sakitnya.

Seokjin menurut. Seokjin terlalu takut untuk membantah jadi dia lebih memilih untuk selalu menurut dan menjadi anak baik.

"Mama, apakah kita akan tinggal di sini terus?" bisik Jungkook.

Seokjin terdiam, dia tidak tahu jawaban apa yang harus dia berikan pada anaknya.

Apakah mereka akan tinggal di sini seterusnya?

Seokjin bahkan tidak tahu.

Dia tahu Namjoon mengatakan kalau dia bisa keluar jika Seokjin sudah memberikannya pewaris. Dan pewaris berarti dominan. Seokjin harus memberikan anak laki-laki dominan atau Namjoon mungkin saja akan membunuhnya dan anaknya.

Jadi itu berarti dia harus tinggal di sini sampai melahirkan?

Tapi.. untuk bisa hamil Seokjin harus tidur dengan Namjoon, kan? Apa Namjoon bahkan ingin melakukan itu? Dia bahkan menatap Seokjin dengan pandangan enggan dan terlihat jengah luar biasa.

Bagaimana mungkin mereka bisa membuat bayi?

Dan lagi, Seokjin masih sangat takut untuk berada dalam jarak yang intim dengan siapapun. Dia tidak bisa, karena bayangan menjijikkan yang terjadi malam itu akan terus terulang dalam kepalanya.

Sungguh, membayangkan itu saja membuat Seokjin bergetar ketakutan dan napasnya terputus-putus.

"Mama?"

Seokjin tersentak, dia menunduk untuk menatap anaknya. "Mama.. Mama tidak tahu berapa lama kita harus tinggal di sini. Kenapa? Apa Kookie merindukan rumah?"

Jungkook mengangguk, "Aku kasihan pada Bon-Bon. Dia sendirian di rumah, Mama."

Seokjin terdiam, dia nyaris menangis. Seandainya saja semalam dia cukup kuat dan bisa melawan, dia dan anaknya pasti tidak akan terkurung dalam penjara ini.

Seandainya saja mereka beruntung.

Ya, seandainya saja Tuhan berpihak pada mereka, semua ini tidak akan terjadi.


.

.

.


"Kau berencana menghamilinya? Apa kau gila?!" bentak Hoseok seraya memukul meja kerja Namjoon dengan keras.

Namjoon hanya menatap Hoseok datar, sama sekali tidak tertarik dengan isi pembicaraan yang sedang dimulai oleh Hoseok. "Kalau iya, kenapa?"

"Namjoon! Kau tidak bisa melakukan itu!"

"Kau pikir siapa dirimu yang berhak mengaturku?"

Hoseok berdecak, dia mengacak rambutnya frustasi. "Aku dokter! Dan kau akan melakukan suatu kejahatan besar jika kau berniat menghamili Seokjin dalam waktu dekat!"

Namjoon memiringkan kepalanya, memasang wajah bosan dan tidak tertarik. "Kenapa?"

"Karena dia trauma!" teriak Hoseok keras. Dokter itu menarik napas dalam dan berjalan mondar-mandir di ruang kerja Namjoon. "Aku memeriksanya, dan aku menemukan banyak sekali bekas memar, bekas luka goresan, dan juga.."

"Apa?" sahut Namjoon lagi, terdengar begitu santai dan tidak peduli.

"Aku menemukan bekas luka pelecehan seksual yang parah. Dia butuh masa pemulihan, atau kau bisa membunuhnya jika kau memaksakan dirimu padanya."

Dahi Namjoon berkerut, "Apa dia bekerja sebagai pelacur atau semacamnya?"

Hoseok mendesis kesal, "Pelacur tidak akan setrauma itu ketika aku mencoba membuka kancingnya. Kemarin, dia menangis tanpa suara ketika aku membuka pakaiannya untuk membersihkan tubuhnya dari noda darahnya sendiri. Dia tidak memberontak, dia tidak menangis, dia bahkan tidak bersuara, dia hanya duduk diam dengan airmata mengalir dari matanya."

Dokter itu menghela napas pelan sebelum dia menatap Namjoon, "Dia trauma. Aku tidak tahu kapan kejadian itu terjadi dan kenapa berhasil membuatnya trauma sehebat itu, tapi.. aku bersumpah demi diriku sendiri, aku akan melukaimu dengan tangan kosong jika kau berani menyentuhnya disaat dia dalam kondisi seperti itu."

Namjoon menjalin jarinya dan meletakkannya di atas mejanya, "Kau berharap aku peduli? Siapkan saja tubuhnya agar kuat mengandung anakku. Aku tidak peduli soal urusan traumanya, aku tidak punya waktu mengurusi omong kosong itu."

Hoseok mendesah frustasi, terlihat jelas dia menahan dirinya sendiri untuk tidak melayangkan tangannya pada Namjoon. "Kenapa kau tidak melakukan ini dengan Jimin saja? Dia carrier, dan dia sehat. Buat Jimin mengandung anakmu dan bebaskan dia, bebaskan Seokjin. Dia tidak bersalah apapun padamu."

"Aku tidak berniat menjadikan Jimin sebagai pasanganku. Dia milik Yoongi dan Taehyung." ujar Namjoon acuh. "Dan aku tidak tertarik untuk mencari istri."

Hoseok mendesah lelah, "Apa ini karena dia? Apa karena dia kau menjadi malas mencari istri? Namjoon, dia hanya.."

"Berhenti membahas dia, Hoseok." Namjoon berujar memperingatkan dengan mata berkilat marah.

Hoseok mengangkat kedua tangannya, "Oke! Mari kita berhenti membahas dia dan kembali membahas Seokjin. Karena jujur saja, aku tidak bisa mempersiapkan tubuhnya untukmu begitu saja seperti mempersiapkan ayam untuk dipotong. Dia manusia, tolong, berlakulah lebih lembut padanya."

"Itu tidak ada dalam kamus hidupku."

Hoseok terlihat amat sangat frustasi. Dia mencengkram pinggiran meja Namjoon dan menunduk dalam. "Baiklah, aku akan melakukan apapun perintahmu. Dan aku akan berdoa setulus mungkin pada Tuhan agar kau tidak.." Hoseok menjeda sebentar, "Agar kau tidak membunuhnya."

"Hoseok, aku hanya akan menyetubuhinya. Dan aku tidak pernah membuat partner seksku mati."

"Ya, aku tahu. Tapi partner seksmu tidak dalam kondisi trauma kejiwaan yang mendalam terkait hubungan seksual. Dan Seokjin, Seokjin dalam masalah trauma seksual yang besar."

"Aku tidak tertarik untuk berhubungan seks dengan orang gila. Mungkin.. jika dia memang tidak memenuhi syarat, aku akan membunuhnya, dan membiarkan anaknya menjadi salah satu pengawalku."

Sial. Hoseok benci saat Namjoon sudah mengancam akan membunuh orang lain. Hoseok benci melihat nyawa orang-orang terus saja melayang dan itu disebabkan karena kedua tangan Namjoon.

"Aku akan melakukan semua yang kubisa agar dia siap untukmu." Hoseok berujar pasrah.

Namjoon menyeringai, "Kau memang mengerti kemauanku dengan terlampau baik."

"Ya, aku merasa seperti sedang melayani iblis saat berada di sekitarmu."

Namjoon tertawa, "Kupikir kau sudah mengerti kenapa Yoongi selalu menyebutmu sebagai malaikat yang tersesat di neraka."


.

.

.


Seokjin pergi bersama Hoseok saat dokter yang baik hati itu menjemputnya di rumah. Tadinya Seokjin ingin mengajak Jungkook pergi, tapi Hoseok melarangnya karena mereka akan memeriksakan sesuatu yang sangat pribadi bagi Seokjin.

Seokjin jelas terlihat tidak mau, tapi setelah Hoseok berulang kali membujuknya, bahkan jelas-jelas meminta pelayan di rumah untuk bersumpah menjaga Jungkook dengan baik, Seokjin akhirnya mau pergi. Terlebih lagi saat itu Namjoon sedang pergi keluar untuk mengurus pekerjaannya bersama Yoongi.

Dan nantinya, rumah itu hanya akan berisi para pelayan dengan Taehyung yang baru pulang dari sekolah. Tapi Taehyung jelas tidak akan mengganggu Jungkook, apalagi mencelakainya, karena Taehyung jelas-jelas menyukai anak kecil.

Dan Seokjin menyadari itu, karena itulah dia memutuskan untuk pergi menuruti Hoseok untuk memeriksa tubuhnya.

Seokjin sendiri tidak terlalu paham pemeriksaan apa yang akan dijalaninya. Tubuhnya memang jelek, tubuhnya penuh luka bekas pukulan, stretch mark karena dia sudah pernah hamil dan melahirkan satu kali, dan juga.. bekas luka di bagian paling pribadi di tubuhnya karena kejadian malam itu.

Hoseok memulai serangkaian tes itu dengan tes darah untuk Seokjin. Kemudian setelah selesai dia memeriksa memar di tubuh Seokjin satu-persatu dan menanyakan darimana Seokjin mendapat semua memar itu.

Dan Hoseok tidak menyangka jawabannya akan semengerikan itu.

Menurut Seokjin, kejadiannya terjadi sekitar tiga minggu lalu. Malam itu dia pergi membersihkan galeri seni sendirian karena Jungkook sedang demam dan dia menitipkan bayinya di toko milik seorang wanita baik hati yang mempekerjakan dirinya sebagai pengantar susu.

Seokjin sedang berusaha untuk membersihkan galeri seni itu secepat mungkin, ketika dia mendengar suara ribut-ribut dan menyadari kalau ada sekitar lima orang pria yang mencoba menerobos masuk karena mabuk.

Sebenarnya, Seokjin tidak bermaksud jahat. Dia hanya meminta kelima orang pria itu untuk pergi karena jika ada yang rusak dari galeri seni itu, maka jelas Seokjin lah yang nantinya akan disalahkan. Seokjin bahkan berbicara dengan mereka secara baik-baik, dia membujuk mereka untuk pergi.

Tapi sayangnya, lagi-lagi, untuk kesekian kalinya, Tuhan tidak berpihak pada Seokjin. Kelima pria itu justru tidak terima, mereka yang berada di bawah pengaruh alkohol justru melecehkan Seokjin dan membuatnya trauma luar biasa karena mereka merekam ketika mereka melecehkan Seokjin dan mengatakan kalau mereka akan menyebarkan video itu.

Seokjin ketakutan, jelas. Dia memohon kepada para pria itu untuk tidak melakukannya karena jika mereka melakukannya, maka harga diri Seokjin akan semakin hancur. Dan sebagai pembayarannya, Seokjin harus merelakan dirinya untuk dilecehkan oleh kelima pria itu secara terus-menerus untuk seminggu berikutnya.

Perbuatan mengerikan itu akhirnya terhenti karena polisi memergoki mereka dan menyelamatkan Seokjin. Kelima pria itu masuk ke dalam penjara, tapi trauma Seokjin tidak juga pergi.

Seokjin terlalu ketakutan. Dia tidak berani untuk melakukan apapun karena dia takut video itu akan disebarkan, dan para polisi justru menyebutnya bodoh karena dia hanya pasrah saja. Kelima pelaku itu nyaris saja dibebaskan karena polisi menganggap Seokjin sendiri mengundang mereka untuk melecehkan dirinya.

Tapi untungnya, seorang psikiater yang disewa untuk menangani Seokjin mengatakan mengenai trauma Seokjin pada polisi dan akhirnya kelima pria itu tetap ditahan di penjara, dan Seokjin dibebaskan.

Selama mendengarkan cerita Seokjin, Hoseok bahkan tidak bisa merespon apa-apa. Dia hanya diam mendengarkan dan menahan dirinya sendiri untuk tidak membunuh kelima pria yang sudah melakukan tindakan sekeji itu pada seorang pria carrier yang notabene memang lebih lemah daripada pria dominan.

"Kenapa kau tidak langsung melaporkan mereka? Mereka hanya mengancammu, kau tahu?" ujar Hoseok, sementara Seokjin masih duduk diam di hadapannya seraya menangis hebat.

"A-aku takut.. m-mereka bilang.. mereka akan menunjukkannya pada Jungkook. A-aku tidak mau.. aku tidak mau Jungkook melihat i-itu. Aku tidak mau Jungkook m-melihat ibunya yang memang menyedihkan dan selalu sial. A-aku tidak mau Jungkook trauma.. karena Jungkook juga carrier. A-anakku carrier, dan aku tidak mau dia mengalami hal serupa denganku.."

Penjelasan yang keluar dari Seokjin dengan terbata-bata membuat Hoseok mengepalkan tangannya. Dia baru menyadari satu hal. Suatu kenyataan baru yang sangat keji dan pastinya tidak disadari oleh para polisi bodoh itu karena Seokjin hanyalah pria carrier miskin yang kasusnya tidak perlu ditangani dengan serius.

Ucapan Seokjin menegaskan kenyataan kalau kelima pria itu tahu mengenai Seokjin. Mereka tahu soal Seokjin dan anaknya dan betapa Seokjin mencintai anaknya lebih daripada dirinya sendiri.

Mereka tahu. Dan mereka pastinya merencanakan tindakan keji itu.

Menjadi seorang dokter membuat Hoseok selalu menjunjung tinggi nyawa manusia yang berharga. Tapi kali ini, Hoseok sangat ingin membunuh kelima pria yang melakukan semua itu kepada Seokjin. Hoseok ingin sekali membunuh mereka dengan perlahan agar mereka menyadari bahwa tindakan mereka sangat mengerikan. Dan agar mereka bisa merasakan rasa sakit yang pastinya Seokjin rasakan.


.

.

.


Hoseok menceritakan semua yang terjadi dan apa yang dikatakan Seokjin pada Namjoon pada malam harinya setelah dia dan Seokjin kembali dari rumah sakit.

"Itu gila, Namjoon. Aku sangat kagum Seokjin tidak menjadi gila karena semua yang dialaminya, keinginannya untuk bertahan hidup demi Jungkook sangat luar biasa. Dan kau.. jangan pernah berani memisahkan Seokjin dari Jungkook karena aku sangat yakin itu akan membunuh Seokjin. Seokjin bisa mati saat itu juga."

Namjoon masih diam, dia sama sekali tidak memberikan reaksi sampai akhirnya dia meraih ponselnya di atas meja dan menghubungi seseorang.

Hoseok menatapnya dengan dahi berkerut, "Apa yang kau lakukan?"

"Meminta Jackson melakukan sesuatu." Namjoon menjawab santai.

"Jackson, tambahan tugas." Namjoon memulai dengan tegas saat seseorang di sambungan teleponnya menjawab teleponnya, "Ya, cari tahu soal kasus pemerkosaan Seokjin di galeri seni. Ya, profil lengkap pelakunya dan dimana mereka berada sekarang. Oke, kutunggu paling lambat dua puluh empat jam dari sekarang."

"Apa kau berniat membalas mereka?" tanya Hoseok.

Namjoon meletakkan ponselnya, "Tidak juga." Namjoon terlihat masih sibuk dengan ponselnya, dia terlihat sepeti sedang mengetikkan sesuatu di sana.

"Kali ini apa lagi?"

"Aku meminta Taehyung untuk membawa Seokjin ke sini." ujar Namjoon santai.

Dahi Hoseok berkerut penuh kecurigaan, "Apa yang ingin kau lakukan padanya?"

"Menagih hutangnya padaku."

Hoseok membulatkan matanya, "Namjoon!"

Suara ketukan di pintu membuat Hoseok yang tadinya sudah berniat untuk memukul Namjoon terhenti. Pintu terbuka karena Namjoon menekan sebuah tombol dari mejanya dan Taehyung berjalan masuk ke dalam bersama Seokjin.

Namjoon berdehem pelan, "Tinggalkan kami."

Taehyung mengangguk patuh sementara Hoseok berbisik penuh ancaman, "Aku bersumpah aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri kalau kau berani memaksakan dirimu pada Seokjin."

Namjoon menanggapi ancaman Hoseok dengan anggukan santai. "Keluar."

Ketika Hoseok dan Taehyung sudah berjalan keluar, Namjoon mengibaskan tangannya, meminta Seokjin berjalan mendekat padanya.

Seokjin menurut dengan langkah ragu, dia berdiri dengan takut-takut di hadapan meja Namjoon. Sementara itu, Namjoon hanya duduk bersandar dengan santai dan menatapnya.

"Aku sudah tahu soal traumamu itu." ujar Namjoon. "Tapi jangan harap itu akan membuatku menghentikanku untuk mendapatkan pewaris darimu. Kau berhutang padaku. Ingat itu."

Seokjin menggigit bibirnya kuat-kuat dan mengangguk pelan.

"Sebulan dari sekarang, aku akan mengadakan pesta pernikahan. Dan itu adalah pesta pernikahan kita, aku mau luka-luka di tubuhmu sembuh dan kau siap untuk pesta itu." Namjoon melipat tangannya di atas meja, "Aku bukan orang yang baik, jadi jangan harap aku peduli. Sembuhkan sendiri traumamu karena jika kau mendadak berubah menjadi orang gila saat aku menyentuhmu, maka aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri."

Namjoon melihat darah yang menetes dari bibir Seokjin dan dia asumsikan itu karena Seokjin menggigit bibirnya sendiri terlalu keras.

"Kau harus tahu satu hal, Seokjin.." ini adalah pertama kalinya Namjoon memanggil nama Seokjin dan Seokjin merasa bahwa dia seperti mendengar iblis memanggil namanya.

"Kau berurusan dengan iblis yang salah." Namjoon melanjutkan dengan datar.

Dan Seokjin langsung menyadari, saat ini dia memang terjebak di dalam neraka.

To Be Continued


.

.

.


Hai, aku fast update nih.

Karena jujur, aku masih kepikiran soal fanfik ini disama-samain sama fanfik yang lain dan di sini aku mau ngebuktiin kalo fanfikku itu beda.

Sekarang, masih mirip gak fanfiknya? Coba baca baik-baik deh. Kalo menurut kalian masih mirip, aku punya pertanyaan buat kalian.

Satu, Namjoon mau ngapain sih sama Seokjin? Kenapa dia malah nyari pelaku pemerkosanya Seokjin? Terus Namjoon tuh jahat apa nggak sih? Kok pestanya sebulan lagi? Kenapa sebulan?

Dua, Seokjin itu kenapa sih? Kok dia gak ngizinin Jungkook ngambil apapun yang dikasih ke dia kecuali udah diizinin sama Seokjinnya? Terus Seokjin ini carrier, cuma dia lemah gak sih? Atau jangan-jangan dia malah kuat dan gak pasrah sama situasinya?

Tiga, Taehyung, Yoongi, Jimin itu kenapa sih? Jimin kenapa? Dia katanya carrier, tapi kok dia gak lemah kaya carrier? Terus kok Taehyung bisa deket sama Jimin juga? Yoongi kenapa bawa Jimin ke rumahnya Namjoon ya? Padahal di rumah Namjoon Jiminnya deket sama Taehyung juga. Itu kenapa ya?

Empat, Yoongi itu dominannya Jimin, kan? Kok dia diem aja Taehyung sama Jimin deket?

Lima, Taehyung ini maunya sama siapa? Terus kenapa dia bisa ada di rumah Namjoon? Dia masih tujuh belas tahun lho.

.

Nah, yang masih yakin ini jiplak, coba sana cari jawabannya di ff yang katanya kujiplak itu. Aku yakin mau kamu bolak-balik itu ff sampe kamu baca pake kaca pembesar juga jawabannya gak bakalan ketemu. Emang di ff itu ada masalah kaya gini? Haha. Kalian lucu sih, langsung mirip-miripin sesuatu yang nggak mirip.

.

.

Satu lagi. ((ah bodo amat author notesnya banyak, masalahnya ff ini emang banyak sih))

Harus berapa kali aku bilang kalo akutu fleksibel di OTP gaes? Aku udah bilang aku fleksibel di OTP, selama itu bukan bottom Namjoon.

Sekarang banyak yang bilang aku nulis YoonMin karena terhasut. Like what? Itu info darimana, cinta?

Aku emang bisa nulis YoonMin, sebelum ini aku udah dua kali nulis YoonMin. Ya, aku tahu awalnya aku nulis MinYoon, tapi sampe hari ini aku juga masih nulis MinYoon. Kamu pikir aku bohong? Baca ulang tuh Imprint, Red Droplets, sama The Deity's Bride. Itu isinya apa? slight pair MinYoon.

Aku sudah bilang, aku menulis YoonMin karena kepentingan cerita. Udah dua chapter nih, ketebak gak kenapa?

Harap diingat aku kalo nulis ff itu awalnya tanpa cast yang ujungnya castnya aku tambahin, aku sesuaiin. Jadi, kalo berdasarkan itu, ketebak nggak?

Kalo gatau, mending jangan komen-komen jelek yang bikin orang sakit kepala. Kalo mau komen jelek, coba pake akun biar kita bisa PM-an, oke beb?

.

Nah, oke, saya curhatnya sampe sini aja. Silahkan dinikmati apa yang saya sajikan.

Saya tetap menunggu tanggapan dari kalian, dan yang mau komen jelek, silahkan, tapi pake akun ya biar aku klarifikasinya enak.