Dulu Seokjin selalu merasa hidupnya menyedihkan. Dia hidup dengan kondisi serba kekurangan, apalagi di masa awal saat dia mengandung Jungkook.

Masa itu terasa sepert mimpi buruk tak berkesudahan. Seokjin ingat, hari ketika dia mengetahui fakta soal dia yang tengah mengandung, senyum Seokjin langsung terkembang begitu lebar.

Dia bahagia. Dia membawa nyawa lain di dalam tubuhnya dan tidak pernah ada momen yang jauh lebih membahagiakan dibandingkan momen saat kau membawa nyawa lain di dalam tubuhmu.

Tapi sayangnya, senyum Seokjin tidak pernah lagi muncul sejak ayahnya mengetahui fakta kalau Seokjin hamil. Ayahnya juga tahu apa penyebab Seokjin hamil, ya tidak ada yang tidak tahu masalah perkosaan yang dialaminya.

Bahkan, orangtuanya dan orangtua pelaku pemerkosanya saling kenal.

Tapi pertemanan itu tidak menjamin akan adanya hal-hal manis seperti si pelaku yang mengatakan kalau dia akan bertanggung jawab soal Seokjin.

Tidak, tidak ada.

Karena yang ada hanya caci maki orangtuanya dan Seokjin yang harus keluar dari rumahnya sendiri agar ayah dan ibunya tidak membunuhnya dan bayinya.

Ketika pergi, Seokjin tidak membawa apapun kecuali tas ransel berukuran sedang yang berisi beberapa potong pakaian miliknya, dan sejumlah uang tabungan pribadinya karena ayahnya mengambil fasilitas kartu Seokjin.

Adiknya, Kim Seojun, yang saat itu berusia tujuh tahun, memberikan semua uang tabungannya yang ditabung dalam sebuah kotak celengan berbentuk sapi.

Uang tabungan adiknya banyak. Sangat banyak malah.

Seokjin tahu adiknya lebih disayang daripada dia, tapi Seokjin tidak menyangka uang pribadi yang dimiliki adiknya akan sebanyak itu.

Seokjin ingat saat itu dia menangis seraya memeluk adiknya. Dan adiknya justru tersenyum lembut seraya menepuk-nepuk punggung Seokjin. Adiknya mengatakan kalau dia tidak tahu kenapa kakaknya harus pergi, tapi dia berjanji kalau dia akan menunggu sampai kapanpun, sampai Seokjin pulang dan bersedia bermain bersamanya lagi.

Adik Seokjin adalah satu-satunya adiknya sekaligus anggota keluarganya selain Jungkook yang menerimanya dengan tangan terbuka.

Dan Seokjin bertahan hidup untuk mereka.

Untuk adiknya yang berjanji akan menunggunya pulang.

Dan untuk putra kecilnya yang harus benar-benar dilindungi agar tidak memiliki nasib buruk seperti ibunya.

Jungkook hidup dengan sangat keras sejak dia lahir.

Bahkan ketika Jungkook belum berumur sebulan, Seokjin sudah membawanya bekerja. Seokjin hanya melewati tiga hari masa pemulihan paska bersalin dan di hari dia keluar dari rumah sakit, Seokjin langsung pergi mencari pekerjaan.

Seokjin butuh uang untuk hidup dan dia bahkan tidak mempedulikan tubuhnya yang masih terasa sakit ataupun kondisi fisiknya yang belum sehat karena memang saat melahirkan Jungkook, Seokjin sempat mengalami pendarahan hebat.

Seokjin pergi berkeliling kota bersama Jungkook yang bahkan masih berwarna kemerahan. Seokjin bertanya ke setiap toko, restoran, dan lainnya untuk melamar pekerjaan tapi mereka semua menolak karena Seokjin mengatakan kalau dia harus bekerja bersama bayinya.

Hingga kemudian Tuhan menuntun langkahnya ke toko serba ada milik seorang perempuan paruh baya.

Seokjin hanya kebetulan pergi ke sana karena dia ingin membeli minuman. Namun tak disangka pemilik toko itu sangat baik padanya.

Dia mengizinkan Seokjin dan Jungkook untuk beristirahat. Dan Seokjin dengan nekat membuang rasa malunya untuk melamar pekerjaan di toko itu.

Dan untungnya Tuhan membuat wanita itu menerima Seokjin sebagai salah satu pengantar susunya.

Pekerjaan sebagai pengantar susu mungkin bukanlah sebuah pekerjaan dengan gaji yang besar, Seokjin bahkan hanya sanggup hidup untuk satu hari karena gajinya memang hanya cukup untuk itu. Dan selain urusan makanan untuk dia dan bayinya, Seokjin butuh uang untuk membayar sewa tempat tinggal yang ditempatinya, sebuah flat kumuh yang berada di pinggir kota dan hanya berisi satu kamar dengan satu kamar mandi yang sangat kecil, sama sekali tidak ada sekat apapun untuk sekedar membatasi mana ruang untuk tidur, mana ruang untuk duduk, dan mana dapur.

Tapi setidaknya dengan ketelatenan Seokjin, 'kamar' itu terlihat lebih manusiawi dan rapi. Seokjin menata semuanya dengan rapi dan dia bahkan menyediakan sudut khusus untuk tempat bermain Jungkook yang masih bayi.

Wanita yang mempekerjakan Seokjin sebagai pengantar susu sangat baik, selain mengizinkan Seokjin bekerja dengan Jungkook yang masih bayi, dia juga memberikan makanan gratis selama Seokjin bekerja, seperti sarapan dan makan siang sebelum Seokjin pergi ke tempat bekerjanya yang selanjutnya.

Seokjin sudah hidup sulit bahkan sebelum Jungkook lahir ke dunia. Dan ketika Jungkook lahir, maka bisa dibilang kesulitan Seokjin semakin bertambah, karena ada mulut lainnya yang harus dia beri makan. Dan karena itulah Seokjin harus bekerja lebih keras lagi, dia berusaha keras agar setidaknya bayinya kenyang dan mendapat tempat tidur yang nyaman untuk malam hari. Seokjin tidak masalah dia harus berbagi, bahkan ikut memakan makanan bayi agar Jungkook mendapatkan nutrisi yang cukup.

Seokjin selalu suka ketika dia pergi ke dokter untuk imunisasi rutin Jungkook, karena di sana dia akan bertemu para perawat dan dokter yang baik hati dan akan memuji soal betapa hebatnya Seokjin dalam mengurus Jungkook. Karena Jungkook selalu nampak sehat dan ceria, dia benar-benar bayi yang sehat dan sama sekali tidak kekurangan satu apapun dalam urusan gizi.

Semua karena ibunya bekerja sampai hampir mati agar anaknya mampu tumbuh dengan baik.

Dan Seokjin tidak akan membiarkan semua perjuangannya untuk Jungkook sia-sia. Seokjin akan terus hidup jika itu untuk Jungkook.

Karena Jungkook hanya memiliki Seokjin.

Dan Seokjin hanya memiliki Jungkook.


Heaven and Hell

.

.

.

a BTS fanfiction

by

Black Lunalite

.

.

.

.

Warn!

Mafia!AU, BL, contains some abuse and abusive relationship.

This story is pure fiction.

Read at your own risk.


.

.

.

.


Part 3: Trapped in Hell


Jika surga dan neraka memang ada, Seokjin sudah merasa sejak dulu dia hidup di neraka.

Dan anaknya adalah makhluk surga yang terpaksa harus berdiam di neraka karena ibunya tinggal di sana.

Hidupnya tidak pernah mudah, tidak semenjak dia lahir sebagai carrier di sebuah keluarga terpandang.

Dan semakin bertambah buruk ketika adiknya yang berbeda sepuluh tahun darinya ternyata adalah laki-laki dominan. Seokjin sebagai laki-laki carrier jelas harus menerima nasibnya yang harus semakin dikucilkan oleh keluarganya.

Seokjin itu cantik. Sangat.

Untuk ukuran pria carrier, kecantikan dan pesona alami Seokjin tidak bisa dianggap remeh.

Seokjin sudah menarik banyak sekali dominan untuk mendekatinya dan salah satunya adalah teman sekelasnya, Lee Jaehwan.

Jaehwan adalah sosok yang baik, pada awalnya. Jaehwan adalah seorang dominan, dan dia salah satu diantara para dominan yang terkenal dan jelas menjadi incaran para wanita ataupun beberapa pria carrier.

Tapi Seokjin bukan salah satunya.

Seokjin tahu dia tidak spesial, orangtuanya menekankan pada Seokjin bahwa dia tidak berarti dan bahwa derajat Seokjin berada di bawah derajat para pria dominan dan para wanita. Pria carrier memang bisa dibilang berada di kasta terendah, tapi itu bukan berarti mereka serendah itu.

Seokjin lebih banyak menghabiskan waktunya untuk duduk diam di kelas, belajar dengan rajin karena dia tahu orangtuanya akan sedikit bangga jika Seokjin berhasil meraih nilai tinggi di kelasnya. Maka Seokjin selalu belajar dan belajar agar dia tidak kalah dari siapapun di kelasnya.

Sayangnya, pemegang peringkat pertama saat itu adalah Lee Jaehwan. Pria dominan paling diminati.

Dan Seokjin yang seorang pria carrier justru mencoba merebut posisi hebat itu dengan polosnya. Seokjin tidak berambisi merebut posisi itu untuk menjatuhkan Jaehwan, dia berambisi mendapatkan posisi itu agar dia setidaknya dapat dilihat oleh orangtuanya.

Tapi kelihatannya Jaehwan tidak berpikiran seperti itu.

Jaehwan mendekati Seokjin seperti bagaimana seseorang mencoba berteman dengan orang lainnya. itu semua dimulai dari perkenalan singkat diantara mereka saat Seokjin sedang duduk di sudut perpustakaan untuk belajar. Jaehwan memuji ketekunan Seokjin dan Seokjin tersipu.

Itu adalah kali pertama seseorang memujinya dengan senyum di wajah mereka.

Seokjin itu polos. Dia tidak tahu apapun yang berada di balik senyum palsu Jaehwan. Orangtuanya yang mengetahui bahwa Seokjin berteman dengan Jaehwan tidak banyak bicara, karena memang kebetulan kedua orangtua mereka adalah rekan bisnis.

Hingga kemudian, hari ulang tahun ketujuh belas Seokjin tiba.

Hari itu hari jumat, Seokjin harus berada di sekolah seperti biasanya dan karena besok adalah akhir pekan, Seokjin memutuskan untuk menyelesaikan semua tugas sekolahnya untuk minggu depan hari itu. Jadi dia menetap di sekolah cukup lama.

Cukup lama hingga sekolah benar-benar sepi dan keadaan di luar mulai gelap.

Semuanya terasa baik-baik saja. Sangat baik-baik saja malah. Hanya ada keheningan dan suara kertas buku yang dibalik serta suara goresan pensilnya di buku tugas.

Hingga kemudian Jaehwan secara tiba-tiba muncul di kelas yang ditempati Seokjin..

Dan mimpi buruk itu dimulai.


.


Seokjin memiliki tiga buah tugas yang harus dikumpulkan minggu depan. Tugas matematika, sastra, dan tugas sejarah. Karena buku yang diperlukan hanya berada di sekolah, maka Seokjin memutuskan untuk mengerjakan tugas tersebut di sekolah setelah meminjam buku yang dia butuhkan di perpustakaan.

Lagipula, buku-buku referensi untuk tugasnya sangat tebal dan berat, Seokjin rasa bahunya akan patah jika dia nekat membawa buku-buku itu pulang. Makanya dia memilih untuk mengerjakan semuanya di kelas, dia merasa dia akan baik-baik saja karena toh ini bukan pertama kalinya dia berdiam di sekolah lebih lama untuk belajar.

Seokjin masih sibuk menuliskan jawaban untuk pertanyaan di buku tugasnya ketika tiba-tiba saja dia mendengar suara pintu kelas yang dibuka. Kepala Seokjin terangkat secara refleks untuk melihat siapa kiranya yang membuka pintu dan dia melihat Lee Jaehwan di sana.

"Oh, Jaehwan? Belum pulang?" tanya Seokjin ramah. Dia menghentikan gerakannya menulis dan meletakkan pensilnya di atas buku tugasnya yang terbuka.

Jaehwan tersenyum kecil dan menggeleng pelan, kaki panjang pria itu bergerak untuk menghampiri Seokjin yang duduk di barisan pojok, deret kedua dari depan. Dia berhenti saat sudah sampai di sebelah meja Seokjin, "Kau belum pulang?"

Seokjin mengangguk ringan, sedikit mengerling ke arah buku tugasnya. "Aku belum selesai."

Jaehwan mengerutkan dahinya dan menunduk untuk menatap tulisan tangan Seokjin yang rapi. "Bukankah ini tugas untuk rabu minggu depan?"

Seokjin mengangguk, "Ya, tapi buku referensi yang tepat untuk tugas ini ada di perpustakaan dan bukunya berat sekali. Kurasa aku tidak sanggup membawa buku-buku itu pulang." Seokjin tertawa kecil di akhir kalimatnya, "Beban berat itu terlalu banyak untukku."

Jaehwan tersenyum tipis, "Hoo, benarkah?" Jaehwan sedikit membungkuk, mendekatkan tubuhnya ke tubuh Seokjin yang masih duduk diam di kursi. "Tapi Seokjin, tidakkah kau merasa berbahaya berada di sekolah selarut ini? Semua siswa sudah pulang."

Seokjin menggeleng pelan, senyum lembut masih terpasang di wajahnya. "Tidak juga, aku sudah terbiasa. Lagipula, penjaga sekolah tidak akan mengunci gerbang depan, aku pasti bisa pulang."

Jaehwan menyeringai, dan Seokjin yang polos sama sekali tidak menyadari seringaian itu. Dia justru menunduk untuk kembali menulis, tapi dia harus terhenti karena Jaehwan memanggilnya.

Seokjin mendongak dan sebuah pukulan keras menghantam rahangnya. Seokjin terhempas ke belakang dan kepalanya membentur kaca jendela di sebelahnya, Seokjin merasakan rasa perih seperti teriris di dahinya dan setelahnya semuanya gelap untuknya.

.

Ketika Seokjin terbangun, Seokjin merasakan sakit yang sangat hebat di rahangnya dan juga rasa perih seperti terbakar di dahinya. Seokjin meringis dan rahangnya yang nyeri membuatnya bahkan tidak bisa berbicara. Sakit sekali, mungkin dia mengalami dislokasi rahang atau sejenisnya karena Seokjin benar-benar merasa dia tidak bisa berbicara.

"Oh, kau sudah sadar? Cepat juga."

Mata Seokjin bergerak ke arah asal suara dan dia melihat Jaehwan sedang berjalan menghampirinya dari posisi pria itu yang sebelumnya duduk di atas kursi.

Tapi, tunggu, dimana ini?

Kepala Seokjin bergerak untuk memperhatikan lokasi tempatnya berada dan saat ini dia tidak berada di kelas. Dia mengenali ini sebagai gudang tempat menyimpan peralatan olahraga karena guru-guru sering menyuruhnya mengambil sesuatu dari sini.

Gedung ini terletak di bagian paling jauh dari gedung pusat kegiatan siswa dan tentunya jauh dari tempat penjaga sekolah berada.

"A-apa.." Seokjin mencoba berbicara dengan terbata karena memang rahangnya yang terasa nyeri.

Jaehwan menyeringai, dia mendekati Seokjin dan mengelus rambutnya pelan. "Kau carrier yang bodoh, seharusnya kau sadar siapa dirimu dan dimana kau seharusnya berada."

Apa?

Apa maksudnya?

Dahi Seokjin berkerut tidak mengerti dan dia tidak bisa menahan ringisan perih karena memang gerakan seringan itu membuat dahinya nyeri. Mungkin Seokjin menggores dahinya ketika dia terbentur kaca jendela atau entahlah.

Jaehwan menunduk, semakin mendekati Seokjin dan disaat itulah Seokjin menyadari kalau kaki dan tangannya tidak bisa digerakkan. Kepala Seokjin berputar dengan panik ke arah tangannya dan ternyata tangannya sudah diikat ke sebuah meja yang di atasnya ditindih beberapa kursi kayu agar berat. Dan ternyata hal yang sama terjadi pada tangan dan kakinya yang lain.

Seokjin terikat dengan posisi seperti huruf X di tengah-tengah lantai gudang peralatan olahraga.

"A-apa y-yang.. k-k-kau.. l-lakukan..?" Seokjin berbisik terbata-bata. Insting bahaya dalam tubuhnya sudah berdering nyaring dan Seokjin tahu, apapun yang mungkin akan dilakukan Jaehwan, itu bukanlah sesuatu yang bagus.

Jaehwan tertawa, "Memberimu pelajaran, tentu saja." Jaehwan menunduk, wajahnya dan wajah Seokjin nyaris menempel karena ujung hidung mereka berdua sudah bersentuhan. "Ini pelajaran untukmu agar tidak mencoba merebut posisiku di kelas, dasar bodoh."

Seokjin masih tidak mengerti.

Kenapa Jaehwan melakukan ini padanya? Posisi apa? Seokjin bahkan tidak pernah mencoba merebut posisi siapapun.

Lagipula Jaehwan itu jelas berada di level yang berbeda darinya. Jadi bagaimana mungkin Seokjin bisa melampauinya?

Seokjin masih berusaha memproses tapi Jaehwan sudah bergerak untuk membuka seragam Seokjin. Seokjin tersadar dan mencoba meronta-ronta keras, Jaehwan membentaknya agar diam, tapi Seokjin tidak juga diam. Seokjin terus menarik-narik tangannya yang terikat dan itu mengakibatkan salah satu kursi yang menindih meja terjatuh dengan suara keras.

Jaehwan mendesis marah dan tangannya melayang untuk memberikan tamparan di pipi Seokjin.

Rasa panas dan perih langsung menjalari pipinya. Sakit sekali.

Sangat sakit hingga mata Seokjin langsung berkabut karena airmatanya. Seokjin masih mencoba meronta, memberikan permohonan agar Jaehwan melepaskannya tapi pria itu justru diam. Dia terus melucuti pakaian Seokjin dan bersiul puas saat melihat hasilnya, tubuh Seokjin yang terpampang untuknya.

Seokjin mulai menangis dan dia mencoba berteriak, tapi rahangnya yang nyeri membuat Seokjin bahkan tidak mampu untuk menjerit atau melakukan apapun.

Dan Jaehwan tidak juga berhenti.

Seokjin tidak tahu lagi bagaimana itu semua dimulai, yang dia ingat hanya rasa sakit karena Jaehwan beberapa kali memukulnya dan rasa perih serta terbakar di bagian bawahnya. Rasanya sakit, sangat sakit, saat Jaehwan memaksakan dirinya pada Seokjin.

Seokjin ingat dia menjerit keras dan itu membuat rahangnya semakin sakit, dia meraung dan meronta agar Jaehwan menjauh dari tubuhnya tapi pria dominan itu justru menjambak rambutnya dan membenturkan kepalanya ke lantai.

Rasa pening seketika mendera kepala Seokjin tapi Seokjin tidak berhenti meronta, dia masih mencoba untuk membebaskan dirinya dan Jaehwan membenturkan kepalanya lagi.

Dan kali ini, Seokjin merasakan satu aliran yang basah dan hangat menetes dari kepalanya. Dan setelahnya Seokjin tidak sadarkan diri.

Ketika akhirnya Seokjin sadarkan diri, dia sudah terbaring di rumah sakit dengan seorang pria tua yang dia kenali sebagai petugas penjaga sekolah di sebelahnya. Pria tua itu bergegas menghampiri Seokjin saat dia sadarkan diri dan menanyakan bagaimana perasaannya.

Seokjin tidak bisa berbicara karena rahangnya sakit dan pria tua itu mendadak tersadar dan menjelaskan kalau Seokjin mengalami dislokasi rahang bawah dan dokter baru saja mengurusnya. Seokjin juga menderita luka goresan yang cukup dalam di dahi kanan, luka terbuka di bagian belakang kepala, dan juga luka robek yang parah di bagian bawah tubuhnya.

Dan jangan lupakan memar hebat yang menggores kedua pergelangan tangan dan kakinya.

Ah, jadi itu sebabnya kenapa sekujur tubuhnya terasa sakit dan yang terasa paling parah adalah bagian bawah tubuhnya.

Seokjin mendengar pria tua penjaga sekolah itu menceritakan kronologis saat dia menemukan Seokjin dalam kondisi terikat, telanjang, dan juga darah yang mengalir dari kepalanya serta dari bagian bawah tubuhnya.

Seokjin hanya mendengarkan dengan diam karena dia bahkan masih mencoba mencerna apa yang sebenarnya terjadi padanya. Dia ingat dia merasakan sakit, tapi rasa sakit itu benar-benar terasa menelannya hingga bahkan Seokjin tidak sanggup untuk menangis, padahal pria tua yang baru saja menolongnya itu menangis tersedu-sedu karena dia sangat sedih Seokjin harus mengalami perkosaan jahat itu.

Kepala Seokjin terasa kosong, dia merasa hampa namun entah kenapa airmata itu terus saja mengalir dari bola matanya. Seokjin bahkan tidak terisak, dia hanya terdiam dengan pandangan kosong dan airmata yang terus mengalir, pria tua penjaga sekolah itu panik melihat kondisi Seokjin dan bergegas menghampiri dokter yang berjaga.

Ketika dokter itu datang menghampiri Seokjin, Seokjin masih menangis. Dan ketika dokter menanyakan siapa yang melakukan ini padanya dan apakah Seokjin kenal dengan orangnya, maka Seokjin dengan bersusah payah membisikkan satu nama yang sudah membuka lembaran pertama mimpi buruknya.

"L-Lee.. J-J-Jae-Jaehwan.."

Jika kalian berpikir orangtua Seokjin akan membela Seokjin setelah kejadian menyedihkan yang menimpanya, maka kalian salah. Satu hari setelah kejadian itu, Seokjin divonis menderita trauma oleh dokter. Seokjin menolak bersentuhan dengan orang lain dan akan selalu menjadi histeris tiap kali ada orang yang mendekatinya, tidak peduli dia wanita atau pria.

Kedua orangtua Seokjin, sama sekali tidak merasa sedih melihat Seokjin, sebaliknya, mereka justru memarahi Seokjin dan mengatakan kalau Seokjin merepotkan mereka. Dan ketika Seokjin menjeritkan nama Jaehwan sebagai pelaku yang membuatnya seperti ini, ibunya justru menatapnya dengan pandangan remeh.

"Hah? Jaehwan? Dia pasti melakukan ini karena kau bertingkah seperti pelacur murahan dan menggodanya! Jaehwan itu pria dominan baik-baik! Jangan menuduhnya melakukan kejahatan hanya karena ini! Ini semua terjadi pasti karena kau menggodanya!"

Seokjin berhenti histeris setelah mendengar ucapan ibunya. Ucapan ibunya membuat Seokjin seolah tertampar kenyataan bahwa di dunia ini tidak akan ada yang membelanya.

Tidak ada. Tidak akan ada.

Seokjin harus berjuang sendirian untuk hidupnya karena di dunia ini tidak ada yang bisa dia percayai untuk menyokong tubuhnya agar berdiri.

Seokjin harus belajar membangun pondasi untuk kakinya sendiri karena tidak akan ada yang mau membangun pondasi itu untuknya.

Seokjin sendirian. Dan dia akan selalu sendirian.

Kejiwaan Seokjin semakin terguncang setelah itu. Dia memang tidak lagi histeris dan menjerit ketakutan ketika orang lain mendekatinya. Tapi sebaliknya, Seokjin justru hanya diam dan terus diam, dia menutup diri dari lingkungan dan menyendiri, mencoba membuat dirinya tidak terlihat.

Itu berlangsung selama dua bulan setelah kejadian pemerkosaan itu terjadi. Dan setelah kejadian itu, Jaehwan tidak lagi menyapanya dengan baik seperti dulu, Jaehwan justru menatapnya dengan jijik tiap kali Seokjin lewat dan itu justru semakin menghancurkan tingkat kepercayaan diri Seokjin yang tipis.

Dua bulan setelah kejadian itu berlangsung, Seokjin menyadari ada perubahan di dalam tubuhnya. Dia sering mual di pagi hari, mudah lelah, dan tubuhnya terutama kakinya sering merasakan pegal di sore hari. Seokjin tidak berani untuk memeriksakan kondisinya karena dia tidak mau mewujudkan spekulasi buruknya.

Tapi ketika tubuhnya semakin sulit dikompromi dan seolah menambahkan penderitaan kepada hidupnya, Seokjin memutuskan untuk pergi ke dokter untuk memeriksa tubuhnya.

Dan tepat seperti dugaannya.

Dia hamil.

Seokjin tidak tahu harus melakukan apa karena mengandung seorang bayi hanya akan menambah buruk hidupnya yang sudah buruk. Seokjin tidak dalam kondisi yang stabil untuk mengandung bayi, dan yang ada di dalam pikiran Seokjin saat itu hanyalah dia harus membunuh bayinya. Harus. Karena bayi itu hanya akan membawanya kepada trauma lainnya dan akan terus mengingatkannya kepada kejadian malam itu.

Seokjin harus membunuh janinnya. Segera.

Itu adalah tekad Seokjin yang paling kuat, tapi tekad kuatnya itu hancur begitu saja ketika seorang perawat memberikan foto USG bayinya padanya.

Seokjin melihat anaknya. Anaknya yang bahkan masih berupa gumpalan tidak berwujud.

Tapi entah kenapa Seokjin jatuh cinta padanya. Pada bayinya yang bahkan kedatangannya tidak pernah Seokjin inginkan.

Seokjin hanya perlu tiga detik untuk merubah tujuan hidupnya menjadi untuk anaknya. Seokjin bersumpah pada dirinya sendiri bahwa dia akan merawat anaknya, bahwa dia akan merawat janinnya hingga nantinya bayinya lahir ke dunia dan mampu menatapnya, menatap ibunya.

Seokjin memiliki tanggung jawab lainnya di dalam hidupnya, dan Seokjin akan berusaha untuk menjaga serta memenuhi tanggung jawabnya sebagai seorang calon ibu.

"Lil' boo.." bisik Seokjin, tangannya mengelus foto USG bayinya dengan hati-hati. "Mama akan menjagamu.." setetes airmata Seokjin jatuh ke foto USG itu dan Seokjin diam-diam tersenyum haru. "Mama akan menjagamu. Selamanya."


.

.

.


Seokjin memang tidak meminta apapun untuk mengatasi traumanya. Tapi Hoseok sendiri yang datang di siang hari untuk melakukan layanan konsultasi kepada Seokjin.

Namjoon menyuruhnya untuk menghilangkan traumanya sendiri dan itulah yang akan dilakukan Seokjin. Seokjin mencoba untuk menghilangkan traumanya sendiri, walaupun dia juga tidak tahu bagaimana kiranya dia akan melakukan itu, tapi Seokjin akan mencobanya.

Seokjin harus mencobanya.

Dia harus bisa menghilangkan traumanya karena hanya itu satu-satunya cara agar dia dan Jungkook bisa keluar dari tempat ini.

Tapi Seokjin tidak menyangka sama sekali bahwa Hoseok, dokter yang baik hati itu akan menangis saat mendengar soal bagaimana Seokjin bisa memiliki Jungkook. Hoseok memang tidak mengatakan apapun selama Seokjin bercerita, dia hanya diam dan sesekali menulis sesuatu di buku catatannnya.

Tapi ketika akhirnya Seokjin selesai bercerita dan Seokjin menoleh ke arah dokter itu, Seokjin melihat bahwa dokter itu menangis. Dia mengusap airmatanya dengan terburu-buru saat Seokjin menatapnya dengan pandangan bingung.

"Sesi ini kita akhiri sampai di sini." ujar Hoseok setelah dia menarik napas dalam dan akhirnya berhasil menghentikan airmatanya. "Aku akan memberikan hasilnya pada Namjoon, dan Seokjin.."

Seokjin menoleh ke arah dokter yang mengurusnya dan dia melihat dokter itu tersenyum lembut, "Kau tidak sendirian, aku tidak akan meninggalkanmu. Aku doktermu, dan aku akan menjagamu dari apapun itu yang akan mengganggumu atau Jungkook." Hoseok menyentuh tangan Seokjin dengan hati-hati dan menggenggamnya, "Aku akan melindungimu."

Itu adalah kali pertama seseorang mengatakan itu kepada Seokjin dan Seokjin tersenyum pada Hoseok sebelum kemudian dia mengangguk pelan. "Terima kasih,"

"Mama?"

Seokjin menoleh ke arah Jungkook yang berdiri di ambang pintu ruangan santai tempat Seokjin dan Hoseok berada. Seokjin bergerak bangun dari kursi malas yang tadinya didudukinya untuk berjalan menghampiri anaknya.

"Kenapa, Kookie?" bisik Seokjin lembut, tangan terulur merapikan rambut Jungkook yang sebenarnya sudah rapi, tapi Seokjin melakukan itu hanya lebih kepada kebiasaan semata.

"Mama, aku merindukan Bon-Bon. Bisakah kita pergi mengambilnya?" tanya Jungkook.

Dan pertanyaan polos itu berhasil membuat Seokjin terdiam.

Bisakah mereka mengambilnya? Entahlah.

Karena sejak terperangkap di rumah ini beberapa hari lalu, Seokjin bahkan tidak berani untuk mencoba keluar dari rumah besar ini. Seokjin terlalu takut walaupun bayang-bayang soal dirinya dan Jungkook yang melarikan diri terasa begitu menyenangkan.

"Kita.." Seokjin memulai dan Jungkook langsung melengkungkan bibirnya ke bawah.

"Tidak bisa ya, Mama?" bisik Jungkook lagi.

Seokjin menggigit bibir bawahnya dan terdiam dengan wajah ragu-ragu.

"Ada apa?"

Seokjin menoleh ke arah Hoseok, kelihatannya dokter itu tidak tahan dengan pembicaraan mereka dan akhirnya dia memutuskan untuk ikut andil dalam pembicaraan mereka.

Seokjin menggeleng pelan, "Bukan apa-apa.." sahutnya lembut.

"Seokjin, berhentilah melakukan kebiasaanmu untuk menutupi sesuatu, jika kau memang memiliki masalah, maka katakan saja. Aku akan berusaha membantumu." Hoseok berujar agak tegas dan Seokjin menunduk tanda penyesalan.

"Maaf, aku.." Seokjin memulai dan Hoseok sudah menggeleng.

"Berhentilah meminta maaf untuk kesalahan yang tidak pernah kau lakukan." Hoseok berjongkok di sebelah Seokjin dan ikut menatap Jungkook, "Apa Jungkook membutuhkan sesuatu?"

Jungkook mengangguk polos, "Aku merindukan Bon-Bon."

Dahi Hoseok berkerut, tapi itu hanya bertahan sebentar karena setelahnya dokter itu sudah kembali tersenyum pada Jungkook. "Siapa Bon-Bon? Teman Kookie ya?"

Jungkook mengangguk lagi, "Dia satu-satunya hadiah pemberian Mama."

Hoseok melirik Seokjin yang menunduk dalam, mungkin ucapan polos anaknya membuat harga diri Seokjin sedikit terluka karena biar bagaimanapun juga, itu memang terdengar menyedihkan bagi siapapun.

Hoseok kembali menatap Jungkook, "Bagaimana kalau aku mengambilnya untukmu? Apa Kookie akan senang?"

Jungkook menatap Hoseok dengan mata berbinar, senyum lebarnya muncul begitu saja dan dia mengangguk semangat. "Tentu saja! Aku akan sangat senang!"

Hoseok tertawa kecil, "Kalau begitu tunggulah di sini, biar aku dan Mamamu yang pergi mengambilnya."

Seokjin mendongak saat Hoseok sudah berdiri dari posisinya, "Tapi.. apakah itu boleh dilakukan? M-maksudku.. a-aku.."

Hoseok tertawa kecil, "Biar aku yang membicarakan itu dengan Namjoon."

"Apa yang ingin kau bicarakan denganku?"

Seokjin tersentak saat mendengar suara Namjoon. Seokjin tidak mengerti apakah pria itu adalah jelmaan makhluk astral atau apa, tapi Seokjin benar-benar tidak paham bagaimana cara Namjoon membuat dirinya begitu tidak terdengar saat melangkah.

Hoseok menatap Namjoon, "Oh, kebetulan sekali. Tidak biasanya kau sudah ada di rumah saat sore."

Namjoon melirik Seokjin dan Jungkook sebentar, "Ingin saja."

Sebelah alis Hoseok terangkat, tapi kelihatannya dokter itu menelan semua spekulasi yang bermunculan di kepalanya untuk dirinya sendiri karena setelahnya dia justru tersenyum seolah dia tidak mendengar apa-apa.

"Ah, kalau begitu aku ingin meminta izinmu." Hoseok terdiam sebentar, "Sebenarnya menurutku ini tidak penting sama sekali, tapi karena Seokjin kelihatannya sangat takut padamu, maka aku akan meminta izin padamu."

Namjoon melirik Seokjin yang menunduk dalam dengan tangan menggenggam tangan kecil Jungkook. "Apa?"

"Seokjin dan aku akan pergi mengambil barang-barangnya di rumahnya." Hoseok berdecak, "Tidakkah kau sadar bahwa sejak kau membawa mereka ke sini kau tidak mengizinkan mereka untuk mengambil barang-barang mereka? Bahkan apa yang dikenakan mereka saat ini adalah pemberian para pekerjamu atas suruhan Jimin. Aku yakin kalau tidak ada Jimin, mereka pasti hanya akan terjebak di sini tanpa pakaian ganti."

Namjoon masih diam, "Aku tidak mau dia keluar."

Seokjin memejamkan matanya dan menghela napas pelan dalam diam dan hati-hati. Dia sudah menduga itu, dia memang akan terperangkap terus di neraka ini tanpa tahu bagaimana caranya dan kapan kiranya dia akan keluar.

Hoseok menghela napas pelan dengan gaya dramatis dan cenderung berlebihan, "Namjoon, kami hanya.."

"Setidaknya tidak tanpa aku." Namjoon melanjutkan dan ucapannya berhasil membuat Hoseok terdiam dan Seokjin mengangkat pandangannya untuk menatap Namjoon, "Dan aku tidak mau Jungkook ikut keluar."

Seokjin memang terperangkap di neraka. Dia yakin itu.

Tapi apakah yang berada di hadapannya benar-benar iblis penguasa neraka ini?

Atau apakah semua ini hanyalah ilusi iblis yang memang akan selalu memperdaya manusia bodoh seperti Seokjin yang sangat awam saat berada di neraka ini?


.

.

.


Seokjin tidak pernah menyangka akan tiba hari dimana dia untuk pertama kalinya menjejakkan langkah kakinya keluar dari rumah besar yang sudah menjadi sumber ketakutannya selama beberapa hari belakangan.

Namjoon mengatakan bahwa Seokjin boleh keluar, tapi itu harus dengannya. Entah kenapa.

Mungkin dia tidak mau Seokjin melarikan diri disaat Seokjin masih berhutang padanya?

Itu bisa jadi.

Padahal sebenarnya tanpa Namjoon harus ikut, Seokjin bersumpah demi hidup matinya bahwa dia tidak akan mau keluar dari rumah itu dan melarikan diri tanpa Jungkook.

Seokjin berjalan dengan langkah ragu di belakang Hoseok, sementara Namjoon berjalan di paling depan dan beberapa pria bertubuh kekar dengan seragam serba hitam selalu membungkuk hormat tiap kali mereka berjalan melewatinya.

Ya, mereka.

Karena para pria itu juga membungkuk pada Seokjin.

Dahi Seokjin mengerut tidak mengerti dan dia hampir saja ikut membungkuk kalau Hoseok tidak menghentikannya. "Kau bukan pekerja, kau tidak perlu membungkuk."

Jika dia bukan pekerja, lantas apa statusnya?

Jika dia bukan pekerja, lantas untuk apa dia di sana?

Apakah Seokjin tamu?

Jelas bukan.

Apakah Seokjin hanyalah mesin pembuat anak untuk iblis tuan rumah ini?

Mungkin saja.

Seokjin benar-benar merasa dia adalah hewan buruan yang terjebak perangkap mematikan dan sekarang terjebak di rumah sang pemburu, dipelihara untuk dimakan nanti ketika dia sudah jauh lebih bersih dan lebih siap.

Hoseok berhenti berjalan dan itu membuat Seokjin refleks menghentikan langkahnya juga. Hoseok mengeluarkan sesuatu yang Seokjin kenali sebagai remote control untuk mobil.

"Aku naik mobilku sendiri." Hoseok menggoyangkan kunci itu di depan Namjoon. "Aku akan berada di belakang mobilmu jadi aku akan tetap berada dalam rombongan pengawasanmu."

Namjoon mengangguk singkat, dia berjalan menuju sebuah mobil mewah berwarna hitam mengilat, dan kelihatannya mobil itu membuat Hoseok tertegun.

"Ini.. bukankah ini BMW 5 series seri G30?" ujar Hoseok, mengucapkan serangkaian kata yang Seokjin asumsikan sebagai jenis mobil yang akan dinaiki Namjoon.

"Ya, aku membelinya untuk hiburan karena aku memenangkan tender." Namjoon menjawab acuh seraya menatap mobilnya.

Wow, membeli mobil untuk hiburan?

Itu jelas tidak berada dalam kelas Seokjin.

Hoseok berdecak, "Aku bahkan masih setia kepada Maserati yang kubeli sejak tiga tahun lalu dan di sini kau sudah membeli mobil baru untuk hiburan?" Hoseok menggeleng dengan dramatis, "Kelas kita memang berbeda jauh seperti langit ke-sembilan dan dasar bumi."

Namjoon tersenyum tipis, "Tidak juga,"

Hoseok mendesah pelan, "Ah, sudahlah, melihat kesuksesanmu kadang menggodaku untuk melepaskan karir sebagai dokter, tapi panggilan jiwaku adalah menjadi dokter dan aku benar-benar tidak mau melepaskan jabatan itu."

"Aku bahkan tidak bisa membayangkan kau menjadi seseorang sepertiku."

Hoseok mendelik, "Aku memang tidak akan benar-benar menjadi seseorang sepertimu. Astaga, aku tidak cukup kuat untuk itu."

Namjoon terdiam kemudian dia mengibaskan tangannya acuh, "Ayo, cepatlah. Nanti malam aku ada urusan." Dia bergerak masuk kemudian dia menatap Seokjin yang masih berdiri dengan canggung, "Kau, naik ke mobilku."

Tadinya, Seokjin ingin sekali naik ke mobil Hoseok karena dia yakin berada satu mobil dengan Namjoon bukanlah sebuah ide yang bagus. Tapi lagi-lagi, tatapan dingin dan mengintimidasi dari Namjoon selalu berhasil membuat Seokjin ketakutan dan dia tahu kalau dia tidak akan mau membantah kecuali dia memang sudah bosan hidup di dunia.

Dan karena itulah Seokjin berjalan, dengan hati-hati memanjat masuk ke dalam mobil Namjoon hanya untuk terkesima merasakan nyamannya permukaan jok mobil yang didudukinya.

Dalam hatinya Seokjin berniat untuk mengajak bayinya menaiki mobil ini karena Jungkook tidak pernah naik mobil pribadi. Satu-satunya kendaraan yang pernah ditaiki oleh Jungkook hanyalah bis umum karena memang Seokjin selalu bepergian dengan itu.

"Dimana rumahmu?"

Seokjin tersentak dari lamunannya soal betapa bagusnya mobil Namjoon, dia menatap Namjoon dengan ragu-ragu, "A-aku akan menunjukkan jalannya padamu."

Namjoon terdiam kemudian dia mengangguk acuh, "Jalan," perintahnya pada supir yang duduk di balik roda kemudi dan setelahnya mobil itu berjalan, diikuti dengan mobil Hoseok di belakang, dan juga tiga mobil SUV lainnya di belakang mereka.

Perjalanan dari rumah Namjoon menuju apartemen Seokjin tidak terlalu memakan waktu, dalam tiga puluh menit mereka sudah tiba di depan flat kumuh berlantai empat yang merupakan tempat tinggal Seokjin.

"Kau tinggal di sini?" tanya Namjoon.

Seokjin mengangguk ragu-ragu, dia membimbing mereka semua untuk naik menuju lantai tiga tempat kamarnya berada. Beberapa penghuni flat kumuh itu memekik terkejut melihat Seokjin datang bersama dengan rombongan orang yang tidak biasa, mereka berbisik-bisik membicarakan Seokjin sementara Seokjin hanya sanggup menunduk malu dan mempercepat langkahnya.

Ketika akhirnya mereka tiba di dalam rumah Seokjin, Seokjin segera pamit untuk membereskan apa yang perlu dia bereskan sementara Namjoon berdiri diam seraya menatap sekeliling rumah kecil Seokjin.

Seokjin baru saja memasukkan empat buah pakaian Jungkook ketika suara Namjoon yang berdehem berhasil membuatnya terhenti.

"Apa yang dibutuhkan anakmu?"

Dahi Seokjin berkerut, tapi tangannya terulur untuk mengangkat boneka kelinci berwarna putih bersih dengan bagian dalam telinga serta ujung hidung berwarna pink ke arah Namjoon.

"Hanya itu?"

Seokjin mengangguk, "Dan beberapa pakaian untuk.."

"Tinggalkan semua itu, kita pergi dari sini."

Hoseok terlihat terkejut, "Namjoon, tapi.."

"Cepat berdiri, Seokjin." Namjoon mengulang perintahnya, tapi entah kenapa, mungkin karena terlalu bingung, Seokjin justru diam saja di tempatnya seraya memegang Bon-Bon.

Dan kelihatannya perbuatannya itu membuat kesabaran Namjoon yang memang sedikit menjadi habis tidak bersisa. Pria itu berjalan dengan langkah lebar menuju Seokjin dan menyentaknya agar berdiri, kemudian setengah menyeretnya keluar dengan cara mencengkram tangannya dengan kuat.

Sangat kuat hingga Seokjin yakin itu akan meninggalkan memar.

Seokjin meringis diam-diam, dia tidak mau membiarkan Namjoon tahu kalau dia menyakiti Seokjin karena Seokjin tidak mau terlihat lemah. Tapi cengkraman itu memang benar-benar menyakitkan dan Seokjin masih punya memar sisa lukanya saat diculik beberapa hari lalu.

Rasanya sakit, sakit sekali hingga tanpa sadar Seokjin terisak lirih.

Dan kelihatannya isakannya itu didengar oleh Hoseok yang berjalan di belakangnya, "Namjoon, kau menyakitinya."

Namjoon melirik ke arah Hoseok dengan pandangan malas, "Percepat langkahmu." Namjoon berujar pada Seokjin dan menariknya semakin kuat.

Seokjin mengaduh pelan tapi dia tetap diam dan menurut, dia berusaha menelan kesakitan dan tangisan kesakitannya dengan meremas Bon-Bon di tangannya.

Namjoon bergerak hendak masuk ke dalam mobilnya namun dia terhenti, "Jual tempat itu. Buang saja isinya." Namjoon berujar pada salah satu pengawalnya yang sedang membukakan pintu untuknya, dan pria bersetelan jas lengkap itu mengangguk patuh dan membungkuk singkat.

Tunggu, menjual?

Jual apa?

Apa itu rumah Seokjin?

"Kau akan menjual rumahku?!" pekik Seokjin tanpa bisa dicegah.

Namjoon menoleh cepat ke arah Seokjin, "Rumah? Tempat itu bahkan tidak pantas disebut rumah!"

"Itu rumahku! Kau tidak boleh menjualnya!" Seokjin berteriak, "Kau tidak boleh menjualnya karena itu milikku!"

"Kau bahkan sudah berada di rumahku, untuk apa mempertahankan sampah itu?!"

"Tapi itu tetap milikku!" jerit Seokjin lagi. Rumahnya merupakan satu-satunya barang mewah yang Seokjin miliki dan dia tidak akan merelakannya begitu saja.

"Kau tidak berhak melakukan itu! Kau pikir siapa dirimu yang seenaknya menjual rumah orang lain?! Itu milikku!" seru Seokjin marah dan sepertinya dia harus menyesali keputusan itu karena Namjoon menggeram marah dan menamparnya cukup keras.

"Namjoon!" seru Hoseok marah. Dia menarik Seokjin ke belakang tubuhnya sementara Seokjin bergeming dalam ketakutannya.

'Diam kau, jalang!'

'Jangan membantah kami!'

Ingatan-ingatan itu dan juga rasa sakit akibat tamparan-tamparan yang sebelumnya sudah pernah diterima Seokjin merasuk ke dalam ingatannya dan membuat Seokjin hanya mampu terdiam dengan tangan kosong.

Dan seolah menambah garam ke dalam luka, ucapan Namjoon justru membuka lembaran baru diantara lembaran-lembaran lama mimpi buruknya.

"Kau akan tetap tinggal di rumahku! Aku tidak akan membiarkanmu keluar dari rumahku selangkahpun. Tidak akan pernah." Namjoon berujar geram dan setelahnya dia masuk ke dalam mobilnya dan membanting pintunya keras.

Seokjin masih diam, dia masih terdiam sementara Hoseok memeriksa lukanya. Kelihatannya dokter itu juga mengacuhkan Namjoon yang melesat pergi bersama serombongan pengawalnya hingga hanya menyisakan Seokjin dan Hoseok seorang.

"Sudut bibirmu berdarah, kelihatannya pecah karena tamparan itu. Bagaimana kalau kita mampir dulu ke rumah sakit tempatku bekerja untuk mengobati lukamu?" tawar Hoseok ramah dan Seokjin tidak mampu menjawab.

Seokjin hanya diam, dia masih sibuk memikirkan kenyataan baru yang terpampang di depannya bersama dengan trauma masa lalunya yang menyeruak ke permukaan.

Seokjin hanya tahu satu hal.

Iblis bernama Kim Namjoon itu tidak akan pernah mengizinkannya keluar.

Kelihatannya Namjoon benar, Seokjin berurusan dengan iblis yang salah.

To Be Continued


.

.


Yep, sesuai dengan apa yang aku bilang di instagramku, aku akan berusaha keras menamatkan fanfiksi rate Mku sebelum bulan ramadhan dimulai.

Jadi aku akan fokus ke ini dan Imprint dulu. Kayanya sih (kayanya) Imprint akan diupdate entah besok atau lusa. Semoga aja aku ada waktunya *finger cross*.

.

Dan lagi-lagi ini 5k+, semoga gak bikin pegel bacanya ya. hahaha

.

.

Btw, banyak hint nih di sini. hehe

Hint super penting soal NamJin. Hehe

.

Ditunggu selalu tanggapannya :3