Seokjin sudah biasa direndahkan. Bukan sekali dua kali pandangan sinis itu tertuju padanya di tiap kali dia membuka matanya.
Seokjin sudah biasa. Bahkan dia tahu dia menjadi bahan pergunjingan di apartemen kumuh tempatnya tinggal hanya karena dia memiliki Jungkook tanpa status pernikahan.
Mereka semua menuduh Seokjin sebagai mantan pelacur yang memiliki Jungkook karena 'kecerobohan' saat bekerja.
Mereka tidak pernah peduli ketika Seokjin mencoba menjelaskan bahwa bayinya bukanlah hasil dari perbuatan seperti itu. Jungkook memang tidak lahir dari cinta kasih diantara ayah dan ibunya, tapi setidaknya dia terlahir bukan karena perbuatan kotor ayah dan ibunya.
Jungkook memang lahir dari sebuah ketidakberuntungan, tapi bukan berarti dia akan menanggung hinaan itu seumur hidupnya.
Seokjin selalu melindungi Jungkook. Selalu.
Seokjin akan menutupi telinga anaknya tiap kali seseorang mencoba menghina anaknya yang lugu. Dan Jungkook yang polos hanya mampu terdiam, menatap ibunya dengan mata yang polos dan bertanya kenapa ibunya menutupi telinganya.
Jungkook hanya seorang anak berusia empat tahun. Dia tidak seharusnya mendengar bentakan dan teriakan penuh umpatan yang dilayangkan padanya.
Seokjin tahu itu. Dan dia mencoba melindungi anaknya.
Tapi memang takdir tidak pernah berpihak pada mereka. Mungkin Seokjin merupakan musuh besar Dewi Fortuna karena sepertinya sang Dewi tidak ingin meliriknya.
Hari itu terjadi ketika Seokjin baru saja kembali dari bekerja bersama Jungkook. Jungkook, bayinya yang baru berusia tiga tahun sedang berjalan menyusuri koridor apartemen kumuh mereka untuk segera beristirahat.
Tapi mungkin mereka harus menunda itu karena saat itu seorang pria tidak dikenal tiba-tiba saja menghentikan langkah mereka dan merapatkan Seokjin ke tembok.
Seokjin tidak mengenal pria itu. Tapi Seokjin mencium aroma alkohol murahan yang menyengat dari mulut si pria tambun yang menjijikkan dan Seokjin langsung tahu kalau pria itu mabuk. Seokjin melirik anaknya yang berdiri diam ketakutan dengan wajah menahan tangis.
Itu adalah saat ketika Seokjin sadar kalau dia tidak boleh dilecehkan di sini. Tidak di depan mata anaknya.
Pemikiran itu terasa menghantam kepalanya dan dia berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari kungkungan pria yang bau itu. Seokjin mendendang kakinya, menginjaknya, bahkan dia juga melayangkan tinjunya pada pria itu.
Usaha Seokjin berhasil karena pria itu terhuyung menjauh dari Seokjin. Dan Seokjin memanfaatkan kesempatan emas itu untuk melepaskan diri dan menarik Jungkook untuk masuk ke dalam rumah mungil mereka.
Seokjin berhasil mengamankan Jungkook di dalam tapi pria itu menarik kaki Seokjin sehingga Seokjin tidak bisa masuk ke dalam rumahnya. Cengkraman pria itu terasa begitu kuat hingga Seokjin yakin kakinya memar. Seokjin tidak ingat banyak hal, dia hanya ingat dia berteriak pada Jungkook untuk bersembunyi dan setelahnya pria itu menarik Seokjin keluar.
Seokjin menyempatkan dirinya untuk menutup pintu rumahnya karena dia tidak mau Jungkook melihatnya dan pria gendut ini berkelahi. Di detik ketika pintu itu menutup, pria gendut itu menarik Seokjin menjauh dari apartemen, tarikan itu sangat kuat dan dagu Seokjin terantuk lantai keras dan kasar dari koridor apartemen.
Seokjin mengerang lemah, dia berbalik dan mengayunkan kakinya untuk menendang rahang pria itu dan beruntungnya dia berhasil. Seokjin berdiri, matanya bergerak mengamati sekeliling dan dia sadar kalau saat ini dia sendirian di koridor.
Ini tengah malam. Dan sembilan puluh persen penghuni apartemen ini adalah pelacur ataupun host, wajar jika tidak ada satu orangpun di koridor. Dan sepuluh persen lainnya hanyalah warga sipil biasa yang miskin seperti Seokjin dan mereka jelas tidak akan mau membantu, tidak peduli sekuat apapun Seokjin berteriak.
Jadi karena kenyataan itu, maka Seokjin memutuskan untuk lari, dia tidak bisa terus berada di depan rumahnya karena mungkin saja pria ini akan menerobos masuk dan nantinya akan melukai putranya.
Maka Seokjin berlari ke arah tangga, dan pria itu terus mengejarnya. Seokjin berhasil berkelit ketika pria itu menarik lengannya dan Seokjin mulai tergesa-gesa menuruni tangga.
Seokjin tidak ingat, yang dia ingat hanyalah suara gema langkahnya di tangga dan juga napasnya yang berkejaran. Seokjin masih berlari, hingga tiba-tiba saja pria itu menyergapnya dari belakang, membuat mereka berdua terjatuh di tangga.
Tubuh Seokjin terbanting cukup keras di pertengahan tangga, dia memberontak sekuat yang dia bisa saat tubuh pria itu menekannya. Seokjin terus menendang dan menendang, tidak mempedulikan punggungnya dan lengannya yang terasa sakit akibat terbanting dengan keras di tangga.
Seokjin masih sibuk meronta ketika tiba-tiba saja tangannya tidak sengaja menyentuh sesuatu.
Itu adalah sebuah batang besi dari selusur tangga.
Seokjin tahu batang itu memang patah karena pagi tadi dia ingat dia mengatakan pada Jungkook agar anaknya tidak turun tangga tanpa dirinya karena dia takut anaknya terjatuh karena tidak berpegangan pada selusur tangga. Dan Seokjin meraih batang besi itu dengan tangannya, mencengkramnya kuat-kuat, sebelum kemudian menghantamkannya ke pelipis pria itu dengan keras.
Seokjin terengah-engah dan dia merasakan aliran darah dari pria itu menetes di pipinya. Seokjin mendengar geraman marah pria itu dan dia mengayunkan besi itu sekali lagi, dan kali ini Seokjin berhasil membuat pria itu kehilangan kesadaran.
Tubuh pria itu berat. Berat sekali. Dan dia menindih Seokjin, Seokjin harus berusaha keras menyingkirkan tubuh besar itu dan ketika akhirnya Seokjin berhasil berdiri, kaki kirinya terasa begitu sakit hingga Seokjin harus sedikit mengangkatnya.
Saat itu Seokjin hanya diam, dia tahu ini tidak akan selesai di sini. Dia sudah menyerang salah satu pria berandalan saat mabuk bahkan sudah membuatnya terluka cukup parah di kepala.
Ini tidak akan selesai sampai di sini.
Tubuh Seokjin gemetar membayangkan kemungkinan dia akan terus berada dalam ancaman pria itu. Mata Seokjin bergerak liar memperhatikan sekitar dan dia meraba seluruh kantungnya untuk mencari apapun yang mungkin bisa Seokjin gunakan untuk menutupi hal ini.
Seokjin mendengar bunyi gemerisik dari kantung mantelnya dan ketika dia menariknya. Itu adalah sebungkus kecil racun tikus.
Seokjin baru saja kembali dari galeri seni, dia ingat dia memang menaburkan beberapa racun tikus di sekitar galeri seni karena berdasarkan keterangan dari si kurator, beberapa tikus menyusup ke dalam galeri dan dia meminta Seokjin untuk menaburkan racun itu di sekitar saluran pembuangan galeri.
Seokjin tidak ingat dia sempat mengantongi satu bungkus racun tikus. Mungkin dia tidak sengaja karena Jungkook tiba-tiba memanggilnya atau mungkin karena memang tersisa satu dan Seokjin lupa mengembalikannya.
Tapi Seokjin tahu dia bisa menyelamatkan dirinya dengan ini.
Seokjin berjalan dengan ragu ke arah si pria, dia masih pingsan, Seokjin bisa mendengar deru napasnya. Seokjin bergerak dengan hati-hati dan membalik tubuh pria itu, kemudian kepalanya bergerak untuk memperhatikan kondisi sekitar, semuanya sepi, tidak ada seorangpun di sini.
Seokjin menarik napas dalam dan membuka kemasan racun tikus itu, kemudian dia membungkuk, menarik dagu si pria agar mulutnya terbuka, dan menaburkan racun tikus itu ke dalam mulutnya.
Seokjin mendengar si pria terbatuk keras, dan Seokjin bergegas turun dari tangga dengan membawa pipa besi bernoda darah pria itu. Kaki kirinya masih terasa sangat sakit, bahkan larinya pun menjadi lambat karena Seokjin harus berhenti setiap beberapa langkah karena rasa sakit yang menyerang pergelangan kakinya.
Seokjin terus berlari hingga dia tiba di sebuah tempat sampah besar yang berada di belakang gedung apartemen kumuhnya. Tempat sampah ini selalu dikosongkan pada pukul tiga dini hari dan Seokjin tahu tempat sampah ini sudah akan kosong, bahkan sebelum orang lain menemukan pria itu tergeletak di tangga.
Seokjin menarik sebuah kain yang terselip di antara tumpukan sampah kemudian membersihkan batang besi itu dengan menggunakan kain tersebut. Seokjin membersihkannya dengan hati-hati dan setelah selesai dia langsung melemparkan batang besi bersama kain itu ke dalam tempat sampah.
Helaan napas lega keluar dari sela bibir Seokjin dan perlahan pandangannya turun ke kedua tangannya sendiri.
Dia.. baru saja membunuh seseorang.
Seokjin baru saja menghilangkan nyawa orang lain dengan tangannya.
Seokjin membunuh. Seokjin adalah pembunuh.
Tubuh Seokjin gemetar hebat, dia memeluk dirinya sendiri namun kenyataan bahwa dia telah membunuh seseorang membuat kepalanya berdenyut menyakitkan, rasa mual perlahan naik ke tenggorokannya dan Seokjin mengatupkan mulutnya rapat-rapat.
Seokjin memejamkan matanya, terus memberikan sugesti pada dirinya sendiri bahwa apapun yang dilakukannya merupakan tindakan untuk membela dirinya dan tidak ada satu orangpun yang melihat kejadian itu.
Seokjin masih berdiri di sana selama empat puluh menit menuh hingga akhirnya dia berbalik utnuk menatap gedung apartemen kumuhnya.
Seokjin harus kembali ke sana.
Jungkook menunggunya dan Seokjin harus kembali.
Kaki Seokjin bergerak secara otomatis saat mengingat Jungkook, dia berjalan dengan hati-hati menaiki tangga dan dia menemukan tubuh pria itu sudah tergeletak tidak bernyawa dengan darah yang mengalir dari luka di kepalanya, dan mulutnya yang penuh busa bercampur darah. Tubuh pria itu tergeletak begitu saja di pertengahan tangga dari lantai tiga menuju lantai dua.
Seokjin melangkahi mayat pria itu dengan hati-hati dan setelahnya dia berlari menaiki tangga menuju kamarnya sendiri.
Ketika Seokjin tiba di kamarnya, dia melihat Jungkook duduk meringkuk di sudut kamar dengan kepala yang berada di antara lipatan lututnya. Tubuh bayinya gemetar ketakutan dan Seokjin bergegas berlari menghampirinya.
Mulanya Jungkook histeris, dia menjerit dan menangis saat Seokjin menyentuh lengannya, tapi saat Seokjin memanggilnya, kedua mata Jungkook terbuka dan bayi itu langsung memeluk ibunya erat-erat.
Seokjin merasakan tubuh anaknya gemetar karena ketakutan dan Seokjin tahu dia harus selalu berada di depan anaknya untuk melindunginya.
Tidak peduli jika itu berarti dia harus membunuh seseorang dalam melindungi putranya.
Heaven and Hell
.
.
.
a BTS fanfiction
by
Black Lunalite
.
.
.
.
Warn!
Mafia!AU, BL, contains some abuse and abusive relationship.
This story is pure fiction.
Read at your own risk.
.
.
.
.
Part 4: The Dark Side of The Angel
Hoseok bersenandung pelan untuk menghilangkan atmosfer tegang yang terasa begitu mengudara diantara mereka. Dia bergerak dengan hati-hati untuk membersihkan luka di sudut bibir Seokjin yang pecah karena tamparan kuat Namjoon.
"Kalau terasa sakit, katakan saja, aku akan berusaha lebih pelan." ujar Hoseok seraya menekankan kapas berbalut alkohol dingin ke sudut bibir Seokjin dengan gerakan pelan.
Seokjin hanya diam, dia tidak mengatakan apapun dan hanya terfokus menatap Hoseok yang sedang sibuk merawat lukanya.
"Tamparannya kuat juga, tidak kusangka dia akan benar-benar menggunakan tenaganya saat menamparmu." Hoseok berdecak, "Tidak seharusnya dia sekasar itu."
Seokjin masih diam dan Hoseok menggulirkan bola matanya untuk menatap Seokjin.
"Seokjin? Apa kau baik-baik saja?"
Seokjin masih diam, tapi dia mengangguk dengan perlahan, "Aku.. baik."
"Tamparannya terasa begitu menyakitkan ya? Jangan khawatir, aku akan menamparnya nanti untukmu." Hoseok berujar santai dan dia kembali meneruskan pekerjaannya.
"Tidak apa, aku.. sudah terbiasa."
Dan gerakan tangan Hoseok terhenti seketika, dokter itu terdiam kaku dengan tangan yang masih mengambang di atas permukaan kulit Seokjin.
Jeda itu terasa begitu panjang hingga Seokjin akhirnya tidak tahan untuk tidak memecah keheningan itu.
"Hoseok-ssi?"
Hoseok agak tersentak, dokter itu berdehem pelan lalu kembali meneruskan pekerjaannya dan tersenyum puas saat dia sudah selesai. "Sudah selesai, kita bisa pulang sekarang."
Seokjin mengangguk, dia bergerak untuk berdiri, tangannya yang masih menggenggam Bon-Bon memindahkan boneka itu ke pelukannya.
Hoseok melirik boneka kelinci di tangan Seokjin, "Jungkook suka kelinci?"
Seokjin mengangkat pandangannya untuk menatap Hoseok dan dia mengangguk pelan. "Jungkook terus menatap Bon-Bon yang berada di jendela etalase toko selama seminggu penuh sampai akhirnya aku mampu membelikan ini untuknya." Seokjin tersenyum, dia menunduk untuk menatap boneka kelinci diantara lengannya, "Aku tidak pernah melihat Jungkook sebahagia itu."
Hoseok masih diam, dia menatap Seokjin cukup lama sampai akhirnya bibirnya terbuka untuk memanggil namanya. "Seokjin,"
Seokjin mendongak, "Ya?"
"Jungkook suka boneka kelinci apa saja, kan?" ujarnya lagi.
Dan ketika Seokjin mengangguk, Hoseok langsung menunjukkan senyuman lebarnya, dia melepas jas dokternya dan melemparkannya ke sebuah kursi tak jauh dari mereka.
"Tunggu di sini, aku akan kembali dalam lima menit." Hoseok berujar ceria dan setelahnya dia berlari keluar dari ruangannya.
Seokjin tertegun, tapi setelahnya senyum kecil terbentuk di bibirnya. Hoseok merupakan pribadi yang berbeda, dia jelas-jelas mengatakan kalau dia akan menjaga Seokjin, dan dia sangat baik pada Seokjin. Hoseok adalah orang pertama yang jelas-jelas menerima Seokjin dengan tangan terbuka.
Dia begitu baik.
Orang paling baik yang Seokjin kenal setelah selama ini.
Seokjin bergerak untuk turun dari brankar di ruang pemeriksaan Hoseok. Dia berjalan-jalan ke sekitar ruangan itu dan di sana memang tidak ada banyak hal yang menarik, ruangan Hoseok nyaris seperti ruangan kerja dokter pada umumnya.
Mungkin yang membedakan hanyalah luas ruangan ini dan juga beberapa barang yang terlihat lebih mewah daripada barang-barang di ruangan dokter pada umumnya.
Seokjin berjalan lagi dan kali ini ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Itu adalah sebuah benda yang terletak di atas meja kerja Hoseok. Selain benda itu, Seokjin juga melihat tempat pena, kalender meja, jam meja kecil, setumpuk berkas, dan juga vas bunga dengan bunga segar.
Benar-benar bunga segar.
Cukup mewah hanya untuk meja kerja seorang dokter.
Dan akhirnya Seokjin melangkah untuk mengambil benda yang menarik perhatiannya.
Itu adalah sebuah bingkai foto.
Seokjin membalik foto itu dan dia melihat Hoseok di sana, dia terlihat jauh lebih muda, mungkin foto ini diambil saat mereka sekolah menengah?
Tapi bukan senyuman ceria Hoseok yang membuat Seokjin tertarik. Yang membuatnya tertarik adalah Namjoon, Kim Namjoon, sedang berdiri di sebelah Hoseok.
Rambutnya berwarna ungu dan dia tersenyum sangat lebar seraya menatap kamera, dengan tangan yang merangkul Hoseok, dan tangan lainnya yang merangkul seorang gadis.
Gadis itu memiliki rambut berwarna hitam kelam yang lurus hingga mencapai bawah dadanya, dia tertawa ke arah kamera dan Seokjin melihat tangan gadis itu berada di sekitar pinggang Namjoon.
Gadis itu memeluknya.
Memeluk Kim Namjoon dengan begitu santainya.
Siapa dia?
Seokjin mendengar derap langkah cepat menuju tempatnya berada dan Seokjin bergegas meletakkan bingkai foto itu kembali ke tempat semula. Tepat ketika dia selesai melakukannya, pintu ruangan Hoseok terbuka dan Seokjin melihat dokter itu berdiri di sana dengan sebuah bungkusan berisi boneka kelinci.
"Nah, ayo pulang." Hoseok berujar santai dan Seokjin mengangguk pelan.
Hoseok berjalan di sebelahnya dan beberapa perawat ataupun dokter yang bertemu mereka akan dengan senang hati menyapa Hoseok dan Hoseok akan membalas senyuman mereka dengan ramah.
"Mereka sangat mengenalmu ya, kurasa aku bisa mengerti." Seokjin tersenyum, "Kau memang terlalu tampan untuk sekedar menjadi dokter."
Hoseok tertawa, "Tidak, mereka melakukan itu karena aku atasan mereka. Aku anak pemilik rumah sakit ini, dan saat ini kebetulan menjabat sebagai direktur utama rumah sakit." Hoseok menoleh ke arah Seokjin, "Mereka melakukan itu karena aku atasan mereka. Sebenarnya aku memang tidak dekat dengan siapapun di rumah sakit ini, terlebih lagi, aku lebih banyak menghabiskan waktuku untuk berada di rumah Namjoon, mengurusi dia jika dia terluka." Hoseok menjawil ujung hidung Seokjin, "Dan juga mengurusimu, calon permaisuri Kim Namjoon."
Seokjin tertegun, dia menatap Hoseok dan perlahan senyum sedih terbentuk di bibirnya. "Ya, benar."
Hoseok melirik Seokjin, "Aku masih mendukungmu. Aku bertaruh untukmu, jadi jangan khawatir, jika itu memang bisa, maka aku akan menyelematkanmu."
Seokjin menatap Hoseok dan dia tersenyum, "Kau sangat baik."
Hoseok tertawa, tangannya terangkat untuk mengusap rambut Seokjin, "Aku akan menjagamu. Aku sudah berjanji aku akan melakukan itu, kan?"
.
.
.
Namjoon duduk bersandar di atas kursi kebesarannya. Dia memutar-mutar kursi itu dengan perlahan sementara kepalanya mendongak menatap langit-langit ruang kerjanya. Kepalanya terus berputar memikirkan mengenai kejadian saat dia menampar Seokjin saat emosi dan juga saat Hoseok membela Seokjin dan menyembunyikan Seokjin di belakang tubuhnya.
Tapi dibanding semua itu, ada sesuatu dari pandangan mata Seokjin yang membuatnya bingung.
Pandangan itu terlihat begitu kosong dan hampa.
'Seokjin mengalami trauma!'
Ya, Namjoon ingat Hoseok pernah mengatakan itu.
Tapi sekali lagi, Namjoon bukanlah sosok yang akan peduli. Dia tidak pernah peduli dengan bagaimana kondisi orang lain di sekitarnya. Namjoon belajar bahwa memahami kondisi orang lain dan memperhatikannya itu sama saja seperti membuka jalan bagi orang lain untuk menyakitinya.
Namjoon tidak mau mengalami itu.
Tidak untuk kedua kalinya.
Namjoon tidak sebodoh itu untuk terjatuh di tempat yang sama untuk kedua kalinya dan karena alasan yang sama.
Tidak, dia tidak sebodoh itu.
Namjoon masih sibuk dengan pikirannya sendiri namun dia harus terhenti karena seseorang mengetuk pintu ruang kerjanya. Namjoon bergerak untuk menatap monitor kecil yang berada di atas mejanya. Monitor kecil itu terhubung langsung ke CCTV yang berada tepat di atas pintu ruangannya.
Dan Namjoon melihat Jackson di sana.
Informannya yang paling hebat.
Namjoon menekan tombol yang berada di mejanya dan pintu ruang kerjanya terbuka. Namjoon memperbaiki posisi duduknya seraya menatap Jackson. "Kuharap kau sudah mengumpulkan semua yang aku inginkan."
Jackson terkekeh pelan, "Tentu saja," dia berjalan menghampiri meja kerja Namjoon dan menarik kursi untuk duduk di hadapan meja Namjoon. "Mau yang mana dulu, Bos?"
Namjoon melirik Jackson dan juga sebuah PC tablet di tangannya, "Seokjin."
Jackson mengangguk, terlihat sangat santai, dia menekan-nekan di PC tabletnya kemudian berdehem pelan. "Seokjin Kim, lahir empat desember 21 tahun lalu. Dia adalah anak pertama dari keluarga Kim generasi enam. Tentunya kau tahu apa artinya kan, Bos?" Jackson menyeringai, "Dia seorang carrier, dan ayahnya sangat tidak menyukai itu, ibunya juga sama saja. Dia bersekolah dengan baik sampai kemudian dia hamil," Jackson melirik Namjoon, "Jungkook."
"Bagaimana itu terjadi?"
"Well, sederhana. Anak tunggal keluarga Lee generasi tujuh, Lee Jaehwan, memperkosa Seokjin. Kasus itu diketahui oleh kedua belah pihak, tapi kelihatannya Seokjin memang dibenci jadi dia diusir dari rumah. Saat ini keluarga Kim itu memiliki Kim Seojun, adik Seokjin yang saat ini berusia sebelas tahun. Mereka berbeda sepuluh tahun."
Namjoon terdiam sebentar, kemudian dia mengangguk pelan. "Lanjutkan,"
"Seokjin melahirkan Jungkook pada satu September, empat tahun lalu. Dia melahirkan di sebuah rumah sakit biasa, melalui operasi caesar. Seokjin tidak memiliki lebar panggul yang cukup." Jackson melirik Namjoon, "Itu berdasarkan data dari informanku di rumah sakit, rumah sakit itu kecil, aku hanya perlu membayar sangat murah agar bisa mendapatkan salinan dari semua rekam medis Seokjin." Jackson menyodorkan PC tabletnya ke Namjoon, "Itu salinan surat kelahiran Jungkook dan semua data-data bayi itu."
Namjoon melirik sebuah scan dari surat yang terpampang di layar dengan wajah malas, "Oke, lalu?"
"Marga Jungkook itu Kim, tapi karena Seokjin sudah bukan bagian dari keluarga Kim generasi enam, maka dia mendaftarkan nama keluarganya sendiri, dan dia keluarga Kim generasi.." Jackson berdehem, "Kurasa sebaiknya kau tidak perlu tahu dia ada di urutan ke berapa."
"Lanjutkan,"
"Dia bekerja selama nyaris dua puluh jam sehari, di lima tempat yang berbeda. Gajinya cukup untuk mengurus Jungkook. Ah, bayi itu berada dalam pengawasan sebuah klinik kecil yang ada di dekat sebuah restoran italia tempat Seokjin bekerja. Bayi itu sangat sehat, Seokjin merawatnya dengan terlampau baik karena Seokjin tidak melewatkan satupun prosedur kesehatan untuknya." Jackson melanjutkan kemudian dia menatap Namjoon, "Hanya saja, ada satu riwayat kesehatan Jungkook yang mungkin tidak akan kau suka."
"Apa?"
"Jungkook pernah keracunan, saat dia berusia dua tahun. Dia mengalami infeksi yang lumayan di perutnya karena saat itu dia keracunan racun serangga, untungnya dia tidak mati."
"Bagaimana mungkin dia bisa keracunan? Kau bilang Seokjin merawatnya dengan baik."
Jackson melipat tangannya, "Nah, yang ini tidak disebutkan, aku sudah berusaha keras mencari tapi hanya keterangan dari petugas klinik yang merawat Jungkook yang berhasil kudapatkan. Petugas itu bilang Seokjin membawa Jungkook ke klinik dalam kondisi kritis, dia nyaris saja tidak bisa diselamatkan." Jackson menatap Namjoon, "Kejadian itu juga mengguncang Seokjin, kudengar, dia nyaris gila, dia bahkan hanya duduk diam selama empat hari penuh saat Jungkook koma hingga dia juga harus dirawat setelahnya."
"Lalu selanjutnya soal lima pemerkosa Seokjin belum lama ini, aku sudah tahu dimana mereka berada." Jackson menatap Namjoon dengan dahi berkerut, "Kau berencana membunuh mereka?"
Namjoon memiringkan kepalanya, "Tidak juga,"
"Oh, baiklah kalau begitu." Jackson berdiri dan merapikan jaketnya, "Semuanya sudah dijelaskan dengan sangat rinci di dalam situ." Kemudian pria itu mengulurkan tangannya ke arah Namjoon, menyodorkan sebuah kartu hitam tipis pada Namjoon, "Black cardmu, aku tidak menggunakannya terlalu banyak, sebenarnya jika kau memberikan kartu kredit biasa pun aku pasti bisa mengerjakan ini karena uang yang dikeluarkan tidak banyak. Semua tempat yang berhubungan dengan informasi Seokjin sangat murah, bahkan pihak pemerintah saja langsung memberikan datanya padaku tanpa proses negosiasi yang alot."
Namjoon mengambil black card itu dan meletakkannya di atas meja, "Baiklah, kerja bagus. Aku akan menghubungimu lagi nanti."
Jackson mengangguk pelan, "Bos, kau harus tahu satu hal."
Namjoon mendongak menatap Jackson, "Hmm?"
"Kucing yang manis pun akan mengeluarkan cakar jika ketakutan. Dan cicak akan memutuskan bagian tubuhnya jika terancam. Pengorbanan dan perlawanan akan diberikan dengan sekuat tenaga, tidak peduli semanis apapun makhluk itu, sebaik apapun dia, semua makhluk hidup memiliki sisi bengis masing-masing." Jackson terdiam sebentar sebelum melanjutkan, "Seokjin itu.. kurasa dia tidak seperti yang terlihat."
Namjoon tersenyum miring, "Kurasa aku pasti sanggup menghadapi apapun itu yang menjadi rahasia kelam di dalam dirinya."
Jackson mendesah pelan, "Oh yah, tentu saja. Bagaimana mungkin aku bisa lupa bahwa atasanku adalah sumber dari semua kegelapan itu sendiri?" Jackson menggeleng dramatis, "Baiklah, aku pergi."
"Hmm.."
Jackson membungkuk hormat pada Namjoon kemudian dia berjalan keluar dari ruang kerja Namjoon, meninggalkan Namjoon sendirian dengan sebuah PC tablet berisi info lengkap soal Kim Seokjin.
"Seokjin dan Jungkook.." gumam Namjoon, "Ternyata kehidupannya dan anaknya tidak semembosankan itu." Namjoon menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi, "Lumayan juga, mungkin nanti aku akan mendapatkan sedikit hiburan."
.
.
.
Seokjin kembali bersama Hoseok dan ketika dia baru saja melewati pintu depan, dia berpapasan dengan seorang pria bertubuh tegap yang kelihatannya bukan warga Korea jika dilihat dari wajahnya. Pria itu tersenyum lebar dan sedikit membungkuk untuk menyapa Seokjin.
"Ah, Jackson? Sudah lama kita tidak bertemu." Hoseok langsung menyapa pria itu dengan akrab dan memberinya sebuah tepukan di bahu.
Pria yang dipanggil Jackson oleh Hoseok itu tersenyum lebar. "Ya, Raja membutuhkanku, maka aku akan datang."
Hoseok tersenyum kecil, "Kupikir dia sudah tidak akan membutuhkanmu mengingat dia memiliki mata dan telinga dimana-mana."
Jackson tertawa kecil, "Aku tetap yang terbaik diantara ratusan mata dan telinganya yang tersebar itu."
Hoseok terdiam kemudian menggeleng pelan, "Kau benar."
"Oke, aku harus pergi." Jackson menepuk-nepuk bahu Hoseok, "Sebaiknya jangan terlalu banyak menghabiskan waktu di sini atau sayap malaikatmu lama-lama akan hancur."
Hoseok tertawa keras, "Yah, seandainya saja aku bisa meninggalkannya."
Jackson terkekeh, "Oke, aku pergi ya."
Hoseok mengangguk dan Jackson berjalan pergi, lagi-lagi setelah membungkuk sopan pada Seokjin dan Hoseok.
"Siapa dia?" tanya Seokjin.
Hoseok melirik punggung Jackson yang baru saja menghilang di balik pintu, "Informan kesayangan Namjoon."
"Informan?"
"Ya, informan." Hoseok melirik Seokjin, "Bukan sesuatu yang kau butuhkan, jadi jangan pikirkan itu."
Seokjin mengangguk pelan, berada di rumah ini selama beberapa hari membuat Seokjin belajar untuk tidak terlalu banyak bertanya ataupun terlalu banyak penasaran pada sesuatu. Seokjin memahami peraturan untuk tetap diam dan bicara jika perlu sejak dia bertemu langsung dengan pemilik neraka ini.
Mereka berdua melangkah semakin jauh dan akhirnya berhenti saat masuk ke dalam ruang tengah. Ruangan itu mendadak sudah diklaim oleh Taehyung dan Jungkook sebagai tempat bermain mereka.
Ketika Seokjin memasuki ruangan itu, dia melihat Jungkook sedang duduk di lantai yang dilapisi karpet tebal bersama Taehyung yang berbaring menelungkup di sebelah bayinya. Di hadapan bayinya terdapat buku cerita dan kelihatannya bayinya sedang memperhatikan gambar di sana karena Seokjin tahu bayinya tidak bisa membaca.
Suara langkah Seokjin membuat Jungkook mendongak dan senyuman lucu langsung terbit di wajah Jungkook saat melihat ibunya. "Mama!"
Seokjin tersenyum dan melangkah menghampiri Jungkook kemudian memeluknya, "Kookie nakal tidak selama Mama pergi?"
Jungkook menggeleng lucu dan setelahnya bayi itu memekik riang saat melihat boneka kesayangannya di tangan ibunya. "Bon-Bon!"
Seokjin tersenyum, dia memberikan boneka kelinci kesayangan anaknya pada Jungkook dan Jungkook langsung memeluk boneka itu erat-erat. .
"Jungkook, aku punya hadiah untukmu." Hoseok berujar dan suaranya membuat Jungkook mendongak untuk menatap si dokter.
Dan ketika Jungkook sudah menatapnya, Hoseok memberikan sebuah boneka kelinci berukuran cukup besar dan terbungkus plastik kepada Jungkook.
"Wah, kelinci!" pekik Jungkook gembira, dia melompat bangun dan memeluk boneka itu erat-erat.
Seokjin mendongak menatap Hoseok, "Jadi., itu.."
Hoseok mengedipkan sebelah matanya, "Untuk Jungkook, tentu saja. Aku membelinya di bagian anak, rumah sakit kami memang menjual boneka karena tidak sedikit anak-anak yang ingin ditemani boneka saat dia sakit.
Seokjin mengagguk pelan, "Terima kasih banyak."
"Bukan masalah."
"Oh, jadi Jungkookie menyukai kelinci? Baiklah, besok aku akan membelikannya boneka kelinci." Taehyung menyahut dan Hoseok terbahak.
"Ini bukan kompetisi untuk menarik perhatian Jungkook, bodoh!" ujar Hoseok seraya memukul kepala Taehyung dengan bantal sofa.
Taehyung mengaduh pelan, "Memangnya kenapa? Toh itu hakku."
Hoseok menghela napas pelan kemudiann dia menatap sekeliling, "Dimana Yoongi dan Jimin?"
"Yoongi Hyung bekerja, seperti biasanya." Taehyung terkekekh pelan, "Kaulau Jungkook kau tidak perlu menanyakan ini padaku, kan?
Hoseok terkekeh pelan, "Yah benar. Lalu Jimin?'"
"Jimin Hyung agak sibuk, dia harus mengturus urusan pekerja jadi saat ini dia sedang menyusun ulang jadwalnya." Taehyung menjawab, "Kurasa dia sedang mempersiapkan agar para pekerja bisa ada dalam formasi full team saat acara pernikahan Tuan Besar kita."
Dahi Hoseok berkerut dan Seokjin menegang saat mendengar Taehyung mengucapkan acara pernikahan.
"Namjoon akan benar-benar melakukan itu?" tanya Hoseok, diam-diam dia melirik Seokjin dan melihat kalau pria itu sedang berdiri dalam diam, bahkan Jungkook yang menarik-narik tangannya pun dia diamkan.
Taehyung mendesah malas, "Tentu saja, Hyung. Papa angkatku itu benar-benar selalu serius dengan ucapannya." Taehyung tertawa pelan, "Jangan bilang padanya aku baru saja memanggilnya itu, dia akan menghajarku."
Mata Seokjin membulat saat mendengar ucapan Taehyung.
Tunggu,
Papa angkat?
Apa itu artinya Taehyung adalah anak angkat Namjoon?
Hoseok mendelik pada Taehyung, "Kalau kau sudah tahu seharusnya kau tidak mengatakan itu." Hoseok melirik Seokjin, "Aku harus pergi, sebentar lagi jadwal pemeriksaan sore."
Taehyung mengangguk acuh, "Sampai nanti, Hoseok Hyung."
Hoseok mengangguk pelan, dia tersenyum kecil pada Seokjin dan membungkuk untuk mengusap kepala Jungkook. "Aku pergi dulu, dan Seokjin, luka di kepalamu sudah mulai sembuh, kurasa besok siang aku bisa ke sini untuk melepaskan jahitannya."
Seokjin mengangguk pelan, sementara Jungkook melambaikan tangannya dengan ceria seraya berseru 'Terima kasih, Paman! Aku suka bonekanya!' pada Hoseok.
Taehyung berdiri setelah Hoseok berjalan melewati pintu, kemudian dia menghampiri Jungkook dan berjongkok di hadapannya. "Kau mendapat mainan baru, kan? Bagaimana kalau kita bermain dengan mereka?" Taehyung mengusap kepala boneka kelinci yang diberikan Hoseok pada Jungkook, "Siapa namanya?"
Dahi Jungkook berkerut, dia memasang pose berpikir yang benar-benar lucu sehingga Taehyung tertawa lepas dan bergerak maju untuk menggigit pipi Jungkook. Jungkook tersentak kaget sementara Taehyung terbahak keras.
Seokjin diam-diam tersenyum, dia membungkuk untuk mengusap kepala anaknya. "Siapa namanya?"
Jungkook menunduk, menatap boneka kelinci barunya cukup lama sampai akhirnya dia mendongak menatap ibunya. "Namanya TaeTae, Mama."
"Hei! Itu namaku!" ujar Taehyung tidak setuju.
Jungkook menatap Taehyung dengan raut wajah cemberut yang menggemaskan, "Biarkan saja! Habisnya Hyung nakal! Hyung menggigit pipiku!" Jungkook menyentuh pipinya sendiri, "Jangan makan pipiku, Hyung!"
Seokjin tersenyum kecil sementara Taehyung tertawa terbahak-bahak di depan Jungkook.
"Tuhan! Kau imut sekali!" Taehyung tersenyum lebar dan tangannya terulur untuk mengusap-usap pipi Jungkook. Taehyung tersenyum saat Jungkook tertawa kecil, kemudian dia mendongak menatap Seokjin. "Hyung, kalau Jungkook sudah besar, jangan biarkan dia menikah dengan siapapun, dia untukku saja."
Seokjin tersentak, dia mengerjap kaget dan hanya mampu terpaku menatap Taehyung yang sedang menatapnya dengan senyum lebar di wajahnya.
"Kau pikir Namjoon akan membiarkan itu?"
Seokjin menoleh ke arah asal suara dan dia melihat Jimin berjalan menghampiri mereka. Pria itu berjalan dengan setumpuk kertas di tangannya dan dia terus-menerus menggerutu pada kertas di tangannya.
Taehyung berdecak, "Hyung, apa salahnya? Jungkook kan bukan dominan."
"Salahnya adalah dia itu calon anak tiri Namjoon. Dan kau, secara hukum kau itu anak angkat Namjoon!" ujar Jimin kemudian dia memukul kepala Taehyung dengan tumpukan kertas di tangannya.
Taehyung mengaduh, dia mengusap-usap kepalanya yang baru saja menjadi sasaran pemukulan oleh Jimin. "Sakit!"
Jimin berdecak pelan, "Sana, kerjakan tugas rumahmu atau semacamnya."
Taehyung menegakkan tubuhnya, "Aku tidak bisa, nanti malam ada pekerjaan."
"Apa lagi sekarang?" tanya Jimin, terdengar tidak suka.
Taehyung mengangkat bahunya, "Hanya membunuh salah satu pengganggu Namjoon Hyung."
Seokjin tersentak, tubuhnya agak gemetar mendengar Taehyung, terlebih lagi dia sangat terkejut melihat Taehyung yang sangat santai. Dia sama sekali tidak terdengar seperti orang yang akan membunuh orang lain, dia lebih terlihat seperti seseorang yang malam nanti akan bertemu seseorang secara kasual.
"Dimana? Jangan terluka, besok kau masih harus sekolah."
Taehyung mengangguk, "Aku tahu, dan aku tidak akan turun langsung, aku akan menembaknya dari gedung seberang." Taehyung menyeringai, "Namjoon Hyung sangat senang karena kemampuan menembak jarak jauhku semakin berkembang, makanya belakangan ini dia selalu menyuruhku untuk melakukan itu."
Membunuh.
Bunuh.
Kata-kata itu terus terngiang di kepala Seokjin.
Bagaimana mungkin Namjoon sesantai itu meminta Taehyung membunuh untuknya?
Bagaimana mungkin orang-orang di rumah ini begitu santai seolah membunuh itu bukanlah perkara besar?
Seokjin membuka kemasan racun tikus itu dan menuangkannya ke dalam mulut pria jelek itu
Seokjin menggeleng kuat, tidak ada yang mengetahui perbuatannya. Tidak ada.
Tidak ada, karena menemukan mayat dalam apartemen kumuh mereka bukanlah hal yang aneh. Bahkan polisi tidak akan mau repot-repot datang memeriksa, hanya ambulans yang akan datang untuk membawa mayat itu keluar dari apartemen.
Tidak ada yang tahu kalau Seokjin lah penyebabnya.
Tidak ada.
"Sebenarnya, aku rela membayar berapapun dan melakukan apapun agar kau berhenti menjadi assassin kesayangan Namjoon, Taehyung." ujar Jimin pelan.
Seokjin melirik ke arah Jimin, kepalanya sibuk mencerna ucapan Jimin dan dia menyadari bahwa Jimin sangat peduli pada Taehyung.
Bahkan cenderung terlalu peduli.
Tapi.. melakukan apapun?
Apapun?
Apakah itu termasuk membunuh Kim Namjoon?
Taehyung tertawa pelan, "Aku tahu kau bahkan rela membunuh untuk itu, Hyung."
Bunuh.
Bunuh.
Bunuh Kim Namjoon.
Ya, kenapa ini tidak terpikirkan oleh Seokjin sebelumnya?
Jika dia membunuh Kim Namjoon, maka bisa dipastikan dia akan keluar dari sini dengan aman.
Ya, kenapa tidak terpikirkan sebelumnya?
Seokjin sudah pernah membunuh sebelumnya, dan dia akan melakukannya untuk menyelamatkan anaknya.
Ini tidak berbeda. Seokjin juga akan melakukan ini untuk menyelamatkan anaknya.
Ya, benar.
Seokjin bisa melakukannya.
"Seokjin? Kau baik-baik saja?"
Seokjin terlonjak kaget, matanya bergerak liar menatap Jimin yang baru saja bertanya padanya. "A-aku.."
"Kau pasti lelah, aku sudah dengar soal penyebab dari luka di sudut bibirmu itu." Jimin tersenyum kecil, "Pergilah beristirahat."
Seokjin mengangguk pelan, dia menunduk untuk membawa Jungkook dalam gendongannya dan membawanya ke kamar yang mereka tempati sejak beberapa hari lalu.
"Apa yang akan terjadi jika Seokjin Hyung benar-benar menikah dengan Namjoon Hyung, ya?" ujar Taehyung dengan pandangan terarah ke punggung Seokjin yang semakin menjauh.
"Entahlah, kuharap dia baik-baik saja." Jimin menyahut.
"Jika dia benar-benar menikah dengan Namjoon Hyung, maka dunia luar akan terasa seperti neraka baginya. Semua orang akan mengincarnya." Taehyung menghela napas pelan, "Kurasa memang sebaiknya Namjoon Hyung tidak menikah."
.
.
.
Seokjin bergerak bangun dari tidurnya dengan hati-hati, dia menatap Jungkook yang berbaring di sebelahnya dengan damai. Anaknya sudah tertidur pulas dan dia tidak akan bangun sampai Seokjin membangunkannya.
Seokjin perlu melakukan rencananya. Dia harus melenyapkan Kim Namjoon apabila dia ingin keluar dari rumah ini.
Seokjin harus melakukannya.
Untuk anaknya.
Untuk Jungkooknya.
Seokjin bergerak untuk turun dari tempat tidur, sore tadi dia sudah mengambil sebuah belati antik yang berada di meja ruang samping. Kelihatannya itu hanyalah sebagai aksesoris atau belati pembuka surat, tapi permukaannya cukup tajam jadi Seokjin rasa dia bisa menggunakannya.
Kaki Seokjin yang telanjang bergerak tanpa menimbulkan suara sedikitpun saat dia berjalan keluar dari kamarnya. Ini sudah tengah malam, Seokjin yakin Namjoon sudah berada di kamarnya dan tertidur.
Dan Seokjin sudah tahu dimana letak kamar Namjoon setelah bertanya pada salah satu pelayan di sini.
Pandangan Seokjin selalu bergerak ke sana-sini selama perjalanannya menuju kamar Namjoon, dan akhirnya, dia tiba. Seokjin menatap ke atas dan dia melihat sebuah kamera CCTV di sudut koridor, kamera itu mengarah padanya, tapi Seokjin rasa, siapapun yang mengawasi kamera tidak akan terlalu curiga mengenai Seokjin yang berada di sini.
Seokjin mencengkram belati itu di tangannya erat-erat dan menyembunyikannya di balik lengan piyamanya yang panjang. Dia menarik napas dalam dan dengan gerakan hati-hati dia membuka pintu kamar Namjoon dengan perlahan.
Untungnya, pintu kamar itu tidak terkunci.
Seokjin menarik napas lega dan bergerak masuk dengan perlahan, kamar Namjoon sangat besar, dan juga penuh berisi barang-barang yang mewah. Berdasarkan pengalamannya bekerja cukup lama di sebuah galeri seni, Seokjin bisa menduga harga lukisan yang tergantung di dinding kamar Namjoon itu sangat mahal.
Tapi kali ini bukan itu tujuan Seokjin, tujuannya adalah pria yang sedang tertidur di atas sebuah tempat tidur yang sangat besar. Seokjin melangkah perlahan dan dia bisa mendengar suara napas teratur Namjoon.
Pria itu tertidur.
Ini akan menjadi sangat mudah.
Seokjin melangkah semakin dekat, semakin dekat, dan dia akhirnya terhenti saat sudah mencapai tempat tidur Namjoon. Seokjin menatap wajah Namjoon yang tertidur dalam diam. Keraguan itu kembali hadir di dalam dadanya tapi Seokjin tahu hanya ini satu-satunya jalan.
Karena satu-satunya penghalang diantara Seokjin dan kebebasannya adalah Kim Namjoon.
Dan dengan keyakinan itu Seokjin mengangkat belatinya, dia menggenggamnya kuat-kuat dan mengayunkannya ke arah Namjoon.
Dan di detik itu juga, mata Namjoon terbuka. Pria itu berkelit dengan gesit dan setelahnya bangun dengan cepat untuk melempar Seokjin ke dinding terdekat.
Seokjin terbatuk karena punggungnya menghantam dinding dengan keras, belati itu terlepas dari tangannya dan dia berada terlalu jauh dari jangkauan tangan Seokjin.
"Apa yang kau pikir akan kau lakukan?!" Namjoon membentak marah, dia meraih Seokjin dan menahannya di dinding dengan lengannya.
Lengan Namjoon melintang di leher Seokjin dan Seokjin merasa tercekik, dia terbatuk keras dan berusaha keras melepaskan lengan Namjoon dari lehernya.
"Apa yang kau lakukan?! Kau mencoba membunuhku?!"
Seokjin terbatuk lagi, dia mencengkram lengan Namjoon yang menjepit lehernya kuat-kuat, menancapkan kukunya di sana dan Seokjin tahu lengan Namjoon berdarah karena kukunya ketika Seokjin merasakan aliran cairan yang hangat dari kukunya yang menancap di kulit Namjoon.
"Kau.." Namjoon menggeram dia menekan lengannya lebih kuat dan itu membuat kuku Seokjin menancap semakin dalam di lengannya.
"Aku akan membunuhmu.." desis Namjoon. "Kau dan anakmu.."
Mata Seokjin terbuka saat Namjoon membicarakan soal Jungkook. Seokjin melepaskan cengkramannya di lengan Namjoon dan menatap Namjoon dengan mata berair karena sesak akibat cekikan lengan Namjoon.
"J-j-ja-jang-jangan.. j-jangan a-a-an-anak-ku.."
Seokjin mencoba memohon dan Namjoon masih menggeram marah. Dia menekan leher Seokjin lagi dan Seokjin terbatuk keras. Tenggorokannya terasa sangat sakit dan Seokjin khawatir dia akan benar-benar mati di sini.
Mata Seokjin perlahan terbuka dan sebutir airmata mengalir dari matanya, itu bukanlah airmata karena sesak akibat cekikan Namjoon. Seokjin benar-benar menangis karena dia sangat mengkhawatirkan anaknya. Anaknya tidak boleh mati.
Tidak boleh.
Namjoon terdiam, dia menatap bola mata Seokjin yang berair dan perlahan-lahan cengkramannya mengendur. Seokjin langsung terjatuh menghantam lantai ketika cekikan Namjoon di lehernya terlepas, dia terbatuk-batuk keras sementara Namjoon menatapnya dengan dingin.
"Keluar,"
Seokjin menarik napas dalam, mencoba mengumpulkan oksigen untuk mengisi paru-parunya. Dia ingin keluar, tapi kakinya terasa begitu lemas sehingga dia hanya bisa tergeletak di sana seraya terbatuk keras.
Namjoon berdecih pelan dan berjalan keluar meninggalkan Seokjin yang masih tidak berdaya di lantai kamarnya.
.
.
.
"Dia mencoba membunuhku, bisa kau bayangkan itu?" Namjoon berujar pada Yoongi, sementara itu si tangan kanan dari Kim Namjoon itu hanya terdiam dengan wajah mengantuk luar biasa.
"Kau menakutkan, wajar jika dia mencoba membunuhmu." Yoongi menguap, "Aku juga akan melakukan itu jika jadi dirinya."
Namjoon berdecak, "Kurasa sebaiknya aku memikirkan ulang soal rencana mendapatkan pewaris darinya."
Yoongi menghela napas pelan, dia berjalan menghampiri meja Namjoon dan berdiri di depannya. "Kau butuh pewaris, kurasa dia melakukan ini hanya sebagai bentuk pembelaan dirinya saja." Yoongi menggaruk kepalanya, "Tidakkah kau sadar kau begitu mengintimidasi? Kau benar-benar membuatnya ketakutan di detik pertama dia melihatmu."
Namjoon melirik Yoongi, "Jadi maksudmu aku harus membiarkannya? Bagaimana jika dia mencoba melakukan ini lagi?"
"Namjoon, aku mengenalmu dengan terlalu baik, kau bahkan bisa membunuhnya hanya dengan tangan kosong. Dan dia.. dia bahkan membutuhkan seluruh keberaniannya untuk mengacungkan pisau padamu. Dia bukan orang seperti itu, kurasa dia bukanlah seseorang yang akan membunuh orang lain begitu saja."
Namjoon melirik Yoongi, "Jangan langsung memberikan penilaian begitu saja."
Yoongi mendesah keras, "Aku tahu bahkan kucing yang manis pun mampu membunuhmu dengan cakarnya jika dia terdesak dan ketakutan. Tapi hal ini juga berlaku untuknya, dia terdesak, dan dia melakukan itu murni sebagai pembelaan dirinya." Yoongi menatap Namjoon, "Jangan terlalu keras padanya, kau bisa melihatnya sendiri kalau dia tidak selemah yang kau bayangkan. Dia bisa melawanmu."
Namjon mendecih, "Dan itu yang membuatku semakin ingin melenyapkannya."
Yoongi memutar bola matanya dan mengangkat kedua tangannya tanda menyerah, "Oh, terserahlah. Aku butuh tidur." Yoongi melirik bekas cakaran di lengan Namjoon, "Dan obati lukamu, astaga." ujar Yoongi kemudian dia berjalan keluar dari ruang kerja Namjoon seraya menguap lebar.
Namjoon melirik bekas cakaran di lengannya, darahnya sudah berhenti mengalir dan menyisakan bekas tancapan kuku Seokjin serta darah kering di sana. Namjoon memang tidak merasakan sakit, tapi dia bisa menduga bahwa bekas cakaran Seokjin cukup dalam.
"Bahkan kucing yang manis pun bisa mencakar, eh?" Namjoon tersenyum kecil, "Kurasa aku sudah salah menilaimu. Mungkin Jackson dan Yoongi benar, kau tidak selemah itu."
To Be Continued
.
.
.
Ini nyaris 6k..
Aku suka kelepasan kalo lagi ngetik ini. hahaha
Btw, ada sedikit plot-twist untuk karakter Seokjin di sini. hehehe
Yah, aku memang kurang suka kalau dianya jadi lemah banget dan tidak berdaya. Wkwk /slapped
Btw, karakter Taehyung, Yoongi, Jimin, itu selingan ya gaes. Jadi ya dia munculnya sesuai kebutuhan cerita aja. Aku fokus ke urusan NamJin di fiksi ini.
.
.
Ditunggu selalu tanggapannya~
