Mereka bilang, setiap manusia memiliki kurang lebih lima wajah dalam kehidupannya.

Satu, adalah wajah yang kau tunjukkan sehari-hari.

Dua, adalah wajah yang kau tunjukkan saat bahagia.

Tiga, adalah wajah yang kau tunjukkan saat sedih.

Empat, adalah wajah yang kau tunjukkan saat marah.

Dan lima, adalah wajahmu yang sesungguhnya. Wajah yang tidak akan pernah bisa kau tunjukkan pada siapapun, wajah yang tidak akan bisa kau rubah untuk menyenangkan orang lain.

Karena itu adalah wajahmu, wajah yang merefleksikan apa yang berada di dalam dirimu.

Wajah yang merefleksikan jiwamu.

.

.

Jika diibaratkan, mungkin Seokjin terlihat seperti sosok yang sudah menunjukkan kelima wajahnya. Karena dia sudah mengalami terlalu banyak hal yang bahkan akan membuat semua orang beranggapan dia telah melihat sisi Seokjin hingga yang paling dalam.

Seokjin memang terluka.

Dia memang dilukai.

Hanya saja, kadang, tidak ada yang bisa memperkirakan seberapa kuat seseorang membangun pertahanan dirinya.

Tidak ada yang tahu setebal apa dan sekuat apa tembok pertahanan orang lain.

Karena letaknya tersembunyi di dalam tiap individu. Dan siapalah dirimu yang merasa sanggup memberikan pernyataan soal itu?

Seokjin memang terluka. Terluka parah.

Tapi itu bukan berarti tembok pertahanan dirinya sudah hancur.

Mungkin saja tembok itu masih utuh sampai saat ini?

Atau mungkin saja sudah sedikit retak di satu sisi?

Atau mungkinkah sudah nyaris hancur?

Atau.. mungkinkah Seokjin tidak memiliki pertahanan sama sekali?

Tidak ada yang tahu.

Karena itu.. tersembunyi di dalam jiwanya sendiri.

Tapi memang sebaiknya, siapapun kita, dan siapapun mereka, jangan pernah menganggap remeh orang lain.

Karena kadang, apa yang tersaji di permukaan belum tentu seindah apa yang tersaji di dalam.

Dan juga, apa yang tersaji di permukaan belum tentu seburuk apa yang tersaji di dalam.

Ini hanya soal perspektif. Ini hanya soal pilihan, karena Tuhan hanya memberikan pertanyaan dalam kehidupan, dan kita lah yang akan menjawabnya dan menentukan takdir kita sendiri.

Mana yang ingin kau lihat?

Mana yang ingin kau ketahui?

Mana yang ingin kau telaah?

Mana yang ingin kau pelajari?

Mana yang ingin kau terima?

Mana yang ingin kau tolak?

Dan mana yang ingin kau buang?

Apakah kau akan memilih untuk menolaknya? Atau mungkin menerimanya?

Ini hanya soal pilihan.

Karena hidup memang hanya untuk itu.


Heaven and Hell

.

.

.

a BTS fanfiction

by

Black Lunalite

.

.

.

.

Warn!

Mafia!AU, BL, contains some abuse and abusive relationship.

This story is pure fiction.

Read at your own risk.


.

.

.

.


Part 5: Shades


Jika ada sesuatu yang rumit, jauh lebih rumit daripada teka-teki paling rumit di dunia ini.

Mungkin itu adalah menelaah kehidupan seorang Kim Seokjin.

Terlebih lagi kehidupannya ketika dia sudah terjebak dalam neraka buatan Kim Namjoon.

Kim Seokjin, bukanlah sosok idaman dan pujaan yang patut untuk dielukan di sepanjang kisahnya.

Bukan pula sosok terlalu biasa yang cenderung akan dilupakan.

Jadi, siapa dia?

Jika kau menanyakannya kepada dirinya, maka Seokjin akan tersenyum padamu dan mengatakan bahwa dirinya bukanlah siapa-siapa.

Tapi, apa benar begitu?

Karena kadang, terlalu mempercayai apa yang nampak di depan mata juga bukanlah suatu keputusan yang baik.

Terlebih lagi, dunia ini adalah suatu masa fana penuh fantasi tidak nyata.

Apapun yang kau anggap nyata, belum tentu nyata.

Ya, bahkan eksistensimu di dunia ini.

Kenapa kau begitu yakin kau hidup di dunia dalam kondisi hidup dan bukannya hidup di dunia lain?

Karena itu, terkadang, mempercayai sesuatu dengan terlalu cepat juga bukanlah keputusan yang bagus.

Sebaiknya, perhatikanlah dulu, cobalah nilai terlebih dahulu. Dan jangan langsung mempercayai pada satu opini.

Karena sekali lagi, dunia ini hanyalah masa fana penuh fantasi.


.

.

.


"Mama?"

Seokjin menunduk menatap anaknya yang sedang berbaring dengan berbantalkan pahanya. Ini adalah jam tidur siang Jungkook dan sudah menjadi rutinitas bagi bayinya untuk berbaring di pangkuan ibunya sebelum tidur siang.

"Kenapa?" bisik Seokjin, terdengar lembut dan membuai, diiringi usapan lembut di sekitar kepala Jungkook, membelai rambut tebal Jungkook dengan penuh sayang.

"Apa kita sudah lama tinggal di sini, Mama?"

Seokjin terdiam, dia menghentikan usapannya di kepala anaknya dan berpikir. Jika dihitung lagi, mungkin mereka sudah berada di sini semenjak.. empat belas hari lalu?

"Mama.. tidak tahu, Kookie." Seokjin tersenyum pada putranya, "Apa Kookie ingin pulang?"

Jungkook mengangguk, "Kenapa Mama tidak bekerja?"

Ah, ya. Pekerjaan.

Seokjin yakin sekali dia sudah dipecat dari semua pekerjaannya karena dia tidak juga datang untuk bekerja. Seokjin memiliki banyak pekerjaan, banyak sekali.

Dan semua pekerjaannya membutuhkan Seokjin dalam rutinitasnya.

Seokjin tidak membayangkan bagaimana rutinitas pekerjaan itu tanpa dirinya.

Apakah semua atasannya sudah menemukan pengganti Seokjin?

Apakah mereka bahkan khawatir pada Seokjin yang mendadak menghilang?

Atau apakah mereka memilih untuk tidak peduli dan melanjutkan hidup mereka seperti biasanya?

"Mama? Kenapa?"

Seokjin tersentak, dia sama sekali tidak sadar kalau dia baru saja melamun di hadapan anaknya.

Seokjin berdehem, tersenyum lembut pada anaknya, dan kembali mengusap rambut tebal Jungkook. "Tidak apa, Mama hanya memikirkan pekerjaan Mama."

"Kenapa Mama tidak bekerja? Kenapa kita harus berada di sini? Kenapa kita tidak bisa pulang? Kenapa, Mama?"

Pertanyaan Jungkook terlalu beruntun.

Dan Seokjin tidak memiliki satupun jawaban diantara pertanyaan Jungkook.

Maka sebagai ibu yang baik, Seokjin pun mencoba memberi pengertian pada putranya. Dia tersenyum padanya, dan membisikkan kalimat basa-basi murahan yang Seokjin harapkan mampu menenangkan putranya.

"Kita akan terus berada di sini sampai semuanya selesai." Seokjin berujar dengan nada tenang.

"Benarkah?"

"Ya, dan.." Seokjin terdiam ragu. Dia ingin mengatakan bahwa Jungkook akan memiliki seorang Papa pada putranya yang belum pernah merasakan kasih sayang seorang ayah sebelumnya.

Karena jika Namjoon menikah dengannya, maka teknisnya pria itu akan menjadi ayah dari anaknya, kan?

Tapi.. apakah pernikahan itu akan benar-benar terlaksana?

Ataukah tidak?

Namjoon bilang pernikahan itu akan diadakan sebulan lagi. Dan sekarang sudah dua minggu berlalu, dan kelihatannya tidak ada apapun yang terjadi.

Jadi, apakah pernikahan itu akhirnya dibatalkan?

Dan jika itu memang dibatalkan.. bisakah Seokjin keluar dari sini bersama anaknya?

"Mama, sebenarnya.. siapa mereka?"

"Siapa maksudmu?" tanya Seokjin, dia tidak paham siapa yang ditanyakan oleh anaknya.

"Siapa orang-orang di sini? Apakah dia teman Mama?"

Teman?

Apakah ada yang bahkan sudi berteman dengan Seokjin?

"Mereka.."

Seokjin ingin menjawab bahwa mereka, penghuni rumah ini, adalah teman-temannya untuk menenangkan hati anaknya. Tapi Seokjin tidak sanggup. Dia sudah berbohong terlmpau banyak hanya untuk melindungi putranya.

Seokjin takut kebohongannya akan berbalik padanya dan nantinya akan membuatnya kesulitan.

Seokjin tidak mau itu terjadi.

"Mereka bukan teman-teman Mama. Mereka.. hanya kenalan Mama."

"Kenalan? Apa itu?"

"Bukan apa-apa," Seokjin menggeleng, "Sebaiknya Kookie tidur, ini sudah hampir lewat jam tidur siangmu."

Jungkook menurut, dia memejamkan matanya dan menikmati usapan lembut dari tangan Seokjin yang selalu hinggap di kepalanya. Dan tak lama kemudian, Jungkook pun masuk ke dalam alam mimpinya, meninggalkan Seokjin yang tersenyum lega saat sadar kalau putranya sudah tertidur pulas.

Seokjin bergerak memindahkan tubuh Jungkook untuk berbaring di tempat tidur dengan hati-hati. Dan setelahnya, dia berjalan keluar dari kamar tempatnya dan anaknya tidur.

Dan Seokjin tidak melihat apapun selain lukisan mahal serta barang-barang mahal lainnya.

Sisanya rumah ini cenderung kosong. Tidak ada apapun yang spesial atau menjadi ciri khas dari si tuan rumah.

Semuanya datar. Datar dan monoton.

Memang semua dekorasi interiornya sangat mewah, seolah mereka semua meneriakkan kata 'mahal' di sana. Hanya saja, semahal apapun itu, semuanya tetap terlihat kosong.

Kaki Seokjin bergerak untuk turun ke lantai bawah dan dia melihat Taehyung sedang berbaring menelungkup di lantai yang dialasi karpet tebal, di hadapannya terserak beberapa kartu yang sejak tadi dibolak-baliknya kemudian dilemparnya begitu saja.

"Taehyung?" panggil Seokjin, dia melangkah semakin dekat ke arah Taehyung dan membungkuk untuk melihat lebih jelas apa yang sekiranya sedang Taehyung lakukan.

Taehyung mendongak saat mendengar suara Seokjin, "Oh, Hyung! Hai!" ujarnya ceria seperti biasanya. "Aku sedang memilih undangan untuk pernikahanmu dan Namjoon Hyung." Taehyung menuding kertas-kertas yang berserakkan di hadapannya, "Sebenarnya ini tugas Jimin Hyung, tapi aku kasihan padanya jadi aku menawarkan diri untuk membantu."

"Kartu.. undangan?"

Taehyung mengangguk, "Kau tidak lupa pernikahanmu sendiri kan, Hyung? Yah, walaupun serangkaian kejadian yang pada akhirnya berujung pada pernikahan kalian tidak seperti biasanya, tapi setidaknya kalian akan menikah. Dan Namjoon Hyung berencana untuk memperkenalkanmu sebagai pasangannya."

"Apa maksudnya?" tanya Seokjin bingung. Dia benar-benar tidak paham mengenai arti dari 'memperkenalkan Seokjin sebagai pasangan Kim Namjoon'.

Taehyung tertawa kecil, dia bergerak bangun dan duduk bersila di atas karpet, kemudian dia menarik tangan Seokjin untuk duduk bersamanya. "Hmm, ternyata terlalu banyak yang belum kau ketahui ya, Hyung? Seharusnya kau bertanya padaku. Aku akan menjelaskannya padamu secara sukarela."

Seokjin terdiam, masih banyak yang tidak dia ketahui? Ya, itu jelas. Seokjin memang benar-benar buta tentang apapun yang terjadi di dalam rumah ini walaupun sudah empat belas hari dia tinggal di sini. Seokjin bukanlah seseorang yang gemar mencari informasi soal orang lain. Dia lebih memilih untuk tetap diam asalkan dia selamat daripada mencari tahu banyak hal hanya untuk memuaskan rasa penasarannya namun berakhir dengan dirinya yang berada dalam bahaya.

Seokjin lebih memilih diam. Jika itu berarti dia bisa melalui hari ini dan masih hidup di esok hari. Seokjin sudah terbiasa diam untuk mempertahankan dirinya sendiri. Dia diam bukan karena dia bodoh, dia diam bukan karena dia lemah.

Tidak.

Seokjin jauh lebih tinggi daripada itu.

"Kau itu calon istrinya Kim Namjoon. Namjoon Hyung itu.." Taehyung melirik Seokjin, "Jika dilihat oleh orang luar, dia itu pemilik perusahaan keluarganya, Kim Corporation. Memang sistem perusahaan itu korporasi, dia harus berurusan dengan banyak pemegang kuasa di dalam perusahaannya sendiri, tapi Namjoon Hyung memiliki cara unik untuk memastikan dia tetap berada di atas dari rantai makanan di perusahaannya." Taehyung bergerak lebih dekat ke arah Seokjin, "Dan cara itu adalah dengan 'bermain' yang lain di bawah tangan. Namjoon Hyung tidak hanya memegang kendali di atas cahaya, dia juga memegang kendali di dalam kegelapan."

Seokjin memang tidak menyelesaikan sekolahnya karena dia mengandung Jungkook, tapi itu bukan berarti Seokjin bodoh. Dia salah satu siswa terpintar di sekolahnya, dan Seokjin tidak sebodoh itu sehingga dia bisa langsung memahami maksud ucapan Taehyung.

"Pesta pernikahan kalian akan sangat besar, kudengar Yoongi Hyung sudah menyiapkan ballroom di salah satu gedung milik perusahaan Namjoon Hyung untuk pernikahan kalian." Taehyung terkekeh pelan, "Kau seharusnya berada di sana saat Namjoon Hyung mengatakan dia akan menikah di tengah-tengah rapat para penjilat perusahaan. Ekspresi mereka benar-benar tidak terbaca, sangat bodoh."

Seokjin memaksakan sebuah senyum di bibirnya karena dia tidak menemukan sisi humor dari apa yang baru saja diceritakan Taehyung, "Memangnya kenapa?"

Taehyung mengibaskan undangan yang berada di sela jarinya, "Mereka itu bodoh. Berusaha keras mengenalkan Namjoon Hyung pada anak-anak mereka, bahkan kesemua anak-anak itu akan menggoda Namjoon Hyung dengan sengaja dan dengan sangat vulgar. Mereka ingin setidaknya anak mereka menjabat sebagai salah satu kekasih Namjoon Hyung." Taehyung berdecak, "Sayangnya, Namjoon Hyung tidak tertarik dengan sesuatu semacam itu."

Seokjin mengangguk paham, seseorang dengan kekuasaan yang tinggi seperti Kim Namjoon jelas akan memiliki banyak sosok yang bersedia mengantri hanya untuk menjadi kekasihnya. Itu sudah sangat jelas.

"Apakah dia tertarik dengan wanita?" bisik Seokjin. Ada bagian dari diri Seokjin yang berharap Namjoon tidak tertarik dengan pria dan hanya tertarik pada wanita karena dengan begitu Seokjin mungkin akan memiliki kesempatan untuk keluar dari rumah ini tanpa harus memberikan pewaris untuk Namjoon.

Taehyung mengangkat bahunya acuh, "Setahuku dia tidak masalah dengan keduanya." Taehyung memiringkan kepalanya, "Kurasa orientasi seksual Namjoon Hyung itu agak.. rumit? Entahlah, setahuku aku pernah melihatnya menghabiskan malam dengan pria dan wanita. Jadi, begitulah.."

Sial.

Keterangan itu membuat Seokjin menggigit sudut bibirnya, kepalanya berputar memikirkan seberapa besar kemungkinan dia bisa keluar dari sini tanpa menjadi istri Namjoon.

Haruskah dia melarikan diri di hari pernikahan?

Ya, bisa saja, tapi dia yakin keesokkan harinya dia akan mati di tangan Kim Namjoon.

Haruskah dia melarikan diri sekarang?

Dia tidak memiliki daya apapun untuk keluar dari rumah ini. Dia tidak punya uang.

Haruskah dia meminta seseorang membantunya?

Ya, tapi siapa yang akan membantunya?

Seokjin menghela napas pelan, dia menunduk dan pandangannya tidak sengaja tertuju pada sebuah kartu undangan yang di bagian pinggirnya dihiasi dengan kristal bening dan warna dasar undangan berwarna biru muda lembut. Pita di bagian ujung kartu undangan itu membuatnya terlihat mewah, tapi tetap santai dan elegan.

Tangan Seokjin bergerak tanpa sadar dan tiba-tiba saja dia sudah mengelus sepanjang sisi pita itu, merasakan tekstur halusnya, terlalu halus untuk sekedar pita yang nantinya akan menghiasi bagian luar kartu undangan.

"Kau suka yang itu, Hyung?"

Suara berat Taehyung membuat Seokjin terlonjak, tangannya segera menjauh dari si kartu dan dia menggeleng cepat. "T-tidak.. a-aku.."

"Oke, kita pilih yang itu saja. Aku akan segera mengatakan ini pada Yoongi Hyung." Taehyung mengulurkan tangannya dan mengambil kartu undangan yang disentuh Seokjin.

"Taehyung.. aku.."

Taehyung mengangkat bahunya, "Tidak masalah, aku yakin Namjoon Hyung tidak akan marah kalau kukatakan ini adalah pilihanmu." Taehyung menatap Seokjin, "Berhentilah merasa kalau kau bukanlah bagian dari kami, Hyung. Mungkin memang semuanya tidak menganggapmu begitu, tapi aku menganggapmu sebagai keluargaku sendiri." Taehyung tersenyum tipis, "Lagipula, sebentar lagi kau akan menjadi ibu angkatku, Hyung. Sudah lama sekali sejak terakhir kalinya aku memiliki seseorang yang bisa kupanggil 'Mama'."

Itu adalah sesuatu yang diucapkan dari hati oleh Taehyung. Seokjin lebih perasa, mungkin karena gen pembawa atau carrier di dalam tubuhnya, Seokjin lebih mudah merasa empati pada orang lain.

Dan dia tahu, dia bisa merasakannya, bahwa Taehyung mungkin saja sudah melewati masa lalu yang kelam.

Seokjin tersenyum lembut, tangannya terulur untuk memberikan usapan ringan di kepala Taehyung, "Aku tidak pernah menyangka akan memiliki anak yang sudah sebesar dirimu di usiaku yang sekarang." Seokjin terkekeh pelan.

Taehyung mendongak, dia menatap Seokjin dan tersenyum lebar. Sekilas, Seokjin seperti melihat Taehyung yang sesungguhnya, Taehyung yang masih berperilaku seperti anak-anak berusia tujuh belas tahun.

Dan bukannya sosok yang selalu dilihat Seokjin di sini.

"Kau tahu Hyung? Kurasa.. aku bisa menebak kenapa takdir membawamu ke sini."

Seokjin mengerjap cepat, gerakan tangannya mengusap kepala Taehyung juga terhenti.

Apa?

Apa maksudnya?

Taehyung masih tersenyum, tapi Seokjin merasa ada yang lain dari senyuman itu.

Ada sesuatu.

Sesuatu yang mungkin disembunyikan oleh Taehyung.

Ya, Seokjin tahu semua manusia punya rahasia.

Seokjin sendiri punya, rahasia tergelapnya yang bahkan tidak bisa dia bagi pada orang lain.

Setiap orang berhak memiliki rahasia, dan berhak untuk menyimpannya dari siapapun.

Jadi apapun rahasia yang Taehyung sembunyikan darinya, Seokjin tidak memiliki kuasa untuk menanyakannya. Dia harus menghormati privasi yang dimiliki oleh setiap orang.

"Taehyung.."

Taehyung mendongak untuk menatap Seokjin, sudah kembali memasang senyum lebarnya yang kekanakkan.

"Sejak kapan kau berada di sini?"

Taehyung mengerjap, mungkin agak terkejut karena pertanyaan Seokjin. Dia berdiam cukup lama sampai akhirnya dia kembali mendongak untuk menatap Seokjin. "Empat tahun lalu, aku sudah berada di sini selama empat tahun."

"Kenapa?"

Taehyung memiringkan kepalanya, "Kenapa? Entahlah, aku juga tidak tahu. Tapi hari itu Namjoon Hyung datang ke panti asuhan tempatku berada, dia melihatku, dan dia mengatakan kalau dia akan mengambilku dari sana." Taehyung terkekeh pelan, "Iya, dia tidak mengatakan dia akan mengadopsiku atau semacamnya. Dia mengatakan kalau dia akan mengambilku."

Seokjin ingin bertanya lagi, tapi suara langkah yang bergerak menghampiri mereka membuat Seokjin terhenti, dia menggeser posisi tubuhnya menjauhi Taehyung sementara Taehyung memilih untuk membereskan kartu contoh undangan pernikahan Seokjin dan Namjoon kemudian memasukkannya ke dalam sebuah kantung kertas.

"Taehyung?"

Taehyung segera menoleh saat mendengar namanya dipanggil, dan senyum kekanakkan itu muncul lagi karena Jimin adalah seseorang yang baru saja memanggilnya.

"Jimin Hyung~"

Jimin berjalan menghampiri mereka dan Seokjin langsung menyadari Namjoon yang berjalan di belakang Jimin. Seokjin bergeser sedikit, dia benar-benar tidak mau berurusan dengan Namjoon.

Tidak setelah kejadian pencekikkan itu.

Ya, setelah kejadian itu, leher Seokjin bahkan masih membiru dan membuatnya harus memakai syal seharian penuh agar anaknya tidak bertanya kenapa ibunya terluka lagi untuk kesekian kalinya.

"Seokjin, syukurlah kau ada di sini."

Seokjin tersentak kecil, dia menoleh ke arah Jimin yang baru saja berbicara padanya dengan gerakan cepat.

"Kau harus pergi untuk mengurus pakaian pengantinmu." Pandangan Jimin turun ke arah syal yang melingkari leher Seokjin, "Kenapa pakai syal? Kalau kuingat lagi, belakangan ini kau selalu memakai syal."

Seokjin berdehem pelan, "Hari ini cukup dingin."

Jimin mengangguk pelan, terlihat tidak terlalu peduli. "Sebaiknya kau ganti pakaianmu, mobilmu sudah siap."

Seokjin menggigit sudut bibirnya ragu, diam-diam dia melirik Namjoon yang berdiri kaku dengan pandangan mata lurus padanya.

"Cepatlah, aku ada rapat dua jam lagi." Namjoon berujar datar dan Seokjin tertegun.

Apakah itu berarti dia akan keluar bersama Namjoon lagi?

"Seokjin, cepat." Namjoon mengulang, terdengar jauh lebih tegas dan dingin serta terdengar jauh dari kata sabar.

Seokjin mengangguk, dia berlari menuju kamarnya kemudian dia terhenti, dia berbalik dan menatap Namjoon dengan pandangan ragu.

"Tapi.. Jungkook?"

Namjoon mengibaskan tangannya, "Biarkan dia di sini, para pelayan akan menjaganya."

"Aku akan menjaganya!" Taehyung menyahut cepat seraya melompat berdiri dengan bersemangat.

Jimin tertawa kecil, "Jangan khawatir, kau memiliki babysitter terbaik."

Seokjin tersenyum tipis dan melanjutkan langkahnya untuk mengganti pakaiannya.

Walaupun sebenarnya, Seokjin tidak terlalu mempedulikan penampilannya sih. Lagipula, isi lemari yang berisi 'pakaian' Seokjin semuanya merupakan pemberian dari Namjoon. Sekitar beberapa hari lalu setelah insiden pencekikkan itu terjadi, Namjoon membelikan Seokjin pakaian hingga dua lemari penuh dan satu lemari lainnya berisi pakaian anaknya.

Seokjin tidak tahu apa-apa, diapun awalnya tidak tahu semua pakaian itu untuknya.

Namjoon memang aneh. Seolah pria itu memiliki sesuatu yang membuatnya begitu sulit ditebak.

Seokjin bukanlah orang yang sulit mengenal karakter orang lain, hidup dengan penuh kehati-hatian membuatnya pandai dalam hal menganalisis karakter orang lain. Tapi untuk Namjoon? Nol besar.

Pria itu seperti sebuah teka-teki silang yang terlampau sulit untuk dipecahkan.


.

.


Sore itu, Seokjin sedang duduk sendirian, menatap pantulan bayangannya di cermin dengan memar kebiruan yang menghiasi lehernya, bekas lengan Namjoon saat menahannya di dinding.

Ah tidak, bukan menahannya, mungkin lebih ke arah mencekiknya.

Seokjin berhasil menyembunyikan memar ini dari putranya karena dia selalu memakai syal setiap harinya. Untungnya diantara sedikit pakaian yang diberikan untuknya, ada sebuah syal biasa berwarna biru gelap di sana. Dan Seokjin selalu memakainya karena memang memar di lehernya terlihat terlalu jelas lantaran warna kulit aslinya yang putih bersih.

Seokjin masih meneliti lehernya, namun setelahnya dia berhenti menatap pantulan dirinya di cermin karena terdengar suara ketukan di pintunya, Seokjin mengatakan 'Masuk' dan sekitar lima orang pelayan masuk ke dalam kamar dengan banyak sekali kantung kertas berisi brand pakaian ternama.

Seokjin tahu itu merk pakaian yang mahal. Karena Seokjin ingat ibunya pernah membelikan ayahnya sebuah kemeja dari merk yang sama.

"Apa itu?" tanya Seokjin, sekedar untuk berbasa-basi dan juga untuk membuka percakapan dengan para pelayan karena para pelayan itu tidak akan bicara jika Seokjin tidak mengajaknya berbicara.

"Pakaian untuk anda, Tuan Seokjin." Salah satu pelayan yang berdiri paling dekat dengan Seokjin yang masih duduk di hadapan meja riasnya menjawab.

"Untuk.. ku?" ulang Seokjin, dan para pelayan itu mengangguk serempak, mereka mulai membereskan pakaian baru Seokjin ke dalam lemari dan mengambil pakaian-pakaian yang sudah berada di lemari.

Semua pakaian itu adalah pemberian para pelayan di rumah ini.

"Kalian akan membuang pakaian lamaku?" tanya Seokjin, kali ini dengan nada lebih keras karena bagi Seokjin, itu pemborosan. Pemborosan besar.

Para pelayan itu berhenti bekerja, mereka semua membungkuk pada Seokjin. "Maafkan kami, tapi ini perintah Tuan Besar."

'Tuan Besar?'

Ah, benar.

Kim Namjoon.

Seokjin tidak ingin para pelayan itu mendapat masalah, sehingga dia hanya duduk diam dan mengangguk singkat. Setelah mendapatkan persetujuan itu, para pelayan segera kembali bekerja, dengan Seokjin memperhatikan mereka mengisi lemari Seokjin dengan pakaian-pakaian baru.

Dan setelahnya, ada beberapa pelayan lainnya yang membawa banyak kantung berisi pakaian, hanya saja dengan ukuran kecil.

"Apa itu untuk Kookie?" Seokjin menuding sebuah kaus berwarna hijau dengan gambar pesawat terbang di salah satu tangan pelayan.

"Iya, Tuan Seokjin, ini untuk Tuan Kecil Jungkook."

Seokjin tersenyum, satu hal yang sangat disukai dari para pelayan di neraka ini adalah panggilan mereka untuk Jungkook. Mereka semua memperlakukan Jungkook seperti pangeran kecil mereka dan selalu mengajak Jungkook bermain.

Tapi itu jika tidak ada Namjoon atau Taehyung.

Jika ada Namjoon, mereka akan memperlakukan Seokjin seperti Tuhan, mereka bahkan tidak akan berani menyentuh Seokjin ataupun menatapnya. Dan itu juga berlaku untuk Jungkook kecil Seokjin, mereka akan memperlakukan Jungkook dengan begitu hati-hati.

Dan jika ada Taehyung, maka mereka akan memperlakukan Seokjin dengan hati-hati, namun tidak sehati-hati saat ada Namjoon. Dan Taehyung akan selalu memonopoli Jungkook jika dia ada di rumah, maka para pelayan, bahkan Seokjin sekalipun, tidak akan memiliki waktu untuk Jungkook.

Seokjin berdiri menghampiri lemari yang sudah berisi pakaian barunya saat para pelayan sudah menyelesaikan tugasnya dan pergi dari kamarnya. Jari Seokjin terulur menyentuh salah satu sweater rajutan dengan benang yang sangat lembut dan nyaman.

"Harganya pasti mahal," gumam Seokjin pelan.

"Kau suka?"

Seokjin terlonjak, dia menoleh dengan gerakan cepat dan melihat Namjoon berdiri di ambang pintunya dengan tangan terlipat di depan dada dan ekspresi sombongnya yang seperti biasa.

"Kenapa kau membelikanku pakaian?"

"Kau butuh pakaian yang lebih layak untuk keluar. Kau calon pasanganku, aku tidak mau menanggung malu jika kau memakai pakaian yang buruk." Namjoon menjawab santai, dia bergerak menghampiri Seokjin dan berdiri tepat di hadapannya.

Seokjin menahan napasnya, dia berdehem sedikit dan berusaha membuat tubuhnya tidak terlihat gentar karena berdiri berhadapan dengan Namjoon. "Kurasa aku tidak membutuhkan semua ini."

"Ya, kau butuh. Ingat hutangmu, jadilah boneka yang baik dan patuhi perintahku."

"Aku bukan bonekamu." Seokjin mendesis, dia menatap Namjoon tajam sementara pria itu hanya memiringkan kepalanya.

"Benarkah? Kalau begitu cepat keluar dari sini. Aku tidak tertarik menyimpan seorang pembangkang." Namjoon menyeringai, dia sedikit menunduk agar wajahnya dapat sejajar dengan wajah Seokjin, "Tapi jangan harap kau bisa melihat anakmu lagi."

Pupil Seokjin bergetar mendengar ancaman Namjoon. Tidak, dia tidak bisa. Dia tidak akan bisa melawan jika itu tentang anaknya.

Seokjin lemah untuk anaknya.

Dia tahu.

Karena Seokjin memang tidak mau kehilangannya. Dulu dia pernah nyaris kehilangan Jungkook dan rasanya seperti dia akan mati. Maka dia tidak akan bisa kehilangan bayi kecilnya.

"Menurutlah, Kim Seokjin. Kau tidak berada di situasi dimana kau bisa mengelak." Namjoon menegakkan tubuhnya, "Aku pemegang kartu kemenangan dalam perjudian ini."

Seokjin masih diam, dia menggigit bibir bawahnya yang gemetar, berusaha terlihat kalau dia tidak gentar ataupun takut dengan ancaman Namjoon.

Seokjin masih mempertahankan posisi wajahnya yang agak menunduk, dan dia tidak siap sama sekali ketika Namjoon menggunakan telunjuk dan ibu jarinya untuk menjepit dagu Seokjin dan membuatnya mendongak.

"Hmm, sayang Hoseok sedang di luar kota untuk urusan bisnisnya." Namjoon bergumam sambil memeriksa leher Seokjin yang membiru. "Aku akan meminta dia untuk ke sini setelah dia kembali."

Apa?

Apa maksudnya?

Apakah Namjoon bermaksud untuk memeriksakan lehernya?

Bola mata Namjoon bergulir untuk menatap Seokjin, "Lain kali mungkin aku akan benar-benar membunuhmu. Jadi berhentilah melakukan hal-hal konyol. Kau mengerti?"

Seokjin masih diam, dia meneliti bola mata Namjoon untuk menemukan emosinya, tapi Namjoon hanya diam. Dia tidak terlihat seperti seseorang yang sedang emosi akan sesuatu.

Mungkin.. ini adalah salah satu sisi yang sering ditunjukkan Namjoon?

Entahlah, Seokjin tidak mengerti.

Tapi ada satu bagian yang mengatakan pada hatinya, bahwa mungkin.. mungkin saja.. Namjoon tidak sekejam itu.


.

.

.


Seokjin berjalan di sebelah Namjoon memasuki sebuah butik ternama yang besar. Benar-benar besar.

Ketika mereka berdua melangkah masuk, semua karyawan langsung membungkuk hormat pada mereka. namjoon berjalan menuju ruangan yang terlihat seperti lobby utama dengan sofa-sofa panjang di sana.

Namjoon meraih pergelangan tangan Seokjin, menariknya untuk duduk di salah satu sofa yang berada di sana sementara Namjoon duduk di sebelahnya namun dengan jarak yang begitu jelas.

Seokjin bergerak-gerak dalam diam, mencoba menikmati sofa yang lembut dan empuk ini. Bahkan dia juga mengulurkan tangannya untuk mengusap-usap permukaan sofa yang seperti dihiasi bulu lembut.

"Mr. Kim Namjoon, what a surprise!"

Seokjin mendongak, dia melihat seorang wanita bertubuh sangat tinggi dan sangat langsing berjalan menghampiri Namjoon dan Namjoon langsung berdiri kemudian memberikan pelukan singkat pada wanita itu.

"Apa yang bisa kulakukan untuk sang Raja? Kau butuh kemeja baru?" tanya wanita itu ramah.

"Tidak, aku datang untuk mencoba tuksedo yang kau buat." Namjoon menggerakkan kepalanya ke arah Seokjin, "Pasanganku sudah di sini."

Wanita itu menoleh ke arah Seokjin dan setelahnya dia memekik ceria seraya bertepuk tangan dengan gembira. "Cantik sekali! Oh Tuhanku, kau begitu indah!" ujarnya dengan nada penuh pemujaan seraya berjalan menghampiri Seokjin.

Seokjin berdiri diam dengan wajah kaku, dan wajahnya berubah menjadi raut ketakutan saat wanita itu menyentuh lengannya, bahkan cenderung mengelusnya, dan memperhatikan bentuk tubuh Seokjin dengan teliti.

"Kau lebih berisi dari dugaanku. Tapi tidak apa, semakin berisi justru akan terlihat semakin seksi, karena kau memiliki sesuatu yang menonjol." Wanita itu tertawa ceria, "Kalau begitu aku akan lebih banyak mengurusmu, tuksedo Tuan Kim sudah 90% siap, dan tuksedomu.." wanita itu menggeleng dan berdecak dramatis, "Memang seharusnya aku memaksa pria itu untuk membawamu ke sini sejak dia memintaku membuatkan tuksedo untuk hari penting kalian."

Seokjin tersenyum, sedikit banyak dia bisa memahami maksud wanita yang saat ini berdiri di hadapannya.

"Ah, apa bisa kubuka syalnya? Aku butuh melihat lehermu untuk mengukur dan menyesuaikan kerah pakaianmu."

Seokjin tersentak, memar akibat cekikan Namjoon belum sembuh benar, dan itu masih tercetak dengan lumayan jelas di lehernya.

"A-aku.." bisik Seokjin, mendadak melirik Namjoon, melayangkan tatapan penuh permohonan agar wanita di hadapannya tidak membuka syal di lehernya.

Namjoon menatapnya dengan datar seperti biasanya, "Mungkin sebaiknya kau membawanya ke dalam ruangan yang tertutup, Jessica." Namjoon berujar seraya memalingkan pandangannya dari Seokjin dan memilih untuk menatap wanita di hadapan Seokjin yang ternyata bernama Jessica.

Jessica mengerutkan dahinya, dia membuka mulutnya hendak menjawab kemudian dia terhenti, "Oke, aku paham. Memang sebaiknya kita melindungi tubuh cantik milik pasanganmu ini karena sepertinya para pemburu berita itu benar-benar ingin menelanjanginya." Jessica melirik Namjoon, "Oh, Tuan Kim, kau bukanlah seorang selebriti tapi kenapa nasibmu hampir sama seperti selebriti?"

Namjoon mendengus, "Aku tidak tertarik untuk menjawab itu."

Jessica terkikik dengan ceria, dia meraih lengan Seokjin dan membimbingnya menuju sebuah ruangan dengan mulut yang aktif bercerita panjang lebar soal betapa hebat dan indahnya tuksedo buatannya untuk Seokjin.


.

.


Seokjin berdiri kaku dengan Jessica yang berlutut di hadapannya, melipat sedikit pakaiannya dan menyematkan jarum di sana.

"Hmm, masih banyak yang harus kuperbaiki agar ini benar-benar siap untuk acara besar itu." Jessica berdecak pelan, "Aku benar-benar tidak mengerti kenapa pernikahan kalian diadakan dengan begitu mendadak." Jessica menghela napas dengan dramatis, "Apa itu karena kau sudah hamil? Kau carrier, kan? Dan bekas di lehermu itu.. apa itu karena dia melakukannya dengan kasar?"

Ya, Jessica yang bubbly itu malah menganggap bekas cekikan di leher Seokjin sebagai bekas 'pertempuran hebat' diantara Seokjin dan Namjoon saat di ranjang.

Luar biasa sekali.

Seokjin bahkan ragu dia akan baik-baik saja jika Namjoon menyentuhnya. Dia masih gemetaran hebat saat Namjoon meraih pergelangan tangannya dan menariknya ke sini.

Jika berpegangan tangan saja membawa efek seburuk itu bagi Seokjin, bagaimana dengan 'tahap selanjutnya'?

Mungkin Seokjin akan pingsan ketakutan.

Seokjin tersenyum kecil, memilih untuk tidak menjawab dan membiarkan Jessica dengan banyak spekulasi di dalam kepalanya.

Jessica mendesah lagi, "Kau sangat cantik, kulitmu sangat halus." Dia menyentuh kulit punggung tangan Seokjin dengan iri, "Aku juga mau punya kulit sepertimu."

Tapi sebenarnya, diantara seluruh keanehan yang sudah terjadi, keanehan yang paling puncak bagi Seokjin adalah bahwa dia tidak gemetar ketakutan saat Jessica menyentuhnya.

Dia tidak bergidik, berjengit, ataupun melompat menjauh saat Jessica bergerak di sana-sini untuk menyentuhnya lantaran dia harus mengukur tubuh Seokjin.

Apakah mungkin traumanya ini hanya untuk kaum dominan?

"Kurasa sebaiknya kita keluar dan menunjukkan tuksedo ini pada Tuan Kim, dia pasti menunggu di luar." Jessica tersenyum lebar, "Oh, aku jamin dia akan bertekuk lutut di bawah kakimu jika dia melihatmu seperti ini." Jessica terkikik ceria seraya menarik Seokjin keluar dari ruangan tempat mereka berada tadi.

Jessica menariknya dengan gembira menuju ruangan tempat Namjoon menunggu. Sedangkan Seokjin merasa bahwa dia tidak akan terlihat cantik di hadapan Namjoon, terlebih lagi dengan bekas memar di lehernya yang masih membekas.

Dan Namjoon memang berdiri di sana, menatap ke arah sebuah lukisan dengan pakaian yang berbeda dengan yang tadi. Mungkin itu tuksedonya, karena terlihat mirip dengan milik Seokjin, hanya saja punya Seokjin lebih sederhana dengan warna broken white yang elegan, sedangkan milik Namjoon berwarna silver.

"Tuan Kim, lihatlah calon pasanganmu yang cantik ini." Jessica berujar ceria seraya mendorong Seokjin lebih ke depan.

Namjoon berbalik dan menatap Seokjin, dia meneliti penampilan Seokjin dari atas ke bawah dengan pandangan menilainya yang kejam dan membuat Seokjin gemetar, Seokjin berusaha mempertahankan posisinya dengan mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat, mencoba menguatkan diri.

"Kelihatannya masih banyak yang harus diperbaiki." Namjoon menyahut setelah hampir tiga menit lebih menatap Seokjin.

Jessica memutar bola matanya dramatis, "Tentu saja! Bukankah sudah kukatakan padamu sejak lama bahwa aku butuh ukuran tubuh pasanganmu! Dan kau dengan bodohnya mengatakan padaku bahwa aku harus mengira-ngira ukurannya. Apa kau gila?!"

Wow.

Mungkin Jessica adalah salah satu manusia hebat yang tidak gentar dengan aura mendominasi serta dingin dari Namjoon. Terbukti dengan wanita itu yang dengan beraninya berbicara dengan bahasa super santai pada Namjoon.

"Dan Tuan Kim, kurasa sebaiknya kau memperhatikan dan sedikit menahan dirimu. Apa-apaan dengan memar di leher pasanganmu itu, huh? Itu tidak akan tertutupi oleh pakaian!" bentak Jessica.

Namjoon berdecak, "Besok Hoseok akan kembali ke Seoul, dia yang akan mengurusnya." Kemudian Namjoon menatap Seokjin, "Ganti pakaianmu."

Seokjin mengangguk patuh sementara Jessica menghela napas kasar. Dia menarik tangan Seokjin untuk pergi mengganti pakaiannya.

Ketika selesai mengganti pakaian, Seokjin menemukan Namjoon masih berdiri menunggunya di ruangan yang tadi.

"Apakah kau terbiasa menghadapi kerumunan orang?" tanya Namjoon dengan nada datar seperti biasanya.

Seokjin mengerutkan dahinya tidak mengerti, tapi dia menggeleng. Seokjin agak takut berada di antara kerumunan banyak orang, makanya dia selalu berjalan sendiri di sisi yang sepi.

Namjoon menghela napas pelan, "Orang-orang bodoh itu, tidak bisakah mereka berhenti? Aku bahkan bukan artis, astaga." gerutu Namjoon pelan, dia berbalik untuk pergi keluar dari butik dengan Seokjin yang segera berlari kecil untuk menemuinya.

Mulanya Seokjin tidak mengerti, tapi ketika dia sudah berada semakin dekat dengan pintu keluar, Seokjin melihat serombongan wartawan memenuhi bagian depan pintu butik Jessica.

Seokjin bergidik pelan, dia benci menjadi pusat perhatian. Menjadi pusat perhatian justru mengingatkannya pada masa lalu buruknya saat dia dihina dan dibully oleh banyak orang.

"Mereka tidak mau bergeser, Tuan. Kami sudah berusaha, tapi mereka.."

"Biarkan,"

Seokjin bisa mendengar percakapan diantara Namjoon dan pengawal pribadinya dan diam-diam Seokjin berharap dia bisa pergi nanti saja saat kerumunan itu sudah membubarkan diri karena Seokjin benar-benar benci menjadi pusat perhatian, dan sekarang dia akan menjadi buruan dari para wartawan dan kamera mereka yang berkilat.

Namjoon menghela napas dalam, "Baiklah, kita tembus saja."

Seorang pengawal pribadi Namjoon membimbing Seokjin agar berdiri di belakang Namjoon. Seokjin tidak mengerti kenapa, tapi dia menurut dan menundukkan kepalanya, saat pengawal pribadi Namjoon itu berdiri di belakangnya dan membimbingnya untuk melangkah maju.

Tepat ketika pintu butik terbuka dan mereka melangkah keluar, semua wartawan itu langsung mendesak mereka, Seokjin langsung merasa sesak napas karena dia tidak mendapatkan oksigen dengan baik, kilatan lampu dari kamera-kamera para wartawan itu membuatnya pusing dan mereka terus saja mendesak Seokjin seraya menyerukan rentetan pertanyaan yang bahkan tidak bisa Seokjin tangkap karena dia merasa pusing.

Seokjin menutupi wajahnya dengan sebelah tangan saat kilatan kamera itu menimpa matanya, kepalanya pusing dan pandangannya mulai berputar.

Dia benci ini.

Seokjin berusaha keras untuk terus berjalan namun semuanya mendesaknya ke sembarang arah, dan Seokjin tidak sanggup mempertahankan posisinya. Tangannya gemetar dan Seokjin bisa merasakan keringat dingin mengalir di pelipisnya.

Seokjin takut. Dia ketakutan.

Ini sangat menakutkan untuknya. Kalimat-kalimat pertanyaan yang diserukan para wartawan itu terdengar seperti kalimat hinaan dan cacian yang dulu selalu mereka lemparkan untuknya.

Mereka mengolok-olok Seokjin..

Mereka menghinanya..

Seokjin semakin ketakutan dan tanpa sadar dia berhenti berjalan, matanya membesar penuh ketakutan sementara tubuhnya gemetaran, Seokjin menutupi mulutnya untuk meredam suara gemeletuk giginya sendiri akibat tubuhnya yang gemetar semakin hebat, napasnya mulai terasa semakin sesak dan Seokjin mengeluarkan suara tercekik yang menyedihkan.

Kilatan lampu kamera itu semakin menghujani Seokjin dan Seokjin semakin ketakutan.

Tidak.

Berhenti.

Tolong.

Tolong aku..

Tiba-tiba saja kilatan lampu kamera itu teredam karena seseorang menutupi kepalanya, dan setelahnya sosok itu menariknya ke dalam pelukan lengan yang kuat. Tubuh Seokjin membentur dada bidang seseorang dan dengan ragu-ragu Seokjin mengintip dari sela jas yang menutupi kepalanya, melindunginya dari kilatan lampu kamera yang menyilaukan.

Itu adalah Kim Namjoon.

Ya, Kim Namjoon sedang memeluknya seraya menghalau kamera itu dengan tangannya. Salah satu lengannya mempertahankan Seokjin di dalam pelukannya dan lengan yang lainnya mendorong kamera-kamera yang mengarah kepada Seokjin dengan tegas.

Seokjin tidak mengerti kenapa, tapi rasa ketakutan itu menguap begitu saja, tubuhnya tidak lagi gemetar, napasnya tidak lagi terasa sesak, bahkan dia merasa hangat.

Hangat dan aman.

Dalam pelukan seorang Kim Namjoon.

Dan hanya ada satu hal yang menari-nari di dalam benak Kim Seokjin saat ini.

Kenapa?

Kenapa seseorang seperti Kim Namjoon melakukan ini?

Dan kenapa?

Kenapa Seokjin malah bereaksi seperti ini?


To Be Continued


.

.

.


As always, 5k+. hahahaha

Tau ah gak ngerti lagi, kalo ngetik ini bawaannya begini mulu. Wkwk

Btw, ehem, ada sedikit hiburan tuh, NamJinnya udah pelukan (ya bukan pelukan juga sih ya kayanya?)

Pokoknya ditunggu selalu tanggapannya~

.

.

Btw, ff aku yang rate T bakalan aku terusin pas bulan puasa. Sekarang tiap aku ada waktu, aku bakal mencoba bikin yang rate M dulu. hehehe