Jika kau pernah terluka, apa yang akan kau lakukan?
Jika kau pernah terjatuh hingga ke dasar, apa yang akan kau lakukan?
Apakah itu melupakannya?
Ataukah selalu mengenangnya?
Apakah itu membiarkannya berlalu dari pikiranmu?
Ataukah mengukirnya dengan baik dalam kepalamu?
Jika kau bertanya-tanya, adakah seseorang yang memilih untuk mengukir kesalahan terburuk dalam hidupnya sebagai sesuatu yang akan terus dikenang selamanya. Maka jawabannya adalah ada.
Karena Namjoon melakukannya.
Mungkin akan muncul pertanyaan lainnya mengenai kenapa kiranya Namjoon melakukan itu.
Siapa yang sudah melukainya dengan begitu besar hingga dia memilih untuk hidup bersama lukanya.
Dan kenapa Namjoon memutuskan untuk mengambil pilihan itu?
Ini semua bermula dari suatu janji bodoh yang mungkin diucapkan hanya karena mereka sedang buta oleh kebahagiaan.
Janji untuk hidup bersama selamanya, selalu, setia untuk satu sama lain.
Hanya saja, titel 'bahagia selamanya' memang tidak pernah ada dalam kamus hidup manusia manapun.
Itu tidak akan terjadi.
Tidak akan pernah.
Karena kehidupan bukanlah sesuatu yang selembut itu.
Heaven and Hell
.
.
.
a BTS fanfiction
by
Black Lunalite
.
.
.
.
Warn!
Mafia!AU, BL, contains some abuse and abusive relationship.
This story is pure fiction.
Read at your own risk.
.
.
.
.
Part 6: Camouflage
Seokjin tidak memiliki banyak pekerjaan di rumah ini. Tidak seperti dulu saat dia bahkan harus menghabiskan lebih dari setengah harinya untuk bekerja, di sini Seokjin bahkan tidak memiliki waktu setengah jam untuk melakukan kegiatan yang dulu dia lakukan.
Dulu, Seokjin selalu terbangun dini hari untuk bersiap-siap bekerja, dan sekarang, walaupun dia terbangun di dini hari, Seokjin tidak akan melakukan apapun selain diam seraya menatap bayinya yang masih tertidur pulas.
Seperti saat ini, jam masih menunjukkan pukul empat pagi tapi Seokjin sudah terbangun dan dia berbaring dalam diam seraya menatap Jungkook yang tertidur pulas.
Lampu kamar yang dalam kondisi mati membuat Seokjin hanya mengandalkan cahaya dari luar jendela untuk menatap putranya. Jungkook tertidur dengan pulas, dengkuran halus keluar dari mulutnya dan bisa dipastikan bayinya tidak akan bangun sebelum jam enam pagi.
Seokjin masih berbaring diam tapi kemudian dia bergeser untuk duduk, dia mulai bosan dan mungkin turun ke dapur untuk mengambil segelas air bukanlah ide buruk.
Seokjin menyibak selimutnya dan memakai sandal rumah, dia berjalan menuju pintu kamarnya dan ketika dia baru saja membukanya, dia melihat Jimin sedang berdiri bersandar di koridor, kedua tangannya terlipat di depan dada, dia sudah memakai piyama tapi kelihatannya Jimin belum tidur.
Jimin adalah orang baik. Seokjin menyadarinya di detik pertama dia bertemu Jimin.
Tapi walaupun Jimin kurang lebih sama sepertinya, Seokjin jelas melihat suatu aura yang kuat dari Jimin. Dan Seokjin yakin sampai kapanpun dia tidak akan bisa seperti itu.
Jimin memang carrier, tapi dia benar-benar tidak terlihat seperti carrier. Seokjin yakin Jimin bisa berdiri di sebelah dominan tanpa melihat statusnya sebagai carrier. Bahkan ketika di awal Jimin memperkenalkan dirinya sebagai carrier, sama sepertinya, Seokjin nyaris saja mengeluarkan dengusan tidak percaya.
Karena dilihat dari manapun, Jimin tidak terlihat seperti carrier. Kecuali jika dia sedang bersama Jungkook, ataupun Taehyung.
Ah, benar. Taehyung.
Seokjin juga masih tidak mengerti kenapa Taehyung bisa berakhir di sini. dan kenapa Namjoon memilihnya dari sekian banyak orang untuk masuk ke rumahnya dan menjadi 'bagian' dari hubungan rumit yang aneh.
Taehyung bilang Namjoon adalah ayah angkatnya, tapi Seokjin berani bertaruh atas nama Tuhan kalau Namjoon pasti tidak memperlakukan Taehyung sebagai anaknya. Taehyung bahkan tidak memanggil Namjoon dengan sebutan atau panggilan untuk ayah.
Jadi kenapa Namjoon membawa Taehyung ke rumah ini sebagai anaknya?
"Seokjin, kau mau berdiri di situ sampai kapan?"
Seokjin terlonjak, dia nyaris terjatuh karena terkejut mendengar suara Jimin yang tiba-tiba. Dia tidak sadar sama sekali bahwa Jimin menyadari kehadirannya yang masih berdiri kaku di ambang pintu kamarnya.
Kaki Seokjin bergerak gelisah sebelum kemudian dia berdehem gugup, "Belum tidur?" tanya Seokjin basa-basi.
Jimin menatapnya dalam diam selama tiga detik berikutnya dan ini membuat Seokjin semakin gugup. Dia tidak biasa diintimidasi, bahkan oleh sesama carrier sekalipun.
Jimin bergerak untuk menghampiri Seokjin, "Jin, ini jam empat pagi, seharusnya kau bertanya kenapa aku sudah bangun."
Seokjin menggigit sudut bibirnya, "Kau tidak terlihat seperti kau baru saja bangun dari tidur."
"Wow, pengamatan yang bagus. Aku memang belum tidur." Jimin terkekeh pelan, "Aku sedang menunggu seseorang."
"Seseorang? Siapa?"
"Taehyung,"
Dahi Seokjin berkerut, "Taehyung belum pulang? Tapi ini bahkan sudah pagi, tidakkah dia harus sekolah?"
Jimin melipat kedua tangannya di depan dada, "Anak itu sedang pergi bersama Yoongi," Jimin mengedikkan kepalanya, "Dan juga Namjoon. Mereka ada 'urusan'."
"Urusan apa?"
"Hari ini ada pelelangan lagi, Namjoon diundang secara khusus untuk datang. Dan dia membawa mereka berdua sebagai 'teman' ke acara itu."
"Pelelangan?"
"Ya, sama seperti apa yang terjadi padamu waktu itu. Tapi kurasa Namjoon tidak akan membawa pulang apapun hari ini," Jimin menepuk bahu Seokjin, "Membelimu dan anakmu itu suatu langkah besar yang aku yakin tidak akan dia lakukan sembarangan."
Seokjin mendengarkan tiap kata yang keluar dari bibir Jimin dengan hati-hati, dia berpikir cukup lama sampai akhirnya dia berani untuk membuka mulutnya dan bertanya. "Apa Namjoon selalu diundang ke acara semacam itu?"
Jimin mengangguk, "Oh ya, selalu."
"Lantas kenapa dia membeli anakku? Bukankah dia memiliki banyak kesempatan untuk membeli apapun kapanpun dia mau?"
"Jin, yang membeli anakmu itu Taehyung." Jimin menjentikkan jarinya, "Benar juga, aku selalu lupa bertanya dimana kau bertemu Taehyung." Jimin menatap Seokjin, "Dimana kalian pernah bertemu?"
Seokjin tersenyum tipis, "Pertemuan kami tidak istimewa, Jungkook memberikan susu pisangnya untuk Taehyung."
"Ah! Jadi kau seseorang yang diceritakan Taehyung hari itu!"
"Taehyung menceritakan soal aku?"
"Ya, teknisnya, Taehyung hanya menceritakan soal pria baik yang memberinya susu pisang, dia juga menceritakan dengan sangat bersemangat soal anak pria itu yang dia bilang sangat mempesona. Itu Jungkook, benar?" Jimin menghela napas, "Taehyung sudah memiliki obsesinya sendiri pada Jungkook di awal dia melihatnya. Kau harus berhati-hati."
"Taehyung terlihat seperti anak yang baik, aku tidak keberatan dia berteman dengan Jungkook."
"Jin, kurasa Taehyung berniat menunggu Jungkook dewasa supaya dia bisa memilikinya."
"Eh?"
Jimin tertawa, dia menepuk-nepuk bahu Seokjin kemudian terhenti saat mendengar suara ribut-ribut dari lantai bawah. Seokjin ikut mendengarkan dan dia langsung mengenali bahwa itu adalah suara Taehyung.
"Mereka sudah pulang," Jimin berbalik dan berjalan cepat menyusuri koridor untuk pergi ke lantai bawah, dan entah kenapa Seokjin justru ikut berjalan mengikutinya.
Ketika Seokjin tiba di lantai bawah, dia bisa melihat Taehyung sedang melepaskan jaketnya dan melemparnya ke lantai, dan Seokjin melihat bercak merah menghiasi jaket Taehyung yang berwarna coklat muda, bercak merah itu sudah berubah warna menjadi merah gelap dan tersebar di beberapa bagian jaket Taehyung.
Sementara itu Yoongi terlihat duduk di salah satu sofa, dia sedang duduk seraya meregangkan tangan dan kakinya.
"Apa yang baru saja kalian lakukan?" Jimin bertanya seraya berjalan menghampiri Taehyung dan Yoongi tapi dia berhenti di sebelah Yoongi, tangan Jimin bergerak menjepit dagu Yoongi dan mengangkatnya.
Walaupun Seokjin masih tidak mengerti hubungan macam apa yang terjalin diantara mereka, tapi Seokjin bisa melihat bahwa Jimin terlihat lebih mengkhawatirkan Yoongi daripada Taehyung.
Jimin menyipitkan matanya tidak suka saat melihat luka gores di tulang pipi Yoongi, "Ada penembakan? Aku mengenal luka di pipimu, Yoongi."
Yoongi tersenyum tipis, dia mengelus jari Jimin yang berada di dagunya, "Hanya terkena pecahan peluru, bukan masalah."
Jimin masih menyipitkan matanya tidak suka, kemudian dia beralih ke arah Taehyung. "Kau juga terluka?"
Taehyung mengangkat kedua tangannya ke atas secara refleks saat mendengar nada menuntut dari Jimin. "Tidak, Hyung. Aku baik, aku sehat, mereka hanya menembaki Yoongi dan Namjoon Hyung. Aku hanya melumpuhkan beberapa orang."
"Lalu kenapa kau berlumuran darah?"
"Ah, aku menghajar mereka dengan belati, aku tidak suka membawa pistol." Taehyung menjawab santai.
Seokjin bergidik diam-diam mendengar Taehyung yang menjelaskan semua itu dengan begitu santai, tapi ada satu hal yang benar-benar menarik perhatiannya dari semua bagian percakapan ini.
"Apa Namjoon terluka?"
Semua kepala yang berada di ruangan itu menoleh ke arah Seokjin tepat ketika kalimat pertanyaan itu meluncur keluar dari bibir Seokjin. Seokjin mengatupkan bibirnya, mendadak seperti seorang tersangka yang baru saja mengakui kejahatan berat.
"Apa aku mengatakan sesuatu yang salah?" tanya Seokjin lagi.
"Tidak, tidak salah." Yoongi menyahut, dia berdiri dan menatap Seokjin. "Namjoon akan masuk sebentar lagi kalau kau berniat bicara dengannya."
Seokjin menggeleng cepat, "Aku tidak berniat untuk berbicara dengannya." Seokjin mengibaskan tangannya dengan panik, "Aku hanya.."
Dan Seokjin tidak bisa menyelesaikan kalimatnya karena Namjoon sudah melangkah masuk ke dalam ruangan tempat mereka berada, dia terlihat sehat, sangat sehat, hanya terlihat sedikit marah.
"Apa yang kau lakukan pagi-pagi begini?" tanya Namjoon langsung, terdengar agak jengkel, tepat ke Seokjin.
Seokjin tergagap, dia meremas-remas jarinya dengan panik. "Tidak ada,"
Namjoon terlihat bosan, dia menatap Seokjin dengan malas kemudian menghela napas. "Hoseok akan ke sini setelah sarapan untuk memeriksa lehermu." Namjoon mengibaskan tangannya, "Sekarang, masuklah ke kamarmu."
Seokjin mengangguk patuh dan setengah berlari kembali ke kamarnya. Dia sudah belajar dengan baik untuk tidak membantah Namjoon. Kapanpun itu, karena Seokjin tahu, pria itu bahkan bisa membunuhnya dengan tangan kosong. Dan jika dia masih ingin berumur panjang, ada baiknya jika Seokjin tidak melakukan hal-hal yang mencurigakan terutama membantah seorang Kim Namjoon.
Seokjin berhenti berlari kecil saat dia sudah sampai di depan pintu kamarnya, dia melirik koridor yang kosong sebentar sebelum kemudian dia melangkah masuk ke dalam kamarnya.
Kamarnya masih dalam kondisi sama seperti sebelum dia tinggalkan tadi, Jungkook masih tertidur di ranjang dan bayinya terlihat menggeliat dengan nyaman dalam tidurnya. Seokjin menghela napas pelan dan berjalan menuju tempat tidurnya, namun dia terhenti saat melewati cermin besar yang berada di kamarnya, walaupun agak samar karena cahaya remang-remang kamarnya, Seokjin masih bisa melihat memar besar di lehernya.
"Kira-kira apa yang akan dikatakan Hoseok, ya?" gumam Seokjin, dia mengelus lehernya sebentar dan meringis pelan saat tidak sengaja menyentuh memarnya.
.
.
.
"Wow, dia seperti kelinci yang ketakutan." Yoongi berujar saat Seokjin sudah menghilang dari ruangan dengan terburu-buru.
"Tentu saja dia ketakutan, Namjoon nyaris membunuhnya malam itu." Jimin menyahut, dia bergerak untuk duduk di sebelah Yoongi yang sama sekali tidak keberatan.
"Aku tidak sengaja, itu pertahanan diri." Namjoon berujar seraya melepaskan jaketnya dan duduk di kursi lainnya.
"Kau tidak perlu mempertahankan diri untuk seseorang seperti Seokjin." Jimin berdecak pelan, "Seokjin bahkan bukan tandinganmu dalam hal apapun."
"Lalu, bagaimana dengan rencana kita tiga hari lagi? Kau sudah melihat reaksi sebagian besar musuhmu terhadap rencana pernikahanmu ini." ujar Yoongi, dia mengusap luka gores di pipinya dengan tangan dan meringis perih setelahnya.
"Perketat penjagaan, pastikan tidak ada informasi apapun soal Seokjin dan Jungkook yang berhasil keluar dari rumah ini." Namjoon menyandarkan punggungnya ke kursi, "Aku akan tetap menikah dengan Seokjin, apapun yang terjadi."
"Pernikahan kalian akan sangat menghebohkan, kau tahu? Seokjin sudah memiliki seorang anak, apakah menurutmu ayah kandung Jungkook akan muncul?" Yoongi menoleh ke arah Namjoon.
"Tentu saja, tapi dia sudah tidak berhak atas Jungkook. Jungkook memakai nama keluarga Seokjin, dan mereka tidak pernah menikah, dia tidak memiliki hak apapun atas Seokjin." Namjoon meregangkan lehernya, "Saat ini, Seokjin adalah milikku, dan tidak akan ada yang bisa menyentuhnya tanpa melewatiku lebih dulu."
"Senang mendengar itu, setidaknya aku yakin Seokjin akan tetap hidup." Jimin menatap Yoongi dan Namjoon, "Tapi maaf, aku tidak menangkap maksud dari 'rencana tiga hari lagi'. Apa yang akan kalian lakukan pada Seokjin? Aku sudah melihat rekaman berita saat Namjoon dan Seokjin keluar dari butik, dan apapun rencana kalian, aku tidak akan setuju jika itu menyulitkan Seokjin."
"Santai saja, Hyung. Itu hanya sebuah acara konferensi pers." Taehyung menyahut, "Aku akan ikut di sana."
"Konferensi pers? Untuk?"
"Jimin, tidakkah kau sadar kalau pernikahan Tuan Besar kita adalah minggu depan? Namjoon benci wartawan, makanya dia berencana untuk mengumumkan pernikahan itu secara resmi sekaligus mengumumkan bahwa pernikahan itu akan tertutup untuk media."
Taehyung mengangguk, "Pemburu berita sangat mencintai Namjoon Hyung, jadi kami merasa ini ide yang bagus."
"Lantas apa tanggapan para wartawan?"
"Mereka menerima undanganku dengan sangat gembira." Namjoon menjawab, dia menyilangkan kakinya, "Makanya aku butuh Hoseok untuk memeriksa kondisi Seokjin."
"Apa kau berencana untuk memperkenalkan Jungkook juga di hari itu?" Jimin menghela napas pelan, "Dia masih terlalu kecil untuk itu."
"Tidak, aku tidak akan langsung memperkenalkan Jungkook. Mungkin aku akan mengatur suatu situasi dimana kami bertiga akan muncul bersama."
Jimin terperangah, "Mengatur situasi? Oke, baiklah."
"Jim, pernikahan ini hanya bisnis. Aku butuh anak dari Seokjin, dan Seokjin butuh anaknya tetap berada di sisinya." Namjoon mengangkat bahunya, "Ini menguntungkan kedua belah pihak."
"Ya, benar." Jimin menghela napas pelan. "Kuharap kau memperlakukan Seokjin dengan baik setelah hari pernikahan kalian."
"Wow, kurasa Namjoon Hyung tidak menyukai ide itu." Taehyung bergumam seraya merosot turun di kursinya.
"Taehyung benar, bersikap baik bukan gayaku."
Yoongi tertawa kecil mendengar Namjoon berbicara tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Apa yang akan terjadi pada anak kalian dan Seokjin nantinya?" tanya Jimin, "Apa kau berniat memisahkan Seokjin dari anaknya?"
"Tidak, jika aku sudah memiliki anak dengan Seokjin, aku tidak akan melepaskan mereka sampai kapanpun. Aku akan mengikat mereka di sini."
"Jangan lupakan kalau Namjoon itu sangat posesif untuk apapun yang sudah menjadi miliknya, Jim." Yoongi menghela napas pelan, "Aku butuh tidur sebentar." Yoongi berdiri dan berjalan keluar dari ruangan itu.
Taehyung ikut berdiri setelah punggung Yoongi menghilang dari pintu, "Aku harus siap-siap untuk sekolah."
Ketika Taehyung sudah menjauh, Jimin menoleh ke arah Namjoon. "Kalian mengatakan sesuatu soal reaksi musuhmu terhadap pernikahan kalian. Apa yang terjadi?"
"Oh, hanya Seokjin menjadi incaran beberapa pembunuh bayaran." Namjoon mengibaskan tangannya, "Bukan masalah besar."
Jimin menyipitkan matanya, "Mereka ingin membunuh Seokjin? Kenapa?"
"Karena mereka menganggap bahwa jika Seokjin mati, maka aku akan ikut hancur." Namjoon menyeringai, "Mereka menganggap aku lemah untuk Seokjin."
"Dan kau akan membiarkan pemikiran itu menyebar?"
"Tentu saja, biarkan saja mereka berspekulasi sesukanya. Lagipula, jika aku terlihat seperti memiliki kelemahan, semua orang akan berlomba mencoba menghancurkanku melalui itu, dan aku, tidak perlu bersusah payah mencari alasan untuk melenyapkan mereka."
"Aku tidak masalah asalkan Seokjin tidak dalam bahaya."
"Aku tidak bisa menjamin, tapi aku akan berusaha agar Seokjin tidak mati."
Jimin memutar bola matanya, "Aku menyesal sudah mengatakan itu." Jimin berdiri dan berjalan meninggalkan ruangan itu, dia meraih gagang pintu dan membukanya.
"Seokjin tidak akan mati, Jim. Aku tahu kau dekat dengannya, dan aku tidak akan membunuh keluargamu."
Gerakan Jimin terhenti saat Namjoon mengatakan soal 'keluarga'.
"Aku mengingat perjanjian kita, aku tidak akan membunuhnya, pada siapapun yang kau anggap teman ataupun keluarga. Kita memiliki perjanjian, dan kau sudah membayar mahal untuk perjanjian itu, jadi aku tidak akan melanggarnya."
Jimin menggigit bibirnya kuat-kuat, jarinya mencengkram gagang pintu semakin kuat.
Perjanjian. Perjanjian yang mahal.
Benar, Jimin sudah membayar itu dengan sangat mahal.
"Perjanjian kita.. kau masih mengingat apa konsekuensi bagi yang melanggar, kan?"
"Ya, siapapun yang mengkhianati perjanjian itu, maka dia akan mati. Aku akan membunuhmu, atau kau akan membunuhku. Aku tidak lupa."
Jimin mengangguk pelan-pelan, "Aku sudah membayar sangat mahal untuk itu, jadi kuharap kau akan tetap mematuhinya. Aku tidak ingin Seokjin dan Jungkook mati, aku tidak ingin mereka berada dalam bahaya." Jimin menarik napas dalam, "Mereka keluargaku."
"Aku akan mengingat itu, Jimin. Aku akan melakukan bagian dari perjanjian kita, dan aku mau kau melakukan hal yang sama."
"Kau boleh membunuhku dengan semua cara yang kau tahu jika aku melanggar perjanjian itu, Namjoon." Jimin melirik Namjoon dari balik bahunya, "Aku tidak akan melanggar sumpahku sendiri."
Namjoon menyeringai, "Begitupun aku, Jimin."
.
.
.
"Seokjin! Lama tidak bertemu!"
Seokjin menoleh dan di detik berikutnya dia dihantam oleh sebuah pelukan hangat dari Hoseok, dokternya sekaligus seseorang yang sudah Seokjin anggap sebagai teman baiknya.
Seokjin tersenyum, balas memeluk Hoseok sebentar kemudian melepaskannya.
"Ah, aku merindukanmu dan si kecil Jungkook." Hoseok tersenyum lebar kemudian menoleh ke sana-sini, "Dimana Jungkook?"
"Dia ikut mengantar Taehyung ke sekolah." Seokjin menjawab kemudian menarik salah satu kursi makan, "Apa kau sudah sarapan?"
"Ya, aku sudah sarapan, tadi aku pergi memeriksa kondisi rumah sakit dulu." Hoseok masih tersenyum kemudian dahinya berkerut saat melihat sesuatu yang mencolok di kulit Seokjin, "Seokjin, apa itu memar?"
Seokjin tersentak, dia memang memakai turtleneck pagi ini karena dia malas memakai syal, tapi dia tidak menyangka Hoseok bisa melihat warna kebiruan yang mengintip dari sela pakaiannya.
"Apa itu karena Namjoon?" tanya Hoseok, terdengar dingin dan tidak suka.
"Uhm.. ini.." Seokjin bergerak-gerak gelisah dengan kedua tangan yang saling meremas satu sama lain.
"Ya, itu karena aku."
Seokjin menoleh dan dia melihat Namjoon berjalan masuk ke ruang makan kemudian menarik kursi dengan santainya.
"Aku mencekiknya," Namjoon mengangkat bahunya, "Itu sudah berlalu sekitar satu minggu tapi bekas memarnya tak juga hilang."
"Kau! Bukankah sudah kuperingatkan agar kau tidak menyakitinya dengan tanganmu?!" Hoseok meraung marah dan Seokjin menggigit bibirnya, dia mencoba menahan Hoseok yang kelihatannya bersedia menyerang Namjoon kapan saja.
"Aku tidak menyakitinya dengan sengaja." Namjoon memasang wajah tak berdosa, "Seokjin hampir membunuhku, itu pembelaan diri."
Dahi Hoseok berkerut, dia menoleh ke arah Seokjin dan melihat wajahnya yang memucat. Hoseok terdiam, mencoba menilai situasi yang terjadi, dia memperhatikan Namjoon yang sudah memulai sarapannya dengan santai dengan Seokjin yang terdiam kaku dengan wajah pucat.
Jelas sekali di sini bukan pihak Namjoon yang bersalah.
"Aku akan memeriksa lehernya," Hoseok berujar, mencoba setengah mati membuat nada suaranya terdengar santai. "Apa yang kau ingin aku lakukan mengenai ini?"
"Pastikan memarnya tidak terlihat, lusa ada konferensi pers untuk kami." Namjoon menyuap roti yang sudah dipotongnya.
Dahi Hoseok berkerut dalam, "Untuk?"
"Mengenalkan Seokjin secara resmi sebagai calon pasanganku, tentu saja." Namjoon menelan roti di mulutnya, "Ah benar, aku lupa." Namjoon merogoh sakunya, "Seokjin, kemarilah."
Seokjin melirik Hoseok dan Hoseok mengangguk singkat. Seokjin berdehem kemudian berjalan menghampiri Namjoon yang masih duduk di kursinya dengan santai, dan ketika Seokjin semakin dekat, Namjoon mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil berwarna biru gelap.
"Pakai itu," Namjoon berujar santai, dia menggeser kotak kecil itu mendekati Seokjin.
Seokjin mengulurkan tangannya untuk mengambil kotak itu dengan hati-hati dan ketika dia membukanya, dia melihat sebuah cincin yang sederhana di dalam kotak, cincin itu hanya dihiasi satu batu yang bersinar di bagian tengahnya, sementara sekelilingnya terlihat mengkilap dengan warna silver yang indah.
"Itu cincin sederhana, terbuat dari platina dan berlian kecil di tengahnya." Namjoon menjelaskan mengenai cincin itu tanpa diminta dan Seokjin tertegun.
"Ini.. untuk apa?" tanya Seokjin.
"Anggaplah itu sebagai cincin pertunangan kita." Namjoon mengangkat tangan kirinya, memperlihatkan jarinya yang berhiaskan cincin yang sama, "Aku sudah memakai cincin yang sama, kau harus memakainya, kita butuh itu di hadapan wartawan."
Seokjin terdiam, dia menunduk menatap cincin yang berada di dalam kotak.
Cincin.. pertunangan?
Apakah Namjoon saat ini sedang melamarnya?
Tapi lamaran ini lebih terdengar seperti negosiasi bisnis dibandingkan lamaran untuk bertunangan.
"Cepat pakai, kau harus membiasakan dirimu memakainya." Namjoon menyesap kopinya, "Aku sudah menyiapkan cincin lainnya untuk acara pernikahan kita, cincin itu hanya hiasan di hari konferensi pers nanti."
Seokjin menghela napas pelan.
Apa yang dia pikirkan? Berharap mendapatkan lamaran romantis untuk menikah? Itu jelas tidak akan dia dapatkan dari Namjoon.
Seokjin mengangguk pelan kemudian memakai cincinnya, dia memperhatikan bagaimana cincin itu terasa begitu pas di jarinya.
"Darimana kau tahu ukuran jari Seokjin?" Hoseok bertanya tiba-tiba dengan pandangan yang terarah pada benda berkilau di jari Seokjin.
"Jessica yang memeriksanya." Namjoon menyuap roti lainnya, "Kau tentu mengenal kebiasaan Jessica, kan? Dia bahkan memiliki ukuran pergelangan tangan Seokjin."
Hoseok mengucapkan 'Ooh' tanpa suara seraya mengangguk-angguk pelan. "Baiklah, kalau begitu aku akan memeriksa pasienku dulu."
Namjoon mengangguk acuh, "Pastikan memarnya bisa memudar lusa."
"Aku tidak yakin soal itu, tapi aku akan berusaha." Hoseok meraih lengan Seokjin dan menggandengnya menuju kamar Seokjin.
"Kau mengenal Jessica?" tanya Seokjin saat mereka berdua melangkah menaiki tangga.
"Tentu saja, dia perancang busana kesayangan Namjoon. Namjoon tidak akan mau memakai pakaian resmi selain rancangan Jessica." Hoseok menoleh ke arah Seokjin, "Dia terbiasa mengukur tiap jengkal tubuh orang yang dia buatkan pakaian, maka wajar saja dia mengetahui berapa ukuran jarimu."
"Apa.. Namjoon dan Jessica.. uhm.. maksudku.."
"Apa Namjoon dan Jessica terlibat suatu hubungan yang spesial, maksudmu?" Hoseok menyelesaikan kalimat Seokjin dengan lugas dan santai.
Seokjin mengangguk pelan-pelan.
"Tidak, Namjoon dan Jessica tidak terlibat dalam hubungan semacam itu. Jessica itu perancang busana Namjoon, aku tidak yakin Namjoon tidak pernah melakukan apapun bersama Jessica, tapi aku berani menjamin bahwa mereka tidak terlibat hubungan resmi selain hubungan pekerjaan."
Seokjin mengangguk lagi, dia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Bahkan dia juga tidak mengerti kenapa dia menanyakan itu pada Hoseok.
Seharusnya Seokjin sadar, bahkan jika Jessica dan Namjoon terlibat hubungan spesial, itu sama sekali tidak ada hubungannya dengannya. Jadi untuk apa dia memikirkan itu?
Hoseok membuka pintu kamar Seokjin dan memintanya untuk masuk, Seokjin menurut, dia duduk di pinggir tempat tidurnya sementara Hoseok berjalan menghampirinya.
Dokter itu meletakkan tasnya di sebelah Seokjin dan mengeluarkan sepasang sarung tangan dari sana, "Baiklah, ayo kita periksa lehermu."
Seokjin mendongak, memberikan akses lebih pada Hoseok untuk mengamati lehernya.
"Dengan apa dia mencekikmu? Satu tangan atau dua tangan?" tanya Hoseok seraya memperhatikan leher Seokjin.
"Dia menahanku dengan lengannya,"
Hoseok berhenti sebentar, "Hanya dengan lengan dan memarnya bertahan lebih dari seminggu?" Hoseok berdecak pelan, "Sial, dia memang monster."
"Apa memar ini bisa sembuh?"
"Tentu saja bisa, memar ini sudah hampir sembuh, hanya saja memang bekasnya masih terlihat." Hoseok menjauhkan jarinya dari leher Seokjin, "Aku akan memberikan krim untuk menyamarkan memarnya. Aku tidak yakin lusa nanti memarnya sudah hilang sempurna, tapi jika memang belum hilang, aku akan mengatakan pada Namjoon untuk menutupi memarnya dengan riasan atau sejenisnya."
Seokjin mengangguk patuh.
Gerakan yang begitu patuh dan otomatis itu membuat Hoseok menghela napas, "Apa yang kau lakukan padanya?"
Seokjin terdiam, dia menunduk dengan jari yang terjalin, "Aku ingin keluar dari sini, dan.. aku tidak sadar apa yang aku lakukan."
"Jin, kau tidak akan bisa membunuh monster itu. Tidak bahkan jika kau memegang pistol dan pria itu tidak bersenjata." Hoseok menepuk bahu Seokjin, "Namjoon tidak mudah mati, percayalah, dia pernah diracun oleh orang lain dan kau tahu apa yang dia lakukan selanjutnya?"
Seokjin mendongak, "Apa?"
"Dia belajar mengadaptasi racun. Dia memintaku membuatkan racun dan memberikan itu padanya dengan dosis yang terus bertambah. Dan sekarang, dia memiliki semacam antibodi tersendiri untuk racun." Hoseok menghela napas pelan, "Namjoon itu.. entah dia memang monster atau apa, tapi yang aku tahu dulu dia tidak seperti ini."
"Maksudmu dulu dia tidak sekejam ini?"
Hoseok berdiri, dia melangkah mundur dan bersandar di lemari Seokjin, "Ya, Namjoon memang jenius sejak dulu, tapi walaupun ayahnya adalah penjahat yang kejam, Namjoon tidak seperti itu. Aku tidak tahu kenapa dia bisa.." Hoseok menggerakkan tangannya, kelihatannya mencoba mencari kata yang tepat untuk diucapkan, "… berevolusi hingga seperti sekarang. Yang jelas dulu dia tidak seperti itu."
"Walaupun saat ini Namjoon seperti monster, percayalah dia tidak sekejam itu."
Seokjin menatap Hoseok dalam diam, "Kenapa kau mengatakan ini padaku?"
"Karena nantinya, setelah pernikahan itu terjadi, kau akan menjadi seseorang yang berada paling dekat dengannya."
"Aku tidak yakin soal itu,"
Hoseok mengatupkan mulutnya, benar, ini memang bukan soal itu. Namjoon menginginkan Seokjin menjadi miliknya untuk mendapatkan keturunan, dan Seokjin, entah dosa apa yang diperbuatnya di masa lalu hingga dia mengalami nasib seburuk ini.
"Aku hanya ingin kau berada di rumah ini dalam keadaan baik, Seokjin."
Seokjin tersenyum kecil, "Jangan khawatir, aku tahu apa yang harus aku lakukan."
"Kau yakin?"
"Ya, aku akan menunjukkannya padamu. Manusia memiliki suatu pertahanan diri yang akan membuatnya mampu melewati apapun demi bertahan hidup."
Hoseok terdiam, mencoba mengerti maksud dari ucapan Seokjin namun dia tidak bisa menangkap maksud apapun.
"Baiklah,"
.
.
.
Seokjin menatap pantulan dirinya sendiri di cermin. Sesuai dengan ucapan Namjoon tempo hari, hari ini mereka akan benar-benar mengadakan konferensi pers dan saat ini Seokjin sedang duduk sendirian menunggu Taehyung menjemputnya untuk masuk ke dalam aula.
Kepala Seokjin bergerak ke arah kiri, dia sedikit mendongak untuk memperhatikan lehernya, bekas memarnya memang masih ada, tapi seseorang yang meriasnya hari ini berhasil menutupi memar di leher Seokjin dengan riasan yang tebal.
Seokjin menyentuh lehernya sendiri, ujung jarinya menyusuri daerah sekitar lehernya dan dia bisa menyadari memar itu masih di sana karena rasa nyeri yang masih terasa. Seokjin melepaskan jarinya dari lehernya dan menarik napas dalam, dia sudah menyiapkan dirinya untuk hari ini.
Hoseok bilang Namjoon berubah, dia berevolusi hingga menjadi seperti sekarang ini.
Tapi bagi Seokjin, itu bukanlah evolusi, itu suatu adaptasi.
Kelihatannya Namjoon melakukan berbagai cara untuk beradaptasi dalam lingkungannya dengan baik.
Seokjin tahu, karena itu adalah sesuatu yang selalu dia lakukan untuk bertahan. Beradaptasi.
Seokjin belajar bahwa jika seseorang mencoba bertahan hidup di suatu lingkungan baru yang bersedia membunuhmu kapan saja, maka yang harus dia lakukan adalah beradaptasi.
Belajar untuk terbiasa menerima kerasnya pekerjaan yang dilakukan setiap hari.
Belajar untuk terbiasa menerima hinaan yang dilemparkan padanya setiap detik.
Belajar untuk menerima segalanya, apapun itu, meskipun itu akan menghancurkan nuraninya sendiri.
Seokjin belajar, belajar banyak untuk beradaptasi dengan kehidupannya.
Seokjin belajar melakukan kamuflase, kamuflase terbaik agar dia tidak mati di tangan predator.
Atau dalam kasusnya, agar dia tidak mati tertelan kejamnya takdir hidupnya.
Mungkin dia memang belum seahli Namjoon, tapi setidaknya, Seokjin tidak terlalu awam dalam urusan ini.
Ya, Seokjin pasti bisa melewati ini.
Dia pasti bisa. Ini mudah.
"Seokjin Hyung, sudah waktunya."
Seokjin menatap Taehyung dari pantulan cermin yang berada di hadapannya kemudian mengangguk pelan.
Taehyung tersenyum padanya, dia memperhatikan gerakan Seokjin saat bangun dari kursinya kemudian berjalan menghampirinya.
"Kau memakai cincinnya, Hyung?" tanya Taehyung dan Seokjin mengangkat tangan kirinya untuk menunjukkan cincin itu di sana.
"Baguslah, ayo." Taehyung meraih lengan Seokjin dan menggandengnya menuju ruangan tempat para wartawan menunggu.
Taehyung membimbing langkah Seokjin dan ketika pintu menuju ruangan itu terbuka, kilatan lampu kamera langsung menyapa mata Seokjin, membuatnya harus menutup sedikit matanya agar tidak pusing. Rentetan pertanyaan kembali masuk ke ruang dengarnya dan Seokjin berusaha setengah mati mengendalikan dirinya sendiri untuk tidak panik dan ketakutan.
Seokjin masih mencoba mengatur napasnya ketika tiba-tiba pergelangan tangannya ditarik oleh seseorang. Seokjin mendongak dan dia melihat Namjoon di sana, berjalan di depannya menuju kursi tempatnya duduk di sebelah Namjoon.
Namjoon berdehem pelan dan suasana ruangan itu langsung senyap.
Seokjin membuka matanya perlahan-lahan dan mengangkat kepalanya untuk melirik Namjoon. Tidak ada yang salah dari diri Namjoon, dia tetap terlihat mempesona seperti biasanya, siapa yang menyangka di balik paras setampan itu tersimpan sifat yang kejam?
"Hai, aku Kim Namjoon." Namjoon memulai dan Seokjin memutuskan untuk mengalihkan pandangannya ke arah para wartawan.
Seokjin meremas kain celana di bagian lututnya kuat-kuat ketika dia berusaha keras membalas tatapan mata dari tiap wartawan yang tertuju padanya.
"Dan di sebelahku adalah.."
"Aku Kim Seokjin," Seokjin menoleh ke arah Namjoon, "Calon pasangannya." Seokjin berujar dengan nada tegas.
Namjoon mengangkat salah satu alisnya, dia menyeringai ke arah Seokjin. Dan Seokjin tersenyum tipis membalas seringaian itu.
Namjoon kembali menatap ke arah wartawan, "Itu benar, kami akan menikah, tepatnya tiga hari dari sekarang."
Rentetan pertanyaan kembali diberikan dan Seokjin berdehem pelan, berusaha mengurangi traumanya dengan cara bersikap tenang.
Adaptasi, Seokjin.
Adaptasikan dirimu.
Seokjin berbisik menyemangati dirinya sendiri sementara Namjoon aktif menjawab pertanyaan yang diberikan oleh para wartawan.
"Pernikahan ini adalah pernikahan tertutup, maaf sekali tapi aku tidak bisa mengundang kalian semua. Maka dari itu aku memberikan pernyataan resmi hari ini."
Seokjin membuka matanya lagi, dia menarik napas dalam dan kembali mengangkat kepalanya yang sempat tertunduk beberapa saat.
"Bagaimana dengan rencana bulan madu kalian?!"
Seokjin agak tersentak mendengar pertanyaan itu, tapi dia berhasil mengontrol ekspresinya kembali dengan cepat, karena kalau tidak, sudah pasti wajah terkejutnya akan berhasil ditangkap oleh kamera wartawan.
"Soal itu.." Namjoon menoleh ke arah Seokjin, "Akan aku serahkan kepada Seokjin, aku akan pergi kemanapun dia mau."
Seokjin terperangah, dia agak terkejut mendengar ucapan Namjoon. Dia berdehem kemudian kembali menatap ke arah para wartawan. "Kami belum memiliki rencana apapun, kami berencana menikmati semuanya di sini, di Korea."
"Jawaban bagus," bisik Namjoon.
Seokjin melirik ke arah Namjoon, bersiap untuk mengucapkan kata-kata selanjutnya namun dia tercekat saat melihat sesuatu di kejauhan.
Itu adalah Jaehwan. Mimpi buruk abadinya.
Seokjin gemetaran di tempatnya. Dia menoleh ke arah Namjoon untuk meminta pertolongan namun kelihatannya Namjoon tidak menyadari itu.
Seokjin kembali menatap ke depan dan Jaehwan masih berada di sana, Seokjin berdehem pelan, bergerak tidak nyaman di kursinya dan berusaha sekuat mungkin menutupi ketakutannya.
"Baiklah, kelihatannya hanya itu yang bisa kami sampaikan." Namjoon menoleh ke arah Seokjin, "Kami harus mengakhiri pertemuan ini."
Banyak wartawan yang terlihat tidak setuju, tapi Namjoon sudah berdiri dan menarik Seokjin untuk mengikutinya keluar dari ruangan itu.
Namjoon menarik pergelangan tangan Seokjin menyusuri koridor hotel kemudian dia terhenti dan berbalik menatap Seokjin. Seokjin masih menunduk dengan tubuh gemetar, itu sangat terlihat dari gerakan bahunya juga dari dinginnya tangan Seokjin yang berada dalam genggaman tangan Namjoon.
"Tinggalkan kami, dan lakukan penjagaan di sekitar sini, jangan sampai ada yang mendekati kami." Namjoon memerintah kepada beberapa pengawalnya dan mereka semua mengangguk patuh.
Tepat ketika semua orang itu menjauh, Namjoon melepaskan tangan Seokjin.
"Kupikir kau sudah jauh lebih baik dalam mengatasi traumamu, ternyata kau masih sama." Namjoon menyeringai meremehkan, dia mengangkat dagu Seokjin untuk menatapnya.
"Kau bertanya-tanya kenapa dia ada di sini? Itu karena aku mengundangnya. Dia direktur sebuah stasiun televisi, wajar bukan jika aku mengundangnya ke acara ini?" Namjoon menyeringai, "Kupikir kau akan melakukan hal sombong seperti apa yang kau lakukan saat pembukaan konferensi pers tadi." Namjoon memiringkan kepalanya, "Tapi ternyata tidak, mengecewakan sekali."
Seokjin bernapas dengan cepat, matanya berair karena ketakutan dan tubuhnya tidak bisa berhenti gemetar. "Kenapa.. kau melakukan ini?"
"Aku hanya ingin menunjukkan padamu, aku mendengar pembicaraanmu dan Hoseok hari itu."
Seokjin mendongak menatap Namjoon, dia dan Hoseok hanya berdua di kamar, bagaimana mungkin Namjoon bisa mendengar percakapan mereka?
"Aku memasang kamera pengawas di tiap ruangan, Sweetheart. Termasuk di ruanganmu." Namjoon menjelaskan dengan lambat seolah dia menjelaskan pada anak kecil.
Seokjin tersentak, jika Namjoon mengawasinya secara terus-menerus, bukankah seharusnya Namjoon tahu ketika Seokjin bersiap untuk menyerangnya?
"Apa kau.. selalu mengawasiku?"
"Oh ya, tentu saja. Aku juga tahu kau merencanakan sesuatu di hari kau mencoba membunuhku. Hanya saja, tadinya kupikir kau berencana untuk melumpuhkan para penjaga agar kau bisa kabur. Ternyata, kau mengincar Raja secara langsung."
Seokjin semakin gemetar, terlebih ketika Namjoon memajukan wajahnya, menatapnya dengan pandangan tajam. "Seokjin, kau terlalu cepat beberapa tahun untuk mencoba mengelabuiku."
Ketakutan terasa seperti menelan Seokjin, dia hanya mampu terdiam di posisinya dan tanpa disadarinya airmatanya mulai mengalir. Dia tidak mengerti kenapa semua strateginya dalam bertahan hidup selalu gagal di hadapan Namjoon.
Apa yang harus dia lakukan? Apa?
"Mungkin kau bertanya-tanya mengenai cerita Hoseok waktu itu. Apakah aku pernah menjadi baik? Apakah dulu aku tidak seperti ini?" Namjoon menyentuh helaian rambut Seokjin di dekat telinganya, menyingkirkannya ke belakang telinga Seokjin.
"Maka jawabannya adalah tidak, aku memang seperti ini. Aku tidak berpura-pura, aku tidak berkamuflase untuk menyembunyikan diriku yang sesungguhnya. Ayahku seorang penjahat, Seokjin. Itu ada di dalam darahku."
Namjoon mendekatkan wajahnya, bibirnya menempel di daun telinga Seokjin, "Kau tidak akan pernah bisa mengalahkanku." Namjoon menjauhkan wajahnya, "Ayo pulang, besok kau harus mulai mempersiapkan diri untuk pernikahan itu."
Namjoon berjalan menjauh dari Seokjin, Seokjin masih terpaku menatap punggung Namjoon yang menjauh.
"Apa kau akan melepaskanku dan Jungkook jika kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan?" bisik Seokjin serak.
Namjoon berhenti melangkah, tapi dia tidak menoleh sedikitpun.
"Tidak akan, aku tidak akan membiarkanmu pergi setelah kita terikat."
Dan Seokjin merasa dia sudah mati saat itu.
To Be Continued
.
.
.
Hai!
Akhirnya Heaven and Hell ini bisa dilanjut juga ya :")
Oke, terus gimana? Udah paham belum sama sifatnya Namjoon? atau Seokjin? Atau Jimin? atau Taehyung?
Karena diantara keenam chapter ini, cuma mereka yang udah lumayan terekspos. Yoongi? Nol besar, wkwkwk
Nanti peran Yoongi akan diungkap secara perlahan (?)
Ya intinya sih ff ini bakalan panjang (rencananya)
Oke sip, ditunggu selalu tanggapannya~
