Pernikahan adalah suatu ikatan yang menyatukan dua manusia.
Itu semacam ikatan magis, yang mengikat dua jiwa menjadi satu.
Memang ikatan pernikahan tidak selalu menjamin suatu kebahagiaan.
Tapi ikatan itu adalah awal dari suatu perjalanan panjang. Dengan seseorang yang dinantikan, yang akan menjadi teman dalam perjalanan itu selamanya.
Ini seperti menemukan potongan puzzle yang kau cari seumur hidupmu. Seperti menemukan sesuatu yang akhirnya mampu melengkapi sesuatu yang kosong di dalam dirimu.
Hanya saja, terkadang, pernikahan tidak selalu seperti itu. Sesuatu sudah berubah di antara masa perputaran waktu, sesuatu sudah berganti dan berubah entah menjadi lebih baik, ataukah menjadi lebih buruk.
Tidak ada kategori baik atau buruk dalam kehidupan, karena itu semua tergantung pada persepsi pandangan masing-masing. Tidak ada yang terlalu baik ataupun terlalu jahat di dunia.
Itu hanya tergantung pada pandangan masing-masing.
Pernikahan yang ada di masa saat ini, dapat dipandang menjadi sesuatu yang baik, ataupun sesuatu yang buruk, tergantung dari siapa yang memberikan penilaian dan siapa yang mengalami itu semua.
Entah saat ini Seokjin berada di sisi yang mana, tapi dia tetap harus melakukan segalanya untuk hidupnya. Karena terkadang untuk bisa hidup, manusia perlu mempertaruhkan dirinya sendiri.
Karena sesuatu yang paling mahal di dalam kehidupan adalah diri sendiri. Dia tidak tergantikan oleh apapun, setiap individu pastinya akan memasang harga tinggi untuk dirinya sendiri, dan harga itu tidak akan bisa dibayar oleh siapapun, tidak peduli sebesar apa harta yang akan ditumpahkan pada mereka.
Mereka hanya 'meminjam', tidak membeli. Karena sesungguhnya tidak ada yang 'benar-benar' membeli seseorang, tidak akan pernah ada.
Dan jika pernikahan Seokjin hanyalah sesuatu yang bisa dianggap sebagai 'barter' semata, maka Seokjin akan melakukannya.
Apapun, apapun asalkan dia bisa hidup di dunia ini untuk menemani anaknya.
Dan jika itu berarti Seokjin harus berurusan dengan satu sosok individu seperti Kim Namjoon, maka dia akan melakukannya. Seokjin tidak akan membiarkan anaknya bertempur di dunia ini sendirian.
Seokjin adalah seseorang yang membawanya ke dunia ini, dan Seokjin harus bertanggung jawab padanya dengan melindunginya selama bayi kecilnya masih berada di dunia ini hingga akhirnya dia bisa melindungi dirinya sendiri.
Karena di dunia ini, sesuatu yang harus dilakukan adalah melindungi diri sendiri.
Sederhana, terdengar begitu sederhana. Tapi melakukan itu dibutuhkan keberanian dan perjuangan besar.
Karena dunia adalah sosok penghancur dan algojo paling kuat di seluruh semesta.
Heaven and Hell
.
.
.
a BTS fanfiction
by
Black Lunalite
.
.
.
.
Warn!
Mafia!AU, BL, contains some abuse and abusive relationship.
This story is pure fiction.
Read at your own risk.
.
.
.
.
Part 7: The Wedding
Pernikahan memang bukanlah sesuatu yang mudah, Seokjin mengetahuinya. Dia memang belum pernah menikah, tapi dia sudah melihat pernikahan ayah dan ibunya. Dan hidup dalam kungkungan keluarga seperti ayah dan ibunya bukanlah sesuatu yang bagus untuk contoh dan pelajaran kehidupan.
Seokjin terbiasa melihat kedua orangtuanya bertengkar, terutama saat dirinya resmi dinyatakan sebagai carrier. Rasanya tidak ada hari yang dilewati Seokjin tanpa mendengar bentakan marah ayahnya, dan juga keluhan dari ibunya.
Untungnya, semua itu sedikit berubah ketika Seojun lahir dan dinyatakan sebagai dominan. Hidup Seokjin tidak lagi diwarnai dengan makian dan keluhan karena orangtuanya langsung benar-benar mengabaikan Seokjin dan hanya mengurus Seojun.
Adik kecil Seokjin sangat disayang oleh kedua orangtuanya dan Seokjin pun diabaikan, dianggap seolah dia tidak lagi hidup dan bernapas di rumah besar itu.
Jika saja Seojun tidak mengakui keberadaan Seokjin, maka Seokjin yakin dia tidak akan dianggap di rumah itu lagi oleh siapapun.
Mungkin jika Seokjin tidak sengaja terpeleset di kamar mandi dan jatuh, lalu meninggal, semua orang tidak akan menyadari itu sampai Seokjin sudah menjadi mumi.
Tapi Seokjin tidak keberatan tidak dianggap dalam keluarganya, dia sudah terbiasa. Dan terkadang, dianggap sebagai sosok manusia transparan juga ada baiknya, Seokjin bebas berada di manapun yang dia mau karena tiap kali berpapasan dengannya, ibunya bahkan akan langsung membuang mukanya.
Seokjin tidak pernah merasakan pelukan ibunya, karena itulah dia tidak pernah absen memeluk Jungkook karena dia tahu bagaimana rasanya tidak dipeluk oleh ibu sendiri.
Dan Seokjin sudah bersumpah demi jiwa raganya bahwa dia tidak akan menjadi ibu yang sama seperti ibunya.
Seokjin sudah berjanji. Dia sudah bersumpah.
Dan dia akan menepati sumpah itu apapun resikonya.
"Mama?"
Seokjin tersentak, sejak kembali dari acara konferensi pers, Seokjin tidak banyak melakukan kegiatan selain duduk diam di depan meja rias di kamarnya seraya menatap dirinya sendiri.
Dia masih sangat terkejut karena melihat Jaehwan, sosok mimpi buruk abadinya yang mendadak muncul kembali begitu saja di depan wajahnya.
Seokjin benar-benar ketakutan hingga dia bahkan tidak bisa bernapas dengan normal. Semua memori buruk yang diterimanya dari Jaehwan berlompatan masuk ke dalam pikirannya, membuatnya penuh sesak dan Seokjin pun merasa sesak.
Jika ada satu hal yang diinginkan Seokjin, maka itu adalah berlari sejauh mungkin dari sana. Namun dia sadar dia tidak bisa melakukan itu karena sosok Kim Namjoon di sisinya.
Seokjin pikir Namjoon tidak mengetahui soal Jaehwan, namun ternyata pria itu justru mengundang Jaehwan ke sana agar Seokjin bisa melihatnya.
Rasanya gila.
Seokjin bisa saja histeris di tempat karena ketakutan.
"Mama? Mama mendengarku tidak, sih?"
Seokjin tersentak lagi untuk yang kedua kalinya, kali ini dia bahkan tidak sengaja menyenggol botol lotion bayi milik Jungkook hingga terguling namun tidak sampai jatuh dari meja. Seokjin berdehem gugup, dia menegakkan botol itu dan menunduk menatap mata anaknya.
"Kenapa?"
"Tadi Mama pergi ke mana?" tanya Jungkook, kelihatannya dia benar-benar tidak terbiasa ditinggal sendiri oleh Seokjin karena jika Seokjin pergi, Jungkook akan menunggunya di ruang depan seraya bermain, dan akan melonjak kegirangan saat Seokjin berjalan melewati pintu depan.
"Hmm, Mama hanya keluar sebentar."
"Bekerja?"
Seokjin menggeleng pelan, "Bukan, bukan bekerja." Seokjin menggigit bibirnya, dia bingung harus menjelaskan apa pada Jungkooknya karena Seokjin bahkan masih meragukan apa yang sebenarnya dia lakukan di sini.
"Kookie, dengar.." Seokjin meraih anaknya dan membawanya untuk duduk di atas pangkuannya.
"Kenapa, Mama?"
Seokjin menatap mata anaknya yang berbinar dengan indah dan polos. Dan Seokjin rela menjual jiwanya kepada iblis jika dia bisa mempertahankan agar mata anaknya selalu terlihat seperti itu.
Seokjin sendiri bingung apa yang harus dia lakukan untuk memberi pengertian pada anaknya bahwa nanti Mamanya akan menikah dengan orang lain. Haruskah Seokjin menjelaskan pada Jungkook bahwa dia akan mendapatkan seorang ayah?
"Mama.."
"KOOKIE! AKU BELIKAN PUDDING!"
Suara teriakan menggelegar dari Taehyung memutus suara Seokjin. Seokjin mengatupkan bibirnya sementara Jungkook menoleh ke sana sini, mencoba mencari asal suara yang memanggilnya.
Seokjin mendengar suara berdebum langkah kaki menuju kamarnya dan tak lama kemudian pintu kamarnya terbuka dengan keras.
"Kookie, lihat! Pudding cokelat dan mangga! Kau mau yang mana?!" ujar Taehyung seraya menunjukkan kedua cup pudding yang dimaksud.
Jungkook berkedip, dia menaruh telunjuknya di bawah dagu, memasang pose berpikir yang lucu. "Kookie suka yang cokelat, tapi Kookie belum pernah mencoba yang mangga."
Taehyung menatap kedua pudding di tangannya, "Kalau begitu makan keduanya saja. Aku beli banyak."
Mata Jungkook berbinar seketika, "Benarkah?"
Taehyung mengangguk semangat, "Ya! Ayo!"
Jungkook melompat turun dari pangkuan Seokjin dan berlari menghampiri Taehyung, Taehyung segera mengangkat tubuh Jungkook dan membawanya keluar dari kamar, meninggalkan Seokjin yang masih duduk diam seraya memperhatikan interaksi mereka.
Seokjin tersenyum kecil, Jungkook tidak pernah memiliki saudara ataupun teman sebaya sebelumnya, wajar saja dia merasa sangat senang bisa bermain bersama Taehyung yang memang akan dengan senang hati melakukan banyak hal konyol karena permintaan lucu Jungkook.
Helaan napas pelan keluar dari mulut Seokjin, dia menatap sekeliling kamarnya dan memutuskan bahwa mungkin mandi akan menyegarkan pikirannya. Dan karena itu dia berdiri kemudian berjalan menghampiri kamar mandi yang berada di dalam kamarnya.
Ketika Seokjin masuk ke kamar mandi, matanya langsung tertuju pada pantulan wajahnya sendiri di cermin wastafel. Seokjin memperhatikan rambut coklat gelapnya dengan poni yang menutupi dahi, dia tidak pernah mengganti gaya rambutnya sejak dia sekolah dulu. Seokjin suka poninya karena itu membantunya menyembunyikan diri dari pandangan orang-orang terhadapnya.
Rambutnya halus, halus alami karena Seokjin memang tidak menggunakan peralatan mandi yang mahal. Dan panjang rambutnya sudah menyentuh tengkuk Seokjin. Dia sudah lama tidak memotong rambutnya.
Dan wajahnya, bentuknya oval, agak tersamarkan karena Seokjin memiliki pipi yang gemuk, kelihatannya lemak bayi di sana tidak juga mau pergi walaupun Seokjin sudah memiliki bayi yang sesungguhnya. Kulitnya juga halus alami dan putih mulus.
Jika dilihat secara keseluruhan, Seokjin tidak jelek.
Tidak, dia tidak jelek. Bahkan bisa dibilang wajah Seokjin mungkin berada di atas rata-rata. Dan tidur cukup serta makanan bergizi yang dia terima selama terperangkap di rumah Namjoon membuat wajahnya terlihat lebih segar.
Bahkan dia memiliki rona pipi alami.
Seokjin tidak jelek, bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika seseorang melirik Seokjin lebih dari dua kali. Dan hal ini membuat Seokjin tertegun.
Apakah mungkin..
Mungkin..
Mungkinkah Namjoon menerimanya berada di rumah ini dan meminta Seokjin menjadi ibu dari calon anak Kim Namjoon adalah karena wajahnya?
Namjoon itu sempurna, siapapun bisa melihat itu. Dan kelihatannya tidak mungkin dia akan mencari orang sembarangan untuk menjadi ibu dari calon anaknya. Seokjin bisa melihat jika sosok Namjoon adalah sosok yang penting, jadi tidak mungkin dia memilih sembarangan orang untuk menjadi ibu dari pewarisnya.
Bisakah Seokjin sedikit berharap bahwa Namjoon memang memilihnya dan dia bukanlah 'last option' atau hanya seseorang yang terkena nasib buruk?
Bisakah Seokjin berharap bahwa setidaknya, dia memegang sedikit kartu yang menguntungkan di sini.
Bahkan jika itu adalah dirinya, fisiknya. Bisakah Seokjin berharap bahwa dia berada di permainan yang dibuat oleh Kim Namjoon dengan sedikit pertahanan diri?
Seokjin menarik napas, pandangannya turun ke deretan peralatan untuk wajah yang dibelikan Namjoon untuknya atas rekomendasi Jessica. Jessica benar-benar mencintai kulit Seokjin sehingga wanita itu mendikte Namjoon mengenai perawatan apa saja yang harus diterima Seokjin agar kulitnya tetap seindah sekarang.
Dan sekarang Seokjin akan mulai lebih memperhatikan dirinya.
Karena mungkin, wajahnya adalah sesuatu yang bisa membuatnya berada di level yang lebih tinggi.
.
.
.
"Jungkook akrab sekali denganmu ya." ujar Yoongi seraya memperhatikan Taehyung dan Jungkook yang duduk bersila bersama di atas karpet lembut.
Taehyung mengangguk, dia mengulurkan tangannya untuk membersihkan sisi bibir Jungkook yang terkena pudding dan menjilat jari itu. "Tentu saja, aku memang mudah akrab dengan anak-anak."
"Aku bisa melihat itu," Yoongi menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.
"Saat di panti dulu, aku adalah seseorang yang bertugas untuk merawat anak-anak yang lebih kecil. Makanya aku cepat akrab dengan bayi dan balita." Taehyung tertawa saat Jungkook bersendawa dengan suara pelan saat sudah selesai menghabiskan puddingnya.
Yoongi terdiam saat mendengar Taehyung membicarakan soal panti.
Benar, Taehyung berasal dari panti asuhan. Dia masih kecil saat itu, dan Namjoon secara tiba-tiba mengatakan kalau dia akan mengadopsi Taehyung sebagai salah satu calon tangan kanannya.
Berbeda dengan Yoongi yang benar-benar menjadi bayangan Namjoon, Namjoon justru ingin menjadikan Taehyung sebagai tangan kanannya. Sosok pemuda asing yang bahkan tidak diketahui siapa nama orangtuanya.
Dan Namjoon secara sukarela memberikan marga 'Kim' miliknya untuk dipasang di depan nama Taehyung, sehingga Taehyung langsung menempati kasta yang lebih tinggi, sangat jauh lebih tinggi daripada marganya sebelumnya.
Yoongi juga tidak mengerti kenapa Namjoon langsung memilih Taehyung ketika dia pertama kali melihatnya. Kemudian ketika pemilik panti dengan sangat bersemangat menceritakan kelebihan-kelebihan Taehyung, Yoongi mendadak mengerti kenapa Namjoon menginginkan Taehyung sebagai calon tangan kanannya.
Tapi yang tidak Yoongi mengerti adalah, apakah Namjoon sudah memeriksa latar belakang dan perilaku Taehyung terlebih dahulu sebelum mengadopsinya, ataukah Namjoon hanya bertindak spontan tanpa mengetahui bahwa keputusan itu akan merubah hidupnya hingga menjadi sepelik ini?
Karena Yoongi sangat menyadari bahwa terjadi perubahan besar di dalam hidup mereka sejak Namjoon secara resmi membawa Taehyung masuk ke dalam keluarga.
Ya, perubahan besar.
Entah bagaimana perubahan itu berdampak pada diri Namjoon, yang jelas perubahan itu berdampak begitu besar pada diri Yoongi.
'Aku akan melakukan apapun! Apapun! Biarkan aku bersama dengan Taehyung!'
Yoongi memejamkan matanya, itu sudah berlalu sangat lama tapi dia bahkan tidak bisa melupakan itu.
Sebaris kalimat permohonan yang sanggup membuat hidup Yoongi berubah sepenuhnya.
Seharusnya sejak awal dia tidak mendengarkan kalimat permohonan itu.
Dan seharusnya dia tidak bermain-main dengan licik.
Permainan kata dan pikiran yang dia lakukan benar-benar telah membawanya ke dalam penyesalan yang hingga hari ini tidak berani Yoongi akui.
Seharusnya hari itu Yoongi melangkah pergi, bukannya diam dan mendengarkan permohonan yang diucapkan dengan putus asa dengan iming-iming bayaran menggiurkan.
Ya, seharusnya.
Dan sekarang Yoongi sudah terjebak dalam pusaran lingkaran baru, lingkaran domino kehidupannya sudah berubah karena Yoongi memilih jalan yang berbeda, dan Yoongi tidak bisa melakukan apapun selain menjatuhkan domino lainnya di depannya dan terus melanjutkan hidup.
Karena domino yang sudah dijatuhkan tidak akan bisa diangkat lagi.
"Taehyung, berhentilah memberinya makanan manis untuk cemilan sore. Kau akan membuat Jungkook menjadi gemuk." Jimin berjalan memasuki ruang tengah dan mengambil cup pudding kosong dari tangan Jungkook.
"Tidak apa, aku suka melihatnya gemuk." Taehyung tertawa dan mengelus-elus pipi Jungkook.
Jimin menggeleng-geleng pasrah, kemudian dia tidak sengaja menatap Yoongi yang sedang duduk di sofa dengan ekspresi kosong. Kelihatannya pria kepercayaan Namjoon itu sedang memikirkan sesuatu.
"Yoongi? Kau oke?"
Yoongi tersentak, dia mendongak menatap Jimin dan mengangguk. "Uuh, ya." Yoongi berdiri seraya meluruskan pakaiannya, "Aku harus pergi, Namjoon masih di kantor." Dia berjalan menghampiri Jimin, meraih lengannya, dan memberikan kecupan singkat di pipi Jimin.
"Aku berangkat," bisik Yoongi sebelum kemudian dia berbalik dan berjalan meninggalkan ruang depan tempat mereka berada.
"Ada apa dengan orang itu?" gumam Jimin. Dia melirik Taehyung dan Jungkook yang masih sibuk bermain. Tangan Jimin turun menuju perutnya, meraba bagian kiri atas perutnya sebelum kemudian bergegas menjauhkan tangan itu dari sana dan meninggalkan Taehyung dan Jungkook yang masih sibuk bermain di lantai.
Tidak, Jimin sudah berjanji dia akan berubah.
Dia sudah berjanji dia tidak akan memikirkan itu lagi.
Jimin harus menepati janji yang dia buat kepada dirinya sendiri.
Anggap saja itu sebagai pengorbanan kecil yang dia berikan untuk menjamin kehidupan seseorang yang paling berharga untuknya di dunia ini.
Lagipula dia memegang sumpah Namjoon. seharusnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Ya, seharusnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
.
.
.
Seokjin tidak pernah menyangka dia akan menikah. Ketika melahirkan Jungkook, dia sudah sangat yakin bahwa dia akan hidup dan membesarkan Jungkook sendirian, dia sudah sangat siap dengan kenyataan bahwa nantinya hanya akan ada dia dan Jungkooknya.
Seokjin sudah menyiapkan dirinya bahwa dia tidak membutuhkan sosok pendamping. Karena siapa yang mau menikah dengannya dengan status sosialnya yang jauh di bawah rata-rata?
Maka dari itu ketika akhirnya hari pernikahannya dan Namjoon tiba, Seokjin tidak banyak melakukan apapun. Dia tetap terbangun di jam empat pagi, namun kali ini dia tidak duduk diam seraya menatap Jungkook, dia justru keluar ke balkon kamarnya dan berdiam di sana sampai matahari terbit.
Dan sekarang, dia sedang duduk diam di meja riasnya, menunggu Jessica datang untuk meriasnya, sementara Jungkook sedang pergi untuk dirias bersama Taehyung.
"Seokjin, hai!"
Suara ceria Jessica menyapa ruang dengar Seokjin dan membuat lamunan Seokjin soal hari pernikahannya buyar. Dia menoleh ke arah asal suara dan tersenyum dengan tulus pada Jessica.
Gadis itu memakai gaun berwarna kuning gading dengan motif dan detail berupa bunga-bunga kecil di bagian pinggir bawah gaun, rambutnya disatukan menjadi sebuah cepol tinggi yang cantik.
"Nah, sekarang, kita akan memulai ritual untukmu." Jessica meletakkan tas tangannya ke atas meja rias sementara ketiga asistennya yang membawakan barang mulai meletakkan barang bawaan mereka ke lantai.
Seokjin melirik dua kotak berukuran sedang dan besar serta satu buah tuksedo yang dibungkus dengan plastik bening dengan pandangan tidak tertarik. "Apa aku akan dikuliti? Kenapa peralatannya banyak sekali?"
Jessica tertawa keras, "Oh, aku suka selera humormu." Wanita itu menggeleng-geleng pelan seraya berjalan menuju ke belakang Seokjin yang duduk di meja rias hanya dengan mengenakan kaus dan celana santai.
"Hmm, kita akan mulai dari rambutmu kemudian turun ke wajah. Asistenku akan mengurus kulit dan kukumu." Jessica mengambil sejumput rambut Seokjin, "Rambutmu sudah bagus, kurasa aku tidak perlu menambahkan banyak perubahan. Aku akan menatanya saja."
Seokjin tidak berbicara sedikitpun saat Jessica sibuk menekan dan memeta di beberapa bagian wajah, kepala dan rambutnya. Seokjin memang selalu merasa nyaman pada sentuhan Jessica, entah kenapa dia tidak setakut itu untuk berdekatan dengan wanita yang ceria ini.
"Kau bisa mulai mengurus kukunya." Jessica berujar pada salah satu asistennya yang sejak tadi berdiri memperhatikan mereka, "Rapikan saja, dan berikan sedikit nail polish agar kukunya mengkilap."
"Ya, Nona." ujar asisten Jessica seraya menunduk mengambil sebuah kotak kemudian dia berlutut di sebelah kiri Seokjin, Seokjin tersenyum padanya dan mengulurkan tangannya dengan hati-hati kepada asisten Jessica.
"Dia hanya akan merapikan kukumu, Jin." Jessica mengambil sisir dan mulai merapikan rambut Seokjin.
"Apa kau tahu dimana mereka merias Jungkook?" tanya Seokjin seraya menatap wajah Jessica yang terpantul di kaca.
"Jungkook? Ah, maksudmu anak kecil itu? Dia sudah di gedung yang akan menjadi tempat resepsimu. Dia pergi naik mobil Taehyung."
"Taehyung menyetir?"
Jessica tertawa seraya mengibaskan tangannya, "Ya, bocah itu menyetir. Jangan khawatirkan dia, dia tidak akan mati hanya karena menyetir, dia bahkan bisa melakukan drift." Jessica menghentikan gerakannya menyisir rambut Seokjin, "Oya, tapi siapa balita itu? Saudaramu?"
"Uhm.. dia.."
Sial, haruskah Seokjin mengatakan kalau Jungkook adalah anaknya?
Jessica yang paham kebingungan Seokjin segera menyela dengan cepat. "Tidak perlu dijawab, aku tidak berhak melanggar privasimu."
Seokjin mengangguk pelan-pelan, dalam hati dia bersyukur Jessica adalah orang yang sangat pengertian. "Berapa lama acara ini akan berlangsung?"
Jessica mengerutkan dahinya, dia menunduk dan menarik dagu Seokjin agar menatap matanya. "Sweetheart, kau bahkan tidak tahu berapa lama acara pernikahanmu?" tanya Jessica perlahan.
Seokjin tersedak, dia baru saja sadar kalau dia sudah melakukan sesuatu yang salah.
"Uhm.. maksudku.."
"Tidakkah Namjoon merundingkan urusan pernikahan ini bersamamu?"
Seokjin ingin sekali meneriakkan kata tidak, bahkan jika bisa, Seokjin ingin sekali berlutut di kaki Jessica dan meminta wanita itu untuk membawanya dan bayinya keluar dari rumah Namjoon.
Tapi Seokjin masih terlalu takut untuk melakukan apapun.
Sial, bekas memar karena cekikan Namjoon saja baru menghilang. Seokjin akan benar-benar mati jika dia berniat bermain-main dengan Namjoon dan kesabarannya lebih dari ini.
Seokjin harus lebih berhati-hati, dia harus melakukan segalanya dengan perlahan sampai akhirnya dia bisa keluar dari rumah ini.
Seokjin harus bisa bermain dengan pintar, karena lawannya bukanlah sosok yang bisa dikelabui ataupun dikalahkan dengan mudah.
"Oh, tidak.." Seokjin meremas kain celananya dengan gugup, "Maksudku, aku tidak tahu karena Namjoon yang mempersiapkan semua ini untukku." Seokjin menggigit sudut bibirnya, "Dia ingin memberikanku kejutan."
Jessica terdiam kemudian dia memasang ekspresi haru luar biasa. Wanita itu menyatukan tangannya di depan dada dan tersenyum dengan sangat lebar kepada Seokjin. "Oh, akhirnya monster satu itu berhasil menemukan seseorang yang benar-benar dihargai olehnya."
Seokjin tersenyum pasrah, ya seandainya saja Jessica tahu bahwa orang itu bukanlah Seokjin.
Bahkan Seokjin yakin dirinya tidak akan menjadi sosok apapun dalam kehidupan Namjoon.
Hidup Namjoon sudah sempurna, dia butuh pewaris untuk kesempurnaannya.
Dan Seokjin harus memberikannya.
Jessica menyemprotkan hairspray ke rambut Seokjin kemudian berdehem malu-malu, "Kalau bayi kalian sudah lahir nanti, bisakah kau izinkan dia untuk memakai pakaian rancanganku?"
Seokjin mengerjap, matanya melebar secara otomatis dan kelihatannya reaksi Seokjin dianggap sebagai penolakan oleh Jessica.
"A-aku tidak memaksa! Sungguh!" Jessica menjelaskan dengan terburu-buru seraya mengibas-ngibaskan tangannya dengan panik.
Seokjin tersenyum, dan senyumnya berubah menjadi tawa kecil. "Aku tidak marah, ataupun menolak. Aku hanya terkejut karena di hari pernikahanku kau sudah meminta agar bayiku memakai pakaian rancanganmu." Seokjin mengulum senyumnya, "Tidakkah menurutmu itu terlalu cepat?"
Jessica mengerjap, tapi kemudian wanita itu mengangkat bahunya dengan gaya tidak peduli. "Yah, tidak ada salahnya segera memiliki bayi, kan? Aku benar-benar tidak sabar ingin melihat seperti apa gen dari seorang Kim Namjoon. Sayang sekali aku gagal membujuknya untuk menjadi ayah dari bayiku."
Seokjin tersedak. Lagi. Kali ini karena dia benar-benar terkejut.
"Maaf, apa?!" ujar Seokjin, tanpa sadar meninggikan suaranya.
Jessica menutup mulutnya dengan sebelah tangan. "Oopss. Bukan, bukan apa-apa. Jangan berpikiran aneh-aneh."
Seokjin menoleh untuk menatap Jessica, "Jelaskan,"
Jessica menghela napas pelan, dia menggerakkan jemarinya dengan lincah untuk merapikan rambut Seokjin dan menatap matanya. "Itu kisah lama, aku dan Namjoon pernah terlibat suatu hubungan yang lebih dari sekedar klien dan perancang busananya. Tapi itu hanya terjadi satu kali, aku yang tidak bisa pergi darinya." Jessica mengangkat bahunya, "Namjoon itu.. well.. kau tahulah, dia mengikat kita dengan pesonanya. Aku tidak mau pergi, aku mau itu menjadi sesuatu yang lebih dari sekedar suatu hubungan kilat. Aku membujuk Namjoon, dan dia tidak mau."
Seokjin mengerutkan dahinya, mencoba mengerti maksud dari cerita Jessica.
Jessica tertawa kecil dan menepuk pipi Seokjin, "Jangan cemberut seperti itu, aku dan dia benar-benar tidak terlibat hubungan serius." Jessica tersenyum menenangkan kepada Seokjin, "Singkatnya, kemudian aku meminta sesuatu darinya. Aku meminta gennya, aku ingin punya bayi darinya. Tapi Namjoon menolaknya, dia bahkan mengatakan bahwa jika itu adalah bayi tabung sekalipun, dia tetap tidak akan mau." Jessica mengedipkan sebelah matanya dengan cantik, "Mungkin dia menyimpan gen itu untuk bayimu dan dia."
Seokjin terdiam, dia sudah mengerti maksud dari cerita Jessica.
Jessica jatuh cinta pada Namjoon.
Itu wajar, mengingat bagaimana sosok pria itu.
Dan Namjoon juga 'mungkin' menyukai Jessica, jika melihat dari bagaimana dia bersikap di sekitar Jessica dan dengan kenyataan bahwa dia pernah menerima Jessica sebagai salah satu partner dalam hidupnya walaupun itu hanya satu kali.
Tapi jika melihat hubungan pertemanan yang terjalin hingga sekarang, tidakkah seharusnya Namjoon memilih Jessica daripada dia?
Jessica sempurna. Dia cantik, kaya, dan memiliki pekerjaan bagus.
Dan sebaliknya, lihat Seokjin, dia tidak kaya, tidak memiliki pekerjaan bagus, dan dia juga sudah melahirkan satu kali.
Apa hebatnya Seokjin?
Kenapa?
Kenapa Namjoon pada akhirnya memilihnya dan bukan memilih Jessica?
.
.
.
Pernikahan mereka dilangsungkan secara tertutup dan hanya dihadiri oleh tamu undangan dari Namjoon.
Seokjin tidak tahu siapa saja yang diundang, dia tidak memiliki keluarga selain Jungkook.
Dan Seokjin rasa Namjoon tidak akan repot-repot mengundang orangtua yang sudah membuang Seokjin. Karena itulah Seokjin tidak mengangkat kepalanya sama sekali sejak dia masuk ke dalam ruangan tempat acara diadakan.
Dia hanya diam, menunduk, dan sesekali melirik ke arah Namjoon.
Mereka berdua berdiri bersebelahan untuk mengucapkan sumpah pernikahan mereka, Seokjin menerima sebuah map berisi sumpah pernikahannya dan ketika dia membukanya, Seokjin ingin tertawa miris.
Entah siapa yang membuat sumpah ini, tapi mungkin ini adalah lelucon paling lucu di sepanjang semesta.
Seokjin melirik Namjoon dan mulai membaca sumpah pernikahannya, "Kita bertemu dalam situasi yang tidak terlalu menyenangkan. Tapi awal dari sesuatu yang indah tidak harus dimulai dari apa yang cantik. Justru proses menuju keindahan metamorphosis adalah sesuatu yang harus dinikmati dan dicintai dengan apa adanya."
Sialan, Seokjin harus bertemu dengan siapapun yang membuatkan sumpah pernikahan ini.
Dan jika pembuat sumpah ini adalah Namjoon, maka Seokjin harus benar-benar mengakui bahwa Namjoon adalah lawan yang sulit.
"Hal itu sejalan dengan kita, kita melalui banyak hal, berbagi banyak hal, dan hubungan kita pun berevolusi menjadi suatu hubungan yang indah. Seperti batu permata yang harus ditempa sebelum terlihat bernilai, kita pun sudah bergerak melalui sesuatu yang terlihat seperti bukan apa-apa menjadi sesuatu yang dapat diperhitungkan oleh dunia."
Oh, cerdas sekali.
Namjoon mempromosikan dirinya di sini.
"Aku mencintaimu, Kim Namjoon. Mari kita bersama-sama berjalan menghadapi dunia ini bersama. Hanya ada kau, aku, dan pelengkap kebahagiaan kita nantinya."
Sialan, dia menegaskan perjanjian mereka di sini.
Seokjin menoleh ke arah Namjoon, "Aku, Kim Seokjin, menerimamu sebagai pasangan hidupku, untuk sekarang, dan selamanya."
Namjoon menyeringai dan Seokjin menutup map berisi sumpah pernikahannya kemudian menyerahkannya kepada petugas pendamping di sebelahnya.
Namjoon tersenyum miring, dia meraih map berisi sumpah pernikahannya dan membukanya. Seokjin bisa melihat lirikan jahat pria itu sebelum dia menunduk dan membaca sumpahnya.
"Sesuatu yang menawan tidak harus selalu nampak di depan mata. Karena hubungan yang kau dan aku bagi bersama adalah sesuatu yang menawan tanpa harus dipertontonkan agar mendapatkan pujian."
Hmm, dia sedang mencoba menutupi fakta mengenai alasan kenapa kiranya kami menikah terlalu cepat.
Sial, Namjoon benar-benar terlalu jenius untuk dijadikan seorang competitor.
"Kita memulai segalanya dari dasar, dan menurutku saat ini kita masih berada di dasar. Aku tidak ingin kita terlalu cepat terlena dengan menganggap bahwa kita sudah berhasil melalui semua ujian yang diberikan dunia untuk kita." Namjoon menoleh ke arah Seokjin, "Tidak, sayang. Kita masih berada di titik dasar." Namjoon menyeringai ke arah Seokjin sebelum dia kembali menunduk untuk membaca sumpahnya.
Seokjin tersenyum, ini benar-benar terlihat seperti mereka menampilkan drama terbaik sepanjang masa. Seandainya saja seluruh orang di sini mengerti maksud dari sumpah pernikahan yang sejak tadi dibacakan, maka mereka pastinya akan menganggap bahwa kami adalah pasangan dalam sebuah duel yang hebat.
Tingkat sarkasme yang digunakan Namjoon terlalu hebat dan halus. Seokjin yakin saat ini semua orang di dalam ballroom ini sedang terpesona dengan betapa indahnya sumpah pernikahan yang dia dan Namjoon bagi.
Hebat sekali.
Seokjin benar-benar harus mempertaruhkan segalanya jika dia ingin menang dalam pertarungannya bersama Namjoon.
"Aku mungkin bukanlah sosok manusia terbaik untukmu, tapi aku akan berusaha untuk selalu berada di sisimu. Aku akan selalu bersamamu, kapanpun, mulai dari sekarang hingga selamanya. Karena terkadang, janji untuk selalu mencintai akan terdengar basi jika salah satu diantara pasangannya bergerak meninggalkan yang lain di belakang."
Seokjin menggigit bagian dalam pipinya, sumpah pernikahan mereka adalah perjanjian mereka.
Seokjin benar-benar tidak akan bisa keluar dari neraka ini selamanya.
"Aku mencintaimu, Kim Seokjin. Mari kita bersama-sama melalui dunia dengan segala kerikilnya dengan selalu bersama dan berjalan berdampingan selamanya. Hanya ada aku, kau, dan pelengkap kebahagiaan kita nanti." Namjoon menutup map berisi sumpah pernikahannya, "Aku, Kim Namjoon, menerimamu sebagai pasangan hidupku, untuk sekarang dan selamanya. Tidak peduli apapun yang terjadi."
Seokjin menatap Namjoon dan Namjoon balas menatap Seokjin.
Dan Seokjin tidak bodoh untuk tidak melewatkan pandangan dingin serta seringaian menyeramkan yang dilayangkan Namjoon padanya.
Perjanjian mereka sudah disahkan, mereka tidak membutuhkan kertas perjanjian ataupun pernyataan perjanjian tertulis.
Perjanjian mereka sudah disahkan oleh sumpah pernikahan mereka sendiri.
Namjoon memang monster.
Itu adalah satu hal yang akan benar-benar ditekankan oleh Seokjin selama sisa hidupnya.
"Sekarang, kedua mempelai dipersilahkan untuk meresmikan sumpah pernikahan mereka dengan gerakan untuk melambangkan kuatnya cinta dan kasih diantara mereka."
Ini dia.
Tandatangan perjanjian mereka.
Namjoon meraih pergelangan tangan Seokjin dan memutar tubuhnya agar menghadap ke arah Namjoon. Pria itu mengambil satu langkah mendekati Seokjin dan mengangkat dagunya.
"Selamat datang di duniaku, Kim Seokjin."
Dan Namjoon menutup perjanjian mereka dengan tekanan bibirnya di bibir Seokjin.
Seokjin memejamkan matanya, mencoba menahan diri untuk tidak menangis karena sekarang dia benar-benar terlempar ke neraka. Dan resmi terperangkap di dalamnya.
Seokjin hanya berharap semoga Jungkook tidak akan merasakan panasnya api neraka bersama dirinya.
To Be Continued
.
.
Hai!
Akhirnya saya comeback ff ini setelah dua bulan lebih tidak muncul-muncul (?)
Dan akhirnya ini dia, part weddingnya NamJin!
Btw, sumpah pernikahan itu emang kadang suka diucapin di upacara pernikahan ya gaes. Biasanya sih masing-masing mempelai yang bikin sumpah pernikahan masing-masing. Nah kalo di sini aku yang bikinin sumpahnya (?) wkwkwk
Terus, kalau kalian baca sumpahnya, kalian pasti ngerti deh maksud kenapa sumpah pernikahan mereka adalah perjanjian mereka. wkwkwk
.
.
P.S:
Untuk seterusnya, FF ini akan diupdate lebih dulu di WP daripada di FFN.
Jedanya sekitar beberapa hari atau lebih. Tapi karena ini aku baru balik dari hiatus, jadinya jedanya cuma sebentar.
Aku gak bermaksud pindah dari FFN, ini pun karena di WP ada fitur private, sedangkan di sini gak ada. Kalau kalian tanya alasannya kenapa, itu karena ff ini pernah kena kasus penjiplakan dan well, that kinda bad.
