Mimpi adalah sesuatu yang semu.
Terkadang banyak orang mengatakan bahwa mimpi akan menjadi kenyataan. Seokjin pernah percaya pada pemikiran itu, bahwa mimpi akan membawanya ke kehidupan lebih baik.
Seokjin pernah bermimpi. Bermimpi untuk kehidupannya yang lebih baik.
Semua manusia itu pemimpi. Mereka suka memimpikan sesuatu yang mungkin dan 'akan' membawa mereka ke kehidupan yang lebih baik.
Ya, tentu saja ke kehidupan yang jauh lebih baik. Karena siapa yang mengharapkan untuk hidup di lingkungan yang sulit?
Kecuali jika mimpi burukmu menjadi kenyataan.
Lantas bagaimana rasanya hidup di dalam mimpi?
Bagaimana rasanya ketika mimpi yang pernah tidak sengaja terlintas dalam pikiranmu menjadi kenyataan?
Bagaimana rasanya ketika sesuatu yang dulu pernah menjadi fantasi terliarmu menjadi kenyataan?
Bagaimana rasanya ketika sesuatu yang mungkin hanya pernah ada di kepalamu menjadi kenyataan?
Mungkin kalian akan merasa terkejut.
Mungkin juga kalian akan merasa bahagia.
Dan mungkin, kalian akan merasa takut.
Lantas apa yang dirasakan Seokjin sekarang?
Dia merasa bahagia.
Kenapa?
Karena ini adalah sesuatu yang berada di dasar pikirannya.
Karena terkadang, sesuatu yang berada di dasar pikiran dan kalian pikirkan secara tidak sadar, adalah suatu bagian tergelap hingga bahkan Lucifer sendiri akan merinding saat mengetahuinya.
Heaven and Hell
.
.
.
a BTS fanfiction
by
Black Lunalite
.
.
.
.
Warn!
Mafia!AU, BL, contains some abuse and abusive relationship.
This story is pure fiction.
Read at your own risk.
.
.
.
.
Part 8: Darkest Daydream
Seokjin tidak pernah menikah sebelumnya. Tapi dia hampir yakin sepenuhnya kalau pernikahan akan selalu dan selalu dan selalu penuh dengan kepalsuan seperti yang ada saat ini.
Seokjin memang bukanlah pakar psikologis, tapi tidak dibutuhkan seorang master untuk mengetahui bahwa sebagian besar dari pengisi ruangan ini memasang sebuah topeng tebal bernama kepalsuan di sana.
Dan karena itu Seokjin mencoba memerankan dirinya sendiri dengan baik, dan partner dalam drama opera bodohnya kali ini adalah Kim Namjoon.
Jika ada master dalam hal memanipulasi ekspresi, maka itu adalah sosok pria di sampingnya.
Namjoon berdiri di sebelah Seokjin, tersenyum layaknya professional tingkat akut kepada setiap wajah yang menghampiri mereka dan mencoba menjilat sedikit perhatian Namjoon.
Hanya saja, dari sekian orang yang mencoba, Seokjin tidak melihat ada yang berhasil di sana.
Namjoon sekaku patung. Dia terpahat sempurna, namun sungguh terasa sangat dingin, bahkan lengan yang memeluk pinggang Seokjin itu terasa sangat dingin.
Namjoon benci menyentuhnya dan berdiri berdekatan dengannya.
Tapi tidak apa, Seokjin juga membenci ini.
Namjoon meremas sedikit pinggang Seokjin, "Kesayanganmu," bisik Namjoon rendah.
Seokjin mengerjap, dia menatap ke arah depan dan melihat Lee Jaehwan berjalan ke arah mereka.
Seokjin tercekat, dia bisa merasakan napasnya agak tersengal tapi dia mencoba menahan ketakutan yang mulai naik hingga ke tenggorokannya. Namjoon menahan tubuhnya, menahan tubuh Seokjin seolah dia adalah sebuah sapu dengan benar-benar mencegah Seokjin bergeser sedikitpun.
Lee Jaehwan berhenti di hadapan mereka, dia tetap terlihat tampan seperti yang terakhir kalinya Seokjin ingat.
Hanya saja melihat wajahnya hanya mengingatkan pada ekspresi merendahkan yang dia berikan pada Seokjin ketika pria itu melecehkannya.
"Mr. Kim, selamat." Jaehwan memulai, sedikit menunduk kepada Namjoon.
Oh, Jaehwan adalah salah satu 'penyembah' Kim Namjoon..
"Terima kasih," Namjoon menyahut singkat, dia meremas pinggang Seokjin lagi, "Kau tidak ingin menyapa pasanganku?" dan pria itu menyeringai.
Jaehwan terlihat melebarkan matanya, tapi dalam sepersekian detik ukuran mata itu kembali normal. Dia menoleh ke arah Seokjin, "Selamat, Tuan Kim."
Namjoon tersenyum miring, "Kau dengar itu, sayang? Dia memberikanmu ucapan selamat." Namjoon menunduk, membenamkan hidungnya ke rambut Seokjin, tepat di bagian atas telinganya. "Apa yang harus kau ucapkan?"
Seokjin mengedip dengan lamban, keringat dingin sudah terasa mengumpul di telapak tangannya yang terkepal. Dia harus melakukan ini, dia harus melakukannya, iblis di sampingnya sedang mencoba mempermainkannya.
Seokjin harus membuktikan kalau dia berada di tempat yang sama dalam permainan.
"Terima kasih," Seokjin berujar, matanya naik untuk menatap Jaehwan. "Selamat menikmati pestanya." Seokjin tersenyum tipis, "Semoga anda suka."
Jaehwan terlihat agak terkejut, itu terbukti dengan matanya yang terfokus menatap mata Seokjin bahkan hingga tidak berkedip.
"Nah, nah, kurasa sebaiknya kita menyapa tamu lainnya." Namjoon menengahi dengan elegan, Seokjin menoleh untuk menatap Namjoon, dan pria itu menunduk untuk menatapnya. "Ada banyak yang harus kau ketahui setelah ini. Karena sekarang, kau adalah bagian dari duniaku."
Ini benar-benar memusingkan, dan rumit.
Sekarang siapa yang percaya bahwa ucapan Namjoon adalah sesuatu yang romantis?
Kau?
Kau percaya pada semua bualan omong kosong dari Kim Namjoon?
Kim Namjoon adalah seorang yang sangat manipulatif, tidak heran banyak yang tertipu padanya.
Hanya saja, terkadang, di balik kata-kata berbalutkan madu yang keluar dari mulut Kim Namjoon, terselip suatu potongan tajam yang siap menggoresmu hanya dengan satu sentuhan.
Tidak ada.
Tidak ada yang bisa dipercaya dari kata-kata berbalutkan madu.
Namjoon masih menatap Seokjin, dan Seokjin mulai merasa urat syarafnya tegang karena harus bertanding terus-menerus dengan Namjoon.
Seokjin mulai lelah.
Tapi lelah berarti kalah. Dan Seokjin tidak mau itu terjadi, dia tidak akan membiarkan Namjoon menang dengan mudah.
"Tentu, sekarang siapa yang akan kita temui?" Seokjin tersenyum pada Namjoon, senyum tipis yang terlihat manis.
Namjoon tersenyum miring, "Fantastic," bisiknya.
Seokjin sudah maju satu langkah untuk berada di level yang sama dengan Namjoon.
Seokjin bisa merasakannya.
Namjoon menariknya secara perlahan untuk menghampiri kerumunan orang lainnya. Tenggorokan Seokjin terasa kering, tapi dia tidak bisa minum alkohol, dia tidak terbiasa untuk itu, dan melihat dari apa yang tersaji di acara mahal ini, maka sudah pasti mereka semua mengandung alkohol.
Seokjin berdehem, dia menghentikan seorang pelayan yang sedang membawa nampan berisi gelas-gelas champagne yang cantik. "Bisa ambilkan aku segelas fruit punch? Non alkohol." Seokjin berujar pelan dan si pelayan segera mengangguk.
"Butuh break time?" ujar Namjoon, sengaja berbisik lagi karena saat ini memang banyak mata yang memandang ke arah mereka.
"Dua tegukan fruit punch sudah cukup untukku." ujar Seokjin, sengaja menoleh ke arah Namjoon dan tersenyum padanya.
Namjoon menatap Seokjin, salah satu sudut bibirnya naik dan terlihat jelas Namjoon sedang mempelajari ekspresi Seokjin. "Nikmati waktumu, pengantinku."
Dan Namjoon melenggang pergi meninggalkan Seokjin, Seokjin tanpa sadar menghembuskan napas lega secara diam-diam. Dia mengulum bibirnya sendiri dan menarik napas panjang.
Berada di sini adalah sebuah kegilaan.
Seokjin berputar, matanya bergerak acak untuk mencari tempat bersandar karena jujur saja, Seokjin butuh kursi, dia butuh duduk.
Dan ketika itulah Seokjin melihatnya,
Anaknya.
Jungkook kecilnya yang sedang bermain bersama Taehyung dengan pengawalan sekitar enam orang bertubuh besar dengan pakaian berupa setelan yang sama persis.
Bodyguard.
Tidak butuh seorang yang jenius untuk tahu.
Seokjin berdehem, dengan sedikit ragu dia mengintip ke belakang bahunya, hanya untuk menemukan seseorang dengan ciri-ciri yang sama, berdiri dengan jarak lima belas langkah darinya.
Seokjin mengalihkan pandangannya ke depan, dan dia menemukan orang dengan penampilan yang sama dan sedang mengawasinya.
Wow, hebat sekali.
Bahkan Seokjin rasa pengawalan Raja tidak akan seperti ini.
"Fruit punch anda, Tuan."
Seokjin nyaris melompat karena terkejut ketika seorang pelayan membawakan gelas tinggi berisi fruit punch. Seokjin berdehem, mengepalkan tangannya sebentar sebelum melepaskan kepalan itu dan meraih gelasnya.
Gelas itu terasa dingin di tangannya.
Dingin dan basah, nyaris tergelincir dari tangan Seokjin yang juga basah karena keringat.
Seokjin menyesap isinya sedikit dan mendesah lega saat akhirnya minuman dingin itu terasa menyegarkannya. Seokjin menarik napas kemudian menatap pelayan yang masih berdiri di hadapannya, "Bisa tunjukkan padaku dimana toiletnya?"
.
.
.
"Pernikahan ini terlihat sempurna." ujar Yoongi saat Namjoon tiba di sebelahnya dan mengambil segelas champagne.
Yoongi adalah Yoongi, sosok yang tidak terlalu menyukai keramaian dan sekarang lebih memilih untuk berdiri di sudut ruangan, bersandar pada sebuah meja hias dan menyesap minumannya dalam diam.
"Tempat yang bagus, Yoongi." Namjoon berujar setelah selesai meneguk champagnenya.
"Oh, terlihat sekali ya?" ujar Yoongi tidak peduli.
"Kau pikir kenapa aku meletakkan meja di sini?" Namjoon menoleh ke arah Yoongi, "Kau akan menemukan mainanmu di bawah meja." Namjoon meneguk isi gelasnya lagi, "Gunakan jika kau merasa itu perlu."
Yoongi mendengus pendek, "Kau sudah memberikan pengamanan luar biasa kepada gedung ini, dan kau berpikir masih membutuhkan bantuanku? Kau membuang uangmu, Kim."
"Aku hanya mencoba membuat situasi yang normal."
"Itukah sebabnya kau memberikan pengawalan luar biasa pada mereka berdua? Menurutmu salah satu dari pecundang bodoh itu akan melukai mereka berdua di hari besarmu?"
Namjoon menyeringai ke arah Yoongi, "Luka di hari besar akan selalu diingat, Yoongi."
Yoongi tertawa miris, "Aku membencimu, kau tahu?"
"Semua orang membenciku, itu bukan hal baru."
"Ya, dan aku ingin sekali menusukkan sebuah jarum tepat ke tengkuk dimana otak kecilmu berada. Sialan,"
Namjoon meletakkan gelasnya yang sudah kosong ke meja, "Be my guest, Min Yoongi." Namjoon membuka kedua tangannya dan bergeser untuk menghadap Yoongi.
"Bajingan." Yoongi terkekeh pelan.
Namjoon tertawa pendek, "Kau dan aku, kita berdua adalah bajingan."
"Ya, kita berdua adalah sosok terkutuk yang harus terus hidup di jalan seperti ini."
"DIa tidak bisa mengubah arah hidupmu?" Namjoon menyandarkan tubuhnya lagi ke meja dan mengambil gelas kedua.
"Dia tidak mengubah jalanku, dia hanya membersihkan hidupku." Yoongi menoleh ke arah Namjoon, "Lagipula, jika dia mengubah arah hidupku, aku tidak akan berada di sini, berdiri di sebuah pesta pernikahan dengan sebuah pistol semi otomatis di balik jas, dan senapan laras panjang yang kau siapkan di bawah meja."
"Oh, aku tahu kau penuh persiapan." Namjoon tersenyum tipis, "Aku tidak perlu kecewa terhadapmu."
"Kau akan kecewa padaku, Namjoon."
"Tidak, aku tidak akan." Namjoon meneguk isi gelasnya, "Dia sudah mengatakan semuanya padaku, dan aku serta dia, memiliki sesuatu yang kami bagi sendiri."
Namjoon meletakkan gelasnya yang masih terisi setengah, "Jika dia bisa mengisi jiwamu, maka aku sarankan kau tidak perlu takut kau akan mengecewakanku."
Yoongi mendengus, "Kau bercanda? Aku sudah menghisap habis jiwanya."
Namjoon menegakkan tubuhnya dan melangkah maju, "Kalau begitu tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan."
Namjoon berjalan meninggalkan Yoongi yang masih berdiri di posisinya. Pandangan Yoongi tertuju pada punggung Namjoon kemudian tertuju pada penyesalan terbesar di sepanjang hidupnya, sosok seseorang dengan pakaian resmi berwarna biru langit.
"Aku masih khawatir, kekhawatiran ini tidak akan hilang. Karena apa yang aku ambil darinya, tidak akan bisa dikembalikan lagi." Yoongi menatap sosok itu dalam-dalam, "Sayang sekali, sesuatu secerah dirimu harus terjebak dalam lumpur kotor ini."
"Dan lebih parahnya lagi, aku mengikatmu agar tidak bisa keluar."
.
.
.
Seokjin berjalan cepat menuju ruang ganti tempatnya tadi bersiap-siap. Dia ingin ke toilet, tapi pelayan itu mengatakan bahwa Seokjin sebaiknya tidak keluar untuk menuju tempat akses publik seperti toilet, dan pelayan itu justru menyarankan kepada Seokjin untuk kembali ke ruangannya sebelum acara dimulai.
Seokjin menghela napas lega ketika akhirnya dia sampai di ruangannya, dia segera menuju kursi terdekat dan menghempaskan tubuhnya ke sana.
Rasanya lelah. Lelah sekali.
Tapi bukankah ini yang sejak dulu diimpikan Seokjin?
Ya, benar.
Ini adalah sesuatu yang dia inginkan sejak awal.
Seokjin hanya harus bertahan sedikit lagi, dan dia pasti bisa menjalankan rencana yang sudah dia susun sejak dulu.
Mungkin adalah cara Tuhan mengabulkan doanya.
Seokjin menarik napas, perlahan berdiri dan berjalan masuk ke dalam toilet yang berada di ruangan itu. Ketika Seokjin berdiri di hadapan cermin, dia bisa melihat wajahnya yang terlihat kusut, campuran antara lelah, kesal, bosan, dan cemas.
Tapi ini semua demi rencananya.
Rencana yang dia susun sejak Jungkook lahir ke dunia.
Seokjin menarik napas, dia membuka kran air dengan kasar dan mencuci wajahnya, sama sekali tidak peduli dengan poni ataupun pakaiannya yang ikut basah. Setelahnya Seokjin menarik napas dalam dan memandang pantulan wajahnya di cermin, air menetes dari dagunya dan jatuh ke dalam wastafel.
Ini bukanlah sesuatu yang sulit.
Seokjin sudah melalui yang lebih sulit dari ini.
Seokjin menarik napas lagi dan memejamkan matanya.
"Seokjin? Seokjin, kau di dalam?"
Seokjin membuka matanya dengan cepat, dia mendengar suara seseorang memanggil namanya diiringi dengan ketukan pintu.
Itu Jessica.
"Ya, aku di sini." Seokjin menoleh ke sekitarnya untuk mencari handuk tapi dia tidak menemukan apapun. Seokjin menyambar tisu yang berada di dekatnya dan dengan cepat mengeringkan wajahnya dengan tisu, setelah selesai, Seokjin melemparkan gumpalan tisu itu ke tempat sampah di dekatnya.
Ketika Seokjin keluar dari kamar mandi, Seokjin melihat Jessica sedang berdiri di ambang pintu, dan wanita itu mengerutkan dahinya tidak suka.
"Apa kau baru saja mencuci wajahmu?" ujarnya.
Seokjin mengangguk polos dan Jessica berdecak, "Kau terlihat berantakan, duduklah, aku akan memperbaiki riasan dan rambutmu. Dan kau juga perlu mengganti pakaianmu."
"Haruskah?" ujar Seokjin seraya duduk di kursi yang berhadapan dengan meja berisi peralatan Jessica.
Jessica berjalan ke belakang Seokjin dan menyentuh helaian rambut Seokjin yang basah, "Tentu saja, sekarang, aku akan mengeringkan rambutmu dulu."
"Apakah Namjoon tidak akan ke sini karena aku tidak ada di luar?"
"Justru Namjoon yang memintaku ke sini karena dia bilang dia melihatmu berjalan ke arah ruang ganti."
Oh,
Jadi Namjoon sudah tahu. Namjoon pasti menyadari kalau dia sudah tidak tahan lagi dan memutuskan untuk melarikan diri.
Sial, Seokjin harus mundur satu langkah lagi.
"Pernikahan ini hebat, bukan? Dekorasinya benar-benar luar biasa, aku menyukainya." Jessica berujar seraya merapikan rambut Seokjin.
"Ya, benar." Seokjin menatap pantulan wajahnya di cermin. "Semuanya terlihat cantik."
"Kau juga cantik," Jessica memuji dengan tulus.
Seokjin tersenyum tipis, "Terima kasih."
Jessica berpindah ke sebelah Seokjin karena dia akan memperbaiki riasan Seokjin. "Aku akan memperbaiki riasanmu, tunggu sebentar."
Seokjin mengangguk tidak peduli, dia memejamkan matanya dan dia bisa merasakan tangan halus Jessica bekerja di wajahnya.
"Kau tahu, Namjoon itu kurang suka kontak fisik."
Seokjin membuka matanya saat Jessica mengatakan itu, "Maksudnya?"
"Hmm, sebenarnya ini rahasia. Aku mendengarnya dari Hoseok, dan itupun kudengar saat aku dan Namjoon kebetulan sedang bersama." Jessica menatap mata Seokjin, "Tapi kurasa kau juga pasti sudah tahu."
"Soal apa?"
"Soal seseorang yang dikenal oleh Namjoon dan Hoseok. Kabarnya, dia adalah teman baik kedua pria itu, tapi Namjoon mencintainya. Dan hebatnya, gadis itu tidak mencintainya."
Seokjin mendengus, "Jadi, ada seseorang yang bisa tidak jatuh kepada Namjoon?"
Jessica mengangkat sebelah bahunya, "Sepertinya begitu. Gadis itu tidak mencintai siapapun diantara keduanya, dia menganggap mereka berdua seperti saudara untuknya."
"Dan kudengar, Namjoon agak berubah karena itu. Makanya aku senang sekali dia bisa terbuka padamu dan bahkan menjadikanmu pasangan hidupnya."
"Jessica,"
"Ya?"
"Apa kau tahu bagaimana aku dan Namjoon bisa bersama?"
Jessica menggeleng, "Aku tidak tahu, dan tidak tertarik. Kalian berdua adalah pelanggan tetapku, dan kurasa ada baiknya aku tidak mencampuri urusan klienku. Aku senang mengobrol denganmu, hanya saja, terkadang, ada batas-batas yang tidak bisa dilanggar."
Seokjin terdiam cukup lama, "Terima kasih."
"Bukan masalah," Jessica meneruskan kegiatan tangannya, "Nah, sekarang sudah selesai."
Seokjin memperhatikan pantulan dirinya di cermin, dia sudah kembali menjadi Seokjin yang terlihat luar biasa, terlebih lagi dengan riasan tipis di wajahnya.
"Kau sangat luar biasa, kurasa aku bisa mengerti kenapa Namjoon jatuh padamu."
Seokjin tersenyum tipis, "Tidak, kau tidak mengerti."
.
.
.
Jimin berjalan memutari ruangan untuk menemukan Seokjin, dan dia tidak bisa menemukannya. Jimin mendesah pelan, dia mulai bosan berada di pesta ini tapi mau tidak mau dia harus berada di sini karena dia adalah bagian dari 'keluarga' Kim Namjoon.
Kaki Jimin berhenti melangkah saat dia melihat Yoongi, berdiri di sudut ruangan dengan posisi separuh tubuhnya bersandar di meja. Jimin menghentikan usahanya berusaha mencari Seokjin dan justru berjalan menghampiri Yoongi.
"Kau tahu, pestanya tidak di sudut ini." ujar Jimin kepada Yoongi.
"Aku tidak datang untuk pestanya." Yoongi berujar santai, kemudian dia menyesap isi gelasnya.
"Dan aku tidak berharap melihat darah di sebuah acara pernikahan." Jimin menyambung, dia berjalan hingga ke depan Yoongi, merebut gelasnya, kemudian menghabiskan isinya.
"Itu tidak disajikan dalam menu minuman acara." Yoongi tersenyum tipis saat pria dengan pakaian resmi berwarna biru langit itu mengembalikan gelas yang sudah kosong ke tangannya.
"Aku tahu," sahut Jimin.
"Tubuhmu tidak cocok untuk minuman sekeras ini."
Jimin mendengus, "Ya, dan salah siapa itu?" Jimin menaikkan sudut bibirnya, "Jika kau berpikir aku masih sama seperti aku yang memohon padamu kala itu, maka kau salah." Jimin melirik gelas kosong di antara jemari kurus Yoongi. "Aku tidak lagi peduli pada apapun, malaikat maut berada di sekitarku setiap harinya."
"Aku tahu, kau bahkan sudah menjadi sahabat baik dengan kematian itu sendiri." Yoongi menatap gelasnya kemudian meletakkannya ke meja, "Dan semua hanya untuk satu orang."
"Hidupku ada padanya."
"Dia tidak memegang hidupmu. Dia bahkan tidak tahu kau mencintainya dengan sebesar ini." ujar Yoongi, dia menatap mata Jimin yang terus menatapnya dengan tajam. "Dia tidak tahu itu dirimu,"
Jimin terdiam, "Kenapa kau seyakin itu kalau dia tidak tahu?"
"Karena kau dan aku hidup bersama dengannya setiap hari, dan aku tidak bodoh."
Jimin terdiam, tapi kemudian senyuman tipis terbentuk di bibirnya. "Kau tahu, Yoongi?" Jimin melangkah maju, "Terkadang, menjadi seorang carrier memiliki kelebihannya sendiri."
Dahi Yoongi berkerut, dia diam saja saat Jimin menyentuh bahunya dan memberikan elusan pendek di sana.
"Karena kami tidak terbiasa untuk menjadi egois." Jimin menaikkan salah satu sudut bibirnya, "Dan kalian, kaum dominan, terbiasa untuk menjadi egois."
Jimin meraih rahang Yoongi dan mengelusnya, "Ego akan membawamu ke suatu jalan penuh liku dan pilihan. Namun terkadang, kau tidak mau melihat yang lainnya, kau hanya akan berjalan lurus, sangat lurus karena kau begitu yakin tujuanmu berada di ujung jalan, sehingga kau tidak mau melihat kemungkinan lainnya."
"Hanya saja kau tidak tahu, bahwa ada bagian dari jawaban itu di tiap sisi jalan yang kau lewati." Jimin melangkah mundur menjauhi Yoongi.
"Kau selalu berpikir kau sama manipulatifnya dengan Namjoon. Tapi, sayangku, aku bahkan jauh lebih hebat daripada kalian."
"Apa kau sedang mengekspos dirimu padamu?"
"Tidak, aku hanya menjelaskan padamu, bahwa apa yang tersimpan di dalam kepalamu masih jauh lebih luas daripada apa yang berada di permukaan luar. Kau hebat, hanya saja, kau belum sehebat itu."
Yoongi tersenyum tipis, dia menggeleng pelan. "Well, well, iblis macam apa yang sudah kubawa ke rumahku?"
Jimin tersenyum miring, "Itulah persamaan kita."
Yoongi mengangkat pandangannya untuk menatap Jimin.
Jimin tersenyum padanya, senyumannya terlihat lembut dan manis, namun Yoongi tahu, senyuman manis Jimin sudah tidak lagi berarti manis untuknya.
"Kita sama-sama mengundang iblis masuk ke dalam rumah kita sendiri, Min Yoongi."
.
.
.
Ini sama seperti masuk ke dalam labirin.
Mulanya akan terasa menyenangkan.
Tapi nanti, ketika kita sudah melewati banyak persimpangan, tanpa jalan keluar, kita akan merasa panik, panik dan terus panik, hingga merasa kita akan mati di dalamnya.
Dan kemudian kita akan bermimpi.
Bermimpi, bahwa mungkin kita akan bisa keluar dari sini dengan berusaha.
Bermimpi, bahwa seharusnya kita tidak perlu melewati ini semua.
Bermimpi, bahwa kita bisa keluar dengan mudah.
Bermimpi, bahwa mungkin kita akan mati di dalamnya.
Jika kalian merasa terjebak, maka sadarlah bahwa mimpi dan harapan adalah sesuatu yang membuat kalian terjebak di dalamnya.
Sebelum kalian masuk ke dalam labirin, kalian akan merasa bahagia, kalian akan merasa bersemangat, kalian akan terus mencoba dan mencoba jalan baru, mencoba semua kemungkinan yang ada.
Mencoba segalanya.
Dan nanti, ketika kalian mulai merasa frustasi, maka kalian akan melemparkan diri kalian sendiri ke sarang iblis jika itu berarti kalian akan keluar dari labirin.
Kalian akan menjual jiwa kalian jika itu berarti kalian bisa keluar dari dalam labirin.
Karena pada dasarnya, semua manusia benci merasa tersesat.
Karena itu ada di dalam tubuh kita.
Kita tidak bisa berdiri diam dalam ketidakpastian dan merasa tersesat, kita butuh tujuan, butuh sesuatu untuk dicapai.
Dan jika kita sudah terdesak, maka kita akan melakukan apa saja agar bisa hidup.
Agar bisa keluar dari perasaan tersesat itu.
.
.
.
Taehyung menyodorkan sebuah marshmallow yang ditusuk dengan stik dan dibalut cokelat kepada Jungkook, Jungkook menerimanya dengan senang hati seraya mengucapkan terima kasih pada Taehyung.
Taehyung tersenyum dan duduk bersila di sebelah Jungkook yang sedang berdiri, Taehyung sama sekali tidak keberatan duduk di lantai ruangan walaupun beberapa orang mulai meliriknya dengan berbagai macam pandangan.
"Kookie suka?" ujar Taehyung.
Jungkook mengangguk, pipinya yang menggembung karena marshmallow bergerak-gerak lucu seiring dengan gerakannya mengunyah.
"Hyung, ini tempat apa?" tanya Jungkook seraya menggigit marshmallownya lagi.
"Ini ballroom, Mama sedang ada acara di sini."
"Acara? Apa itu?"
Taehyung melirik ke arah Seokjin yang melangkah masuk ke dalam ballroom bersama Jessica, dan Taehyung melihat bagaimana Namjoon berjalan menghampiri Seokjin kemudian mengajaknya pergi, sementara Jessica, wanita itu terlihat terpaku ke arah kedua orang yang berjalan menjauhinya sebelum kemudian dia kembali ke kerumunan pesta.
"Ini acara pernikahan Mamamu."
Jungkook mengerjap, "Menikah?"
Taehyung mengangguk, "Ya, Jungkook akan punya Papa sekarang."
Jungkook memiringkan kepalanya, "Kookie akan punya Papa?"
Senyum Taehyung muncul begitu saja saat melihat wajah bingung Jungkook, "Benar, Jungkook akan punya Papa." Taehyung meraih tubuh gempal Jungkook dan memutarnya hingga Jungkook bisa menatap ke arah Namjoon dan Seokjin, "Lihat Paman yang mengenakan pakaian berwarna abu-abu dan sedang berdiri di sebelah Mamamu? Itu adalah Papamu."
"Kookie tidak pernah punya Papa sebelumnya, Mama bilang, aku akan terus bersama Mama, jadi kami tidak perlu orang lain, Kookie hanya butuh Mama."
Taehyung terhenti, dia terdiam dan menatap Seokjin yang sedang sibuk tersenyum kepada tamu-tamu di acara pernikahannya.
Seokjin yang melakukannya.
Seokjin yang melakukan semua ini.
"Apakah Jungkook tidak ingin punya Papa?" bisik Taehyung.
"Aku tidak tahu rasanya punya Papa, tapi kelihatannya menyenangkan. Jadi Kookie mau punya Papa."
"Darimana Kookie tahu rasanya punya Papa itu menyenangkan?" Taehyung meraih stik yang berada di tangan Jungkook dan memberikannya kepada salah satu pengawal agar pengawal itu yang membuangnya.
"Karena aku sering melihat mereka saat Mama memintaku menunggu Mama bekerja. Banyak teman-teman yang memperkenalkan Papa mereka, dan mereka selalu bertanya dimana Papaku."
"Lalu, Kookie menjawab apa?"
"Kookie bilang, Kookie hanya punya Mama, tidak punya Papa."
Taehyung melirik Seokjin lagi, kemudian dia kembali menatap Jungkook. "Tapi, orang yang menjadi Papa Jungkook ini sangat keren. Dia hebat, berkuasa, dia pasti akan memberikan Jungkook banyak mainan dan akan membawa Jungkook ke sekolah."
"Sekolah? Kookie bisa sekolah?"
Taehyung mengangguk, "Ya, benar. Hebat, bukan?"
Jungkook mengangguk polos.
"Memiliki Papa itu menyenangkan, memiliki Mama memang hebat, tapi kalau kau memiliki Papa dan Mama, rasanya sangat luar biasa." Taehyung mencengkram lengan mungil Jungkook.
Jungkook diam, dia diam cukup lama sampai akhirnya tangan mungilnya terulur untuk menyentuh pipi Taehyung. "Hyung, kenapa menangis?"
Taehyung tersentak, dia berkedip dan airmata itu turun dari matanya dan mengalir ke pipinya.
"Apa Hyung merindukan Mama Hyung? Aku juga selalu menangis saat merindukan Mama."
Taehyung meringis, "Haha, Mama ya?" Taehyung menunduk, airmata itu jatuh semakin deras dari matanya. Taehyung berpegangan ke kedua lengan mungil Jungkook seolah seluruh hidupnya berada di sepasang lengan mungil itu.
"Hyung? Kenapa?"
Taehyung memejamkan kedua matanya rapat-rapat, mencoba menenangkan dirinya sendiri, dan setelahnya dia menarik napas dalam dan menghembuskannya dengan suara keras.
Taehyung berdehem sekali dan mengangkat kepalanya, "Iya, aku merindukan seseorang. Dia bukan Mamaku, tapi aku benar-benar menyayanginya, sangat menyayanginya."
"Seperti Jungkook menyayangi Mama?"
Taehyung tertawa pelan tapi dia mengangguk, airmata itu kembali mengalir turun dari matanya. "Hanya saja, Hyung menghancurkan semuanya."
Jungkook memiringkan kepalanya dengan wajah bingung.
"Aku menghancurkan hidupnya," Taehyung terisak, "Aku menghancurkan hidup orang paling berharga dalam kehidupanku. Aku bahkan lebih mencintainya daripada aku mencintai diriku sendiri. Tapi aku justru menghancurkan hidupnya."
Taehyung melepas pegangannya dari lengan mungil Jungkook, kedua tangannya jatuh ke lantai dan airmata itu turun dari matanya tanpa terkendali. Beruntungnya mereka karena mereka berada di sudut ruangan dan dikawal oleh enam orang penjaga, sehingga tidak akan ada seorangpun yang menyadari bahwa Taehyung menangis tersedu-sedu di kaki seorang balita.
"Hyung?" Jungkook menepuk-nepuk wajah Taehyung kemudian balita itu memeluk leher Taehyung. "Mama selalu memelukku saat aku menangis, seperti ketika aku terjatuh dari tangga taman. Dan biasanya aku akan berhenti menangis kalau Mama memelukku."
Taehyung tertawa di tengah tangisannya, dia memeluk tubuh mungil Jungkook dan menangis di sana. Dia tidak bisa menangis di hadapan orang lain, tidak juga di hadapan sosok itu.
Tidak, tidak setelah Taehyung menghancurkan hidupnya.
Taehyung masih berdoa, masih bermimpi, dan masih berharap bahwa suatu hari nanti dia bisa menyelamatkan orang itu, membawanya kembali ke kehidupan lama mereka yang menyenangkan.
Hanya saja, sekarang bukan hanya Taehyung dan dia.
Dan Taehyung harus menyingkirkan satu sosok yang menghalanginya, hanya saja, Taehyung terlalu takut untuk melakukan itu.
Dan jika Taehyung tidak juga menemukan keberaniannya, maka Taehyung dan orang itu tidak akan bisa bahagia. Mereka hanya akan selamanya hidup dalam mimpi, hidup dalam mimpi yang mungkin hanya terletak di dasar paling bawah.
Bukan mimpi yang diidamkan, tapi bukan juga mimpi yang dibenci.
Seseorang yang membawa mereka ke sini sangat tahu bahwa hasrat manusia tidak akan membuat mereka menolak berada di dalam mimpi ini.
Rasanya seperti terjebak di dalam labirin.
.
.
.
Mungkin Taehyung merasa bahwa tidak ada satu orangpun yang melihatnya menangis tersedu-sedu seraya memeluk Jungkook.
Memang, itu karena sebagian orang memilih untuk tidak peduli.
Tapi Taehyung melupakan sesuatu, di dalam ruangan penuh kepalsuan ini, terdapat beberapa orang yang benar-benar peduli padanya.
Hoseok menyesap champagnenya, pandangannya tertuju pada Taehyung yang masih memeluk Jungkook dengan bahu bergetar hebat. Hoseok menarik napas dan menghembuskannya perlahan, "Kalian memang monster."
Hoseok melirik ke arah Yoongi yang sedang berdiri diam dengan pandangan tertuju pada gelas yang dia mainkan di tangannya. Kemudian dia menatap Namjoon yang sedang berdiri di sebelah Seokjin, memeluk pinggang Seokjin seraya tersenyum professional kepada tamunya. "Kalian semua memang monster," Hoseok berbisik lagi.
Mungkin, mimpi Hoseok untuk mengembalikan orang-orang ini ke kehidupan yang sebenarnya masih jauh dari kata terwujud.
To Be Continued
.
.
.
Ribet ya? iya, emang. Hahahaha
Intinya sih, untuk paham sama semua ini, kalian hanya perlu peduli.
Karena kaitan diantara mereka sudah sangat-sangat jelas di sini.
.
.
Oke, ditunggu selalu tanggapannya!
