Seseorang pernah mengajarkan mengenai kekuatan dan kebodohan suatu perasaan bernama cinta.

Banyak dari mereka mengatakan bahwa itu adalah perasaan paling kuat sekaligus paling bodoh yang pernah dimiliki seseorang.

Kuat.

Karena dengan itu seseorang akan rela melakukan apapun, memikirkan apapun, memperjuangkan apapun, hanya demi memuaskan hasrat yang dimiliki dalam perasaan cinta.

Bodoh.

Karena dengan itu seseorang akan membenarkan segala bentuk perbuatannya. Dengan mengatas namakan cinta, seseorang akan dengan sadar membenarkan suatu tindakan yang salah.

Karena bagi mereka, tidak ada yang salah dari cinta.

Tapi bagi sebagian kecil orang, cinta penuh perasaan salah.

Jika kalian berpikir Dewa Zeus adalah yang terkuat. Maka kalian salah, Dewa terkuat adalah Eros, atau Cupid.

Karena dia yang mengendalikan kapan cinta itu ada atau tidak.

Dan cinta adalah sesuatu yang bisa membuat kutub utara menjadi kutub selatan.

Dia adalah sesuatu yang sanggup memutar balik dunia.

Karena manusia akan berubah menjadi sangat bodoh dan sangat kuat karena cinta.

Jika kalian berpikir itu hanya berlaku pada manusia, kalian juga salah.

Karena nyatanya, cinta adalah sesuatu yang bahkan sanggup membuka pintu neraka.

Ingat Hades? Dia adalah Dewa Neraka, penguasa dunia bawah. Neraka tertutup untuk semuanya hingga bahkan kedua Dewa saudaranya tidak bisa masuk sembarangan ke dalamnya.

Lantas, siapa seseorang yang berhasil membuka pintu terlarang itu?

Adalah Persephone, putri Dewi Demeter. Seseorang yang untuk pertama dan terakhir kalinya, sanggup membuat Hades sendiri merasakan perasaan cinta.

Cinta yang begitu kuat hingga bahkan sanggup memberikan perbedaan musim di bumi.

Cinta yang begitu kuat, terjadi hanya karena satu tatapan yang dilayangkan Persephone kepada Hades.

Persephone memiliki Hades, bahkan cenderung menguasainya.

Dan Hades sendiri sangat tidak keberatan dikuasai oleh Persephone.

Karena Hades mencintainya.


Heaven and Hell

.

.

.

a BTS fanfiction

by

Black Lunalite

.

.

.

.


Warn!

Mafia!AU, BL, contains some abuse and abusive relationship.

This story is pure fiction.

Read at your own risk.


.

.

.

.


Part 9: Hades and Persephone


Banyak orang mengatakan, titik balik kehidupan akan terjadi disaat Tuhan sudah merasa bahwa kita sudah mencapai batas dalam kehidupan. Maka di sanalah Tuhan akan memberikan sedikit berkahnya dan membuat seseorang yang tadinya sudah mati, menjadi hidup kembali.

Banyak yang mengatakan bahwa titik balik itu dapat terjadi kapan saja, tidak peduli bagaimana situasinya, titik balik itu dapat terjadi bahkan hanya dalam hitungan detik.

Tuhan bisa mengubah hidup seseorang lebih cepat daripada kecepatan jentikan jari.

Dan Seokjin sedang merasakannya.

Dia berdiri di tengah ballroom luas yang sudah sepi karena seluruh tamu sudah pulang, hanya ada beberapa petugas hotel yang sedang membereskan ballroom serta membuang sisa-sisa dekorasi pesta yang bertebaran di sana-sini.

Seokjin lupa berapa lama dia berdiri di sini, tapi yang dia tahu, Namjoon tidak ada di sini.

Pria itu pergi sejak beberapa puluh menit lalu tanpa mengatakan apapun pada Seokjin. Dia hanya berbalik dan pergi.

Ah, lagipula untuk apa pria itu menjelaskan kemana dia akan pergi?

Seokjin menunduk, menatap jarinya yang sudah berhiaskan cincin pernikahan dia dan Namjoon. namjoon mengenakan cincin yang sama, dan dia juga secara tidak langsung memaksa Seokjin untuk selalu mengenakan cincin itu kemanapun Seokjin pergi, kecuali jika Seokjin berada di rumah.

Dan Seokjin merasa, daripada cincin pernikahan, benda metal yang melingkar di jarinya ini lebih seperti kalung rantai untuk mengikat hewan agar tidak pergi.

"Seokjin,"

Seokjin menoleh ke arah asal suara dan melihat Jimin sedang berdiri tak jauh darinya, carrier dari keluarga Kim Namjoon itu tersenyum tipis padanya dan perlahan berjalan menghampirinya.

Jimin masih mengenakan setelan berwarna biru langit yang dia gunakan saat pesta, namun kancing jas pria itu sudah terbuka, dan kancing teratas kemejanya juga sudah dibuka, sedangkan dasi berwarna abu-abu terang itu sudah dilepas dan dililitkan di sekitar pergelangan tangannya.

"Sedang apa? Kau akan mengganggu mereka beres-beres." Jimin tertawa kecil, "Atau kau berniat mengawasi mereka agar kau bisa memastikan mereka benar-benar bekerja?"

Seokjin menggeleng pelan, "Tidak, aku hanya.. menikmati waktuku."

Jimin tersenyum lagi, "Kau memiliki dunia di tanganmu sekarang. Dengan menjadi pasangan hidup Kim Namjoon yang legal dan sah di mata hukum, secara otomatis kau memiliki separuh dari semua yang Kim Namjoon miliki."

"Dan apa saja itu?" tanya Seokjin, terdengar tidak antusias sama sekali.

"Well, kau bisa mendengar detailnya ketika penasehat hukum Kim Namjoon datang padamu."

Seokjin tertawa miris, "Dia memiliki sesuatu seperti itu?"

Jimin mengangguk tanpa beban, "Ya, Yoongi juga punya satu. Ketika aku dan dia mendaftarkan pernikahan kami, penasehat hukum Yoongi langsung datang menemuiku untuk mengurus apa-apa saja yang akan menjadi milikku."

Mata Seokjin membulat, "Kau dan Yoongi sudah menikah?"

Jimin mengangguk lagi, "Kau pikir kenapa aku bisa berada di rumah itu dan dengan seenaknya berlarian ke sana-sini? Itu karena aku memegang Yoongi di tangan kananku." Jimin tersenyum miring, "Dunia Yoongi adalah sebagian dari duniaku."

"Tapi kalian tidak terlihat seperti itu." ujar Seokjin polos karena jika dilihat dari bagian manapun, Jimin sangat kuat dengan dirinya sendiri.

"Tentu saja, itu karena duniaku bukanlah dunia Yoongi." Jimin menghela napas pelan, "Ah, sudahlah. Ini bukan bahasan yang penting," Jimin menoleh ke arah Seokjin, "Jungkook sudah mau tidur tapi dia menanyakanmu, makanya aku mencarimu ke sini."

Seokjin tersentak, mendadak teringat soal anaknya yang sejak awal pesta dimulai sudah tidak dilihatnya. "Dimana Jungkook?"

"Di mobil, bersama Taehyung. Kita harus pergi, setelah ini penjaga dari Kim Namjoon akan melakukan pemeriksaan akhir. Dan mobil yang akan kau tempati sudah dipastikan aman, jadi kau bisa pergi dengan tenang."

Dahi Seokjin berkerut, "Apa maksudnya?"

Jimin mengulum bibirnya, "Tidak penting apa maksudnya. Kau akan mengerti nanti."

Seokjin masih memasag wajah bingungnya, namun Jimin tidak membiarkan Seokjin diam terlalu lama. Dia segera mendorong Seokjin untuk keluar dari ballroom yang masih dibersihkan.

Ketika Seokjin tiba di dalam mobil, dia melihat Jungkook sudah duduk di kursi belakang dengan Taehyung duduk di kursi depan bersama supir.

"Hyung, kenapa lama sekali? Jungkook mencarimu." Taehyung mengeluh pelan saat Seokjin merangkak masuk dan pintu mobil menutup.

"Maaf, aku.." Seokjin menunduk menatap bayinya yang memasang wajah cemberut. "Kookie marah pada Mama?" bisik Seokjin.

Jungkook memalingkan pandangannya dan kembali cemberut.

Seokjin mengulum senyum geli, "Kookie benar-benar marah pada Mama?"

Jungkook melirik Seokjin kemudian dia meraung marah dan melompat ke dalam pelukan Seokjin. Seokjin tertawa dan menangkap tubuh gempal Jungkook dan mengusap-usap punggungnya.

"Aigoo, sudah sebesar ini tapi Kookie belum bisa tidur sendiri, huh?" bisik Seokjin.

Taehyung tertawa, "Astaga jadi dia marah karena itu? Kukira dia marah karena sudah berjam-jam tidak melihatmu."

Seokjin mengusap rambut halus bayinya. "Kookie memang seperti ini, dia tidak akan mau tidur jika aku tidak ada di sisinya. Jungkook takut aku tidak ada saat dia bangun dari tidurnya."

Taehyung tertegun, "Apa itu pernah terjadi?"

Seokjin memperbaiki posisi duduk bayinya dalam pangkuannya. Seokjin mengusap dahi Jungkook dengan hati-hati dan Jungkook perlahan mulai tertidur hanya dengan sentuhan ringan itu.

"Apakah itu pernah terjadi? Ya, tentu saja." Seokjin memeluk Jungkook lebih erat, "Semua hal pernah terjadi di hidup kami."

Taehyung terdiam, dia bahkan tidak sanggup bertanya lebih jauh karena dia sudah paham maksud dari perkataan Seokjin. Seokjin dan Jungkook memang hanya membutuhkan satu sama lain untuk tetap hidup.

"Kamar baru Jungkook sudah selesai dirapikan, kudengar kamarnya sangat sesuai dengan kesukaan Jungkook." Taehyung berujar cepat, mencoba menutupi atmosfer yang sempat turun dan juga tentunya mengalihkan pembicaraan karena saat ini masih ada seorang supir selain mereka yang ikut mendengarkan percakapan mereka.

"Kamar baru?" ujar Seokjin bingung.

"Ya, mulai sekarang kau akan menempati kamar tidur utama. Maka Jimin Hyung mengusulkan untuk membuat kamar khusus untuk Jungkook. Aku dan Jimin Hyung sudah membeli semua perlengkapannya dan para pelayan sudah membereskan kamarnya hari ini."

Seokjin menunduk menatap putranya yang tertidur dalam pelukannya. "Begitu.."

"Barang-barangmu juga sudah dipindahkan ke kamar Namjoon Hyung. Dan sesuai perintah Namjoon Hyung, kami juga sudah mengisi apartemen pribadinya dengan barang-barang untukmu."

Seokjin mengangkat kepalanya saat mendengar itu, "Apartemen pribadi?"

Taehyung mengangguk, "Namjoon Hyung memiliki satu apartemen pribadi. Aku juga tidak tahu lokasi pastinya, yang tahu hanya Yoongi Hyung." Taehyung menoleh ke belakang untuk menatap Seokjin, "Itu benar-benar tempat pribadinya."

Seokjin menunduk menatap Jungkook, "Apakah dia juga membawakan barang-barang Jungkook ke sana?"

"Tidak, hanya barang-barangmu." Taehyung menggumam pelan, "Mungkin dia hanya ingin kau yang masuk ke sana?"

Seokjin mendengus, "Itu gila." Seokjin memalingkan pandangannya ke luar jendela, "Dimana Jimin? Apakah di mobil di belakang kita?"

"Ah, Jimin Hyung? Dia akan pulang bersama Yoongi Hyung." Taehyung memalingkan pandangannya ke jendela. "Dia harus menunggu Yoongi Hyung jika sedang berada di luar."

"Kenapa?"

"Karena Yoongi Hyung memintanya. Dan Jimin Hyung akan menurutinya, selalu." Suara Taehyung terdengar pecah di akhir kalimatnya namun pemuda itu menutupinya dengan berdehem keras-keras.

"Ah, aku mengantuk, aku akan tidur sebentar sampai kita tiba di rumah." Taehyung berdehem lagi kemudian dia menyamankan posisinya di kursi agar bisa tidur.

Sementara Seokjin hanya mendengarkan dalam diam kemudian dia menatap ke arah supir yang berada di mobilnya. "Dimana Namjoon?"

"Tuan Besar sedang pergi mengurus beberapa hal, Tuan Seokjin."

Seokjin mengangguk singkat, "Begitu.."

Kemudian setelahnya Seokjin kembali menunduk menatap Jungkook yang tertidur pulas dalam pangkuannya. Sekarang status Jungkook sudah berubah, dia sudah memiliki sosok ayah yang tidak pernah dia dapatkan.

Namun entah kenapa, Seokjin masih berpikir bahwa ini bukan keputusan yang bagus.

Lagipula, Seokjin masih tidak yakin dengan sikap Namjoon pada putra semata wayangnya yang lugu.

Apakah Namjoon akan menerimanya?

Atau bahkan meminta Seokjin memberikan Jungkook pada orang lain?


.

.

.


Sesuai dengan ucapan Taehyung, Jungkook mendapatkan kamar baru yang seluruh dekorasi dindingnya penuh dengan tokoh Iron Man sedangkan di lemarinya penuh figurine tokoh superhero dan juga setumpuk boneka kelinci karena Jungkook juga mencintai kelinci.

Seokjin menatap seisi kamar baru Jungkook dengan seksama, jika dilihat dari manapun, kamar itu jelas akan menjadi kamar favorit Jungkook.

Ketika Seokjin sudah selesai menempatkan Jungkook dan bermaksud keluar, dia menemukan Namjoon yang berdiri di ambang koridor, dia sudah berganti pakaian dengan pakaian santai dan mau tidak mau ini membuat Seokjin menunduk menatap dirinya sendiri yang bahkan masih memakai pakaian yang sama dengan yang tadi.

"Anakmu sudah tidur?" tanya Namjoon tanpa beranjak sedikitpun dari posisinya, berdiri di tengah koridor dengan pandangan tajam ke Seokjin.

Seokjin mengangguk, kepalanya menunduk menatap kakinya yang berbalutkan sandal rumah.

"Ganti bajumu dan datanglah ke ruang kerjaku." Namjoon berbalik namun setelahnya dia terhenti, "Password untuk masuk ke kamarku itu 4869."

Seokjin tertegun, tapi sebelum dia bertanya, Namjoon sudah berjalan meninggalkannya di koridor. Dahi Seokjin masih berkerut ketika dia berjalan menuju kamar Namjoon dan ketika dia tiba di depan pintu kamar sang tuan rumah, Seokjin langsung mengerti.

Namjoon memasang password di pintu kamarnya.

Hebat.

Apakah ini karena Seokjin menyusup ke kamarnya dan nyaris membunuhnya malam itu?

Seokjin mendecih pelan, dia membuka password untuk masuk ke kamar Namjoon dan ketika pintunya terbuka, Seokjin langsung disambut dengan kamar Namjoon yang kosong dan bernuansa kelam seperti biasanya.

Seokjin menutup pintu kamar dan berjalan masuk, mulanya dia tidak tahu apa sebenarnya yang dia lakukan di sini dan kenapa pula Namjoon menyuruhnya untuk menetap di sini.

Bukankah mereka masih saling membenci? Seokjin bahkan hampir pingsan karena harus berada sedekat itu dengan Namjoon sepanjang hari ini.

Seokjin membuka pintu menuju kamar mandi dan memutuskan untuk mandi, dan dia melihat bahwa memang semua barang-barangnya telah dipindahkan ke kamar Namjoon, termasuk perlengkapan mandi yang sebelumnya masih berada di kamarnya yang lama.

Para pelayan yang bekerja di rumah ini patut mendapatkan penghargaan atas kecermatan mereka bekerja.

Seokjin memutuskan untuk segera mandi dan mengganti pakaiannya dengan piyama, dan setelah selesai dia berjalan ke ruang kerja Namjoon. Seokjin mengetuk pintunya dan pintu ruang kerja itu terbuka secara otomatis dua detik setelah Seokjin mengetuk pintunya.

Kaki Seokjin melangkah masuk ke dalam dan dia melihat Namjoon duduk tenang di kursinya, sebuah gelas wine yang terisi separuh berada di atas meja dan Namjoon sedang memainkan kaki gelas itu.

"Kenapa kau memintaku ke sini?"

"Untuk menjelaskan kewajibanmu." Namjoon mengubah posisinya menjadi menghadap Seokjin, "Kau dan anakmu, resmi menjadi milikku."

Seokjin menggigit bagian dalam pipinya, "Aku tahu."

"Aku masih menginginkan keturunan darimu."

Gigitan itu berubah menjadi semakin kuat, "Aku tahu," Seokjin mengepalkan kedua tangannya yang samar-samar mulai bergetar.

Dia tidak boleh terlihat lemah di hadapan Kim Namjoon.

Tidak boleh.

"Aku sudah mengganti marga Jungkook dengan margaku, begitu juga dengan margamu. Derajatmu sudah naik, kau bukan lagi Kim generasi kesekian." Namjoon menyesap winenya, "Kau tidak ingin mengatakan apapun padaku?"

Seokjin menatap Namjoon, dia menahan diri untuk tidak terlihat lemah. "Ya, terima kasih."

Namjoon tersenyum miring, "Selama kalian berada di bawah namaku, kalian akan berada dalam perlindunganku, 24 jam penuh. Dan kau, harus menuruti perintahku mulai sekarang."

Seokjin menahan napasnya, dia mencoba memikirkan argumentasi untuk apapun yang mungkin dikatakan Namjoon nantinya namun Seokjin tidak berhasil menemukan apapun.

Yang sedang dibahas saat ini adalah uang.

Uang.

Godaan Tuhan dan iblis yang paling mematikan.

Dan sialnya tidak pernah Seokjin miliki.

"Aku tahu," Seokjin berbisik lagi.

Namjoon berdiri, "Kewajibanmu adalah anak untukku. Seorang dominan, harus. Karena Jungkook bukan dominan. Aku tidak bisa menjadikannya pewaris utama."

Ketakutan itu masih terasa menelan Seokjin. Namjoon masih akan terus membawa ketakutan tersendiri untuknya tidak peduli bagaimana Seokjin mencoba mengatasinya.

"Kau.. akan menganggap Jungkook sebagai anakmu?"

"Ya, aku sudah menyiapkan cerita bagus untuk media massa." Namjoon berdiri tepat di sebelah Seokjin, sedikit membungkuk untuk mendekati telinga Seokjin yang tertutup rambut, "Aku akan mengatakan pada media kalau dia adalah anakku."

"Dia bukan anakmu, dia.."

"Dia anak Jaehwan, aku tahu. Tapi.. bukankah Jaehwan sendiri mengatakan kalau dia tidak percaya Jungkook adalah anaknya? Dan orangtuamu, apakah mereka percaya?" Namjoon melipat tangannya di depan dada, "Aku tidak mau membuang waktu untuk mengurus sesuatu yang merepotkan, aku sudah memalsukan banyak data tentangmu. Karena sekarang semua orang sangat tertarik untuk mengetahui kehidupanmu sebelum kuperkenalkan secara resmi sebagai sesuatu yang kumiliki."

Seokjin mendengus remeh, "Aku.. milikmu?"

"Bahkan jiwamu adalah milikku."

Seokjin tersenyum meremehkan, dia menatap Namjoon. "Baiklah, lantas, apa yang harus kulakukan?"

Namjoon menaikkan sebelah alisnya saat melihat Seokjin mulai berani menjawabnya. "Oke, mulai besok kita akan menghadiri kurang lebih selusin pesta selama sepuluh hari. Semua penjilat itu sedang berusaha mencuri waktu untuk mendapatkan perhatianku karena mereka pikir aku sedang 'senang'." Namjoon tersenyum meremehkan, "Mereka hanya kumpulan orang-orang bodoh."

Seokjin menggerakkan bola matanya liar, sepuluh hari. Sepuluh hari penuh pesta yang harus Seokjin hadiri. Sebuah neraka untuknya yang membenci keramaian.

"Kamera akan berada di tiap pesta, mereka tentunya ingin merekammu di setiap kesempatan. Jadi kuingatkan padamu untuk tidak menunjukkan wajah depresimu di depan mereka, atau aku akan mengoperasi wajahmu agar kau selalu terlihat ceria."

Seokjin tersentak, dia menunduk dengan jari yang mulai sedikit gemetar.

"Sepuluh hari, dan setelahnya adalah waktunya bagimu untuk memberikanku penerus."

Seokjin memejamkan matanya.

Pada akhirnya dia akan tetap kembali ke tugas utamanya.

Dia memang tidak lebih dari itu. Dia memang hanya sebatas itu di dalam kehidupan ini.

"Bagaimana jika aku tidak mau? Apakah kau akan membunuhku?" tanya Seokjin serak.

"Ya,"

"Kapan?" Seokjin mengangkat pandangannya untuk menatap Namjoon, "Sekarang?"

Namjoon bersandar di mejanya dengan Seokjin yang berdiri kaku di hadapannya, "Kau ingin aku membunuhmu sekarang? Bukan masalah."

Seokjin menekan kedua rahangnya kuat-kuat, "Jungkook.."

Namjoon memiringkan kepalanya, menunggu Seokjin melanjutkan.

"Jika aku mati.. bagaimana dengan Jungkook?"

"Dia milik Taehyung, terserah mau dia apakan. Aku mengambil Jungkook dari Taehyung hanya karena dia anakmu. Jika kau tidak ada, anak itu juga tidak akan berguna untukku."

"Kalau begitu.. bunuh aku." Seokjin menatap Namjoon, "Karena aku tidak mau memberikan keturunan untukmu."

Namjoon tersenyum, dan itu bukan jenis senyuman sedih, gembira, atau lainnya.

Itu adalah senyuman meremehkan.

Namjoon berdiri, dan sebelum Seokjin sempat memproses, Namjoon sudah menariknya ke dalam kungkungan lengannya. Sebelah lengan Namjoon mencengkram pinggulnya dan tangan lainnya digunakan Namjoon untuk menahan kedua tangan Seokjin di belakang punggungnya.

Seokjin tersedak karena tarikan tangan Namjoon dan cengkraman di pinggulnya membuat Seokjin merasa sesak. Dia meringis pelan, mencoba berharap Namjoon akan melonggarkan sedikit saja cengkramannya di pinggul Seokjin namun sepertinya itu tidak akan terjadi.

Namjoon seolah ingin meremukkan tubuh Seokjin dengan tangan kosong.

"Aku bahkan bisa membunuhmu seperti ini." bisik Namjoon, dia meremas pinggul Seokjin semakin kuat dan setitik airmata mulai muncul di mata Seokjin.

Seokjin menahan isakan kesakitannya dengan menggigit bagian dalam pipinya, rasa anyir darah mulai terasa mengumpul di dalam mulutnya namun Seokjin membiarkannya.

"Carrier terlahir dengan tubuh jauh lebih halus dari dominan." Namjoon memulai, "Membiarkan dominan membunuhmu.. ah, salah, membiarkan dominan sepertiku membunuhmu.." Namjoon menyeringai, "Itu adalah pekerjaan yang terlalu mudah."

Sebuah erangan kesakitan lolos dari mulut Seokjin saat Namjoon meremas tangannya yang berada di belakang punggung. Itu sakit, sakit sekali.

"Apakah kau berpikir kematian seindah itu? Apakah kau adalah satu diantara sekian orang-orang bodoh yang menganggap bahwa masalahmu akan selesai dengan menghampiri dewa kematian?" Namjoon menyeringai, "Kau salah,"

"Kematian tidak akan membuatmu merasa lebih baik. Lari ke dewa kematian saat kau merasa terjebak dalam masalahmu hanyalah sebuah tindakan pengecut. Kau pikir kenapa Tuhan membenci mereka yang melakukan bunuh diri? Itu karena mereka pengecut, Tuhan tidak pernah membuat kita lemah. Itu adalah sugesti kita sendiri, ketakutan kita terhadap sesuatu. Suatu sisi bodoh yang sialnya selalu dimiliki tiap manusia."

Seokjin bisa merasakan airmata itu turun dari matanya karena cengkraman Namjoon terasa semakin menyakitkan.

"Jika kau memilih mati saat ini, aku akan membantumu. Tapi aku akan melakukannya dengan begitu perlahan hingga kau bisa merasakan tiap detik dewa kematian itu mendekatimu."

Seokjin tersedak, isakan lolos dari bibirnya karena Namjoon terlihat akan benar-benar membuktikan ucapannya. "B-berhenti.."

Namjoon tersenyum miring, "Apa?"

"H-hentikan.. to-tolong.."

Namjoon tertawa kecil kemudian dia melepaskan Seokjin dan agak melemparnya sehingga Seokjin langsung tersungkur di lantai. Seokjin membentur lantai dengan cukup keras, kedua pergelangan tangannya terasa berdenyut nyeri dan Seokjin bisa melihat memar bekas tangan di sana.

Namjoon menatap Seokjin yang masih tersungkur di lantai, "Katakan pada Jessica memar itu karena aku mencengkerammu terlalu kuat pada malam pertama kita." Namjoon mengusak rambutnya ke belakang, "Dan katakan juga hal yang sama untuk memar di pinggulmu. Sekarang, keluar."

Seokjin berusaha bangkit dengan tubuh yang masih gemetar, dia memaksakan tangannya yang memar untuk menopang tubuhnya dan bergerak bangun.

Namjoon kembali ke kursi kerjanya dan menghabiskan wine yang berada di dalam gelasnya. "Keluar, kau tahu password untuk masuk ke dalam kamarku."

Seokjin menarik napas dan berjalan keluar dengan langkah terseok, ketika dia berhasil keluar dari ruang kerja Namjoon, Seokjin langsung menyandarkan tubuhnya ke dinding, napasnya masih terengah dan dengan hati-hati dia mengangkat piyamanya untuk melihat memar di pinggulnya.

Memar itu juga memar bekas tangan, dan perlahan warnanya mulai berubah menjadi biru keunguan. Seokjin menarik napas dan perlahan menurunkan pakaiannya kembali, dia masih terisak dan sesekali akan tersedak tangisannya sendiri, namun Seokjin kembali bergerak untuk pergi menuju kamarnya.

Seokjin mengangkat kedua tangannya yang memar ke depan wajahnya dan menatapnya.

"Cengkeraman tangan kanan," Seokjin memperhatikan tangannya yang gemetar dan dipenuhi memar merah pekat, "Tangan kirinya juga mengerikan tapi tangan kanannya lebih kuat." Seokjin berbisik seraya menopang pinggulnya yang nyeri, "Dia bahkan nyaris mematahkan pinggulku."

Seokjin menarik napas, dia mencoba menenangkan dirinya sendiri agar berhenti terisak karena itu akan membuatnya terlihat lemah.

"Tidak apa, Seokjin. Ini adalah jawaban dari doamu, Tuhan tahu kau seseorang yang kuat, maka Tuhan memberikan jawaban untuk doamu dalam bentuk seperti ini." bisik Seokjin seraya terus melanjutkan langkahnya yang terseok menuju kamarnya.


.

.

.


Jimin menyandarkan tubuhnya di dinding koridor dengan tangan yang terlipat di depan dada, sejak tadi dia memperhatikan pintu ruang kerja Namjoon ketika Seokjin melangkah masuk ke sana. Entah apa yang terjadi di dalam sana karena ruangan itu kedap suara sehingga Jimin bahkan tidak akan mendengar suara teriakan dari dalam sana.

Tapi ketika Seokjin keluar dengan terseok dari ruangan Namjoon seraya memperhatikan tangannya dan juga menyibak piyamanya untuk memeriksa pinggulnya, Jimin langsung menyadari bahwa apapun yang terjadi di sana bukanlah sesuatu yang baik.

Seokjin memang tidak menyadari kehadian Jimin karena dia terlalu sibuk terisak dan memeriksa luka-luka di tubuhnya, tapi Jimin bisa melihat memar mengerikan di pinggul Seokjin ketika pria itu menyibak pakaiannya.

"Jimin,"

Jimin menoleh dan dia melihat Yoongi berjalan menghampirinya.

"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Yoongi.

"Memperhatikan buruan terbaru Namjoon." ujar Jimin tanpa dosa. "Kelihatannya kau dan Namjoon memiliki satu kebodohan yang sama."

Dahi Yoongi berkerut, "Apa maksudmu?"

"Hei, Yoongi." Jimin memotong ucapan Yoongi. "Pernah mendengar kisah Hades dan Persephone?"

Yoongi mengangguk, dia lupa kapan kiranya Jimin menjadi semanipulatif ini. Tapi jika melihat apa saja yang sudah Jimin lalui, tidak heran jika dia berubah menjadi seperti ini.

Tidak ada lagi Jimin yang akan dengan senang hati memberikan senyuman tulus padanya.

Tidak ada lagi Jimin yang akan selalu memanggilnya dikala dia merasa kesulitan.

Tidak ada lagi Jimin yang Yoongi kenal. Karena Yoongi sudah membunuhnya, melemparkan sesuatu seindah Jimin ke neraka untuk hidup bersamanya dan membakar Jimin dengan keegoisannya.

Yoongi yang membuat Jimin menjadi seperti ini. Karena dialah yang sejak awal mematahkan sebelah sayap malaikat Jimin dan membawanya masuk ke dalam neraka, membuat Jimin tidak lagi sempurna karena Yoongi sudah mengambilnya.

Yoongi mengambil semua rasa percaya dalam diri Jimin.

"Hades adalah Dewa Neraka, tapi dia jatuh cinta pada Persephone." Jimin menatap Yoongi, "Apa kau tahu kenapa?"

"Mungkin karena itu takdirnya?"

Jimin menggeleng, "Hades tidak pernah jatuh cinta pada siapapun sebelumnya. Lantas, kenapa Persephone? Bukankah Olympus memiliki Aphrodite yang sudah terkenal cantik luar biasa?"

Yoongi diam, dia lebih memilih untuk mendengarkan Jimin bercerita.

"Itu karena pada akhirnya, Hades menemukan seseorang yang sebanding dengannya. Persephone adalah lawan Hades, seseorang yang sanggup melawannya dengan penuh." Jimin tersenyum tipis, "Kau dan Namjoon itu sama. Kalian sama-sama membawa Persephone masuk ke dalam rumah kalian."

Jimin melemparkan senyum tipisnya untuk Yoongi kemudian dia berlalu untuk kembali ke kamarnya.

Setelah Jimin pergi, Yoongi menunduk menatap tangannya sendiri.

"Ya, kau benar. Aku dan Namjoon sama saja, karena kami dengan bodohnya menarik Persephone untuk masuk ke dalam rumah kami dengan paksa, tanpa memikirkan konsekuensinya."


.

.

.


Jungkook duduk dengan satu tangan memegang sendok untuk menyuap sereal, dan satu tangan memegang strawberry berlapis cokelat yang diberikan Taehyung padanya.

Sejak mengenal cemilan baru berupa strawberry berlapis cokelat, Jungkook mendadak seolah kecanduan akan rasanya dan Taehyung adalah satu-satunya orang yang selalu menyediakan cemilan itu untuk Jungkook.

Seokjin memperhatikan Jungkook yang makan dengan lucu, dia pun mulai mengisi piringnya dengan makanan sebelum suara Taehyung menghentikannya.

Seokjin mendongak menatap Taehyung, "Ya, Taehyung?"

Taehyung menuding pergelangan tangan Seokjin yang diperban, "Apa yang terjadi pada tanganmu?"

Seokjin menunduk menatap tangannya sendiri, "Aah.. ini? Bukan apa-apa."

Taehyung terlihat tidak puas dengan jawaban itu namun Seokjin sepertinya tidak ingin membahas lebih jauh dan terlebih lagi Namjoon sudah berjalan memasuki ruang makan dan duduk di kursinya.

"Setelah sarapan, seseorang akan datang menemuimu untuk membahas beberapa sertifikat kepemilikan untukmu." Namjoon berujar santai seraya meraih cangkir kopinya dan menyesap isinya.

Seokjin mengangguk, "Aku tahu,"

"Sore ini kita akan pergi mencari sekolah yang bagus untuk Jungkook. Aku akan memanfaatkan momen itu untuk memperkenalkan Jungkook kepada media." Namjoon meraih koran paginya, "Walaupun sebenarnya foto Jungkook sudah tersebar di beberapa media dan semua orang bertanya-tanya siapa dirinya dan kenapa dia mendapatkan pengamanan luar biasa di hari pernikahan kita."

Taehyung yang sejak tadi diam mendengarkan menoleh ke arah Namjoon, "Apakah itu tidak berbahaya untuk Jungkook? Dia masih terlalu kecil."

Namjoon melirik Taehyung dari balik koran paginya, "Ya, karena itulah aku sudah menyuruh beberapa orang untuk menjaga Jungkook. Semua pengawalmu sekarang akan menjadi pengawal Jungkook, kau bisa pilih yang baru untuk dirimu sendiri."

Taehyung mengerang, "Tapi aku suka Jinyoung Hyung." rengek Taehyung.

Namjoon membalik lembaran koran paginya, "Mobilmu sedang diperiksa, pagi ini kau akan pergi dengan supir."

"Kenapa?"

"Seseorang meninggalkan alat penyadap saat kau membawa mobilmu ke sekolah. Untungnya garasi mobilmu berbeda dengan mobilku." Namjoon menutup korannya dan meletakkanya di meja, "Bukankah sudah kubilang berulang kali untuk tidak ceroboh?!"

Taehyung mengangguk dengan wajah cemberut, "Maaf.."

Seokjin meringis, Taehyung benar-benar terlihat seperti anak kecil yang baru saja dimarahi oleh orangtuanya. Kemudian pandangan Seokjin beralih ke Jungkook dan dia menyadari bahwa Jungkook sedang menatap Namjoon.

"Kookie?" bisik Seokjin.

Jungkook menoleh ke arah Seokjin, "Mama, apakah sekarang aku benar-benar memiliki Papa?"

Seokjin tersedak, Taehyung bahkan sudah terbatuk-batuk keras.

Namjoon menghentikan gerakannya dan menatap Jungkook, "Itu benar, aku Papamu sekarang."

Jungkook mengerjap dengan polos, "Kenapa?"

"Tidak ada alasan khusus. Tapi mulai sekarang Jungkook bisa memanggilku 'Papa' atau 'Daddy'." Namjoon mengangkat bahunya, "Apapun itu aku tidak keberatan."

Taehyung berdecak pelan, "Kau tidak pernah mengatakan sesuatu seperti itu padaku, Hyung. Padahal aku anak adopsimu."

Namjoon mendengus, "Kau bukan anak adopsiku, kau anak.."

"Namjoon!"

Bentakan dengan suara keras itu berhasil menghentikan omongan Namjoon dan ketika Namjoon menoleh, dia melihat Jimin sedang menatapnya dengan tajam.

Namjoon tersenyum tipis, "Maaf," ujarnya tanpa rasa bersalah.

Sementara Taehyung terdiam, dia menatap Jimin yang berjalan cepat untuk masuk ke ruang makan dan duduk di kursinya. Jimin berdehem kemudian menatap Taehyung, "Taehyung, cepat makan atau kau akan terlambat ke sekolah."

Taehyung mengangguk dan kembali memakan sarapannya. Dia memperhatikan Jimin yang terlihat gugup dan mulai mengambil makanan untuk sarapannya.

Taehyung tersenyum tipis. Sebenarnya, tanpa perlu dicegah pun Taehyung sudah tahu.

Dia sudah tahu semuanya.

Apa saja yang dilalui olehnya hanya agar bisa bertemu Taehyung di rumah ini.

Taehyung sudah tahu, dan tidak ada hari yang dilewati Taehyung tanpa perasaan bersalah itu.

Sebenarnya bukan salah Taehyung dia berada di rumah ini.

Seseorang hanya membukakan pintu menuju apa yang dulu Taehyung sebut 'kebahagiaan', dan Taehyung terlalu polos untuk berpikir, sehingga dia segera melompat melewati pintu itu dengan bangganya.

Tanpa tahu bahwa seseorang di belakangnya mencoba mencegahnya. Mencoba menariknya kembali ke sesuatu yang bernama 'kehidupan normal'.

Tapi Taehyung sudah terlanjur melewati pintu, dan dia tidak memiliki pilihan untuk kembali. Karenanya orang itu memilih untuk melewati pintu yang sama. Hanya saja, tidak ada orang yang mau membukakan pintu itu untuknya hingga dia terpaksa memohon agar dibukakan pintu, tentunya dengan bayaran yang setimpal.

Dan bayaran itu adalah sesuatu yang tidak akan bisa Taehyung kembalikan seumur hidupnya.


.

.

.

Menurutmu, kenapa Hades jatuh cinta pada Persephone?

Itu karena Persephone adalah lawan yang seimbang untuk menandingi Hades.

.

.

Menurutmu, kenapa Persephone mau tinggal di Neraka?

Karena dia tahu, hanya dia yang bisa mengendalikan Hades.

.

.

Menurutmu, siapa Persephone?

Dia adalah sosok terkuat dalam cerita Hades dan Persephone.

Sosok superior di sini bukanlah Hades.

Karena Hades adalah pihak pertama yang jatuh cinta pada Persephone.

.

.


To Be Continued


.

.

.

Gimana? Gimana?

Masih bingung? Nggak dong ya. hehehe /dihajar

Sejujurnya, tebakan kalian itu 98% salah. Hehehe

Ada 2% yang bener, tapi nggak semuanya bener. Apa ff ini serumit itu?

Kalo beneran rumit, maka aku akan menggelar selebrasi sendiri karena berhasil membuat sesuatu yang baru dan lain dari ffku yang biasanya :')

.

.

Dan pastinya masih akan ada pertanyaan mengenai kapankah kiranya NamJin mau membuat adik untuk Jungkook. Ya, aku yakin akan ada yang nanya itu.

Maka jawabannya adalah. Masih lama.

Si NamJin ini masih musuhan lho gaes. Seokjinnya masih trauma. Aku mencoba membuat ini masuk akal karena lagi-lagi, nggak akan ada orang yang lagi musuhan sampe bunuh-bunuhan tiba-tiba oke-oke aja buat tidur bareng.

Namjoon emang kejam, kejam banget. Tapi Namjoon itu pinter.

Seokjin? Seokjin ya.. gitu (?)

.

.

Intinya ditunggu selalu tanggapannya.

.

.

P.S:

Karena banyak pertimbangan dan lain-lainnya. Kira-kira kalau ff ini aku pindahin seutuhnya ke wattpad, kalian keberatan atau nggak?

Soalnya di wattpad bisa aku private ffnya, di sini nggak T-T

Dan ff ini selalu aku update lebih dulu di wattpad.