Jika saja Tuhan memang ada, mungkin semua orang akan berdoa kepadanya.
Ya, jika saja Dia ada, tentunya semua orang akan tunduk kepadanya.
Tapi.. benarkah Tuhan itu ada?
Tuhan ada karena keyakinan manusia.
Tuhan ada karena keinginan manusia.
Tuhan ada karena kepercayaan.
Karena itu rasa percaya adalah satu hal terpenting di dunia ini.
Jika kalian berpikir rasa terkuat dan sesuatu yang terkuat adalah cinta dan kasih sayang, kalian salah.
Cinta berawal dari rasa percaya.
Rasa percaya bahwa kita akan mengenal sosok itu.
Rasa percaya untuk membiarkan kita mengenal lebih jauh sosok itu.
Rasa percaya untuk membiarkan dia perlahan-lahan mulai memasuki kehidupan kita.
Rasa percaya untuk membiarkan dia memegang hati kita di genggaman tangannya.
Rasa percaya bahwa mungkin, dia juga akan memberikan hatinya pada kita dengan sukarela.
Karena dia pun percaya pada kita.
Rasa cinta berawal dari rasa percaya.
Dan apakah kepercayaan itu nyata dan terlihat?
Tidak, dia adalah sesuatu yang berada di dalam alam bawah sadar kita sebagai manusia.
Ada kalanya kita tidak menyadari bahwa kita sudah percaya kepada seseorang hanya karena sebuah tindakan kecil.
Seperti ketika kita akan menyeberang jalan, dan ada seseorang yang berbaik hati untuk membantu kita, tanpa sadar kita akan percaya bahwa dia akan benar-benar membantu dan bukannya meninggalkan kita untuk tertabrak kendaraan yang melintas.
Itu adalah sebuah tindakan refleks.
Kepercayaan adalah sebuah tindakan refleks.
Sesuatu yang tanpa sadar kita lakukan, dan entah kenapa, selalu kita lakukan.
Pondasi sebuah hubungan, entah itu relasi ataupun hubungan asmara, semuanya berawal dari kepercayaan.
Seperti kisah ini, ini semua bermula dari kepercayaan kita bahwa nantinya Tuhan akan membawa kita kepada nasib baik.
Seperti ketika Seokjin percaya bahwa Tuhan akan menjawab doanya. Bahwa Tuhan nantinya akan memberikan pertolongan padanya.
Seokjin percaya, dan apakah buah dari kepercayaannya?
Apakah saat ini, Tuhan sudah benar-benar menjawab doanya?
Jika kalian bertanya pada Seokjin, maka Seokjin akan menjawab 'Iya' tanpa ragu.
Lantas, bagaimana jika kalian bertanya pada Namjoon?
Jika kalian bertanya pada Namjoon, maka pertanyaannya bukanlah 'Apakah Tuhan telah menjawab doanya?'
Melainkan, 'Apakah Namjoon bahkan pernah percaya kepada eksistensi Tuhan?'
Karena sesungguhnya, itu bukanlah sebuah pertanyaan untuk Namjoon.
Heaven and Hell
.
.
.
a BTS fanfiction
by
Black Lunalite
.
.
.
.
Warn!
Mafia!AU, BL, contains some abuse and abusive relationship.
This story is pure fiction.
Read at your own risk.
.
.
.
.
Part 10: Puzzle Pieces: Trust
Cinta mungkin bukan bagian dari dunia Kim Namjoon.
Tidak, bahkan setelah dia melakukan berbagai kegiatan kemanusiaan, perasaan simpati itu tidak pernah muncul pada dirinya, pada jiwanya, bahkan pada apapun yang melekat di dirinya.
Dia selalu menyerahkan urusan kegiatan kemanusiaan pada Taehyung, karena diantara sekian anggota keluarganya, hanya Taehyung yang akan benar-benar memberikan ekspresi sehangat matahari kepada orang asing.
Yah, sesungguhnya Jimin juga, tapi dia sekarang memiliki sejuta tabir yang harus disikap jika seseorang ingin melihat lagi senyumnya yang dulu selalu berada di wajahnya.
Namjoon menyerah mencoba mendapatkan kembali senyum Jimin karena dia adalah satu diantara sekian orang yang membuat Jimin menambahkan lapisan tabir kepalsuannya.
Ah, atau mungkin, Namjoon adalah seseorang yang membuat orang lain berubah menjadi 'palsu' di hadapannya.
Dan karena itulah Namjoon tidak lagi percaya pada orang lain. Dia tidak percaya pada apapun, kecuali pikirannya sendiri.
"Kau akan menyekolahkan Jungkook?"
Suara halus dan ragu-ragu dari Seokjin membuat Namjoon mendongak, dia mengerjap sekali dan akhirnya mengangguk pada Seokjin.
"Ya, sudah seharusnya Jungkook mengikuti pre-school, dia bahkan sudah empat tahun." Namjoon melirik Jungkook yang sedang menatapnya.
Jungkook adalah bayi tercantik yang mungkin pernah Namjoon lihat, bola matanya besar dan selalu terlihat berkilauan, pipinya penuh dengan rona alami, serta bibirnya terbentuk dengan baik dan selalu berwarna merah muda segar.
Namjoon sangat bersyukur Jungkook lebih mewarisi penampilan Seokjin daripada penampilan ayah biologisnya. Karena jika Jungkook mewarisi penampilan ayahnya, Namjoon yakin Seokjin akan menjadi gila di detik dia melihat wajah anaknya.
"Papa.."
Namjoon tersentak saat mendengar panggilan itu, matanya tertuju pada Jungkook dan dia melihat bagaimana bayi itu terlihat begitu terkejut dan ketakutan tepat setelah dia membisikkan panggilan itu. Jungkook mendongak menatap ibunya, selapis airmata mulai terlihat di bola matanya yang seperti boneka.
Seokjin menunduk, mengusap lembut kepala Jungkook seraya tersenyum dan perlahan menggeser tubuhnya untuk menutupi Jungkook dari Namjoon.
Tindakan protektif seorang Ibu.
Namjoon yakin Seokjin bahkan bersedia menerima peluru diantara matanya jika itu berarti dia akan membuat Jungkook terhindar dari peluru.
Karena Seokjin benar-benar protektif kepada bayinya.
"Ya, Jungkook?" Namjoon akhirnya bersuara dan dia melihat bayi itu terlonjak di kursinya karena suara Namjoon saat memanggil namanya.
Seokjin melirik Namjoon dengan takut-takut dan Namjoon ingin tersenyum melihatnya.
Mereka berdua terlihat seperti sepasang ibu kelinci dan bayi kelinci yang ketakutan karena diintai predator.
Jimin terkikik pelan, "Kookie, kau akan membuat bola matamu lepas jika membelalak selebar itu."
Jungkook mengerutkan dahinya, kelihatannya dia tidak menangkap maksud ucapan Jimin.
"Jungkook, aku masih menunggu jawabanmu." Namjoon bersuara lagi dan efek suara Namjoon kembali membuat Jungkook terlonjak kaget.
Jungkook melirik Namjoon ragu-ragu, dia menggigit bibirnya dengan takut dan akhirnya menggeleng pelan. "Tidak ada apa-apa, Papa."
Panggilan 'Papa' terasa sangat asing untuk Namjoon. Tidak pernah ada satu orangpun di dunia ini yang pernah memanggilnya Papa.
Tidak bahkan untuk seorang Kim Taehyung yang secara hukum adalah anak adopsinya.
"Wow, kau benar-benar membiarkannya memanggilmu 'Papa'."
Namjoon melirik Yoongi yang baru saja berjalan masuk ke dalam ruang makan, dia menarik kursi di sebelah Jimin dan duduk di sana. Jimin melirik Yoongi dan Yoongi membalas lirikan itu dengan sebuah usapan di sekitar tengkuk Jimin.
"Tidak biasanya kau ikut sarapan bersama seperti ini, Yoongi.." ujar Namjoon seraya melambai memanggil salah satu pelayan di rumahnya agar menyiapkan kopi untuk Yoongi.
"Yah, aku masih bagian dari keluarga ini jadi kurasa tidak ada salahnya jika aku duduk di sini, kan?" Yoongi menuding kursi yang terletak di ujung meja, berseberangan dengan kursi Namjoon. "Dan jika Hoseok ada di sini, maka semuanya akan menjadi lengkap."
Namjoon tersenyum miring, "Berawal dari dua kursi, tiga kursi, empat kursi, lima kursi, hingga akhirnya meja ini terisi penuh."
"Aku tidak bisa membayangkan kau dan Hoseok duduk berhadapan di meja panjang ini." Yoongi berujar lagi, dan kali ini Jimin benar-benar menoleh ke arahnya.
Seokjin mendengarkan percakapan itu dalam diam, berusaha merangkum dan menyimpan informasi ini untuk dirinya sendiri.
Dan berdasarkan informasi itu, jelas sekali bahwa awalnya 'keluarga' ini hanya terdiri dari Namjoon dan Hoseok. Kemudian mungkin disusul oleh Yoongi, dan Seokjin masih tidak bisa menentukan siapa kiranya yang berada di sini lebih dulu, apakah itu Jimin? Ataukah Taehyung?
Seokjin menggigit bibirnya, keluarga ini memang berbeda daripada keluarga yang ada pada umumnya. Dan sekarang karena Seokjin sudah menjadi bagian dari keluarga ini, dia tidak bisa melakukan apapun selain diam dan mengikuti alur permainan yang ada di dalam rumah ini.
"Aku harus sekolah," Taehyung berdiri dan meraih tasnya. "Siapa yang akan mengantarku, Hyung?" tanyanya pada Namjoon.
"Ah, karena semua pengawalmu menjadi pengawal Jungkook, kau bisa memakai supirku untuk pergi, Taehyung."
Taehyung mengerutkan dahinya, "Lantas bagaimana denganmu, Hyung?"
"Aku akan menyetir sendiri." Namjoon menatap Seokjin yang masih duduk kaku di kursinya, "Sore nanti aku akan menjemput kau dan Jungkook untuk mencari sekolah yang tepat untuk Jungkook."
"Bukankah semua kegiatan pre-school sudah berakhir saat siang hari? Apa yang akan kau lakukan di sana?" tanya Jimin.
"Aku ada beberapa pertemuan penting yang tidak bisa dibatalkan, tapi sekretarisku bilang dia sudah menghubungi beberapa pre-school untuk menunggu kedatanganku." Namjoon melirik Jungkook, "Jungkook harus mendapatkan yang terbaik."
Yoongi mengangguk dengan mulut penuh pancake, "Ya, aku sudah memberikan beberapa informasi kepada media. Mereka akan membuntuti mobilmu hari ini." Yoongi menelan makanannya kemudian melirik Jimin, "Apa rencanamu hari ini?"
Jimin menaikkan sebelah alisnya, sudah lama sekali sejak terakhir kalinya Yoongi benar-benar bertanya apa yang akan dilakukan Jimin di hari itu. Jimin masih terlihat curiga, tapi dia membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan Yoongi.
"Yah, aku harus pergi mengurus beberapa department store milik Namjoon. Mereka memintaku memeriksa display window mereka."
Namjoon memperhatikan interaksi Yoongi dan Jimin dalam diam. Walaupun mereka memang selalu terlihat begitu kaku dan professional, Namjoon selalu mengetahui sedikit tindakan kecil yang menunjukkan bahwa mereka bukanlah pasangan dalam urusan profesionalitas semata.
"Jimin, apakah kau tidak berencana untuk memiliki bayi?" pertanyaan itu meluncur begitu saja dari Namjoon.
Jimin terlihat begitu terkejut, dia bahkan menjatuhkan garpu yang dipegangnya dan wajahnya berubah pucat. Matanya membelalak lebar ke arah Namjoon dan terlihat jelas bahwa Jimin murka, sekaligus ketakutan.
Seokjin menganggap reaksi itu sebagai suatu reaksi defensif karena dia tidak menyukai topik yang dilontarkan. Tapi.. kenapa Jimin lebih kepada murka dibandingkan trauma?
Yoongi berdehem, "Oke, cukup. Jimin, kau ikut denganku." Yoongi meraih tangan Jimin yang terkepal kaku di atas meja dan menariknya berdiri kemudian dia melirik Namjoon. "Joon, peringatan pertama."
Namjoon tersenyum lebar, dia terlihat tidak keberatan sama sekali. Malah sebaliknya, Seokjin nyaris merasa bahwa Namjoon menginginkan itu.
"Oke, terserah. Kau akan pergi dengan supirmu hari ini?" tanya Namjoon, terdengar malas-malasan dan tidak peduli.
"Dengan Jimin bersamaku? Tidak, terima kasih. Aku akan menyetir sendiri." Yoongi berdecak keras kemudian berjalan meninggalkan ruang makan masih dengan menggenggam tangan Jimin.
Dahi Seokjin berkerut, hubungan diantara keluarga ini memang rumit.
Tapi Seokjin tahu satu hal.
Yoongi adalah pihak yang mencintai Jimin.
Itu terlihat begitu jelas dengan bagaimana cara Yoongi mendadak ikut bersikap defensif disaat Jimin hanya sanggup terdiam kaku tanpa sanggup menjawab pertanyaan Namjoon.
"Seokjin, berhentilah terpaku dan mulai makan sarapanmu." Namjoon berujar dan itu membuat Seokjin tersentak.
Dia menatap Namjoon dan tertegun sesaat, apakah Namjoon baru saja bersikap baik pada Seokjin?
Namjoon menyelesaikan sarapannya dengan tenang dan setelahnya dia berdiri dan berjalan menuju Jungkook, "Aku harus pergi, jangan lupa sore nanti kita pergi mencari sekolah untukmu." Namjoon mengusap kepala Jungkook kemudian berlalu.
Jungkook mengangguk, masih sedikit gemetar saat menerima sentuhan ringan dari telapat tangan Namjoon.
Sementara Seokjin masih terpaku menatap Namjoon yang berjalan menjauh.
Apakah itu adalah pertanda bahwa Namjoon mulai percaya pada Seokjin dan Jungkook?
Dan haruskah Seokjin membiarkan dirinya juga percaya pada pria itu?
Karena sejujurnya, Seokjin memang butuh percaya pada Namjoon, karena jika dia tidak percaya pada Namjoon, Seokjin tidak akan berani melaksanakan rencananya.
Seokjin menggigit bibirnya, kemudian dia menunduk menatap Jungkook.
Ah, tidak.
Dia harus melakukannya, bukan untuk dirinya, tapi untuk Jungkook.
Ya, semua ini untuk Jungkook.
.
.
.
Setelah sarapan, seorang pria yang mengaku sebagai penasihat hukum dari Kim Namjoon datang menemui Seokjin. Dia menjelaskan mengenai status baru Seokjin sebagai pasangan sah dari Kim Namjoon beserta apa-apa saja yang menjadi miliknya.
Dan itu terhitung sebuah apartemen di daerah Apgujeong, sebuah gedung, dan juga sekian jumlah saham yang nilainya benar-benar tidak sedikit.
"Karena putra tunggal kalian masih terlalu muda, maka Tuan Besar Namjoon mengatakan bahwa kekayaan miliknya akan bebas dia miliki ketika usianya dua puluh tahun, dan tentunya Tuan Besar bebas menambah atau mengurangi jumlah yang nantinya akan diberikan kepada Tuan Muda Jungkook."
Seokjin melirik Jungkook yang sedang bermain di sudut ruangan, tepatnya di atas permadani lembut yang memang sengaja Seokjin tempatkan di sana agar dia bisa mengawasi bayinya bermain.
Sekarang Jungkooknya bukan lagi sosok yang tidak memiliki apapun, Jungkook bahkan bisa memiliki apapun yang dia inginkan. Tidak seperti dulu disaat Jungkook bahkan tidak berani menyuarakan permintaannya karena dia takut itu akan membebani ibunya yang sudah bekerja keras agar mereka bisa melanjutkan hidup.
"Selain itu, ini dikirimkan ke kantor Tuan Besar hari ini." Penasihat hukum Namjoon merogoh ke dalam tasnya dan mengeluarkan sebuah kotak berukuran sekitar 15 x 10 cm berwarna biru muda lengkap dengan pita berwarna abu-abu terang.
"Apa ini?" bisik Seokjin.
"Hadiah pernikahan dari orangtua anda."
Seokjin mengangkat pandangannya untuk menatap penasihat hukum Namjoon. Orangtuanya? Orangtuanya memberikan hadiah pernikahan untuk Seokjin?
Jari Seokjin menerima kotak yang disodorkan, wajahnya tanpa ekspresi ketika dia membuka kotak itu dan menemukan sebuah gelang polos dengan hiasan beberapa titik kristal. Dan di dalam kotak itu terdapat surat dengan namanya yang dituliskan di bagian depan.
Itu tulisan tangan ibunya.
Seokjin hapal mati tulisan tangan ayah dan ibunya dan dia bisa langsung memastikan bahwa itu adalah tulisan tangan ibunya.
Dan sekarang, setelah sekian tahun berlalu dan Seokjin benar-benar dibuang oleh keluarganya, ibunya mengirimkannya surat?
"Kenapa ini tidak dikirimkan ke rumah?" ujar Seokjin, tangannya masih memegang surat yang tersegel rapat.
"Karena tidak ada seorangpun yang mengetahui lokasi pasti rumah ini. Tuan Besar tidak mau ada sembarangan orang yang berdatangan ke rumah sehingga dia menyembunyikan alamat rumah ini."
Seokjin mengangguk paham, dia menatap gelang yang berada di tangannya beserta suratnya. "Aku akan menyimpan surat ini," Seokjin menutup kotak berisi gelang dan memberikannya kembali ke penasihat hukum Kim Namjoon, "Tapi kembalikan gelang ini kepada mereka."
"Kenapa? Ini hadiah."
"Aku tidak mau berhutang budi pada mereka." Seokjin menjawab lugas.
"Baiklah, saya mengerti." Dia menyimpan kotak itu kembali ke dalam tas kerjanya. "Saya akan segera mengurus pengembalian hadiah ini."
Seokjin mengangguk pelan, "Terima kasih,"
Dan akhirnya setelah penasihat hukum Namjoon pergi, Seokjin menatap ke arah surat yang berada di pangkuannya. Dia masih ingat dengan jelas bahwa ibunya mengatakan kepada Seokjin untuk tidak lagi muncul di hadapannya dan sekarang setelah semua yang terjadi, dia memutuskan untuk memberikan hadiah pernikahan kepada Seokjin?
Seokjin bersyukur dia sudah membuang nama keluarga lamanya dan memakai namanya sendiri karena jika tidak, maka dia akan membutuhkan izin keluarganya ketika dia akan menikah dengan Namjoon.
Jemari tangannya bergerak merobek amplop dan menarik keluar suratnya, dan ketika Seokjin membukanya, dia bisa langsung mengenali tulisan tangan ibunya di sana.
Intinya hanyalah basa-basi menyebalkan mengenai betapa beruntungnya Seokjin bisa menikah dengan Kim Namjoon dan juga beberapa hal tidak penting lainnya yang diberikan oleh ibunya.
Serta yang paling utama, permintaan maaf dari ayah dan ibunya serta keinginan mereka agar Seokjin mau kembali ke rumah mereka. Seokjin mendengus remeh, dia melipat surat itu kembali kemudian berdiri dari posisi duduknya, Seokjin berjalan menuju dapur dan seorang pelayan bergegas menghampirinya.
"Ya, Tuan Seokjin?"
"Ambilkan aku korek api." Seokjin berujar tenang, dia menarik kursi dan duduk di atas kursi makan, Seokjin menatap pantulan dirinya yang terpantul di meja makan yang memang terbuat dari kaca tebal.
"Tuan Seokjin,"
Seokjin menoleh saat mendengar seseorang memanggilnya dan dia melihat pelayan itu sudah kembali dengan sebuah korek api di tangannya. Seokjin menerimanya dan setelah mengucapkan terima kasih dengan singkat, Seokjin mengambil satu batang korek api dan menyalakannya, kemudian dia mendekatkan api itu ke surat yang berada di tangannya dan memperhatikan ketika api perlahan mulai melahap bagian pinggir surat.
"Sayang sekali, tapi aku tidak sebodoh itu." Seokjin terus menatap ke arah surat yang terbakar semakin besar kemudian Seokjin melemparkannya ke meja kaca di hadapannya.
"Jika kalian berpikir aku masihlah Seokjin, putra kalian yang bodoh dan bersedia menerima apapun yang kalian lakukan, kalian salah." Surat itu terbakar habis dalam sekejap dan Seokjin masih duduk di sana, "Satu-satunya yang masih kusayangi adalah adikku."
.
.
.
Sementara itu di sisi lain, Namjoon duduk terdiam seraya menatap layar monitor yang menampilkan Seokjin yang sedang duduk di meja makan seraya membakar surat yang baru saja dia terima setelah membacanya.
"Dia membakarnya, kira-kira apa maksudnya?" tanya Yoongi yang ikut memperhatikan layar di hadapan Namjoon.
Namjoon memang memasang kamera pengawas di setiap sudut rumahnya untuk mengawasi Seokjin dan Jungkook, tapi tadinya dia berpikir Seokjin akan menangis ketika menerima surat dari orangtuanya, Namjoon sama sekali tidak mengira Seokjin akan membakar surat itu begitu saja.
Namjoon menggerakkan jarinya agar kamera terfokus ke wajah Seokjin yang datar tanpa ekspresi. Seokjin terlihat begitu datar dan dingin, dia sama sekali tidak menunjukkan emosi ketika membakar surat itu, malah sebaliknya, Seokjin terlihat begitu bosan dan tidak peduli.
"Yoongi,"
Yoongi menoleh ke arah Namjoon, "Ya?"
"Katakan pada Jackson untuk datang ke ruanganku."
Dahi Yoongi berkerut, "Tapi anak itu tidak ada di kantor, kan?"
"Lakukan saja, hubungi dia." Namjoon menatap Yoongi, "Dan kusarankan padamu untuk berhati-hati dan mempersiapkan dirimu."
"Kenapa?"
"Seokjin akan membakar kita semua."
"Huh?"
"Dan juga permainan yang sangat kau sukai itu akan segera dimulai." Namjoon memperhatikan monitor lagi dan kamera menunjukkan Seokjin yang berjalan kembali ke arah Jungkook dan tersenyum seraya menyapa anaknya dengan ceria. Wajahnya mendadak berubah begitu cepat dari ekspresi datar dan dingin menjadi ekspresi keibuan dan ceria.
Namjoon tersenyum miring, 'Hebat juga dia,'
Yoongi terdiam sebentar kemudian dia terkekeh pelan, "Kau akan membiarkanku turun tangan?"
Namjoon memiringkan kepalanya, "Tidak, kali ini Seokjin yang akan turun tangan."
Yoongi tertegun, "Tunggu, Seokjin akan …"
"Aku akan membiarkan Seokjin melakukannya. Bahkan jika dia tidak mau, aku akan memaksanya." Namjoon melipat tangannya di depan dada, "Lagipula aku yakin Seokjin cukup kuat untuk melumuri tangannya sendiri dengan darah."
"Jika itu memang benar, maka kurasa dia benar-benar Persephone untukmu."
"Aku sudah tahu itu, bahkan sebelum aku benar-benar mengenalnya."
.
.
.
Sore itu, Namjoon menepati janjinya untuk menjemput Seokjin dan Jungkook dan mengajaknya untuk melihat-lihat sekolah untuk Jungkook.
Tapi, selain Seokjin dan Jungkook, Taehyung yang kebetulan sudah pulang sekolah mendadak ingin ikut dengan alasan dia akan menemani Jungkook saat Seokjin dan Namjoon sibuk berdiskusi terkait sekolah Jungkook.
Dan tepat seperti ucapan Yoongi, media mengikuti kemanapun Namjoon pergi, mereka memberondongnya dengan berbagai pertanyaan sementara Seokjin yang masih memiliki ketakutan berlebih saat menjadi pusat perhatian, memilih untuk diam di belakang Namjoon sementara Namjoon berjalan di depannya diikuti Taehyung yang berjalan seraya menggendong Jungkook.
"Para wartawan itu benar-benar luar biasa," Taehyung mengeluh dengan sepenuh hati, perlahan dia menurunkan Jungkook dari gendongannya. "Tidakkah kau ingin mengatakan sesuatu, Hyung?" tanyanya pada Namjoon.
"Aku ingin, dan akan. Hanya saja aku masih menunggu waktu yang tepat." Namjoon menatap Seokjin, "Aku mempersiapkan ini untukmu."
Dahi Seokjin berkerut, tapi dia memilih untuk diam dan berjalan di belakang Namjoon. Mereka berjalan menyusuri koridor hingga akhirnya bertemu dengan kepala sekolah di tempat itu dan akhirnya setelah berbincang singkat, Namjoon memutuskan untuk memberikan kabar pada mereka apabila nantinya dia akan mengizinkan Jungkook bersekolah di sana.
Ketika mereka berjalan keluar, para wartawan masih setia menunggu dan kali ini Namjoon berdiri diam menghadapi mereka.
"Kim Namjoon-ssi! Apakah anak laki-laki itu anak anda?"
"Kim Namjoon-ssi! Apakah itu anak Seokjin?
"Kim Namjoon-ssi!"
"Kim Namjoon-ssi!"
Seokjin mengernyit, dia mulai merasa pusing dan keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya.
Namjoon berdehem pelan, "Bisakah kalian diam? Kalian tidak akan bisa mendengarkan suaraku jika kalian terus berbicara."
Gerombolan wartawan itu terdiam seketika, semuanya menunggu jawaban Namjoon terkait dirinya dan anak laki-laki yang masih berada di gendongan Taehyung.
"Anak ini, Jungkook, adalah anakku."
Suara dengungan pertanyaan kembali terdengar tapi Namjoon tidak mengatakan apapun sampai mereka semua kembali diam.
"Dia anakku dan Seokjin, kami memiliki sedikit masalah sehingga memiliki Jungkook lebih awal. Butuh waktu bagiku untuk menemukan Seokjin kembali sehingga karena itulah kami baru melangsungkan pernikahan saat ini."
Seokjin tersenyum tipis saat mendengar Namjoon mengatakan 'menemukan kembali', yang benar saja. Mereka bahkan baru bertemu saat Seokjin dan Jungkook dibawa ke tempat pelelangan manusia.
"Yang jelas Jungkook adalah anakku dan Seokjin, dan saat ini kami sedang memilih sekolah untuk Jungkook dan kami …"
Namjoon terhenti saat terdengar suara desingan lembut dan tiba-tiba saja sebuah peluru menggores pakaian Namjoon di bagian bahu. Namjoon menoleh dengan cepat ke arah asal peluru sementara semua wartawan yang tadinya mengerubungi mereka bergegas membubarkan diri seraya berteriak-teriak panik.
Seokjin terdorong beberapa wartawan dan nyaris saja terjatuh namun Taehyung berhasil menangkap lengannya tepat waktu. Seokjin terdorong hingga menabrak Taehyung dan Namjoon tiba-tiba saja sudah berada di sebelah Seokjin dan menariknya lepas dari tangan Taehyung.
"Taehyung! Bawa Jungkook ke mobil!" seru Namjoon sementara dia menarik Seokjin menjauh.
Taehyung mengangguk dan Seokjin melihat beberapa pengawal Namjoon segera berdiri di sekitar Taehyung dan Jungkook untuk melindungi mereka berdua. Seokjin bisa mendengar suara tangisan Jungkook dan ingin berlari menyusulnya namun Namjoon menariknya menjauh dari Jungkook.
Namjoon memasukkan tubuh Seokjin ke kursi di sebelah kemudi mobilnya sementara Namjoon masuk dan segera menyalakan mesin mobil. Seokjin menatap Namjoon, "Kenapa kita berpisah dari Jungkook?"
Namjoon baru saja membuka mulutnya untuk menjawab namun tiba-tiba saja kaca mobilnya terhantam peluru, namun karena kaca itu anti peluru, peluru tersebut tidak bisa menembus lapisan kaca.
"Karena dia mengincarmu, bukan Jungkook." Namjoon menginjak pedal gas dan segera meninggalkan tempat itu. "Mereka sniper, aku tidak tahu ada berapa banyak, tapi yang jelas mereka mengincar nyawamu. Tapi karena kau selalu berada di belakangku, mereka justru mengenaiku."
Seolah tersadar akan sesuatu, Seokjin menoleh cepat ke arah Namjoon, "Kau tertembak?"
"Semua setelanku dilengkapi sedikit lapisan anti peluru, dia hanya merobek permukaan luar pakaian, aku tidak terluka sama sekali." Namjoon melirik ke kaca spion di sebelahnya, "Sepertinya mereka tidak berhasil mengikuti kita. Jika kita terpisah, mereka akan bingung menentukan siapa yang sebaiknya dieksekusi lebih dulu dan itu memberikan kita kesempatan untuk pergi."
Seokjin menoleh keluar jendela, "Lantas, saat ini kita mau pergi ke mana?"
"Apartemen pribadiku, rumah akan menjadi persembunyian Jungkook sampai aku mengetahui siapa yang mencoba menembakmu." Namjoon meraih ponselnya dan menekan sesuatu di layarnya. "Jackson, tambahan tugas. Sniper. Lacak GPS mobilku, kurasa dia menembak dari arah tenggara."
Seokjin tidak mendengar balasan dari Jackson dan Namjoon sudah menutup sambungan itu.
"Kenapa kau membawaku ke apartemenmu?"
"Karena tempat itu merupakan tempat teraman kedua setelah rumah. Aku membangun gedung apartemen itu khusus untuk tinggal di sana jika situasi di rumah terlalu kacau."
"Lantas bagaimana dengan Jungkook?"
"Aku membawa setengah lusin pengawal untuk Jungkook sendiri, dia akan baik-baik saja. Terlebih lagi, Taehyung bukanlah sosok yang mudah mati."
"Kenapa mereka mengincarku?" bisik Seokjin saat akhirnya mobil mereka memasuki tempat parkir di basement gedung apartemen.
"Karena mereka tahu, hanya kau satu-satunya yang bisa memberikanku seorang dominan." Namjoon memarkirkan mobilnya kemudian bergerak untuk turun.
"Bukankah kau bisa mencari istri lain? Itu tidak harus aku, kan?" ujar Seokjin seraya keluar dari mobil Namjoon.
"Tidak, itu harus dirimu." Namjoon menoleh ke arah Seokjin, "Menikah beberapa kali adalah sebuah kecerobohan dan juga itu akan membuat reputasiku sebagai seseorang yang terpandang menjadi turun di mata khalayak umum. Walaupun sebenarnya bagiku pernikahan bukanlah sesuatu yang penting, aku tidak tertarik untuk mengurus anak lagi dan aku juga tidak tertarik mencari istri lain."
Namjoon menarik Seokjin menuju lift terdekat kemudian menekan tombol lantai teratas. "Mereka mencoba membunuhmu karena mereka pikir aku lengah karena masih dalam masa pengantin baru." Namjoon berdecak pelan, "Mereka bodoh sekali."
Seokjin terdiam, dia memperhatikan bagaimana Namjoon bersandar dengan malas-malasan di dinding lift disaat lift bergerak semakin tinggi dan akhirnya berhenti di lantai yang dituju. Kaki Namjoon bergegas berjalan menuju panel yang terletak di sebelah pintu depan dan ketika dia membukanya, terdapat alat pendeteksi sidik jari dan juga panel untuk memasukkan kode pin.
"Sistem keamanan apartemenmu sampai sepert ini? Tidakkah ini terlalu berlebihan?" tanya Seokjin saat pintu apartemen Namjoon terbuka.
"Ya, karena ini sudah seperti rumah kedua bagiku." Namjoon melangkah masuk dan membiarkan Seokjin menyusulnya di belakangnya.
"Untungnya, aku sudah menduga ini akan terjadi sehingga aku sudah meminta mereka membereskan barang-barangmu ke sini."
Seokjin terdiam, dia memperhatikan Namjoon berdiri di pinggir kaca yang menampilkan pemandangan dari puncak teratas gedung. Kemudian dia berjalan menghampiri Namjoon, "Kau benar-benar menghancurkan hidupku."
Namjoon mengangkat sebelah alisnya, "Oh, terima kasih untuk pujiannya, tapi tidak, aku tidak menghancurkan hidupmu, aku tidak sebodoh itu. Aku bahkan menyelamatkan nyawamu saat ini."
Seokjin tersenyum miring, "Hidupku sudah berakhir di hari aku dan Jungkook diculik. Karena seandainya saja kita tidak bertemu, semua ini tidak akan terjadi dan aku akan tetap mendapatkan kehidupan lamaku kembali."
Namjoon menatap Seokjin, "Kau sangat yakin itu adalah titik balik pertemuan kita?"
Seokjin mengangguk, "Ya,"
"Kau salah, titik balik pertemuan kita adalah ketika kau memberikan susu pisang kepada Taehyung. Karena di kala itu, aku memang sudah berniat mencarimu."
Seokjin membulatkan matanya, "K-kenapa?"
"Karena seperti apa yang dikatakan oleh Yoongi, mungkin saja, kau adalah Persephone untukku."
"Aku tidak mengerti.."
Namjoon tersenyum miring, "Katakan, Seokjin, balasan apa yang ingin kau berikan kepada orangtuamu?" Namjoon melipat tangannya di depan dada, "Aku tahu kau membutuhkan bantuanku untuk itu."
Apa?
Bagaimana bisa?
Bagaimana caranya Namjoon bisa membaca keinginannya?
Dan apa yang harus Seokjin lakukan? Haruskah dia percaya bahwa Namjoon akan benar-benar membantunya?
"Kau akan.. membantuku?"
Namjoon mengangguk tidak peduli, "Apapun itu, aku yakin itu mudah."
Seokjin terdiam, jika dia memutuskan untuk percaya pada Namjoon, maka ini hanya akan mengarah kepada dua jalan, kehancurannya ataukah kesuksesannya.
Seokjin menatap Namjoon, mempelajari ekspresinya dengan hati-hati dan Namjoon terlihat amat sangat tidak peduli. Dia hanya menatap Seokjin dengan bosan seperti biasa.
"Baiklah, aku percaya padamu."
Dan Seokjin baru saja memberikan kepingan hatinya yang berupa rasa percaya kepada seorang Kim Namjoon.
.
.
Menurutmu kenapa Hades bisa jatuh cinta pada Persephone?
Karena pada akhirnya Hades menemukan seseorang yang sebanding dengannya.
Dan orang itu adalah Persephone.
.
.
To Be Continued
.
.
Akhirnya setelah sekian lama. Hehehehe
Kalian harus benar-benar mulai memperhatikan judul tiap part karena aku membuatnya untuk menjelaskan jalan ceritanya dan sampai dimana cerita ini bergerak.
Satu hal yang jelas di sini, Taehyung adalah anak adopsi Namjoon yang sah. Namjoon sendiri yang menyatakan itu di sini.
Nah, sudah semakin terungkap kan? Hehehe
.
.
Ditunggu selalu tanggapannya.
.
.
P. S:
Ff ini memang selalu diupdate lebih dulu di wattpad (BlackLunalite) dan diprivate seluruh chapternya. Biasanya ada jeda beberapa hari sebelum ini diupdate di ffn.
Dan hmm, aku sudah menanyakan ini ke reader di wattpad dan nyaris semuanya setuju. Jadi aku akan bertanya ke readerku di sini, apabila ini dibukukan (dalam waktu dekat) apakah kalian setuju?
