Hidup memang selalu penuh dengan misteri.

Entah itu misteri terkait takdir, ataukah misteri terkait dengan perasaan kita sendiri.

Manusia disebut manusia karena mereka memiliki akal dan pikiran, dan juga karena mereka memiliki perasaan.

Perasaan adalah sesuatu yang rumit dan kompleks. Bahkan tidak ada satupun orang yang sanggup memetakan perasaan seseorang dengan tepat.

Karena setiap manusia memiliki satu dinding tersendiri sebagai tempat mereka menyimpan perasaan yang memang ditujukan untuk diri mereka sendiri.

Sesuatu yang hidup dan berdetak di dalam diri mereka sendiri. Sesuatu yang sering disebut sebagai nurani. Sesuatu yang sering disebut sebagai jiwa.

Tiap manusia memiliki nurani, memiliki jiwa.

Tapi apakah mereka berani mengeluarkannya agar dilihat oleh orang lain?

Sebagian mungkin akan menjawab iya, tapi sebagian lainnya mungkin akan menjawab tidak.

Karena sekali lagi, kehidupan adalah misteri.

Bahkan tubuh manusia pun adalah misteri.

Banyak yang mengatakan bahwa mata adalah jendela menuju hati manusia.

Lantas bagaimana dengan para aktor terlatih di luar sana yang sudah terbiasa menunjukkan emosi melalui matanya untuk memerankan karakter yang mereka perankan?

Masihkah mata mereka menjadi jendela menuju hati mereka? Bahkan setelah puluhan karakter yang mereka perankan?

Kita adalah aktor utama dalam hidup kita.

Hidup ini seperti sebuah permainan. Terlebih lagi jika kita percaya pada kehidupan setelah kematian.

Kehidupan di sini bukanlah yang sesungguhnya karena kita hanya 'bermain peran' di sini.

Lantas dimanakah kehidupan yang sesungguhnya?

Itu hanya tergantung pada perspektif. Apakah kau akan menganggap ini sebagai kehidupan sesungguhnya? Ataukah ini hanyalah permainan semata?

Karena sesungguhnya, jika memang kalian ingin bermain, maka kalian harus bermain serius.

Di tempat ini, kesempatan kedua tidak selalu terjadi.o


Heaven and Hell

.

.

.

a BTS fanfiction

by

Black Lunalite

.

.

.

.


Warn!

Mafia!AU, BL, contains some abuse and abusive relationship.

This story is pure fiction.

Read at your own risk.


.

.

.

.


Part 11: Hate


Apartemen pribadi Namjoon terlihat seperti apartemen mewah pada umumnya. Kelihatannya Namjoon serius mengenai tempat ini sebagai rumah kedua karena semua fasilitas yang dibutuhkan Namjoon ada di sana.

Termasuk ruang kerjanya dengan fasilitas yang sama seperti ruang kerja di rumahnya.

Sejak tiba di apartemen itu, Seokjin hanya duduk diam di sofa sementara Namjoon memutuskan untuk mengurung diri di ruang kerjanya, melakukan entah apa yang bahkan tidak Seokjin mengerti.

Kepala Seokjin bergerak untuk menatap ke arah jendela besar di ruang tengah apartemen, kaca tebal yang melapisi tempat itu tertutup rapat, menampilkan pemandangan kota Seoul di sore hari, dengan semburat matahari senja yang berwarna oranye pekat yang menyinari gedung-gedung bertingkat.

Namjoon bilang seseorang mengincar nyawanya karena dia adalah pasangan dari Kim Namjoon, seorang dominan yang memang selalu diperhitungkan oleh banyak orang.

Seokjin tidak pernah merasakan bagaimana rasanya menjadi sosok penting. Tapi dia benci menjadi pusat perhatian, membayangkan ada beberapa orang yang dengan sukarela mencari informasi terkait dirinya dan merencanakan sesuatu seperti proses eksekusi untuk dirinya terasa begitu asing.

Seokjin bukanlah sosok yang patut diperhitungkan sejak dulu.

Dia hanya tahu bagaimana caranya bertahan hidup. Dan itu termasuk dengan melakukan apapun untuk dirinya dan anaknya.

Seokjin menegakkan tubuhnya saat teringat soal Jungkook, bayinya pasti sangat ketakutan karena memang anaknya memiliki trauma terkait kejadian di pelelangan saat itu. Seokjin berdiri, memperhatikan sekitar untuk mencari telepon dan sejenisnya tapi dia tidak menemukan apapun.

Lagipula, kalaupun dia menemukan telepon, bagaimana caranya dia menghubungi Jungkook?

Dia tidak tahu nomor telepon rumah Namjoon.

Seokjin mendesah pelan, dia kembali menghempaskan tubuhnya di sofa dan meremas rambutnya. Menarik napas dalam dan mencoba meyakinkan dirinya sendiri kalau bayinya baik-baik saja dan bayinya berada di tangan yang tepat.

Disaat Seokjin tengah berusaha menenangkan dirinya, suara dentingan bell dari pintu depan apartemen menyadarkan Seokjin. Dia menoleh ke arah pintu dan suara bell terdengar lagi.

Namjoon bilang apartemen ini sudah seperti rumah kedua untuknya.

Lantas siapa yang kiranya mengetahui lokasi rumah kedua dari seorang Kim Namjoon?

Seokjin berdiri, bermaksud untuk menghampiri pintu depan namun di detik yang sama ketika dia berdiri, pintu ruang kerja Namjoon terbuka dan pria itu muncul dari sana. Namjoon melirik Seokjin sekilas dan Seokjin memutuskan untuk melakukan gerakan menjauh secara refleks.

Namjoon memalingkan pandangannya dan berjalan menuju pintu depan tanpa melihat ke arah Seokjin lagi. Seokjin berjalan mengikuti di belakang dengan ragu-ragu dan ketika Namjoon membuka pintu apartemennya, Seokjin melihat Jackson di sana.

Jackson tersenyum kepada Seokjin ketika mata Seokjin tidak sengaja bertatapan dengannya.

"Hai, senang bertemu dengan anda lagi, Tuan Seokjin." Jackson menyapa dengan formal kemudian dia berjalan masuk.

"Duduk, Jackson." Namjoon berujar datar seraya berjalan menuju ruang tengah kemudian duduk di satu-satunya sofa tunggal di sana.

Jackson mengangguk santai dan duduk di salah satu sofa sementara Seokjin duduk di sebelahnya.

"Pengawalmu sudah membuat perimeter di sekitar gedung apartemen ini. Tidak akan ada yang bisa mengincar kalian dari sini." Jackson membuka tasnya dan mengambil sebuah PC tablet dari sana. "Selain itu, aku sudah mendapatkan beberapa data terkait pihak yang menyerangmu."

Seokjin tertegun, Jackson sudah berhasil menemukan siapa yang berniat membunuhnya?

Namjoon menyilangkan kakinya, "Lalu?"

Jackson menyalakan PC tablet itu kemudian menyerahkannya ke tangan Namjoon, "Mereka kelompok tentara bayaran. Dan seperti yang kalian ketahui, tidak murah menyewa mereka untuk melakukan sebuah misi, jadi bayaran mereka cukup mahal, sesuatu yang tidak mungkin bisa dilakukan oleh warga biasa."

"Siapa?"

Jackson melirik Seokjin sekilas kemudian menatap Namjoon, "Lee Jaehwan."

Seokjin tersentak, tubuhnya gemetar saat mendengar nama yang diucapkan Jackson. Dia menunduk, menatap tangannya yang terkepal di atas pangkuannya sendiri.

"Aku meretas semua kamera pengawas di sekitar gedung tempat kalian berada tadi dan berhasil mendapatkan nama dan wajah mereka. Beberapa pengawal pribadimu sudah pergi menghampiri markas mereka dan.." Jackson memiringkan kepalanya, "Well, kau tahu bagaimana mereka bekerja. Terlebih lagi Yoongi juga ikut turun tangan."

Namjoon mengangkat sebelah alisnya, "Yoongi?"

"Yep, dia ikut turun tangan dan hmm.. kusarankan kau segera memutuskan akan diapakan sosok Lee Jaehwan ini karena Yoongi sangat murka."

Namjoon meletakkan PC tabletnya ke pangkuan, "Kenapa?"

"Setelah misi mereka gagal, mereka mencoba membuntuti Taehyung dan Jungkook, pengawalmu melakukan yang terbaik untuk mengecoh mereka tapi belum berhasil. Kemudian.. mobil Jimin datang dan menghantam mobil mereka."

Jackson meringis, "Jimin memar di beberapa bagian, dan Yoongi.." Jackson menghentikan ucapannya.

"Dan Yoongi murka karena Jimin terluka." Namjoon menyelesaikan kalimat Jackson dengan santai. "Apa lukanya di perut?"

Jackson mengangguk ragu-ragu, "Dia ada di rumah, Hoseok ada di sana."

Seokjin tertegun, kemudian sebelum dia sempat mencegah dirinya sendiri, mulutnya sudah terbuka untuk bertanya. "Kenapa Jimin bisa ada di sana?"

Jackson menoleh ke arah Seokjin, "Dia dalam perjalanan pulang. Kemudian dia melihat mobil Taehyung dikejar beberapa mobil, dan Jimin langsung membenturkan mobilnya dengan mobil mereka."

"A-apa Jungkook.." Seokjin membuka mulutnya ragu-ragu.

"Jungkook baik-baik saja, dia sedikit histeris dan terus menjerit memanggil namamu, tapi Hoseok sudah menanganinya. Dan Taehyung menjaganya, jadi kurasa dia baik-baik saja." Jackson menoleh ke arah Namjoon, "Ah, benar juga, kurasa sebaiknya Seokjin ikut pulang bersamaku, Jungkook membutuhkannya."

Namjoon terdiam, "Katakan pada Yoongi untuk datang ke sini."

Jackson mengangguk, "Tentu," Jackson menuding PC tablet di pangkuan Namjoon. "Semua data-data terkait mereka yang menyerangmu hari ini ada di sana."

"Kenapa Jaehwan mencoba membunuhku?" bisik Seokjin, dia menatap Namjoon. "Bukankah seharusnya aku yang mencoba membunuhnya?"

Namjoon menghela napas pelan, "Pemikiran itu yang membuatnya mencoba membunuhmu. Dia yakin kau akan mencoba membunuhnya, dan sekarang kau memiliki sumber daya serta kekuatan untuk itu. Aku suamimu, dan aku memiliki jumlah yang lebih dari cukup untuk melenyapkan Jaehwan, dan rasa takut itu membuatnya bergerak lebih dulu untuk membunuhmu."

Seokjin terdiam, dia menatap ke depan dengan tatapan kosong. "Itu berarti sejak awal Jaehwan memang tidak melupakanku begitu saja? Apakah itu artinya dia mengingat apa yang dia lakukan padaku?"

Jackson melirik Namjoon, dia mulai merasa sebaiknya dia tidak berada dalam diskusi ini karena apa yang dialami Seokjin karena perbuatan Jaehwan terlalu keji untuk didengar sosok 'orang luar' seperti dirinya.

"Mungkin saja, kurasa dia memang tidak melupakanmu. Karena dia datang di hari aku mengundangnya untuk konferensi pers, dan bahkan dia hadir di hari pernikahan kita. Dia jelas tidak melupakanmu."

Seokjin mengatupkan bibirnya menjadi sebentuk garis tipis kemudian menatap Namjoon, "Kau bilang kau akan membantuku?"

Namjoon mengangguk, "Ya, bukan masalah."

"Aku percaya padamu."

Namjoon menyeringai, "Tunggu sebentar lagi, kau akan mendapatkan balasan yang kau inginkan."

"Aku akan memberikan apapun padamu. Hanya saja, bantu aku." Seokjin menggigit bagian dalam pipinya, "Apapun itu, aku akan siap untukmu."

Namjoon tersenyum miring, "Kau bisa mendapatkan balasan seperti apa yang kau inginkan, Seokjin. Katakan rencanamu, aku akan mengeksekusinya. Aku memiliki sumber daya yang cukup untuk itu. Hanya saja, kau tahu apa yang harus kau lakukan untuk semua bantuanku itu, bukan?"

Seokjin menatap Namjoon, ekspresinya datar dan dingin, Seokjin terlihat tidak peduli. "Aku tahu."

Namjoon tersenyum puas, "Jackson, antarkan Seokjin pulang ke rumah."

Jackson mengangguk, dia membungkuk singkat pada Namjoon sementara Seokjin berjalan menuju pintu depan. Ketika punggung Seokjin menghilang di balik dinding, Jackson mendekatkan tubuhnya ke arah Namjoon.

"Kuharap kau tahu apa yang kau lakukan." Jackson berbisik rendah.

"Aku tahu, Jackson. Aku sudah bisa membaca rencana Seokjin, dia sama seperti Jimin."

"Joon, kurasa Seokjin akan lebih dari itu."

"Kenapa?"

"Karena kurasa kau akan jatuh untuknya."

Namjoon tertawa remeh, "Aku sudah pernah jatuh untuk seseorang sebelumnya. Dan itu bukan Seokjin."


.

.

.


Taehyung berlutut di sebelah Jungkook yang duduk di atas sofa, bayi itu masih terlihat terguncang, tubuhnya gemetar ringan dan wajahnya masih basah karena airmata. Sejak dipisahkan dari ibunya, Jungkook tidak berhenti menangis seraya menjerit memanggil nama Seokjin. Taehyung bahkan nyaris kehabisan akal untuk mendiamkan Jungkook dan untungnya ketika dia tiba di rumah, Hoseok sudah berada di sana dan dengan sigap menangani Jungkook.

"Kookie, apa kau baik-baik saja?" Taehyung berbisik pelan, tangannya terulur untuk mengusap tangan gemuk Jungkook yang gemetar.

"Dia hanya shock, yah keributan itu jelas terlalu berlebihan untuk anak berusia empat tahun seperti Jungkook." Hoseok berujar seraya ikut bersimpuh di depan Jungkook, tangannya memegang sebuah mug berisi cokelat panas yang dihiasi marshmallow di bagian atasnya. "Mau minum cokelat?"

Jungkook mengangkat pandangannya, dia menatap ke arah mug di tangan Hoseok kemudian menggeleng. "Aku mau Mama.."

Taehyung mendesah keras seraya melemparkan kepalanya ke belakang, "Tolong katakan padaku Namjoon Hyung sudah mengizinkan Seokjin Hyung keluar dari bentengnya."

Hoseok tertawa, "Itu bukan benteng."

"Ya, itu benteng. Itu tempat teraman di dunia setelah rumah ini jika itu berkaitan dengan Namjoon Hyung dan musuh-musuhnya." Taehyung mengusap tangan Jungkook lagi, "Sabar sebentar ya, Mama akan segera datang ke sini."

Jungkook melirik Taehyung kemudian mengangguk pelan.

Taehyung menghela napas pelan, Jungkook dan kemurungannya bisa membuat Taehyung rela membunuh hanya untuk membuat Jungkook tersenyum lagi.

"Jungkook.."

Jungkook menoleh ke arah asal suara dengan cepat dan langsung menjerit, "Mama!"

Seokjin berjalan masuk ke dalam ruangan seraya berlari kecil menuju bayinya kemudian menggendongnya. "Hei, sayang.." Seokjin berbisik, "Apa Kookie terluka?"

Jungkook menggeleng, tangannya yang gemetar memeluk Seokjin dengan erat. "Mama.."

"Ssh.. sayang.." Seokjin menimang Jungkook dalam pelukannya, "Kookie takut ya? Mama di sini, Kookie tidak perlu takut.."

"Jungkook mengalami shock ringan, tapi dia tidak terluka sedikitpun. Dia akan baik-baik saja jika kau berada di sekitarnya." Hoseok menjelaskan kondisi Jungkook pada Seokjin dan Seokjin mengangguk.

"Ya, biasanya jika aku menimangnya sampai tertidur, Jungkook akan merasa baik-baik saja." ujar Seokjin, tangannya aktif mengelus kepala Jungkook dan menimangnya pelan.

"Kalau Jungkook membutuhkan jasa terapis anak, kau bisa menghubungiku." Hoseok berujar seraya mengusap lembut kepala Jungkook kemudian dia menatap Seokjin, "Apa kau terluka di suatu tempat?"

Seokjin menggeleng, "Aku baik-baik saja."

"Kau sudah mendengar siapa yang melakukan ini padamu?" tanya Yoongi.

Seokjin mengangguk, "Ya, Jaehwan kan?" ujarnya tanpa beban.

Dahi Yoongi berkerut saat mendengar betapa datarnya Seokjin saat membicarakan Jaehwan. Dia memperhatikan bagaimana Seokjin bergerak-gerak ringan untuk menimang Jungkook seraya menggumamkan sebuah lagu.

"Dan kau baik-baik saja dengan itu?" tanya Yoongi lagi.

Seokjin mengangguk tanpa beban, "Jungkook tertidur, aku harus membawanya ke kamar." Seokjin berbalik dan berjalan meninggalkan ruangan itu seraya masih mengusap-usap Jungkook.

"Wow," ujar Yoongi.

Hoseok melirik Yoongi, "Tolong katakan padaku bahwa itu bukan karena kalian."

Yoongi mengangkat tangannya, "Aku dan Namjoon tidak melakukan apapun."


.

.

.


Keesokkan harinya, Namjoon meminta Seokjin untuk datang menemaninya ke sebuah pesta yang diselenggarakan oleh salah satu kolega bisnis Namjoon. Yah, Namjoon memang sudah mengatakan padanya bahwa mereka memiliki jadwal untuk menghadiri pesta selama sepuluh hari ke depan.

Mulanya Seokjin pikir itu hanya candaan semata, tapi karena Namjoon benar-benar memintanya untuk datang, Seokjin menyadari bahwa itu semua memang benar adanya dan ternyata Namjoon memang memiliki peran yang sepenting itu di dalam bisnis.

Pesta itu diadakan di sebuah hotel berbintang dan Namjoon serta Seokjin hadir sebagai salah satu tamu penting di sana. Pesta ini bertema pesta topeng sehingga selain setelan rancangan Jessica, Seokjin juga memakai sebuah topeng berwarna merah darah yang menutupi separuh wajahnya.

"Tuan,"

Seokjin melirik ketika seorang pengawal Namjoon menghampiri mereka, Namjoon mengangguk pelan dan pengawalnya mulai berbicara.

"Mereka tidak mengizinkan kami masuk, kami hanya bisa berjaga di luar."

Seokjin terdiam kemudian dia menatap Namjoon yang berada di sebelahnya, Namjoon terlihat berpikir sampai akhirnya dia mengangguk pelan.

"Informasi soal penyerangan yang dilakukan terhadapmu pastinya sudah menyebar. Ini wajar," Namjoon menunduk ke arah Seokjin, "Yah, kuharap kau tidak merepotkanku."

"Oh, dengan segala hormat, Tuan. Aku akan berusaha untuk tidak merepotkan anda." Seokjin membalas sarkastik dan Namjoon tersenyum tipis melihat keberanian Seokjin.

"Senang melihatmu akhirnya bergabung dalam permainan." Namjoon berbisik pelan.

Seokjin membalas bisikan itu dengan senyum tipis di bibirnya. Dia sudah bertekad untuk memperkuat dirinya sendiri dan menutup trauma serta ketakutannya rapat-rapat di dalam dirinya.

Seokjin sudah berniat untuk selalu menampilkan dirinya yang keras di hadapan Namjoon.

Karena dia tidak akan pernah membiarkan dirinya terlihat lemah di hadapan Namjoon.

Tidak akan pernah.

Ketika mereka memasuki ballroom tempat pesta diadakan, musik klasik langsung menghampiri telinga Seokjin dan banyak sekali orang-orang dengan aneka topeng berwarna-warni bergerak ke sana-sini.

"Sial, tempat ini akan benar-benar menyulitkan." Namjoon menggerutu rendah sedangkan tangannya meraih tangan Seokjin yang berlapis sarung tangan untuk diletakkan di antara lengan Namjoon.

"Ini seperti memasuki medan perang, kuharap kau benar-benar tidak merepotkanku." Namjoon berbisik ke arah Seokjin.

Seokjin mendongak ke arah Namjoon, "Tidak akan."

Mereka berdua berkeliling menyapa beberapa 'kolega' Namjoon dan tepat seperti apa yang Namjoon katakan, mereka berdua benar-benar berubah menjadi sekelompok penjilat yang berusaha mendapatkan perhatian Namjoon yang mereka anggap sedang 'senang'.

Astaga, Seokjin benar-benar mual melihat tindakan mereka yang bermulut manis, bahkan mengucapkan selamat atas putra mereka, Jungkook.

"Mengerikan, bukan?" Namjoon berujar setelah mereka berbasa-basi untuk kesekian kalinya.

Seokjin mengangguk pelan, dia melirik gerombolan wartawan di sudut. "Bahkan di sini juga ada media."

Namjoon menatap ke arah gerombolan media itu, "Oh, pastinya. Mereka tentunya tidak akan membuang kesempatan emas untuk meramaikan acara dengan mengundang media ke sini."

Seokjin mendesah pelan, kemudian matanya bergerak dan kali ini dia melihat Jaehwan yang sedang berada tak jauh darinya. Seokjin gemetar dan tanpa sadar dia mencengkeram lengan Namjoon.

Namjoon mengerutkan dahinya tidak mengerti namun ketika dia menoleh ke arah yang diperhatikan Seokjin, Namjoon mendadak paham kenapa Seokjin bersikap seperti ini. Dia menunduk ke arah Seokjin, "Kupikir kau sudah berniat untuk ikut dalam permainan?"

Seokjin tersentak, dia mendongak menatap Namjoon yang menyeringai ke arahnya.

Sial, Namjoon benar.

Seokjin menoleh ke arah Jaehwan lagi dan dia menyadari kalau pria itu masih menatapnya dengan intens. Seokjin menggigit bibirnya, dia harus mengalihkan perhatian Jaehwan dan membuat pria itu yakin bahwa ancaman penembakan sore tadi bukanlah sesuatu yang perlu dikhawatirkan.

Seokjin mendongak ke arah Namjoon, "Bagaimana jika kita memberikan para media bahan berita baru agar berita soal ancaman tadi sore berhasil menghilang?"

Namjoon mengerutkan dahinya, "Oh, kenapa?"

"Karena aku tidak mau Jaehwan melihat hasil kerjanya terpampang terus di media."

Namjoon tersenyum miring, Seokjin sudah berubah menjadi semakin berani dan berada nyaris sejajar dengannya. "Itu ide bagus, apa rencanamu?"

Seokjin tersenyum, dia berusaha sekuatnya meredam tangannya yang gemetar untuk kemudian meraih wajah Namjoon, menariknya agar turun ke bawah, kemudian menciumnya tepat di bibir. Namjoon diam saja, dia tidak bodoh untuk tidak menyadari bahwa bibir Seokjin yang menempel di bibirnya terasa gemetar.

Namjoon bisa mendengar suara hiruk-pikuk wartawan yang memotret mereka dan mau tidak mau Namjoon akan memuji Seokjin untuk ini.

Ternyata rasa bencinya membuat dia sampai berani mengambil tindakan ekstrim seperti ini.

Seokjin yang tidak tahan lagi menahan ketakutan dan traumanya akhirnya melepaskan dirinya, tangannya masih berada di pakaian Namjoon, mencengkeramnya dengan kuat.

Namjoon menyeringai, "Kalau kau benar-benar ingin media melupakan prestasi Jaehwan, kau harusnya melakukan ini." Namjoon meraih pinggang Seokjin untuk merapat ke arahnya dan kembali membenturkan bibirnya dengan bibir Seokjin.

Memar yang masih tersisa di pinggul Seokjin membuatnya tersedak ringisannya sendiri karena memar itu terasa begitu sakit akibat Namjoon yang meremas pinggulnya. Namun kelihatannya Namjoon memang sengaja memanfaatkan memar itu karena mau tidak mau Seokjin mengeluarkan erangan kesakitan saat Namjoon meremas pinggulnya yang memar.

Dan akhirnya setelah membuat Seokjin benar-benar merasa pinggulnya mati rasa, Namjoon akhirnya melepaskan tangannya dari Seokjin.

"Aku tahu kau membencinya, tapi sayangnya, trauma bodohmu itu masih menang, Seokjin.." bisik Namjoon. "Jika kau benar-benar ingin terjun ke dalam permainan, aku mengharapkan gerakan yang jauh lebih kuat daripada ini." Namjoon bergerak menjauh kemudian kembali menatap sekitar dengan datar, terlihat tidak terpengaruh sama sekali setelah mencium Seokjin. Berbeda dengan Seokjin yang masih gemetar dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Seharusnya Seokjin tahu, bahwa sejak awal dia memang berurusan dengan iblis yang salah.


.

.

.


Seokjin tidak pernah suka pesta, dan ternyata firasatnya terkait pesta itu sungguh tepat karena dia bertemu Lee Jaehwan di sana. Mungkin datang ke pesta kemarin dan bertanding bersama Kim Namjoon merupakan kesalahan Seokjin yang cukup fatal.

Seokjin masih tidak bisa melupakan ketakutan dan traumanya akan pria itu. Jaehwan masih memberikan sebuah ketakutan tersendiri untuk Seokjin. Tidak peduli kemana Seokjin pergi atau bagaimana Seokjin berusaha menutupinya, trauma itu tidak juga pergi.

Atau mungkin memang mereka tidak bisa pergi.

Mungkin memang Seokjin membutuhkan ketakutan itu untuk mengatasi kehidupannya.

Atau mungkin.. ketakutan itu akan menjadi sumber kekuatannya untuk hidup. Bukankah kekuatan terhebat berasal dari kelemahan yang kau jadikan senjata?

Seokjin percaya akan hal itu dan mungkin karena itulah alam bawah sadarnya mencegah Seokjin untuk menghapus kenangan buruk terkait masa lalunya yang menyedihkan.

"Aku tahu kau membencinya, tapi sayangnya, trauma bodohmu itu masih menang, Seokjin.." bisik Namjoon. "Jika kau benar-benar ingin terjun ke dalam permainan, aku mengharapkan gerakan yang jauh lebih kuat daripada ini."

Ya, Namjoon benar. Sesuatu yang sempat diucapkan Namjoon padanya itu memang benar. Seokjin harus melakukan sesuatu untuk memenangkan permainan ini.

Hanya saja Seokjin masih tidak tahu apa yang harus dia lakukan.

Seokjin menghela napas pelan, setelah kembali dari pesta dan melalui malam yang terasa seperti perang dingin bersama Namjoon, Seokjin harus kembali menjalani harinya sebagai boneka yang menghuni rumah Namjoon.

Tidak ada yang bisa Seokjin lakukan di rumah itu selain duduk diam, memperhatikan pekerjaan para pelayan, dan juga kembali diam. Dan Seokjin tidak biasa berdiam diri seperti ini sehingga dia merasa benar-benar bosan.

Seokjin ingin keluar, tapi dia bahkan tidak tahu kemana dia harus pergi. Sejak awal Seokjin tidak memiliki teman, dia hanya memiliki rekan kerja dan hubungan diantara mereka hanyalah sekedar profesionalitas semata.

Dia tidak pernah benar-benar memiliki seseorang yang disebut 'teman'.

Satu-satunya orang yang benar-benar dekat dengannya saat masa sekolah adalah Lee Jaehwan tapi Seokjin jelas akan menendang nama itu dari bagian 'teman masa lalu'nya. Seokjin bahkan berharap dia tidak perlu berurusan dengan pria itu lagi.

Helaan napas pelan kembali keluar dari bibir Seokjin, dia memperhatikan Jungkook yang sibuk menumpuk-numpuk lego. Taehyung bercerita bahwa semalam, selagi menunggu Seokjin pergi ke pesta bersama Namjoon, dia dan Jungkook bermain lego dan sepertinya sekarang bayinya lebih menyukai bermain dengan itu daripada dengan mainan yang lain.

Jungkook terlihat sibuk menyusun lego dengan hati-hati kemudian saat tumpukan legonya sudah cukup rapi, Jungkook akan memekik senang kemudian memamerkan hasil karyanya itu kepada Bon-Bon dan boneka kelinci pemberian Hoseok, TaeTae.

Seokjin menghela napas lagi, dia benar-benar ingin keluar dari rumah ini. Bahkan jika itu hanya untuk membeli popsicle di minimarket.

"Kenapa, Jin?"

Seokjin menoleh dan melihat Jimin berjalan menghampirinya dengan penampilan rapi. Jimin pasti hendak bekerja.

Yah, akhirnya setelah cukup lama mengamati, Seokjin menyadari bahwa Namjoon dan Yoongi berada satu kantor, sedangkan Jimin biasanya mengurus beberapa hal kecil di perusahaan Namjoon dan mengurus para pelayan di rumah. Dia seperti kepala rumah tangga di keluarga ini.

Seokjin menggeleng pelan, "Aku hanya bosan." Dia tersenyum tipis, "Aku rindu berjalan-jalan di luar."

"Well, tapi sekarang kau setidaknya memiliki jadwal keluar setiap malamnya untuk menghadiri pesta." Jimin mengerutkan dahinya, "Dan bukankah siang ini kau juga harus ikut makan siang bersama para kolega Namjoon di perusahaan?"

Seokjin mengangguk, "Ya, benar. Jessica akan datang jam sebelas nanti." Seokjin memiringkan kepalanya, "Tapi yang kurindukan itu sensasi saat aku berjalan-jalan sendiri." Seokjin menarik napas pendek, "Aku juga rindu bekerja."

"Ah, aku sudah mengurus pekerjaanmu. Dan gaji terakhirmu semuanya sudah dimasukkan ke rekeningmu yang baru." Jimin mengangguk-angguk, "Aku sudah memberikan mereka surat pengunduran dirimu dan mereka semua menerimanya."

Seokjin menoleh ke arah Jimin, "Kau yang mengurus itu?"

Jimin mengangguk, dia berjalan dan duduk di sebelah Seokjin, "Ya, karena hanya aku yang bisa mengurus urusan semacam itu. Namjoon dan Yoongi terlalu sibuk, sementara Taehyung terlalu kecil." Jimin tersenyum lebar, "Tapi semua rekan kerjamu sangat baik, kutebak kau mendapatkan suasana kerja yang menyenangkan."

Seokjin tertawa kecil, "Benar sekali. Bekerja bersama dengan mereka sangat menyenangkan." Seokjin menoleh ke arah Jimin, "Bagaimana denganmu? Sepertinya pekerjaanmu cukup banyak."

Jimin mengibaskan tangannya, "Tidak sama sekali. Aku hanya harus pergi jika memang pihak karyawan perusahaan Namjoon membutuhkan bantuanku. Tapi selebihnya, aku hanya akan berada di rumah, mengurus keperluan rumah tangga keluarga ini."

Seokjin mengangguk paham, "Kau.. pasangan Yoongi, kan?"

Jimin mengerutkan dahinya kemudian tertawa, "Tentu saja."

"Tapi kenapa kau dan Taehyung sangat dekat?"

Jimin terdiam, dia menatap Seokjin dengan sendu. "Aku akan menceritakan satu rahasia kecil padamu."

Seokjin mengangguk pelan-pelan.

"Taehyung itu.. saudaraku." Jimin menghela napas, "Dia bukan saudara kandungku, tapi dia adalah adik kecil yang kucintai setengah mati saat kami berada di panti asuhan."

Seokjin membulatkan matanya, "Kau dan Taehyung berasal dari panti asuhan yang sama?"

Jimin mengangguk, "Yap, dan ketika aku tahu Taehyung diadopsi oleh Kim Namjoon, aku tidak bisa diam begitu saja. Aku keluar dari panti asuhan demi mencari Taehyung dan akhirnya 'memohon' pada Yoongi agar aku bisa bertemu dengan Taehyung."

"Dan untuk itu Yoongi memintamu menjadi pasangannya dan menikah dengannya?" tanya Seokjin lagi. "Apakah pernikahanmu hampir sama seperti pernikahanku? Untuk perjanjian?"

Jimin memiringkan kepalanya, "Ya, bisa dibilang begitu. Tapi ada perbedaan diantara perjanjian kau dan Namjoon dengan aku dan Yoongi. Aku mendengarkan sumpah pernikahan kalian dan aku tahu itu adalah perjanjian kalian." Jimin tersenyum, "Yoongi tidak menjanjikan 'selamanya' padaku, dia hanya menjanjikan 'kehidupan' selama berada di sampingnya."

Dahi Seokjin berkerut dalam, "Aku tidak mengerti."

"Hmm, memang ini agak rumit. Tapi Yoongi berjanji akan membantuku untuk hidup karena dia sudah mengambil sesuatu dariku."

"Apa yang diambil darimu?"

Jimin menghela napas pelan, "Ini bukan sesuatu yang menyenangkan untuk dikatakan, tapi anggap saja Yoongi mengambil sesuatu yang berarti dalam kehidupanku. Tapi setelah dia melakukan itu.." Jimin mengedikkan bahunya, "Aku tidak bisa bilang dia menyesal, tapi Namjoon mengatakan padaku seperti itu jadi mari kita anggap saja dia menyesal."

"Lantas bagaimana pernikahan itu bisa terjadi?"

Jimin menoleh ke arah Seokjin dan tersenyum kecil, "Aku terbangun dan Yoongi sudah duduk di sebelahku seraya memegang sebuah surat pendaftaran pernikahan dengan cap ibu jariku. Kurasa Yoongi mengambilnya saat aku tidak sadarkan diri."

Seokjin terdiam, masa lalu Jimin ternyata lebih buruk daripada yang Seokjin duga. "Lalu.. apa yang terjadi?"

"Yoongi membawaku ke sini sebagai pasangannya dan memperkenalkanku kepada Namjoon dan Taehyung. Taehyung sangat terkejut, kutebak dia mengingat siapa diriku, tapi saat itu Yoongi mengancamnya secara tidak langsung sehingga Taehyung bahkan tidak berani menatapku. Akulah yang mendekati Taehyung sampai akhirnya hubungan kami menjadi seperti ini."

"Dan Taehyung.. apa dia tahu?"

Jimin mengangkat bahunya, "Aku tidak pernah menceritakan ini pada siapapun. Yoongi membuatku berjanji untuk tidak mengatakan ini pada siapapun." Jimin menoleh ke arah Seokjin, "Kau adalah orang pertama yang mengetahui ini, dan aku cukup percaya padamu bahwa kau tidak akan membocorkan ini pada siapapun."

Seokjin tertegun, dia tidak sanggup berbicara sedikitpun sehingga yang dia lakukan hanya diam di sana seraya menatap Jimin.

Jimin menghela napas keras, "Tapi itu sudah berlalu, sekarang tidak ada lagi yang bisa dirubah. Aku sudah menjadi pasangan Yoongi dan kau sudah menjadi pasangan Namjoon." Jimin tersenyum kemudian dia menoleh ke belakang saat mendengar suara langkah kaki yang mendekati mereka, "Jessica sudah datang, kau harus bersiap."

Seokjin mengangguk pelan, dia melihat Jimin berdiri dan merapikan pakaiannya.

"Jimin,"

Jimin menunduk untuk menatap Seokjin, "Ya?"

"Apapun itu, jika memang kau tidak harus berada di sini, maka aku yakin kau pasti bisa keluar dari sini."

Jimin mengerjap kemudiand dia tertawa kecil, "Ya, kau benar. Tapi saat ini aku sudah cukup terbiasa dengan peranku sebagai Persephone yang ditawan oleh Hades di neraka." Jimin tersenyum penuh arti kepada Seokjin, "Aku tidak bisa keluar begitu saja."

Seokjin tertegun, dia memperhatikan Jimin yang berjalan menjauh dari sofa dan akhirnya keluar dari ruangan setelah menyapa Jessica. Seokjin masih diam di sana, berusaha mencerna kalimat yang diucapkan Jimin padanya.

'Aku sudah terbiasa dengan peranku sebagai Persephone yang ditawan oleh Hades..'

Hanya ada satu kesimpulan yang bisa diambil dari pernyataan itu.

Jimin mencintai Yoongi tanpa dia sadari walaupun sesungguhnya dia juga membenci pria itu.

Hal itu terbukti dengan Jimin yang bersedia tinggal di sini tanpa dia sadari walaupun mungkin tinggal di sini hampir sama seperti tinggal di neraka.

To Be Continued

.

.

.

Ya, sesuai apa yang aku janjikan, aku akan tetap update Heaven and Hell di sini tapi yang versi sensor atau dengan kata lain ada beberapa part yang hanya ada di buku dan tidak ada di sini.

Sensor itu memiliki arti yang luas lho ya, jadi yang disensor itu bukan berarti hanya mature content saja, ada banyak hal yang bisa disensor tergantung situasi dan kondisi yang kutetapkan.

Di sini aku akan tetap menceritakan garis besar dan inti dari Heaven and Hell, jadi kalian tidak perlu khawatir, aku jamin kalian akan tetap mendapatkan inti dan jawaban dari seluruh pertanyaan yang ada di ff ini. Hehehe

.

.

Bagi yang masih ingin mengikuti Pre-Order untuk fanbook Heaven and Hell ataupun Imprint, Pre-Order akan kembali dibuka di akhir bulan ini, nanti akan diupdate di sosial mediaku seperti Instagram (blacklunalite) atau LINE ( njw3095x).

Heaven and Hell akan terus diupdate di Wattpad lebih dulu dan baru di sini.

Terima kasih dan ditunggu selalu tanggapanya~