Keindahan dari sesuatu bernama perasaan dan hati manusia terletak pada kompleksitas dan bagaimana itu bergerak tanpa terkendali. Terkadang banyak orang yang merasa bahwa mereka bisa mengendalikan perasaan mereka sendiri namun pada akhirnya mereka hanya akan menjadi satu diantara sekian orang yang dibutakan oleh perasaan mereka sendiri.

Hati adalah sesuatu yang kompleks, kau tidak akan tahu apa yang akan menyebabkan dirimu tersenyum hari ini. Apakah itu karena rencanamu? Ataukah karena hal sepele seperti kondisi rambutmu yang terlihat jauh lebih cantik daripada kemarin?

Perasaan manusia merupakan sesuatu yang mudah goyah dan berganti, namun ada satu hal yang mampu membuatnya berdiri diam dan pasti.

Hal itu adalah sebuah keyakinan.

Keyakinan bahwa apapun yang pernah ada di hatimu dapat terwujud dengan usaha yang kuat.

Seokjin memiliki sebuah keyakinan yang kuat, dan kali ini dia pasti bisa mewujudkannya menjadi kenyataan.

"Seokjin, kenapa? Ada yang mengganggumu?"

Seokjin memalingkan pandangannya, menatap Jessica yang sedang menyisir rambutnya seraya menatapnya dengan pandangan bertanya. Seokjin tersenyum menenangkan dan menggeleng pelan, "Bukan apa-apa."

"Kau yakin?"

Seokjin mengangguk pelan, dia merapikan poninya yang menutupi dahi dengan gerakan pelan. "Ya, aku merasa baik-baik saja. Terlalu baik, malah."

Jessica tersenyum lebar, "Itu bagus! Karena jika kau ceria, pesonamu akan terlihat lebih jelas dan hebat." Jessica meletakkan sisir yang tadi dipegangnya kemudian meremas kedua bahu Seokjin, "Tunjukkan pada mereka semua kalau pasangan hidup Kim Namjoon adalah orang yang mempesona." Jessica mengakhiri kalimatnya dengan sebuah kedipan jenaka.

Seokjin terkekeh pelan, "Apakah harus?"

Jessica mengangguk serius, "Oh ya, tentu saja. Sekarang kau berada di posisi yang bisa dibilang setara dengan Namjoon. Mereka yang berada di perusahaan itu wajib tunduk padamu."

Seokjin terdiam, dia tersenyum tipis dan Jessica sendiri kembali melanjutkan gerakannya merias Seokjin.

Tunduk.

Satu kata yang sebelumnya tidak pernah digunakan oleh Seokjin kepada siapapun. Justru sebaliknya, Seokjin adalah orang yang selalu tunduk pada orang lain.

Dan sekarang dia bisa membuat orang lain tunduk padanya.

Seokjin tersenyum, dia menyadari kekuatan dan kekuasaan yang sekarang berada di ujung jarinya.

Kekuasaan adalah sesuatu yang selalu dicintai oleh manusia. Berdiri lebih tinggi daripada yang lainnya merupakan sesuatu yang begitu didambakan.

Karena pada dasarnya, setiap orang memiliki sisi egois untuk menjadi lebih baik daripada orang lain. Dan setiap orang tentunya ingin sekali mencicipi betapa menyenangkannya berdiri di atas orang lain dan mengendalikan mereka.

Seokjin tidak pernah mengalami itu sebelumnya. Tapi kini, dia bahkan bisa memerintah orang lain hanya dengan menggerakkan ujung jarinya.

Senyuman itu kembali muncul di bibir Seokjin. Tuhan memang benar-benar telah menjawab doanya.

Sekarang dia bisa melakukan apa saja, apapun, pada siapapun.

Dan tamu pertama yang akan mendapatkan kehormatan itu adalah Lee Jaehwan.


Heaven and Hell

.

.

.

a BTS fanfiction

by

Black Lunalite

.

.

.

.


Warn!

Mafia!AU, BL, contains some abuse and abusive relationship.

This story is pure fiction.

Read at your own risk.


.

.

.

.


Part 12: Devil's Kiss


Namjoon mengajak Seokjin dan juga Jungkook untuk pergi menghadiri sebuah acara makan siang dengan seluruh dewan direksi penting di perusahaan Namjoon. Seokjin tidak pernah menyukai perhatian berlebih yang ditujukan padanya tapi Seokjin rasa dia sudah mulai terbiasa untuk menghadapi banyak orang yang memusatkan perhatiannya kepada Seokjin.

Yah, Seokjin harus belajar beradaptasi atau dia tidak akan bisa bertahan hidup dalam kehidupannya sekarang bersama seorang Kim Namjoon.

Ketika mereka tiba di perusahaan Namjoon, beberapa karyawan berdiri di dekat pintu untuk menyambut Namjoon. Namjoon hanya berjalan masuk dengan langkah tegap sementara Seokjin mengikutinya di belakang seraya menggendong Jungkook.

Jungkook menatap sekitar dengan pandangan kagum dan mata yang berbinar-binar menggemaskan. Seokjin tersenyum melihat reaksi polos anaknya dan Seokjin tidak tahan untuk tidak mengecup pipi gemuk Jungkook. Jungkook tertawa nyaring dan beberapa karyawan wanita yang melihatnya memekik tertahan karena Jungkook sangat lucu.

"Seokjin,"

Seokjin menoleh dan melihat Namjoon berdiri menunggunya, Seokjin bergegas melangkah menghampiri Namjoon dan Namjoon meraih Jungkook untuk dipindahkan dalam gendongannya. Seokjin membulatkan matanya tapi Namjoon justru kembali melanjutkan langkahnya dengan Jungkook dalam gendongannya.

Pandangan Seokjin melirik Jungkook yang berada dalam gendongan Namjoon dengan hati-hati tapi kelihatannya anaknya tidak keberatan sama sekali berada dalam gendongan Namjoon. Bahkan putra kecilnya itu sudah sibuk berceloteh riang soal banyak hal yang mungkin baru dilihatnya kali ini sementara Namjoon menjawab dengan tenang dan terdengar santai.

Ketika mereka memasuki aula tempat diadakannya acara makan siang ini, nyaris semua kursi sudah terisi penuh kecuali kursi di bagian kepala meja. Seokjin melangkah masuk dengan ragu-ragu di belakang Namjoon sementara semua yang tadinya berada di ruangan itu segera berdiri dan membungkuk hormat pada Namjoon dan Seokjin yang baru saja melangkah masuk.

Namjoon menempati kursi di bagian depan dan Seokjin duduk di sebelahnya, Seokjin meminta satu kursi lagi untuk Jungkook dan tak lama kemudian seorang pelayan segera memberikan kursi tambahan untuk Jungkook.

"Selamat siang," Namjoon memulai. "Aku mengumpulkan kalian di sini adalah karena aku ingin memperkenalkan pasanganku secara resmi kepada perusahaan."

Seokjin mendengarkan dalam diam karena sesungguhnya dia memang tidak tahu kenapa dia dibawa ke perusahaan Namjoon untuk makan siang.

"Ini Kim Seokjin, dan anak kami, Jungkook." Namjoon menoleh ke arah Seokjin, "Dan mulai hari ini, Seokjin juga menjabat sebagai salah satu dewan direksi." Namjoon memiringkan kepalanya, "Dia akan menjadi mitra pasif, tapi dia akan tetap menjadi bagian dari salah satu pemegang saham perusahaan ini."

Seokjin membelalakkan matanya dan menatap Namjoon dengan tatapan terkejut. Dia tidak tahu kalau Namjoon menempatkannya dalam posisi yang penting di dalam perusahaan yang didirikan olehnya. Kepala Seokjin bergerak dan kali ini dia memperhatikan orang-orang yang menatapnya dengan pandangan yang beraneka ragam.

Tapi dengan masuknya Seokjin sebagai salah satu tokoh penting di perusahaan, itu akan membuat orang-orang mulai memindahkan fokusnya ke arah Seokjin. Ini sama saja seperti memberikan Seokjin pekerjaan baru yang lebih sulit.

Seokjin tidak pernah berniat untuk masuk terlalu jauh ke dalam kehidupan Namjoon, tapi kelihatannya Namjoon lah yang ingin melibatkan Seokjin secara utuh. Dan selama kegiatan makan siang itu berlangsung, Seokjin hanya duduk di sana, dia benci menjadi pusat perhatian karena Seokjin benar-benar memiliki kenangan buruk dengan menjadi pusat perhatian.

Dan sekarang, semua yang berada di ruangan itu menatapnya seolah Seokjin makan dengan menggunakan pisau daging. Seokjin menghela napas pelan, dia harus berusaha terlihat santai atau mereka akan menyadari betapa berdebarnya Seokjin karena diperhatikan dengan begitu intens.

"Hmm, hebat juga, Seokjin.." Namjoon berbisik pelan ketika akhirnya sesi makan siang selesai dan saat ini mereka sedang menikmati secangkir teh dan kopi seraya mengobrol ringan.

Seokjin menoleh ke arah Namjoon dan tersenyum tipis, dia tidak boleh terlihat gugup. "Aku tidak boleh membuatmu malu di hadapan mereka, bukan?"

Namjoon menaikkan sebelah alisnya dan tertawa pelan, dia sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Seokjin dan berbisik rendah. "Pintar sekali."

Bisikan itu diucapkan dengan begitu dekat, Seokjin bahkan bisa merasakan hembusan napas panas Namjoon di telinganya dan ini mau tidak mau membuatnya bergidik pelan.

Beberapa dari tamu di ruangan itu mulai bertanya kepada Namjoon mengenai kehidupan pernikahannya dan Seokjin. Beberapa lainnya bertanya soal Jungkook seperti berapa usia anak itu dan lain-lainnya.

"Anakku carrier," Seokjin menjelaskan dengan tegas ketika salah satu diantara mereka bertanya apakah Jungkook dominan. "Dia carrier dan aku tidak keberatan dengan itu." Seokjin menekankan seraya menatap sosok pria paruh baya yang baru saja bertanya pada Seokjin.

Pria itu mengangguk dan tersenyum, "Ya, tidak heran dia begitu manis." ujarnya seraya tersenyum mencurigakan.

Seokjin menyipitkan matanya, dia menatap Namjoon namun pria itu sedang sibuk menjawab pertanyaan lainnya yang dilayangkan padanya.

Seokjin memutuskan untuk diam selama sisa acara makan siang itu dan ketika acara tersebut berakhir, Seokjin segera meraih lengan Namjoon dan mengajaknya ke sudut koridor yang sepi setelah sebelumnya menitipkan Jungkook pada salah satu pengawal.

"Apakah ada diantara mereka yang hadir tadi kebetulan mengenal Jaehwan?" tanya Seokjin langsung.

Namjoon mengerutkan dahinya, "Tentu saja, Lee Jaehwan cukup terkenal di dunia bisnis."

Seokjin terdiam, dia memasang wajah berpikir kemudian dia menatap Namjoon, "Kau bilang kau akan membantuku."

Namjoon mengangguk, "Memang,"

"Di pesta malam nanti, apakah Jaehwan akan datang?"

"Kurasa begitu, pesta malam nanti adalah undangan dari seorang artis besar di sini. Dia pastinya mengundang Jaehwan karena dia tokoh besar di dunia semacam itu."

Seokjin mendongak menatap Namjoon, "Bantu aku menghukum Jaehwan."

Namjoon menyeringai, dia sudah sangat menantikan Seokjin akhirnya akan bergerak. Sejak awal dia sadar bahwa Seokjin memang bukan sosok yang selemah itu.

"Apa yang kau inginkan?"

"Aku ingin dia terlibat dalam skandal." Seokjin meremas jemarinya sendiri, "Buat seolah dia memiliki skandal besar dengan seseorang, entah artis atau siapapun. Intinya, buat dia memutuskan untuk menutup diri dari media."

Namjoon mengangguk santai, "Lalu apalagi yang akan kau lakukan?"

"Aku akan membeli perusahaannya. Jika pamornya turun, maka harga perusahaannya akan turun, benar?"

Namjoon menimbang-nimbang sebentar kemudian dia menatap Seokjin, "Kau tahu, Seokjin? Kalau dia masih berada di dunia ini, dia akan menggunakan berbagai cara untuk membuktikan kalau dia adalah ayah Jungkook." Namjoon menyeringai, "Kau yakin akan membiarkannya begitu saja?"

Dan tubuh Seokjin mulai gemetar saat mendengar tawaran Namjoon.

Astaga, tawaran itu begitu menggoda. Membunuh Jaehwan, terasa begitu menyenangkan hingga Seokjin bahkan bisa merasakan manis di ujung lidahnya.

Tapi jika dia membunuh Jaehwan, maka itu berarti Seokjin akan membunuh lagi. Dia akan membunuh lagi, mengotori tangannya dengan darah lagi. Seokjin menunduk dalam seraya mengepalkan tangannya kuat-kuat, ingatan soal pembunuhan pertamanya selalu membuatnya mual.

"Seokjin?" tanya Namjoon lagi, "Jungkook masih menunggu kita. Kau belum memutuskan?"

Seokjin mendongak, "Aku sudah memutuskan."

'Seokjin menghantam kepala pria gemuk itu dengan sebuah batang besi dengan keras..'

Namjoon menyeringai, "Dan apa keputusanmu?"

'Seokjin membuka mulut pria itu dan menaburkan racun tikus ke dalam mulutnya..'

Seokjin menatap Namjoon dengan pandangan mantap, "Aku akan membunuhnya." Seokjin menatap Namjoon dengan pandangan serius dan Namjoon mengangguk seraya tersenyum puas. 'Ya, aku bisa membunuhnya. Membunuh itu mudah. Benar, itu mudah.'


.

.

.


Seokjin mencoba yakin dan percaya bahwa ini adalah sesuatu yang benar-benar ditunggu olehnya. Dia harus bisa membuat mereka mendapatkan balasan yang setimpal atas apapun yang pernah mereka perbuat pada Seokjin.

Seokjin sudah mengeraskan hatinya sejak lama, dia tidak lagi berusaha untuk membuka dirinya karena Seokjin sadar itu tidak berguna. Seokjin menyayangi Jungkook karena dia adalah bagian dari diri Seokjin.

Dia bisa melalui apapun, asalkan Jungkook bisa mendapatkan posisi yang tepat dan bisa berjalan dengan kepala yang terangkat tinggi tanpa perlu mengkhawatirkan apapun lagi. Seokjin harus menjamin posisi Jungkook, apapun yang terjadi.

Seokjin menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan, dia harus siap menghadapi pesta lainnya yang sudah menunggunya. Seokjin benci pesta dan kelihatannya dia memang tidak akan bisa terbiasa menghadapi pesta.

Akan tetapi setelah melewati banyak pesta, Seokjin rasa dia sudah cukup baik dalam menyesuaikan dirinya sendiri dalam tiap situasi dan juga kondisi tertentu. Dia adalah seorang pengamat lingkungan yang cukup pandai karena kehidupannya yang keras, Seokjin bisa beradaptasi menjadi apapun dalam waktu singkat karena dia sadar bahwa kemampuannya itu adalah sesuatu yang membuatnya tetap bertahan hidup sampai hari ini.

Pesta kali ini diselenggarakan di sebuah rumah besar yang kabarnya merupakan rumah dari sang pemilik pesta. Seokjin memasuki rumah itu bersama Namjoon dan beberapa orang yang kebetulan sudah berada di sana langsung melirik ke arah mereka dengan tatapan penasaran saat Seokjin dan Namjoon melangkah masuk.

"Seperti biasanya, kita akan menarik perhatian." Namjoon mendesah malas, dia merapikan posisi tangan Seokjin yang memeluk lengannya. "Perbaiki posisimu, berhentilah bersikap kaku. Kau membuatku benar-benar terlihat seperti orang jahat."

Seokjin memutar bola matanya, "Kau memang seseorang yang seperti itu."

Namjoon menyeringai, "Senang akhirnya kau menyadari itu."

"Kenapa hidupmu benar-benar penuh dengan pesta? Ini membuatku sakit." lirih Seokjin seraya melirik ke sekitar dan tanpa sadar mengeratkan pelukannya di lengan Namjoon.

"Hidupmu akan penuh dengan pesta setelah kau menjadi bagian dari keluargaku."

"Dan apakah hidupku juga akan selalu terancam?"

Namjoon mengangguk asal, "Nah, itu juga benar."

Seokjin melirik sekitar dan kali ini dia berhasil menemukan beberapa pasang mata wanita yang menatapnya dengan iri. Seokjin tersenyum miring, sengaja mengangkat dagunya dan menunjukkan ekspresi angkuh. "Bagaimana dengan permintaanku?"

Namjoon meraih sebuah gelas berisi champagne yang dibawakan oleh pelayan. "Yoongi sedang mengurusnya untukmu."

Seokjin tertegun, mendadak dia teringat soal cerita masa lalu Jimin dan Yoongi yang baru saja diceritakan oleh Jimin padanya. Dia melirik Namjoon kemudian berdehem, "Kudengar Yoongi dan Jimin sudah menikah?"

Namjoon mengangguk, "Itu benar, hari ketika Yoongi memperkenalkan Jimin kepada keluarga adalah hari dia resmi mendaftarkan pernikahan mereka."

"Kenapa mereka bisa menikah?"

"Karena Jimin adalah lawan yang sebanding untuk Yoongi."

Seokjin mengangkat pandangannya untuk menatap Namjoon, "Apa maksudmu?"

"Wartawan di arah jam tiga." Namjoon menoleh ke arah Seokjin dan menunduk untuk menatapnya. Seokjin tersentak kaget karena Namjoon tiba-tiba saja menatapnya dengan begitu dalam, dia tertegun dengan mata membulat besar.

"A-apa?" ujar Seokjin gugup.

Namjoon menyeringai, "Aku memberikan foto yang bagus untuk para wartawan itu."

Seokjin mengerjap, masih terlalu terkejut karena Namjoon benar-benar menatap ke dalam matanya selama beberapa detik. Seokjin nyaris ketakutan Namjoon bisa mempelajari dirinya karena pandangan mata itu.

"Mulai besok aku ingin kau pergi ke rumah sakit Hoseok." Namjoon memalingkan pandangannya dan kembali menatap suasana pesta.

"Kenapa?"

"Aku ingin kau memulai terapi untuk kesuburan dirimu. Aku tidak suka kegagalan."

Seokjin meringis pelan, Namjoon benar-benar menganggap calon anak mereka sebagai aset. "Baiklah, lantas bagaimana dengan dirimu sendiri?"

Namjoon menyeringai, "Aku sehat, aku rajin menemui dokterku. Jangan khawatir, Seokjin."

Seokjin melirik Namjoon dengan pandangan tidak suka. Dia tidak suka Namjoon menganggap bayi yang nantinya akan dikandung oleh Seokjin sebagai barang yang bisa dia gunakan sesuka hatinya.

Itu adalah calon bayi Seokjin.

Seokjin tidak keberatan jika Namjoon tidak menganggap anaknya, tapi Seokjin akan mencintai bayinya seperti dia mencintai dirinya sendiri dan dia tidak bisa membiarkan Namjoon menghancurkan bayinya begitu saja.

Pemikiran itu membuat Seokjin merasa mual luar biasa terhadap Namjoon. Dia berdehem kemudian perlahan melepaskan lengannya dari lengan Namjoon. "Aku butuh toilet." Seokjin berbisik sebelum kemudian dia berbalik dan segera menjauh dari Namjoon.

Seokjin bisa memikirkan rencana pembunuhan walaupun itu juga akan membuat rasa mual muncul di tenggorokannya. Tapi jika itu terkait dengan bayi-bayinya, rasa mual dan jijik itu akan semakin menjadi-jadi hingga membuat Seokjin benar-benar ingin memuntahkan rasa mual dan jijik itu dari tubuhnya.

Kaki Seokjin melangkah cepat menuju toilet dan setelah dia berada di dalam toilet, Seokjin berdiri di depan wastafel dan memperhatikan wajahnya. Wajahnya terlihat pucat dan lusuh, Seokjin mengusap pipinya sendiri dan membayangkan dirinya akan segera disentuh oleh Namjoon kembali membuatnya muak.

Seokjin menunduk, memutar kran air dan mencuci tangannya di sana, dia benar-benar mencucinya sampai bersih sebelum kemudian Seokjin meraih beberapa tisu dan mengeringkan tangannya. Seokjin menarik napas dalam dengan mata terpejam, mencoba memberikan sugesti kepada dirinya sendiri untuk tenang.

Dan akhirnya setelah tarikan napas kesepuluh, Seokjin sudah merasa jauh lebih baik, dia membuka pintu toilet dan berjalan keluar. Namun sebelum Seokjin kembali ke aula pesta, dia berpapasan dengan seorang pria gemuk yang berjalan dengan langkah agak terhuyung. Seokjin mengerutkan dahinya dan menggeser tubuhnya menjauh dari pria itu.

Seokjin sudah hapal mati kondisi seseorang saat mabuk dan kelihatannya pria itu juga sama. Dia tidak tahu apa alasannya tapi bagi Seokjin semua pria mabuk sama saja. Seokjin melangkah dengan hati-hati untuk menjauhi pria itu namun saat Seokjin melewatinya, pria itu meliriknya dan menarik lengan Seokjin.

Sialnya, lengan Seokjin masih terasa nyeri karena memar bekas cengkraman Namjoon masih bersisa. Dan ketika pria itu menangkap lengannya, Seokjin tidak bisa berbuat apa-apa selain mengerang sakit seraya berusaha melepaskan lengannya dari cengkraman.

Namun pria itu sepertinya menyadari kesakitan Seokjin sehingga dia menyeringai dan membanting tubuh Seokjin ke dinding. Seokjin mengaduh pelan dan pria itu menyudutkannya dengan menekan tubuhnya ke tubuh Seokjin.

Tubuh Seokjin gemetar ketakutan dan dia memejamkan matanya rapat-rapat saat napas pria itu yang bercampur alkohol memenuhi indera penciumannya. Seokjin merasa jijik, dia benar-benar benci hidupnya karena dia selalu saja mengalami pelecehan lagi dan lagi. Seokjin meronta dan berusaha menendang pria itu namun pria itu justru meraung marah dan mencengkram lengan Seokjin dengan semakin keras.

Seokjin menahan jeritan kesakitannya, namun sebelum pria itu sempat melakukan tindakan lebih jauh, beberapa orang sudah menarik pria itu menjauh dari Seokjin. Seokjin membuka matanya dengan perlahan, tubuhnya masih gemetar hebat dan dia melihat beberapa pengawalnya nampak menahan pria itu di lantai.

Napas Seokjin memburu, dia menarik napas dengan terburu-buru sementara dia mencoba untuk tetap bertahan dan berdiri dengan menggunakan kakinya sendiri yang gemetar dan melemas.

"Singkirkan dia dari hadapanku."

Seokjin menoleh saat mendengar suara yang terdengar sangat dingin dan kejam, dia melihat Namjoon berdiri di dekatnya dengan wajah murka luar biasa. Dan akhirnya setelah pria itu dibawa pergi oleh beberapa pengawalnya, Namjoon segera berjalan menghampiri Seokjin.

"Kau oke?" bisik Namjoon.

Seokjin menatap Namjoon dengan pandangan liar, dia ingin bersikap kuat seperti biasanya dan menjawab dengan nada santai kalau dia baik-baik saja tapi Seokjin tidak bisa. Bibirnya bergetar hebat dan yang keluar dari bibirnya hanyalah isakan menyedihkan, sekali lagi trauma Seokjin berhasil menelannya ke dalam ketakutan terdalamnya dan dia tidak yakin dia bisa bersikap kuat karena ketakutan itu menguasainya.

Airmata Seokjin mengalir dan Seokjin memalingkan pandangannya. Dia tidak mau Namjoon melihatnya dalam kondisi lemah dan menyedihkan tapi bahkan saat ini dia tidak bisa berdiri dengan kakinya sendiri.

Namjoon menghela napas dan meraih Seokjin ke dalam pelukannya. Seokjin memekik panik dan berusaha mendorong Namjoon. Dia masih sangat ketakutan dan kontak fisik sedekat ini semakin membuatnya panik. Seokjn memukul lengan Namjoon dan berusaha melepaskan diri namun Namjoon menahannya di sana.

"Tidak! Lepaskan!" Seokjin menjerit dan berusaha mendorong tubuh Namjoon namun Namjoon bergeming.

Seokjin terisak lagi, "Hentikan!" jeritnya dengan suara parau tapi Namjoon meregangkan pelukannya, menangkup wajah Seokjin, kemudian menempelkan bibirnya ke bibir Seokjin dengan keras. Namjoon melumat perlahan bibir Seokjin yang gemetar hebat sementara Seokjin membulatkan matanya.

Itu adalah kontak fisik paling intens yang pernah Namjoon lakukan padanya. Lupakan ciuman pernikahan mereka karena di sana Namjoon tidak benar-benar menciumnya.

Ini adalah kali pertama Namjoon menciumnya.

Dan bukankah seharusnya Seokjin merasa takut?

Tapi.. kenapa dirinya tidak gemetar ketakutan?


.

.

.


Ketika ciuman itu terlepas, Seokjin bahkan tidak sanggup untuk bernapas dengan normal. Dia berpegangan begitu kuat pada Kim Namjoon seolah jika dia tidak melakukannya, dia akan terjatuh hingga ke dasar bumi.

Sedangkan Kim Namjoon sendiri terlihat tidak terlalu peduli, dia melepaskan pelukannya secara perlahan namun tetap membiarkan Seokjin mencengkram lengannya. Dia mendengar deru napas Seokjin yang tidak teratur namun Namjoon membiarkannya.

"Aku tidak akan membiarkan orang lain menyentuhmu lagi." Namjoon berbisik, "Biasakan dirimu padaku, bedakan aku dengan mereka."

Kalimat itu bergaung dalam telinga Seokjin dan terus terulang dalam kepalanya, rasanya seperti mendengar seseorang baru saja memberikan mantra padanya. Seokjin mengerjap, perlahan menyadari bahwa pada kenyataannya dia memang akan sangat sulit melepaskan diri dari Namjoon dan saat ini memang hanya Namjoon yang jelas-jelas berhak untuk menyentuh setiap jengkal kulitnya.

"Beri aku waktu.." Seokjin berbisik, dia memejamkan matanya secara perlahan dan mencoba mensugesti dirinya sendiri bahwa yang dia butuhkan hanyalah waktu.

Namjoon menunduk menatap Seokjin yang masih menempel padanya. "Aku sudah memberikannya." Namjoon meletakkan tangannya ke tangan Seokjin yang mencengkram pakaiannya kemudian melepaskan cengkraman itu dari sana.

"Tidakkah kau menyadari bahwa diriku sedang melakukan sebuah tindakan kesabaran tingkat tinggi?" ujar Namjoon kemudian dia melangkah mundur menjauhi Seokjin. "Kau seharusnya tidak memanfaatkan kebaikanku sampai sejauh itu."

Dan Namjoon berjalan meninggalkan Seokjin yang masih terpaku seraya menatap lantai.

Benar, berdasarkan awal perjanjian mereka, Namjoon sudah mengatakan dia akan memberinya waktu hingga satu bulan untuk mengurus kejiwaannya. Dan Namjoon sudah memberikannya, satu bulan penuh menuju pernikahan mereka, dan sekarang Namjoon menambahkan bonus sepuluh hari setelah pernikahan mereka dengan alasan bahwa mereka memiliki banyak pesta yang harus dihadiri.

Namjoon memberikan tambahan waktu untuknya.

Dan Seokjin justru mulai melakukan sebuah tindakan egois dengan menganggap bahwa Namjoon tidak memberikannya waktu yang cukup.

Namjoon merendahkan level permainannya agar Seokjin bisa berpartisipasi. Dia memberikan waktu tambahan untuk Seokjin yang bahkan tidak bisa berdiri dengan tegak menghadapi sedikit sentuhan ringan di tangannya.

Seokjin mengepalkan tangannya, mendadak merasa bahwa dia harus melakukan sesuatu agar Namjoon tidak perlu mengasihaninya lagi dan kembali menurunkan level permainan mereka.

Tidak, Seokjin akan memanfaatkan Namjoon untuk memenangkan pertempuran yang lebih sulit.

Dia harus meningkatkan permainannya sendiri. Dia harus membuat Namjoon jauh lebih mempercayainya dan benar-benar membantu Seokjin memenangkan permainannya sendiri. Membantu Seokjin menjalankan rencananya untuk membalas mereka semua.

Karena Seokjin yakin dia tidak akan bisa melakukannya tanpa Namjoon.

Seokjin menarik napas dalam dan perlahan berjalan meninggalkan tempatnya berdiri, beberapa pengawalnya membungkuk sopan padanya dan Seokjin membalasnya dengan anggukan ringan.

"Namjoon?" ujar Seokjin, terdengar seperti berbicara sendiri namun para pengawalnya segera menangkap maksudnya.

"Tuan Besar sudah kembali ke mobil, Tuan Seokjin."

Seokjin mengangguk pelan, "Kalau begitu kita juga ke mobil." Seokjin melangkah lebih dulu dan para pengawalnya bergegas mengikuti. Seokjin mengulum bibirnya sendiri dan dia masih bisa merasakan rasa Namjoon di sana.

Dan untuk pertama kalinya, Seokjin bisa menyakinkan diri kalau dia tidak mual. Untuk pertama kalinya, dia tidak merasa jijik pada kontak fisik intim yang dilakukan seseorang padanya.

Apakah itu pengaruh Seokjin yang sudah terbiasa melihat Namjoon dalam kehidupannya belakangan ini?

Ketika Seokjin masuk ke dalam mobil, dia melihat Namjoon sudah duduk di sana dengan pandangan mata yang terfokus pada ponselnya dan terlihat jelas dia seperti sedang memeriksa sesuatu di ponselnya.

Seokjin beringsut duduk di sebelah Namjoon dan memainkan jemarinya, "Kau bilang aku harus membiasakan diriku denganmu, kan?"

Namjoon menggumam pendek, pandangan matanya tidak beralih dari ponselnya yang masih menyala.

"Kalau begitu aku akan menyentuhmu secara teratur mulai sekarang." Seokjin memberanikan dirinya untuk menatap Namjoon, "Berapa lama lagi sisa waktu yang kau berikan untukku?"

Namjoon menyerah, dia menghela napas dengan suara keras kemudian menatap Seokjin setelah menyingkirkan ponselnya. "Empat hari."

"Dan aku akan menyembuhkan traumaku dalam empat hari itu." Seokjin menatap Namjoon sungguh-sungguh. "Tapi aku butuh bantuanmu."

"Aku tidak akan menyentuhmu jika kau tidak memintanya." Namjoon tersenyum tipis, "Aku tidak pernah ditolak dan menyentuhmu tanpa izin tentunya hanya akan membuatmu secara refleks menolakku."

Seokjin tersenyum, "Kalau begitu aku akan yang menyentuhmu lebih dulu, bagaimana?"

Namjoon menyeringai, "Cukup adil."

Seokjin mengangguk tegas dan Namjoon menatapnya dengan pandangan menilai.

Seokjin tidak tahu apa yang kiranya berada di pikiran Namjoon saat ini, tapi Seokjin hampir yakin kalau Namjoon mungkin saja menyadari sesuatu dalam dirinya.

"Mulai besok kau akan menemui Hoseok untuk kondisi tubuhmu."

"Baiklah,"

To Be Continued

.

.

.

Akhirnya setelah sekian lama. Wkwkwkwk

Heaven and Hell ini akan tamat dalam 1-2 chapter lagi kalo di Wattpad sama di FFN ya ^^v

.

.

Ditunggu selalu tanggapannya~