Terdapat suatu tahapan dan susunan dalam kehidupan manusia.

Ini terkesan seperti semua orang hidup dalam alur dan tatanan yang sudah ditetapkan dalam kehidupan.

Siapa yang menetapkan aturan itu? Apakah Tuhan yang menetapkannya?

Tidak, Tuhan hanya memberikan pilihan dalam kehidupan.

Susunan itu terbentuk karena keinginan di dalam diri manusia untuk berubah, untuk menjadi jauh lebih baik daripada sebelumnya.

Susunan itu ada bahkan sebelum manusia mengerti apakah arti dari suatu susunan itu.

Pada zaman dahulu, mereka mempelajari urutan dalam berburu. Mereka menyadari bahwa untuk berburu, mereka butuh membuat senjata, dan setelah membuat senjata, mereka butuh kesabaran untuk mengintai hewan buruan, dan akhirnya ketika hewan buruan telah didapatkan, mereka butuh kesabaran lainnya untuk memasak daging itu hingga akhirnya mereka bisa makan.

Apakah Tuhan menciptakan susunan itu?

Tidak, Tuhan hanya memberikan pilihan.

Tuhan menciptakan hewan.

Tuhan menciptakan manusia.

Dan Tuhan menciptakan akal dan pikiran dalam diri manusia.

Lalu pada akhirnya, manusia yang akan membuat susunan tersendiri dalam melalui kehidupan.

Dan susunan ini akan terus berlaku.

Setiap manusia akan menyusun kehidupan mereka secara apik agar mereka tidak perlu mengalami hal-hal tidak penting. Walaupun terkadang penghalang akan datang, pada akhirnya mereka akan tetap berada pada susunan yang telah disusun sejak awal.

Seokjin masih berada di bagian tengah dari seluruh susunan kehidupannya. Karena dia belum mendapatkan bagian yang menyenangkan dalam kehidupannya.

Seokjin melakukan sedikit kesalahan dalam susunannya, karena dia memutuskan untuk melibatkan Kim Namjoon terlalu jauh dalam kehidupannya.

Dia memberikan kepingan hatinya yang berupa rasa percaya kepada Kim Namjoon. Dan Seokjin sangat menyadari bahwa dia mulai memberikan rasa percaya yang 'terlalu banyak' kepada Kim Namjoon.

Seokjin harus berhenti.

Atau rencananya selama ini akan benar-benar hancur berantakan.

Seokjin tidak bisa melibatkan kepingan hatinya lebih jauh lagi.

Karena Seokjin yakin dia tidak akan bisa mengambilnya kembali jika dia memberikan kepingan hatinya yang lebih dari ini.


Heaven and Hell

.

.

.

a BTS fanfiction

by

Black Lunalite

.

.

.

.


Warn!

Mafia!AU, BL, contains some abuse and abusive relationship.

This story is pure fiction.

Read at your own risk.


.

.

.

.


Part 13: Puzzle Pieces: Care


Seokjin menggeliat pelan dan perlahan membuka matanya, instingnya mengatakan ini sudah pagi hanya saja Seokjin tidak tahu jam berapa saat ini, Seokjin menoleh ke samping dan dia melihat Namjoon berbaring di sisi ranjang lainnya dengan mata terpejam dan napas yang berhembus teratur. Ini merupakan suatu momen yang jarang terjadi karena biasanya walaupun mereka tidur di kamar dan tempat tidur yang sama, Namjoon selalu pergi sebelum Seokjin terbangun dan masuk ke kamar ketika Seokjin terlelap.

Hidup tanpa bekerja membuat tubuh Seokjin menjadi terlampau rileks dan santai hingga dia tidak lagi terbiasa untuk terbangun di dini hari dan bekerja. Seokjin masih tetap selalu terbangun di pagi hari, namun tidak lagi sama.

Biasanya Seokjin akan terbangun ketika Namjoon sudah selesai bersiap-siap untuk pergi ke kantor dan pria itu hanya akan meliriknya seraya mengatakan agar Seokjin bergegas atau dia akan terlambat untuk sarapan.

Tapi pagi ini berbeda, Seokjin bangun lebih dulu dan dia melihat Namjoon berbaring dengan damai di sebelahnya. Walaupun jarak yang membentang di antara mereka cukup luas, Seokjin masih bisa memperhatikan wajah Namjoon secara seksama.

Dan bohong jika Seokjin mengatakan Namjoon jauh dari kata mempesona. Tidak peduli bagaimana kejamnya pria itu, Namjoon memiliki fitur yang sempurna di wajahnya. Dia terlihat mempesona dan tentunya Seokjin mengerti kenapa ada banyak orang yang bersedia mengantri hanya untuk mendapatkan sedikit perhatian Namjoon.

Helaan napas pelan keluar dari sela bibir Seokjin, Seokjin tidak jatuh cinta, dia belum pernah merasakan cinta dan Seokjin sangat sadar bahwa dia tidak boleh jatuh cinta. Tidak sebelum dia bisa membalaskan semua penderitaannya di masa lalu. Karena penderitaan itu membakar habis seluruh hatinya hingga cinta tidak akan bisa menyusup masuk ke dalamnya.

Seokjin melirik jam dan dia menyadari bahwa sekarang sudah hampir pukul enam pagi. Biasanya Seokjin terbangun sekitar jam 6.30 pagi dan Namjoon baru saja selesai mandi dan sedang bersiap-siap, itu berarti Namjoon biasanya terbangun sekitar pukul enam dan Seokjin tidak mau Namjoon mengetahui bahwa dia bangun lebih dulu dan memperhatikannya saat tertidur.

Seokjin bergerak bangun dan kembali melirik Namjoon yang terlelap, dia membungkuk dan mendekatkan kepalanya ke kepala Namjoon. "Terima kasih karena mau membantuku, aku percaya padamu. Aku benar-benar percaya padamu." Seokjin berbisik pelan sebelum kemudian dia menempatkan sebuah ciuman ringan di pelipis Namjoon yang tertutup rambutnya.

Seokjin menarik diri dengan cepat dan menyentuh bibirnya sendiri, itu adalah kali pertama dirinya mencium orang lain selain Jungkook dengan keinginan sendiri. Seokjin mengulum bibirnya sendiri kemudian dia bergerak turun dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi.

Tepat ketika pintu itu tertutup, kedua kelopak mata Namjoon terbuka. Dia tersenyum tipis seraya menatap pintu kamar mandi tempat Seokjin berada. Sebenarnya dia sudah terbangun sejak Seokjin bergerak di sebelahnya. Dia tidak terbiasa tidur bersama orang lain oleh karena itu suara dan pergerakan sedikit saja akan membangunkannya.

Dan karena itulah dia mendengar semua yang dikatakan Seokjin, tentang dia yang percaya pada Namjoon dan bagaimana Seokjin menempatkan sebuah ciuman di pelipisnya.

Itu bukanlah kontak fisik pertama antara dirinya dan Seokjin, tapi itu adalah kontak fisik pertama dimana Seokjin tidak gemetar ketakutan dan melakukan semuanya berdasarkan keinginannya sendiri.

Dan Namjoon bisa merasakan kehangatan itu dari Seokjin.

Seokjin percaya padanya. Seokjin mulai membiasakan dirinya dengan Namjoon.

Dan Namjoon?

Dia tidak akan membiarkan Seokjin hidup sejak awal jika dia tidak 'peduli' pada Seokjin.

Apakah itu sekedar rasa percaya?

Tidak, Namjoon lebih dari 'percaya' pada Seokjin.


.

.

.


Sisa hari itu berlalu dengan malas untuk Seokjin. Namjoon mendapatkan panggilan tugas mendadak untuk mengurus bisnisnya sehingga dia dan Yoongi harus pergi ke luar kota selama beberapa hari. Seokjin baru saja mendapatkan kabar itu ketika dia baru kembali dari menjemput Jungkook di sekolahnya.

Ada satu hal yang begitu disukai Seokjin terkait kehidupannya yang sekarang dan itu adalah mengenai betapa cerianya Jungkook ketika dia pergi ke sekolah. Seokjin sangat menyukai senyum Jungkook dan dia memang akan melakukan apa saja hanya untuk melihat Jungkook tersenyum ataupun tertawa.

Seokjin membawa Jungkook masuk ke dalam rumah dan bayinya yang lucu segera berlari masuk dengan bersemangat dan pelayan pribadi Jungkook segera menyambutnya untuk membantu Jungkook mengganti pakaiannya dan membersihkan diri.

"Seokjin,"

Seokjin menoleh saat mendengar suara dan dia melihat Jimin berdiri tak jauh darinya dan sedang menatapnya. Seokjin berjalan menghampiri Jimin dan menatapnya dengan pandangan bertanya.

"Ada apa?"

Jimin tersenyum, "Namjoon memintaku untuk sedikit melatihmu selama dia pergi."

"Latihan apa?"

"Latihan untuk mempertahankan diri." Jimin tersenyum tipis, "Tentunya kau sangat menyadari bahwa baik Namjoon dan seluruh keluarganya memiliki musuh yang besar, bukan? Kami semua terlatih untuk melindungi diri tapi kau tidak. Hoseok selalu menunda pelatihanmu karena dia menganggap kau tidak siap tapi kurasa kali ini kau sudah siap, benar?"

Seokjin mengangguk ragu-ragu, "Aku akan berlatih denganmu?"

Jimin tertawa kecil, "Kau akan mempelajari teknik-teknik dasar bersamaku. Tapi nanti kau bisa latihan sparring dengan Taehyung setelah dia pulang sekolah."

Seokjin meringis, "Taehyung tidak akan menghajarku kan?"

Jimin tersenyum miring, "Kurasa dia hanya akan membantingmu ke sana-sini."

Seokjin mendesah pasrah, "Kurasa itu sudah cukup mengerikan."

Jimin tertawa kecil, "Gantilah pakaianmu dan temui aku di ruang bawah tanah, Seokjin."

Seokjin tertegun, "Rumah ini memiliki ruang bawah tanah?"

Jimin mengangguk, "Ya, ruang latihan ada di sana, mintalah pelayan untuk mengantarmu."

Seokjin mengangguk dan bergegas mengganti pakaiannya, dan sesuai dengan instruksi Jimin, Seokjin meminta pelayan untuk mengantarkannya ke ruangan tempat Jimin berada.

Dan ketika pintu ruang latihan itu terbuka, Seokjin melihat Jimin sedang melakukan pemanasan ringan.

"Oh, kau sudah di sini." Jimin menegakkan tubuhnya, "Baiklah, kurasa kau sudah siap. Kita akan melakukan pemanasan ringan sekaligus aku akan memeriksa apakah kau fleksibel atau tidak, karena jika iya, itu akan semakin bagus."

Seokjin meregangkan otot-otot kaki dan tangannya, "Kurasa aku cukup fleksibel?"

"Itu bagus, karena ini akan menjadi mudah." Jimin mengambil posisi dan Seokjin sendiri berdiri di hadapan Jimin. Jimin memberikan gerakan dasar kuda-kuda dan Seokjin segera mengikutinya.

Mereka baru saja melewati beberapa sesi kuda-kuda dasar ketika tiba-tiba saja Jimin memanggilnya.

"Kenapa, Jimin? Apa posisiku salah?" tanya Seokjin, bergegas memperbaiki posisi tubuhnya.

Jimin menggeleng pelan, dia menatap Seokjin. "Apa kau tidak ingin keluar dari sini?"

Seokjin tertegun, dia menatap Jimin dalam-dalam. "Maksudmu?"

Jimin mengangguk, "Ya, apa kau tidak ingin keluar dari sini? Kembali ke kehidupan lamamu bersama Jungkook?"

"Kenapa kau tiba-tiba menanyakan pertanyaan seperti ini?"

Jimin menarik napas dalam, "Karena aku bisa mengusahakan agar kita keluar dari sini. Aku bisa melakukannya, dan aku akan membawa Taehyung bersama dengan kita, kita bisa keluar dari sini, Seokjin." Jimin mengulum bibirnya, "Aku tahu soal perjanjianmu dan Namjoon terkait penerus, dan kurasa kita bisa memanfaatkan itu, kita bisa keluar dengan mengatakan kau sudah menyelesaikan perjanjianmu. Atau kalau kau mau, kita bisa mengusahakan rencana itu sekarang dan kau tidak perlu mengandung anak Namjoon."

Seokjin memperhatikan Jimin dan dia bisa melihat tangan Jimin gemetar, bahkan bola matanya juga terlihat tidak fokus, dia hanya berusaha menyakinkan Seokjin. "Kau yakin akan meninggalkan Yoongi?"

Jimin tersentak, napasnya mendadak berubah menjadi cepat dan Seokjin sadar, Jimin masih tidak yakin akan keputusannya karena Yoongi.

"A-aku yakin.." Jimin berbisik, nyaris terdengar seperti dia berusaha meyakinkan dirinya sendiri. "Taehyung lebih penting untukku, dia hidupku, dia keluargaku."

"Ya, tapi Yoongi juga keluargamu." Seokjin menyambung, "Kau sudah bersama dengannya entah sejak kapan tapi sepanjang yang aku tahu, kurasa itu sudah lama. Apa kau yakin kalau kau bisa meninggalkan Yoongi?"

Jimin memejamkan matanya dan menunduk, "Taehyung hidupku, aku harus keluar untuk mengembalikan hidup Taehyung."

"Ya, lalu bagaimana dengan hidupmu?"

Jimin menggeleng, "Hidupku jelas bukan bersama Yoongi."

Seokjin menghela napas pelan, "Aku berada di sini untuk Jungkook, untuk hidupku. Jungkook segalanya untukku, tapi ada satu hal yang harus kulakukan untuk memastikan hidup Jungkook dan aku membutuhkan Namjoon untuk itu."

Jimin mengangkat kepalanya, dahinya berkerut seraya menatap Seokjin. "Apa maksudmu?"

"Aku membutuhkan Namjoon, dan Namjoon membutuhkan aku. Ini seperti hubungan yang saling menguntungkan, tidak ada pihak yang dirugikan di sini. Aku tidak bisa meninggalkan Namjoon, tidak sebelum tujuanku tercapai."

Jimin tertegun, "Seokjin, apa kau menyadari apa yang kau ucapkan?"

"Aku sadar, sangat sadar. Mungkin ini akan terdengar sedikit berbeda denganmu yang berhasil ditemukan oleh Yoongi lebih dulu sehingga kau tidak perlu terlalu berlarut dalam kesengsaraan seperti aku. Tapi aku.." Seokjin mendengus, "Tuhan membawaku kepada Namjoon jauh lebih lama daripada yang kuharapkan. Aku sudah hampir mati ketika aku bertemu dengan Namjoon dan ini adalah kesempatan untukku. Jawaban dari doaku."

Seokjin menatap Jimin yang terlihat terkejut, "Aku tidak selemah yang kau kira, Jimin. Terima kasih sudah mencemaskanku tapi aku bisa menjaga diriku sendiri di dalam tempat ini. Aku bisa melakukannya."

Jimin terperangah, wajahnya menunjukkan ekspresi terkejut yang tidak dapat disembunyikan. "Sebenarnya siapa kau sebenarnya?"

Seokjin tertegun, kemudian dia tersenyum miring. "Aku sama sepertimu, carrier. Seseorang yang bisa dibilang menempati kasta terendah dalam strata sosial masyarakat. Aku dan dirimu itu sama, kita berperang untuk hidup. Saat ini aku mendapatkan sebuah pedang dan perisai yang luar biasa hebat, dan aku tidak bisa pergi begitu saja tanpa memanfaatkannya."

"Seokjin.."

"Aku tidak bisa meninggalkan Namjoon." ujar Seokjin yakin dan hal itu berhasil ditangkap dengan baik oleh Jimin.

"Seokjin apa kau yakin alasanmu tidak bisa meninggalkan Namjoon adalah karena kau sedang memanfaatkannya?" tanya Jimin, lebih terdengar untuk memastikan daripada bertanya.

Seokjin tertegun, lidahnya mendadak kelu dan Seokjin melupakan kalimat-kalimat cerdasnya.

Apakah dia bertahan untuk membalaskan dendamnya? Tentu saja.

Apakah dia bertahan karena seorang Kim Namjoon? Seharusnya jawabannya adalah tidak.

Lantas, kenapa Seokjin ragu?

Jimin tersenyum tipis, "Jangan mengingatkanku soal Yoongi jika kau sendiri tidak bisa meninggalkan Namjoon begitu saja. Katakan padaku, kau mulai percaya dan peduli pada Namjoon, kan?"

Seokjin menatap Jimin dengan pupil yang melebar karena terkejut, tapi untungnya Seokjin berhasil mengontrol eskpresinya kembali ke eskpresi biasa.

Dia melihat Jimin mengulum bibirnya ke dalam kemudian setelahnya dia tertawa miris. "Ternyata perangkap Hades memang luar biasa ya?"

Jimin menuding Seokjin, "Kau dan aku memang sama. Kita berada di sini untuk suatu tujuan, tapi kita melupakan siapa yang kita hadapi di tempat ini." Jimin menurunkan tangannya dan mendesah panjang, "Kita berhadapan dengan Hades, dan kesalahan kita yang paling fatal adalah kita percaya pada mereka."

Seokjin terdiam, dia masih sibuk dengan pikirannya sendiri mengenai apa dan bagaimana sebenarnya dia menganggap Namjoon.

Seokjin sangat yakin dia masih menganggap Namjoon sebagai alat untuk membalaskan dendamnya.

Dan seharusnya Seokjin terus menganggapnya seperti itu.

Ya, seharusnya.

"Apa kau tahu kenapa Hades bisa membawa Persephone ke Dunia Bawah? Itu karena Persephone percaya pada Hades. Dan apa kau tahu alasan kenapa Persephone bahkan menolak untuk ikut bersama ibunya kembali ke rumah mereka? Itu karena rasa percaya Persephone telah berubah menjadi rasa peduli untuk Hades." Jimin mendesah pelan, "Aku percaya pada Yoongi, aku menempatkan seluruh rasa percayaku padanya di hari aku bertemu dengannya dan lihatlah hasilnya. Aku percaya padanya dan hal itu membuat Yoongi juga percaya padaku, aku mendengar dan mengetahui sisi lain dari Yoongi dan hasilnya, aku menjadi peduli padanya."

Rasa percaya yang berubah menjadi rasa peduli..

'Terima kasih karena sudah membantuku, aku percaya padamu.'

'Kau sudah tidak lagi gemetar ketakutan saat berada satu ruangan denganku.'

Seokjin merasa pusing, dia memegang kepalanya sendiri dan memutuskan bahwa dia butuh berbaring atau bersandar sebelum dia memutuskan apa yang sebenarnya dia inginkan.

"Kau dan aku sama saja, Seokjin." Jimin menghela napas, "Pada akhirnya, sebenci apapun Persephone pada sang Hades, dia tidak akan bisa meninggalkannya, karena Persephone peduli padanya."

Jimin menggeleng pelan kemudian dia berjalan meninggalkan ruang latihan dan ketika pintu ruangan itu tertutup, Seokjin terjatuh di atas lututnya sendiri.

Dia meremas rambutnya dan berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa kepingan rasa percaya yang dia berikan kepada Namjoon tidak berkembang menjadi sebuah rasa peduli. Dia tidak akan berada di sini dalam waktu yang lama, Seokjin sudah bersumpah dalam dirinya bahwa dia hanya akan memanfaatkan Namjoon untuk balas dendamnya.

Dan itu hampir berhasil.

Seokjin mulai menghancurkan Jaehwan dan hanya tinggal menunggu waktu sampai dia bisa menghancurkan kedua orangtuanya. Membuat mereka merasakan apa yang Seokjin rasakan ketika mereka membuang Seokjin dan ketika mereka bermaksud membunuh Jungkook, satu-satunya alasan Seokjin untuk tetap hidup.

Seharusnya Seokjin hanya perlu memanfaatkan Namjoon kemudian pergi. Ya, mungkin dia butuh memberikan pewaris untuk Namjoon, tapi dia yakin dia bisa pergi setelah urusan itu selesai. Karena Seokjin hanya butuh Jungkook, dia hanya butuh Jungkook.

Napas Seokjin terasa sesak dan dia meremas dadanya sendiri, Seokjin tidak tahu apa yang salah. Dia sudah merencanakan ini, dia bahkan sudah mencari tahu apa kiranya kelemahan Namjoon agar dia bisa memanfaatkan itu di kala dia terdesak. Seokjin tahu Namjoon mengerikan, genggaman tangannya sanggup meremukkan Seokjin. Seokjin tahu, dan seharusnya dia sudah tahu apa yang akan dia lakukan untuk lepas dari Namjoon.

Seokjin berteriak kesal, dia meremas rambutnya lagi dan mencoba memikirkan kenapa rencananya yang sempurna bisa menjadi berantakan hingga keraguan itu perlahan mulai merasuk ke dalam diri Seokjin.

Tolong jangan katakan bahwa apa yang dikatakan oleh Jimin itu benar.

Tolong katakan bahwa Seokjin tidak merasa peduli pada Namjoon.

Karena seharusnya memang itu yang terjadi.


.

.

.


Seokjin menatap pantulan dirinya di cermin, hari ini Namjoon akan kembali dari urusan bisnisnya dan hari ini juga adalah batas akhir dari perpanjangan waktu yang diberikan oleh Namjoon untuknya. Seokjin sadar seharusnya ini menjadi sesuatu seperti 'kiamat' untuknya, namun setelah dia menyadari banyak hal, Seokjin mulai merasa ini tidak memberatkannya. Dengan mengetahui banyak hal dan menyadari banyak hal yang terjadi di antara dirinya dan Namjoon, Seokjin bisa mengerti kenapa pada akhirnya dia bisa merubah dan meningkatkan perasaannya dari rasa percaya ke rasa peduli.

Itu karena Namjoon sendiri peduli padanya.

Seokjin tidak memiliki terlalu banyak pengalaman dengan perhatian dan rasa peduli seseorang terhadapnya. Tapi Namjoon berhasil memberikan sebuah rasa peduli yang tidak biasa terhadap Seokjin. Dan Seokjin rasa, dia bisa mengerti karena rasa itu muncul secara alami karena menerima rasa peduli yang diberikan Namjoon.

Kelihatannya, entah siapa yang memulai, tapi rasa percaya itu memang sudah berubah menjadi sebuah rasa peduli. Seokjin menghela napas pelan, mungkin urusan memberikan seorang pewaris untuk Namjoon tidak lagi menjadi momok yang menakutkan untuk Seokjin.

Seokjin masih sibuk dengan pikirannya sendiri ketika tiba-tiba saja pintu kamar mereka terbuka dan Namjoon masuk ke dalam kamar mereka. Seokjin tidak menoleh untuk menatap Namjoon, dia menatap pria itu dari pantulan cermin yang berada tepat di hadapannya.

"Bagaimana hasil pemeriksaan terakhirmu?" tanya Namjoon seraya melepas jasnya.

Seokjin mengangguk pelan, "Baik, dia bilang aku sehat."

Namjoon melanjutkan dengan melepaskan dasinya, "Oh, benarkah?"

Seokjin menggigit bagian dalam pipinya, "Ya, aku tidak bisa menjamin akan melahirkan seorang dominan karena seperti yang kau tahu, Jungkook bukanlah dominan, tapi.. mari berharap dia akan menjadi dominan."

Namjoon melirik Seokjin lagi dan Seokjin merasa gemetar di kursinya. Dia berusaha mempertahankan kontak mata mereka melalui pantulan cermin kemudian dia melihat Namjoon memiringkan kepalanya lalu berjalan ke kamar mandi. "Aku butuh mandi."

Seokjin mengangguk pelan-pelan dan ketika Namjoon menghilang di balik pintu, Seokjin tidak bisa menahan diri untuk tidak menghembuskan napas dengan lega. Dia menarik napas dalam-dalam dan mencoba menenangkan dirinya sendiri dia memutuskan untuk duduk di tempat tidur mereka dan menunggu Namjoon.

Seokjin mulai memikirkan bagaimana kiranya Namjoon akan memulai ini, apakah dia akan memaksakan dirinya pada Seokjin?

Oh Tuhan, semoga saja tidak atau trauma itu akan kembali pada Seokjin dan mungkin saja Seokjin akan menjadi gila setelahnya.

Setelah bermenit-menit yang menyiksa kondisi kewarasan Seokjin, Namjoon akhirnya keluar dari pintu kamar mandi dengan memakai pakaian santai, dia mengusak rambutnya yang setengah basah kemudian berdiri di hadapan Seokjin yang masih duduk kaku di tempat tidur mereka.

"Aku tidak suka memaksakan diriku pada orang lain. Dan aku tidak mau menghasilkan pewaris dengan sebuah pemaksaan, jadi mari kita mulai dengan perlahan dan dengan cara yang lebih 'beradab'."

Seokjin mengangguk kaku, dia terlalu takut untuk mengeluarkan suara.

"Aku cenderung kasar, apa kau mau menetapkan 'safe word'?"

Seokjin merasakan tubuhnya gemetar, "Kau membuatku takut."

"Yah, aku tahu, jadi, safe word?"

Seokjin menggigit sudut bibirnya, "Stop?"

Namjoon memutar bola matanya, "Aku ragu aku akan berhenti jika kau mengatakan itu."

Seokjin menarik napas dalam, "Baiklah, kalau begitu tidak ada safe word."

Namjoon menaikkan sebelah alisnya, "Kau yakin?"

Seokjin mengangguk mantap, "Positif."

Namjoon mengangguk dan kemudian dia mendekatkan tubuhnya untuk mencium Seokjin, Seokjin terkesiap, tapi dia berusaha untuk tidak memberikan respon negatif sehingga dia memejamkan matanya rapat-rapat dan mencoba untuk menerima Namjoon.

Namjoon melepaskan bibirnya, "Kau terasa mengerikan, bisakah kau santai sedikit?"

Seokjin mengangguk, menarik napas dalam dan Namjoon kembali menciumnya. Seokjin mencoba membayangkan Namjoon dan mengisi kepalanya hanya dengan Namjoon, dan ternyata itu berhasil, Seokjin tidak merasa tertekan dan dia bisa merasakan tangannya melayang untuk meremas lengan atas Namjoon dan tangan yang lainnya meremas rambut Namjoon. Namjoon sendiri mulai menggerakkan tangannya untuk menyentuh seluruh permukaan kulit Seokjin.

.

Seokjin sadar ini adalah akhirnya, ini adalah apa yang membuat Namjoon menahannya untuk tetap bersama dengannya dalam keluarga kecil ini. Ini adalah tujuan utama Namjoon dan ini adalah apa yang bisa Seokjin lakukan untuk membayar semua bantuan Namjoon untuknya. Seokjin yakin Namjoon juga merasa bahwa ini adalah puncak dari perjanjian mereka.

Seharusnya ini berjalan seperti sebuah hasil negosiasi biasa, namun entah kenapa baik Namjoon maupun Seokjin tidak merasa seperti itu.

Seharusnya mereka tidak membiarkan perasaan mereka mengambil alih karena ini adalah hasil dari sebuah perjanjian yang sudah ditetapkan sejak awal dengan kesepakatan bersama. Namun nampaknya, perjanjian itu mulai terasa tidak berlaku bagi kedua belah pihak.


.

.

.


Namjoon menyandarkan punggungnya ke kursi, dia sudah menugaskan Jackson untuk membantu Seokjin dalam rapat bersama dengan Jaehwan hari ini. Ya, setelah malam tadi, Namjoon memang sudah merencanakan pertemuan ini, Namjoon bahkan meminta Jimin untuk ikut menemani Seokjin karena tadinya dia khawatir Seokjin mungkin tidak akan sanggup menghadapi ini.

Ya, tadinya, karena ini adalah tahap awal dari rencana balas dendam Seokjin untuk Jaehwan dan Namjoon bermaksud membantu lebih daripada yang dia janjikan pada Seokjin. Namun Namjoon harus mengakui, Seokjin terlihat seperti dia sudah merencanakan ini sebelumnya. Karena seharusnya jika dia memang hanya ingin balas dendam cepat yang timbul karena sebuah reaksi emosi, maka seharusnya Seokjin meminta Namjoon untuk membunuh Jaehwan saja.

Tapi bukannya membunuhnya, Seokjin malah ingin menghancurkan Jaehwan dari dalam dengan menghancurkan bisnisnya dan membuat pria itu terlibat dalam skandal.

Tindakan itu merupakan tindakan yang terencana. Namjoon pernah bilang dia meminta Jackson membantunya agar Seokjin tidak melakukan tindakan balas dendam yang sembrono dan bodoh. Padahal sebenarnya, Namjoon mengirim Jackson untuk mengawasi Seokjin, Namjoon mulai meragukan Seokjin sebagai sosok yang lemah di sini.

Seokjin mungkin lemah karena traumanya, tapi itu terkait kondisi kejiwaannya, dan Namjoon tidak bisa melakukan apapun untuk itu. Tapi mengetahui Seokjin berniat 'menyiksa' mereka yang dulu membuat hidupnya menderita membuat Namjoon berpikir bahwa Seokjin mungkin sudah merencanakan ini.

Mungkin rasa benci itu sudah membuat hati Seokjin keras sehingga dia memutuskan untuk melakukan dosa besar yaitu dengan membalas mereka, bukan memaafkan mereka.

Namjoon mendesah pelan, siang ini sebenarnya dia tidak memiliki terlalu banyak pekerjaan, tapi dia tidak tertarik untuk menemani Seokjin menemani Jaehwan karena selain itu akan menimbulkan perhatian yang tidak perlu, Seokjin tentunya akan sadar bahwa Namjoon mulai memperhatikannya dan merasa curiga padanya.

Namjoon menyadari bahwa dia tidak bisa bertindak sembarangan jika itu terkait Seokjin.

"Kau terlihat menyeramkan,"

Namjoon mengangkat kepalanya dan melihat Yoongi sedang menatapnya di ambang pintu ruangannya dengan alis berkerut. Namjoon tertawa kecil dan kembali menyamankan posisinya di kursi.

"Ada masalah di luar?" tanya Namjoon saat dia melihat Yoongi melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya.

Yoongi menggeleng, "Tidak ada masalah, semuanya baik-baik saja." Yoongi menarik kursi untuk duduk di hadapan Namjoon, "Kudengar Seokjin pergi menemui Jaehwan siang ini."

"Ya,"

"Sudah memiliki rencana bagaimana menghabisi orang itu?" Yoongi mendesah, "Tidak bisakah kita langsung membunuhnya saja?"

Namjoon tertawa, "Seokjin adalah pihak yang merencanakan ini. Dia mau Jaehwan mati perlahan."

Yoongi tertegun, "Seokjin?"

Namjoon mengangguk, "Bukankah sudah kukatakan padamu bahwa Seokjin akan membakar kita semua?"

Yoongi memiringkan kepalanya, "Jadi ternyata selama ini Seokjin sudah merencanakannya?"

Namjoon mengangkat bahunya, "Entahlah, yang jelas, Seokjin bukan korbannya di sini."

"Kau benar-benar mengundang iblis yang salah untuk masuk ke dalam rumahmu."

Namjoon menyeringai, "Aku tidak pernah salah dalam hal semacam ini, Yoongi."

"Kenapa kau begitu yakin?"

"Karena aku bisa merasakan bahwa Seokjin tidak jauh berbeda denganku. Hanya saja, Seokjin memiliki sebuah kelemahan besar yang tidak bisa dia tutupi."

Yoongi mendesah pelan, "Jadi, apakah kita perlu untuk turun tangan?"

Namjoon menggeleng, "Biarkan Seokjin melumuri tangannya sendiri dengan darah. Seperti yang kukatakan sebelumnya, dia cukup kuat untuk itu."

Yoongi tersenyum miring, "Dia bahkan lebih dari sekedar 'cukup kuat' untuk itu." ujarnya sebelum kemudian dia berdiri dari posisinya, "Beri aku kabar bagus seperti kabar bahwa Lee Jaehwan itu sudah mati atau sejenisnya."

Namjoon tertawa, "Oh, kau akan mendapatkannya."

Yoongi mengangkat sebelah alisnya, "Kenapa kau terlihat begitu yakin kita akan mendapatkan kabar itu dalam waktu dekat?"

Namjoon tersenyum dan bermaksud untuk menjawab pertanyaan Yoongi namun suara getar ponsel di atas mejanya membuatnya terhenti. Namjoon meraih ponselnya, "Ya?"

"Namjoon, ini aku," sahut sebuah suara di seberang sana.

Namjoon mengenali suara dalam dan terkesan lembut ini. "Seokjin?"

"Tepat sekali."

"Ada apa? Ada masalah?"

"Lee Jaehwan sudah mati." Seokjin berujar kalem, "Aku mendorongnya dari tangga."

Namjoon melirik Yoongi yang refleks mengerutkan dahinya saat mendengar ucapan Seokjin, "Yoongi akan senang mendengarnya. Apa kau sudah menghapus semua bukti yang menunjukkan kau ada di sana?"

"Ya, tangga darurat itu tidak memiliki kamera pengawas."

"Kalau begitu pulanglah, aku akan mengurus sisanya. Kau tidak perlu khawatir, polisi tidak akan tahu itu perbuatanmu." Namjoon menyeringai pada Yoongi yang berdecak pelan.

"Terima kasih," Seokjin menarik napas pelan, "Namjoon,"

"Ya?"

"Aku ingin membalas orangtuaku."

"Oh? Kau yakin? Kau terdengar ragu sebelumnya."

"Ya, aku yakin." Terdapat jeda sesaat yang membuat Namjoon merasa Seokjin mungkin sedang memikirkan sesuatu. "Mereka mengancam Jungkook."

"Baiklah." Namjoon menjawab ringan kemudian menutup sambungan telepon dengan Seokjin.

Setelah sambungan itu terputus, Namjoon menatap Yoongi yang terlihat terkejut di hadapannya, Yoongi pastinya mendengar percakapan di antara Namjoon dan Seokjin karena dia memang sengaja mengubah mode ponselnya menjadi loudspeaker saat sadar bahwa Seokjin yang menghubunginya.

"Dia benar-benar membunuh Jaehwan?" tanya Yoongi dengan nada agak ragu.

"Bukankah sudah kubilang padamu sebelumnya? Diaa akan membakar kita semua." Namjoon kembali sibuk dengan ponselnya, "Jackson, ini aku. Hancurkan semua rekaman kamera pengawas di gedung itu, buat seolah komputer mereka terkena virus atau semacamnya. Pastikan semuanya hancur."

Yoongi terdiam cukup lama, dia mengamati Namjoon yang baru saja menyelesaikan percakapannya dengan Jackson dan meletakkan ponselnya lagi. "Kau yakin dia Persephonemu?"

Namjoon mengangkat pandangannya dan menatap Yoongi, "Dia bukan hanya Persephoneku, dia malaikat kematianku."

To Be Continued

.

.

.

Hello, akhirnya Heaven and Hell ini kembali. Hehehehe

Terima kasih sudah bersedia menunggu~

Sampai ketemu saat aku kembali update. Hehehe