Wanna Date With Me?

.

.

.

Chapter 2

.

.

.

.

Pemuda itu datang lebih awal, tidak sabar sebenarnya. Ia sendiri juga tidak mengerti mengapa ia sangat semangat seperti ini. Ia belum pernah berkencan sebenarnya, kumohon jangan menertawakannya.

Ia mendudukkan tubuhnya di bangku depan café Jongdae. Ia menunggu hingga 15 menit, dan sebuah mobil hitam terparkir dihadapannya.

"Jadi ia anak orang kaya ya?" gumamnya.

Ia kembali teringat pada saat Jongdae mengumpat padanya karena terkejut mendengar ceritanya.

"Holyshit, Baekhyun! Ia adalah sepupu Oh Sehun adik kelasku, ayahnya adalah pendiri Park Buildings yang terkenal dimana-mana! Kau sangat beruntung, Baekhyun-ah!"

Yap, benar. Nama pemuda itu adalah Baekhyun.

Byun Baekhyun.

"Hey, lama menunggu?" Chanyeol tersenyum sembari menggaruk belakang kepalanya saat berhadapan dengan Baekhyun. "Tidak juga. Omong-omong, ini mobilmu?"

"Seperti yang kau lihat"

"Terlihat mahal"

"Well, kalau begitu, silahkan masuk" Chanyeol membukakan pintu untuk Baekhyun dan membiarkan pemuda tersebut memasuki mobilnya.

"Kau ingin membawaku kemana?" tanya Baekhyun saat Chanyeol duduk di bangku supir. "Kau sudah makan?"

"Eumm… Belum sebenarnya, perutku sedang tidak baik"

"Oh? Benarkah? Haruskah kubawa kau ke klinik?" tanya Chanyeol dengan nada khawatirnya. "Tidak! Maksudku tidak perlu. Aku hanya nervous sejak tadi siang" ucap Baekhyun dengan malu-malu. Dan pemuda di sampingnya tak dapat menahan senyumnya.

"Kalau begitu kita akan makan terlebih dahulu, kau ingin dimana? Kau ingin Pasta? Sushi? Atau Bibimbap?"

"Kalau boleh aku ingin Jjambbong"

"Tentu! Aku tahu tempat makan Jjambbong yang paling enak" semangat Chanyeol membuat Baekhyun tersenyum malu di sampingnya.

Tempat yang mereka datangi adalah tempat yang sering dikunjungi Chanyeol. Jadi tidak heran jika bibi pemilik tempat makan itu terlihat akrab dengan Chanyeol. "Wah Chanyeol, sekarang kau sudah memiliki kekasih ya? Kalian terlihat serasi" puji bibi pemilik tempat makan itu. "Ah, terima kasih bibi"

Baekhyun terkejut sebenarnya, mengapa Chanyeol tidak menjelaskan jika mereka adalah teman? Uh, bukan teman juga sebenarnya, mengingat mereka belum saling mengetahui nama.

Chanyeol sibuk memakan Jjambbongnya ketika Baekhyun menatapnya dan membolongi kepalanya, "Ada apa?" tanya Chanyeol tiba-tiba.

"Uh… well… erm, bukankah ini terasa aneh?"

"Aneh? Apanya? Jjambbongnya? Haruskah ku minta ganti?"

"Tidak, bukan Jjambbongnya, lagi pula aku belum memakannya"

"Lalu?"

Ada jeda sedikit, Baekhyun merasa malu jika harus mengatakannya, "Kita"

"Kita?" Chanyeol menekuk keningnya. "Tidak juga" lanjut Chanyeol dan kemudian memakan Jjambbongnya lagi.

"Bukan itu, kita belum saling berkenalan"

"Bukankah kita sudah berkenalan?"

"Bukan itu,eich. Lalu aku harus memanggilmu apa? 'Hey kau'?"

Chanyeol tersedak. Ia paham sekarang. Mereka belum saling 'mengenal'.

"Uhm, okay. Namaku Chanyeol, Park Chanyeol"

"Aku Baekhyun, Byun Baekhyun"

Awkward.

Setelah itu mereka pergi menonton film dan bermain di game center. Mereka terlihat bahagia dan secara mengejutkan mereka semakin dekat dengan cepat.

Kencan itu berakhir saat jam menunjukkan pukul 9 malam. Chanyeol mengantar Baekhyun hingga rumahnya. Sebelum mengucapkan salam perpisahan, Chanyeol mengajak Baekhyun berkencan untuk minggu depan, dan tanpa pikir panjang Baekhyun menyetujui ajakan Chanyeol.

"Aku sangat senang hari ini, Chanyeol. Terimakasih"

"Ingin keluar bersamaku tidak untuk minggu depan, Baekhyun?"

"Tentu!"

"Okay, aku akan menjemputmu pukul 10 minggu depan"

"Okay, hati-hati dijalan!"

Dan setelah Baekhyun pergi, Chanyeol berteriak dalam hati. Sebuah kepuasan tersendiri yang ia dapatkan. Dan kemudian ponselnya berdering, dan nama Sehun muncul di layar ponselnya.

"Apa?"

"Kau masih diluar? Belikan aku burger dan cola"

"Tidak mau"

"Kalau begitu akan kulaporkan pada paman jika kau menggoda anak orang"

"Sialan! Baiklah baiklah"

.

.

.

Hari ini mereka berkencan di Lotte World, mencoba beberapa permainan dan foto di photo booth. Baekhyun banyak tersenyum hari itu, dan itu melegakan.

"Kau senang?"

"Tentu saja!"

"Ingin keluar lagi tidak untuk minggu depan?" tanya Chanyeol ketika mereka beristirahat di sebuah bangku dengan segelas ice lemon tea di tangan mereka. "Kau tidak keberatan membawaku keluar?"

"Untuk apa aku keberatan? Aku senang mengajakmu pergi, Baekhyun!"

Baekhyun tertawa kecil, "Memangnya kau tidak sibuk?"

"Huh?"

"Tidak perlu berpura-pura, aku tahu kau adalah orang kantoran, anak dari pendiri Park Buildings. Seharusnya di jam ini kau berada di kantormu bukan?"

"Uh, aku sudah mengatur semua. Aku memiliki sekretaris yang membantuku"

"Kurasa menjadi seseorang sepertimu menyenangkan. Tidak perlu bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidupmu" Baekhyun tidak menatap Chanyeol, kemudian ia menghela nafasnya dan tersenyum.

"Baekhyun, jangan berbicara seperti itu. Itu terdengar seperti ada jarak yang besar di antara kau dan aku" Baekhyun tersenyum kecil, "Memang bukan seperti lagi, tapi memang ada jarak yang besar diantara kita berdua"

Mereka berdua terdiam.

"H-hey! Ingin permen kapas tidak?" tawar Chanyeol. Dan ketika Baekhyun menganggukkan kepalanya, Chanyeol segera tersenyum lebar. "Baiklah, tunggu disini, aku akan kembali!"

Dari bangku itu, Baekhyun dapat melihat Chanyeol yang tinggi menjulang dengan hoodienya memesan dua permen kapas. Tiba-tiba seorang anak kecil berdiri di samping Chanyeol, ia terlihat seperti raksasa sebenarnya.

Baekhyun tersenyum ketika Chanyeol memesan satu permen kapas lagi ketika sudah ada dua permen kapas di tangannya. Dan senyum Baekhyun menghilang ketika Chanyeol dan anak kecil itu datang menghampiri Baekhyun.

Dan sedetik kemudian senyum Baekhyun semakin lebar ketika Chanyeol menggandeng tangan anak kecil itu. Mereka berdua terlihat menggemaskan.

"Baek, maaf. Lama ya?" Baekhyun menggelengkan kepalanya. "Ini, siapa?" tanya Baekhyun.

"Ini Seojun, anak ini kehilangan ibunya tadi"

"Ah benarkah?!" raut khawatir Baekhyun menatap anak di tangan Chanyeol.

"Hallo, Seojunie. Aku Baekhyun hyung"Baekhyun merendahkan tubuhnya ketika berbicara pada Seojun. "Hallo, Baekhyun hyung" ia menundukkan kepalanya lucu.

"Astaga, lucunya. Dimana ibumu Seojunie?"

"Tadi aku berpisah saat berada di komedi putar hyung"

"Komedi putar? Mengapa kau berpisah?" Seojun mengendikkan bahunya. "Seojunie pintar sekali tidak menangis, Siapa nama ibumu?"

"Dayoung, hyung"

"Haruskah kita cari ibumu sekarang?" tanya Chanyeol sembari membungkukkan tubuhnya. "Ayo!" teriak Seojun penuh semangat. "Ayoo!"

"Tapi Seojunie makan permen ini dulu ya hyung"

"Baiklah, makan yang banyak Seojunie" ucap Baekhyun sembari mengusap kepala Seojun yang sedang memakan permen kapasnya.

"Ini Baek. Milikmu" Chanyeol menyerahkan permen kapas ditangannya pada Baekhyun. "Terima kasih, Chanyeol" Baekhyun tersenyum sembari menatap Chanyeol, dan jantung Chanyeol berdegup cepat, lagi.

Sial.

Ketika Seojun selesai dengan permen kapasnya, Chanyeol membawa tangan kanan Seojun, dan Baekhyun membawa tangan kiri Seojun. "Hyuuunggg, ayo naik itu!" tangan Seojun melepas tangan Baekhyun dan menunjuk sebuah wahana bumper car.

"Tapi kita harus mencari ibumu, Seojunie"

Namun Seojun mengerucutkan bibirnya. "Chanyeol" panggil Baekhyun ketika Seojun masih mengerucutkan bibirnya. Chanyeol menatap Baekhyun yang membuat 'kode' untuk-mengajak-Seojun-menaiki-wahana-tersebut.

"Baiklah, Seojunie naik bumper car kemudian kita cari Ibumu, okay?"

"Okay!"

"Seojun sama Baekhyun hyung! Yeeee~~ " Seru Baekhyun. "Yeeeee~~"

"Kau juga ingin naik bumper car, Baek?"

"Tentu! Chanyeol tidak ingin?" seru Baekhyun dengan semangat dan dengan tersenyum.

Chanyeol tertawa dalam hatinya, pantas saja Baekhyun membuat tatapan itu.

"Baiklah, aku akan ikut naik bumper car. Chanyeol hyung akan melawan Seojunie dan Baekhyun hyung. Bagaimana Seojunie?" Seojun tersenyum dan bersorak senang ketika kedua hyung itu memperbolehkannya naik bumper car.

"Seojunie! Ayo kita kalahkan Chanyeol hyung! Dan jika kita menang, ayo kita naik bianglala!"

"Setuju hyung! Ayoo!"

Seojun menarik tangan Baekhyun dan Chanyeol, kemudian membawanya menuju bumper car. Baekhyun dan Seojun terlihat senang ketika menabrakan mobil mereka pada Chanyeol. Dan suara tawa Seojun terdengar sangat bahagia.

"Chanyeol hyung kalah! Sekarang kita naik bianglala" seru Seojun.

"Huh? Bagaimana bisa Chanyeol hyung kalah?" tanya Chanyeol pada Seojun. "Nng, karena Seojunie dan Baekhyun hyung ingin naik bianglala yang besar!" Seojun merentangkan kedua tangannya, menunjukkan besarnya bianglala dengan tangannya. "Baiklah, baiklah, kita naik bianglala, okay?"

Seojun berseru senang. Dan Chanyeol serta Baekhyun saling bertatapan dan tersenyum karena gemas pada reaksi Seojun. "Ayo, hyung!"

"Uwaaa, tinggi sekali!" ucap Seojun ketika mereka berada di titik paling atas bianglala tersebut. "Indah sekali" Baekhyun tersenyum sembari mendekap Seojun yang berdiri di atas kursi, takut takut anak itu akan terjatuh.

Chanyeol mengeluarkan ponselnya, "Seojunie, Baekhyunie, lihat sini"

Seojun segera mengeluarkan gaya andalannya, menunjukkan jari telunjuk dan jari tengahnya dan tersenyum manis. Baekhyun hanya tersenyum masih dengan mendekap tubuh kecil Seojun.

"Chanyeol hyung juga harus ikut foto!" ucap Baekhyun yang menghasilkan kekehan Chanyeol. Dan Chanyeol sekali lagi mengambil foto dengan ponselnya. Kali ini dengan dirinya.

Setelah 3 kali putaran, mereka benar-benar memulai mencari ibu Seojun. Mereka mencari di sekitaran, dan akhirnya mereka bertemu di komedi putar, tempat dimana Seojun pergi.

"Ibuuu" teriak Seojun kemudian berlari kearah Ibunya yang masih menangis. Ibu Seojun memeluk putranya, merasa lega ketika anaknya baik-baik saja.

"Bu, ibu, Chanyeolie hyung dan Baekhyunie hyung membantu Seojunie, bahkan Chanyeolie hyung membelikan Seojunie permen kapas!" lapor Seojun lucu.

"Terimakasih! Terimakasih banyak! Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika kalian tidak menemukan Seojun" Ibu Seojun menjabat tangan Baekhyun dan kembali menangis. "T-tentu bibi, tidak perlu menangis, Seojunie baik-baik saja dengan kami"

"Erm, kami juga ingin meminta maaf karena tidak langsung mencari bibi. Seojunie ingin naik bumper car dan bianglala. Jadi kami pergi—"

"Tidak apa. Terima kasih banyak"

Setelah itu Chanyeol dan Baekhyun pergi. "Syukurlah kita menemukan ibu Seojun, benar?" Baekhyun mengangguk. "Seojun sangat lucu, menggemaskan"

"Sepertimu"

"Huh?" Baekhyun menatap Chanyeol dengan keningnya yang berkerut.

"Aku mencintaimu" lanjut Chanyeol.

Langkah Baekhyun terhenti, "Apa?" Sedangkan Chanyeol masih melangkahkan kakinya. Jantungnya berdegup cepat sebenarnya, namun ia berusaha menutupinya dengan bertingkah sok keren.

"Aku tidak bisa mengatakannya lagi"

"Ey!" Baekhyun mengejar Chanyeol dan menendang pantat Chanyeol. "Katakan lagi!"

"Tidak mau" kemudian Chanyeol menjulurkan lidahnya.

"Kubilang katakan lagi"

"Tidak mau"

"Chanyeol!"

"Apa?"

.

.

.

Chanyeol sedang berada di rumah susun Baekhyun hari ini. Tidak banyak yang ia lakukan, hanya menonton film dengan Baekhyun di sofa dan memainkan jemari mereka. Uh, sebenarnya hanya Baekhyun yang memainkan jemarinya dengan Chanyeol.

"Jarimu besar sekali" Baekhyun membandingkan jemarinya dengan milik Chanyeol. "Punyaku panjang dan ramping" Chanyeol melirik Baekhyun dan tersenyum.

"Aku hari ini ada jadwal di café milik Jongdae, apa kau tidak sibuk?"

"Berhenti menanyakan jadwalku, aku sudah bekerja habis-habisan kemarin, aku terlalu lelah untuk memikirkan pekerjaan"

"Ya ampun, Chanyeol kita lelah ya?" ucap Baekhyun sembari mendudukkan tubuhnya di atas paha Chanyeol. Kemudian menangkup pipi Chanyeol dan menekannya. "Sangat lelah ya?" ucap Baekhyun kemudian menggerakan kepala Chanyeol kearah kanan dan kiri.

Sedangkan Chanyeol hanya menatap Baekhyun yang terus memainkan wajahnya sembari tersenyum, ia gemas. Saking gemasnya, Chanyeol menggigit hidung Baekhyun yang di balas dengan rintihan kecil dari Baekhyun.

"Sakit, Chanyeol!" Baekhyun mengelus hidungnya. Chanyeol tidak mengindahkan rintihan Baekhyun, ia malah mencubit hidung Baekhyun. "Kau menggemaskan, tahu?" Chanyeol mendongakkan kepalanya agar dapat melihat Baekhyun lebih jelas.

Tiba-tiba Chanyeol mengecup hidung Baekhyun. "Dengarkan baik-baik, karena aku tak akan mengatakan kedua kalinya" kedua tangan Chanyeol berada di atas pinggang Baekhyun, agar Baekhyun tidak terjatuh, katanya. Baekhyun masih menatap Chanyeol dan mengangguk kecil

"Aku mencintaimu"

Baekhyun merasa malu mendengar Chanyeol mengatakan jika ia mencintai dirinya. Baekhyun menyembunyikan wajah memerahnya di dada Chanyeol. "Ada apa?"

"Tidak tahu"

"Kau malu?" Baekhyun menggelengkan kepalanya. "Ey, seharusnya aku yang malu. Mengapa kau yang malu?"

Baekhyun semakin menyembunyikan wajahnya pada dada Chanyeol. Pemuda yang lebih tinggi itu memindahkan tangannya untuk memeluk tubuh Baekhyun di pangkuannya. "Kita baru kenal selama 3 minggu, bagaimana bisa kau mengatakan itu padaku semudah itu?" Baekhyun menyamankan tubuhnya di atas Chanyeol. Ia menyandarkan dagunya pada bahu Chanyeol.

"Bukan 3 minggu juga sebenarnya. Mengingat aku sering ke café Jongdae hanya untuk melihatmu saat aku senggang"

"Penguntit"

"Aku bukan penguntit. Toh, aku tidak mengikutimu sampai rumah dan menerormu"

"Jadi kau penggemarku?"

Chanyeol tertawa kecil, "Penggemar ya? Percaya diri sekali kau, Byun"

"Ya, aku sangat yakin kau adalah penggemar setiaku"

"Hn, terserah" Chanyeol masih menatap TV yang terus memutar film pilihan Baekhyun, karena Baekhyun tidak memiliki semua film yang Chanyeol ingin tonton.

"Kau tidak ingin menyatakan perasaanmu?" tanya Baekhyun tiba-tiba. "Hm?" Chanyeol berusaha melihat wajah Baekhyun, namun Baekhyun menolak.

"Kau, tidak ingin menyatakan perasaanmu padaku?"

"Bukankah sudah?"

"Bukan yang seperti itu"

"Lalu?"

"Lupakan" Chanyeol tersenyum ketika Baekhyun merajuk. Tapi ia hanya membiarkannya saja. Baekhyun tidak pandai merajuk pada Chanyeol.

Baekhyun masih berada di atas pangkuan Chanyeol hingga setengah jam kemudian. Kemudian Baekhyun menghela nafasnya, "Aku harus ke café Jongdae 2 jam lagi, kau ikut?"

"Tentu"

"Karena dekat, aku ingin jalan saja"

"Kalau begitu aku akan menemanimu jalan"

"Hn, okay"

"Kau marah, hm?"

"Tidak"

"Lihat aku kalau begitu" Baekhyun menjauhkan kepalanya dari bahu Chanyeol dan menatap pemuda itu. "Kau marah"

"Tidak!"

"Jangan berbohong padaku, Byun"

"Aku tidak berbohong, Park"

"Acara akhir pekan kita, jadi bukan?" Baekhyun mengangguk. Acara berkencan mereka yang ketiga, taman sungai Han.

"Baekhyun"

"Hm?"

"Kau tahu bukan, jika aku mencintaimu"

"Aku tahu, jadi hentikan itu"

"Maksudmu, berhenti mencintaimu?"

"Bukan itu maksudku"

Chanyeol kembali mendekap tubuh yang lebih kecil di pangkuannya. "Aku tahu, maafkan aku, hm?" Baekhyun mengangguk, kedua tangannya ia taruh di pinggang Chanyeol.

"Aku harus bersiap" ucap Baekhyun, membuat dekapan Chanyeol meregang. "Okay, tampilah dengan baik" Baekhyun bangkit dari paha Chanyeol dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.

Chanyeol tersenyum kecil sembari memijat halus pahanya. "Anak itu benar-benar lucu"

.

.

.

Baekhyun dan Chanyeol berjalan berdampingan di pinggir sungai Han. Banyak orang yang bersantai dan berolahraga disana. Bahkan ada beberapa keluarga yang menggelar tikar untuk piknik bersama.

"Kau lelah?"

"Hn?"

"Sedari tadi kita hanya jalan. Jadi, apa kau lelah?"

"Tidak, aku sudah senang bisa jalan-jalan seperti ini denganmu"

"Ingin duduk disana tidak?" Chanyeol menunjuk bangku kosong yang terletak cukup jauh dari keramaian. Begitu mendapat anggukan dari Baekhyun, Chanyeol menautkan kedua tangan mereka dan berjalan menuju bangku itu.

Baekhyun menghela nafasnya setelah mereka mendudukan tubuhnya di atas bangku taman. "Ada apa?" tanya Chanyeol masih mengeratkan tangan Baekhyun di tangannya.

"Apanya?"

"Kau tidak terlihat senang hari ini"

"Tidak, aku senang"

"Kau tahu, kau tidak pandai dalam berbohong"

"Benarkah? Aku tidak tahu" Baekhyun masih enggan menatap Chanyeol yang masih menatapnya lekat. Baekhyun tidak terlihat semangat semenjak beberapa hari yang lalu di rumah susunnya.

Katakan saja, Baekhyun mengharapkan Chanyeol.

Namun pemuda bertelinga besar dan bertubuh tinggi itu hanya menggantungkan hubungan mereka, menurut Baekhyun.

"Baek"

"Hm?"

"Kau tunggu aku disini ya? Aku akan segera kembali" Baekhyun mengangguk patuh.

Banyak jenis pikiran yang memasuki Baekhyun. Seperti apakah Chanyeol akan meninggalkannya hanya karena ia seperti ini? Apakah Chanyeol hanya ingin ke kamar mandi? Atau apakah Chanyeol akan menyatakan perasaannya kali ini.

Jantung Baekhyun berdegup kencang ketika memikirkan kemungkinan terakhir. Ia mulai membayangkan Chanyeol tiba-tiba datang dengan sebuket bunga ataupun bernyanyi untuknya. Atau bahkan ia membayangkan Chanyeol dengan sederhananya menyatakan perasaannya dan meminta Baekhyun menjadi kekasihnya.

Cukup lama Baekhyun menunggu, hingga ia menemukan Chanyeol berjalan kearahnya dengan kedua tangannya berada di belakang. Chanyeol tersenyum malu, dan kemudian mendudukan tubuhnya di samping Baekhyun.

"Ini, untukmu"

Bukan seperti yang di harapkan Baekhyun. Bukan sebuket bunga ataupun nyanyi untuknya.

"Kau pasti haus, ku belikan susu strawberry. Kesukaanmu bukan?"

"Oh, baiklah"

Dan Baekhyun merasa kesal pada dirinya sendiri. Ia kesal karena berharap terlalu lebih pada Chanyeol. Well, mereka baru mengenal 3 minggu. Namun bagi Baekhyun mereka mengenal sudah lama hingga ia nyaman dengan pemuda tinggi itu.

"Terimakasih" ucap Baekhyun tanpa ada semangat. Ia merasa down setelah pemikiran-pemikiran yang sempat terlewat di pikirannya.

"Apa kau baik-baik saja?"

"Ya, aku baik-baik saja"

"Eum, baiklah"

Chanyeol mengusap tengkuknya, ia tidak tahu harus bagaimana jika Baekhyun terus merajuk seperti ini. Akhirnya ia menyerah. "Ayo, ku antar kau pulang"

"Secepat ini?"

"Kau terlihat tidak bersemangat hari ini"

"Aku baik-baik saja Chanyeol"

"Bagaimana bisa kau baik-baik saja? Aku tahu kau tidak baik-baik saja, jadi lebih baik ku antar kau pulang dan beristirahatlah di rumah"

"Tidak, aku tidak mau"

"Baekhyun"

"Tidak, Chanyeol!"

Chanyeol menghela nafasnya, ia menarik kepala Baekhyun dan menyandarkannya di pundaknya. Ia mengecup pucuk kepala Baekhyun dan mengusapnya. "Maafkan aku, hm?"

"Untuk apa kau minta maaf?"

"Aku masih cukup lelah setelah begadang kemarin malam, dan aku terlalu lelah untuk—"

"Bisa kerumahmu saja tidak?"

"Apa?" Chanyeol menatap Baekhyun yang sekarang menatapnya. "Aku ingin menginap dirumahmu, ini akhir pekan, dan aku sudah minta ijin pada Jongdae untuk tidak tampil malam ini"

"Tentu, ingin pulang sekarang?" Baekhyun mengangguk.

Mereka menautkan tangan mereka ketika berjalan menuju parkiran. "Maaf, kau pasti lelah ya?" ucap Baekhyun lirih, hampir tidak terdengar. "Tidak apa, aku masih tetap mencintaimu" kemudian Chanyeol tersenyum.

"Aku juga mencintaimu" Baekhyun tersenyum kecil setelah mengucapkannya untuk pertama kali pada Chanyeol.

Chanyeol tersenyum senang ketika Baekhyun membalas ucapannya. Chanyeol tahu Baekhyun mencintainya, dari segala sikap Baekhyun padanya yang menjelaskan.

"Aku malu, jangan tersenyum seperti itu"

"Anak anjingku malu ternyata, lucunya" Chanyeol melingkarkan tangannya pada bahu Baekhyun.

Chanyeol dan Baekhyun mendudukan tubuhnya di dalam mobil. Setelah memakai sabuk pengamannya, Chanyeol tidak segera bersiap untuk membawa Baekhyun ke apartemennya. "Ada apa?" tanya Baekhyun ketika Chanyeol hanya terdiam hingga 5 menit.

Chanyeol menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi, "Baek"

"Hm?"

"Yang kau tanyakan waktu itu, bisa kau tanyakan kembali?"

"Pertanyaan yang mana?"

"Kau tahu yang kumaksud, Byun"

Baekhyun menghela nafasnya. Sebenarnya ia tak ingin membahas ini, tapi Chanyeol memintanya, baiklah. "Apa kau tidak ingin menyatakan perasaanmu padaku?"

"Kau ingin menjadi kekasihku ya?"

"Huh?"

"Pastikan kau tidak akan menyesal setelah menjadi kekasihku"

Baekhyun terhenti, dan tersenyum kecil, "Aku tidak akan menyesal"

Chanyeol tersenyum, ia senang, tentu saja. "Baiklah, sekarang kau adalah kekasihku, Baekhyun"

"Jadi, kita sekarang sudah resmi?" Chanyeol tersenyum dan mengangguk.

"Kau senang?" tanya Chanyeol dibalas anggukan malu oleh Baekhyun. Jantungnya berdegup cukup cepat setelah Chanyeol menyatakan perasaan padanya. "Kau tetap ingin ke rumahku?"

"Tentu saja! Aku ingin menginap dirumahmu"

"Baiklah, kita sekarang kerumahku. Dan kita habiskan stok film yang kupunya, okay?"

"Kita akan berada disofa bukan?" Chanyeol tersenyum dan mengangguk. Ketika Baekhyun menanyakan sofa, artinya ia menginginkan pelukan-pelukan hangat dan perbincangan singkat. Seperti saat berada di rumah Baekhyun.

"Tapi aku menyimpan seseorang dirumah"

"Siapa?"

"Oh Sehun, sepupuku, tidak apa?"

.

.

.

Baekhyun menghela nafasnya dan masih bergelung dibalik selimutnya. Ia tidak menemukan notifikasi dari Chanyeol dari ponselnya. Pukul Sembilan. Bagaimanapun ini hari senin, Chanyeol pasti harus pergi ke kantor untuk bekerja.

"Chanyeol sibuk ya?" ia menaruh ponselnya di ranjang. Namun beberapa detik kemudian ia kembali mengambilnya. "Haruskah ku kirim pesan?"

"Tapi ia sibuk! Jangan ganggu Chanyeol, Baekhyun!" ia melempar ponselnya menjauh dan mengusak rambutnya kesal.

Baekhyun bergelut dengan pikirannya sendiri. Rasa ingin bertemu terlalu mendominasi Baekhyun, mengalahkan rasa takut ia mengganggu Chanyeol ditengah pekerjaanya. "Hanya satu pesan tidak terlalu mengganggu bukan? Well, seharusnya tidak"

Baekhyun kembali meraih ponselnya dan menggigit ujung ponsel. "Baiklah, satu pesan tidak akan terlalu mengganggu"

To : Chanyeollie

Chanyeol, sibuk tidak?

Baekhyun menghela nafasnya setelah mengirim pesan tersebut. Memang bukan pertama kali, namun selalu terasa seperti pertama kali. Ia mengerucutkan bibirnya ketika Chanyeol tak kunjung menjawab. Ia menghela nafasnya, "Ia pasti sibuk, kemarin ada rapat katanya. Yah, berarti sibuk"

Namun mata Baekhyun segera berbinar ketika Chanyeol membalas pesannya 5 menit kemudian. Ia tersenyum senang, tentu saja.

From : Chanyeollie

Ah, Baekhyunnie… Ada apa? Well, ada rapat pukul 1 nanti. Tapi tidak terlalu sibuk juga sebenarnya. Rindu padaku huh?

Baekhyun memerah membaca kalimat terakhir, kemudian ia terkekeh. "Percaya diri sekali kau, Park"

To : Chanyeollie

Ehm, tidak apa. Aku hanya bosan. Dan hey, siapa yang merindukanmu -..-

Setelah dipikir-pikir, Baekhyun memang merindukan Chanyeol. Tapi salahkan Chanyeol karena anak itu berhasil membuat Baekhyun terlalu nyaman dan rindu setiap saat.

From : Chanyeollie

Kkk, aku hanya bercanda. Omong-omong, kau ada acara hari ini?

To : Chanyeollie

Sebenarnya tidak, hanya Café Jongdae. Ada apa?

From : Chanyeollie

Bersiaplah, aku akan menjemputmu dan membawamu makan siang

To : Chanyeollie

Eh? Untuk apa? Tidak perlu, kau sibuk bukan? Kau ada rapat pukul 1

Setelah itu Chanyeol tak lagi menjawab pesan Baekhyun. Dapat ditebak jika pemuda itu sedang menuruni lift menuju parkiran untuk menjemput smurf yang mati bosan dirumah.

"Anak itu benar-benar keras kepala" Baekhyun menggerutu, namun kemudian ia tersenyum kecil. Chanyeol benar-benar membuat perutnya selalu dipenuhi kupu-kupu.

Baekhyun segera berlari menuju kamar mandi, mengambil waktu untuk mandi singkat dan kemudian mengambil jeans dan kaus supreme putih milik Chanyeol yang ia pinjam—ia memintanya sebenarnya—kaus Chanyeol selalu menjadi favorit Baekhyun karena terlihat besar di tubuhnya.

Seseorang, yang dapat di tebak adalah Chanyeol, mengetuk pintu rumah susun Baekhyun. "Tunggu sebentar" Baekhyun memakai sepatunya cepat dan membuka pintunya. "Hey, Cha—"

Mata Baekhyun secara tidak sengaja bertemu dengan mata Chanyeol yang meneduhkan. Pemuda itu tersenyum dengan wajah tampannya.

Hoodie yang biasanya Baekhyun lihat tergantikan dengan jas hitam bermerk yang terlihat mahal. Tidak lagi jeans yang selalu membalut kakinya, celana bahan itu kini terlihat berwibawa disana. Dan bukan lagi sneakers berada di telapak kakinya, sepatu kulit yang mengkilat itu benar-benar berkilau. Oh, dan jangan lupakan rambut Chanyeol yang biasanya terlihat berantakan, kini tertata rapih dan dengan bangganya memperlihatkan kening lebar milik Chanyeol.

Tampan.

"—nyeol. Oh, wow"

"Wow?"

"Wow"

Kening Chanyeol berkerut dan masih menatap pemuda yang lebih kecil itu, "Apanya yang wow?"

"Kau"

"Aku?" Baekhyun mengangguk ketika Chanyeol menunjuk dirinya. "Bagaimana bisa aku terlihat wow?"

"Ini pertama kalinya aku melihatmu didalam jas, dan harus aku akui kau terlihat tampan" Chanyeol tersenyum sangat lebar saat mendengar Baekhyun memujinya. "Kau terlihat seperti eksekutif muda"

Chanyeol masih menatap Baekhyun tanpa menjawab pernyataan Baekhyun barusan, karena memang tidak di perlukan. Sudah 3 menit terlewati, Baekhyun masih saja mengagumi Chanyeol di hadapannya.

"Sudah selesai yang mengagumiku? Aku ada rapat pukul 1 nanti, sekitar 2 jam lagi"

Baekhyun membuang tatapannya, "Siapa yang mengagumimu? Kau terlalu percaya diri, Park"

Kemudian Chanyeol menarik tangan Baekhyun dan membawanya menuju lift. "Kalau kau terlalu lama mengagumiku, kita tidak akan memiliki banyak waktu untuk bersama" telinga Baekhyun memerah mendengarnya.

"Ku bilang, aku tidak mengagumimu"

"Benarkah?" Chanyeol menarik satu sudut bibirnya dan melirik yang lebih kecil. "Well, sedikit"

"Sedikit?"

"Baiklah, aku mengagumimu, puas?"

Chanyeol menarik Baekhyun agar semakin dekat dengannya. "Kau itu sangat menggemaskan, Baekhyun". Baekhyun menghela nafasnya, "Aku sudah mendengar itu puluhan kali"

"Kalau begitu aku akan terus mengatakannya hingga kau tak menggemaskan lagi"

"Omong-omong, kemana kau akan membawaku?" tanya Baekhyun ketika dirinya dan Chanyeol sudah berada di dalam mobil hitam Chanyeol.

"Kantorku"

Baekhyun terkejut, "K-kantor…mu?"

"Ya, apa ada masalah?"

"Aku berpakaian tidak layak, itu kantor terkenal Chanyeol. Mungkin penjaga akan mengira aku anak tersesat"

"Anak tersesat? Ada-ada saja kau ini. Setelah aku rapat, aku akan membawamu makan, dan kemudian mengantarmu ke Café Jongdae, bagaimana?"

Baekhyun mengerucutkan bibirnya, berpikir. "Tapi pakaian ini juga tidak cocok jika ku tampilkan di café Jongdae" ia menundukkan kepalanya.

Chanyeol tersenyum dan mengangkat dagu Baekhyun. "Kau selalu terlihat… erm… baik disetiap pakaian yang kau pakai" Baekhyun tersenyum dan mengangguk.

"Apa kau tidak lelah? Kau perlu istirahat, jangan terlalu menekan dirimu"

"Kalau begitu, malam ini aku menginap dirumahmu, bagaimana?"

"Huh? B-bukan itu m-maksudku"

"Aku tidak menerima penolakan, jadi nanti malam aku akan menginap dirumahmu"

Chanyeol melangkah berwibawa saat berada di kantornya. Pandangan beberapa orang tertuju pada Baekhyun yang mana membuat Baekhyun merasa risih. Chanyeol menghentikan langkahnya untuk menunggu Baekhyun yang melangkah perlahan dibelakangnya.

"Jangan berjalan di belakangku. Kau adalah kekasihku, bukan sekretarisku"

"Uh, okay. Tapi apa tidak masalah jika aku berada di kantormu?"

Mereka menaiki lift untuk sampai di ruang Chanyeol, lantai 5, tidak terlalu tinggi. "Siapa yang mempermasalahkan jika aku membawa kekasihku ke kantor?"

"Ergh, sang direktur utama, mungkin?"

"Direktur utama perusahaan ini adalah Ayahku, jadi tidak masalah"

"Tapi banyak orang yang memperhatikanku"

"Mungkin karena kau terlihat serasi denganku" Baekhyun terkekeh mendengar pernyataan Chanyeol. "Apa-apaan dengan itu, Chanyeol"

Baekhyun masih saja mengikuti dibelakang Chanyeol, hingga Chanyeol merasa gemas dan menarik tangan Baekhyun dan membawanya berada di sampingnya. "Kau itu kekasihku, bukan sekretarisku"

"Park Chanyeol! Kemana saja kau!" keluh seorang pemuda di dekat pintu ruang milik Chanyeol.

Do Kyungsoo, pemuda dengan mata besar dan bibir berbentuk hatinya, menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya. "Aku mencarimu dari tadi, dan kau tidak mengangkat telfonku!"

Chanyeol terkekeh ketika sekretarisnya itu terus-terusan memarahinya. "Aku hanya menjemput seseorang yang mati bosan dirumahnya" Chanyeol menunjuk Baekhyun dengan dagunya.

"Oh, hallo, aku Kyungsoo, Do Kyungsoo"

"B-Byun Baekhyun"

Kemudian Chanyeol membuka pintu ruangannya dan membawa Baekhyun masuk. "Kau tunggu disana, tidak apa bukan?" Chanyeol menunjuk sofa halus ditengah ruangannya. "Erm, okay"

Setelah Baekhyun mendudukkan tubuhnya di sofa, Chanyeol melangkahkan kakinya menuju kursi kerjanya. "Jadi, Chanyeol—"

Baekhyun mengalihkan pandangannya, tidak tertarik pada pekerjaan yang Chanyeol lakukan. Ia mengerucutkan bibirnya dan melirik Chanyeol masih membahas laporan di tangan Kyungsoo.

"Park Chanyeol! Saat aku pensiun, kau harus memberikanku pesangon yang banyak karena aku sudah melakukan banyak pekerjaanmu!" keluh Kyungsoo separuh berteriak mengejutkan Baekhyun. Chanyeol melirik kearah Baekhyun dan kemudian menaruh telunjuknya diatas bibirnya yang sedikit tersenyum, menenangkan Kyungsoo yang mengeluh 7/24.

"Kalau begitu aku akan permisi" ucap Kyungsoo. "Oh, hey, Kyungsoo" panggil Chanyeol menghentikan langkah Kyungsoo.

"Bisakah kau ambilkan 2 cangkir teh hangat? Aku ada tamu disini"

Kyungsoo menatap Chanyeol bosan, "Hey, kau punya dua tangan dan dua kaki. Kau bisa mengambilnya sendiri di dapur. Aku sekretarismu, bukan pembantumu"

"Tapi sekretaris Yang membawakan teh untuk ayahku!"

"Itu sekretaris Yang, tidak berlaku padaku" kemudian Kyungsoo menutup pintu.

"Sekretarisku luar biasa bukan?" tanya Chanyeol berdiri dari bangkunya menuju Baekhyun. "Apakah sekretarismu selalu seperti itu?"

"Well, ya, duapuluhempat jam dalam tujuh hari"

"Tapi aku sudah mengenalnya sejak lama, jadi tidak ada kata tuan dan apapun itu. Aku masih muda"

Baekhyun tidak terlalu fokus, karena yang selalu menjadi perhatian Baekhyun adalah wajah tampan Chanyeol. Terlebih kening lebar itu mengintimidasinya.

"Baekhyun, kau tidak apa?"

"Uh—huh? Uhm, ya"

"Kau masih mengagumiku ya?" telinga Baekhyun memerah. "Apa-apaan itu, Chanyeol!"

"Tenang saja, aku masih milikmu. Dan kau hanya milikku. Mengerti?"

Baekhyun tersenyum lebar ingin tertawa, namun ia mengangguk. Chanyeol yang gemas melihat Baekhyun mengambil kepala Baekhyun dan membawanya pada bawah ketiaknya. "Chanyeol! Chanyeool" Baekhyun berontak, tentu saja, ia memperlakukannya berlebihan.

"Ehemm, apakah ini yang dilakukan calon direktur utama sehari-hari?"

Chanyeol dan Baekhyun segera menoleh ke pintu hanya untuk menemukan seorang pria paruh baya yang terlihat sangat berwiba dengan setelan jas yang terpasang ditubuhnya. Terlebih dengan Kyungsoo yang berdiri dibelakang pria itu dengan kepala yang tertunduk.

"A-ayah!"

"Apa yang dilakukan orang asing ini di dalam kantormu?" ucap ayahnya tegas.

TBC

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Note :

Hallooooo, sudah lama tidak melanjutkan menulis karena beberapa kegiatan, tapi akhirnya aku kembalii.. untuk siapapun diluar sana, aku harap kalian menyukai fiksiku ini.. Thank youuu~~~