Wanna Date With Me?
.
.
.
Chapter 3
.
.
.
.
"A-ayah, ini—"
"Aku tidak akan mendengar penjelasanmu sekarang, Tuan Park. Lebih baik kau fokus pada pekerjaanmu dan jangan kau bebankan pada sekretaris Do" Ayahnya segera berbalik meninggalkan ruangan Chanyeol. Kyungsoo membungkukkan tubuhnya ketika direktur utama melewatinya.
Chanyeol menghela nafas ketika pintu ruangannya tertutup. Ia melirik pada pemuda disampingnya, wajahnya terlihat tegang. "Ayahku sangat mengejutkanmu ya?" Chanyeol membawa tubuh Baekhyun dalam sebuah pelukan. Namun pelukan itu terlepas ketika tiba-tiba pintu ruangannya terbuka lebar.
"Wow, sepertinya bencana baru saja memasuki ruangan—mu" Sehun terhenti ketika ia menyadari jika Chanyeol tidak seorang diri di ruangannya. "Paman memergokimu?" Tanya Sehun sembari bersandar pada pintu setelah menutupnya.
"Well, kau bisa lihat dari wajahnya" Chanyeol menunjuk Baekhyun yang berada di sampingnya dengan dagunya.
Sehun menghela nafasnya, "Akan ku belikan burger dan cola untukmu" dan kemudian ia pergi dari ruangan Chanyeol. Melupakan file yang sudah ia genggam yang ingin ia sampaikan pada Chanyeol.
.
.
.
Tengah malam, dan Baekhyun tidak bisa memejamkan matanya. Ia merasa gelisah meskipun kini Chanyeol terbaring di sampingnya, di atas ranjangnya. Berkali-kali Baekhyun berusaha menutup kedua matanya namun berakhir kembali terbuka.
"Tidak bisa tidur, hn?" Chanyeol bertanya dengan mata tertutupnya. Tangan kanannya ia jadikan bantal untuk Baekhyun, dan tangan kirinya ia gunakan untuk merengkuh tubuh kecil itu. "Kau—"
"Masih memikirkan ayahku?" Chanyeol segera memotong ucapan lelaki kecil di pelukannya.
Ia membuka kedua matanya ketika Baekhyun tak kunjung menjawab pertanyaannya. "Apa yang sangat menganggu pikiranmu hingga kau tak dapat tidur?" Chanyeol mengulur tangan kirinya untuk merapikan rambut Baekhyun yang menutupi pandangannya.
"Apa ayahmu marah?" Baekhyun mencicit, terlihat sangat menggemaskan bagi Chanyeol.
Yang lebih tinggi memeluk tubuh yang lebih kecil. "Jadi itu yang sangat mengganggumu huh? Lebih baik kau lupakan itu dan tutup kedua matamu"
"Aku hanya tidak bisa berhenti memikirkan itu, jangan salahkan aku!" Suara Baekhyun meninggi, kening itu tertekuk. "Hey, hey, Baek. Semua akan baik-baik saja, serahkan padaku. Kau mengerti ?"
Baekhyun menghela nafasnya kemudian mengangguk, Chanyeol mengecup kening Baekhyun cukup lama. "Itu Baekhyun-ku. Sekarang tutuplah kedua matamu dan tertidur, kau memerlukan istirahat yang cukup"
"Maafkan aku, Chanyeol" Baekhyun berkata lagi, sangat pelan, hampir bercicit. Chanyeol mengecup kening Baekhyun penuh sayang, "Tidak sayang, tidak perlu meminta maaf".
.
.
.
Pagi itu Baekhyun terbangun dengan mata sembab dan sedikit bengkak. Chanyeol tidak tahu harus menempatkan diri dimana. Di satu sisi, ia merasa kasihan pada Baekhyun yang terus-terusan memikirkan ayahnya. Dan di sisi lainnya, mata sembab dan sedikit bengkak itu membuat Chanyeol ingin tertawa lebar.
Jadi Chanyeol sering senyum-senyum sendiri sembari mengoles selai ke roti untuk sarapan mereka berdua. Baekhyun merajuk karena beberapa menit yang lalu Chanyeol menertawai Baekhyun yang bermata sembab dan berhidung merah.
"Kau bisa berhenti memikirkan ayahku, Baekhyun. Aku akan cemburu jika kau terus-terusan memikirkan ayahku" ucap Chanyeol sembari menaruh segelas susu dan roti selai strawberry, kesukaan Baekhyun, di atas meja. "Hahaha... tidak lucu" ucap Baekhyun datar, masih dengan kedua tangan melipat di depan dada.
Kini mereka berdua duduk di sofa yang berhadapan dengan TV besar di rumah susun Baekhyun. "Kau masih marah?" Tanya Chanyeol setelah menelan roti selai coklatnya.
"Tidak tahu" Baekhyun mendengus dan kemudian memakan roti selai di hadapannya.
Mendengar jawaban itu, Chanyeol menggapai pipi Baekhyun dengan tangan kanannya. Mengapit pipi Baekhyun di antara jempol dan keempat jarinya. "Baekhyun, dengarkan aku. Aku benar-benar minta maaf jika aku menertawaimu pagi ini. Bukan maksudku untuk menyakiti hatimu, tapi itu hanya terjadi begitu saja"
Baekhyun berusaha melepas jari-jari Chanyeol yang mengapit pipinya. Namun usahanya hanya menghasilkan kedua telapak tangan Chanyeol kini mengapit pipi gemilnya. "Dan kau harus tahu, Baek. Ayahku tidak membencimu, dia bukanlah orang yang keras. Ia hanya sedikit… erm, kecewa karena aku selalu mengandalkan Kyungsoo dengan pekerjaanku. Setelah kau mendapatkan hatinya, ia akan bersikap sangat baik padamu"
Kemudian Chanyeol membawa Baekhyun kedalam dekapannya dan mengecup pucuk kepala lelaki manis itu. "Jangan pikirkan lagi, mengerti?" Baekhyun mengangguk patuh.
"Yang harus kau pikirkan adalah bagaimana caranya agar ayahku dapat membuka hatinya untukmu" Baekhyun menyandarkan kepalanya di dada Chanyeol. "Bisakah kita pikirkan itu nanti? Aku lapar" ucap Baekhyun kemudian menggigit roti ditangannya. Chanyeol tersenyum kecil dan mengangguk.
.
.
.
"Buddy, aku sangat merindukanmu" Jongdae memeluk tubuh Baekhyun kuat, seperti tidak bertemu dalam waktu yang lama. "Aku juga merindukanmu, dan tempat ini"
"Dimana Chanyeol? Aku tak melihatnya" Jongdae mencari-cari pemuda tinggi yang selalu mengikuti Baekhyun. "Ia hanya mengantarku kesini, tidak mampir. Ingin memperbaiki diri katanya" Jongdae mengernyitkan keningnya. "Oh benarkah?"
"Ya, aku memaksanya untuk tidak membebankan tugasnya pada sekretarisnya lagi. Ya meskipun dia sempat mengeluarkan alasan-alasan konyolnya. Tapi tidak, ia harus memperbaiki dirinya terlebih dahulu sebelum aku bertemu ayahnya" Baekhyun mendudukkan tubuhnya di balik kasir.
"Oh wow, terdengar sangat high-class" Jongdae menyerahkan sebotol air minum untuk Baekhyun. "Ah, tidak sama sekali. Jangan berpikiran seperti itu, Jongdae. Aku tidak terlalu menyukainya"
"Ia mengantarmu dengan mobilnya?" Baekhyun menggelengkan kepalanya. "Mobilnya rusak, jadi ia mengantarku dengan berjalan kaki"
Jongdae menyipitkan matanya, "Apa kau sedih akan hal itu?". Kening Baekhyun berkerut semakin jelas. "Tentu saja tidak. Demi Tuhan, Jongdae. Ada apa denganmu ini?"
Pemuda di hadapan Baekhyun tertawa geli lalu ia mengusap ujung matanya dengan punggung jari telunjuknya. "Maafkan aku, Baek. Aku hanya takut kau menjadi arogan seperti yang ku tonton di drama-drama"
"Ya Tuhan, Jongdae. Aku tidak akan pernah seperti itu" Baekhyun meninju bahu pemuda itu. Berkali-kali Jongdae mengucapkan kata maaf pada Baekhyun, "Aku tahu, Baekhyun. Aku tahu".
Selepas itu Baekhyun mendudukkan tubuhnya di sebuah panggung kecil, di hadapan sebuah mic. Sebelumnya ia rapihkan penampilannya dan memastikan tidak ada kotoran di wajahnya. Ia tersenyum kecil ketika mengingat Chanyeol yang selalu duduk di sudut ruangan hanya untuk menyaksikannya tampil.
Jemari panjang itu menyentuh mic, bukan lagi piano. Ia mulai menyanyikan sebuah lagu yang pagi-pagi sudah ia siapkan. Café itu cukup ramai saat itu, dan banyak telinga menikmati suara manis dari Baekhyun. Tak terkecuali seorang pemuda dengan senyum terukir di bibirnya.
Ketika Baekhyun menuruni panggung itu dan menemui Jongdae. Pemuda itu memberanikan diri mendekati Baekhyun.
"Hai" sapa pemuda itu.
"Erm, hai?" sapa Baekhyun mencoba membuka memori di kepalanya. Siapa pemuda tinggi di hadapannya ini, apakah Baekhyun mengenalnya?
"Erm, maaf, tapi apakah aku mengenalmu?" Baekhyun menyerah mencari-cari wajah di ingatannya. Dan ketika pemuda itu menggelengkan kepalanya, Baekhyun bernafas lega karena tidak harus merasa bersalah karena sudah melupakan salah satu temannya. "Ku rasa kau tak mengenalku" ucap pemuda itu.
"Ada yang bisa ku bantu?" kali ini Jongdae turun tangan ketika pemuda itu hanya diam menatap Baekhyun. Sedangkan yang di tatap hanya tersenyum canggung sembari menarik tangan Jongdae, meminta pertolongan.
Pikiran pemuda itu buyar dengan suara Jongdae, "Ah tidak. Tidak ada. Aku hanya sangat suka dengan penampilannya di Café ini" setelah itu pemuda itu pergi meninggalkan Baekhyun, Jongdae, dan Cafe milik Jongdae.
"Apa-apaan itu, Jongdae? Siapa pria itu?" tanya Baekhyun yang hanya dibalas gedikan bahu dari Jongdae.
.
.
.
Baekhyun terdengar gusar ketika menghubungi Chanyeol. Ia tidak ingin mengganggu kekasihnya bekerja, namun ia juga tidak ingin bertemu pemuda itu beberapa hari yang lalu.
"Hey, Baek. Ada apa?"
"Apa aku mengganggumu?"
"Tidak juga. Katakan, ada apa?"
"Bisakah kau temani aku di Café Jongdae hari ini?"
"Cafe Jongdae? Memang ada apa?"
"…"
"Baek? Kau di sana?"
"A—aku…"
"Baiklah, aku akan menemanimu"
"Terima kasih, Chanyeol!"
"Cepatlah bersiap, aku akan segera ke rumahmu"
Dan benar saja, Chanyeol segera mengambil beberapa berkas pentingnya dan segera mengambil kunci mobil di meja kerjanya. Ketika ia bertemu dengan sekretarisnya, Kyungsoo, ia menanyakan jadwalnya hari ini. "Tidak ada yang terlalu penting, Park"
"Oh, baiklah. Aku akan mengerjakan beberapa tugasku di luar. Apabila ada keadaan genting, kau bisa menghubungiku" ucapannya hanya dibalas dengan sebuah anggukan dari Kyungsoo.
Sesampai di rumah susun Baekhyun, Baekhyun sudah menunggu di halaman rumah susunnya. "Kau terlihat sangat menawan, Baek" puji Chanyeol ketika tangan itu meraih tangan Baekhyun. "Hentikan itu, aku tidak kuat mendengarnya"
Dengan itu mereka dua berjalan menuju Café Jongdae. Kedua tangan mereka saling bertautan dan jantung Baekhyun kembali meledak ketika Chanyeol merapihkan rambut Baekhyun yang berada di keningnya. "Oh Tuhan, betapa menggemaskannya kekasihku ini" ucapan Chanyeol mendapat hadiah pukulan di lengannya.
Ketika memasuki Café Jongdae, Baekhyun segera bersembunyi di ruang pekerja. Ia tidak ingin Chanyeol melihat rona merah di wajahnya yang ia tahan-tahan dari tadi. "Oh, sekarang ada giant di sini" Jongdae menyilangkan tangannya di dada.
"Hey, Jongdae"
"Kau sudah lama tidak kemari, Chanyeol" Chanyeol tersenyum kikuk, dan kemudian mengangkat beberapa berkas di tangannya. "Well… well… apa pelanggan setiaku ini akan memesan sesuatu?"
"Bisakah aku mendapatkan setangkai bunga dan segelas orange juice"
Jongdae mengangguk, "tentu"
Chanyeol mendudukkan tubuhnya di sebuah bangku yang dekat dengan panggung, sengaja. Ketika minumannya sudah siap, ia mengambil minuman itu di counter. "Erm, Jongdae. Bunganya?"
"Oh wow, kau bersungguh-sungguh akan bunga itu. Kau bisa mengambil bunga dari meja yang kau pakai. Kembalikan setelah selesai, okay?"
Chanyeol tertawa, "Aku hanya bercanda, Jongdae". Jongdae menggelengkan kepalanya ketika Chanyeol kembali menuju mejanya dan berkutat dengan berkas-berkas yang ia bawa. Pandangan Chanyeol beralih menuju Baekhyun yang menawan kini bersiap di panggung. Menyentuh mic dan beberapa kali mengetesnya.
Baekhyun mencuri pandang ke arah Chanyeol yang kini tersenyum bangga melihat kekasihnya akan tampil. Mata Baekhyun mendapati pemuda yang beberapa hari lalu menyapanya kini tengah memasuki Café. Ia tersenyum ke arah Baekhyun dan memesan sesuatu untuk menjadi teman menikmati penampilannya.
Baekhyun mengangguk pada Jongdae dan kemudian sebuah instrumental lagu terputar. Baekhyun menyanyikan lagu itu dengan indah sekali. Senyum Chanyeol semakin melebar ketika Baekhyun seringkali menatapnya dan sedikit tersenyum.
"Oh wow, itu adalah penampilan yang bagus" pemuda itu kini menyampiri Baekhyun. "Terima kasih" Baekhyun menunduk dan mencuri pandang ke arah Chanyeol yang juga menatapnya dengan senyum bangga dan tangan yang mengacungkan jempol. Baekhyun memberi tatapan ke arah Chanyeol untuk mengangkat pantatnya dan berjalan kemari, menyelamatkannya.
"Erm, aku Mark Lee"
Pandangan Baekhyun kembari tertuju pada pemuda di hadapannya. "Tunggu, kau Mark Lee?" Pemuda itu tersenyum dan mengangguk, membenarkan pertanyaan Baekhyun.
"Mark Lee… Lee Minhyung?" Baekhyun terdengar terkejut.
Pemuda itu terkejut sebenarnya, ia jarang menyebut nama koreanya selama berada di Korea. Ia sedikit terkejut ketika mendengar suara dehaman di sebelahnya. "Ergh, ada apa ini?" tanya Chanyeol kehilangan arah.
"Aku Baekhyun hyung!" seru Baekhyun sembari menunjuk dirinya sendiri. "Baekhyun hyung?" Pemuda itu, Mark, terlihat sedang berpikir. Mengingat-ingat siapa Baekhyun.
"Ah! Baekhyun hyung!" ucapnya senang ketika mengingat siapa itu Baekhyun.
Chanyeol memandanginya dengan penuh pertanyaan. Namun ketika Baekhyun tersenyum kearahnya dan mengangguk, berarti ini bukan hal yang mengkhawatirkan. Maka dari itu, Chanyeol kembali ke mejanya.
"Wow, aku tidak menyangka akan bertemu denganmu disini, Mark" itulah kata-kata terakhir yang di dengar oleh Chanyeol yang kemudian ia abaikan dan memilih untuk tenggelam ke dalam berkas-berkasnya.
Setelah 20 menit, Baekhyun datang dan duduk di hadapan Chanyeol. "Hey, hardworker" Chanyeol mengangkat kepalanya dan tersenyum. "Siapa lelaki itu? Kenalanmu?" Baekhyun mengangguk membenarkan.
"Ia beberapa hari yang lalu datang ke Café dan menghampiriku seusai penampilan. Aku sedikit merinding dan mengira yang tidak-tidak, maka dari itu aku memintamu menemaniku tampil di sini. Ia adalah Mark, tetanggaku sebelum aku pindah kemari. Dahulu kami sangat dekat meskipun usia kami terpisah tujuh tahun. Dia menangis seharian karena akan pergi Kanada mengikuti orang tuanya" Chanyeol mengangguk mendengar penjelasan Baekhyun.
"Erm, Baek. Apa kau ada waktu senggang malam ini?" Baekhyun mengingat-ingat jadwalnya, dan kemudian mengangguk. "Ada apa?"
"Aku merindukanmu" Chanyeol tersenyum bodoh.
"Apa-apaan itu, Chanyeol?" Baekhyun meninju lengan Chanyeol, namun kemudian ia tersenyum dan menyembunyikan rona merah di pipinya.
"Apa yang kau kerjakan?" tanya Baekhyun ketika Chanyeol melirik pekerjaannya. "Ah, ini hanya berkas-berkas yang harus ku kerjakan. Kau sudah selesai?" Tanya Chanyeol menutupi berkas-berkas itu agar tak terlihat oleh Baekhyun.
Baekhyun mengangguk, "Kalau kau masih ingin bekerja kupersilahkan. Aku akan pergi menemani Jongdae saja" Baekhyun berdiri dari duduknya. Dengan gerakan cepat, Chanyeol menarik tangan Baekhyun dan menahan pria itu pergi. Keningnya tertekuk, "Ada apa Chanyeol?" tanyanya dan kemudian kembali mendudukan tubuhnya di hadapan Chanyeol.
Chanyeol menarik Baekhyun agar duduk di bangku sampingnya. Kemudian ia mendekatkan bibirnya ke telinga Baekhyun. Satu tangan ia dekatkan di sekitar bibir dan telinga Baekhyun dan tangan lainnya melingkar indah di leher Baekhyun, menariknya semakin dekat.
"Aku ingin berada di rumahmu saja. Bekerja dan hanya melihatmu di rumah" suara berat Chanyeol menggelitik telinganya. Baekhyun hanya tersenyum kecil dan mengangguk. "Baiklah, kita pulang"
Chanyeol dengan cepat merapikan berkas-berkas yang ia bawa, sedangkan Baekhyun mengambil beberapa barang di ruang pekerja. "Jongdae, aku akan pulang sekarang. Tidak apa, bukan?" Jongdae hanya memutar bola matanya. "Ya ya ya… Hn, baiklah"
Setelah merapikan berkasnya, Chanyeol menghampiri Baekhyun yang masih berbincang pada Jongdae. Chanyeol mengistirahatkan dagunya pada bahu Baekhyun. "Baek, omong-omong Luhan tidak dapat tampil esok lusa. Bisa kau menggantikannya?" Baekhyun menggangguk menyanggupi.
"Oke, bye buddy"
Baekhyun melambaikan tangannya ke arah Jongdae dan di ikuti oleh Chanyeol.
.
.
.
Baekhyun kali ini berada di kamar Chanyeol. Rumah Chanyeol berkali-kali lipat lebih besar daripada rumah susun Baekhyun. Meskipun begitu, Chanyeol memilih untuk tinggal di sebuah apartemen yang tidak terlalu jauh dari rumah. Di apartemennya itu, ia hanya tinggal dengan sepupunya, Sehun.
Yang lebih kecil semakin menggelung tubuhnya di balik selimut dan semakin mendekatkan diri pada Chanyeol. "Baek" panggil Chanyeol.
"Hn?"
Mereka berdua sebenarnya sama sekali tidak tertidur, namun bergelung di bawah selimut bersama Chanyeol itu menyenangkan, menyenangkan sekali.
"Luangkan waktumu besok malam ya?" ucap Chanyeol sembari mengusap rambut Baekhyun yang sedikit berantakan. "Kenapa?"
"Aku ingin mengajakmu makan malam bersama keluargaku"
Dengan gerakan tiba-tiba Baekhyun mengangkat tubuhnya, menatap Chanyeol dengan tatapan tidak yakin. "Kau yakin dengan itu? Bagaimana jika ayahmu masih tak menyukaiku? Bagaimana jika ibumu—" Chanyeol langsung mendekap tubuh Baekhyun.
"Mereka akan menyukaimu, Baek. Aku yakin. Tidak ada yang perlu kau khawatirkan. Mereka semua akan menyukaimu" Chanyeol membelai lembut punggung Baekhyun. Menenangkan pikiran anak itu agar tidak berpikiran yang tidak-tidak.
"Demi Tuhan, Chanyeol. Aku takut akan mengacaukan pertemuan itu"
"Tidak akan, kau dengarkan aku. Kau adalah kekasihku. Yang berpacaran denganmu adalah aku, bukan mereka. Jika mereka tidak menyukaimu, aku tidak akan mempedulikan itu. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Baekhyun"
"Jangan pernah tinggalkan aku, Chanyeol" Chanyeol mengangguk dan mengusap kepala Baekhyun kembali. Chanyeol terkejut, karena kemudian secara tiba-tiba Baekhyun mengecup pipi Chanyeol.
"Saat kita bertemu keluargamu, jangan tinggalkan aku ya?" Chanyeol tersenyum dan kembali mengangguk.
Memikirkan kecupan di pipi Chanyeol membuat Baekhyun malu. Maka dari itu ia menyembunyikan wajahnya di dada Chanyeol. "Ada apa?" Tanya Chanyeol dengan lembut. Baekhyun hanya menggelengkan kepalanya. "Tidak ada"
"Kau yang menciumku dan kau sendiri yang malu, Baekhfff—" tiba-tiba Baekhyun menutup mulut Chanyeol dengan jari telunjuknya. "Jangan ingatkan aku. Aku malu, Chanyeol"
"Untuk apa malu? Kau yang menciumff—" Baekhyun kembali menutup mulut Chanyeol dengan telapak tangannya. "Chanyeol, aku malu"
"Baekhyun, kau yang tiba-tiba men—" kali ini Baekhyun menutup mulut Chanyeol dengan bibirnya, hanya sebuah kecupan. Dan kemudian Baekhyun berlari pergi ke kamar mandi. Chanyeol terkejut sebenarnya, namun kemudian ia tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Kau mencuri ciuman pertama kita, Baek" teriak Chanyeol.
"Aku tidak mendengarmu!" teriak Baekhyun dari dalam kamar mandi.
.
.
.
Baekhyun memakai pakaian terbaik yang ia miliki. Ia tidak ingin pertemuan pertama Baekhyun dengan keluarga Chanyeol menjadi tidak baik. Restaurant tempat mereka makan ini cukup mahal, sudah terlihat dari interior yang terpajang disana.
Ketika Baekhyun melihat buku menu, harga makanan disana sudah seharga dua kali dari gajinya bekerja di Café Jongdae. Pada awalnya ia hanya ingin memesan segelas air putih, yang paling murah. Namun Chanyeol meyakinkan bahwa makan malam kali ini di tanggung oleh keluarganya.
Dari daftar menu itu, lebih banyak bahasa asing yang tidak ia mengerti. Jadi ia meminta pendapat Chanyeol untuk memilih makan malamnya kali ini. Keluarga Chanyeol belum datang, Chanyeol dan Baekhyun sengaja datang lebih awal.
"Aku suka pasta yang berada di sini. Kau juga ingin?" Baekhyun hanya mengangguk, bahkan harga pasta di sini sangat mahal.
"Chanyeol!" panggil seorang wanita paruh baya yang akhirnya membuat Chanyeol dan Baekhyun berdiri bersamaan. Keluarga Park datang. Baekhyun gelisah, sangat gelisah. Dan Chanyeol menggenggam tangan Baekhyun. Menahannya dan menenangkan pemuda di sebelahnya.
"Chanyeol~" Ibunya memeluk tubuh Chanyeol, cukup lama hingga wanita itu melepaskannya. "Aku merindukanmu nak" wanita mengusap wajah Chanyeol yang tampan.
"Aku juga merindukanmu, Bu"
Pandangan wanita itu teralihkan pada pemuda di samping Chanyeol. "Dan kau…" jantung Baekhyun berdegup ketika Ibu Chanyeol menatapnya. "… Kau pasti Baekhyun, yang selalu Chanyeol ceritakan di rumah" wanita itu tersenyum dan memeluk tubuh Baekhyun.
Ia bernafas lega ketika Ibu Chanyeol menyambutnya dengan baik.
"Oh, jadi ini lelaki yang membuat adik kecilku berhenti merokok, hm?" suara di balik punggung Ibu Chanyeol menghentikan nafas Baekhyun. Park Yoora, Chanyeol sudah pernah menceritakan wanita itu padanya. "Aku tidak pernah menyuruhmu mengatakan itu noona"
Yoora menjabat tangan Baekhyun, "Terima kasih sudah membuat adikku berhenti merokok" dan ditambahkan dengan sebuah kedipan satu mata yang di arahkan kepadanya.
Chanyeol adalah seorang perokok. Namun ia berhenti merokok semenjak Baekhyun mengatakan ia tidak menyukai jika Chanyeol merokok. Baekhyun sendiri tidak tahan dengan asap rokok. Suatu pagi Baekhyun memergoki Chanyeol tengah merokok di balkon apartemennya. Dan yang terjadi kemudian adalah Baekhyun uring-uringan dan menangis. Baekhyun bahkan mengabaikan Chanyeol untuk waktu yang lama, sebagai bentuk hukuman katanya.
"Paman" Baekhyun membungkuk ketika bertemu dengan Tuan Park. "Oh, kau" hanya kata itu yang keluar dari mulut Ayah Chanyeol. Hati Baekhyun membeku. Sungguh, ia ketakutan apabila Tuan Park masih tidak menyukainya.
"Erm, aku ingin meminta maaf jika aku terlalu menakutimu saat itu. Aku sedikit kesal karena Chanyeol tidak melakukan pekerjaannya sendiri dan terus-terus saja melimpahkan tugasnya pada sekretaris Do" lanjut ayahnya.
Seketika Baekhyun merasa lega. Segala pemikiran negatif itu tidak muncul sama sekali di pikirannya setelah itu. Nyatanya keluarga Chanyeol sangat menyambutnya dengan baik. Baekhyun senang dan mensyukuri itu. Keluarga Chanyeol sama sekali tidak mempermasalahkan pekerjaan Baekhyun yang hanya seorang penyanyi di Café. Keluarga Chanyeol pun tidak mempermasalahkan latar belakang Baekhyun yang tidak terlalu terpandang seperti keluarga mereka.
Dan sepulang dari makan malam itu, Baekhyun semakin bersinar dengan restu dari keluarga Chanyeol. Baekhyun tidak bisa berhenti tersenyum semenjak memasuki rumah susunnya. Chanyeol kali ini kembali menginap di rumah Baekhyun.
"Kau senang?" Tanya Chanyeol ketika memasuki rumah susun Baekhyun. "Tentu saja! Apa kau gila? Keluargamu sangat baik padaku! Aku tidak menyangka itu!" suara Baekhyun terdengar keras dan lantang.
"Tenang, Baek. Tenang" Chanyeol memeluk tubuh kecil Baekhyun. "Aku sangat bersyukur bertemu dengan mereka" kemudian Baekhyun terkekeh geli dengan wajah Chanyeol yang menyusup ke lehernya.
"Andai kau bertemu nenekku, Chanyeol. Ia pasti akan bahagia" lanjut Baekhyun dengan suara sedikit sedih. "Hey, ada apa? Kau terdengar sedih"
Kini mereka berdua berbaring di sofa dengan menghadap TV. TV itu memutar sebuah variety show. "Aku merindukan nenekku, Chanyeol" Baekhyun kembali terdengar sedih di dekapan Chanyeol.
"Kau ingin berbagi cerita denganku?" Baekhyun terdiam sebentar, dan kemudian ia mengangguk.
"Semenjak kecil, aku hanya tinggal dengan nenekku saja. Kedua orang tuaku menitipkanku pada nenek, dan mereka berdua pergi mencoba peruntungan di sebuah Negara. Ketika mereka akan kembali ke Korea, pesawat yang mereka tumpangi tidak pernah sampai, hilang kontak dan terjatuh" Chanyeol makin mengeratkan pelukannya pada Baekhyun. "Maafkan aku, Baek"
Baekhyun menggelengkan kepalanya, "Kemudian saat aku di penghujung SMA, nenek pergi meninggalkanku seorang diri. Maka dari itu aku tidak melanjutkan kuliahku. Rumah susun ini milik teman nenek yang berbaik hati mengurangi biaya sewa untukku" Chanyeol mengecup pucuk kepala Baekhyun.
"Hey, kau tahu? Kau adalah lelaki yang kuat" Baekhyun mengusap air mata di matanya dengan cepat setelah mendengar pernyataan Chanyeol. "Aku tidak sekuat itu, Chanyeol"
"Kau kuat, Baek. Aku tahu itu"
"Dan di rumah nenek itu aku bertemu Mark. Kami sering bermain bersama semenjak kecil. Aku sering mengunjungi rumahnya ketika ia masih sangat kecil bahkan sebelum ia bisa berjalan"
"Baek?"
"Ya?"
"Kau tidak akan meninggalkanku, bukan?"
"Tidak, Chanyeol. Aku yang seharusnya menanyakan hal itu padamu"
"Siapa tahu suatu hari kau akan meninggalkanku… dan kembali pada Mark"
"Usiaku dengan Mark terpaut jauh, Chanyeol. Tidak mungkin Mark menyukaiku"
Tidak mungkin, katanya.
Baekhyun yakin itu tidak akan terjadi.
Tidak mungkin anak kecil itu akan menyukai Baekhyun.
Tapi, mungkinkah?
.
.
.
TBC
.
.
.
.
Note :
Maafkan aku yang tidak mengupdate cerita ini selama satu tahun, huhu. Aku sudah menjelaskan alasannya di ceritaku yang lain, If We Love Again. Semoga kalian tertarik untuk membacanya! Tidak perlu khawatir, aku akan mengupdate cerita itu lebih rajin. kkk
