Wanna Date With Me

.

.

.

.

Chapter 4

.

.

.

Perkataan Chanyeol mengusiknya, Baekhyun membutuhkan waktu lebih lama dari biasanya untuk mandi. Ia masih memikirkan perkataan Chanyeol. "Tidak mungkin anak itu menyukaiku, bukan?"

"Tidak, usiaku dan Mark terpaut tujuh tahun dan tujuh tahun adalah jarak yang cukup besar"

"Baek, kenapa lama sekali?" suara Chanyeol dari luar menyadarkan Baekhyun dan segera menyelesaikan acara bersih-bersihnya.

Ketika Baekhyun membuka pintu, Chanyeol sudah berdiri disana dengan wajah tertekuk. "Ku pikir kau ada apa-apa di dalam" suara Chanyeol terdengar khawatir.

Baekhyun tersenyum dan mengusap pipi Chanyeol, "Aku tidak apa, hanya terlalu sibuk berpikir"

Kemudian Chanyeol memasuki kamar mandi itu dan melakukan urusannya yang sudah ia tahan-tahan sedari tadi. "Apa yang kau pikirkan?" tanya Chanyeol pada Baekhyun ketika Baekhyun baru saja akan melangkah pergi.

"Aku—"

"Tidak memikirkan bocah itu, bukan? Aku akan benar-benar cemburu jika kau memikirkannya" Baekhyun tertawa mendengarnya. "Untuk apa aku memikirkan Mark, Chanyeol?"

"Siapa tahu, aku tidak bisa membaca isi hatimu, Baek" setelah suara deru air dari kloset berbunyi, Chanyeol muncul dari balik pintu.

Baekhyun mengapit pipi Chanyeol dengan jempol dan keempat jari lainnya, "Oh ayolah, ia hanya teman masa kecilku. Sedangkan sekarang kau adalah kekasihku, oh dan perlu di ingat, kita berpacaran tanpa menjadi teman terlebih dahulu. Bukankah itu hebat?"

Chanyeol dan Baekhyun kini berada di dapur. Baekhyun memasak mi instan dan Chanyeol, hn, hanya menatap Baekhyun memasak. "Dan lagi keluargamu menyukaiku, kau tidak perlu mengkhawatirkan itu, Chanyeol"

"Jangan berkerut seperti itu, Chanyeol" kini Baekhyun mulai menatap Chanyeol. "Apa yang harus kulakukan agar kau tidak seperti ini? Membiarkanmu menyesap satu batang rokok?" tanya Baekhyun.

"Apa boleh?"

"Tentu, jika kau ingin aku mendiamkanmu dalam waktu yang lama"

"Rokok itu tidak—"

"Tidak baik. Aku tahu, Baek. Aku tidak akan merokok lagi, aku sudah berjanji"

Baekhyun tersenyum dan menepuk kepala Chanyeol, "anak pintar"

"Jangan biarkan Mark bersaing denganku, Baek. Bagaimana pun ia masih terlalu muda untuk kalah denganku. Jangan biarkan Mark memasuki hatimu, okay?" Baekhyun mengangguk pada penuturan Chanyeol.

"Kau ingin berkencan?" tanya Baekhyun.

Chanyeol kemudian tersenyum senang dan mengangguk. Baekhyun tahu bagaimana cara menaklukkan hati Chanyeol yang sedang kesal. Dengan mengajak berkencan ataupun hanya berdua dengan Baekhyun saja dapat membuat hati Chanyeol membaik

"Aku tidak ingin jauh-jauh, bagaimana dengan café Jongdae, Baek?" kening Baekhyun mengerut. "Café Jongdae? Kau mengajakku berkencan atau menyuruhku bekerja?"

Chanyeol terkekeh, "Café Jongdae itu seperti café-café lainnya, Baek"

"Lalu percuma saja aku memasak mi instan untuk sarapan kita" Baekhyun menaruh kedua tangannya di pinggang. Mi instan yang berada di dalam panci sudah matang, namun Baekhyun menunggu hingga kuning telur itu matang. Chanyeol tidak menyukai telur setengah matang.

"Tidak ada yang percuma, kita akan sarapan dengan mi instanmu dan kemudian kita dapat bergelung sampai waktu makan siang. Bagaimana, kau setuju?" pada akhirnya Baekhyun mengangguk.

Baekhyun menaruh panci itu di meja makan, sedangkan Chanyeol membuntutinya dengan membawa dua mangkuk dan sumpit. "Saya akan makan dengan baik!" seru Chanyeol sebelum mengambil helaian-helaian mi instan dari panci. Baekhyun hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya, gemas pada sikap Chanyeol.

"Ah!" Chanyeol melonjak secara tiba-tiba yang mengejutkan Baekhyun. "Ada apa?" tanya Baekhyun terlihat khawatir. "Terkena panci" ucap Chanyeol dengan sedikit rintihan, satu tangannya ia gunakan untuk menutupi sisi tangannya yang terkena panci.

"Hati-hati, sekarang duduklah. Biar aku saja yang mengambilkan" Baekhyun berdiri dari duduknya untuk menggapai panci panas itu. Chanyeol dengan patuh mendudukkan tubuhnya, masih berusaha mendinginkan sisi tangannya dengan telapak tangannya.

"Ogu ogu, kasihan sekali Chanyeolku ini" canda Baekhyun sembari memasukkan beberapa helai mi ke dalam mangkuk Chanyeol.

"Makan yang banyak, anakku" Baekhyun menyerahkan mangkuk itu kepada Chanyeol kemudian ia mengusap kepala Chanyeol. "Apa-apaan dengan itu, Baek" kemudian mereka berdua tertawa.

Chanyeol merasa perutnya mendadak sakit seusai ia menghabiskan mi instan itu, ia tiba-tiba merasa ingin buang air besar. Dengan segera Chanyeol pergi ke kamar mandi dan menyelesaikan urusannya.

"Aduh!" seru Chanyeol bersamaan dengan suara masa menabrak lantai. "Chanyeol, kau baik-baik saja?" Baekhyun berlari menuju kamar mandi dan mendekatkan telinganya pada pintu kamar mandi.

"Chanyeol!" Baekhyun mengetuk pintu kamar mandi. "Aku tidak apa, Baek. Hanya terjatuh saja" suara dari dalam kamar mandi. "Kau serius? Biarkan aku masuk!"

"Kau gila? Aku sedang buang air besar, Baek. Jangan menunggu di depan pintu, aku takut baunya akan keluar sampai tercium olehmu"

Baekhyun terkekeh, "baiklah baiklah. Ku tunggu di sofa, okay?" suara bergumam Chanyeol menjadi jawaban.

Ketika Chanyeol keluar dari kamar mandi dengan menyentuh perutnya, Baekhyun segera memastikan lelakinya baik-baik saja. "Kau benar tidak apa?" Baekhyun menelisik seluruh sisi dari Chanyeol. Chanyeol hanya tersenyum dan mengusak kepala Baekhyun.

"Aku tidak apa, Baek" ucap Chanyeol dengan senyumnya.

Seperti janji, mereka berkencan di Café Jongdae ketika jam makan siang datang. "Buddy!" seru Baekhyun pada Jongdae. "Ada apa kau datang?" tanya Jongdae dengan raut penasaran, karena jarang sekali Baekhyun dan Chanyeol datang ke cafenya diluar jam kerja Baekhyun.

"Hanya makan siang, kami menjadi pelangganmu kali ini" ucap Baekhyun dengan sedikit kekehan. "Oh begitukah? Kalau begitu, silahkan duduk customer kesayanganku" kemudian Baekhyun benar-benar terkekeh akan sikap 'bos'nya.

Chanyeol dan Baekhyun duduk di ujung cafe itu, tempat Chanyeol biasa memperhatikan Baekhyun saat ia tampil. "Oh, Baek. Benar. Aku lupa mengatakan ini, tapi untuk tiga hari kedepan Cafe ini akan tutup sementara. Aku akan mengajak pekerjaku untuk berlibur ke Busan, kau ikut?" tanya Jongdae ketika ia menaruh buku menu di hadapan Chanyeol dan Baekhyun.

Baekhyun menatap Chanyeol yang kemudian Chanyeol mengangguk, mengizinkan Baekhyun ikut pergi. "Kau harus ikut, Chanyeol! Bagaimana pun juga Baekhyun dan Sehun adalah temanku, itu membuatmu menjadi temanku juga" Jongdae menawarkan pada Chanyeol.

"Terdengar menyenangkan" ucap Chanyeol dengan sebuah senyuman di bibirnya. Baekhyun tersenyum senang mendengar penuturan Chanyeol. "Kau benar-benar akan ikut?" Baekhyun meyakinkan kembali.

"Well, ya. Pemilik café ini memintaku, bagaimana bisa aku mengatakan tidak untuk hal itu?"

"Pshh, hentikan itu. Kau bisa ajak Sehun jika kau mau, Chanyeol"

"Tentu, bocah itu akan senang mendengarnya"

Baekhyun sangat senang hingga ia bertepuk tangan dan memeluk tubuh Chanyeol. "Oh ayolah, Baek. Tidak perlu seheboh ini. Kita hanya akan pergi ke Busan, bukan bulan madu ke Bali"

"Ini akan menjadi sangat menyenangkan, Chanyeol!"

"Terlebih hanya tiga hari, Baek. Tidak ada hal besar yang akan terjadi" lanjut Chanyeol

.

.

.

"Chanyeol! Cepatlah!" seru Baekhyun ketika Chanyeol berjalan sedikit lebih lambat di belakang Baekhyun. Mereka akan menaiki kereta, yang hanya menghabiskan waktu paling tidak tiga jam.

Baekhyun tidak ingat kapan terakhir kali ia keluar dari kota ramai itu. Maka dari itu ia sangat bersemangat, terlebih dengan adanya Chanyeol yang menemaninya. "Aku tidak sabar menceburkan diriku ke laut, Chanyeol" kini mereka sudah mendudukkan tubuhnya di dalam kereta.

"Kau sudah mempersiapkan segalanya?" Baekhyun mengangguk sebagai jawaban.

"Apa Sehun tidak apa ikut ke Busan?" tanya Baekhyun setelah mengintip Sehun yang duduk di belakangnya dengan Luhan.

"Tentu saja, Ia memerlukan penyegaran" Chanyeol mendekatkan diri kepada Baekhyun. "Bocah itu baru saja di campakkan kekasihnya dari Anyang" bisik Chanyeol.

Chanyeol memijat pergelangan tangannya yang terasa kebas sejak kemarin. Baekhyun menyandarkan kepalanya di bahu Chanyeol. "Tanganmu baik-baik saja?" tanya Baekhyun sembari menarik tangan Chanyeol dan memperhatikannya.

"Hanya sedikit pegal biasa, akan segera membaik. Sekarang tidurlah, tiga jam bukanlah waktu yang singkat" kemudian Chanyeol mengecup kepala Baekhyun. Baekhyun menautkan lengannya pada lengan Chanyeol dan mengangguk.

Chanyeol mengeluarkan earphone dari sakunya dan memasangkannya pada ponselnya. Setelah memasangkannya pada telinganya. Chanyeol memilih untuk memutar lagu, ia memutar sebuah lagu yang pernah ia karang ketika ia senggang, What Do You Think?

Earphone milik Chanyeol terlepas satu, nyatanya Baekhyun mengambilnya untuk ia pakai. "Hn? Lagu apa ini?" tanya Baekhyun. "Bagaimana aku mengatakannya, erm, ini lagu yang pernah ku buat. Kau suka?"

Baekhyun mengangguk, "tidak terlalu buruk, aku menyukainya malah"

"Benarkah?" Baekhyun mengangguk.

"Aku berpikir, bagaimana jika suatu saat nanti kau dan aku membuat sebuah lagu"

"Bukan ide yang buruk, Baek. Sekarang yang kau perlukan adalah tidur, kau terlalu bersemangat sampai tidak dapat tidur semalam"

Baekhyun tersenyum dan menyamankan diri pada bahu Chanyeol. "Bangunkan aku ketika kita sudah sampai, okay?" Chanyeol hanya mengusap kepala Baekhyun lembut.

Chanyeol sedikit memutar kepalanya, mengintip Sehun yang kini berbincang pada Luhan di sampingnya. Sehun yang menyadari Chanyeol segera menggerakkan dagunya, mengusir Chanyeol. Yang di usir terkekeh kecil dan kembali menyamankan diri di bangku kereta.

"Baek, bangun. Kita sudah hampir sampai Busan, Baek" bisik Chanyeol pada Baekhyun ketika mereka sudah tiba. "Hey, sayang. Bangunlah" kali ini Chanyeol mengusap kepala Baekhyun.

Baekhyun sedikit menguap dan meregangkan ototnya. "Oh, Chanyeol" ia kembali mengusap matanya dengan punggung jari telunjuknya. "Sudah sampai?" tanya Baekhyun.

"Sebentar lagi"

Setibanya di Busan, mereka segera menuju sebuah hotel di pinggir pantai yang sudah Jongdae pesan. "Baekhyun, kau akan berada satu kamar dengan Luhan. Tidak apa?"

"A-apa?! K-kenapa?" itu bukan suara Baekhyun.

Pun bukan suara milik Chanyeol.

Milik Sehun.

"Ada apa, dude?" bisik Chanyeol sembari mencubit pinggang Sehun. Luhan hanya tersenyum lebar dengan pertanyaan Sehun.

"Kau mengharapkan satu kamar dengan Luhan, Sehun?" tanya Jongdae dengan senyuman menggoda Sehun. "A-aku tidak—"

"Aku tidak masalah berada dalam satu kamar dengan Sehun" ucap Luhan dengan sedikit senyuman.

"Aw, apa Sehun sudah menemukan pengganti masa lalunya" bisik Chanyeol kemudian menepuk lengan Sehun. "Di-diam kau"

Pada akhirnya, Baekhyun berada dalam satu kamar dengan Chanyeol. Sedangkan Sehun pada akhirnya menjadi teman kamar Luhan.

Jongdae mengajak mereka semua untuk bermain di pantai sembari menunggu sunset. Tiba-tiba saja Jongdae berpikiran untuk mengadakan permainan kecil-kecilan. Seperti mengurangi pasir dengan sebuah stik tertancap disana dan tarik tambang.

Chanyeol berada di depan Baekhyun ketika permainan tarik tambang. Mereka melawan Sehun dan Luhan. "Kalian siap?" tanya Jongdae.

Chanyeol mengeratkan pegangannya pada tali tambang itu dan segera menariknya begitu Jongdae berteriak "Mulai!"

Beberapa kali Chanyeol menggeram ketika merasa sakit menjalari pergelangan tangan kanannya. "Ayo Chanyeol! Kau bisa!" teriak Baekhyun memberikan semangat pada Chanyeol ketika secara perlahan Baekhyun ataupun Chanyeol melangkah maju.

Chanyeol kembali menariknya dengan sekuat tenaganya, namun pada akhirnya mereka tetap kalah. "Erm, aku akan pergi terlebih dahulu, tidak apa?" tanya Chanyeol pada Jongdae ketika beberapa pekerja milik Jongdae menarik tali tambang itu.

"Chanyeol!" Baekhyun mengejar Chanyeol ketika melihat punggung pria itu pergi. "Kau kecewa?" tanya Baekhyun pada Chanyeol yang hanya menggelengkan kepalanya.

"Tidak perlu kecewa, ini hanya tarik tambang. Tidak ada hadiah untuk pemenang" Baekhyun meyakinkan Chanyeol. Namun Chanyeol sama sekali tidak kecewa atas kekalahannya dalam hal tarik tambang ini. Tidak sama sekali.

"Oh! Apa kau baik-baik saja?" kali ini Baekhyun terlihat khawatir. "Berikan tanganmu padaku" tangan Baekhyun menengadah menanti tangan milik Chanyeol.

"Tidak, aku benar-benar tidak apa, Baek. Hanya membutuhkan minum"

"Berikan padaku!" pada akhirnya Chanyeol menghentikan langkahnya dan mengeluarkan tangan kanannya dari saku celananya. "Tidak a—AH! Pelan-pelan, Baek!" teriak Chanyeol ketika Baekhyun menekan pergelangan tangannya.

"Ayo, ku antar kau ke klinik. Tanganmu membengkak dan ada memar disana" kali ini Baekhyun meraih tangan kiri Chanyeol dan menggenggamnya.

Selama berada di klinik, Baekhyun terlihat sangat khawatir berada di ruang tunggu. Satu kakinya bergerak tidak tenang dan ia terus-terusan menggigit kukunya. Bahkan Chanyeol hanya perlu di gips dengan perban, bukan operasi besar.

Baekhyun segera mendirikan tubuhnya "Oh! Chanyeol, kau baik?" Chanyeol mengangkat tangan kanannya. "Lebih baik, setelah ini kau dapat kembali bermain dengan mereka" setelah itu Chanyeol tersenyum dan mengusak kepala Baekhyun.

"Tidak, aku tidak akan tenang bermain jika lelakiku sedang sakit"

Chanyeol tersenyum, "Tapi kau mengharapkan untuk menceburkan diri di laut, Baek. Aku bisa menemanimu dari pinggiran pantai"

Sekali lagi Baekhyun menggelengkan kepalanya, "Tidak, tidak akan terasa menyenangkan bermain tanpa lelakiku"

Chanyeol tidak memakai jaketnya dengan benar, sehubung dengan perban yang tidak bisa melewati lengan jaketnya. Baekhyun dan Chanyeol kembali menuju hotel mereka, "Aku bisa mengajakmu pergi berbelanja" ucap Baekhyun semakin mengeratkan tautan tangan mereka.

.

.

.

Pagi itu Chanyeol dan Baekhyun sudah berada di restaurant hotel itu. "Oh wow, Baekhyun. Pagi sekali" Luhan datang dengan Sehun di sampingnya. Baekhyun terkekeh dan membiarkan mereka berlalu mencari tempat duduk lainnya, oh lihat, Jongdae sedang sarapan dengan pekerja yang diam-diam-ia-sukai Minseok.

Chanyeol sedikit kesulitan dengan tangan kanan di perbannya. "Aw, kurasa kita harus mencari makan siang sandwhich atau sejenisnya" ucap Baekhyun dan kemudian ia menarik piring Chanyeol.

"Biar aku membantu menyuapimu"

Chanyeol tersenyum kecil dan mengangguk. Ia benar-benar menyukainya, bahkan Chanyeol mengabaikan segala tatapan yang tertuju kepada mereka.

"Buddy, rencananya hari ini kita akan bermain di pantai lagi dan kemudian sedikit tour mengelilingi Busan. Kalian ikut?" tanya Jongdae ketika ia menghampiri tempat Chanyeol dan Baekhyun berada.

"Aku tidak bisa ikut dan tentu saja Baekhyun akan i—"

"Maaf, buddy. Chanyeol sedang cidera, aku tidak ingin ia berlaku aneh dan menyakiti dirinya lagi. Jadi, aku akan bersama dengan Chanyeol. Nikmati waktu kalian" potong Baekhyun.

"Oh well, sedih rasanya bepergian tanpa kalian. Tapi kesehatan itu lebih penting dari apapun. Well, nyamankan diri kalian di hotel ini, okay?" Baekhyun mengangguk dan melambaikan tangannya ketika Jongdae berlalu.

"Baek, kau tidak harus ada bersamaku. Kau harusnya berkeliling Busan, ingat? Kau sangat senang untuk pergi ke sini" Chanyeol menggenggam tangan Baekhyun yang berada di atas meja.

"Sudah ku katakan, aku tidak akan bermain dengan tenang jika lelakiku sedang terluka. Lagi pula, tidak akan seru bepergian tanpamu" Baekhyun kemudian tersenyum.

"Kalau begitu, ingin berkeliling? Mungkin pergi ke pusat perbelanjaan untuk berbelanja?"

Baekhyun tersenyum semakin lebar dan mengangguk, "Oh! Bolehkah aku mencari buah tangan untuk… erm, Ibumu?" suara Baekhyun mengecil di akhir dengan senyum kecilnya.

Sebenarnya ia tidak bermaksud mengatakan Ibu Chanyeol.

Ia bermaksud mengatakan Mark.

Tetapi lelaki di hadapannya tentu saja akan tidak menyukainya.

"Baek, jika kau ingin memberi buah tangan untuk Mark, silahkan saja. Tapi jangan berikan dia hatimu, karena itu milikku. Kau mengerti?" Baekhyun kemudian kembali tersenyum dan mengangguk.

Ketika Jongdae dan lainnya telah pergi. Baekhyun bersiap-siap, ia memakai kaus berwarna merah muda dan sebuah jeans denimnya. Chanyeol memakai kaus hitam dan dibalut dengan jaket hitamnya serta jeans hitam pendek miliknya. Baekhyun dan Chanyeol memakai topi hitam yang mereka punya.

"Boleh ku lihat tanganmu?" tanya Baekhyun pada Chanyeol. Tangannya menengadah untuk meminta tangan Chanyeol. Lelaki itu dengan patuhnya memberikan tangannya pada Baekhyun.

Baekhyun mengusapnya halus dan kemudian mencium punggung-punggung jari yang tidak tertutup oleh perban. "Cepatlah sembuh, jangan membuat lelakiku menderita"

"Ayo!" ajak Baekhyun kemudian menautkan lengannya pada lengan Chanyeol.

Baekhyun merasa senang saat itu.

Meskipun ia tidak berkeliling Busan, tapi ia tetap merasa senang berada di samping Chanyeol.

.

.

.

"Mark, untukmu" Baekhyun menyerahkan buah tangan yang ia beli saat berada di busan. "Apa ini?" ia terlihat tertarik untuk membuka kantong plastik itu. "Buka saja, aku harap kau menyukainya"

Hari ini Mark datang setelah sekian lama tidak datang ke café itu, ia harus mempersiapkan diri untuk ujian.

"Wa, terima kasih, ini akan sangat mengembalikan mood milikku untuk belajar" ia tersenyum sembari mengangkat buah tangan itu di tangannya.

Baekhyun terkekeh, "Oh ayolah, itu hanya bantal karakter"

"Ini sangat membantu, hyung! Aku pusing memikirkan ujian-ujian yang akan datang hingga aku mengalami mimpi buruk. Bantal ini pasti akan membantuku tidur dengan baik"

Baekhyun kembali terkekeh mendengar ucapan Mark. "Baekhyun, Chanyeol menelfon" ucap Luhan dari balik counter. Baekhyun mengangguk pada Luhan dan kembali terfokus pada Mark.

"Nikmati waktumu, aku harus mengangkat telfon"

"Tentu!"

Baekhyun menepuk kepala Mark dan kemudian pergi. Anak SMA itu tersenyum kecil dengan rona merah mengembang di pipinya.

Ia kembali menyesap ice Americano pahit miliknya dan memainkan ponselnya. Pesan dari Jaemin, temannya, terus mengisi notifikasinya.

"Maaf, aku meninggalkanmu sendiri" Baekhyun datang dengan sebotol air di tangannya. Lelaki itu mendudukkan tubuhnya di hadapan Mark. "Ah, tidak hyung"

Mark tidak dapat menahan senyumnya sendiri melihat pria di hadapannya.

"Erm, hyung, akhir pekan ini aku akan pergi bersama temanku ke Lotte World. Kau ingin ikut?" tanya Mark sembari memainkan kedua tangannya.

Baekhyun terkekeh, "Kau pikir aku ini apa, hn? Kau menyuruhku untuk menjadi pengasuh? Kau pergi bersama teman-temanmu, Mark. Itu waktu kalian" kemudian ia kembali tertawa.

"Oh ayolah, hyung. Akan terasa menyenangkan jika ada hyung di sana" Mark sedikit merengek dan mengeluarkan tingkah lucunya. Oh andaikan Jaemin melihat ini, tanpa ragu ia akan memukul belakang kepala milik Mark.

"Coba ku pikirkan, okay?"

.

.

.

"Mark!" panggil Baekhyun pada Mark yang ia temui berada di dekat pintu masuk Lotte World. Dua orang pemuda mengalihkan pandangannya dari ponsel dan tertuju pada Baekhyun. Salah satu di antaranya, yang pasti Mark, mengangkat tangannya dan melambaikan tangannya.

Mata Mark tertuju pada pria tinggi di samping Baekhyun. Tubuh tinggi itu di balut hoodie putih dan ia memakai celana jeans hitam. Sedangkan Baekhyun sendiri memakai kaus hitam dengan jeans langit.

Menyadari pandangan Mark, Baekhyun berdeham. "Tidak apa, bukan? Jika aku mengajak kekasihku? Ia memaksa ikut"

"Chanyeol, ini Mark. Mark, ini Chanyeol" mereka berdua saling menjabat. Mata Chanyeol maupun Mark sama-sama tidak memutus pandangan mereka, masih saling menatap. "Dimana teman-temanmu, Mark?" tanya Baekhyun.

"Ah, mereka semua membatalkannya, tapi ia tidak. Ah! Ini Jaemin, hyung" Mark melingkarkan tangannya pada bahu Jaemin dan menunjuk Jaemin dengan tangan satunya.

"Na Jaemin"

"Kalau begitu, kita masuk sekarang?" tanya Mark. Ketika mereka semua setuju, Mark segera menarik tangan Jaemin untuk berada di sampingnya.

"Kau masih marah?" bisik Chanyeol di telinga Baekhyun.

Semalam mereka bertengkar karena Chanyeol tidak mengizinkan Baekhyun untuk pergi. Namun kemudian ia menawarkan diri untuk menemani Baekhyun karena, well, ia tidak bisa membayangkan Baekhyun yang berada di pertengahan dua puluhnya bermain dengan para remaja.

Well, setelah di lihat-lihat, Baekhyun masih pantas.

Tapi bukan itu masalahnya.

Mark adalah masalahnya.

"Jangan merusak moodku. Anggap saja kita berkencan sembari menemani… erm… Mark berkencan. Mari kita menganggap Jaemin adalah kekasih Mark, okay?"

"Setuju"

Setelah mereka memasuki Lotte World, Mark dengan semangat menunjuk sebuah stand. "Hyung! Baekhyun hyung! Churros!"

"Churros?" Baekhyun terlihat sangat tertarik.

"Ayo, hyung!" ucap Mark kemudian menarik tangan Baekhyun untuk membeli Churros. Kemudian Chanyeol dan Jaemin hanya mengikuti mereka dari belakang, lebih santai.

Churros adalah makanan yang sering mereka bagi ketika mereka masih kecil.

"Paman" panggil Jaemin pada Chanyeol. "Paman?" ucap Chanyeol dan Baekhyun secara serempak.

"Bisakah kau menemaniku ke toilet? Aku takut sendiri" ucap Jaemin sembari mengerutkan keningnya. "Siapa yang kau maksud?" tanya Chanyeol.

"Paman Chanyeol. Ayolah paman, aku benar-benar takut. Aku tidak ingin buang air di sini" kemudian Jaemin menarik tangan Chanyeol, yang masih terkejut dengan panggilan paman, dengan kedua tangannya.

"Apa-apaan dengan Paman itu, Jaemin?"

"Kau terlihat seperti seorang paman bagiku, ayolah paman"

Chanyeol terseret oleh tarikan dari Jaemin. Baekhyun terkekeh melihat wajah terkejut Chanyeol. "Hyung, rasa coklat?" Baekhyun tersadar oleh suara Mark, lalu ia mengangguk.

"Kau masih mengingatnya?" Mark mengangguk sebagai jawaban. "Itu adalah hal yang tidak penting, Mark" kemudian Baekhyun terkekeh.

"Itu penting, hyung. Jika kita sedang… erm… jalan-jalan seperti ini akan mempermudahku" ucap Mark.

/\

Chanyeol dengan kesal menyandarkan punggungnya di dinding samping pintu toilet. Ia menunggui bocah kurang ajar yang menyebutnya paman itu dari luar.

Jaemin keluar dari pintu kamar mandi dengan sebuah helaan nafas. "Leganya. Terima kasih, paman!" ucap Jaemin sembari mengeluarkan jempolnya.

"Hentikan dengan panggilan paman itu. Aku tidak setua itu, Jaemin"

"Paman terlalu tua untuk di sebut hyung"

"Aku dan Baekhyun berumur yang sama"

Jaemin menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan memindai Chanyeol. Kemudian ia menggelengkan kepalanya, "Aku tidak percaya"

"Oh astaga! Sudahlah, kita perlu kembali bersama Baekhyun dan Mark" Jaemin mengangguk setuju.

Ketika mereka tiba di stand churros, ia tidak menemukan Baekhyun ataupun Mark di sana. "Kemana perginya mereka?" tanya Chanyeol.

"Ku rasa mereka menyusul kita, paman"

Chanyeol menghela nafasnya, menahan amarah untuk tidak membentak bocah SMA di hadapannya. "Akan ku hubungi Baek—"

"Jangan, paman"

"Kenapa?"

"Dimana Chanyeol?" ucap Baekhyun setelah keluar dari kamar mandi.

"Apakah mereka menyusul kita, hyung?"

Baekhyun menekuk keningnya, "Ah! Benar! Ponsel—"

"Hyung! Temani aku naik bianglala! Kita bisa menemukan Chanyeol hyung dan Jaemin dari atas sana" kemudian Mark menarik tangan yang lebih tua.

Chanyeol menghela nafasnya, "Aku sudah mengetahuinya. Biarkan aku menebak, dan kau menyukai Mark?" dengan segera Jaemin mengangkat kepalanya dan memandang Chanyeol yang duduk di sampingnya. "Bagaimana paman bisa tahu?"

"Oh Tuhan, hentikan paman itu"

"Bagaimana bisa paman mengetahuinya?"

Chanyeol memijat tulang hidungnya, "Hei bocah, kau lahir pada tahun berapa?"

"00" jawab Jaemin singkat. "Aku kelahiran 92, aku telah hidup di dunia ini delapan tahun lebih lama darimu"

"Woah, benar-benar seorang paman"

"Oh Tuhan"

Baekhyun menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Bisa hentikan itu, Mark?" tanya Baekhyun ketika mereka sudah berada di bianglala. "Hentikan apa, hyung?"

"Aku sudah memiliki kekasih, Mark"

"Aku tidak peduli" gumam Mark.

"Aku masih bisa mendengarmu"

"H-hyung, kumohon jangan marah" Mark semakin menunduk dan menunduk. "Aku terlalu tua untukmu, Mark. Sadarlah, lagi pula, kau dan Jaemin terlihat sempurna ketika bersama"

"Kemudian Mark memukul Doeun karena itu. Semenjak itu aku menyukainya, paman"

Chanyeol sudah terbiasa dengan panggilan paman dari Jaemin, jadi ia membiarkan itu berlalu. "Dan kau mendukung orang yang kau sukai untuk merebut kekasih orang?" tanya Chanyeol.

Jaemin menundukkan kepalanya dan menggelengkan kepalanya, "Aku sudah pernah mengatakan hal itu pada Mark. Tapi ia masih buta cinta dan berkata tidak peduli"

"Kau harus tunjukkan padanya jika kau menyukainya, Jaemin. Jangan biarkan seseorang yang kau cintai pergi begitu saja"

"Jaemin adalah temanku yang baik. Aku merasa kesal ketika Doeun mengganggu Jaemin seperti itu, jadi kupukul saja Doeun dan berakhir di hukum" cerita Mark pada Baekhyun setelah Baekhyun menanyai Mark mengenai Jaemin.

"Kenapa kau lakukan itu?"

"Aku tidak suka melihatnya, hyung"

"Apa kau juga seperti itu pada orang lain? Temanmu yang lain misalnya"

"Kalau itu Donghyuk, aku membiarkannya saja karena ia begitu menyebalkan. Dan kalau itu temanku yang lain, tidak, mereka dapat menjaga dirinya sendiri"

"Mark pernah mengajakku membolos dan menemaninya menonton sebuah film di bioskop. Aku sangat senang saat itu, Paman! Itu terasa seperti sebuah kencan" kemudian Jaemin terkekeh.

"Apa kau pernah mengajak Mark membolos juga?" Chanyeol menyilangkan tangannya di depan dada sembari memandangi Jaemin yang melangkah kesana-kemari.

"Ya! Aku pernah mengajak Mark membolos jam tambahan untuk menemanikan mencari hadiah ulang tahun untuk Renjun"

"Renjun?" tanya Chanyeol menghentikan langkah Jaemin. "Temanku yang lainnya, paman"

Chanyeol mengangguk dan Jaemin kembali melangkah mondar-mandir di hadapannya. "Ia juga memberikan saran untuk membelikan Renjun sebuah kamus China-Korea, tapi dengan jelas Renjun akan membunuhku jika aku membelikan itu untuknya"

"Aku menyuruhnya memberikan Renjun sebuah kamus China-Korea" kemudian Mark terkekeh mengingat ekspresi Jaemin. "Kau tahu hyung? Ia langsung berdecih dan meninju lenganku" ia kembali terkekeh.

"Kemudian aku dan Jaemin membeli beberapa donat dan jus jeruk"

Baekhyun tersenyum, "Wah, terdengar menyenangkan. Apa Jaemin menyenangkan?"

"Sangat, hyung!"

Baekhyun tersenyum menggoda Mark, "Apa Jaemin menyukaimu?"

"Aku tidak pernah mengatakan padanya jika aku menyukainya, paman. Aku hanya tidak ingin pertemanan kami rusak karena cinta bertepuk sebelah tangan"

Kening Chanyeol terkerut, "Bagaimana bisa kau berkata cinta bertepuk sebelah tangan jika kau tak tahu Mark menyukaimu atau tidak" langkah Jaemin terhenti.

Ia menatap Chanyeol dengan pandangan sedikit terkejut, namun ia kembali merengut dan melanjutkan langkah kesana-kemarinya. "Ia menyukai Baekhyun hyung, paman"

"Baekhyun milikku"

"Itu berarti Jaemin menyukaimu, Mark!" ucap Baekhyun ketika mereka menuruni bianglala. "Tidak mungkin, hyung"

Mereka kini mendudukkan tubuhnya di salah satu bangku, "Kenapa tidak mungkin?"

"Jaemin dekat dengan Jeno, kawanku yang lainnya"

Baekhyun menatap Mark yang menunduk, "Kau yakin Jaemin dekat dengan Jeno? Maksudku, apa kau yakin Jaemin menyukai Jeno?"

Bahu Mark terangkat, "Tidak tahu"

"Aku sering menceritakan hal ini pada Jeno, paman. Erm, temanku yang lainnya" Jaemin menggigit kuku ibu jarinya. "Mark mengenal Jeno?"

"Jeno adalah sahabat baik Mark, paman. Tentu ia mengenal dengan baik"

Chanyeol mengangguk paham, "Namun kurasa Mark tidak mengetahui jika Jeno menyukai Renjun"

"Kau yakin sekali, anak kecil"

"Ya! Renjun adalah teman dekatku. Dan Jeno sering bertanya mengenai Renjun padaku"

"Dari yang kulihat, kau sebenarnya menyukai Jaemin, Mark. Tapi kau menghindar dari kenyataan itu. Kau harus lebih terbuka lagi pada hatimu"

"Tapi aku menyukaimu, hyung" setelah itu Mark maupun Baekhyun sama-sama terkejut.

Baekhyun tersenyum, "Aku pun mencintaimu, Mark. Kau adalah adik kecilku. Tapi aku memiliki lelaki lain yang ku cintai sebagai lelaki. Kau benar, kau menyukaiku. Karena aku menjagamu sejak kecil, dan sekarang kau menjaga Jaemin di sisimu. Aku tidak bisa melihat hal lainnya yang lebih jelas lagi, Mark"

Kemudian Baekhyun mengusak kepala Mark. "Hyung! Aku bukan anak kecil lagi" kemudian Baekhyun terkekeh mendengar teguran Mark.

"Kau selamanya akan tetap menjadi adik kecil bagiku"

"Bagaimana paman dan Baekhyun hyung bisa menjadi kekasih?" tanya Jaemin. "Jika aku menceritakan hal itu, ini akan menjadi sore yang panjang. Ayo kita cari kekasihku dan calon kekasihmu itu" Chanyeol menarik tangan Jaemin.

"Apa-apaan dengan calon kekasih itu, paman!"

"Lalu harus ku katakan apa?"

"Tidak, calon kekasih sudah cukup" kemudian Jaemin terkekeh. "Tapi aku masih ingin mendengar cerita itu dari paman"

Chanyeol menghela nafasnya, "Baiklah akan ku buat singkat, aku menyukai Baekhyun, Baekhyun menyukaiku, aku menyatakan perasaan, selesai"

Jaemin berontak, "Tidak sesingkat itu, paman!"

Chanyeol menggeram kesal, "Baiklah, aku menyukai Baekhyun dan mengajaknya berkencan dan ia menyanggupi. Setelah beberapa kali kencan akhirnya aku menyatakan perasaanku dan ia menerimanya. Apakah harus ku ceritakan tentang hubungan yang lainnya?"

Langkah Jaemin terhenti, kemudian mulutnya terbuka tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Chanyeol yang melihat itu terkekeh, "Tidak, kami belum sampai tahap itu"

"Kalau paman sudah melakukannya, paman harus menceritakannya padaku, dengan detail"

"Bocah sinting!"

.

.

.

Baekhyun bertemu dengan Mark dan Jaemin di lain hari di café Jongdae ketika ia sedang mampir. Chanyeol yang kala itu tengah senggang menemani Baekhyun di cafe itu.

"Lihat sekarang, Mark dan Jaemin?" ucap Baekhyun ketika kedua anak itu berdiri di hadapannya, bertautan tangan yang mereka sembunyikan di balik tubuh mereka.

"Berjalan mulus, huh?" kini Chanyeol berdiri di sampingnya. "Paman!" sapa Jaemin sembari menggerakkan tangannya yang lain.

"Paman sudah melakukannya?" tanya Jaemin, dengan maksud menggoda Chanyeol.

Dengan segera Chanyeol membungkam mulut milik Jaemin. "Hentikan itu, bocah" bisik Chanyeol di telinga Jaemin.

"Melakukan apa, Chanyeol?" tanya Baekhyun penuh pertanyaan. Jaemin tertawa geli dan menutup mulutnya. "Tidak, tidak ada. Kau bisa melupakannya"

"Wah, kalian menjadi sangat dekat, hn? Kalian menyembunyikan sesuatu dariku" Baekhyun menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan melihat Chanyeol dan Jaemin bergantian. "Apakah yang kalian bicarakan itu hal baik atau hal buruk?"

"Hal baik, hyung! Tentu saja. Sangat baik dan hyung akan— menyukainya. Oh! Dan aku yakin— paman Chanyeol— tidak akan berhenti— memberikannya untuk hyung" kemudian Jaemin tertawa. Chanyeol berusaha menutup mulut Jaemin, namun anak itu terus-terusan menghindar hingga ia menyelesaikan ucapannya.

"Hyung, jangan mengganggu Jaemin" ucap Mark.

"Aw, sekarang anak singa sudah berani mengaung ya?" goda Baekhyun. Chanyeol melingkarkan tangannya pada bahu Baekhyun dan membawa Baekhyun semakin dekat. "Aku tidak keberatan jika suatu saat nanti kau ingin double date dengan kami, Mark" kemudian Chanyeol tertawa.

Mengerjai anak kecil sangatlah menyenangkan bagi Chanyeol

"Ya, tentu saja. Tapi paman harus melakukannya terlebih dahulu"

Kecuali anak kecil yang satu ini.

.

.

.

.

.

END

.

.

.

Note :

Oh, maafkan aku yang meninggalkan cerita ini tidak tersentuh beberapa waktu karena aku terlalu fokus pada cerita yang lainnya. Aku harap kalian baik-baik saja dengan akhir cerita ini. Aku terus memutar otakku untuk mendapatkan ide untuk banyak cerita yang sedang aku tulis dan ku usahakan selesai sebelum aku mulai sibuk dengan perkuliahan yang sialnya aku mengambil semester penuh aka 24 sks, kkkk.

Aku sedang menggarap cerita lainnya, di samping If We Love Again. Dan aku tidak akan mempublishnya sebelum cerita itu selesai. Aku tidak ingin mengulang kesalahanku untuk mengupdate cerita sekali dalam setahun.

Well, kalian bisa memberikanku saran dan masukan.

Terima kasih!