Is It Goodbye

.

.

Chapter 2

.

.

Chanyeol sudah mempersiapkan segalanya, rencana berkeliling di Seoul bersama Baekhyun membangkitkan semangatnya yang sudah lama hilang. Tidak banyak kunjungan hari ini sebenarnya, mengingat Baekhyun yang masih was-was akan kehadiran Sehun.

"Kau ada keinginan untuk pergi ke suatu tempat, Baekhyun?"

Baekhyun mengangguk, "Aku hanya ingin pergi ke Lotte World"

"Hanya Lotte World?" dan Baekhyun kembali mengangguk.

"Ah! Tidak! Lotte World bukan tempat yang bagus, Lotte World adalah tempat yang terbuka. Bisa saja Sehun—Tidak! Jangan Lotte World!" tiba-tiba saja Baekhyun berceracau tidak jelas. "Lalu?"

"Pantai?"

Chanyeol mengangguk menyetujui, meskipun jarak mereka sangat jauh dan membutuhkan waktu yang cukup banyak untuk sampai di pantai.

Baekhyun kini sudah mendudukkan tubuhnya di kursi penumpang samping Chanyeol yang berada di kursi kemudi. "Kau siap?" Tanya Chanyeol. Baekhyun mengangguk dengan sebuah senyum di bibirnya.

Selama perjalanan selalu diisi oleh suara Chanyeol ataupun Baekhyun yang bernyanyi bersamaan dengan lagu yang diputar melalui ponsel Chanyeol.

Mereka tiba di pantai ketika hari sudah siang. Namun itu tidak menghentikan Baekhyun untuk melompat ke dalam air laut yang asin itu. Setelah puas, ia menarik tubuh Chanyeol agar tenggelam bersama dengannya.

Pantai itu tidak ramai, mungkin hanya beberapa pengunjung lainnya. Tidak banyak yang menceburkan diri mereka ke dalam air. Mengingat sebentar lagi akan datang waktu musim dingin. Mereka tidak ingin mengambil risiko menggigil.

Baekhyun dan Chanyeol tertawa. Saling menjejaki satu sama lain dan menarik satu sama lain. Membuat lawan mereka tenggelam itu menyenangkan menurut mereka. Ketika Baekhyun lelah, Chanyeol membawa anak itu keluar dan membalutnya dengan handuk yang sudah ia persiapkan.

Chanyeol melingkarkan sebuah handuk di pinggangnya dan sebuah handuk untuk mengeringkan rambutnya.

"Kau tahu kenapa laut terasa asin?" tanya Baekhyun ketika Chanyeol masih mengeringkan rambutnya.

"Tentu karena—aku tidak tahu, kenapa?"

"Karena putri duyung yang berada di laut menangis terus menerus karena pangeran impiannya tidak kunjung datang. Jadi ia menangis, dan seluruh masyarakatnya turut merasa sedih karena kepedihan putri duyungnya. Jadi ia memberikan suaranya pada penyihir jahat dan menggantinya dengan sepasang kaki. Nyatanya itu adalah hal yang sia-sia karena pangeran impiannya sudah memilih wanita lain. Pangeran itu tidak pernah menganggap putri duyung itu ada, ia menganggap itu adalah fantasinya belaka. Jadi ia terus menangis dan menangis"

Baekhyun mengangkat kepalanya untuk memandang Chanyeol. "Dan mereka masih menangis, menanti pangeran itu datang dan menyenangkan putri mereka"

Chanyeol tersenyum dan mengusak rambut basah Baekhyun. "Udara dingin semakin menusuk, cepat bilas dan ganti baju. Okay?"

Baekhyun mengangguk. Mengingat Sehun pernah mengatakannya gila karena menceritakan hal itu padanya.

Dan ketika sore tiba, mereka sudah berada di mobil. Menyaksikan matahari tenggelam dari dalam mobil Chanyeol. "Chanyeol, terima kasih" Chanyeol mengangguk.

"Tentu saja, princess"

"Apa-apaan dengan princess itu?" Baekhyun berpura-pura merajuk.

"Baekhyun?"

"Ya?"

"Ah, tidak… aku memikirkan yang tidak-tidak"

"Memikirkan apa?"

"Memikirkan apa aku bisa merebutmu dari asshole itu"

"Lalu? Menurutmu, kau tidak bisa merebutku dari Sehun?"

Chanyeol menunduk dan menghela nafasnya, "Aku tidak tahu, Baekhyun"

"Ku harap kau merebutku dari Sehun, Chanyeol"

Baekhyun mengatakannya. Meskipun dengan lirih, tidak peduli Chanyeol mendengarnya atau tidak. Tapi Baekhyun sudah mengatakannya.

.

.

.

Chanyeol terbangun karena guncangan keras dari seseorang hingga membangunkan tidurnya. "Chanyeol, bangunlah. Chanyeol!" pada akhirnya ia tersadar. Dan menemukan Baekhyun berada di samping ranjangnya.

Mata Baekhyun berair.

"Astaga Baekhyun! Apa yang terjadi padamu, hn?"

"Se-sehun… sakit, Chanyeol"

"Lalu?"

"B-bisakah kau… mengantar-ku?"

Chanyeol terdiam, kemudian mengangguk.

Setelah memakai hoodie untuk menutupi tubuhnya yang telanjang dada itu dan memakai topi, Chanyeol menarik tangan Baekhyun dan membawanya menuju mobilnya.

"Chanyeol"

"Hn?" pandangan pria itu tidak lepas dari jalanan.

"Setelah aku kembali ke rumah Sehun, aku tidak tahu apakah aku masih bisa bertemu denganmu atau tidak" ia menundukkan kepalanya. "Aku tidak bisa melihat peluang untukku untuk melihatmu lagi"

Chanyeol mengeraskan giginya, pandangannya terasa terbakar, dan pegangan pada kemudinya semakin kencang.

"Chanyeol"

"Hn?"

"Aku senang kau membantuku beberapa minggu ini"

Mereka tiba, di sebuah gedung yang merupakan tempat tinggal asshole—dan Baekhyun. Baekhyun tidak segera keluar dari mobil tersebut. Terasa berat meskipun hanya untuk membuka gagang pintu.

Baekhyun membuang nafasnya kasar, "aku harap dapat bertemu lagi denganmu"

Dan kemudian Baekhyun keluar dari mobil Chanyeol. Tanpa sempat membiarkan Chanyeol mengatakan satu atau dua patah kata kepadanya.

"Senang bertemu denganmu, Baekhyun"

.

.

.

"Baekhyun? Apa kau Baekhyun?" seorang pria, yang dapat diyakini adalah Sehun, terbaring lemas di sofa. "Hey" suara Baekhyun melemah ketika melihat perawakan Sehun yang semakin kurus. Berbotol-botol minum keras berserakan di samping sofa.

Baekhyun duduk bersimpuh di samping Sehun, "Kau tidak makan apapun, hn? Kau hanya minum alkohol?" tangan Baekhyun bergerak untuk mengusap pipi Sehun. Dan tangan Sehun segera menangkap tangan Baekhyun dan merematnya. "Maafkan aku, Baekhyun"

Baekhyun melepaskan tangan Sehun dan tersenyum. "Akan ku buatkan makan untukmu. Kau harus segera sehat kembali" dan kemudian Baekhyun pergi menuju dapur mereka. Dari dapur, ia dapat melihat mobil Chanyeol masih terparkir di luar sana melalui jendela. Ia sedikit tersenyum dan kemudian melanjutkan memasak sup hangat untuk Sehun.

Ketika Baekhyun melirik ke arah jendela lagi, ia dapat melihat Chanyeol di luar sana. Berdiri di samping mobil dan mendongakkan kepalanya. Ia tidak menyadari keberadaan Baekhyun yang diam-diam memerhatikannya. Baekhyun kembali tersenyum, cukup lama hingga ia kembali tersadar ketika suara Sehun memasuki telinganya.

"Maafkan aku, Baekhyun. Jangan pernah pergi lagi" ucap Sehun yang bersandar pada dinding dapur. Baekhyun mengalihkan pandangannya, takut-takut jika Sehun akan melihat Chanyeol yang masih berada di luar sana. Baekhyun tidak menjawab perkataan Sehun, ia hanya tersenyum dan mengecup pipi Sehun.

"Kau harus beristirahat Sehun. Kau masih demam, biar ku masakkan makanan untukmu. Tidurlah di kamar, sofa akan menyakiti punggungmu"

Dengan begitu Sehun kembali berbaring, kali ini berada di kamarnya. Baekhyun sekali lagi melirik ke arah jendela. Mobil Chanyeol sudah tidak berada di sana lagi, Chanyeol telah pergi.

Gerakan Baekhyun yang awalnya mengupas bawang bombai berhenti. Tak sadar perlahan hatinya bersedih, senyum di bibirnya menghilang.

Baekhyun memejamkan kedua matanya, "Chanyeol" panggilnya lirih.

.

.

.

Chanyeol semakin menurunkan topi yang ia pakai, ia merasakan hal yang berbeda ketika tidak menemukan Baekhyun berada di rumahnya. Tidak ada pria kecil yang kini berkeliling di rumahnya. Entah hanya sekedar mengikutinya atau berdiam diri di kamar.

Ia memasuki kamar yang digunakan Baekhyun. Chanyeol berbaring di atas ranjang, mencium bau yang menyeruak hidungnya, yang ia rasakan adalah bau milik Baekhyun.

"Baekhyun" panggilnya lirih sebelum akhirnya ia tertidur.

Dalam gelap, Chanyeol berjalan tanpa arah dengan sebuah obor di tangannya. Tempat ini terlalu gelap sampai-sampai tak ada cahaya yang menyinari dari luar, hanya obornya saja. Maka dari itu, Chanyeol memilih untuk berjalan lurus, entah kemana tujuannya. Sebuah rintihan terdengar di telinganya. Bulu kuduknya berdiri saat itu juga.

Dan ketika Chanyeol berlari, suara itu semakin terdengar jelas dan keras. Ia mendengar namanya di sela-sela rintihan itu. "Chanyeol… Chanyeol… bantu aku" itu yang ia dengar.

Langkahnya semakin cepat ketika ia mengenali suara tersebut, Baekhyun.

"B-Baekhyun" cobanya memanggil.

"Chanyeol" suaranya parau, tidak menjawab panggilan Chanyeol.

"Dimana kau, Baekhyun?"

"Bantu aku" Baekhyun terdengar menangis.

Chanyeol berlari semakin cepat. Namun secepat kakinya melangkah, tak kunjung ia menemui Baekhyun ataupun ujung dari lorong gelap ini. "Baekhyun! Jawab aku! Kau dimana?"

"Ch-Chanyeol"

Di ujung sana, sebuah titik bercahaya menangkap perhatian Chanyeol. Ia berlari sekencang mungkin dan cahaya itu semakin membesar. "Baekhyun! Baekhyun! Aku datang!" keringat mulai muncul di kening lebar milik Chanyeol.

Bagaikan menembus dimensi, Chanyeol dapat melihat Baekhyun yang sedang menangis dari luar jendela. Chanyeol melayang saat menyaksikannya. Kala itu ia memakai kaus hitam dan celana hitamnya, ia benar-benar terlihat tampan.

"Baekhyun?" sebut Chanyeol lirih.

Lelaki itu menangis di dapurnya, kedua tangannya terlipat di counter dan kepalanya terbenam di sana. Kedua lututnya mencium lantai dingin yang semakin dingin ketika malam. Sesekali ia menghapus air matanya dan kembali menyembunyikan wajahnya lagi.

Chanyeol mendekatkan diri, membuka jendela dapur dan memasuki rumah Baekhyun—dan Sehun. Ia mendudukkan di counter, tepat bersebelahan dengan Baekhyun. Chanyeol tersenyum dan mengusap kepala Baekhyun lembut. Membuat Baekhyun mengangkat kepalanya dan menatap sekitarnya.

"Ch-Chanyeol?" panggil Baekhyun.

"Baekhyun, ada apa?" suara Chanyeol terdengar lembut, masih dengan mengusap kepala Baekhyun.

"Chanyeol?"

Chanyeol sadar, ia tidak dapat dilihat oleh Baekhyun. Toh ini hanyalah mimpinya saja, mimpi kadang-kadang tidak dapat ditebak akan menjadi bagaimana.

"Baekhyun" tangan Chanyeol mengusap pipi Baekhyun, berusaha menghapus air mata Baekhyun yang mana hanyalah sia-sia saja. "Jangan tinggalkan aku, Chanyeol" Baekhyun berucap.

"Aku tidak bisa, Baekhyun. Kau bukan milikku. A-aku… bukan siapa-siapamu" Chanyeol terdengar lirih di akhir kata.

"Baekhyun?" kali itu bukanlah suara Chanyeol, melainkan Sehun yang berada di pintu dapur.

"Apa yang kau lakukan malam-malam begini? Kau tidak tidur?" Tanya Sehun sembari berjalan mendekati Baekhyun. Mata Chanyeol menatap lekat ke arah Sehun, menatap penuh benci.

Dengan buru-buru Baekhyun mengusap wajahnya, menghapus air mata yang sedari tadi mengalir, berharap Sehun tidak melihatnya. "Ti-tidak ada, aku hanya melamun saja. Kau terbangun karena aku?" yang ditanya hanya menggelengkan kepalanya.

"Kau menangis?" Tanya Sehun, tentu ia melihat Baekhyun mengusap wajahnya dengan cepat. "Bukan urusanmu, asshole" ujar Chanyeol tidak sabaran.

"Kau bersikap manis seperti ini hanya untuk menyakitinya lagi, dasar keparat sialan" sekali lagi Chanyeol mendengki ketika Sehun menarik tubuh Baekhyun semakin dekat.

"Sehun, kau ingin minum lagi, hn?" tanya Baekhyun yang kemudian di jawab dengan sebuah senyuman dari Sehun. "Kau sangat mengerti aku, Baekhyun. Aku tidak tahan untuk tidak meminumnya"

Baekhyun menghela nafas dan kembali menatap Sehun, "Berjanjilah, kau tak akan menyakitiku ketika kau sudah mabuk" ucap Baekhyun. "Aku akan membunuhmu ketika kau melukai Baekhyun, keparat" jelas itu bukanlah suara Sehun ataupun Baekhyun. Chanyeol masih saja duduk di counter, menyaksikan sejoli itu berbincang-bincang.

Satu gelas

Dua gelas

Tiga gelas

Dan gelas itu tidak diperlukan lagi karena sekarang Sehun meminumnya langsung dari botol. Baekhyun masih setia duduk di samping Sehun, menjaga pria itu agar tidak terlalu berlebihan dan hilang kendali.

Namun Sehun suka dengan meminum banyak alkohol, dan akhirnya ia hilang kendali.

Chanyeol masih mengawasi dari pintu dapur ketika Sehun mabuk di sofa depan TV. Baekhyun hanya mengambil setengah gelas saja karena ia tidak tahan dengan alkohol. Sehun meraih rokoknya yang tidak jauh dari tempat ia terduduk. Ia menyesap rokok itu dan membuang asap ke arah Baekhyun hingga Baekhyun terbatuk.

"Cobalah" Sehun memberikan rokoknya pada Baekhyun. Baekhyun menggelengkan kepalanya, "Aku tidak merokok, Sehun". Namun Sehun tidak menerima sebuah penolakan, dan sekali lagi Baekhyun menolak.

"Ia berkata tidak, bodoh!" teriak Chanyeol yang tak akan di dengar oleh siapa pun.

Dan sekali lagi Sehun tidak menerima sebuah penolakan. Dan sekali lagi ia hilang kendali. Dan sekali lagi, ia mengingkari janji untuk tidak menyakiti Baekhyun ketika ia mabuk.

"Ku katakan padamu, cobalah!" teriak Sehun pada Baekhyun. Ia menyesap rokoknya dan mencium kasar bibir Baekhyun, memaksakan asap-asap itu memasuki mulut Baekhyun. "Tidak, Sehun! Hentikan!" Baekhyun menahan segala paksaan Sehun.

Namun akhirnya ia kalah juga dan Sehun menciumnya, ia menyalurkan asap-asap itu kedalam mulut Baekhyun. Baekhyun terbatuk-batuk setelah Sehun melepaskan ciuman mereka. "Hentikan, Sehun!" teriak Baekhyun di sela batuknya, air mata Baekhyun berkumpul di ujung matanya.

Dan sebuah tamparan ia dapatkan dari Sehun, sangat keras hingga ujung bibirnya terluka, luka lamanya kembali terbuka.

Chanyeol sudah berkali-kali memukul Sehun, yang mana percuma karena Sehun tidak akan merasakan itu. Ia berusaha menarik tangan Baekhyun untuk membawanya pergi, yang mana hanyalah sia-sia karena Baekhyun tidaklah nyata.

Kemudian yang dilakukan Sehun adalah menciumi wajah serta leher Baekhyun, dan meninggalkan jejak ketara di sana. Baekhyun menangis kembali, memanggil nama Chanyeol berkali-kali dari dalam hatinya. Dan Chanyeol menangis melihat Baekhyun, hatinya hancur melihat Baekhyun di perlakukan seperti itu.

Nafas Chanyeol berat, dan keringat mengalir deras di pelipisnya. "Ya Tuhan!" pekiknya begitu ia terbangun dari mimpinya. "Baekhyun" Chanyeol mengusap wajahnya gusar. Rahang Chanyeol mengeras, tangannya mengepal.

.

.

.

"Chanyeol?"

Kening Chanyeol mengernyit mendengar suara seseorang memanggil namanya. Ia masih terlalu pusing untuk membuka kedua matanya setelah ia mabuk habis-habisan semalam.

"Chanyeol, bangun"

Sial, apakah ia tertidur di bar? Apakah ia pulang dengan seorang jalang dan menyetubuhinya? Oh tidak, Chanyeol harap ia tidak membawa pulang seorang jalang.

Sialan, kepalanya terasa pening untuk diangkat barang sedikit pun. Seberapa banyak yang ia minum sebenarnya?

"Chanyeol, kau harus bangun"

Tunggu.

Suara ini.

B-baekhyun?

Chanyeol perlahan membuka matanya, dan yang ia lihat pertama adalah Baekhyun mendudukkan tubuhnya di ranjang yang Chanyeol gunakan. "Kau harus makan, Chanyeol" ucap Baekhyun.

Sial, sekarang ia berada di surga?

Tidak mungkin Baekhyun berada di hadapannya sekarang ini. Terlebih ia menyodorkan sendok ke arahnya dengan sup di dalamnya. Oh, terlebih lagi ia berkata, buka mulutmu. Psh, benar-benar layaknya sur—tunggu, apa?

Mata Chanyeol terbuka lagi, lebih lebar kali ini, "B-baekhyun?" suara Chanyeol terdengar serak.

"Iya, Chanyeol. Aku Baekhyun, sekarang buka mulutmu. Ku buatkan sup untuk mengurangi pusingmu" ia tersenyum.

"Baekhyun!" dan Chanyeol mendudukkan tubuhnya dan menatap Baekhyun tidak percaya. Yang dihadapannya pun hanya terkekeh geli. "Bagaimana bisa kau berada di sini?" tanya Chanyeol menyentuh lengan Baekhyun di masing-masing sisi.

Baekhyun menaruh sendok itu kembali ke dalam mangkok, "Aku menjemput Sehun di bar, dan aku melihatmu disana. Kau terlihat menyedihkan" kemudian ia tertawa. "Kau menghinaku, hn?"

"Tidak, sungguh, kau benar-benar terlihat menyedihkan. Kau berteriak padaku ketika aku membawamu keluar dari bar. Kau bahkan menantang salah satu petugas disana" ucap Baekhyun.

"B-benarkah?"

Baekhyun mengangguk membenarkan, "Aku datang bermaksud menjemput Sehun, tapi kau benar-benar terlihat mengenaskan. Makanya aku meminta tolong Jongin untuk membawa Sehun pulang dan aku akan mengurusmu"

Chanyeol memeluk tubuh Baekhyun, "Jangan pergi lagi, Baekhyun"

"Aku ingin, aku ingin tinggal, Chanyeol. Tuhan tahu betapa besarnya keinginanku untuk tinggal disini, Chanyeol. Tapi—"

"Aku tidak ingin mendengar apapun itu, Baekhyun"

"Ya, kau tak perlu mendengarku karena yang kau butuhkan adalah makan dan kemudian beristirahat" Baekhyun melepas diri dari Chanyeol dan kembali mengambil sup itu. "Sekarang buka mulutmu"

Chanyeol tersenyum dan membuka mulutnya. Setelah menghabuskan separuh dari sup itu, Chanyeol menolak untuk melanjutkan makannya. Ketika Baekhyun hendak berdiri, Chanyeol menahannya. "Jangan pergi, Baekhyun"

"Aku hanya mengembalikan mangkok, Chanyeol. Tidak akan lama" ucapan Baekhyun hanya dijawab dengan gelengan dari Chanyeol. "Ayolah, Chanyeol"

"Tidak" dan Chanyeol melingkarkan tangannya pada pinggang Baekhyun. "Tidak" ulangnya lembut.

"Lalu apa yang ingin kau lakukan? Kau memerlukan istirahat, Chanyeol"

Chanyeol tersenyum, "Kau bisa membaringkan tubuhmu bersamaku"

"Tapi aku harus mengembalikan mangko—"

"Mangkok itu dapat menunggu, Baekhyun"

Baekhyun menghela nafasnya dan membaringkan tubuhnya di samping Chanyeol. Yang lebih tinggi membawa Baekhyun kedalam dekapannya, memenjaranya dengan tangan yang melingkar di pinggangnya.

"Sekarang yang kau perlukan adalah tidur, Chanyeol"

"Aku akan. Terima kasih, Baekhyun" Chanyeol mengecup kepala Baekhyun.

.

.

.

Chanyeol terbangun ketika matahari telah terbenam, ia kembali terserang oleh rasa pusing. "B-baekhyun" panggilnya serak. Sisi di sampingnya kosong, Baekhyun tidak ada di sana.

"Baekhyun" panggilnya lagi.

Tak kunjung mendapat jawaban, Chanyeol mengerjapkan matanya beberapa kali. Dan kemudian ia menurunkan kakinya dari ranjangnya. "Baekhyun"

Chanyeol keluar, meninggalkan kamarnya dan mencari keberadaan Baekhyun yang ia tidak temukan dimana-mana.

Di atas meja kaca, di samping vas bunga lily, terdapat sebuah catatan. Dengan segera Chanyeol mengambilnya.

.

6104, jika lain kali kau ingin menculikku, kau tahu aku akan berada di mana :)

Baekhyun

.

Chanyeol tersenyum melihat catatan itu dan kemudian menyandarkan tubuhnya pada sofa putih di belakangnya. "Aku akan menculikmu, Baekhyun. Sungguh"

.

.

.

.

.

.

.

Note :

Hallo, aku meneruskan cerita ini lagi, kkkk. Aku tidak tahu harus meneruskan cerita ini atau tidak, karena memang dari awalnya aku tidak akan membiarkan Chanyeol dan Baekhyun bersama, sungguh. Aku berencana untuk membuat mereka merasa kehilangan hingga selanjutnya.

Bisakah kalian memberi saran padaku? aku mendapat writer's block