DISCLAIMER :

Togashi-Sensei

kurisleen (for the original fic, she permitted me to translate it)

PAIRING :

Absolutely KuroPika^^

SUMMARY :

Eight months after Kurapika's encounter with the Genei Ryodan, she found her long lost uncle and finally focused in finding her clan's eyes. What she didn't know is that Kuroro Lucifer already found someone who could lift the nen curse.

GENRE :

Romance & Adventure

WARNING :

FemKura. An Indonesian version for Forced Trials by kurisleen, one of my favorite fics!^^

.

Happy reading^^

.


CHAPTER 2 : CHASE

Seluruh ruangan itu tiba-tiba penuh dengan teriakan dan suara tembakan senjata api. Dari sudut matanya, Kurapika melihat seorang pria terbaring di lantai—mati dan bersimbah darah. Tamu-tamu lain berusaha untuk melarikan diri, melalui pintu masuk yang juga berfungsi sebagai pintu keluar, tapi seorang pemuda kecil berambut hijau sudah menunggu mereka, tanpa ampun menyerang mereka semua.

"Apa ini! Hentikan!" seru Kurapika.

Kuroro tertawa dengan jahatnya. Melihat pertumpahan darah yang terjadi dan tidak mampu berbuat apa-apa, membuat Kurapika tenggelam ke dalam ingatan masa lalunya dan Kuroro tahu tentang hal ini. Apa yang terjadi sekarang mengingatkan Kurapika akan pembantaian sukunya. Kuroro membungkuk hingga sejajar dengan pandangan mata Kurapika dan mengamati wajah gadis itu sambil memegangi Buku Skill yang terbuka di atas telapak tangan kirinya, menjaga agar kemampuan mengikatnya tetap berfungsi.

"Kau bajingan!"

"Terkejut? Aku pun begitu. Aku tak mengira hal ini akan terjadi."

"Diam!"

"Sayang sekali. Kemampuan ini hanya mengikat tubuhmu tapi tidak bisa menutup mulutmu."

"Ya, sayang sekali."

Kurapika membelalakkan matanya dengan tajam kepada Kuroro dan jika saja tatapan bisa membunuh, mungkin pria itu sudah mati sekarang.

"Sato! Kenji!" tiba-tiba Kurapika memanggil dan sekejap kemudian, dua bola Nen dilemparkan ke arah Kuroro.

Pria itu segera melompat dan berusaha menghindari kerusakan besar yang mungkin menimpanya. Secara menakjubkan, tidak terjadi apapun pada Si Kuruta yang hanya berada beberapa inchi jauhnya dari Kuroro. Kuroro menggunakan gyou dan melihat sebuah pelindung berbentuk seperti kepompong menyelimuti gadis itu. Lalu, empat sosok lagi muncul dari belakang Kurapika. Dua orang pria dan dua orang anak-anak; sepasang anak kembar dengan jenis kelamin yang berbeda. Kuroro bisa mengatakan bahwa keempat orang itu adalah Pengguna Nen yang kuat. Si Kembar-lah yang bertanggungjawab atas perisai Nen yang melindungi Kurapika. Kuroro menutup Buku Skill-nya dan belenggu itu akhirnya membebaskan Kurapika.

"Kurapika-sama!" Si Kembar berseru dan memeluk majikan mereka.

"Eri, Yuri," Kurapika berkata, lalu dia menatap Kuroro dengan marah. "Tangkap dia."

Itu terjadi cepat sekali. Si Kembar baru saja berada di samping Kurapika dan sesaat kemudian mereka sudah ada di hadapan Kuroro dengan pedang kembar yang terhunus, siap untuk menyerangnya. Kuroro melompat menghindari serangan mereka. Tapi di saat yang sama, bola api yang juga terbuat dari Nen datang dan menyerangnya. Serangan itu menghanguskan lengan jas hitamnya dan sedikit membakar kulit yang ada di baliknya.

Si Kembar menatap Kuroro dengan tatapan kosong ketika pria itu mendarat di lantai dengan mulus. Kuroro berpendapat, mereka bukan anak-anak biasa. Sekarang Kurapika berdiri dengan rantai berderak liar di tangan kanannya, bersiap untuk menyerang kapan saja.

"Machi!" panggil Kuroro. Segera saja Pengguna Benang Nen itu muncul di sampingnya sambil membawa sebuah kotak. Si Pemimpin Geng Laba-laba tersenyum sinis saat melihat kotak itu lalu mengambilnya dari Machi.

Merasa terhina dengan senyumannya, Kurapika mengeluarkan Chain Jail miliknya dan mengarahkannya kepada Kuroro, musuhnya. Tapi dia tiba-tiba berhenti ketika Kuroro mengatakan sesuatu yang sangat mengganggu.

"Di dalam kotak ini ada sepasang Mata Merah yang asli."

Kurapika menatap pria itu tak percaya dan di waktu yang sama, Sato membuka kotak yang ia dapatkan dengan bantuan orang kepercayaannya dan melihat Mata Merah yang sama. Namun dengan menggunakan gyou, Sato menyatakan mata itu terbuat dari En. Secara otomatis hal ini membenarkan pernyataan Kuroro; bahwa dia mendapatkan sepasang Mata Merah yang asli.

"Kembalikan mata itu padaku sebelum aku memenggal kepalamu," Kurapika menggeram kepada Kuroro yang ditanggapi pria itu dengan sebuah seringai di wajahnya.

"Kalau begitu, kemari dan ambillah."

Kuroro pun mundur dan tiba-tiba melompat turun dari balkon yang berada tak jauh dari sana, mendarat di tengah Hutan Norsalle. Machi dan dua orang Laba-laba lainnya segera mengikuti pemimpin mereka. Kurapika ingin mengejar Kuroro namun yang membuatnya kecewa, Sato mengganggunya dan memaksa agar dia yang mengejar Kuroro.

"Biarkan Elite Seven yang melakukannya, Kurapika-sama," ucap Sato. Tanpa menunggu jawaban Kurapika, dia melompat keluar ruangan dari jendela yang terbuka.

Kenji, Eri dan Yuri mengikutinya. Kurapika menggertakkan giginya dan mengepalkan kedua tangannya dengan marah ketika menyadari para pengawalnya itu telah mengabaikannya. Sesaat kemudian, tiga orang lagi datang memasuki ruangan dan bergegas menghampiri Kurapika yang tengah dikuasai amarah.

"Kurapika-sama!" panggil seorang gadis berambut coklat.

"Seiya, ini adalah perintah," Kurapika hampir berteriak padanya, "Tinggallah di sini bersama Jo dan sembuhkan orang-orang yang masih hidup."

Kurapika memandangi sekitarnya, nampak kengerian dan kemarahan di wajahnya ketika melihat betapa parahnya luka para tamu itu. Beberapa orang dari mereka sulit bernapas sementara yang lain sudah menghembuskan napas terakhirnya. Kemudian, Kurapika berbalik menghadap orang lain lagi yang juga baru datang bersama Seiya dan Jo.

"Aki, ikut aku," perintah Kurapika. Kemudian dia meninggalkan gedung dengan cara yang sama seperti yang dilakukan Kuroro, bersama seorang gadis berambut hitam bernama Aki yang mengikuti di belakangnya dengan setia.


"Danchou, apakah ini benar-benar ide yang bagus?" Phinx bertanya sambil melompat dari satu batang pohon ke batang pohon lainnya dan tetap waspada, berjaga-jaga kalau saja orang-orang yang tengah mengejar mereka saat ini tiba-tiba menangkap mereka. Pria yang tidak memiliki alis mata itu sedikit menolehkan kepalanya dan masih merasakan keempat Pengguna Nen masih mengejar.

"Pertama, kita harus menyingkirkan para pengawalnya lalu kita biarkan Nobunaga melakukan apa yang selalu ingin dia lakukan pada gadis itu," sekali lagi Kuroro menjelaskan kepada para anak buahnya sebelum menunduk dan bergumam, "Kita sampai."

Kuroro, Machi, Feitan dan Phinx mendarat di suatu tempat di Hutan Norsalle yang bersih dari pepohonan dan tumbuhan apapun. Setelah menunggu selama beberapa detik, para pengejar mereka pun tiba. Sebelum ada yang bisa mengucapkan sepatah kata pun, anak laki-laki dari salah seorang Si Kembar itu pun bicara lebih dulu.

"Kembalikan mata itu. Kurapika-sama memenangkannya secara adil dan jujur, kau Bajingan yang tak bisa apa-apa!" serunya.

Kuroro bersumpah, dia mendengar Phinx tersedak ketika anak laki-laki yang bernama Eri itu selesai bicara. Dari penampilannya, dia terlihat seperti anak berumur dua belas tahun atau lebih muda.

"Ya!" seru Yuri dengan marah. "Kalau tidak, kami akan mengambilnya secara paksa!" Lalu dia menghunus pedang kembarnya bersama dengan saudara lelakinya.

"Eri, Yuri," Sato memperingatkan Si Kembar kemudian menoleh kepada Kuroro, "Benda itu mungkin tak berarti apa-apa untukmu tapi sangat berarti bagi Kurapika-sama. Tolong kembalikan."

"Apa! Kami—" Phinx tak bisa menyelesaikan ucapannya ketika Kuroro mengangkat sebelah tangannya untuk membuatnya berhenti.

"Kami akan membayarmu jika memang uanglah yang kau inginkan. Sebutkan harganya," Kenji menawarkan.

Kuroro tersenyum kepada keempat orang itu. "Aku akan mengembalikannya jika Kurapika sendiri yang datang ke sini," usulnya.

Sato membelalak padanya dan perlahan tangan kanannya mengumpulkan Nen untuk menciptakan bola api lagi. Di Elite Seven, dia dan Kenji adalah tipe Emisi sementara Si Kembar termasuk ke dalam kelompok yang memiliki tipe Transformasi.

"Danchou," kali ini Feitan yang bicara. "Biarkan aku melawannya." Pria bertubuh kecil itu mengisyaratkan ke arah Sato.

"Silakan," jawab Kuroro sambil sedikit melangkah mundur.

Feitan tersenyum sadis di balik maskernya. Sato mengerti apa yang diinginkan pria itu, maka dia pun melangkah maju dan bersiap dalam posisi menyerang. Sesaat kemudian, keduanya menghilang dan muncul kembali, bertarung di udara.

"Dia jago," komentar Phinx sambil bersiul, yang ditanggapi dengan anggukan kepala dari Machi.

Tapi perhatian Kuroro tidak tertuju pada pertarungan itu melainkan pada Si Kembar yang sama-sama mengacuhkan pertarungan yang tengah berlangsung. Eri dan Yuri menatap Kuroro dengan tingkat kemarahan tertentu sambil memancarkan aura membunuh yang kuat. Hal itu membuat Kuroro teringat pada Hisoka. Tiba-tiba terdengar suara ledakan dan Kuroro mengalihkan perhatiannya dari anak-anak itu, kembali pada Feitan dan Sato.

Keduanya kembali berada di tanah, terengah-engah. Masker yang dikenakan Feitan sudah hangus, menampakkan raut wajahnya yang geram. Di lain pihak, Sato pun terluka seperti yang ditunjukkan oleh beberapa goresan di wajahnya. Mereka baru saja akan saling menerjang ketika dua orang muncul dari balik semak-semak dan bergabung. Mata Sato membelalak karena terkejut dan kecewa.

"Kurapika-sama!"

Kenji menghampiri Kurapika tapi gadis itu memberinya tatapan tajam hingga membuat bulu kuduknya berdiri. Kemudian, pria itu menoleh kepada rekannya, "Aki?"

"Kau bodoh!" Aki menginjak kaki Kenji dan menyikut perutnya dengan keras. "Siapa yang menyuruh kalian berempat untuk mengejar mereka!" Dia menunjuk ke arah Kuroro dan kelompoknya. "Tanpa menunggu perintah dari Kurapika-sama!"

Sementara itu Kurapika sudah berjalan menghampiri Kuroro, dengan matanya yang merah, rantai, semuanya. Sato segera melupakan Feitan dan menghadang Kurapika.

"Minggir," perintah Kurapika. Dia bertambah marah saat Sato tidak mematuhinya. "Kau sudah melawan perintahku satu kali malam ini. Jangan lakukan itu untuk yang kedua kalinya."

Kuroro tersenyum senang menyaksikan adegan yang terjadi di hadapannya. Awalnya Sato merasa enggan, tapi kemudian ia menyingkir tanpa melepaskan pandangannya dari sang majikan yang melanjutkan langkahnya menghampiri Pemimpin Geng Laba-laba. Perlahan Kurapika mengeluarkan rantainya tapi berhenti ketika suatu kenangan muncul di benaknya.


"Kurapika...Kairo."

Air mata mengalir tanpa henti membasahi pipinya ketika Kurapika menggenggam tangan Zali. Pamannya, Kairo, berdiri di sebelahnya, menyaksikan sosok istrinya yang sedang sekarat.

"Zali," bisik Kairo lembut dan membungkuk untuk membelai pipi wanita itu. "Istirahatlah."

"Aku tidak...punya...penyesalan lagi."

Kairo tersenyum."Aku tahu. Aku mencintaimu."

Zali mengalihkan pandangannya kepada keponakannya. "Sayang, lupakan...tentang...mereka," dia bergumam sambil berusaha mengabaikan rasa nyeri di dadanya. "Lupakan...tentang...balas dendam."

"Bibi Zali...aku—"

"Berjanjilah...padaku, Kura...pika..."

Kurapika tidak menjawab tapi dia sedikit menganggukkan kepalanya. Kemudian Zali mengangkat tangan kanannya yang tengah digenggam Kurapika sesaat tadi dan meletakkannya di dada Kurapika. Gadis pirang itu hanya menatap apa yang dilakukan bibinya dengan matanya yang merah dan bengkak karena menangis. Secara insting, dia menepiskan tangan bibinya (tapi tidak terlalu kasar) dan memegangi dadanya.

"Bibi Zali...apa yang baru saja kaulakukan?" tanya Kurapika. Tapi sebelum Zali bisa menjawabnya, wanita itu tersenyum pada Kurapika dan menutup matanya. Wajahnya menampakkan raut wajah yang tenang, penuh dengan kedamaian.

Hujan pun turun dengan deras seperti air mata Kurapika yang mengalir tanpa henti.


Kuroro mengernyit melihat Si Pirang Kuruta menatapnya dengan ekspresi heran. Kuroro sudah mempersiapkan diri menjatuhkan gadis itu jika dia mulai menyerangnya, tapi Kuroro tidak menduga Kurapika akan tiba-tiba berhenti. Matanya yang berwarna merah beberapa saat lalu, sekarang kembali ke warna aslinya yang berwarna biru samudera namun rantai masih ada di tangan kanannya.

"Haruskah aku menghabisinya, Danchou?" Machi bertanya dan Kuroro menggelengkan kepalanya. Kemudian, perlahan pria itu meletakkan kotak yang ia bawa ke tanah dan Kurapika mengikuti kotak itu dengan tatapan matanya.

"Apa yang kauinginkan sebagai pertukaran bagi mata itu?" Kurapika bertanya dengan tenang. Sikapnya ini mengejutkan Kuroro dan para anak buahnya.

"Tak ada yang bisa kau berikan," tantang Kuroro.

"Coba saja," jawab Kurapika. Kuroro dapat merasakan sedikit kemarahan di nada suara gadis itu.

Kuroro tidak langsung menjawab. Dia memikirkan beberapa hal di benaknya. Si Kuruta adalah seorang gadis dan bukannya laki-laki; kebohongan yang dipercayai Kuroro selama delapan bulan lamanya hingga malam ini. Ketika sebuah ide tiba-tiba muncul, kilatan pemangsa nampak di mata pria itu.

"Aku menginginkanmu."

Mata Kurapika membelalak, demikian pula halnya dengan Elite Seven dan para anak buah Kuroro.

"A-apa?" Kurapika tergagap.

"Bergabunglah dengan Laba-laba."

"Tidak akan pernah!"

Kuroro mengangkat sebelah alis matanya dan tersenyum geli atas tanggapan Kurapika. Perlahan mata Si Kuruta berubah warna dari biru samudera ke merah lagi tapi tampak jelas sekali dia berusaha keras untuk menahan amarahnya. Sato dan Kenji menunggu dekat di belakang Kurapika, waspada dan bersiap. Kuroro pun dapat merasakan para anak buahnya mengamati dan memperhatikan situasi saat ini. Mereka kalah jumlah dan tidak bijak untuk menghasut Si Kuruta karena mungkin dia juga akan memerintahkan para pengawalnya untuk membunuh mereka berempat sekaligus. Si Kembar sepertinya terlihat cukup siap untuk membunuh dalam waktu berapa detik pun.

"Baiklah, kalau begitu," akhirnya Kuroro berkata. "Bergabung dengan Laba-laba atau..." dia membuka Buku Skill-nya, membalikkan halamannya dan mengeluarkan kekuatan api yang didapatnya baru-baru ini. "Aku akan membakar kotak ini sekarang juga."

"Kau brengsek!" Kurapika menggertakkan giginya. "Apakah membunuh seluruh keluargaku tidak cukup untukmu?"

"Aku tidak tahu ada satu orang yang masih hidup," ucap Kuroro. "Betapa fatalnya kesalahan yang kulakukan itu. Tapi ijinkan aku memberitahumu satu hal, aku menikmati saat bertarung dan mencongkel mata dari teman-teman sesukumu. Itu sepadan."

Hasutan itu benar-benar berhasil. Tepat seperti yang diperkirakan Kuroro, Kurapika menerjangnya dengan Chain Jail yang melewatinya dalam jarak satu inchi saja. Rantai itu terbang melewati Kuroro dan mengarah ke Machi. Pengguna Benang Nen itu melompat menghindar sementara Phinx membungkuk dan meraih kotak yang ditempatkan Kuroro di tanah.

Elite Seven pun segera bertindak. Sato dan Kenji bekerja sama dan menyerang Feitan dengan Hatsu. Si Kembar mengejar Phinx yang memegangi kotak berisikan Mata Merah itu. Eri telah merubah Nen-nya menjadi suatu kekuatan yang memiliki sifat seperti es hingga dia bisa mengendalikannya ke dalam bentuk senjata apapun yang dia inginkan. Eri membentuknya menjadi jarum dalam jumlah banyak dan melemparkannya kepada Phinx. Namun pria tak beralis mata itu menghindar dengan mudah dan Eri harus menarik Nen-nya kembali. Tapi di waktu yang sama, Yuri merubah Nen-nya menjadi sejenis koloid lalu menyebarkannya ke beberapa tempat yang mungkin dilangkahi Phinx. Sayangnya, Phinx terjebak.

"Kena kau!" Eri dan Yuri berseru. Mereka pun mendarat ke tanah.

"Apa ini, kalian anak nakal!" Phinx berteriak marah dan mencoba melompat lagi sekuat tenaga. Melihat usaha pria itu, Yuri mengencangkan cengkeraman Nen-nya di kaki Phinx.

Sementara itu, Aki menghadapi Machi dan keduanya terlibat dalam pertarungan serius yang brutal. Aki termasuk ke dalam kelompok Reinforcement. Mungkin dari luar dia terlihat seperti gadis rapuh tapi dia bisa membuat lawannya seolah berada di neraka hanya dalam satu pukulan saja.

Di lain pihak Kurapika menendang Kuroro dengan keras hingga membuat pria itu terlempar, namun masih bisa melindungi dirinya dengan Nen. Sekali lagi, Kuroro mengeluarkan Buku Skill-nya. Kurapika tidak mengijinkannya membalik halaman dalam buku itu, maka dia melemparkan lagi Chain Jail kepadanya dan Kuroro harus menghindarinya.

Si Kuruta berhenti sejenak dan dia begitu terengah-engah. Mata Merahnya mulai menghabiskan kekuatannya. Dulu, dia bisa menggunakan Mata Merahnya selama dua hari, tapi sekarang menggunakannya selama satu-dua jam saja membuat staminanya menurun begitu cepat. Jika terus berlanjut, Kurapika bisa pingsan kapan saja.

"Kurapika-sama!" Sato memanggil, kecemasan terdengar di nada suaranya.

"Akulah lawanmu, Brengsek!" Feitan berseru dan merusaha menyayat Sato dengan kibasan pedang payungnya. Serangan itu tepat mengenai dada kanan Sato, darah pun mengalir keluar dari luka itu. Kenji segera melepaskan bola api Nen-nya ke arah Feitan lalu bergegas menghampiri Sato.

"Sato!"

Kurapika kehilangan konsentrasi selama beberapa detik tapi cukup bagi Kuroro untuk dengan cepat melakukan teleportasi ke hadapan Kurapika, meraih pergelangan tangan kanannya dan menekuknya ke belakang.

Kurapika memekik kesakitan dan menggerutu pada dirinya sendiri karena tidak berkonsentrasi saat bertarung dengan musuh abadinya. Kuroro menahan Kurapika dengan kencang di tanah, mengambil Pisau Benz-nya entah dari mana dan mengarahkan ujung mata pisau itu ke leher Si Kuruta. Ujung pisau itu sedikit menggores kulit lembut Kurapika. Untunglah, kali ini tidak ada racun di pisau itu.

"Berhenti atau aku akan membunuh majikanmu," Kuroro berkata dengan nada suara yang terdengar serius.

Semua anggota Elite Seven langsung diam ketika melihat situasi yang tengah dihadapi Kurapika. Si Kembar sudah melupakan Phinx dan segera pergi ke tempat di mana Kenji memegangi Sato. Feitan, Machi dan Phinx mundur seperti apa yang diisyaratkan oleh Danchou mereka. Kurapika meronta tak berdaya hanya agar bisa terlepas dari cengkeraman musuhnya. Tepat setelah itu, Kuroro mengangkat sebelah tangannya yang bebas dan memukul leher Si Pirang Kuruta dengan kekuatan yang cukup untuk bisa membuatnya tak sadarkan diri.

Semua anggota Elite Seven terkejut, namun ekspresi itu segera tergantikan dengan ekspresi marah dan kesal.

"Beraninya kau!" seru Aki dengan marah.

"Jangan mengejar kami atau aku akan membunuhnya," jawab Kuroro. Dia menyelipkan kedua tangannya ke belakang lutut Kurapika, menggendongnya secara bridal style. Lalu, dia memasuki hutan bersama para anak buahnya sekali lagi dan ditelan oleh kegelapan.


"Danchou!" Shalnark hampir berteriak ketika Kuroro sampai di tempat persembunyian mereka yang baru dengan buntalan dalam pelukannya.

Feitan, Machi dan Phinx sudah masuk ke tempat mereka di gudang tua itu sementara Kuroro perlahan menempatkan tangkapannya di atas kasur tua berdebu yang tergeletak di lantai. Dia dapat merasakan beberapa pasang mata tertuju padanya, menanyakan pertanyaan yang sama dan tak terucapkan. Nobunaga adalah orang pertama yang berdiri dan menanyai Danchou mereka.

"Siapa dia, Danchou? Kekasihmu?" canda Nobunaga dengan seringai di wajahnya.

"Bukan. Dia adalah Si Pengguna Rantai."

Ketika Kuroro mengatakan hal itu, seringai di wajah Nobunaga langsung hilang dan dia segera menghunus pedangnya.

"Biarkan aku membunuh bajingan itu," kata Nobunaga dan berjalan menuju ke arah sosok Si Pirang yang sedang tertidur.

"Nobu," panggil Kuroro, dia mengangkat sebelah tangannya untuk menghentikan anak buahnya yang sedang marah itu.

"Tapi Danchou, dia seorang gadis. Si Pengguna rantai itu laki-laki," kata Shalnark ragu.

"Ceritanya panjang, tapi aku yakinkan kalian, gadis ini adalah Si Pengguna Rantai."

Semua orang yang ada di ruangan itu menatap sosok yang masih tak bergerak itu. Nobunaga masih marah dan otomatis Franklin harus menyeretnya pergi dari hadapan Danchou mereka sebelum pria itu kehilangan kesabaran.

"Apa yang harus kami lakukan padanya, Danchou?" Shizuku ikut bicara.

Kuroro pun terdiam dalam posisi berpikirnya yang khas, sebuah sikap tubuh yang biasa dia lakukan kapanpun sedang berpikir keras dan membuat rencana. Setelah beberapa menit, akhirnya Kuroro mengangkat wajahnya dan menatap para anak buahnya.

"Aku ingin mencuri kemampuan pengawalnya yang kembar itu jadi kita harus menunggu mereka tiba di sini untuk menyelamatkannya." Lalu Kuroro berhenti sejenak dan melanjutkan, "Kita akan melenyapkan mereka semua setelah aku mencuri kemampuan itu. Lalu Nobu," Kuroro menoleh ke arah Si Samurai, "Sebelum memenggal kepalanya, pastikan matanya berada dalam kondisi yang benar-benar merah."

Mata Nobunaga pun berbinar dan menganggukkan kepalanya dengan semangat. Anggota Laba-laba yang lainnya berdiri dan mempersiapkan diri mereka untuk menghadapi para pengawal Si Pengguna Rantai yang mungkin saja datang lebih awal. Kuroro baru saja akan masuk ke ruangan lain untuk berganti pakaian ketika dia merasakan tangkapannya bergerak. Kuroro berbalik dan melihat Si Kuruta membuka matanya.

"Dia bangun!" kata Shizuku. Betapa sederhananya pikiran gadis itu, sebenarnya dia tak perlu mengatakan apa yang sudah jelas-jelas terlihat.

Kemudian dalam sekejap saja, semua orang di sana kecuali Kuroro langsung berada dalam posisi siaga.

TBC


A/N :

Review please…^^