DISCLAIMER :

Togashi-Sensei

kurisleen (for the original fic, she permitted me to translate it)

PAIRING :

Absolutely KuroPika^^

SUMMARY :

Eight months after Kurapika's encounter with the Genei Ryodan, she found her long lost uncle and finally focused in finding her clan's eyes. What she didn't know is that Kuroro Lucifer already found someone who could lift the nen curse.

GENRE :

Romance & Adventure

WARNING :

FemKura. An Indonesian version for Forced Trials by kurisleen, one of my favorite fics!^^

.

Happy reading^^


CHAPTER 3 : WEAKNESS


Kurapika meringis nyeri ketika dia berusaha untuk beranjak duduk. Gaun yang dia kenakan membuatnya merasa tidak nyaman hingga dia harap dia bisa merobek gaun itu agar terlepas dari tubuhnya sekarang juga. Ketika Kurapika membuka matanya, semuanya terlihat kabur. Dia dapat merasakan aura bermusuhan dan penuh penolakan yang mengelilinginya. Dia menggelengkan kepalanya perlahan namun gadis itu segera menyesalinya karena hal itu membuatnya merasakan sakit kepala yang teramat sangat.

"Akhirnya kau sadar?" Suara bariton yang terdengar familiar bertanya dengan dingin dan Kurapika tersentak mendengarnya. Kurapika segera mendongak dan dalam sekejap saja segalanya terlihat berwarna merah. Dia menggertakkan giginya dengan penuh amarah.

Rantai di tangan kanannya muncul namun sebelum dia bisa berdiri dari kasur tempatnya duduk, Machi sudah berada di belakangnya, mengikat kedua tangan gadis itu dengan benang Nen-nya. Si Kuruta tersentak kesakitan ketika Pengguna Benang Nen itu menusuk pergelangan tangannya dengan jarum Nen untuk membuat tubuhnya lumpuh.

"Apa yang...kau...inginkan...?" Kurapika bertanya walau mungkin pertanyaannya ini sia-sia saja, berusaha membaca tatapan dingin dan penuh perhitungan dari pria yang berada di hadapannya. Pria yang benar-benar ingin dia bunuh.

"Itu pertanyaan yang sulit dijawab, Kuruta." Kuroro menajwab sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dan menunduk ke arah Kurapika hingga tatapannya bertemu dengan mata merah gadis itu yang menakjubkan. "Biarkan saja tak terjawab." Lalu, Kuroro mendongak ke arah di mana pintu masuk berada. "Kapan saja, para pengawalmu akan datang ke sini untuk berusaha menyelamatkanmu." Dia menyeringai. "Kemampuan Si Kembar sepertinya menarik."

Mata Kurapika membelalak. "Jangan berani—"

"Seolah kau bisa melakukan sesuatu untuk mencegahnya!" Nobunaga seketika berkomentar, menyela ucapan Si Gadis Pirang. "Tepat setelah kami membunuh para anak buahmu, berikutnya adalah giliranmu!" Dia benar-benar marah.

"Bajingan." Kurapika mendesis. Dia merasa sangat tak berguna dan terjebak saat ini. Mata merahnya mulai membuatnya lemah lagi dan dia tak bisa melakukan apa-apa karena sekarang gadis itu tengah lumpuh.

"Eh, Danchou!" Phinx memanggil. "Kita bisa menikmatinya secara fisik sebelum para pengawalnya datang, 'kan?" dia bertanya, pikiran kotor pria itu nampakdi nada suaranya.

Si Kuruta merasa dirinya membeku mendengar pertanyaan yang tiba-tiba itu walau tidak diarahkan dengan jelas padanya. Kenyataan bahwa dia lumpuh tidak menyembunyikan kengerian di wajahnya dan dia berusaha meronta untuk melepaskan diri dari kelumpuhan namun agar bisa keluar dari situasi ini...namun sia-sia saja.

"Ayo. Silakan saja." Kuroro mengangkat bahu dengan acuh pada anak buahnya. Dia berbalik dan berjalan menuju ke kamar lain untuk berganti pakaian. Kuroro terkekeh ketika dia tiba-tiba menyadari bisa-bisanya dia terpikir untuk mengganti pakaiannya ketika mereka sedang berada dalam situasi kritis sekarang. Dia sedikit menoleh untuk melihat reaksi Si Kuruta yang menurutnya akan membuatnya senang. Dan dugaannya benar.

Raut wajah Kurapika saat ini merupakan campuran dari rasa ngeri, jijik, takut, dan marah ketika dia memandangi Phinx yang melangkah ke arahnya. Machi sudah undur diri namun benang Nen-nya masih terikat di pergelangan tangan Kurapika. Ketika pria yang tidak memiliki alis mata itu jaraknya tinggal sekitar satu inci lagi dari Kurapika, dia membungkuk hingga tatapan matanya sejajar dengan mata gadis itu dan mengamati wajahnya.

"Kau punya wajah cantik yang bisa menipu kami dan membuat kami percaya bahwa kau seorang lelaki," ucap Phinx senang.

"Pergi...Menyingkirlah." Kurapika hampir berteriak tapi suaranya entah kenapa terdengar begitu terbatas seolah dia tersedak kata-katanya sendiri.

Phinx memegangi dan memiringkan dagu Kurapika dengan ibu jarinya. "Ketika para anak buahmu menyadari bahwa mereka datang terlalu terlambat, raut wajah mereka saat itu akan benar-benar sepadan," ejeknya.

Yang terjadi berikutnya sangat cepat hingga Kurapika tak bisa memproses semua peristiwa itu di kepalanya dengan jelas. Satu hal yang diingat Kurapika beberapa detik tadi adalah sebuah ledakan besar di belakang gedung, Elite Seven menerobos masuk, Sato dan Si Kembar berdiri di sampingnya...melindunginya menodongkan senjata lalu hal lainnya lagi. Phinx mampu melompat mundur tepat waktu ketika pelayanitu menerjang ke arahnya.

"Kurapika-sama," Sato berkata dan dia menghela napas lega. Dia memegangi dua buah bola api di kedua tangannya, siap untuk melemparkan kedua bola api itu kepada Geng Laba-laba yang terlihat terkejut dengan serangan itu.

Kuroro sama sekali tak bisa mengganti pakaiannya ketika dia baru saja membuka pintu kamar dan hendak melangkah masuk, ledakan itu terjadi. Pria itu melihat penyebab ledakan tersebut dan tersenyum sendiri. Dia menghitung jumlah penyusup dan senang melihat tujuh orang Pengguna Nen yang sangat kuat.

Sementara Kurapika tengah disembuhkan oleh Jo dan Seiya di mana mereka berdua berasal dari kelompok spesialisasi. Si Kembar sudah memutuskan benang Nen yang mengikat pergelangan tangan majikan mereka dan kemudian menatap Machi dengan tajam.

"Yah, kurasa pesta yang sebenarnya sudah dimulai." Kuroro mengumumkan dengan sedikit sinis ketika dia sedikit menggenggam kedua tangannya. "Pertunjukan yang bagus, Elite Seven."

"Kau penipu!" Eri dan Yuri sama-sama berteriak.

"Hmmm..." Si Pemimpin Geng laba-laba mengangkat tangan kanannya dan menutupi mulutnya. "Kau kalah jumlah, menyerahlah dan bahkan kita akan berbagi majikanmu."

"Diam dan bertarunglah!" Itu suara Si Kuruta. "Elite Seven hanya mengikutiku dan tak ada lagi yang lain!" Dia berteriakpadanya dengan marah. Lalu, dia melihat ke sekitarnya untuk melihat wajah para pengawalnya yang setia tengah berada dalam posisi bertahan. "Kalahkan mereka semua."

Ketujuh sosok menghilang lalu muncul kembali di samping Laba-laba yang akan mereka kalahkan. Sato bertarung melawan Feitan dan Nobunaga, Kenji melawan Shalnark dan Bonorenof, Aki melawan Machi, Seiya melawan Shizuku dan Coltopi, Si Kembar berhadapan dengan Phinx dan Franklin. Jo tetap berdiri di samping Kurapika untuk melanjutkan usahanya menyembuhkan Kurapika dari kelumpuhan kuat yang menginfeksi tubuhnya.

Pertarungannya tidak begitu merusakkarena mereka tahu akan terlalu menarik perhatian dari luar. Elite Seven berhadapan dengan Genei Ryodan hampir seimbang. Tak ada salah satu pihak yang bermaksud untuk menyerah. Ketika Jo selesai menyembuhkan majikannya, Kurapika berdiri dan mengeluarkan rantainya lagi. Dia memandang ke arah di mana Si Pemimpin Geng Laba-laba berdiri dan hanya menyaksikan pertarungan. Pria itu pasti sudah menyadari tatapannya karena dia tiba-tiba menoleh dan bertemu pandang dengan Kurapika. Menggertakkan giginya, Kurapika mengeluarkan Chain Jail-nya dan melontarkan rantai itu padanya. Dengan mudah Kuroro menghindar serangan itu, dia pun melihat Jo datang dari arah kanan untuk menendangnya.

Dengan marah Kurapika terus melontarkan rantainya dan musuhnya itu melompat menghindar dengan sempurna, mendarat dengan mulus. Si Gadis Pirang terengah-engah dan menarik kembali Chain Jail-nya. Itu karena mata merahnya lagi. Dia benar-benar lelah dan tak peduli berapa kali dia melontarkan rantainya pada Kuroro, selama kemarahan mengendalikan tindakannya, dia tak akan bisa mengalahkan Kuroro Lucifer.

"Kurapika-sama, mari kami bawa kau keluar dari sini." Kata Jo khawatir sambil berusaha membantu majikannya. "Sato-san!" panggilnya. "Ayo kita pergi dari sini! Kita sudah mendapatkan apa yang kita cari!"

Tanpa membuang waktu sedetik pun, Elite Seven berhenti bertarung dan segera berkumpul di sekitar Jo yang menciptakan pelindung Nen berwarna kebiruan. Mereka semua masuk ke dalam pelindung itu dan dalam sekejap menghilang tanpa jejak.

Kuroro menatapnya dengan sedikit terkejut ketika menyaksikan fenomena aneh itu. Raut terkejut yang sama terlihat di wajah para anggota Laba-laba.

"Sepertinya salah seorang dari mereka tahu bagaimana menggunakan teleportasi," Kuroro menyimpulkan.


"Bagaimana keadaannya, Dokter?" tanya Kairo Bethel dengan khawatir sambil memandangi sosok lemah Kurapika yang sedang tidur di tempat tidur yang berada tak jauh darinya.

"Dia akan pulih dengan cukup istirahat. Biarkan dia istirahat di tempat tidur dan beri dia banyak makanan bergizi hingga bisa sembuh dengan cepat," ucap dokter itu.

"Terima kasih, Dok."

Dokter itu membungkukkan badannya, mengemasi alat-alat medisnya dan meninggalkan kamar bersama Kairo yang mengikutinya keluar. Di luar kamar Kurapika, Elite Seven mrnunggu dengan sabar untuk mendengar kabar apapun mengenai majikan mereka. Mereka semua berkumpul ketika dua orang pria keluar dari kamar itu. Ketika akhirnya dokter itu hilang dari pandangannya, Kairo menatap Elite Seven dan dengan berbahaya mengernyit pada mereka.

"Sato." Pria itu memanggil dengan suara yang datar dan terdengar dengan jelas bahwa dia marah.

Kepala Pelayan itu perlahan melangkah menghampiri Tn. Bethel dengan kepala tertunduk. Dia berhenti di hadapannya, menghindari tatapannya yang marah. tiba-tiba, sebuah rasa sakit yang tajam melewatipipi Sato. Hal berikutnya yang dia tahu, Tn. Bethel melompat dan wajahnya penuh amarah.

"Tamparan itu tidak cukup!" Kairo Bethel berteriak padanya dengan benar-benar memakinya. "Aku mempercayaimu untuk melindungi keponakanku! Ketujuh orang dari kalian! Dan kalian membawanya kembali dalam kondisi seperti ini? Beraninya kalian?"

Elite Seven tetap diam namun Tn. Bethel melanjutkan, "Apa yang kukatakan padamu ketika kau begitu bernafsu untuk membalas dendam?" Dia bertanya tapi tak ada yang menjawab. "Jawab aku, Sato! Apa yang kukatakan padamu?"

Sato menelan ludah dengan susah payah dan dia merasa tenggorokannya menjadi kering, "Tidak membiarkannya...mengejar Genei Ryodan."

"Tepat! Tapi apakah kau mengikuti perintahku? Tidak! Kau membiarkannya bersikap kasar! Apa yang akan kaulakukan jika aku kehilangan Kurapika?" Pria itu menoleh ke arah para anak buahnya yang lain. Sepertinya tidak adil jika hanya Sato yang menerima semua teriakan itu. "Kalian berenam! Kalian membuat kesalahan di masa lalu dan aku memaafkan kalian semua tapi kali ini berbeda! Dan untunglah! Kalian semua benar-benar kuat, terlatih sejak kalian kanak-kanak! Sekarang di mana Mata Merah yang dicuri dari para penjagal itu?"

Mereka semua terdiam kaku. Mereka lupa mengambil Mata Merah dalam keinginan mereka yang terburu-buru untuk mengeluarkan Kurapika dari cengkeraman Genei Ryodan. Kurapika pasti akan tidak senang.

"Kalau begitu dugaanku benar," mata Kairo sekarang berwarna merah seperti kobaran api, sebuah tanda yang menunjukkan bahwa dia benar-benar kecewa dengan tindakan Elite Seven. Dia menoleh kepada Sato lagi. "Aku mempercayakan hidupku padamu bertahun-tahun yang lalu dan sekarang aku mempercayakan Kurapika padamu. Ini caramu untuk melindunginya? Yang benar saja!"

"Maafkan kami Bethel-sama." Sato sudah dalam posisi berlutut sekarang, kepalanya tertunduk dalam kehinaan.

"Sato, kaulah di antara semua orang yang mengerti bahwa kelemahan Kurapika tidak hanya karena syarat yang diterapkan pada pisau Nen di jantungnya." Setidaknya, ketika Tn. Bethel membicarakan hal ini, dia sedikit lebih tenang.

"Ya, Bethel-sama."

Pria itu menghela napas dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Kalian bertujuh tahu bahwa apabila Kurapika membunuh salah seorang anggota Genei Ryodan, Kurapika pun akan mati!"


Suara. Dia mendengar suara-suara yang berasal dari luar kamar. Tempat tidur terasa begitu empuk dan Kurapika tahu dia sudah kembali ke kamarnya sendiri. Suara dari luar kamar semakin mengeras dan menjadi lebih pelan sesaat kemudian. Dia hanya menangkap beberapa kata dari percakapan yang penuh amarah itu namun Si Pirang mampu menghubungkan kata-kata itu dan menebak apa yang tengah ia katakan.

"Kurapika...kelemahan...syarat...pisau Nen."

Mata Kurapika terbuka sepenuhnya dan dia mengerang pelan ketika cahaya menimpanya dengan lembut. Matanya berpendar ke sekeliling kamar sebelum dia duduk di atas tempat tidurnya. Rasa pusing memenuhi kepalanya dan dengan sangat perlahan, dia keluar dan pergi menuju ke pintu sambil sedikit tersandung karena keseimbangannya belum kembali. Hal terakhir yang diingatnya sebelum pingsan adalah dia kembali ke mansion mereka yang berada di tepi pantai.

"Kalian bertujuh tahu bahwa apabila Kurapika membunuh salah seorang anggota Genei Ryodan, dia pun akan mati!"

Matanya membelalak ketika mendengar pernyataan yang diucapkan tak lain oleh pamannya sendiri. Apa maksudnya berkata begitu? Itu salah. Dia tak bisa mati jika membunuh salah seorang Ryodan. Bagaimana bisa? Untuk mengklarifikasi pertanyaan yang tak terucapkan di benaknya, dengan kasar Kurapika mendorong pintu itu hingga terbuka dan melihat raut wajah heran paman dan para pengawalnya.

"Apa artinya itu, Paman?" Kurapika berusaha bertanya dengan tenang namun suaranya terdengar gemetar.

"Kurapika, kenapa kau bangun? Seharusnya kau berbaring di tempat tidur," kata Kairo dan berusaha membantu keponakannya untuk kembali ke kamar.

"Beritahu aku, Paman. Dari mana kau mendapatkan pemikiran seperti itu? aku akan mati jika aku membunuh anggota Laba-laba?" tanya Kurapika marah, meragukan pernyataan yang ia dengar sebelumnya.

Alis mata Kairo sedikit mengernyit. "Kau belum pulih. Kembali ke tempat tidurmu."

"Tidak." Kurapika menolak dengan tegas dan tetap diam di tempatnya berdiri sekarang.

"Kurapika." Nada suara menggertak terdengar jelas di suara pamannya itu tapi Kurapika tidak gentarsedikit pun. Akhirnya, dengan sebuah helaan napas tanda menyerah, Kairo menyetujuinya. "Baiklah. Aku akan memberitahumu segalanya tapi kembalilah dan berbaring di tempat tidurmu terlebih dahulu."

Si Gadis Kuruta pun patuh dan berbaring di tempat tidur untuk melanjutkan istirahatnya. Kairo menarik sebuah kursi dan duduk di dekat keponakannya. Elite Seven sudah ia bubarkan sebelum dirinya masuk ke kamar Kurapika.

"Ya?" tanya Kurapika tak sabar.

Kairo mengangguk. "Ingatkah kau ketika Bibi Zali meninggal?" ia bertanya dan Kurapika mengiyakan. Bagaimana bisa dia melupakan bibi yang paling menakjubkan yang pernah dia miliki dalam hidupnya? "Dia juga seorang Pengguna Nen dan memiliki kemampuan dengan tipe spesialisasi." Kairo berhenti sejenak lalu melanjutkan, "Kemampuannya unik. Dia bisa memanipulasi Nen orang lain dengan menyentuh mereka dan membiarkan Nen-nya sendiri memasuki orang itu untuk menggabungkan kedua Nen tersebut."

Kurapika lalu teringat ketika dia melihat aura lemah berwarna putih berpendar dari tangan bibinya ke tangannya. "Jadi..."

"Ya, sebelum dia meninggal, dia memanipulasi Nen milikmu," Kairo menjelaskan padanya.

"Manipulasi seperti apa tepatnya?"

"Zali tak ingin kau menapak di jalan balas dendam. Jadi dia memutuskan untuk menambahkan dua syarat ke pisau Nen di jantungmu." Kairo menjawab dengan jujur, menunjuk dada Kurapika di mana jantungnya berada. "Jika kau membunuh anggota Genei Ryodan, siapapun dia, kau akan mati."

Mata Kurapika terbelalak dan dia hampir saja beranjak bangun jika Tn. Bethel tidak memaksanya berbaring kembali ke tempat tidur. Jika dia tak bisa membunuh Geng Laba-laba lagi, jadi apa kegunaan rantainya yang diciptakan khusus untuk pembalasan dendamnya menghadapi Geng Laba-laba?

"Bagaimana...bagaimana mungkin Bibi Zali melakukan hal ini padaku? Dan kenapa kau tak memberitahuku?" Kali ini, dia berusaha beranjak duduk untuk menatap lebih jelas wajah pamannya.

"Dia menyayangimu, Kurapika." Pamannya berusaha menjelaskan namun Si Kuruta menggelengkan kepalanya dengan marah, menampakkan ketidaksetujuannya dengan ekspresi hancur terlihat di wajahnya yanglembut.

"Tidak! Jika dia menyayangiku lalu kenapa dia melakukan ini! Aku benci hal ini!"

Kairo mengernyit dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Inilah alasan tepatnya kenapa aku tidak memberitahumu sejak awal. Siapa yang bisa menduga kau akan bertemu Geng Laba-laba semalam?"

Kurapika mendongak, dengan mata merahnya yang hampir terlihat berkaca-kaca. "Kau...bilang ada dua syarat. Apa itu?" dia bertanya.

"Ini tentang mata merahmu," Kairo menjelaskannya lagi. "Nen Zali menahan dirimu menggunakan mata merah itu. Selama emosi yang menyebabkan matamu berubah warna menjadi merah yaitu kemarahan atau apapun yang berkaitan dengan rasa marah, akan melemahkan stamina dan kekuatanmu dan kau akan tiba-tiba tak sadarkan diri. Itulah kenapa aku memperingatkanmu untuk tidak menggunakan matamu secara berlebihan."

"Pertama kemampuanku...sekarang mataku?"

"Kurapika..." Tn. Bethel memanggil namanya dan meraih tangan keponakannya itu. dengan lembut ia membelai tangan Kurapika untuk menenangkannya. "Pahamilah bibimu. Dia menyayangimu lebih dari apapun. Sekarang kau adalah putrinya; putri kami."

Kurapika menundukkan kepalanya lagi dan kembali berbaring. Dia mendongak, memandangi pamannya. "Apakah ada jalan untuk mengangkat syarat baru itu dan Nen Bibi Zali di dalam diriku?" Dia bertanya pelan dan yang membuatnya senang, Kairo menganggukkan kepalanya.

"Ya. Tapi bukan hanya Pengangkat Nen. Bibimu juga menambahkansyarat baru untuk memindahkan Nen-nya dari dalam dirimu."

"Syarat apa itu?"

"Jika kau bisa menyingkirkan penyebab pembalasan dendammu, Nen akan meninggalkan tubuhmu dan syarat baru itu akan diangkat."

Kedua alis mata Kurapika mengernyit. "Penyebab dendamku?"

"Emosi apa yang menyebabkan dirimu menyamar sebagai seorang pemuda, mengikuti Ujian Hunter, bekerja sebagai pengawal lelaki bagi Keluarga Nostrad, dan mengejar Genei Ryodan?"

Si Kuruta terdiam sejenak sebelum akhirnya dia menjawab, "Kebencian."

Kairo tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Itu benar. Kau harus melenyapkan kebencianmu jika kau ingin bebas dari belenggu bibimu."


Kuroro Lucifer tengah berdiri di atas atap salah satu gedung tertentu di tengah Kota Norsalle yang sibuk. Berita tentang pembantaian di Pelelangan Norsalle pasti sudah disiarkan ke seluruh dunia tapi dia tak peduli. Dia tengah memegangi sebuah kotak yang mudah pecah yang berisi satu dari tujuh benda purbakala yang paling indah; sepasang Mata Merah.

Hari di mana dia membantai Suku Kuruta bersama para anak buahnya, dia yakin bahwa tak ada Mata Merah yang akan membuatnya senang hingga dia bertemu keturunan terakhir Suku Kuruta yang masih hidup yang warna matanya membara lebih terang daripada ketigapuluh enam pasang mata yang dia dapatkan dan dia jual kembali di pasar gelap.

Shalnark menghampiri Danchou-nya. "Danchou, apa yang harus kami lakukan dengan semua mata itu? Apakah kita akan menjualnya?"

Kuroro menggelengkan kepalanya. "Tidak. Kita akan menunggu hingga Si Kuruta datang ke sini untuk mengambilnya," dia menjawab sambil tak mengalihkan tatapannya sedikitpun dari cahaya kota yang tak pernah tidur. "Lalu, kau tahu apa yang akan terjadi kemudian."

"Danchou, kita sedang membicarakan Keluarga Bethel di sini," kata Shalnark dengan sedikit gugup. "Mereka punya relasi, mafia yang kuat takut pada Keluarga Bethel. Bahkan kesepuluh Godfathers yang telah mangkat pun menghormati keluarga itu. Dan bisa kukatakan dari cara Elite Seven bertarung, mereka tidak mengeluarkan seluruh kemampuan yang mereka punya. Bukan hal yang bijak untuk melawan Keluarga Bethel."

"Aku tahu." Jawaban Kuroro yang acuh tak acuh mengejutkan Shalnark. "Itu akan membuat permainan menjadi lebih menarik."

Shalnark tersenyum dan mengangguk. "Ngomong-ngomong Danchou, Nobunaga marah lagi karena tak bisa membunuh Si Pengguna Rantai."

Kuroro menghela napas dan menyerahkan kotak yang dipegangnya kepada Shalnark. "Jaga kotak itu." Dia berkata dan tiba-tiba melompat menuruni gedung hanya untuk berteleportasi ke tanah menggunakan kemampuan teleportasi curiannya.

Pemimpin Geng Laba-laba itu berjalan tanpa tujuan di sekitar Kota Norsalle dan kakinya membawa pria itu ke jalan yang menuju ke Kota Morei. Kota Morei adalah kota di mana pulau pribadi milik Keluarga Bethel dan kediamannya berada. Sebelum Kuroro mengetahuinya, kakinya sudah mulai melangkah menuju ke kota itu.


TBC


A/N :

Udah ngantukk...balas reviewnya nanti digabung aja yaa...makasih xDa

.

Review please...^^