Seoul, 7.15am

Cahaya matahari belum muncul, namun pemuda mungil bermata sipit ini sudah mampu membuka matanya. Badannya meringkuk dalam selimut setelah sebelumnya ia meregangkan ototnya. Badan mungilnya beringsut ke tepi ranjang. Dia mencoba untuk duduk, si mungil ini mengucek matanya imut.

"Hoaamb" Baekhyun menguap sambil melirik ke ponselnya layarnya hidup dan menampilkan deretan notifikasi instagramnya yang tidak pernah habis. Diatas notifikasi instagram, ada sebuah notifikasi Missed Call.

"Oh, Captain Park. Kukira siapa" Ucap Baekhyun. Baekhyun menyambungkan charger nya di ponsel itu, lalu berniat ke dapur. Disaat sampai diambang pintu kamar, Baekhyun terlonjak dan langsung kembali ke kasurnya sambil meneliti dengan seksama apa yang ada di ponselnya.

"Captain Park meneleponku?! Hah???? Bodoh kau, Baekhyun!" Baekhyun kaget, ia menatap nama kontak itu. "Tidak mungkin aku meneleponnya sekarang. Ini terlalu pagi..." Dia bimbang. Bagaimana cara merespon Captain Park? "Akan ku sms saja agar dia bisa membacanya nanti."

To. : Captain Park

Message :

Selamat pagi Captain, maafkan aku. Semalam aku tidak enak badan, jadi aku berniat untuk pulang duluan. Aku juga tidur lebih awal. Maafkan aku tidak bisa mengangkat teleponmu.

SEND

"Ah, aku jadi tidak enak. Hffh" Baekhyun kembali menaruh ponselnya, dia berjalan ke dapur untuk membuat sarapan. Tangannya mengitak atik tangannya sendiri. Dia galau. Hah.

"Noona!! Bangunlah! Jangan bercanda" dia mengguncang raga seorang wanita anggun yang kini telah bersimbah darah.

"Barom hyung! Hyung!!" Dia berteriak memanggil sebuah raga lagi yang tergeletak kaku tak jauh dari wanita tersebut. Orang orang berusaha membantu menjauhkan dua manusia itu dari mobil yang terbakar hebat.

Chanyeol menggendong Jiwon, seorang bayi yang terluka dibagian pelipisnya seorang diri. Chanyeol berteriak meminta tolong dan orang-orang datang, setelah ia menelepon ambulance. Genggaman ponselnya melemah. Dia tidak mampu melihat semua ini.

Chanyeol menggenggam tangan wanita itu. "Noona, bangunlah. Jangan membuatku bingung. Baekhee noona bangunlah kumohon" darah terus mengucur di ujung kepala dan pinggang dari wanita itu.

Dengan sekuat tenaga, wanita itu mengangkat tangannya berusaha mengusap pipi Chanyeol.

"Chanyeol-ah. K-kumohon jaga Yu Jiwon untukku. Besarkan dia seperti anakmu s-sendiri, bersama k-kekasihmu kelak. Terimakasih sudah m-menjadi adik yang baik. M-m.." Baekhee melemah. "Maaf, bila aku belum bisa menjadi kakak yang baik. Aku menyayangimu Chanyeol-ah." Baekhee mengusap lembut raga anak kandungnya yang pingsan di gendongan Chanyeol. "sayangku, mulai sekarang kau bersama Uncle Park. Semoga kau bisa menjadi anak yang baik, anakku. Kini kau telah menjadi Park Jiwon." Genggaman Baekhee melemah, tiba-tiba usapannya di punggung Jiwon terlepas.

"Noona! Noonaaa!!! Baekhee bagaimana kau bisa meninggalkanku sendiri seperti ini?! Noona!!"

Tok tok tok

"NOONA!!!!" Chanyeol terlonjak dari tidurnya.

"Chanyeol-ah. Kau tidak apa nak?" Seru seseorang dari pintu kamar Chanyeol. Tiba-tiba seorang wanita masuk ke kamar Chanyeol dengan wajah khawatir.

"Eomma?" Chanyeol duduk bersila diatas kasurnya, dia memegang kepalanya sambil terduduk.

"Kau, memimpikan Baekhee lagi?" Nyonya Park mengusap punggung anak gagahnya itu. "Apa yang kau pikirkan Chanyeol? Kenapa kau mengingat kejadian itu?"

"Kemarin saat flightku di dari Osaka menuju Gimpo, aku bertemu seseorang. Coba eomma tebak siapa." Chanyeol menatap eommanya yang sedang bingung.

"Siapa? Jangan buat eomma semakin bingung." Chanyeol terkekeh pelan.

"Aku bertemu Byun Baekhyun. Dan tiba tiba dalam sehari itu kami dekat." Wajah nyonya Park berubah kaget.

"Kau, berteman dengan Byun Baekhyun?" Tanya nya memastikan.

"Iya eomma. Ada kejadian bodoh di bandara kemarin. Karena itu aku mengenalnya." Chanyeol tertunduk.

"Kau melihat sosok Baekhee dalam diri Byun Baekhyun? Maka dari itu kau mulai memimpikan hal itu lagi?"

DANG!!

Kata kata nyonya Park tepat sasaran. Chanyeol melirik ke eommanya. "Hanya raga dan namanya saja mirip eomma. Kepribadiannya sangat berbeda". Nyonya Park tersenyum dan kembali mengusap punggung Chanyeol menenangkan. Setidaknya Chanyeol tidak membandingkan Baekhyun dan Baekhee. They're totally different.

"Baiklah eomma, aku akan bersiap kekantor." Chanyeol mencium pipi eommanya lalu beranjak dari ranjang.

"Kau ada penerbangan? Bukankah ini hari kamis?" Eommanya juga beranjak dan berniat keluar dari kamar Chanyeol.

"Tidak, ada laporan yang harus kutangani." Jawab Chanyeol. Dia mengambil sebuah underwear dan berjalan ke kamar mandi.

"Itu Baekhyun, Yeol. Bukan Baekhee." Chanyeol mengusap matanya yang masih terasa mengantuk.

Chanyeol melepas kaosnya, ia menatap matanya sendiri dicermin. Tatapannya tajam, mencari kepastian dimatanya sendiri.

"Baekhyun, mengapa aku sangat tertarik denganmu?" Chanyeol menegakkan badannya. Menepuk abs nya sebentar, lalu bergegas mandi.

Sementara itu di ruang makan, nyonya Park sedang menyiapkan sarapan. didepannya terlihat seorang bayi yang sibuk merapihkan serbetnya di leher.

"Ameoh..!! Ameonyi!" Jiwon menggebrak bangku bayinya. Dia terlihat sangat excited dengan menu sarapan pagi ini. Apa lagi kalau bukan telur dan kornet kesukaannya.

"Tunggu sebentar sayang, kita menunggu appamu ya?" Nyonya Park menengok kearah kamar Chanyeol. Tidak lama, Chanyeol keluar dari kamarnya lengkap dengan kemeja putih dan tidak lupa lencana black gold serta placard namanya.

"Good morning mines!" Sapa Chanyeol sembari mencium pipi nyonya Park, dan mengecup singkat bibir Jiwon.

"Appaa.. paah... mam...meonyii maamm..." Jiwon mengambill lalu menggenggam sendok bayinya. Nyonya Park mengambil bubur bersama kornet telur kesukaan Jiwon. Bayi imut ini sangat antusias saat makanannya datang. Jiwon berusaha untuk makan sendiri. Chanyeol tersenyum meliriknya.

"Cucu meoni sudah besar. Sudah bisa makan sendiri." Nyonya Park mencubit gemas pipi Jiwon yang sibuk makan. Chanyeol mengusap ujung bibir Jiwon yang terkena bubur.

"Eomma, menurut eomma, Byun Baekhyun itu seperti apa?" Tanya Chanyeol tiba tiba, membuat nyonya Park mendelik kearahnya. Nyonya Park berusaha menjawab Chanyeol.

"Badannya terlihat mungil, wajahnya cantik, tapi dia laki-laki, itu membuatnya terlihat aneh." Chanyeol tersenyum tipis.

"Eomma, maksudku kepribadiannya.." jelas Chanyeol. Ia sungguh penasaran pada kesan eommanya terhadap Baekhyun.

"Oh.. Selama ini aku hanya melihatnya melalui televisi. Kepribadiannya biasa saja. Bisa saja ia melakukannya karena didepan kamera? Tidak sedikit penyanyi yang seperti itu Chanyeol-ah" Nyonya Park mengambilkan makanan untuk anak tampannya itu. Chanyeol tersenyum lagi, dia mengusap tangannya sendiri.

"Tidak semua artis seperti itu eomma. Biar kubuktikan nanti haha. Selamat makan!" Ucapnya sambil memakan sarapan nikmat dari Nyonya Park.

"Kau sungguh sombong setelah berteman dengan seorang artis!" Nyonya Park mengusap kepala Chanyeol dengan gemas. "Disini ada dua bayi imutku" mereka terkekeh pelan.

Tidak lama, Chanyeol menyelesaikan sarapannya. Dia langsung bersiap untuk ke kantor, mengencangkan lencana dan jam tangan Rolex nya.

Chanyeol mencium kening Jiwon sekilas. "Jaga Jiwon eomma. Aku berangkat dulu. Bye bye". Pria tinggi ini berjalan sedikit tergesa ke mobilnya.

Drrttr drrttt

Ponselnya berdering. Chanyeol mengambil ponselnya dan langsung menekan tombol hijau.

"Apa Sehun-ah?"

"Kau ke kantor kan? Aku ingin bicara."

"Iya, aku sedang dimobil. Bicara apa? Sepenting itu?"

"Baiklah, kita bertemu di kantor saja."

"Kau ini meneleponku hanya untuk sesuatu mengganjal seperti ini? Keparat."

"Hehe, aku ijin terlambat hyung."

"Kenapa? Kau dimana?"

"Aku? Di apartment. Tapi.. urusanku dan Luhan belum selesai."

Chanyeol berfikir sejenak. Tidak lama, dia terkekeh. "Ah, sialan. Baiklah. Jangan terlalu lama Sehun-ah. Kutunggu nanti, sampai jumpa."

Bip

Chanyeol menggelengkan kepalanya. Tidak habis pikir dengan co-pilotnya yang satu ini. Terlewat mesum.

Seoul, Arirang Office - 12.25

"Meeting di Nature Republic dicancel sampai besok. Aku yang akan menghadirinya Baekhyun-ie" Minseok duduk di sebelah Baekhyun yang sedang meminum jus strawberrynya dengan imut. Baekhyun mengangguk.

"Hmm, Minseok hyung.. Tentang seseorang yang mengembalikan sabunku kemarin.." Baekhyun menggantung kata-katanya. Ia menaruh jusnya perlahan.

"Kenapa? Dia memknta imbalan?" Potong Minseok.

"Eh! Tidak! Bukan seperti itu.." seru Baekhyun sambil melambaikan tangannya.

"Lalu? Apa dia melakukan sesuatu yang tidak baik padamu?" Baekhyun kembali menggeleng. Minseok semakin penasaran. "Lalu ada apa?"

"Dia.. tampan. Dia pilot dari penerbanganku kemarin.." Minseok menegakkan badannya sambil melotot ke arah Baekhyun.

"Pilot? Kau serius?" Minseok menelisik. Pandangannya berubah menjadi tajam kearah Baekhyun. "Kau menyukainya? Kau punya sns nya?" Baekhyun mendelik bingung.

"Ung, tidak tau.. aku bingung hyung. Dia sudah 3 kali membuatku ingin terbang. Aku punya nomornya, dia memberikan kartu namanya padaku.. tapi.. dia bisa menghubungiku duluan, padahal aku tidak memberikan nomorku padanya.."

"Bagaimana kau tau dia yang menghubungimu?"

"Aku menyimpan nomornya semalam sebelum tidur. Lalu tengah malam dia meneleponku.. dipagi hari, ada missed call darinya.."

"Apa 3 hal darinya yang membuatmu ingin terbang?"

"Saat dipesawat, dia menyebut namaku melalui microphone, saat dibagikan lunch dipesawat, dia memberikanku strawberry pudding dengan notes 'senang berjumpa denganmu Byun Baekhyun'. Lalu kemarin saat dia mengembalikan sabunku di Kyunghee, dia memberiku lipbalm dengan jarinya saat bibirku terlihat pucat." Minseok memelototkan mata bayinya makin besar.

"BAGAIMANA BISA DIA KE KYUNGHEE? DIA MENGIKUTIMU? DASAR PSIKOPAT" Minseok panik, Baekhyun kaget lalu menenangkan.

"Bukan seperti itu! Hey, dengarkan aku dulu bapao!" Seru Baekhyun, Minseok mengelus dadanya.

"Dia mengantar ayahnya. Ayahnya adalah guru besar di Fakultas politik." Lanjut Baekhyun. Minseok masih menatap Baekhyun dengan penasaran.

"Kau suka dengannya, Byun?" Tanya Minseok to the point. Baekhyun menundukkan kepalanya.

"Aku tidak tau.. hmm. Dia sudah memiliki istri." Baekhyun mendengus. Lalu Minseok kembali melotot.

"Jangan dekati dia. Kau ingin menghancurkan rumah tangga orang ha?" Hardiknya. Baekhyun manyun, dia menyesal mengatakan ini pada Minseok.

"Hyung, aku hanya mencurahkan isi hatiku saja. Jangan marahi aku terus menerus!" Baekhyun memanyunkan bibirnya.

"Darimana kau tau dia punya anak?"

"Ada fotonya bersama Bayi didompetnya, aku melihatnya saat dia mengambil kartu nama untukku. Saat kutanya itu siapa, dia bilang itu anaknya."

"Dasar, lelaki kurang ajar. Sudah punya istri dan anak, tapi masih saja menggoda orang lain! Kau membawa kartunamanya? Aku penasaran siapa dia!" Minseok masih terlihat kesal dengan pilot yang dibicarakannya dengan Baekhyun. Baekhyun mengambil kartunama Chanyeol dan memberikannya pada Minseok.

"Itu hyung, dia memberikannya setelah dia memberi lipbalm padaku." Minseok melihatnya baik baik. Namanya Park Chanyeol. Tidak lama, Minseok menatap foto Chanyeol di kartu itu.

"Apakah ini dia?" Tanya Minseok, dan Baekhyun hanya membalasnya dengan anggukan. Minseok melihatnya secara seksama.

3

2

1

"Baekhyun-ie, dia tampan sekali.. astaga.. ugh, badannya gagah... Ah? Matanya juga besar. Oh astaga, lihat senyumnya sangat menawan.." Minseok menggenggam kartu nama itu dengan kuat. Baekhyun yang melihatnya, hanya mampu memutar bola matanya.

"Ya! Yaaakk!!" Baekhyun merebut kartu nama Chanyeol. "Tadi kau benci padanya, mengapa sekarang memuji muji eoh?" Baekhyun merengut.

"Dia sangat tampan.. tapi.. aku tetap tidak akan membiarkanmu mendekatinya. Dia sudah berkeluarga Baekhyun-ie baby. Ingat itu." Minseok beranjak dari kursinya, lalu membereskan berkas-berkas interview Baekhyun.

"Istrimu sangat beruntung, Park." Ucap Baekhyun sambil mengusap kartu nama Chanyeol.

Drrrt drrrtt

Baekhyun mengambil ponselnya.

Incoming call

Captain Park

Seketika Baekhyun melotot. Baru saja dia membicarakan Chanyeol, sekarang dia menelepon. Apa yang harus dia lakukan? Baekhyun dilema. Dia bingung antara harus menjawabnya atau tidak.

"Bagaimana ini. Tidak mungkin aku memberitau Minseok hyung jika Chanyeol menelepon, dia kan tidak suka Chanyeol. Hmm.." Baekhyun menggigit ujung kukunya. Baekhyun berlari kecil keluar dari studio interview itu, dia berjalan ke pantry terdekat. Baekhyun terdiam dan masih menatap ponselnya. Hingga akhirnya dia mengangkat panggilan itu.

"H-halo?"

"Baekhyun-ssi? Ini aku Park Chanyeol." Baekhyun meremas celananya. Dia sangat gugup sekarang.

"Ah, iya. Halo captain Park, ternyata kau ya hehe.."

"Iya.." jawab Chanyeol dengan gugup. Beberapa detik, tidak ada suara dari keduanya. Astaga suasana ini sangat awkward.

"Apakah kau/hari ini kau tid.." keduanya memulainya bersama, sungguh ini sangat menggemaskan.

"Haha, baiklah apa yang mau kau katakan Baekhyun-ssi?" Ucap Chanyeol sambil terkekeh. Baekhyun tersenyum geli dibalik sambungan itu.

"Hehe, tidak. Apa kau tidak bekerja Captain?" Tanya Baekhyun basa basi. Sungguh Baekhyun tidak pernah segugup ini.

"Aku baru saja selesai menyelesaikan laporan dari maskapai. Kau tidak bekerja?" Chanyeol mengetukkan ballpoint nya di meja.

"Aku..juga baru saja selesai interview. Seharusnya setelah ini ada meeting, tapi diundur hingga besok." Baekhyun menjawab seperlunya.

"Hmm" Chanyeol terdengar berfikir. "Kau free setelah ini?"

Baekhyun mengangguk sambil memainkan kakinya. "Iya" jawabnya singkat.

"Ingin minum kopi?" Chanyeol menggigit lidahnya. Pertama kalinya dia mengajak seseorang minum kopi. Biasanya dia hanya diajak saja.

"Sebentar.." Baekhyun menatap jam tangan rolex miliknya, dia pikir tidak apa apalah. Toh dia juga tidak ada pekerjaan lagi. Dengan catatan tidak usah melapor ke Minseok, karena hyung rasa eonni nya tersebut pasti akan cerewet jika mengetahui Baekhyun pergi bersama Chanyeol. "B-baiklah. Tapi, ijinkan aku pulang dulu? Karena aku tidak membawa mobil pribadi." Pinta Baekhyun dengan gugup.

"Ah, tidak usah. Kau dimana sekarang? Biar aku menjemputmu saja. Kebetulan aku sudah bersiap." Chanyeol berdiri dari mejanya sambil membawa tas kecilnya.

"Ah tidak tidak, nanti Minseok hyung menge--" Baekhyun hampir saja keceplosan. Tapi jika tidak dijemput Chanyeol, Baekhyun harus menunggu Minseok selesai dengan urusannya di Arirang selama dua jam. Baru setelah itu dia bisa menemani Chanyeol. Baekhyun memutar otaknya. "Captain, kau tau toko bunga diseberang gedung Arirang? Tunggulah aku disitu." Jelas Baekhyun.

"Oh, baiklah. Aku kesana sekarang. Kau tunggu aku ya? Sampai jumpa Baekhyun-ssi"

Beep

Chanyeol menutup sambungan teleponnya. Dia berjalan cepat ke basement, dia berjalan melewati beberapa pegawai dan mereka membungkuk.

Tiba-tiba seorang karyawan menghentikan pergerakan Chanyeol sambil menunjukkan beberapa kertas. "Captain, we need your permission for changing some flight schedule in some airport." Chanyeol kaget.

"What? Why we should change it? There's no problem with our financial condition right?" Chanyeol membaca kertas itu dengan cepat.

"Cause there's three company that already change their flight schedule. And.. without any reason." Karyawan bernama Lily itu menjawab pertanyaan Chanyeol dengan gugup. Atasannya ini terkenal tegas. Chanyeol meneliti setiap detail laporan itu.

"Who the hell is that?" Suara Chanyeol sedikit menggema dan mampu membuat keadaan menjadi sunyi. Karyawan disekitarnya tidak ada yang berani menatap walaupun mereka mendengar pembicaraan tersebut. "Is this for all flights? We should change all flight schedule?"

"No sir, only flight with destination to Europe airport." Lily menunjukkan tabelnya.

"Why so suddenly like this... Okay. Contact Incheon, ask them for give us flights schedule, how many airplane that have Europe destination per day. When you get that all, email me as soon as possible. I'll give the result tomorrow. I have no time for now. I'm so sorry, thank you." Chanyeol merasa badmood tiba-tiba. Dia berjalan menjauhi Lily.

"Yes sir"

"Ah, sorry Lily. May i take these?" Chanyeol kembali menghadap Lily dan menunjuk kertas yang ada di ganggaman karyawan asing tersebut. Lily menyodorkannya sambil tersenyum.

"Thank you." Chanyeol sedikit pening, tapi dia tetap harus menemui Baekhyun, Chanyeol tidak ingin di cap 'PHP'. Chanyeol berlari kecil ke basement, dia masuk ke mobil sembari melempar laporannya ke jok sampingnya, lalu menyetel GPS nya ke gedung Arirang, dan bergegas berangkat.

Tidak lama, Chanyeol hampir sampai di gedung Arirang, dia mengirim pesan ke Baekhyun saat mobilnya berhenti di traffic light.

To : Byun Baekhyun

Message :

Aku sudah hampir sampai. Kau keluarlah dari gedung.

SEND

Disisi lain, Baekhyun sedang berusaha menemui Minseok.

"Hyung, sebentar lagi temanku menjemput. Aku ijin untuk menemuinya ya?" Baekhyun bersikap manis pada hyungnya itu. Minseok sedang sibuk memilah laporan dan schedule Baekhyun di Arirang.

"Jam berapa kau akan pulang?" Tanya Minseok sinis. Baekhyun mulai tidak yakin dengan ini.

"Mungkin nanti malam. Tenang saja, aku tidak akan macam macam. Hanya pergi bersenang senang saja." Lanjut Baekhyun. Ia berpura-pura santai, padahal dalam hatinya dia sangat gugup, dia takut tidak mendapat ijin dari Minseok.

"Baiklah. Kabari aku, jangan berhenti mengabariku." Balas Minseok singkat. Dia sangat sibuk sampai sampai mengobrol dengan Baekhyun tapi tidak menatapnya.

Baekhyun tersenyum dan langsung bergegas membereskan barangnya. Dia sudah berganti ke setelan baju yang simple. Dengan sweater putih, jeans hitam dan sepatu adidas hitam terlihat sangat modis dipakainya. Baekhyun melirik ke ponselnya, lalu membaca pesan Chanyeol.

"Whaaatt?!" Dia terdiam sejenak. Lalu mengambil dompet dan langsung menuju lift untuk turun ke toko bunga diseberang Arirang. Tak lupa dia memakai topi hitamnya.

"Tenang Baekhyunie.. tenang.." dia menenangkan dirinya sendiri. Baekhyun keluar dari gedung, lalu menyebrang jalan dan berhenti didepan toko bunga tersebut. Tidak lama, sebuah sedan audi berwarna hitam berhenti di depannya. Pengemudinitu menurunkan jendela mobilnya didepan Baekhyun, menampilkan seorang pria berlencana pilot didalamnya.

"Kau menunggu lama? Ayo masuk" ucap pria itu.

"Baru saja Captain Park hehe. Terimakasih" Baekhyun masuk ke mobil Chanyeol, ia memasang sabuknya disana.

"Jadi, kita mau kemana?" Tanya Baekhyun.

"Kau mau mampir ke cafeku?" Tanya Chanyeol sambil menghidupkan lagu. Baekhyun tersenyum.

"Captain punya cafe? Tentu saja boleh. Apakah jauh?" Antusias Baekhyun. Hal ini membuat Chanyeol gemas padanya.

"Tidak, ya hanya 20 menitan. Hm, Baekhyun-ssi, bisakah kau tidak memanggilku dengan sebutan seperti itu? Aku jadi seperti merasa sedang dinas saja" Chanyeol sedikit terkekeh.

"Ah, baiklah capt.. maksudku Chanyeol-ssi. Maafkan aku ya?" Baekhyun menggaruk tengkuknga. "Oh iya, ngomong-omong dari mana kau dapat nomorku?" Tanya Baekhyun penasaran.

"Oh itu. Astaga. Maaf aku tidak bilang padamu. Aku mendapatkan nomormu dari Kim sajangnim. Aku kaget kau tidak ada kemarin. Kau sakit, jadi aku sedikit khawatir. Hehe" jawab Chanyeol. Pipi Baekhyun memerah sedikit. Astaga Chanyeol sungguh kelewat gombal.

"Aku tidak apa apa Chanyeol-ssi, jangan khawatirkan aku seperti itu. Aku jadi tidak enak. Kemarin aku pulang duluan, aku pikir dengan banyak istirahat aku akan membaik. Dan ternyata benar." Baekhyun menutupi malunya, dia sebenarnya tersipu. HAHA. Tidak sengaja Baekhyun melihat gantungan yang ada di spion tengah, terlihat ada sebuah bingkai gantung berisi foto Chanyeol bersama seorang bayi. "Ah iya. aku ingin bertanya. Berapa umur anakmu?" Baekhyun mencoba berbasa basi.

Chanyeol tersenyum. "Dia baru mau masuk tahun keduanya, imut sepertiku kan?" Goda Chanyeol. Oh ayolah, Byun yang satu ini tidak kuat menahan senyumnya.

"Astaga Chanyeol-ssi, kau kepedean sekali. Haha" Baekhyun menggelengkan kepalanya. "Siapa namanya?" Baekhyun menggenggam gantungan itu, dan melihat foto Chanyeol dengan seksama.

"Park Jiwon. Dia sudah bisa makan sendiri. Pintar seperti ayahnya kan?" Pede Chanyeol lagi. Baaekhyun terkekeh.

"Ya, terserahmu lah. Kau sangat berlebihan! Kekekeke" Baekhyun mengelus foto bayi itu. "Entah, tapi mengapa aku merasa dia mirip denganku?" Kalimat Baekhyun mengagetkan Chanyeol. Senyum Chanyeol pudar, dia mengedipkan matanya. Bingung harus berkata apa. Tak terasa, mereka sudah sampai di cafe Chanyeol.

"Baekhyun-ssi, kita sudah sampai" Chanyeol parkir didepan cafe tersebut. Ia dan Baekhyun keluar dari mobil sambil berbincang ringan.

Seseorang membukakan Chanyeol dan Baekhyun pintu, karyawan itu menunduk. "Silahkan tuan Park." Baekhyun ikut menunduk, padahal Chanyeol yang disapa. --Piye sih mbak--

Ada banyak foto Chanyeol disana, cafe ini bernama Viva Polo. Baekhyun berdiam sejenak lalu ia menyadari sesuatu.

"Chanyeol-ssi, jadi kau pemilik cafe ini? Astaga, managerku baru saja mau mengajakku nongkrong disini. Cafe ini sedang hitz haha" Baekhyun tertawa, Chanyeol hanya membalasnya dengan senyum. Mereka berdua masuk ke VIP area.

"Iya, begitulah. Semua menu di cafe ini adalah kreasi ibuku. Jadi daripada kemampuan ibuku tidak tersalurkan, lebih baik aku memanfaatkannya." Ucap Chanyeol sembari menarik kursi untuk Baekhyun.

"Terimakasih.." Baekhyun duduk dengan manisnya lalu melepas topi hitamnya, membuat rambut halusnya tergerai rapih. Dia membuka menu yang diberikan oleh beberapa waiters disebelahnya. "Lalu dimana ibumu? Apa dia disini?" Tanya Baekhyun.

"Eommaku.. sebentar. Apa eomma disini?" Chanyeol beralih ke karyawannya.

"Tadi beliau kemari bersama tuan muda Jiwon setelah jalan jalan dari mall. Lalu mereka ijin untuk kembali ke rumah, tuan." Jawab pegawai itu.

"Oh baiklah. Sayang sekali Baekhyun-ssi, kita tidak bertemu eommaku haha" Chanyeol menatap Baekhyun.

"Iya tidak apa, besok pasti ketemu kan? Kkk. Oh iya, aku ingin vanilla latte dulu saja" ucap Baekhyun sedikir girang. Dia menghentakkan kakinya kecil. Chanyeol melihatnya, menurutnya Baekhyun sangat imut. Chanyeol memegang dadanya sambil menutup mata. Chanyeol berusaha mengatur detak jantungnya saat melihat kelakuan Baekhyun. Pegawai itu mengangguk lalu meninggalkan mereka berdua.

"Chanyeol-ssi, kau tidak apa? Kau tidak pesan?" Kalimat Baekhyun menyadarkan Chanyeol. Chanyeol menyandarkan badannya ke sandaran sofa singlenya.

"Aku baik, mereka sudah tau apa yang aku inginkan Baekhyun-ssi." Chanyeol tersenyum menawan.

"Ah, aku lupa cafe ini milikmu. Oh iya, apakah istrimu juga bekerja?" Pertanyaan Baekhyun membuat senyum Chanyeol menghilang. Baekhyun menegakkan badannya kaget, dia takut salah bicara.

"aku belum beristri" jawab Chanyeol.

"tunggu, lalu Jiwon?" Baekhyun mengerutkan keningnya.

"Dia bukan anakku, kau salah paham." Jawab Chanyeol sembari kembali menyunggingkan senyumnya.

"Maksudmu? Tunggu, kau bilang dia anakmu?" Baekhyun merasa mengganjal.

"Iya, tapi bukan anak kandungku. Dia anak dari noonaku yang meninggal 8 bulan yang lalu. Aku menjadikan Jiwon anakku karena noona ku yang meminta agar aku merawat dan membesarkan Jiwon." Jelas Chanyeol dihadapan Baekhyun. Baekhyun menutup mulutnya kaget, dia sungguh tidak bermaksud mengingatkan Chanyeol pada noonanya.

"Chanyeol-ssi, m-maafkan aku. Aku sungguh tidak bermaksud.. maaf.." Baekhyun menepuk bahu Chanyeol.

"Aku tidak apa apa Baekhyun-ssi." Chanyeol mengusap lembut tangan Baekhyun yang terulur di bahunya, sebelum Baekhyun kembali menarik tangannya. "Kau. Mirip noonaku."

"N-ne?" Baekhyun mengedipkan matanya bingung. Apa maksud Chanyeol? Pandangan Chanyeol terlihat kalem, seperti sedang membayangkan sesuatu.

"Wajahmu mirip noonaku. Karena itu aku kaget saat melihatmu di TV pertama kali. Ibuku yang menyadarinya." Chanyeol menatap Baekhyun.

"S-sungguh? Siapa namanya? Apakah semirip itu?" Bingung Baekhyun. Chanyeol menjawabnya dengan anggukan.

"Dia seorang dokter. Sebelum kejadian itu dia sedang berada di Jepang untuk menghadiri seminar kedokteran. Dia pulang ke Korea siang hari, sama persis seperti jam penerbangan kita kemarin. Saat sampai di Gimpo, dia dijemput oleh Suaminya dan Jiwon. Diperjalanan kembali kerumah, mobil mereka tertabrak mobil sedan yang dikendarai oleh pemabuk. Kecelakaan itu kecelakaan terburuk di tol Gimpo. Kecelakaan itu terjadi tepat saat aku baru saja keluar gate Gimpo, itu kepulanganku dari Guangzhou, aku menyetir melewati tol, dan diruas tol bagian selatan, banyak mobil berhenti. Aku melihat mobil terbakar. aku menghentikan mobilku dan keluar untuk melihat kecelakaan apakah itu. Namun aku kaget saat melihat mobil Barom hyung yang terbalik dan terbakar. Seketika itu aku langsung berlari mendekati tempat kejadian. Aku melihat jenazah Barom hyung yang badannya sudah dijauhkan dari mobilnya yang terbakar oleh beberapa penolong. Dan.." Chanyeol menahan ucapannya, Baekhyun mengusap tangan besar Chanyeol yang berada diatas meja. Mata Chanyeol sedikit berair, namun nadanya masih terdengar kuat.

"Aku melihat noona disana. Tidak jauh dari Barom hyung" Baekhyun menggenggam tangan Chanyeol sedikit erat, berusaha menguatkan.

"Noona memeluk Jiwon dengan erat, seperti berusaha melindungi a-anaknya dari bahaya. K-kepala dan pinggangnya berdarah." Air mata Chanyeol menetes pelan dari mata bulatnya. Entah kenapa hati Baekhyun perih mendengar cerita Chanyeol. Chanyeol pasti sangat mencintai noonanya.

"Jiwon menangis, sesegera mungkin aku menggendong Jiwon dan memeluknya.Tidak lama Jiwon pingsan dipelukanku. Aku berusaha menelepon ambulance, walaupun orang-orang bilang mereka sudah meneleponnya. Tapi ambulance itu terlalu lama. Karena aku melihat noona masih bisa menggerakkan jari tangannya, aku percaya dia masih hidup. Lalu aku mengguncangkan badannya perlahan. Disitulah dia berpesan agar aku menjaga dan merawat Jiwon. Itu pesan terakhirnya." Chanyeol menutup matanya dan mengusap airmatanya.

"Wah, aku kan jadi menangis begini Baekhyun-ssi. Maaf ya. Hehe" Baekhyun mengedip, dia juga mengusap matanya yang berair.

"Tidak apa apa Chanyeol-ssi. Kau adalah adik yang sangat baik. Noonamu pasti akan bahagia dan bangga padamu. Aku yakin itu." Baekhyun terus mengusap tangan Chanyeol. Chanyeol tersenyum karenanya.

Tidak lama, pesanan mereka datang. Saat pegawainya datang, Baekhyun melepas genggamannya dari tangan Chanyeol. Pipinya memerah. Baekhyun langsung meminum vanilla lattenya. Terlihat Chanyeol hanya meminum segelas Cappuccino. "Chanyeol-ssi, ini enak sekali" senyum Baekhyun mengembang.

"Pesanlah lagi jika kau mau" tawar Chanyeol, Baekhyun hanya menggeleng.

"Ini saja cukup kok" Baekhyun menyedot vanilla lattenya sambil melihat sekeliling cafe bernuansa modern klasik tersebut. Chanyeol juga mengekor pandangan Baekhyun. Chanyeol mengeluarkan ponselnya, lalu menyodorkannya pada Baekhyun.

"Baekhyun-ssi, ini foto noonaku." Baekhyun melihatnya dengan seksama, Baekhyun melotot dan hampir tersedak minumannya sendiri. Dia memegang ponsel Chanyeol, dia seperti melihat dirinya difoto itu.

"Kalian berdua sangat mirip. Aku dan eomma sampai kaget." Baekhyun hanya mengangguk. Dia mengembalikan ponsel Chanyeol lalu menyamankan duduknya.

"Kenapa bisa semirip itu. Aku saja juga kaget." Ucapan Baekhyun membuat Chanyeol ingin terbahak, tapi Chanyeol menahannya.

"Wajahmu lucu sekali saat kaget melihat foto noonaku." Chanyeol gemas.

"Siapa nama noonamu?"

"Baekhee." --terdengar seperti 'baek-ie'--

"Ne Chanyeol-ssi?" Baekhyun merasa terpanggil. Chanyeol meliriknya, dan kembali terkekeh.

"Tidak, maksudku.. hm bagaimana ya, nama noonaku adalah Baekhee." Untuk kesekian kalinya Baekhyun melotot. Ini seperti sebuah kebetulan yang berlebihan. Memiliki wajah yang sama, bahkan namapun sama.

"Hah.. bagaimana bisa.." jangankan Baekhyun, Chanyeol saja juga masih bingung menerim semua ini.

Mendengar cerita Chanyeol, Baekhyun merasa sedikit lega. Bukan karena meninggalnya Baekhee, tetapi karena kenyataan bahwa ternyata Chanyeol tidak beristri. Namun tetap saja, impian Baekhyun untuk mendapatkan Chanyeol tidak akan mampu diraihnya. Karena Baekhyun menyadari bahwa ia adalah laki-laki. Sama seperti Chanyeol.

Captain, kau sulit untuk diraih!'

Ucap Baekhyun dalam hati. Dia sadar dia tidak akan mampu memiliki Chanyeol, maka ia merasa bahagia saat mampu bertemu Chanyeol.

"Baekhyun-ssi, ada suatu hal yang ingin aku ungkapkan lagi. Tapi, tidak disini." Wajah Chanyeol menegang lagi.

"Apa itu? Apa kita harus pindah restoran?" Tanya Baekhyun polos.

"Tidak, sudah ikutlah saja. Bagaimana?" Ajak Chanyeol sedikit memaksa. Baekhyun mengangguk. Akhirnya mereka meninggalkan Viva polo dengan Cappuccino Chanyeol yang masih setengah gelas. --boros ae pak pilot--

Chanyeol membawa Baekhyun ke suatu tempat. Richard Park 1992 tertulis di tembok gerbang depan rumah mewah itu, secara langsung Baekhyun tau itu adalah rumah Chanyeol. Baekhyun menegang. Dia gugup sekarang. Apa yang hendak diungkapkan Chanyeol, mengapa harus kerumahnya?

"Ini, rumahmu?" Tanya Baekhyun mencairkan ketegangan. Chanyeol mengangguk. Dia menghentikan mobilnya tepat didepan pintu rumahnya. Chanyeol keluar dari mobil, disusul Baekhyun yang langsung berjalan ke pintunya.

"Silahkan masuk" Chanyeol membukakan pintu untuk Baekhyun, namun Baekhyun terdiam.

"Untuk apa kau membawaku kesini?" Baekhyun mengamati sekeliling, dia takut Chanyeol melakukan sesuatu padanya. Meskipun terlihat sudah dekat, namun Chanyeol tetap saja orang asing.

"Jawabannya ada didalam, Baekhyun-ssi." Chanyeol masuk de dalam rumah duluan. Baekhyun menyusul nya dengan berjalan perlahan dibelakang Chanyeol.

"Chanyeol, kau bersama siapa?" Sebuah suara menginterupsi keduanya. Baekhyun dan Chanyeol menengok ke sumber suara.

"Eomma, aku bersama Byun Baekhyun. Dan Baekhyun-ssi, ini eommaku." Chanyeol mengenalkan keduanya satu sama lain. Nyonya Park menutup mulutnya dengan dua tangan. Baekhyun menunduk rendah kepada nyonya Park.

"B-byun Baekhyun? Bagaimana bisa kau sampai disini. Astaga" nyonya Park terlihat bingung, dia merapihkan bajunya lalu mempersilahkan Baekhyun untuk duduk.

"Kau mau minum apa? Astaga, kau putih sekali. Persis seperti di televisi." Nyonya Park menggandeng tangan Baekhyun untuk duduk di sofa.

"Tidak usah eomma, kami tadi dari Viva Polo. Taejun bilang bahwa tadi siang eomma dan Jiwon kesana?" Ucap Chanyeol.

"Iya, kami dari sana Chanyeol-ah." Nyonya Park mengalihkan pandangannya kepada Baekhyun. "Hm Baekhyun-ssi, anda manis sekali." Nyonya Park menatap Baekhyun dengan lembut dan penuh haru. Airmata wanita paruh baya itu menggenang di pelupuknya. Secara otomatis membelai surai cokelat terang milik Baekhyun. Baekhyun yang tadi tersenyum, aaat ini hanya memandang nyonya Park dengan sedikit heran. Sungguh nyonya Park merasa sedang berhadapan dengan Baekhee.

"Eomma. Dimana Jiwon?" Suara baritone Chanyeol menyadarkan Nyonya Park. Seketika nyonya Park melepaskan Baekhyun dan mengusap matanya yang berair.

"Ah, iya astaga. Jiwon sedang bermain di ruang tengah bersama suster. Kau kesanalah. Ajak Baekhyun-ssi bersamamu. Eomma akan buatkan minum." Baekhyun celingukan memandang nyonya Park dan Chanyeol bergantian.

"Kau ikut aku saja." Chanyeol mengajak Baekhyun, lalu Baekhyun mengikutinya.

"Chanyeol, apa Richard Park itu ayahmu?" Tanya Baekhyun pelan.

"Tidak Baekhyun, itu namaku. Kau melihatnya didepan ya?" Jelas Chanyeol, Baekhyun mengangguk.

"Rumah ini terlihat modern, apakah betul dibangun tahun 1992?" Tanya Baekhyun lagi, Chanyeol hendak terbahak.

"Bukan, itu tahun lahirku Baekhyun" Baekhyun melotot. Dia berhenti berjalan dan menatap Chanyeol kaget.

"Umur kita sama Chanyeol! Kau lahir bulan apa?" Baekhyun mendekati Chanyeol.

"Benarkah? Aku.. Bulan 11. Kau?" Baekhyun menghentakkan kakinya.

"Aku bulan mei.." Baekhyun merengut.

"Wah ternyata kau lebih tua dariku Baekhyun-ssi" Chanyeol terbahak. "Badanmu sangat pendek, dan wajahmu seperti anak kecil. Aku kira kau jauh dibawahku."

"Kau saja yang ketinggian! Eh..? Itu Jiwon?" Baekhyun gemas, tapi Chanyeol menarik Baekhyun menjauh dan menyuruhnya berdiri dibelakang lemari.

"Aku hendak memberitaumu sesuatu. Tapi berdirilah disini. Kau akan mendapat jawabannya. Kau bersedia menunggu kan?" Ucap Chanyeol. Baekhyun mengangguk mengiyakan.

Chanyeol berjalan kearah Jiwon.

"Jiwonnie baby, whatssup?" Sapa Chanyeol pada anaknya. Chanyeol duduk dikarpet teman Jiwon bermain, ja mencium pipi bayi bertinggi 64cm itu. Jiwon bergerak manja ke appanya, bayi 64cm itu memeluk appanya. Chanyeol memberi sinyal kepada Baekhyun untuk menonton situasi ini. Chanyeol meraih remote, lalu menghidupkan Tvnya. Dia menyambungkan smartTVnya ke saluran Youtube, dia mengetik Baekhyun, lalu membuka videonya. Baekhyun mengerutkan keningnya.

"Apa yang dilakukannya?" Mata Baekhyun menyipit, tangannya tersilang didepan dadanya. Videonya diplay, Baekhyun sedikit malu melihat itu.

Jiwon melepas pelukannya pada Chanyeol, bayi itu berjalan terhuyung kearah televisi. Baekhyun melepas silangan tangannya. Ia menatap bayi berpopok menggemaskan itu berusaha mengusap layar televisinya dengan sangat antusias. Chanyeol membiarkan Jiwon menepuk layar televisinya.

"Ammaa!! Ammamaa!!" Jiwon mengetuk ngetuk telapak tangannya. Bayi itu terlihat sangat bahagia, Jiwon berteriak senang. Mata Baekhyun terasa perih, hatinya juga. Sangat kontras terlihat bahwa Jiwon sangat merindukan sosok ibunya. Bahkan bayi itu bisa berteriak sebahagia itu saat melihat wajah Baekhyun di layar kaca. Itu sangat menyayat hati. Itu Baekhyun, bukan Baekhee.

Chanyeol mendengus, menahan harunya. Setiap hari dikala Jiwon menonton televisi dan menyiarkan Baekhyun, Jiwon selalu seperti ini. Terlebih Jiwon berseru memanggil 'amma (eomma)' saat ada Baekhyun.

Kaki Baekhyun mendekat menghampiri Jiwon, Chanyeol menatap Baekhyun yang datang dan berlutut disebelahnya.

"Jiwonnie?" Baekhyun memanggil bayi itu dengan lembut. Jiwon menengok, bayi itu berusaha berlari padahal dia baru saja belajar berjalan.

"Maaa!! Ammaa! Amnammaa!!" Baekhyun menyambut Jiwon dengan merentangkan tangannya lebar. Dia memeluk badan kecil Jiwon dengan erat. Chanyeol memegang dadanya, rasanya sangat menenangkan hati melihat mereka saling berpelukan.

"Ini yang ingin kuberitau padamu, Baekhyun" ucap Chanyeol pelan sembari mengusap kepala kecil Jiwon. Bayi itu melomat bahagia dipelukan Baekhyun.

"Dia memanggilku eomma?" Tanya Baekhyun memastikan.

"Ya, setiap melihatmu di tv dia akan seperti itu." Chanyeol berdiri, dia duduk disofa ruang tengah. Jiwon menarik narik sweater putih Baekhyun, mengajaknya untuk bermain.

"Amma! Kaam hyo!(come here!)" Baekhyun mengikuti Jiwon. Sesekali melirik ke Chanyeol seakan meminta ijin. Chanyeol tersenyum dan mengangguk.

Dada Chanyeol berdegup. Lagi lagi dia merasakan hal ini. Tiba tiba eommanya datang.

"Eomma melihat semuanya." Nyonya Park meletakkan nampan berisi dua gelas jus jeruk itu dimeja. Beliau duduk disebelah Chanyeol sambil mengelus dadanya. "Sohye-ah. Bisa kau tinggalkan kami?" Pinta nyonya Park pada suster yang sedang membereskan mainan Jiwon.

"Baiklah nyonya, tuan. Saya permisi." Sohye membawa kotak mainan Jiwon kembali ke dalam kamar.

"Chanyeol-ah, kenapa kau melakukan ini?" Nyonya Park menatap mata Chanyeol.

"Aku tidak tau eomma. Tiba tiba saja aku ingin mempertemukan mereka." Nyonya Park mengusap pipi Chanyeol.

"Kau tidak seharusnya melakukan ini. Apakah menurutmu Baekhyun akan merasa nyaman setelah ini?" Kalimat nyonya Park membuat Chanyeol ragu.

"Aku.. tidak tau." Chanyeol mendesah lemah.

'mungkin Baekhyun akan membenciku setelah ini' Batin Chanyeol.

To be continued..

Hai kawans. Maaf ya baru sempet update baru free sehari ini. Kali ini agak panjang yah. Maaf kalo banyak typo dan ceritanya agak nyebelin. Pikiran Xiu lagi buthek eheee. Kritik dan saran maaih ditunggu yaah cintakuh. Jangan lupa fav dan review pokoknya. makasih buat yang selama ini ngikutin dan review. kalian sangat berjasah. maaf kalo gabisa balesin kalian satu satu. Gomawoh~