DISCLAIMER :

Togashi-Sensei

kurisleen (for the original fic, she permitted me to translate it)

PAIRING :

Absolutely KuroPika^^

SUMMARY :

Eight months after Kurapika's encounter with the Genei Ryodan, she found her long lost uncle and finally focused in finding her clan's eyes. What she didn't know is that Kuroro Lucifer already found someone who could lift the nen curse.

GENRE :

Romance & Adventure

WARNING :

FemKura. An Indonesian version for Forced Trials by kurisleen, one of my favorite fics!^^

.

Happy reading^^


CHAPTER 4 : ENGAGEMENT


Kairo Bethel orang yang gila tapi bukan gila dalam arti sebenarnya. Dia hanya mengeluarkan ide dari dalam benaknya yang akan dianggap orang lain sebagai ide yang memalukan dan bodoh. Orang-orang yang mengenalnya dengan baik tidak akan begitu terkejut ketika dia mengatakan pemikirannya mengenai hal-hal tertentu. Di umurnya saat ini, Kairo senang bermain-main yang dianggap Kurapika sebagai sesuatu yang kekanak-kanakkan dan tak ada gunanya.

Namun, meskipun begitu, orang-orang menghormatinya. Lagipula dia adalah pendiri Perusahaan Bethel juga pria terkaya dan paling berpengaruh. Dia bukan tipe orang yang suka ikut campur dengan urusan mafia—tak peduli urusan apapun itu—kecuali ada hubungannya dengan harta dan keluarganya. Tidak hanya itu, Kairo Bethel pun seorang dermawan. Dia menunjukkan hal itu ketika mengadopsi anggota Elite Seven saat mereka semua masih kecil. Seperti Genei Ryodan, Elite Seven pun berasal dari Ryuuseigai. Kairo mengunjungi tempat pembuangan sampah itu ketika dia mengetahui bahwa mafia memanfaatkan orang-orang di sana untuk melakukan pekerjaan kotor mereka. Sesuatu yang dibenci Kairo, yaitu memanipulasi orang-orang untuk menjadi boneka yang tak punya otak. Dia mengalaminya sendiri ketika masih tinggal di tanah kelahirannya di Desa Rukuso.

Dan itulah bagaimana dia bertemu dengan Elite Seven. Setelah membantu Konsil Ryuuseigai menangani masalah mereka dengan mafia, Kairo menemukan dan mengambil Seiya, Aki, dan Sato terlebih dahulu. Dia melatih mereka untuk menjadi kuat dan cerdas. Dua tahun kemudian, dia kembali ke Ryuuseigai untuk mengadopsi Kenji, Eri, Yuri dan Jo dan seperti tiga anak pertamanya, mereka pun dilatih dan diberi pendidikan. Namun tidak hanya Elite Seven yang dia temui, tapi juga enam orang anggota asli Genei Ryodan yang masih muda saat itu. Mereka pun ada di sana untuk membantu kotanya melawan mafia. Itu adalah pertemuan sesaat dan Kairo sudah melupakannya.

Saat ini, Kairo Bethel sedang mempertimbangkan banyak hal di benaknya, berhati-hati membuat keputusan terbaik. Keponakannya sepertinya sudah memutuskan untuk menghilangkan Nen istrinya dari tubuhnya, tapi bagaimana Kurapika bisa melakukannya tanpa menghilangkan rasa bencinya terhadap Geng Laba-laba?

Tiba-tiba dia mendengar seseorang mengetuk pintu. "Masuklah."

Sosok Sato muncul dan melangkah masuk ke dalam ruangan. Lalu, Aki mengikutinya dan mereka berdua berjalan menuju ke meja di mana Kairo sedang duduk sekarang.

"Bethel-sama, kau memanggil kami?" Sato bertanya dan Bethel mengangguk sambil memberi isyarat pada mereka untuk duduk.

"Ya, benar," pria itu menjawab lalu berdiri. "Beritahu aku Sato, jika kau membenci seseorang dan kau ingin kebencian itu hilang, apa yang akan kau lakukan?"

Sato sedikit mengernyitkan kedua alis matanya sebelum menjawab, "Aku akan berusaha belajar untuk tidak begitu membenci orang itu."

"Maksudmu mencintai orang itu, bukan?"

Sato mengangguk dan Kairo menoleh kepada Aki. "Bagaimana denganmu, Sayang?"

"Aku setuju dengan Sato, Bethel-sama," Aki menjawab sambil mengangguk. "Lagipula cinta adalah kebalikan dari kebencian."

Kairo tersenyum mendengar perkataan dari kedua bawahannya. "Aku sedang merencanakan sesuatu dan aku menginginkan kerjasama kalian." Baik Aki maupun Sato sama-sama mengangguk saat mendengar keseriusan yang jelas sekali di suara majikan mereka. "Aku akan kembali ke Ryuuseigai dan kalian berdua akan menemaniku."


Hari itu adalah hari yang cerah, hari yang sempurna untuk bertamasya di gunung atau berjalan-jalan di pantai namun Kuroro tidak melakukan hal itu. Sekarang dia berada di Kota Morei, berdiri di pantai dan menatap ke sebuah pulau yang jauh dengan mansion besar dibangun di atasnya. Itu adalah mansion tepi laut milik Keluarga Bethel. Sebuah dermaga kecil pribadi berada di dekatnya. Keluarga Bethel menggunakan dermaga itu untuk pulang dan pergi ke manapun.

Kuroro berjalan ke arah dermaga dan mendapati seorang pria tengah menambatkan perahunya.

"Selamat pagi, Tuan," Pemimpin Geng Laba-laba itu menyapa dengan santai dan pria yang disapanya menoleh. Alis matanya berkerut ketika melihat sosok Kuroro yang berantakan karena pertarungan semalam.

"Apa maumu?" jawab pria itu kesal sambil melompat keluar dari perahu dan membungkuk untuk mengangkut sebuah kotak di dekatnya, dan tampaknya berat.

"Aku perlu sebuah perahu, Tuan," Kuroro menjawab dan mengikuti pria itu. "Sepertinya kotak itu berat. Biarkan aku membantumu."

"Aku bisa, Nak," pria itu menjawab. "Jadi kau perlu sebuah perahu? Untuk apa?"

"Aku ingin pergi ke sana." Kemudian, Kuroro menunjuk ke arah pulau.

Pria itu menggelengkan kepalanya. "Tak bisa, Nak. Itu Pulau Bethel. Kecuali kau punya undangan dari pemiliknya, aku tak akan membiarkanmu pergi ke sana," dia mendengus dan meletakkan kotaknya ke bawah.

Kuroro sedikit mengernyit. "Begitukah?"

"Ya. Sekarang pergilah jika kau sudah tidak memerlukan apapun lagi." Pria itu berbalik untuk menyelesaikan urusannya dengan kotak yang dia bawa.

Kali ini, Kuroro tersenyum. Dia mengambil pisau Benz-nya dari dalam mantel yang ia kenakan, dan dengan sebuah sayatan hebat, dengan cepat dia mengakhiri hidup pria itu dengan sebuah sayatan di lehernya. Setelah melakukannya, Kuroro menghela napas dan berjalan menghampiri perahu. Tapi sebelum dia bisa mengemudikan salah satu perahu itu, sebuah bola api Nen yang sudah dikenalnya dilemparkan ke arahnya. Refleks Kuroro cukup cepat untuk bereaksi dan melompat menghindar, mendarat cukup jauh dan tak terkena ledakan.

Benaknya langsung menyimpulkan bahwa bola api itu datang dari kepala pelayan berambut coklat semalam. Tiba-tiba, orang yang dia perkirakan muncul di hadapannya bersama seorang gadis di sampingnya.

"Hmm…kau Sato, 'kan?" Kuroro bertanya dan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku.

"Dan kau adalah Kuroro Lucifer," Sato menjawab. "Di mana anak buahmu?"

"Apakah keberadaanku tidak cukup? Kau menyakiti perasaanku," ejek Pemimpin Geng Laba-laba. Dia menertawakan dirinya sendiri di dalam hati karena menggunakan kata 'perasaan' sementara sebenarnya dia tak punya perasaan sama sekali.

"Hentikan jebakanmu itu!" Aki berseru sambil mengepalkan kedua tangannya dengan marah hingga memutih.

Sebelum Kuroro bisa mengeluarkan balasan menyebalkan lainnya, Tn. Bethel muncul di belakang Sato dan Aki. "Cukup Sato, Aki," perintahnya, kedua bawahannya itu pun membungkukkan kepala mereka sedikit...menunjukkan bahwa mereka patuh. Kuroro hanya sedikit menaikkan alis matanya karena agak bingung. Kairo melirik sekilas mayat orang yang telah dibunuh Kuroro lalu mengisyaratkan kedua bawahannya untuk membuang mayat itu.

"Kairo Bethel yang hebat," ucap Kuroro geli. "Aku merasa tersanjung."

Kairo Bethel menanggapinya dengan senyuman. "Aku berencana untuk menemuimu di Ryuuseigai tapi karena sekarang kau ada di sini, kurasa itu tak perlu lagi."

"Atas tujuan apa kau ingin menemuiku?" tanya Kuroro ingin tahu.

"Untuk mendiskusikan sebuah penawaran denganmu."


Setelah sedikit memulihkan Nen-nya, Kurapika menggunakan Holy Chain miliknya untuk menyembuhkan semua cedera dan luka di tubuhnya. Sekarang, dua minggu telah terlewati sejak pertemuan terkutuknya dengan Geng Laba-laba. Otomatis hidupnya kembali normal tapi dia merasa seperti ada sesuatu yang hilang. Dua minggu terakhir ini, pamannya Kairo sering keluar mansion bersama Sato dan Aki. Dia tak ditemukan di mana pun dan juga tidak pergi ke kantornya, jadi ke mana dia pergi setiap harinya?

Mungkin dia sedang mencari solusi mengenai kondisi Judgement Chain-nya sekarang. Kurapika benci menjadi tawanan dari kemampuannya sendiri. Dua bulan yang lalu, bibinya Zali meninggal secara misterius karena penyakit yang tidak diketahui. Kurapika berada di sampingnya hingga wanita itu menghembuskan napas terakhir. Tapi sebelum dia meninggalkan dunia ini, bibinya Zali menggunakan kemampuannya yang unik untuk membatasi pergerakannya. Si Gadis Kuruta terkekeh. Kemampuan yang dia pelajari dengan begitu susah payah demi tujuannya untuk membalas dendam kini digunakan untuk menghilangkan tujuan itu.

Namun, apa yang dilakukan bibinya itu tetap saja sia-sia. Kurapika tak akan pernah mengurangi kebenciannya terhadap Geng Laba-laba. Bagaimana mungkin Kurapika melakukannya, jika mereka-lah penyebab dirinya keluar dari desanya dan menghadapi kenyataan di dunia yang keras ini?

Kurapika memutuskan untuk turun ke pantai dan menghirup udara segar karena dia tak bisa keluar mansion sejak peristiwa dengan Geng Laba-laba itu. Dia mengenakan gaun musim panas; satu-satunya pakaian perempuan yang senang dia kenakan. Sambil berjalan dengan bertelanjang kaki di tepi pantai, air laut yang menyegarkan menggelitik kakinya. Dia sangat menyukai pantai karena dulu ketika masih tinggal di Rukuso, hanya ada pegunungan di sekeliling peradaban kecil itu.

Dari kejauhan, Kurapika melihat yacht pamannya kembali berlayar menuju ke pulau. Dia tersenyum dan memutuskan pergi ke pelabuhan untuk bertemu dengan Kairo. Beberapa menit kemudian, yacht itu tiba...Kairo pun turun bersama Sato dan Aki.

"Ah, Kurapika," Kairo tersenyum lebar pada keponakannya.

"Selamat datang kembali, Ayah," Kurapika menjawab dan melihat ke arah Sato dan Aki yang berdiri di samping Kairo. "Kalian bertiga pulang dari mana kali ini?" Dia bertanya.

"Dari suatu tempat," Kairo menjawab yang diterima Kurapika dengan tatapan tak senang. "Kita akan kedatangan tamu malam ini. Ayo ke ruang belajarku. Aku harus membahas sesuatu denganmu."

Mereka berempat melangkah masuk ke dalam mansion. Sato dan Aki pergi ke tempat mereka walau Kurapika melihat kekhawatiran di wajah keduanya. Kemudian, akhirnya mereka sampai di ruang belajar. Kurapika duduk di salah satu sofa sementara pamannya Kairo duduk di hadapannya.

"Ada apa, Ayah? Pasti ini masalah yang penting," tanya Si Gadis Kuruta.

"Sangat penting, Sayangku," Kairo menjawab dengan serius. "Ini sesuatu yang sangat pribadi dan kukira kau tak akan menyetujui keputusanku dengan begitu mudahnya."

"Aku akan memutuskan apakah aku setuju atau tidak setelah aku mendengar apa yang kaukatakan," Kurapika berkata dengan tenang. "Sekarang, masalah apakah yang perlu kudengar?"

Sebelum menjawab, Kairo menanyainya beberapa pertanyaan terlebih dahulu. "Berapa umurmu sekarang, Kurapika?"

"Tujuh belas tahun," Kurapika menjawab dan Kairo merasakan adanya sedikit kebingungan ketika gadis itu menjawabnya.

"Kurasa sudah cukup dewasa."

"Hah?"

Kali ini, Kairo Bethel menatap keponakannya dengan tatapan seolah tengah memeriksa setiap inci dari tubuh Kurapika. "Kurapika...," dia mulai bicara. "Aku akan menunangkanmu."

Kurapika berkedip. Apakah pendengarannya tidak salah? "Apa? Ulang lagi?"

"Kau akan bertunangan," dengan sabar Kairo mengulangi ucapannya.

"Bertunangan? Seperti dalam janji pernikahan?"

Ketika pamannya mengangguk, Kurapika merasa dunia berakhir. Bom tiba-tiba dijatuhkan, meninggalkannya dalam keadaan tidak siap. Tertegun mendengar berita itu, Kurapika tak mampu memandang pamannya. Dia tak tahu apa yang harus dia rasakan. Marah? Gugup? Bahagia? Kurapika bingung.

"Tamu kita malam ini adalah pria yang akan bertunangan denganmu."

Kurapika mendongak menatap Kairo. "Ini gila! Kenapa kau melakukan hal seperti ini?"

"Ini untuk kebaikanmu sendiri, Kurapika."

Si Gadis Pirang menggelengkan kepalanya lalu berdiri. "Tidak! Untuk kebaikanku? Jangan mengatakan hal yang tidak masuk akal, Paman!" Air mata tiba-tiba mengalir membasahi pipinya dan sepertinya Kurapika tidak menyadari itu. "Pertama, Bibi Zali membatasiku dan sekarang kau?!" Lalu dengan marah dia bergegas keluar dari ruang belajar.

"Kurapika!" Kairo memanggil, berusaha mengejarnya tapi sudah terlambat.


"Kurapika-sama, tolong buka pintunya," dengan putus asa Sato mencoba membujuk majikannya keluar kamar tapi sia-sia. "Tamunya akan datang, Nona. Aku harus membantumu bersiap-siap."

Keadaannya menjadi seperti ini sejak jam tujuh pagi dan sekarang sudah jam enam sore. Tetap saja, Kurapika tak akan membuka pintu kamarnya. Sato sudah mengirim Aki untuk mengambilkan kunci duplikat tapi apa yang membuatnya begitu lama?

"Sato-san!" Seseorang tiba-tiba memanggil dan Sato menoleh, melihat Aki berlari ke arahnya dengan kunci yang ia pinta tadi. "Ini. Cobalah kunci ini."

Sato mengangguk dan memasukkan kunci ke pintu kamar majikannya. Ketika pintu ganda itu terbuka dan mereka berdua masuk ke dalam, mereka tak menemukan siapapun. Tempat tidurnya bersih dan rapi, tak ada tanda-tanda Kurapika berbaring di atasnya. Semua barang berada di tempatnya dan satu-satunya hal yang aneh adalah pintu menuju balkon yang sedikit terbuka. Bagi orang biasa, pasti tak mampu menyadarinya tapi Sato dan Aki adalah orang-orang yang luar biasa maka mereka bisa menyadari perubahan-perubahan kecil di sana.

Sesuatu tiba-tiba muncul di benak pemuda itu. Dia bergegas menghampiri lemari Kurapika dan segera membukanya. Dia melihat bahwa semua pakaian Kurapika ada di sana tapi tas hiking yang biasa digunakan gadis itu untuk mendaki gunung hilang.

"Sato," panggil Aki. "Dia kabur melalui balkon."

"Lagi-lagi," Sato menghela napas dan menutup lemari. "Kita harus menemukannya."

"Tapi di mana?"

"Di mana pun. Bethel-sama tak boleh mengetahui hal ini," kepala pelayan itu memperingatkan." Dia mengatakannya dengan serius dan melangkah ke arah pintu yang menuju ke balkon. Dia membukanya. Hembusan angin dingin langsung menerpa wajahnya.

Tapi sebelum Sato melompat ke bawah bersama Aki, Eri dan Yuri tiba-tiba muncul di hadapan mereka, menyeringai seperti seekor kucing nakal dari Alice in Wonderland. Sepertinya mereka berdua sedang di tengah-tengah aktivitas malam mereka yang biasa; memandangi bintang dari atas atap.

"Kalian mau pergi ke mana?" seru Si Kembar dengan gembira dan mendongak menatap Sato dengan mata berkaca-kaca.

"Kami ingin ikut, Sato-chi!" Yuri memeluk lengan kanan Sato sambil tersenyum kekanak-kanakkan.

"Tidak. Kalian berdua tinggal di sini," Sato menjawab, melepaskan cengkeraman Yuri di lengannya.

"Tidakkah kau ingin tahu Kurapika-sama pergi menuju ke mana?" Eri bertanya dengan sebuah senyum mengerikan di wajahnya.

Sato memelototi Eri. "Katakan, Eri. Aku atasanmu dan aku punya semua hak atas semua informasi yang kaukumpulkan."

"Aku akan memberitahumu, Sato-chi," Eri berkata sambil mengangkat telapak tangan kanannya. "Jika kau biarkan kami ikut bersamamu."

"Eri...," Kepala Pelayan muda itu memberi peringatan.

"Sato, biar saja mereka ikut. Sekarang bukan waktunya untuk bertengkar."

Sato mengalah. Benar, prioritas utama mereka sekarang adalah untuk menemukan Kurapika. "Baiklah. Ayo, tunjukkan jalannya."

"Aye!" Si Kembar tertawa dan segera melompat turun dari balkon, diikuti oleh Sato dan Aki.

Mereka berempat lari menuju ke pelabuhan dan Sato memarahi dirinya sendiri karena lupa memanggil Jo untuk memudahkan pencarian. Jo bisa menggunakan teleportasi dan menyembuhkan jadi dia merupakan anggota yang berharga di Elite Seven.

"Kami melihat Kurapika-sama naik perahu ke arah Pulau Kirin," Yuri berkata sambil menaiki sebuah perahu kosong dan menyalakan mesinnya.

Ketika mendengar kalimat 'Pulau Kirin', mata Sato dan Aki sedikit terbelalak. Pulau Kirin adalah sebuah pulau yang berada tiga meter jauhnya dari Pulau Bethel. Pulau itu diberikan pada Kurapika oleh Tn. Bethel di hari ulangtahunnya tanggal empat April kemarin. Kurapika datang ke pulau itu ketika dia ingin sendiri atau tengah berpikir untuk mengambil suatu keputusan. Tapi masih ada yang bisa dilihat di sana. Sebuah mansion besar yang sebenarnya dibangun di dalam pulau dan dilindungi oleh penghalang Kuruta yang menghalangi orang-orang di luar Suku Kuruta untuk masuk. Mansion itu adalah tempat di mana Kurapika menyimpan semua Mata Merah yang dia kumpulkan. Tn. Bethel dan Kurapika bekerjasama untuk menciptakan penghalang itu, bahkan tak ada seorang pun anggota Elite Seven yang mampu menerobosnya.

Sepertinya hanya Tn. Bethel yang bisa menjemput Kurapika kembali.

Perlahan mesin perahu itu pun mati ketika mereka menuju ke arah pesisir Pantai Kirin. Mereka berempat turun di pantai dan melangkah ke arah hutan melalui jalan menuju ke sebuah mansion di atas bukit.

Sato menghentikan langkahnya. "Kita tidak bisa pergi lebih jauh. Pembatasnya dimulai dari sini."

Aki mengangguk. "Kalau begitu apa yang harus kita lakukan? Jika Kurapika-sama tidak datang maka Bethel-sama pasti akan marah lagi."

"Bethel-sama memahami dirinya. Masalah itu...pasti membuatnya terkejut."

"Kurapika-sama kita akan menikah, bukan?" Yuri berkata dan menoleh pada saudara kembarnya. "Ayo kita bawa dia, Eri."

Sebuah ide tiba-tiba muncul di benak Sato. "Eri, Yuri!" Si Kembar pun berbalik padanya. "Berubahlah menjadi Jo dan gunakan teleportasi."

Si Kembar sama-sama memanyunkan bibirnya. "Tidak!" keduanya berseru dan membuang muka, mereka merasa kesal. "Kami tak akan menggunakan kemampuan itu lagi."

Aki memanfaatkan kesempatan ini. "Tolonglah, Eri, Yuri. Sekali ini saja dan kami tak akan pernah meminta kalian melakukannya lagi."

"Kau juga bilang begitu waktu terakhir kali kau memintanya," kata Si Kembar, keduanya cemberut, membuat mereka tampak manis namun aura membunuh mereka yang berbahaya mulai keluar dari tubuh mereka.

"Umm...," awalnya Sato pun ragu. Ketika Si Kembar merasa terganggu, sebaiknya tetap berada di dekat mereka dan berusaha membuat mereka tenang. "Ayolah, ini akan menjadi yang terakhir kali."

"Diam, Sato," desis Yuri.

Sebelum Sato sempat mengucapkan sepatah kata pun, Eri sudah mengeluarkan pedang kembarnya, menghunus keduanya secepat dia bisa dan mengarahkannya ke leher kepala pelayan itu. Mata bocah itu yang semula berwarna hijau kini terlihat berkabut. Itu merupakan efek samping dari ketidakstabilan emosi mereka. Ketika Yuri dan Eri diprovokasi, mereka tak lagi membedakan teman atau musuh.

Eri memelototi Sato dan Yuri berada di belakang pria itu, menatapnya dengan tatapan kosong.

"Eri! Tarik kembali kedua pedangmu segera!" sebuah suara yang terdengar familiar tiba-tiba memberi mereka perintah dan keempat orang itu menatap ke arah jalan masuk hutan. Mereka semua melihat Kurapika dengan ekspresi kecewa nampak di wajahnya, yang hanya ditujukan kepada Eri.

"Kurapika-sama!" Eri berseru, menjatuhkan kedua pedangnya ke tanah dan berlari menghampiri Kurapika. Dia memeluk gadis itu dengan erat, Kurapika membungkuk hingga sejajar dengan pandangan mata bocah itu. "Sato mencoba mengintimidasiku!"

Kurapika mendongak menatap Sato.

"Bukan aku," bisik pria itu.

Sementara Aki hanya menyaksikan sambil melipat kedua lengannya. Gadis itu menatap Si Kembar yang masih menatap Sato dengan tatapan kosong. "Kau bisa menghentikannya sekarang, Yuri."

Mata Yuri membelalak kemudian kehidupan datang kembali ke matanya yang hijau. "Itu cara yang efektif, bukan?"

"Aku meyakini hal itu sebagai cara yang sia-sia dan tidak bertanggungjawab, tapi terima kasih, kau bisa membuat Kurapika-sama keluar dari mansion atas kehendaknya sendiri." Aki bersumpah dia akan memberi applause pada Si Kembar untuk ini.

"Waktunya pulang, Kurapika-sama," Aki mendengar Sato berkata. Dia menoleh menatap Kurapika yang mengangguk tanpa mengatakan apapun.

Sekarang mereka menaiki perahu yang sebelumnya dibawa Kurapika dan kembali berlayar ke Pulau Bethel.


Ketika mereka berlima tiba, dalam keheningan dan sikap yang tenang mereka berjalan masuk ke dalam mansion. Kurapika pergi ke kamarnya, mengganti pakaiannya dengan gaun biru muda yang khusus dipilihkan Tn. Bethel untuknya. Ketika dia berada di Pulau Kirin, pikiran untuk kabur begitu menggodanya. Seolah pubertas menguasai dirinya dan membuatnya melakukan penyimpangan. Walau dia tahu bahwa pamannya adalah orang yang 'gila', dia pasti punya alasannya sendiri hingga bisa memutuskan untuk menunangkan Kurapika sedini ini. Dan Kurapika harus tahu keputusan itu untuk memastikan bahwa dia tak akan menyesalinya nanti.

Kurapika memilih untuk kembali ke Pulau Bethel ketika dia merasakan empat aura yang dikenalnya saat membaca buku di perpustakaan yang terdapat di mansion pribadinya. Dua aura yang dia rasakan mematikan membuatnya khawatir. Seperti dugaannya, keempat anggota Elite Seven tengah berada di pesisir, terlihat seperti sedang bertengkar dan saling melukai satu sama lain. Ketika pertengkaran itu berakhir, mereka pun berlayar pulang.

"Nona, aku datang untuk membantumu bersiap-siap," seorang pelayan memanggil Kurapika dari luar kamarnya.

"Masuklah," Kurapika berkata lalu duduk di depan meja riasnya.

Pelayan itu mengambil sebuah kuas, sisir dan beberapa hiasan rambut untuk dipasang di rambut Si Gadis Kuruta. Saat dia menyisir rambutnya, dia memutuskan untuk memberitahukan sesuatu pada Kurapika. "Tamunya sudah datang, Nona...dia menunggumu di ruang makan bersama Tn. Bethel."

Kurapika memicingkan matanya. "Begitukah?" Dia menghela napas. "Seperti apa dia?"

Pertanyaan itu membuat Si Pelayan lebih ceria. "Oh! Dia sangat tampan, Nona. Seorang gentleman! Pasti kau akan menyukainya."

Kurapika tersenyum pahit. "Benarkah?"

"Kudengar dia pemimpin usaha bisnis keluarganya. Walaupun dia terlihat begitu muda, tapi sebenarnya umurnya sudah 26 tahun."

Mata Kurapika membelalak. Dia berdiri dan berbalik menghadap pelayan itu. Untunglah, penataan rambutnya sudah selesai. "26 tahun?!" tanyanya terkejut. Si Pelayan mengangguk. Kemudian, dengan marah Kurapika keluar dari kamarnya dan menuruni tangga…menuju ke tempat di mana ruang makan berada.

"Apa yang Paman pikirkan? Menikahkanku dengan seorang pedofil?!" Kurapika menggertakkan giginya dan terus berjalan menuruni tangga, memutuskan untuk meminta beberapa jawaban dari Kairo Bethel.

Ketika gadis itu tiba di ruang makan, Kurapika mendapati orang-orang sedang makan sambil minum anggur. Dia mengenali beberapa orang di antaranya karena mereka merupakan teman dekat Kairo dan rekan bisnis yang ia percayai. Seorang pria menghampiri Kurapika yang tertegun dan tersenyum lebar padanya.

"Nona Kurapika!" Pria itu menyapanya dengan ceria. "Lihatlah betapa cantiknya dirimu! Ayo peluk pamanmu ini!"

"Tn. Avery," ucap Kurapika, lalu dia memeluk pria itu. "Ada apa ini?" Dia bertanya tentang pesta yang sedang berlangsung.

"Ah! Si Tua Kairo ingin mengumumkan pertunanganmu pada kami jadi dia merencanakan pesta pertunangan kecil ini khusus untukmu dan calon suamimu," Tn. Avery menjelaskan dan menyesap anggurnya.

Kalimat 'calon suami' menimbulkan firasat buruk di dada Kurapika. "Dia tidak memberitahuku," Kurapika berkata. "Di mana dia sekarang?"

Tn. Avery menunjuk ke arah tertentu. Kurapika mengikuti arah itu dengan matanya. Dia melihat pamannya tengah bercakap-cakap dengan seorang pria berambut hitam yang mengenakan setelan jas biru tua. Si Gadis Kuruta memutuskan untuk menghampiri mereka berdua. Ketika dia hampir sampai, pamannya Kairo melihatnya dan tersenyum padanya.

"Sayangku!" panggil Kairo senang dan meninggalkan pria muda yang tadi bercakap-cakap dengannya lalu menghampiri gadis itu. "Kemarilah, aku akan memperkenalkanmu padanya."

Awalnya, Kurapika bahkan merasa ragu untuk melangkah. Dia menyadari bahwa pria yang akan bertunangan dengannya adalah pria yang sama dengan yang tadi bercakap-cakap dengan Kairo. Kairo menuntun keponakannya menuju Si Pria Berambut Hitam dan tiba-tiba Kurapika merasa bahwa dia mengenalinya.

Ketika pria misterius itu berbalik perlahan, Kurapika merasakan tubuhnya membeku. Senyum di bibir pria itu terlihat sangat menipu tapi juga tak berdosa. Namun itu bukan hanya sebuah senyuman. Itu adalah seringai yang sangat ingin Kurapika hapuskan dari wajah orang itu.

Dan pria itu tak lain tak bukan adalah Kuroro Lucifer.


TBC


A/N :

Gaara Zaoldyeck 'Lucifer :

Iya sih…tapi akhirnya bakal bersikap lembut kok, hehe!

Makasih untuk supportnya :)

Natsu Hiru Chan :

Gimana dengan ending chapter ini? *wink*

Dan akan ada lebih banyak scene KuroPika nanti


Review please…^^