"Kau tidak seharusnya melakukan ini. Apakah menurutmu Baekhyun akan merasa nyaman setelah ini?" Kalimat nyonya Park membuat Chanyeol ragu.
"Aku.. tidak tau." Chanyeol mendesah lemah.
'mungkin Baekhyun akan membenciku setelah ini' Batin Chanyeol.
Chanyeol mengerutkan keningnya, begitu juga nyonya Park. Antara sedih, senang, dan ragu. Bagaimana bila nantinya Jiwon tidak mau berpisah dengan Baekhyun?
Setelah sedikit lama, akhirnya Baekhyun menggendong Jiwon kembali ke ruang tengah, disambut oleh senyuman hangat dari nyonya Park dan Chanyeol.
"Dia lelah" ucap Baekhyun sambil terkekeh. Jiwon memeluk leher Baekhyun dengan erat, dan terdiam dibahunya. Terlihat matanya menyipit berusaha untuk tetap terrjaga namun dia mengantuk.
Chanyeol menghampiri Baekhyun, dia hendak mengambil Jiwon dari gendongannya.
"Dia sudah mengantuk, sebaiknya aku membawanya ke kamar agar dia bisa tidur." Saat hendak memindahkan Jiwon ke gendongan Chanyeol, bayi itu mengerang dan tetap memeluk leher Baekhyun.
"Nggg amma! Ammamaa!" Bayi mungil itu menghentakkan kakinya menendang tangan Chanyeol. Pria 26 tahun itu kaget.
"Jiwonnie, jangan begini. Ayo tidur dengan appa, ya?" Chanyeol masih berusaha menggendong Jiwon, namun siapa sangka? Bekhyun reflek menarik Jiwon menjauh dari Chanyeol, sampai nyonya Park dan Chanyeol mendelik heran.
"Jangan paksa dia!" Ucap Baekhyun spontan dengan sedikit membentak, sontak Chanyeol dan nyonya Park melihatnya sambil mengerutkan kening. Jiwon kembali menyender di bahu sempit Baekhyun. Mimik muka Chanyeol terlihat kaget. Baekhyun membentaknya barusan? Terlebih Baekhyun tidak mau Chanyeol memegang anaknya sendiri?
Urat wajah Baekhyun melunak, dia sadar dia baru saja membentak Chanyeol. Padahal Chanyeol adalah ayah Jiwon.
"M-maksudku, tunggulah sampai dia benar-benar tertidur. Mungkin dia sudah nyaman disini." Baekhyun merutuki dirinya sendiri. Bagaimana bisa dia membentak Chanyeol didepan ibunya terlebih saat menggendong anak lelaki itu? "Dimana kamarnya? Biar aku saja—?" Baekhyun menggantung kalimatnya. Chanyeol melirik ke nyonya Park, seakan bertanya apakah boleh. Lalu nyonya Park menganggukkan kepalanya memberi ijin.
"Di sebelah ruangan ini. Mari." Tunjuk Chanyeol dengan ramah. Baekhyun mengikuti langkah jenjang Chanyeol, mereka masuk ke kamar berwarna biru tersebut.
"Jiwonnie, tidur ya?" Ucap Baekhyun sembari meletakkan Jiwon di ranjangnya. Namun Jiwon kembali mengerang.
"Ngggg aaaa aah amma amma!" Bayi itu masih memeluk leher Baekhyun, membuat
Chanyeol dan Baekhyun bingung. Kemudian Baekhyun menepuk nepuk punggung Jiwon.
"Jiwonnie harus tidur, hyu— amma tidak pergi." Baekhyun memanggil dirinya eomma Jiwon? Tapi kenapa? Dan entah bagaimana bisa, bagaikan sihirJiwon melepaskan leher Baekhyun perlahan, tapi bayi itu masih menggenggam sweater Baekhyun dengan tangan mungilnya, seakan takut Baekhyun tiba tiba pergi. Chanyeol memandang Baekhyun bingung, namun ia segera tersadar dan memasang mimik wajah biasa saja.
"Bolehkan, aku disini? Sampai Jiwon tidur.." Tanya Baekhyun perlahan kepada Chanyeol. Chanyeol mengangguk sambil mengusap kepala Jiwon. Baekhyun duduk di kursi pendek sebelah ranjang Jiwon, lalu menyamankan sebagian badannya disana.
"Baekhyun maaf aku jadi merepotkanmu." Chanyeol memberanikan diri menatap Baekhyun. Yang diajak bicara sedang memainkan tangan bayi itu perlahan.
"Tidak merepotkan kok. M-maafkan aku. Aku tadi membentakmu. Aku tidak bermaksud seperti itu. Hanya saja, aku tidak bisa melihat anak kecil yang dipaksa. Maafkan aku. Sungguh.. a-aku tidak—"
"Tidak apa apa, Baekhyun." Chanyeol menegakkan badannya lalu berdiam menatap anaknya sejenak, disisi lain Jiwon semakin terlelap dalam tidurnya. Genggaman jari jari mungilnya pada telunjuk Baekhyun semakin melemah. "Aku tunggu di ruang tamu." Ucap Chanyeol sambil meninggalkan kamar Jiwon, manik cokelat itu mengekor mengikuti langkah Chanyeol.
Tidak berapa lama, Baekhyun menatap bayi mungil itu tadi, dia mengusap rambut halus Jiwon dengan jemari lentiknya.
"Maafkan hyung karena harus berbohong." Baekhyun beranjak dari ranjang Jiwon, lalu menyusul Chanyeol di ruang tamu.
Waktu menunjukkan pukul 7 sore. Chanyeol duduk sendirian di ruang tamu luas itu. Baekhyun melirik, berusaha mencari sosok paruh baya yang sempat menyambutnya dengan sangat ramah diawal pertemuan mereka. Namun ia tidak menemukannya. Apakah nyonya Park menghindar? Apakah nyonya Park marah karena Baekhyun membentak Chanyeol? Baekhyun merutuki kecerobohannya. Dia harus meminta maaf.
"Dia sudah tidur?" Tanya Chanyeol yang mendahului Baekhyun bertanya.
"Iya sudah. Ehm, maaf ya. Aku tadi membentakmu. Aku sungguh tidak bermaksud, aku tidak enak pada ibumu. Aku sang—"
"Kita lupakan saja? Itu bukan masalah yang besar. Mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama bila menjadi dirimu." Baekhyun menghela nafasnya lega. Setidaknya Chanyeol memaafkannya.
"Ah, kita jadi tidak pergi keluar yah?" Pria bermata lebar itu menyandarkan kakinya sembari melinting lengan kemejanya sampai siku.
"Ah, mungkin lain kali? Setidaknya aku mampir kerumahmu, Chanyeol. Hehe. Dimana nyonya Park?" Baekhyun memberanikan diri untuk bertanya. Meskipun ada sekelibat rasa takut.
"Ibuku sedang memasak, untuk makan malam kita. Kau harus makan masakan ibuku!" Chanyeol dan Baekhyun kembali bersenda gurau. Keduanya menunggu makan malam nyonya Park sambil membicarakan minat hobi satu sama lain. Rasa awkward dan sungkan mulai menjauh dari hubungan mereka.
"Ah, Baekhyun-ah, aku masih penasaran. Kalau boleh tau, ada perlu apa kau ke Jepang sendirian tanpa manager atau bodyguard?" Tanya Chanyeol dengan hati hati. Baekhyun menurunkan gelas jus jeruknya.
"Aku mendapat libur 2 hari, lalu aku ke Jepang saja. Aku ingin liburan sendiri. Dan aku rasa akan susah jika aku pergi terlalu jauh, maka aku ke Jepang saja." Baekhyun memainkan jarinya, lalu ia menatap Chanyeol dengan ragu.
"Chanyeol, terimakasih untuk puddingnya." Chanyeol meneliti gerik Baekhyun yang sedikit malu malu mengatakannya. Pria bermarga Park tersebut menyunggingkan seringaiannya, tanpa diketahui Baekhyun.
Chanyeol berdiri, dia beranjak ke ruang makan. Sesekali melirik Baekhyun yang tidak kunjung bergegas. "Baek? Kau tidak mau makan? Kau akan menyakiti hati ibuku jika tidak makan." Chanyeol membalikkan badannya. Baekhyun sedikit memanyunkan bibirnya, dan mereka berdua makan bersama.
-oOo-
Sushi Oi Restaurant 21.30
"Sungguh dia sangat sulit dihubungi.. apa saja yang dilakukan Park keparat itu sehari ini?" Sehun telah selesai memakan Ramennya. Dia menulis pesan kepada Park Chanyeol untuk kesekian kalinya dihari ini.
To: Park Chanyeol
Message : Hey bodoh, kau kemana saja. Kau tidak ada saat aku ke ruanganmu. Aku tau kau sempat ke kantor kan? Dan tiba tiba pergi tanpa ijin pada sekretarismu? Pegawai macam apa kau?'
Sent
Sehun mendesah sejenak. Jujur dia sedikit kekenyangan. Pemuda berdada bidang ini meletakkan ponselnya lalu menyandarkan diri ke sandaran kursi.
"Ya! kau kenapa?" Sehun tidak mendengarkan interupsi seseorang yang masih asyik makan sushi dihadapannya, kekasihnya, Luhan. Luhan memicingkan mata, ia menusuk punggung tangan Sehun menggunakan sumpit sushinya.
"Ya, Oh Sehun, wae? Kau sakit" Luhan mengangkat dagu Sehun dan melihat wajah prianya dengan seksama. Sehun menatap lalu menggenggam tangan Luhan yang berada di dagunya.
"Aku hanya kekenyangan, sayang." Sehun tersenyum menatap Luhan.
"Kau mengantuk? Sehuna jangan tidur dulu. Urusan kita belum selesai!" Sehun menajamkan matanya, ia bingung dengan apa yang dimaksud oleh Luhan.
"Urusan? Urusan apa sayang?" Sehun membereskan barangnya, lalu bersandar pada kedua lipatan tangannya diatas meja.
"Aku mau belanja."
Hah.
Sehun menggaruk alisnya sejenak sambil melirik ke bawah. Dia tau ini akan terjadi, tapi Sehun berusaha melunakkan hatinya sendiri.
"Sayang, tapi.. kita sudah berbelanja banyak hari ini. Kau sudah membeli beberapa pasang baju, dan peralatan makeup. Apa itu masih belum cukup??" Sehun berusaha protes dengan nada yang berhati-hati.
"Itu keperluan penampilanku, Sehun. Aku ingin berbelanja buah. Aku mau buah!" Luhan menekankan kata katanya. Sehun hanya mengerutkan keningnya heran. Tumben sekali Luhan ingin buah?
"Baiklah. Tumben sekali kau ingin buah, sayang." Luhan hanya menggendikan bahu mulusnya yang terekspos, dan segera kembali ke mobil dan menuju supermarket, membiarkan Sehun membayar santap malam itu. Keduanya bertemu di mobil.
"Sehun, kapan kita ke Beijing?" Tanya Luhan sembari mengelus perutnya yang kenyang.
"Bukankah bulan depan kau pulang ke Beijing, Lu?" Sehun mengendarai Lexus nya dengan santai.
"Aku bertanya kita, bukan aku saja. Aku ingin kita berdua ke Beijing." Luhan memanyunkan bibirnya.
"Ah, hahah. Secepatnya sayang. Jika aku ada libur panjang, aku akan membawamu ke Beijing, setelah mengunjungi ayah dan ibumu, kita pergi berkeliling Cina. Bagaimana?" Tawar Sehun. Luhan mengepalkan tangannya dengan gembira. Wanita itu sangat senang dengan apa yang Sehun janjikan.
-oOo-
"The plane is ready for take off"
Tenang. Lagi lagi sebuah take off yang halus telah dipersembahkan oleh pilot dan co-pilot tampan pesawat dengan nomor penerbangan CB614. Senin dengan cuaca cerah berawan mengawali hari pertama kerja mereka di minggu ini. Gurauan dan canda menghiasi persahabatan kental di dalam kokpit tersebut.
"Aku tidak tau wanita akan serumit itu. Terlebih Luhan sangat perfeksionis, hyung!" Keluh Sehun pada Chanyeol. Yang diajak bicarapun hanya terkekeh. Obrolan ini masih belum selesai, padahal Sehun telah bercerita sejak mereka masih berada di security check di bandara.
"Kau ini begitu saja mengeluh. Kau harusnya bersyukur. Hidupmu akan selalu penuh dengan kedisiplinan Sehun-ah! Hahah" balasnya jahil. Keduanya hening sejenak melihat keadaan sekitar. Chanyeol masih mengatur ketinggian airbus itu.
"Sehun-ah, jadi sejak hari itu saat kau berusaha menemuiku kemarin hanya untuk bercerita tentang Luhan?" Nada suara Chanyeol mulai melunak.
"Iya hyung. Aku merasa dia sedikit berubah. Dia sangat sensitif saat ini, sering menangis semenjak dia sakit kemarin." Chanyeol menganggukkan kepalanya.
"Mungkin dia sedang datang bulan?" Ucap Chanyeol, keduanya beratatapan sejenak.
Sehun menyipitkan matanya, "aish, wanita menstruasi sungguh sangat mengerikan!", Chanyeol terkekeh.
-oOo-
Seoul, South Korea. 13.35.
"Dia hanya Dispnea, tidak ada tanda tanda pneumonia. Berikan oksigen dengan tekanan sedang, dia hanya syok karena kecelakaan itu. Kakinya bengkak, siapkan ruang rontgen, dan aku khawatir terjadi patah tulang dibagian rusuknya, dari luar terlihat hancur." Wanita berkarisma tersebut masih sibuk mengatur tekanan udara selang oksigen si pasien.
Dispnea : Sesak napasPneumonia : infeksi paru-paru
"Baik dokter." Dua perawat segera mencatat dan menyiapkan ruangan untuk pasien korban kecelakaan tersebut.
"Dokter Shin, Kepala Rumah Sakit ingin bertemu anda." Seorang laki-laki berjas rapih menemui Luhan.
"Akan kutemui Kepala nanti, aku sedang ada pasien." Luhan melirik pria itu sejenak, lalu kembali berjalan menuju ruangan X-Ray.
"Tapi dokter, beliau--"
"Kau tidak lihat pasienku sekarat? Aku menyumpah diriku sebagai dokter bukan untuk mencampakkan pasienku demi kepentingan jabatan! Katakan pada Kim Sajangnim untuk menungguku, jika dia tidak mau, maka aku juga tidak akan meninggalkan tanggung jawabku. Aku ada operasi setelah ini. Kuharap Sajangnim mengerti", itulah Luhan. Dokter galak di ASAN Medical center Seoul. Meskipun galak, wajahnya tidak keriput. Dia dokter idaman para pasien dan juga staff jajaran disana. Dibalik sikap tegasnya, Luhan merupakan seorang yang berharga diri tinggi dan sangat bertanggung jawab. Karena itulah di usia yang muda ini dia mampu menjadi dokter idaman.
Setelah dilakukan rontgen, lampu merah diluar ruang operasi menyala, tertanda sedang dilakukan operasi didalamnya.
"Sungguh mereka akan kubunuh jika mengganggu operasiku." Wanita tangguh itu terlihat menghembuskan nafasnya berat sebelum memakai masker steril.
"Scapel" Luhan meminta pisau bedah pada asistennya dan mulai menyayat kulit korban kecelakaan maut itu.
Disisi lain ponsel Luhan bergetar didalam loker dokter diruang sebelah. Sehun meneleponnya.
"Kemana kau Lu, pasti sedang sibuk. Hm.. Aku ingin makan siang bersamamu. Kutunggu kabarmu saja lah." Sehun menghembuskan nafasnya lalu kembali ke kamarnya.
Pip!
Sehun berjalan ke toilet kamarnya untuk membuang sampah kamar mandi, ketila dia mengangkat kresek hitam tersebut, mata tegasnya melihat bungkus test pack.
"What the fuck?"
Sehun terpaksa mengikhlaslan tangan kekar tersebut masuk ke tumpukan sampah tersebut dan mengambil bungkus itu.
"I..ini milik siapa?" Pikiran Sehun terpusat pada Luhannya. Kakinya lemas, punggung pria itu bersandar pada tembok terdekat. Pikiran Sehun tidak terbendung.
"Shin Luhan, apakah kau..?" Sehun terdiam sejenak, lalu membuka semua tumpukan sampah itu, berharap menemukan testpack yang telah digunakan. Tapi Sehun tidak menemukannya.
"Kau menyembunyikan sesuatu di belakangku." Sehun meremas bungkus tersebut dan beranjak dari kamarnya menuju dapur.
-oOo-
"Apa? Dengan Park Chanyeol? Kau gila?"
Minseok memelototkan mata imutnya. Dia berjalan mendekati Baekhyun yang dengan polosnya mengangguk.
"Sebentar saja hyungie, seperti kemarin itu. Tidak akan lama.. Aku janji." Baekhyun mengeluarkan puppy eyesnya pada Minseok.
"Kemarin...--Ya! kemarin apa maksudmu?! Selama ini kau pergi bersama Park Chanyeol tanpa sepengetahuanku, Byun Baekhyun?" Suara pemuda bermata cantik ini mulai melengking, jiwa protektif seorang ibu pada anak perawanya-pun kembali muncul pada diri Minseok saat ini. "Sudah berapa kali kau pergi dengan Park Chanyeol?!"
Baekhyun terlihat berfikir, "uhm. Aku tidak yakin, tapi sepertinya aku sudah pergi berdua dengannya selama 10 kali, atau lebih ya?" Tatapan Baekhyun terlihat sangat polos saat menjawabnya.
"YAA!! BAEKHYUN!!" Minseok menghentakkan kakinya, dia menarik lengan Baekhyun dan memaksanya duduk di sofa ruang tengah. "Kau mau kemana? Jawab dengan jujur!"
"Aku hendak ke butik anak.." Baekhyun mengulum bibirnya. Minseok yang heran hanya memicingkan mata.
"Hah? Apa apaan? Untuk apa? Oh, apakah kau sekarang sedang berusaha merebut hati anaknya? Oh ayolah Baekhyun, dia sudah beristri! Kau gila?" Minseok menyandarkan punggungnya, rasanya ingin pasrah saja.
"Hyungie, itu bukan anak kandungnya. Namanya Jiwon, anak itu adalah anak kakak Chanyeol yang dititipkan padanya. Kakak Chanyeol sudah meninggal karena kecelakaan, lalu pesan terakhirnya pada Chanyeol sebelum meninggal adalah untuk menitipkan Jiwon padanya." Baekhyun bersandar pada bahu Minseok yang saat ini terdiam sambil menatap kosong didepannya.
"Jadi maksudmu, dia belum beristri?" Tanya Minseok yang hanya dijawab anggukan oleh Baekhyun.
"Aku sudah berjanji pada Jiwon dan Park Chanyeol untuk pergi bersamanya hari ini. Ijinkan aku, ya hyungie?" Baekhyun bergelayut manja pada Minseok. Sang hyung hanya memutar bola matanya malas.
"Ya ya, baiklah. Tapi tetap saja kau harus berhati-hati pada ahjussi sepertinya. Bisa saja dia hanya ingin memanfaatkanmu. Lain kali, kenalkan padaku. Aku harus mengetahui sifatnya." Minseok langsung meninggalkan Baekhyun sendiri. Baekhyun melengking kegirangan, dan jemputannya sebentar lagi datang.
Tidak lama, Mercedes Benz hitam milik keluarga Park terparkir gagah di basement apartemen Baekhyun. Didalamnya ada dua orang yang menunggu kedatangan Baekhyun.
"Hai!!" Baekhyun melambaikan tangannya kegirangan dan berlari kecil kearah mobil Chanyeol. Sang empunya mobil pun keluar dari dalam mobil sambil menggendong Jiwon.
"Ammma!! Ammamamaaa!!" Bayi kecil itu menghentak2 kaki dan tangannya dalam dekapan Chanyeol. Baekhyun mendekati Chanyeol lalu mengambil Jiwon dari gendongan ayahnya.
"Jagoan kita sudah wangi sekali, pasti sudah dimandikan oleh monyi ne?" Baekhyun mencium pipi Jiwon berkali-kali dengan gemasnya.
"Hati-hati Baekhyun-ah, dia sedang hiperaktif hari ini." Chanyeol mengusap kepala Jiwon sejenak, kemudian Baekhyun membalas Chanyeol sembari masuk kedalam mobil.
"Tidak apa-apa. Bukankah aku juga hiperaktif? Kkk" cengiran Baekhyun sukses membuat pipi Chanyeol menghangat. Sungguh pria disampingnya ini sangat lucu. Baekhyun memakai seat belt miliknya lalu membenarkan posisi pangkuannya pada Jiwon. Chanyeol hanya ters—
JglekBlam!
"Terimakasih sudah mempersilahkan aku untuk ikut. Kalian baik sekali." Baekhyun melotot, bagaimana bisa Minseok masuk di jok belakang mobil Chanyeol.
"A—apaa? Ya! Hyung, kenapa kau disini?!" Baekhyun menatap Minseok tak percaya. Hyung nya itu hanya duduk bersandar lalu memasang seat beltnya.
"Ada apa? Aku hanya ingin ikut saja. Oh, kau Park Chanyeol ya? Aku Minseok, wajahmu kenapa berbeda dari fotomu di kartu nama? Kau tidak setampan yang aku kira." Minseok menyalami tangan Chanyeol dengan paksa. Chanyeol sedari tadi hanya memasang wajah bodohnya karena masih kaget ada orang asing yang belum ia kenal masuk ke mobil nya.
"Ha.. oh iya iya. Tidak apa apa. Aku Park Chanyeol, senang berjumpa denganmu Minseok." Chanyeol langsung menghidupkan mobilnya dan menjalankan mobilnya sambil sesekali menatap Baekhyun. Dia bingung, tapi yasudahlah..
"Ini Jiwon ya? Aigoo, imutnya keponakanku!" Minseok mendekati seat Baekhyun lalu mencubit gemas pipi Jiwon yang sedaritadi kegirangan bermain dengan Baekhyun. Tidak disangka, Jiwon juga bisa langsung akrab dengan Minseok.
"Hyungie, kenapa kau tiba-tiba disini?" Baekhyun berusaha membuka obrolan. Chanyeol memasang wajah gugupnya dan berusaha fokus menyetir. Momen ini rasanya seperti Chanyeol membawa ibu pacarnya jalan-jalan. Dia sangat gugup.
"Aku hanya ingin ikut saja. Aku tidak ada kegiatan apartemen, jobmu selesai tadi siang kan? Oh iya, Park Chanyeol jangan terlalu kaku. Kau tau kan Baekhyun suka yang agresif?" Ucap Minseok sambil menepuk bahu Chanyeol.
"Y-YA!! MINSEOK MWOYA?!!" Baekhyun terlonjak dari kursinya, berusaha mengalihkan perhatiannya dengan membetulkan posisi duduk Jiwon dipangkuannya.
Mereka berempat berjalan di butik anak milik teman Chanyeol. Disana mereka disambut oleh teman Chanyeol yang sudah menunggu.
"Park Chanyeol, sudah lama kau tidak kesini." Keduanya bersalaman sambil bercanda.
"Ya, maafkan aku Namjoon-ah. Akhir akhir ini banyak jadwal penerbangan, aku jadi jarang mengantar Jiwon bahkan sekedar belanjapun tidak ada waktu." Mereka mulai berjalan ke deretan baju anak eksklusif sambil bercengkrama.
"Aku hanya bertemu ibumu. Oh iya, dimana ibumu dan Jiwonie?" Namjoon membalikkan badannya berusaha mencari dua orang tersebut.
"Aku tidak bersama ibuku, aku bersama mereka." Chanyeol menunjuk Baekhyun, Jiwon dan Minseok yang sedang berjalan dan melihat-lihat baju yang dipajang di manekin mini bagian depan. Namjoon berusaha memperjelas apa yang dia lihat. Wajahnya kaget, dia mengerutkan keningnya.
"Apakah i..itu Baekheemu?" Chanyeol tertawa, dia menepuk punggungnya dan mengajaknya pada Baekhyun.
"Baek, Minseok-sii, kenalkan, dia Kim Namjoon, pemilik butik ini" Namjoon melotot melihat Baekhyun.
"Halo, aku Baekhyun. Senang berjumpa dengan anda. Baju disini lucu lucu sekali! Aku sukaa!" Baekhyun kegirangan gemas, sedaritadi ia menempelkan setelan outfit dari gantungan baju ke badan Jiwon.
"Hai, aku Minseok. Senang berjumpa denganmu!" Minseok membungkukkan badannya. Namun Namjoon masih diam tak percaya.
"Dia Byun Baekhyun. Bukan Baekhee" bisikan Chanyeol menyadarkan Namjoon. Badannya terhentak, sesekali berkedip.
"Ah, maaf." Namjoon berbalas bisik pada Chanyeol. Mereka akhirnya masuk dalam fitting room yang didalamnya sudah disiapkan beberapa baju tuxedo untuk Jiwon. Mereka langsung mencoba baju baju tersebut untuk Jiwon.
"Kemari dulu Jiwonnie, amma tidak bisa memakaikan kemejanya. Diam dulu!" Namjoon dan Chanyeol hanya memperhatikan Baekhyun Minseok yang sedang kesusahan memasangkan baju untuk Jiwon.
"Kenapa dia sepertimu Baekhyunnie? Sangat hyper! Hahh.. YA bayi gendut, jangan berlarian! Kau masih belum bisa lancar berjalan!" Minseok mengejar dan menarik Jiwon ke kursi kecilnya.
"Baekhyun sangat mirip dengannya, Chanyeol. Apa.. Dia pacarmu?" Chanyeol menyunggingkan senyumnya, lalu menatap Namjoon dengan ambigu.
"Hmm, inginnya begitu. Wkwk" Chanyeol menepuk lengan Namjoon.
"Dia cantik, dan cocok dengan Jiwon. Nikahi saja dia?" Namjoon memberi tepukan di bahu kawaannya itu. "Sudah saatnya ada seseorang yang mau membantumu menjaga Jiwon, dan ibumu. Sudah saatnya juga kau memiliki pendamping."
"Aku tidak tau, apakah ibuku akan setuju. Baekhyun itu laki laki." Chanyeol menunduk, Namjoon membuang nafasnya sambil tertawa ringan.
"Oh ayolah, kau ini memiliki uang banyak. Kau bisa menikah di.. di Taiwan mungkin? Aku yakin ibumu akan merestui." Namjoon mengerti perasaan Chanyeol, karena sebelum menikah, dia juga merasakan namanya tidak direstui olah orang tuanya.
"Ya, baiklah. Akan kupikirkan lagi." Namjoon mengangguk.
"Bagaimana jika yang maroon itu dan hitam metalic ini saja? Yang itu juga bagus Chanyeol-ie" Baekhyun memeluk salah satu tuxedo Jiwon, dan hanya dibalas anggukan oleh Chanyeol.
"Okay, aku ambil dua ini Namjoon-ah. Ini kartuku" kata pilot itu sambil memberikan kartu kreditnya pada karyawan Namjoon.
"Seleranya tinggi. Jika kau tidak bilang jika dia laki-laki, aku tidak akan tau.." Chanyeol menatap Namjoon sinis. Namjoon mundur beberapa langkah dan berkata, "Ampun bosku, aku bocahmu."
"Jadi, sudah berapa lama kau menjadi pilot?" Minseok mengiris steaknya dengan anggun, bertanya pada pria yang duduk didepannya tanpa menatap mata lawan bicaranya sendiri.
"A-aku sudah 6 tahun, semenjak lulus aku langsung bekerja karena telah terikat kontrak sejak masih sekolah penerbangan." Chanyeol menyeruput cappuccinonya dicelah perbincangan —yang menurutnya menegangkan— ini.
"Berapa umurmu?" Lanjut Minseok dengan nada memojokkan.
"Aku.. umurku sama seperti Baekhyun, tepatnya Baekhyun 6 bulan lebih tua dariku." Chanyeol memegang cangkirnya dengan gugup. Rasanya seperti seorang tersangka yang sedang diinterogasi oleh CIA.
"Hmm, aku kira kau jauh diatas ku.. ternyata kau 2 tahun lebih muda dariku.. berarti wajahmu sangat tua sekali ya?" Chanyeol menggaruk lehernya, karena bingung bagaimana membalas tanggapan Minseok barusan.
"Chanyeol, Apa kau lajang?" Tanya Minseok to the point. Chanyeol mengangguk lalu menyeruput kembali cappuccinonya dengan ringan agar lebih rileks.
"6 tahun kau terbang, dan kau masih lajang? Apakah para pramugarimu tidak menarik? Bukankah biasanya para pilot bisa bebas bercinta dengan pramugarinya di kabin pesawat?"
"Uhukk!" Chanyeol tersedak. Pertanyaan Minseok sungguh mengagetkan. Baekhyun reflek menutup telinga Jiwon yang ada dipangkuannya.
"YAAA!! KIM MINSEOK! APA MAKSUDMU.. Oh, Ya Tuhan. Jiwonku, jangan dengarkan dia nak, kumohon." Wajah Baekhyun memerah tidak habis pikir dengan apa yang dilontarkan Minseok.
"Aku hanya bertanya, sayang. Kenapa kau begitu sekali, lagipula Jiwonpun masih tidak paham hal seperti itu." Dagu Minseok terangkat, matanya menatap Chanyeol dengan penuh intimidasi.
Chanyeol mengusap mulutnya yang belepotan cappuccino itu, "aku tidak pernah seperti itu. Aku bersumpah." Minseok menyipitkan matanya sesaat setelah mendengar jawaban Chanyeol.
"Bisakah tidak seperti itu? Kumohon hyung-ie.." wajah Baekhyun berubah menjadi mimik puppy eyes. Pipi Chanyeol memerah melihat pria imut disebelah Minseok tersebut.
"Kenapa dia seperti orang bodoh begitu saat aku bertanya-tanya? Baekhyun, kau yakin dia pilot? Kau yakin ingin menikah dengan orang mudah gugup seperti ini?" Nada bicara Minseok mulai merendahkan. Chanyeol menundukkan kepalanya, sementara Baekhyun langsung menjambak rambut Minseok sedikit keras.
"YAAACK! BERANI KAU PADAKU BYUN NAKAL?!" Jiwon membantu Minseok untuk balas menjambak Baekhyun.
"Bagus Jiwonnie! Jambak ibumu sana!"
-oOo-
"Rahasia ini. Apakah aku harus mengatakannya padamu?" Seorang wanita bersandar didalam kamar mandi sebuah rumah sakit. Dia duduk di atas closet sambil memijat keningnya frustasi.
"Sehunnie." Hanya kata itu yang bisa terucap dari bibirnya.
Kriing, kriing.'Sehun'
"Halo?"
"Kau dimana?"
"Aku masih di rumah sakit Sehunnie."
"Kenapa suaramu begitu? Kau sakit Lu?"
"A-aku hanya tidak enak badan. Aku tidak ap—"
"Shiftmu sudah selesai kan?"
"Iya, aku baru hendak berganti baju."
"Aku jemput ya? Aku dalam perjalanan ke rumah sakit. Sampai nanti sayang."
"Aku bisa pulang bersama Kyungsoo seperti biasanya, Sehunnie."
"Tidak, aku yang akan menjemputmu. Sudah ya? Aku sedang menyetir."Pip!
"Hhhhh" helaan nafas Luhan terdengar berat. Dia mengelus perut datarnya, sambil menatap kosong pintu bilik kamar mandi tersebut.
Tak lama, Luhan sudah mengganti bajunya. Dia menimang jas dokternya sambil menunggu Sehun dipintu depan rumah sakit.
Ferrari hitam legam melaju pelan dan berhenti tepat didepan Luhan. Dengan kaca mata hitamnya, Sehun keluar dari mobil dan langsung membukakan pintu untuk sang pemaisuri.
"Hey, kenapa kau sampai turun begitu Sehunnie? Aku bisa melakukannya sendiri." Luhan masuk kedalam mobil dengan kaget sekaligus tersipu.
Blam!
Sehun berlari ke bangku kemudi, disana ia menatap Luhan dengan seksama.
"Bagaimana bisa kau melihatku dengan kacamata mu itu? Apakah aku menyilaukan?" Luhan mendorong bahu Sehun.
"Kau sakit? Mau kuantar kedalam lagi untuk periksa?" Sehun mengusap kepala Luhannya dengan lembut. Wanita itu menggeleng kuat.
"Tidak, aku tidak apa apa. Aku hanya kelelahan. Ayo pulang?" Luhan hanya bisa tersenyum palsu. Dia takut Sehun akan memarahinya jika tau bahwa dia hamil.
Ya, hamil.
Luhan mual dan muntah muntah beberapa hari yang lalu, bahkan sedikit demam. Sedikit kesusahan juga karena Sehun tidak bisa selalu disisinya. Disaat Sehun berdinas beberapa hari yang lalu, Luhan menghubungi Kyungsoo dan menyuruhnya kerumah, karena saat itu mual dan muntahnya kembali.
Flashback on.
"Kau sudah tidak demam tapi kenapa masih mual dan muntah? Aku heran." Kyungsoo memijat tengkuk Luhan yang sedang sibuk mengeluarkan isi perutnya, namun hanya tetesan air liur yang keluar dari mulutnya.
"A-aku bingung. Apa yang terjadi padaku sebenarnya. Rasanya perutku kosong, tapi mengapa aku mual? Aku bahkan tidak makan makanan basi." Luhan berjalan dengan bantuan Kyungsoo. Mereka duduk diranjang Luhan.
Kyungsoo menyuruh Luhan untuk berbaring, dia memeriksa denyut nadi sahabatnya itu, lalu menekan beberapa bagian di perut Luhan. Merasa ada yang janggal, Kyungsoo mengeluarkan stetoskop nya dan kembali memeriksa perut Luhan. Mata Kyungsoo membesar.
"L-luhan. Kau.."
"Hm? Ada apa Kyungsoo-ya? Kenapa wajahmu begitu? Apa terjadi sesuatu padaku?" Luhan menatap Kyungsoo heran. Wanita yang lebih muda dari Luhan itu merogoh tasnya dengan cepat, lalu memberikan sebuah test pack padanya.
"Periksalah Lu. Aku tau kau melakukannya dengan Sehun berkali-kali." Kyungsoo menggenggamkan terstpack itu ditangan Luhan.
"Apa.. a— jangan bercanda... Kau sungguh menakutiku!"
"Periksalah dulu, Luhan! Cepat! Kubantu berjalan kekamar mandi, ayo."
"Tidak, aku akan memeriksanya sendiri!" Luhan berjalan sedikit terhuyung ke kamar mandinya. Di dalam sana Luhan hanya menatap alat itu sambil terdiam.
Tok tok!
"Jangan buat aku khawatir, cepatlah keluar dan kita lihat hasilnya bersama." Interupsi Kyungsoo menyadarkan Luhan. Luhan langsung menggunakan alat tersebut, tidak berapa lama Luhan keluar sambil menjauhkan alat itu.
"Bagaimana?" Tanya Kyungsoo penasaran.
"Aku belum melihatnya, kau saja.." Luhan memberikan alat itu pada Kyungsoo. Lalu Kyungsoo langsung melihatnya.
"Lu, kau.. benar benar hamil."
Luhan menutup mulutnya tak menyangka bahwa dia akan hamil. Dalam hatinya, dia senang, tetapi juga takut.
"Kau dan Sehun akan menjadi orang tua, Lu! Cepatlah kalian menikah!" Seru Kyungsoo dengan wajah gembira.
"A-aku senang, tapi aku takut. Apakah Sehun akan senang atau tidak.. Kyungsoo, bagaimana jika Sehun tidak menerima anakku?" Senyum Kyungsoo memudar begitu mendengar celotehan Luhan.
"Tidak akan, aku tau Sehun. Dia orang yang bertanggung jawab. Jujurlah padanya." Kyungsoo menggenggam tangan sahabatnya dengan kuat.
"Aku belum siap. Aku akan mengatakannya jika aku sudah siap."
"Aku percaya juga padamu. Kau wanita kuat, kau tidak pernah menghianati apa yang kau katakan. Semoga bahagia Lu!" Luhan memeluk Kyungsoo dengan perasaan yang campur aduk.
"Terimakasih sudah selalu ada saat kekasihku tidak disampingku."
Flashback off. -oOo-
"Apakah kau tidak merasakannya?" Wanita paruh baya itu terlihat serius berbicara dengan orang yang duduk dihadapannya. Didalam ruang VIP restoran Viva Polo tersebut keduanya berada.
"Merasakan apa eomma?" Pria itu menatap ibunya bingung.
"Kau sudah terlalu dekat dengan Byun Baekhyun."
"Baiklah, lalu?"
"Hhh?" Lenguhan itu yang terdengar dari bibir Nyonya Park. Beliau memejamkan matanya sejenak. "Kau tidak mengerti yang eomma khawatirkan? Bahkan sekarang Jiwon tidak bisa lepas dari 'Amma'nya!" Nyonya Park menekankan kata 'amma' kepada Chanyeol.
"Lalu apa masalahnya, eomma? Baekhyun juga sudah menganggap Jiwon sebagai anaknya sendiri. Dan aku tidak keberatan atas itu." Jawab Chanyeol dengan santai.
"Apa maksudmu berkata seperti itu? Kau mencintainya? Lalu kau berniat menikah dengan pemuda itu, begitu maksudmu hah?" Nyonya Park mulai sedikit membentak pada Chanyeol, dan anak itu tetap menatap eommanya dengan pandangan yang sama.
"Jika memang benar aku mencintainya, bagaimana?" Pertanyaan polos seorang Park Chanyeol membuat ibunya tidak habis pikir.
"PARK CHANYEOL!"
To Be Continued or..
