DISCLAIMER :

Togashi-Sensei

kurisleen

PAIRING :

Absolutely KuroPika^^

SUMMARY :

Delapan bulan setelah pertemuan Kurapika dengan Genei Ryodan, dia menemukan pamannya yang sudah lama menghilang dan akhirnya terfokus untuk menemukan mata saudara sesukunya. Yang tidak diketahuinya adalah Kuroro Lucifer sudah menemukan seseorang yang bisa mengangkat kutukan Nen-nya.

GENRE :

Romance & Adventure

WARNING :

FemKura. Half Canon.

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-. -.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-. -.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.

CHAPTER 5: RING

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-. -.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-. -.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.

Meskipun demikian, pesta kecil itu berlanjut. Para tamu saling bercakap-cakap dengan gembira beserta segelas anggur di tangan mereka. Para pasangan berdansa dengan riang seirama alunan musik. Atmosfir ruang makan itu ceria tapi yang tidak mereka semua ketahui adalah seorang gadis pirang Kuruta tengah mengalami mimpi buruk dalam hidupnya.

"Aku yakin kalian berdua sudah saling kenal," Kairo Bethel menduga sambil melihat Kuroro dan Kurapika bergantian. Kurapika masih terkejut, tak sanggup berkata-kata atas pemberitahuan yang mendadak bahwa dia hampir akan bertunangan dengan musuh abadinya.

"Ya, kami saling mengenal dengan sangat baik, iya 'kan, Kurapika?" Kuroro tersenyum padanya seolah itu adalah hal yang paling biasa di dunia.

Si Kuruta pasti tersadar dari keterkejutannya saat mendengar namanya. "Apa artinya ini?" Jelas dia menahan kemarahannya, suatu usaha yang sia-sia, berusaha tidak membuat kekacauan yang akan mengganggu para tamu di aula itu. Matanya yang sebiru samudera mulai bersemburat kemerahan. Andai mereka benar-benar sendiri, dia pasti sudah memenggal kepalanya.

Di sisi lain, dia akan mati bersamanya jadi merupakan suatu hal yang meragukan jika Kairo Bethel akan membiarkan Kurapika melakukan apa yang diinginkannya.

"Jangan di sini, Sayangku." Dia mendengar pamannya berbisik dengan hati-hati. Cukup bisa didengar oleh mereka bertiga.

Kurapika langsung berbalik dan memutuskan untuk kembali ke kamarnya, menemukan cara bagaimana menangani situasi ini. Pamannya harus memberi banyak penjelasan padanya. Tapi sebelum dia mencapai anak tangga paling bawah, dua orang wanita separuh baya menghalangi jalannya, tersenyum lebar padanya.

"Selamat atas pertunanganmu, Sayang," wanita yang lebih tinggi berkata, meraih sebelah tangan Kurapika dan menjabatnya pelan. "Kau mendapatkan pria yang tampan."

Wanita yang seorang lagi menghela napas dengan cara yang dramatis. "Andai saja aku beberapa tahun lebih muda."

"Tolong," Kurapika berkata, dengan suara yang agak pelan. "Biarkan aku lewat." Sambil mengatakan itu, Si Gadis Kuruta melanjutkan langkahnya ke arah tangga lalu pergi ke kamarnya.

Begitu sosok gadis itu undur diri, Kuroro memandangi pungung tunangannya dan merenungkan syarat-syarat yang ditawarkan Kairo Bethel padanya. Dia terkekeh dalam hati, kenapa dia menyetujui tawaran itu padahal dia sama sekali tak punya urusan dengan masalah keluarga mereka—apapun itu.

Meskipun demikian, Kuroro menganggukkan kepalanya, menyetujui tawaran tersebut dua minggu yang lalu.

Dua minggu yang lalu...

Mereka sedang duduk di sebuah restoran eksklusif dan mewah yang tak lain adalah milik Kairo Bethel sendiri. Kuroro sudah setuju mendampinginya untuk membahas tawaran tertentu yang sebenarnya membuatnya tertarik. Hal itu berkaitan dengan Si Pirang Kuruta.

Tn. Bethel mulai menjelaskan tentang seluruh situasi yang terjadi. Dia menjelaskan tentang kemampuan unik Zali Bethel (yang ingin dia curi tapi sayangnya dia sudah meninggal) , kondisi pisau Nen Kurapika sekarang ini yang tertuju ke jantungnya, dan satu-satunya cara untuk mengangkat pisau itu.

"Mari kita bicara langsung ke intinya," Kuroro berkata setelah menyesap tehnya. "Kau ingin aku membantumu melepaskan Nen dari tubuhnya?" Dia bertanya sambil menatap langsung Tn. Bethel dengan mata onyx-nya yang kosong.

Kairo Bethel mengangguki. "Aku yakin hanya kau yang bisa melakukannya. Karena kau adalah akar dari segala kebenciannya, aku ingin kau menghapus kebencian itu dari dirinya. Seperti halnya istriku, aku merasa bahwa kebencian kuat yang dia miliki untukmu dan kelompokmu tidak baik bagi kebaikannya."

"Aku terkejut," Sang Pemimpin Geng Laba-laba berkata dan menautkan kedua tangan sementara kedua sikunya ditempatkan di kedua lengan kursi. "Kau tidak terlihat begitu membenciku. Aku sudah membunuh saudaramu, ibumu dan seluruh keluargamu."

Pria itu tersenyum. "Jika ada satu hal yang kupelajari dari istriku, pasti itu adalah untuk memaafkan dan melupakan," dia menjawab. "Meskipun aku tak bisa melakukan bagian 'melupakan' itu, aku mampu memaafkanmu atas apa yang kaulakukan lima tahun yang lalu."

Kuroro mengangguk tanda mengerti dan di dalam hati, dia jadi lebih menghormati Kairo.

"Jadi, kalau aku menyetujui tawaran itu, apa yang akan aku dan kelompokku dapatkan?"

Mendengar pertanyaan tersebut, Tn. Bethel memanggil Aki dan dia menyerahkan sebuah map putih padanya. Map itu diberikan kepada Kuroro dan dia menerimanya. Dia membukanya, membaca isinya. Matanya sedikit terbelalak saat membaca kertas tersebut.

"Kalau kau bisa menghapuskan kebenciannya padamu, aku akan mendukung Ryuusegai secara sosial dan finansial. Bukan hanya itu, aku pun akan menggunakan pengaruhku untuk mendapatkan akses atas informasi apapun yang kau butuhkan," Kairo mengambil jeda sejenak tapi tetap melanjutkan ucapannya, "Aku juga akan memberikan koleksi buku dan pedang langka milikku padamu."

Kuroro tersenyum. "Buku-bukumu?" Dia bertanya.

Menanggapi pertanyaan itu, Kairo terkekeh. "Kau mudah dibujuk dengan buku, 'kan?"

"Aku tidak merasa malu untuk mengatakan bahwa buku adalah kelemahanku."

"Bahkan Kurapika belum pernah membaca satu buku pun dari perpustakaan pribadiku. Tapi aku bersedia memberikannya padamu jika kau mau bekerja sama," Tn. Bethel berkata.

Setelah dia berkata demikian, Kuroro mengangkat sebelah tangannya dan menunduk dalam gaya berpikirnya yang khas. Ketika dia kembali menatap Kairo Bethel, jelas dia belum mengambil keputusan.

"Kalau aku benar-benar setuju, bagaimana aku akan melakukannya?" Dia bertanya.

"Kau pemuda yang pintar, Kuroro Lucifer. Aku yakin kau akan menemukan caranya," Tn. Bethel menjawab dan menyesap tehnya sendiri.

"Itu cukup sulit, mengingat kondisi kami berdua," Kuroro berkata. "Kau harus memaksakan dirinya padaku." Tampak ekspresi bingung di wajah Kairo dan Sang Pemimpin Geng Laba-laba itu melanjutkan, "Dengan hanya mendadak berteman dengannya tak akan berhasil. Harus merupakan sesuatu yang memaksa hingga dia tak akan punya pilihan lain kecuali membiarkanku masuk. Kemudian, aku akan melakukan tugasku mulai dari sana."

Untuk yang kesekian kalinya, Kairo Bethel terkekeh. "Itu rencana yang bagus, Kuroro." Lalu dia menatapnya dengan menampakkan tanda keseriusan. "Bagaimana kalau aku membuatmu bertunangan dengannya?"

Awalnya, Kuroro tak mampu berkata-kata dan hanya diam menatap pria itu. Tapi kemudian, dia tersenyum lebar. "Itu...kondisi yang memaksa," dia menggambarkannya dan mengangguk.

"Kalau begitu, aku perlu jawaban jelas darimu. Ya atau tidak?"

"Dua minggu," Kuroro berkata. "Beri aku waktu dua minggu dan aku akan memberimu jawaban."

Dengan itu, mereka mengakhiri percakapan tersebut dan berpisah jalan.

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-. -.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-. -.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.

Kurapika duduk di tempat yang sama di ruang belajar kairo Bethel saat seorang pria berambut hitam berdiri di samping jendela kaca yang menampakkan pemandangan samudera biru yang luas. Ada aura suram dan mematikan di sekeliling Si irang Kuruta hingga dia berusaha menahan diri tapi gagal melakukannya. Tangannya mengepal begitu erat hingga ruas-ruas jemarinya memutih dan matanya berubah warna dari biru menjadi berkobar merah menyala.

Di meja di tengah ruangan itu, Kairo Bethel duduk, memandangi kedua sosok tersebut secara bergantian. Lalu dia memutuskan untuk membuyarkan keheningan yang begitu menyesakkan itu.

"Kita harus memutuskan bagaimana kita akan mengumumkan pertunangan ini jadi kalian berdua harus memutuskan kapan dan bagaimana caranya," dengan tegas dia berkata. Karena Keluarga Bethel dikenal luas di seluruh dunia, semua mata dan telinga akan tertuju pada mereka, khususnya Kurapika yang merupakan pewaris keluarga tersebut. Mengumumkan pertunangan itu kepada publik perlu dilakukan guna mencegah media menanyai mereka.

Kuroro menoleh dan memandang ke arah Kurapika (yang menolak untuk memandangnya walau hanya melirik saja) dan kemudian kepada Tn. Bethel. "Secepat sekarang. Mungkin minggu depan."

Kali ini, Kurapika berdiri. "Bukan kau yang harus memutuskan, Brengsek." Dia hampir berteriak lalu dia pun menoleh kepada pamannya. "Dan apakah aku juga setuju...atas hal ini?" Dia menolak menggunakan kata 'pertunangan'. Lebih seperti pernikahan yang diatur daripada sebuah pertunangan.

"Kurapika, tenanglah. Dengar apa yang harus kukatakan." Kalimat itu cukup efektif bagi gadis pirang yang amarahnya tengah bergolak itu untuk kembali duduk dan melipat kedua lengannya di dada. Melihat sikap patuh tersebut, Tn. Bethel melanjutkan, "Tn. Lucifer dan aku menandatangani sebuah kesepakatan dengan tiga syarat."

Kurapika tetap diam meskipun dia meremang marah. Akhirnya matanya berubah merah dan Tn. Bethel tidak menyukainya.

"Pertama, meskipun kelompoknya tidak akan menghentikan kegiatan mereka, setidaknya mereka akan menahan diri untuk tidak membunuh siapapun." Si Kuruta terlihat menegang tapi tetap saja, dia tetap diam. "Kedua, dia akan membantu kita dalam hal bisnis dan memberimu perlindungan."

"Perlindungan?" Kurapika mengulangi dengan muram. "Elite Seven sudah cukup. Aku tak perlu perlindungan yang lainnya lagi."

"Ketiga," Tn. Bethel melanjutkan dan mengabaikan protes dari keponakannya, "Dia akan membantumu mengumpulkan sisa Mata Merah."

Sesuai dugaan, mata Kurapika membelalak, sedikit terkejut sambil menatap pamannya kemudian menatap pria yang paling dia benci. Kuroro balik menatap dan Si Kuruta memalingkan wajahnya lagi.

"Aku sendiri yang menjual semua mata itu di pasar gelap. Aku lebih tahu darimu di mana kau bisa menemukan semuanya," Sang Pemimpin Geng Laba-laba itu berkata dan melangkah menuju ke sofa yang empuk untuk duduk berhadapan dengan tunangannya.

"Aku bisa mengumpulkannya sendiri," gadis itu membalas.

Kuroro mendengus sinis. "Sejauh yang aku tahu, kau hanya berhasil mengumpulkan lima pasang mata dan semuanya dari pelelangan," dia memberitahunya. "Kau benar-benar mengira kau bisa menemukan semua mata itu hanya dengan menghadiri pelelangan?"

"Aku tahu apa yang kulakukan dan berhentilah bicara padaku."

"Yang ingin kukatakan adalah kebanyakan pemilik Mata Merah saat ini merupakan bos mafia yang tak akan pernah mau menyerahkan benda pusaka itu tak peduli seberapa banyak kau menyuapnya."

"Mafia mudah ditipu dengan uang. Mereka mendewakannya."

Sambil berkata begitu, Kurapika berdiri dan melangkah keluar dari ruangan tersebut.

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-. -.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-. -.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.

Kuroro meraba cincin perak bermata rubi di tangannya dengan hati-hati, berhati-hati agar tidak menggoresnya. Cincin itu diberikan kepadanya oleh Kairo Bethel. Seharusnya cincin itu adalah cincin pertunangan Kurapika yang mesti dia berikan sendiri. Tapi bagaimana caranya? Sang Pemimpin Geng Laba-laba mengamati cincin itu lebih dalam lagi dan menemukan bahwa ada empat huruf terukir di dalam cincin tersebut: K.L•K.K - Kuroro Lucifer dan Kurapika Kuruta.

Dia menertawakan ide gila Tn. Bethel dan dia pun merasa cukup yakin bahwa Si Pirang tak akan pernah memakainya. Mungkin dia menerimanya tapi tak akan pernah memakainya.

"Yah, kurasa aku harus memberikan ini padanya sekarang," ucap Kuroro dan bangkit dari tempat duduknya. Dia masih berada di Pulau Bethel dan dia akan terus di sana hingga dia sudah merasa bosan.

Sejauh yang dia perhatikan, tempat itu tak pernah membuatnya bosan. Mungkin itu karena adanya kenyataan bahwa setiap kali dia berpapasan jalan dengan Si Kuruta, dia merasa senang dan sangat menyenangkan melihat reaksinya.

Dia terus berjalan di koridor menuju tangga ke lantai dua di mana kamar gadis pirang itu berada. Ini akan menjadi kali pertama dia bisa melihat kamar Kurapika. Pria itu mengetuk pintu tiga kali namun tak ada yang menjawab. Dia coba lagi dan lagi tapi sepertinya di dalam tak ada siapapun.

Tanpa buang waktu, dengan perlahan dan lembut Kuroro membuka pintu itu dan melongok ke dalam. Kamar itu seperti kamar biasa pada umumnya. Ada sebuah meja kopi dengan sofa, gordennya berwarna cerah dan cemerlang, lemarinya antik, rak buku yang penuh dengan buku-buku langka, dan di atas tempat tidur terbaring sosok Kurapika alias Bethel yang tengah tertidur.

Kurapika sedang tidur nyenyak seolah seluruh dunianya tidak penuh masalah seperti saat ini. Poninya sedikit menutupi wajahnya yang lembut dan Kuroro merasakan dorongan gila di dalam dirinya untuk melangkah menghampiri dan menyelipkan poni iyu ke belakang telinga Kurapika. Mungkin terdengar gila, tapi itulah yang dia lakukan.

Dengan lembut dia duduk di tepi tempat tidur, di dekat Si Kuruta. Gadis itu bergerak sedikit namun tidurnya tetap tak terusik. Kuroro mengulurkan tangannya dan menyingkirkan helaian rambut pirang yang menutupi wajanhnya, menyelipkannya ke belakang telinga. Kelihatannya dia sendiri terkejut melakukan hal itu tanpa sadar. Atau mungkin juga tidak.

Sambil membungkukkan badannya, dia bisa mencium aroma wanginya yang berbeda. Jika ada orang yang melihat mereka sekarang, mereka akan menyimpulkan bahwa mereka sungguh sepasang kekasih yang benar-benar saling peduli akan kebaikan masing-masing. Tapi tidak begitu kenyatannya.

Kuroro menggerakkan jemarinya di rahang Kurapika, menelusurinya dengan lembut. Gadis itu terlihat begitu rapuh dan tak berdosa. Tak ada seorang pun yang berpikir bahwa dia sudah membunuh dua orang sebelumnya.

Tiba-tiba, tanpa peringatan atau apapun juga, mata Kurapika terbuka dan matanya bertemu dengan mata obsidian itu. Sesaat mereka saling menatap tapi kemudian, suatu kenyataan merasuki gadis itu. Tangan Kuroro masih berada di pipinya dan Kurapika terlihat tersipu.

Sebelum ada kalimat yang terucap, Si Pirang Kuruta sudah mengangkat sebelah tangannya dan berusaha menampar Kuroro. Tapi pria itu cukup cepat dan dia pun menangkap perlangan tangannya dan menekannya kembali ke tempat tidur. Sosoknya yang lebih besar menjulang di atas sosok si gadis yang lebih mungil.

"Dasar bajingan! Apa yang mau kau lakukan?" Dengan marah dia bertanya, Mata Merahnya membara. Namun, rona kemerahan masih nampak di wajahnya dan Kuroro tersenyum dengan angkuh ketika dia memperhatikan hal itu.

"Apa lagi? Hanya melaksanakan hasil negosiasi dengan melindungimu," Sang Pemimpin Geng Laba-laba menjawab.

"Kau mencoba melecehkanku secara seksual!"

"Tidak," jawabnya tegas. "Aku hanya memandangimu. Akan kuajari seperti apa sebenarnya pelecehan seksual itu."

Kurapika mengenakan blus berkancing saat itu dan Kuroro memulainya dari situ. Perlahan dia membuka kancing blusnya dari bawah hingga ke atas. Untung bagi Si Kuruta, dia mengenakan kaus dalam.

"Apa yang kaulakukan! Menyingkir dariku!" Mata Merahnya terlihat berkaca-kaca dan ketakutan.

Kuroro terkekeh jahat tapi meskipun demikian dia melompat menjauh darinya. "Kita harus melakukannya lebih sering, lagipula kita akan menikah," dia berkata seolah memang begitu kenyatannya.

"Keluar dari kamarku, Bajingan!" Kurapika berseru sambil mencengkeram blusnya yang sekarang semua kancingnya sudah dilepaskan.

"Baiklah. Aku datang ke sini hanya untuk memberitahumu untuk mempersiapkan diri karena besok, kita akan pergi ke pesta untuk mencuri Mata Merah yang akan dipajang di sana."

Mendengar hal itu, Kurapika tersentak dan menatap Kuroro.

"A-Apa?" Tanyanya bodoh.

"Aku baru saja bilang dan aku tak akan mengulanginya." Kuroro berbalik dan berjalan menuju ke pintu. Tapi dia mendadak berhenti dan memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku. Dia mengambil cincin bermata rubi yang ia mainkan tadi dan melemparkannya kepada Kurapika.

Cincin itu mendarat tepat di atas tempat tidur di depan Si Kuruta yang tengah terduduk. "Sebaiknya kau pakai itu di pesta jadi jika pria lain melihat tanganmu, mereka akan mundur."

"Apa ini?" Kurapika bertanya meskipun dia sudah tahu jawabannya.

"Cincin pertunangan kita."

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-. -.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-. -.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.

Di dalam mobil, keheningan dan kecanggungan menaklukkan suasana. Kuroro duduk di sebelah kiri, mengenakan tuksedo hitam sementara Kurapika duduk di sebelah kanan mengenakan gaun hitam dengan desain yang simpel untuk pesta.

Tak ada seorang pun yang bicara saat mereka tibadi tempat pesta. Mereka disapa oleh pembawa acara dan dengan elegan bergegas menuju ke salah satu tempat duduk VIP. Kurapika dan Kuroro duduk bersebelahan tapi tetap saja tak ada yang bicara. Hal itu sedikit membuat Sato dan Kenji khawatir. Malam itu mereka berdua bertugas sebagai pengawal.

Mungkin Mata Merah adalah satu-satunya benda yang diletakkan di atas meja dna ditutupi kain berwarna merah.

Akhirnya Kuroro berhenti memandangi pemain biola yang berada di atas panggung dan menoleh untuk memandangi Kurapika. Si Gadis Pirang merasakan hal tersebut dan tak tahan untuk tidak sedikit bergerak.

"Apa yang sedang kau lihat?" Dia bertanya tanpa bertemu dengan mata pria itu.

"Kau terlihat cantik," Kuroro memuji, dan hal ini menimbulkan decakan lidah dari gadis itu. Kuroro memutuskan untuk mengabaikannya tapi yang lebih membuatnya senang adalah kenyataan bahwa Kurapika sedikit tersipu ketika dia memujinya.

"Nona Kurapika!" Seorang pria gemuk menghampiri meja di mana 'pasangan itu' sedang duduk. Pria itu tak lain tak bukan adalah Tn. Avery. "Oh! Dan Kuroro Lucifer!"

Kuroro dan Kurapika pun berdiri. Sang Pemimpin Geng Laba-laba menjabat tangannya sementara Kurapika memeluknya. Mereka bertiga duduk bersama dan berbincang-bincang.

"Tn. Avery, senang bertemu denganmu di sini," Si Kuruta berusaha sedikit tersenyum.

"Ah! Ya, ya! Aku di sini untuk melihat Mata Merah yang berharga. Orang bilang Mata Merah itu sangat indah. Ada hubungan antara warna dan kilauannya. Seseorang memberitahukan itu padaku dan aku tidak tahu apa artinya," pria tua itu tertawa-tawa.

Kuroro mengangguk mendengar ucapannya. "Mata itu memang indah, benar Cinta?" Dia melihat Kurapika dan gadis itu terlihat kaget mendengar bagaimana Kuroro memanggilnya.

"Ngomong-ngomong tentang hubungan, bagaimana dengan kalian?"

"Hubungan kami semakin kuat, Tuan." Pria muda itu merangkul bahu Kurapika dan menarik gadis itu lebih dekat ke badannya. Masih merasa kaget, Kurapika tidak memperhatikan bahwa mereka sedang dalam posisi yang mesra. Dia kembali ke dunia nyata saat mendengar lagi suara tawa Tn. Avery yang lebih keras.

"Itu bagus! Senang mendengarnya!" Dia berkata. Ketika Kurapika mengangkat tangan kirinya yang memegangi segelas air ke mulutnya, matanya melihat cincin bermata rubi yang dia kenakan. "Apakah itu cincin pertunanganmu? Cantik!"

Mata Kuroro melihat ke bawah dan seulas senyum menghiasi bibirnya tatkala dia melihat cincin rubi itu tersemat di jari manisnya.

"Baiklah, kalau begitu." Tn. Avery berdiri. "Masih ada beberapa orang yang harus kusapa. Kalian berdua segeralah menikah dan buat bayi yang banyak."

"Pasti," dia menjawab dengan kesan nakal di dalamnya.

Kurapika tersedak mendengar kalimat terakhir itu dan sedikit terbatuk-batuk. Untunglah, Tn. Avery tidak menyaksikannya karena dia sudah segera berbalik. Kuroro tak tahan untuk tidak tertawa pelan melihat reaksinya.

"Lepaskan lenganmu atau aku akan memenggalnya," Kurapika mengancam dan Kuroro mematuhinya tanpa menjawab lebih jauh. Dia bisa melihat Si Kuruta sangat tersipu atas apa yang dia katakan barusan.

"Tak kusangka kau akan memakainya," dengan senang Kuroro berkata, merujuk kepada cincin bermata rubi itu.

"Aku pakai ini untuk menyingkirkan para bajingan. Bajingan sepertimu.

"Mmhh." Kuroro hanya bergumam. "Bukankah itu mantan majikanmu?"

Kurapika berbalik menuju ke arah yang dia tunjuk dan melihat Neon Nostrad bersama beberapa orang pengawal tengah berbicara dengan Tn. Avery. Dia pun pasti ada di sini untuk melihat Mata Merah yang terkenal.

"Mata itu tak akan dijual. Bagaimana kau mendapatkannya?" Si Pirang takut untuk memulai percakapan dengannya tapi dia penasaran dan rasa penasarannya menjadi lebih tinggi daripada harga dirinya.

"Anak buahku akan mencurinya."

"Apa?"

"Diam saja dan serahkan segalanya padaku," perintah Kuroro dengan tegas dan Kurapika mendapati dirinya mengikuti pria itu.

Beberapa jam kemudian, sang pembawa acara akhirnya masuk dan setelah mengucapkan rasa terima kasihnya kepada orang-orang yang hadir dan mengetahui beberapa di antaranya berasal dari status sosial yang lebih tinggi (seperti Keluarga Bethel), akhirnya dia melepaskan kain merah dari benda yang ada di atas meja dan tampaklah sepasang Mata Merah menakjubkan yang berkobar seolah mata itu masih hidup.

Tapi sebelum sang pembawa acara bisa mengatakan sesuatu di depan mikrofon mengenai mata tersebut, listrik mendadak padam dan kegelapan memenuhi tempat itu. Hal berikutnya yang Kurapika tahu adalah sebuah lengan yang kuat diselipkan di belakang lutut Kurapika dan tubuhnya diangkat.

"Pegangan yang erat, Kurapika," bisik sebuah suara bariton dengan lembut dan dia merasakan pria itu melompat. "Kita kabur."

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-. -.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-. -.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.

TBC

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-. -.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-. -.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.

Maaf atas update yang teramat sangat terlambat.

Leave your review please...?^^

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-. -.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-. -.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.

~ KuroPika FOREVER ~