"Baekhee, aku sudah melakukan semua yang kau suruh. Mengapa kau masih tidak mau menerimaku? Aku sungguh mencintaimu." Chanyeol menggenggam kedua tangan mentor cantiknya itu dengan erat. Menatap dalam manik wanitanya dengan penuh emosi.
"Maafkan aku Chanyeol. Aku menyayangimu, sangat menyayangimu. Tapi aku tidak bisa.."
"Kenapa? Bahkan orang tua kita sangat dekat! Ibuku dan ayahmu terlihat bahagia saat kita berdua bersama!"
"Karena itulah Chanyeol, karena itulah aku tidak bisa. Orang tua kita saling mencintai, aku tidak mau merusak kebahagiaan mereka."
"Tapi.. Kau bilang kau menyayangiku! Kita berdua juga saling mencintai! Kenapa mereka boleh, sedangkan kita tidak?!"
"Chanyeol, terkadang kau harus melepaskan sesuatu yang kau sayangi untuk sesuatu yang lain. Bukan berarti kau tidak pantas mendapatkannya, tetapi Tuhan telah mempersiapkan sesuatu yang lebih baik dari apa yang sudah kau lepaskan. Cinta itu butuh pengorbanan. Aku sangat mencintai ayahku, dan juga kau pasti sangat mencintai ibumu. Aku ingin melihat ayahku bahagia dengan seseorang yang dicintainya."
Berlian dari mata Chanyeol mulai menetes, bias cahaya lampu kota yang memantul dari air sungai Han yang tenang menjadi saksi bisu bahwa seorang Park Chanyeol, si berandal nakal SMA Hanwon meneteskan air matanya demi seorang yang ia cintai.
"T-tapi.. B-baekhee..."
"Chanyeol, aku sangat menyayangimu." Baekhee mengusap rambut Chanyeol dengan sedikit susah karena selisih tinggi mereka yang lumayan jauh. "Kau mencintai ku kan?" Tanya wanita berambut coklat terang itu dengan lembut.
Baekhee hanya mendapat anggukan dari Pemuda yang berselisih 4 tahun dibawahnya tersebut. Chanyeol masih meneteskan air matanya.
"Kalau begitu, biarkanlah orang tua kita bersama. Aku mohon, karena harapanku adalah untuk membahagiakan orang tua. Ini sungguh berat, aku tau perasaanmu. Aku pun sempat mencintaimu, Chanyeol-ah." Air mata menggenang di pelupuk mata Baekhee.
"Ku mohon, jangan menangis ya Chanyeol-ie? Kita akan tinggal bersama jika orang tua kita menikah." Baekhee mengusap air mata Chanyeol dengan tangan halusnya. Chanyeol sedikit terisak.
"Baek.. A-aku ingin melindungimu hiks!"
"Chanyeol, jadilah lebih dewasa. Kau sudah mau lulus SMA. Berfikirlah sedikit lebih matang." Keduanya terdiam. Chanyeol tersedu dalam tangisnya. Baekhee mengatupkan kedua tangannya di pipi Chanyeol.
"Mereka akan menikah bulan depan, setelah itu, kita akan tinggal bersama!" Senyum paksaan Baekhee tersungging dalam kelam malam.
"M-mwo? Lalu.. lalu kenapa eomma tidak bilang padaku?! Berani beraninya!"
"Ibumu ingin aku yang mengabarkannya untukmu. Dan aku sudah memberi taumu sekarang kan?"
"T-tapi.. Kenapa secepat itu?"
"Pernikahan Ayahku dan Ibumu dipercepat, karena 3 bulan lagi aku harus pergi Chanyeol-ie."
"M-mwooh?! Apa lagi ini? Kau berniat meninggalkanku? Kau sangat tega padaku, Baekhee!"
"Hey, dengarkan aku dulu. Aku harus kuliah Chanyeol, di Australia."
"Kenapa sejauh itu? Disini kan banyak universitas?! Kau sengaja ingin menjauhiku, iya kan?" Chanyeol menghempas tangan Baekhee dari pipinya.
"Park Chanyeol, dewasalah sedikit!!"
Chanyeol terdiam, dia kaget karena bentakan Baekhee. Jujur, Baekhee merasa emosi karena sikap Chanyeol yang tak kunjung mengerti.
"Pahami aku, Park Chanyeol! Aku ingin menjadi dokter, dan ini kesempatan yang sudah ku dapatkan dengan susah payah! Apakah salah ingin jika aku berusaha mencapai cita-cita yang ku inginkan sejak dulu, hah?!" Baekhee menangis. Emosinya meluap dihadapan Chanyeol.
Chanyeol menatap Baekheenya tak percaya. Ini semua mimpi Baekhee. Dan Chanyeol hampir menghancurkannya.
"M-maafkan aku. Aku tidak bermaksud.."
"Hiks. Sudahlah, aku hanya ingin kau mengerti. Tujuanku saat ini hanyalah membahagiakan Ayahku dan mendiang ibuku. Aku mohon Chanyeol.." lutut Baekhee menyentuh rerumputan ditepi sungai Han, memeluk kaki Chanyeol yang sama-sama lemas tergilas emosi, kesedihan dan kebimbangan yang melanda hatinya.
Dengan perlahan, pria berusia 17 tahun itu beringsut dan memeluk Baekheenya, dengan erat.
"Aku mengerti. Maaf atas sikap bodohku. Tolong jangan menangis lagi, noona." Keduanya tidak melanjutkan obrolan mereka. Isak tangis Baekhee menggema disana.
O
"Kau sudah makan?" Sehun melepas kaca mata RayBan yang ia pakai, lalu digantungkannya pada liontin foto HunHan yang tergantung di spion mobil.
"Belum, kau sudah Hun?" Luhan mencoba menjawab sesantai mungkin, namun tetap saja wajah gusarnya mampu terbaca oleh mata tajam seorang Oh Sehun meskipun hanya melirik sekelibat saja.
"Kau sedang tidak baik? Mau es krim?" Sehun menggenggam tangan Luhan dengan mata yang tetap fokus di jalanan.
Luhan menatap tangan Sehun yang mengusap punggung tangannya dengan lembut. Laki-laki ini yang mencintainya. Laki-laki ini yang selama hampir 4 tahun bersamanya. Laki-laki ini yang tidak pernah menyakiti hatinya. Luhan merasa tidak tega harus memberitau kabar bahwa dirinya tengah berbadan dua pada Sehun. Perasaannya campur aduk. Takut, bahagia, sedih, semuanya bercampur. Alis Luhan terlihat tegang akhir akhir ini.
"Tidak, aku mau makan saja." Ucap Luhan singkat. Sehun hanya tersenyum mendengarnya.
"Baiklah kalau begitu! Kau mau makan apa Lu?" Sehun memperlambat laju mobilnya menunggu jawaban Luhan.
"Terserah padamu saja."
"Bagaimana jika sashimi atau sushi?" Sehun mengingat restoran Jepang yang mereka berdua kunjungi beberapa hari yang lalu.
"Tidak, aku menghindari makanan mentah." Luhan menatap jalanan melalui jendela.
"Hmm, bagaimana jika honey butter Chicken? Garlic Chicken?" Sehun menunjuk restoran ayam dipinggir jalan.
"Sehunnie ayolah, itu semua lemak." Luhan terlihat mempoutkan bibirnya.
Sehun menarik nafasnya panjang, lalu kembali bertanya pada Luhan. "Baiklah Lu, lalu kau mau makan apa?"
"Terserah."
Kemudian Sehun menjambak rambutnya sendiri sampai linu.
Canberra, 19.35
"Cabin crew, ready for landing."
Malam bertabur bintang dilangit Australia. Airport Canberra terlihat masih sibuk. Pesawat Boeing berwarna putih oranye itu sudah menggulirkan rodanya ke aspal landasan bandara elit Canberra.
Derap langkah dua pria dengan tinggi diatas rata-rata tenggelam dalam suara kesibukan Canberra Airport Australia. Keduanya dalam masa transit selama 16 jam.
"Jadi, kapan kau akan pindah hyung?" Pertanyaan dari co-pilot tampan ini hanya terbalaskan seringai dari sang pilot.
"Memangnya kenapa? Kau mau mengambil jabatanku?" Senyum itu berubah menjadi pekikan lucu dari bibir Chanyeol.
"Astaga, bukan seperti itu. Aku hanya bingung, apa jadinya maskapai ini tanpamu." Co-pilot muda itu menepuk lengan Chanyeol dengan gelisah.
"Joohyuk-ah. Pilot di maskapai ini tidak hanya aku. Kau belajarlah mengatur pembagian jadwal penerbangan, agar kau bisa menggantikanku". Joohyuk merangkul bahu Chanyeol sambil tertawa lepas. Keduanya berjalan memasuki restaurant steak di airport.
Chanyeol dan Joohyuk duduk ditepi jendela besar dengan hamparan pemandangan landasan pacu dalam malam, lalu melepas topi pilot mereka hampir bersamaan.
"Wanita yang kucintai dahulu, bersekolah dikota ini." Kata-kata Chanyeol membuyarkan fokus Joohyuk yang sedang melihat menu makanan.
"Hah? Maksudmu? Kenapa kau tiba-tiba membahas mantanmu?"
"Bukan mantan, bahkan aku tidak sempat memilikinya." Chanyeol menundukkan kepalanya sambil tersenyum ringan.
"Eh? Kau tidak mengungkapkan perasaanmu padanya?"
"Sudah, tapi dia menolakku."
"What? Seorang Park Chanyeol, cintanya bisa ditolak seorang wanita?" Mata Joohyuk terbelalak. "Kau itu keren bukan main hyung, kau juga tinggi, tampan, pintar juga. Bagaimana bisa dia menolakmu? Apakah dia lesbian?" Pertanyaan Joohyuk sungguh sangat membuat Chanyeol ingin menyiramkan minyak panas ke wajah tampannya.
"Ya, Nam Joohyuk. Jaga bicaramu." Eluhan Chanyeol langsung menyerempet hati Joohyuk. Bagaimanapun juga, Chanyeol tidak suka Baekhee-nya disakiti.
Beberapa menit kemudian, Tenderloin dan sirloin mushroom steak telah berasap dihadapan mereka.
"Aku rindu Kimchi."
Chanyeol menginjak pantofel Joohyuk dengan sengaja.
"AKK! YAK! Kenapa?!" Dengan cepat Joohyuk reflek menjauhkan kakinya dari Chanyeol.
"Jangan norak! Astaga. Kenapa aku harus bekerja bersamamu sih." Chanyeol membuang nafasnya berat, disisi lain Joohyuk langsung memotong steaknya dan melahap daging sapi tersebut dengan lahap.
Ddrrtt ddrrrt
Incoming Video Call
Baekhyunee
Chanyeol tersenyum, dimple nya melekuk dengan manis. Seketika dia berhenti makan sambil memasang earphone Bluetoothnya lalu segera mengangkat telepon tersebut.
"Halo?" Pilot bermata besar tersebut langsung melambaikan tangannya. Terlihat Baekhyun sedang duduk sambil mendekatkan smartphone-nya diwajah.
"Halo captain! Kau tidak membalas Chatku. Jadi aku telepon saja, wah.. ternyata kau menjawabnya.. eh? Kau masih berseragam?" Baekhyun menunjuk lencana Chanyeol yang masih terpasang indah di dada kirinya.
"Aku baru saja sampai di Canberra. Saat berangkat dari Hong Kong, kami mengalami delay karena cuaca disana. Tetapi di Canberra cerah." Chanyeol menaruh ponsel dihadapannya dengan sandaran iRing hitamnya. Wajah baekhyun berbinar dalam layar.
"Baguslah, tidak ada hal buruk yang terjadi kan? Kau sudah makan?" Tanya Pemuda imut itu dengan nada yang sangat kekanakan.
Chanyeol memotong daging steaknya lalu menyodorkannya pada kamera ponselnya lalu melahap daging itu dengan imut dihadapan Baekhyun.
"Wah?! Steak? Ya! Aku juga mau Chanyeolie!" Baekhyun merengek karena sebenarnya sejak kemarin dia ingin memakan steak wagyu tetapi tidak pernah sempat karena pembagian jadwal kerjanya dan untuk mengunjungi Jiwon mereka.
"Hahahh, kau belum memuaskan ngidam-mu ya Baekkie? Ini enak lho.." Chanyeol kembali memutar-mutarkan potongan daging sapi kualitas terbaik itu dihadapan Baekhyun.
"Yaa!! Park Chanyeol! Kau membuatku marah sekarang! Aku membencimu!" Baekhyun memeluk gulingnya sambil mengurungi kepalanya dengan selimut, dan menatap Chanyeol dengan alis yang bertaut. Dia ngambek?
"Hey hey, lihat aku sedang bersama siapa sekarang?" Chanyeol menghadapkan ponselnya ke Joohyuk. "Tara, pilot yang kemarin aku ceritakan padamu Baek" Joohyuk yang sedang menyeruput lattenya pun sedikit kaget dan hampir tersedak karena ada yang manis manis di layar ponsel Chanyeol.
"Oh uhuk!! Annyeonghaseyo. Eh, hyung. Siapa ini?" Joohyuk mengelap ujung bibirnya sambil mendekatkan layar ponselnya ke mata Joohyuk. "Apa kau kekasih Chanyeol sunbae?" Chanyeol hanya terus terkekeh. Lelaki bermarga Park itu menekan tombol speakernya.
"Ya! Nam Joohyuk! Kau yang membuat Chanyeol pernah dihukum saat pelatihan karena dia berusaha melindungimu saat kau dengan sengaja mengambil dalaman coach mu dan memasukkan kecoa palsu didalamnya kan? Ya!! Kau anak nakal!!" Sungguh suara Baekhyun memekakkan telinga. Padahal speakernya tidak terlalu keras, mengerti mereka sekarang berada di tempat publik.
Joohyuk hampir terlonjak dari tempat duduknya sambil melotot. "YA! Hyung dia siapa?!!? Seram sekali! Aku tidak mau berbicara dengannya! Itukah kekasihmu? Apa tidak ada yang lebih bisa bersuara lembut??!" Ucap Joohyuk sambil mengarahkan ponsel Chanyeol kembali ke sang empunya. Chanyeol masih terkekeh melihat kebodohan ini.
"Baiklah baiklah" Chanyeol menyambungkan earphone Bluetooth nya lagi. "Baekkie, kau sudah makan?"
"Hum! Sudah, apa aku mengganggumu?" Baekhyun membuka tudung selimutnya.
"Tidak Baek, tapi setelah ini aku harus bertemu rekan, dan setelah itu ke hotel. Jika kau ingin tidur, tidurlah duluan. Jika aku sudah sampai hotel, aku kabari." Baekhyun terlihat menggigit kukunya. Penyanyi itu menganggukkan kepalanya sambil menatap Chanyeol dengan imut. Hati Chanyeol bergemuruh, dia sangat gemas dengan Baekhyunya ini.
"Baiklah Captain Park! Sampai jumpa!!" Keduanya melambaikan tangan satu sama lain, hingga Baekhyun menekan tombol merah duluan.
"Hyung, dia kekasihmu sungguhan? Cantik.. tapi.. galak.." Joohyuk menghabiskan potongan steak terakhirnya dengan lahap.
"Hey, yang seperti itu susah dicari. Kau harus memiliki pacar yang Antimainstream, Joohyuk-ah." Ucap Chanyeol sembari meminta bill pada pelayan.
"Ah, iya juga. Tapi.. apa kau tidak merasa kekasihmu mirip artis? Mirip Byun Baekhyun tidak sih, seorang artis baru. Hanya seperti beda gender saja. Baekhyun laki-laki, dan kekasihmu perempuan.
"Kekasihku laki-laki, bodoh! Hahahhah!" Chanyeol menepuk bahu hoobaenya itu dengan sedikit kasar.
"What?! Hyung.. t-tapi itu?! Ah.. Hyung, Aku tidak mempermasalahkan kau gay atau tidak, tapi.. apakah dia sungguh sungguh lelaki? Aku kira dia perempuan! Wajahnya cantik sekali! Siapa tadi nama kekasihmu?" Joohyuk meninggikan suaranya, dan heboh bercerita.
"Baekhyun.."
"Nah, Iya, wajah Byun Baekhyun dan Baek--" Joohyun melotot menatap Chanyeol. "K-kau.. kekasih B-byun Baekhyun...?" Jari Joohyuk lurus didepan wajah Chanyeol. Dia menutup mulutnya yang menganga.
"Sudah kagetnya? Kita harus segera ke hotel, kekasihku menunggu kabar. Hahahh!" Sesaat Chanyeol menerima kembalian dan meninggalkan Joohyuk yang masih menatap kosong kearah depan.
"Sunbaeku berpacaran dengan seorang artis.. aku kapan?" Dia menggeret kopernya dengan tidak semangat. Joohyuk sangat iri.
Seoul, 8.40am
"Aku akan berangkat sekarang hyung." Sepagi ini Baekhyun sudah memiliki schedule meeting. Ia menaruh ponselnya malas ke kursi penumpang disebelahnya. Dia membuka tas, lalu mengambil cushionnya dan mengusapkan kembali ke beberapa titik di pipi kirinya hingga samar.
"Aish, jerawatku.." ia mendengus sebal. Tak lama, Baekhyun langsung bergegas ke basement dan pergi ke gedung agensinya. Saat dia berjalan ke mobil, ponselnya kembali berdering.
Incoming Call
Chanyeolie
"Good morning~ Kekekek" Baekhyun menyapa dengan manja seorang lelaku maskulin diujung sana.
"Morning too Baekhyun. Hahah. Kau sudah bersiap?" Chanyeol mengusapkan beberapa kali celananya yang agak kurang rapih.
"Aku baru mau berangkat. Sudah di mobil! Kk. Kau?" Baekhyun memasukkan kembali cushionnya kedalam tas.
"Aku juga baru mau berangkat ke terminal. Hey, tidak baik mengemudi sambil telepon, aku matikan ya? Sampai bertemu di Seoul, sayang." Ucapan Chanyeol sungguh manis pagi ini, Baekhyun terdiam mendengar suara lelaki yang sedang berada di belahan bumi yang lain itu. Senyum Baekhyun terkembang manis pagi ini.
"N-ne" Baekhyun tidak mampu membalas panggilan manis itu. Bukan karena dia tidak terima, tapi karena Baekhyun gugup. Bahkan si imut ini mematikan sambungannya duluan. "Aiishh! Ottokaji!!! Ya Baekhyun, seharusnya kau juga mengucapkan hal yang sama.. asih!! Ottokhaee!!" Saat ini dia heboh sendiri. Menyalahkan dirinya atas hal memalukan itu.
Baekhyun mengendarai mobil mewahnya dengan santai, sambil mengunyah beberapa potong roti berselai stoberi yang dia buat dirumah. "Bahkan hanya makan begini saja rasanya enak sekali. Aaa aku sungguh tidak ada waktu untuk sekedar makan enak.. astaga" Baekhyun mengambil ponselnya sebentar dan bercermin disana. "Hah. Aku kurus. Tidak tidak. Baekhyun, kau terlalu kurus. Benar yang dikatakan Minseokkie. Aku harus makan.." ia memegang kasar pipinya yang tirus. "Aku tidak imut lagi hueeee" dia merengek sendirian didalam mobilnya. Beruntung pagi itu jalan kearah agensinya tidak terlalu padat. Sesampainya di agensi, Baekhyun memarkir mobil ditempat yang sudah disiapkan, saat dia keluar mobil, tidak sengaja berpapasan dengan Presdirnya.
"Selamat pagi sajangnim." Baekhyun berbungkuk dalam tanda hormat.
"Ah, Byun Baekhyun. Berdirilah. Tidak perlu seperti itu. Umur kita hampir sama, anggap saja kita teman." Presdir muda tersebut mengusap bahu ramping Baekhyun dan mengajaknya berjalan bersama kedalam kantor.
"Ei.. Sajangnim tetaplah sajangnim yang harus dihormati. Iya kan?" Baekhyun menggaruk tengkuknya dengan imut. Ia ingat kata Minseok, biarpun berselisih umur tidak jauh, tetapi mereka harus menghormati presdir.
"Oh Tuhan, anakku yang satu ini sangat polos. Hahah, Bukan begitu cara menghormatiku Baekhyun-ah. Caranya adalah tetaplah jadi dirimu. Hargai keputusanku, bekerja samalah dengan baik, bekerja keras untuk agensi kita. Cukup seperti itu. Tidak ada presdir disini. Anggap saja aku hanya bocah pemegang saham. Ok? Hahahaha" Presdir tampan berkemeja hitam tersebut menepuk bahu Baekhyun sesekali.
"Baiklah, aku mengerti Barom sajangnim." Baekhyun mengentikan langkahnya dan menengok kearah Barom sambil tersenyum dan mengangguk.
"Tetaplah jadi Baekhyun manisku yang polos tetapi disiplin dan tegas dalam kerjanya. Kau sudah sangat bekerja keras. Buatlah ayah ibumu bangga. Oh iya, panggil aku hyung saja. Bukankah panggilan 'sajangnim' teedengar terlalu tua?" Barom mengusap kepala Baekhyun pelan, dan berlalu menuju ruangannya.
"A-ah. Ne.. Barom hyung."
"Ingatkan managermu untuk meeting!" Barom sedikit meninggikan suaranya. Baekhyun hanya membalasnya dengan anggukan.
Baekhyun mendengus pelan, akhirnya presdir itu pergi juga. Baekhyun tidak menghindar, hanya saja terkadang presdir itu kelewat baik padanya, bahkan dahulu sempat ada rumor bahwa sang presdir telah menjadi kekasihnya. Padahal aslinya tidak. Untuk itu lebih baik Baekhyun menjaga jarak dari pemegang agensinya tersebut.
"CHAGIYA!" Sepasang tangan terulur mendorong Baekhyun yang sedang menunggu lift.
"YAA!!! KIM MINSEOK, BISAKAH KAU TIDAK SEPERTI ITU SATU HARI SAJA!!?!!" Suara tinggi Baekhyun menggema di lobby. Pemuda mirip puppy ini mengusap dadanya kasar berkali kali sambil membuang mukanya dari si manager.
"Tidak bisa~ aku akan terus seperti itu! Kau harus waspada!" Minseok mencubit pipi Baekhyun dengan gemas. "Eh, hari ini Chanyeol kembali?" Pertanyaan Minseok hanya dibalas anggukan disertai senyum manis dari Baekhyun. Minseok menatapnya dengan gemas.
"Kenapa tatapanmu begitu, ya!!" Minseok terbahak.
"Kau seperti remaja yang baru jatuh cinta. Menjijikan Byun!" Baekhyun manyun mendengarnya. Hari-hari keduanya selalu dihiasi dengan suara melengking dan cubitan. Bahkan menjambak.
Tidak lama setelah keduanya meeting, Minseok bergegas menyiapkan van untuk Baekhyun. Dengan setia, Minseok membawakan jas milik Baekhyun yang terbungkus tuxedo covers mewah.
"Lagu pertama, break iklan, lalu interview, dilanjut lagu kedua. Ok? Berurutan kok." Ucap Minseok sambil meneliti jadwalnya. Baekhyun meminum susu strawberrynya sambil bersandar pada hyung tersayangnya itu. Tidak lama, keduanya menuju ke gedung stasiun TV swasta di Seoul.
"Terimakasih atas kerja keras kalian! Semoga bisa bekerja sama lagi! Sampai jumpa!" Studio on air tersebut penuh dengan ucapan salam dan terimakasih. Baekhyun dan Minseok menundukkan badannya berkali-kali.
"Langsung kembali saja? Bersiap untuk senja nanti?" Minseok membantu Baekhyun melepas jasnya, terlihat Baekhyun meregangkan ototnya sesekali.
"Kau sakit?" Tanya Minseok sambil memijat bahu sempit adiknya itu.
"Tidak! Aku hanya sedikit pegal. Aku kurang olah raga hyung.." rengekan sok imut milik Baekhyun hanya dibalas lenguhan Minseok.
"Besok ajak lelakimu berenang saja. Kau kan suka?" Kedua alis Minseok naik turun genit. Baekhyun menegakkan badannya dan menatap seram ke Minseok.
"A-apasih! Tidak. Lagian lelakiku itu siapa. Aku tidak punya lelaki.." Baekhyun merebut jasnya dari tangan Minseok dan mulai jalan berdampingan. Wajah Baekhyun memerah kali ini.
"Siapa lagi kalau bukan Park Chanyeol? Haa.." Baekhyun menggeleng mendengarnya.
"Tidak! Kami tidak pacaran" Baekhyun makin manyun mengingat Park Chanyeol. Sungguh dia merindukan sosok pilot tampan tersebut. Si mungil itu berjalan ke eskalator mendahului Minseok.
"E-ehh!?" Saat hendak melangkah turun ke eskalator, kaki Baekhyun tidak tepat menginjak anak tangga yang bergerak turun, sehingga badan kecilnya terhuyung.
"Awas!" Sebuah tangan panjang terulur menarik tangan Baekhyun dengan sigap. Tidak sengaja sosok bertangan indah itu hampir memeluk pinggang simungil. "Ah, maaf." Saat Baekhyun sudah berdiri tegak, pria itu mundur satu langkah membiarkan Baekhyun sedikit jauh darinya.
"Eeh, tidak tuan. Maafkan aku, maaf. Aku tidak konsentrasi tadi.." Baekhyun menundukkan badannya berkali-kali.
"Tidak apa, lain kali berhati-hatilah." Pria itu menepuk bahu Baekhyun pelan.
"Ehm.. Byun Baekhyun sunbaenim?" Tatapan pria tinggi menjulang itu menghangat. Pemuda berjaket ZARA itu dengan gagahnya memegang kedua bahu sempit Baekhyun dan menuntunnya melangkah dari eskalator.
Baekhyun menegakkan badan sambil menatap intens pria didepannya, sambil terus berpikir keras untuk mengingat-ingat. "Eerr... Maaf, tapi anda ini.. siapa?" Baekhyun bertanya dengan hati-hati. Takut takut kalau ternyata dia salah orang.. Oh ayolah Baekhyun. Ingatlah orang ini.
"Astaga, ini aku hoobae sunbaenim saat masih SMP." Pemuda bermata besar ini berusaha meyakinkan Baekhyun, masih berharap Baekhyun mengingat namanya. Baekhyun memaju mundurkan kepalanya dan masih berusaha mengingat. Oh astaga ingatannya sangat jelek sekali. Bahkan matanya menyipit sekarang.
"Sunbae, aku hoobaemu satu satunya yang ingin menjadi polisi. Lihat, aku sudah berseragam sekarang.." Pemuda itu membuka jaket dan menunjukkan lencananya. Pada saat itulah Baekhyun melihat nametag pria dihadapannya itu.
"K-KIM MINGYU?? ITUKAH KAU?" Baekhyun melotot, dipandanginya si hoobae tampan itu dengan terkagum. Sungguh, dia sangat tampan. Bahkan saat ini Baekhyun deg-degan tidak menyangka.
"Iya.. ini aku sunbaenim. Lama tidak berjumpa." Mingyu menundukkan badannya pada Baekhyun yang saat ini tersenyum.
"Kok kau jadi tampan begini sih.." Baekhyun mengusap bahu Mingyu dengan bangga. "Oh astaga, kau pas sekali dengan seragam itu. Aku tidak menyangka kau yang dulu sering pilek itu saat ini bisa segagah ini. Astaga Mingyu-ah. Aku kaget." Baekhyun masih tidak menyangka.
"Sunbaenim, itu masa laluku yang memalukan. Tolong jangan bahas. Hahah..Kau baru saja on air kan? Aku melihatnya tadi."
"Ah iya, aduh kenapa jadi malu begini hahah. Mingyu, jangan terlalu kaku padaku. Panggil aku hyung saja. Oh iya, apakah kau ada waktu sekarang?" Tanya Baekhyun dengan sedikit gugup.
Mingyu mengecek jam tangan berwarna silver miliknya sekilas diiringi dengan anggukan. "Ah iya.. hmm. Aku masih punya dua jam sebelum kembali ke kantor." Baekhyun menyunggingkan senyum manisnya.
"Mari berbincang sambil minum kopi di coffee bean lobby? Aku panggil managerku dulu ya?" Mingyu mengiyakan ajakan Baekhyun dengan anggukan manisnya.
Saat ini Baekhyun, Mingyu dan Minseok duduk bersama di cafe kopi di lobby salah satu stasiun TV swasta. Mereka berbincang ringan.
"Kau masih suka espresso." Baekhyun hampir tersedak. Hoobaenya ini sungguh sangat mengingat Baekhyun.
"Uhukgh!" Baekhyun mengusap bibirnya. "Ingatanmu bagus sekali.. maaf aku tidak bisa mengingat moment bersamamu Mingyu-ah." Si imut ini sungguh malu.
"Moment bersama ya. Hmm" Minseok mencibir. "Berapa umurmu?" Pertanyaan sihir milik Minseok kembali terucap. Baekhyun mendengus kesal.
"Dua puluh empat, tahun ini dua puluh lima." Mingyu menjawabnya dengan santai dan maskulin. Minseok mulai tertarik dengan pria yang duduk didepannya ini -tidak seperti Chanyeol yang tergagap saat menjawab pertanyaannya.
"Hyung.. jangan mulai.." Baekhyun mulai tidak suka moment ini. Ia takut kejadian memalukan Chanyeol akan terulang.
"Apa pekerjaanmu?" Minseok memajukan badannya bersandar di meja cafe itu.
"Kepala satuan Khusus Kejahatan Kriminal wilayah Seoul. Ada.. apa ya?" Sekali lagi, dia menjawab dengan santai dan lancar.
"Kau tampan." Minseok tersenyum pada Mingyu. Baekhyun merasa geli melihatnya.
"Aku tau, terimakasih. Anda juga manis Kim Minseok-ssi" jiwa playboy pria ini sangatlah kuat. Baekhyun juga hanya memasang wajah datarnya.
"Mingyu-ah, apa yang kau lakukan disini?"
"Ada wawancara off air terkait masalah perampokan di salah satu acara berita, jadi aku kesini sekarang." Mingyu meminum americano pahitnya dengan santai.
"Kau hebat. Masih muda tapi sudah mapan ya.. Tampan lagi." Baekhyun dan Minseok menatap Mingyu dengan mata berbinar. Jiwa ular kedua Cute prince ini mulai terlihat.
"Kalian jangan seperti itu, aku jadi bingung.." Kalimat Mingyu membuyarkan keduanya. "Baekhyun dan Minseok hyung, bukankah kalian teman lama?"
Keduanya mengangguk. "Kami bekerja bersama juga hingga saat ini. Takdir yang hebat." Minseok menepuk bahu Baekhyun pelan.
"Kalian saling bersahabat sejak kecil, aku yakin kalian adalah team yang hebat." Mingyu tersenyum antusias, hingga kemudian dia menyodorkan ponselnya kearah Baekhyun. "Maaf, tapi.. Bolehkah aku meminta kontakmu?" Dengan sigap Baekhyun langsung mengetikkan nomornya.
"Sudah tersambung yaa" Baekhyun mengangkat ponselnya sendiri yang menunjukkan panggilan masuk dari nomor Mingyu dilayarnya.
"Mingyu-ya, besok jika ada waktu mari mampir ke sekolah! Kita bertiga!" Minseok mengguncang lengan Mingyu dengan antusiasnya.
"Boleh hyung, pasti akan menyenangkan! Kita bawakan para guru oleh oleh juga, bagaimana?"
"Yaaa! Betul sekali. Ah aku rindu sekolah! Aku rindu Kim, Song, dan Jung Songsaengnim!!!" Baekhyun mengayunkan tanganya yang terkepal, dia sungguh suka suasana sekolah.
"Haissh, Byun! Kau ini hanya mengingat guru yang tampan saja eoh?!" Tangan Minseok terangkat mencubit lengan Baekhyun.
"Kalian masih berisik ya? Ah aku tidak menyangka kita bisa bertemu saat ini." Mingyu mendengus lega.
"Bahkan kita bertemu ditempat yang tak terduga, pekerjaan kita sangat jauh berbeda kan? Tapi kita bisa bertemu disini! Di kantor stasiun TV ini!" Baekhyun heboh pada omongannya sendiri sampai sampai dia mengetukkan jarinya ke meja pada saat menekankan kata 'di kantor stasiun TV ini'.
Tangan Mingyu terulur mengangkat jemari si Byun. "Bahkan kau masih malas untuk memotong kukumu, Baek."
Baekhyun mematung, jemarinya masih tergenggam indah di tangan besar Mingyu. Baekhyun menatap Mingyu dengan pandangan sulit diartikan. Baekhyun gugup. Dia tidak berniat menarik tangannya, membiarkan pria berkulit tan ini memandangi jemarinya. Sedetail itukah Mingyu mengingat Baekhyun?
"Ehm. Aku ingin.. ingin menambah gula. Sebentar ya.." suara khas Minseok memecah keheningan antara mereka. Baekhyun juga menarik tangannya perlahan.
Mingyu menahan pergerakan Minseok segera. "Sekalian, aku ingin ijin berpamitan. Aku harus kembali ke kantor sekarang. Sampai jumpa lagi, Baekhyun, Minseok hyung. Nanti kuhubungi secepatnya." Mingyu langsung berdiri, dan membungkuk sebentar.
"Baiklah, hati-hati. Jaga dirimu Mingyu-ya. Kutunggu kabarmu!" Baekhyun dan minseok membungkukkan badannya sedikit.
Mingyu mengangguk lalu berjalan santai meninggalkan mereka berdua sambil memasang kacamata hitamnya. Berlalu dan menghilang dalam keramaian.
O
"Route Jepang harus mengadakan farewell party! Seperti biasanya, akan ada Challenge kan Captain?" Dokyeom si pramugara yang super berisik pun memecah keheningan makan siang dikantor saat itu. Si Captain yang telah selesai makan dan menyandarkan dirinya ditembok sambil meminum colanya itu hanya membalas dengan anggukan kepala.
"Dansa berpasangan kan? Ah aku sangat tidak baik dalam berdansa!" Gadis berambut pirang yang sering dipanggil Hoshi tersebut mengeluh.
"Ya, kau itu dulu sexy dancer!" Dokyeom kembali mencibir. "Baiklah, kalau begitu. Kita undi sekarang saja, bagaimana Captain Oh?" Dokyeom menyiapkan beberapa kertas undian untuk menentukan pasangan dansa masing masing personel.
"Boleh saja, hahah." Sehun duduk disamping Dokyeom sekarang.
"Aku yang tidak bisa berdansa! Hahah" Jeonghan meremas lengan Minhyuk gemas.
"Sudahlah, goyang saja sesuai dengan lelakimu nanti!" Minhyuk mengejek Jeonghan sambil menunjuk Sehun dengan dagunya. "Dia pandai berdansa!" Jeonghan menggeleng, tetapi pipinya merona.
"Baiklah, kita absen dulu. Pria ada aku, Captain Oh, Captain Jung, dan Jooheon. Lalu para pramugari cantik kita, ada Kwon Hoshi, Jeonghan, Taeyong dan Minhyukie!" Setelah para mengabsen, para pria bersuit untuk menentukan urutan mereka.
"Urutannya ada Captain Jung, Jooheon, Dokyeom, lalu Captain Oh! Silahkan ambil sesuai urutan undian kalian. Disana ada nama nama kami berempat." Hoshi menaruh empat lipatan kecil undian tersebut ke hadapan mereka. Satu persatu mengambil. "Dalam hitungan ketiga, silahkan buka dan balikkan kertas kalian kehadapan kami. Ok? 1..2..3!"
"Baiklah! Hasilnya.. Captain Jung dengan Taeyongie, Jooheon dengan Minhyukie, WHAAT?! Apa apaan aku harus bersamamu yak Dokyeom sialan!!" Hoshi menjambak pelan Dokyeom hingga membuat gelak tawa disana.
"Kalian astaga, sama sama cerewet!" Taeyong terbahak sambil memukul lengan Hoshi yang kini cemberut.
"Berarti aku dengan Jeonghan ya?" Suara Sehun menginterupsi keributan itu. Yang lain mengangguk mengiyakan.
"Ah, aku dapat yang cantik!" Ucapan Sehun membuat yang lain menyorakinya dan Jeonghan.
"Mohon bantuannya Captain, aku tidak bisa berdansa." Jeongjan tertunduk malu.
"Ikuti saja iramanya, Captain kita ini sangat pandai berdansa! Ya kan Sunbae?" Jaehyun menepuk bahu Sehun dengan bangga.
Langkah kaki jenjang Luhan sangat indah dilihat mata. Sebuah paper bag berisi makan siang spesial menggantung ditangan lentiknya. Luhan berjalan kearah ruangan Sehun.
"Jam istirahatnya sudah hampir selesai ya. Aku sangat terlambat astaga. Surprise yang gagal! Huh!" Luhan mempercepat kakinya. Rambut coklat tuanya yang terurai indah menjadi sorotan kantor maskapai tersebut.
"Apakah Captain Oh didalam?" Luhan bertanya pada sekretaris ruangan.
"Iya nyonya Shin. Beliau baru saja masuk kedalam bersama Pramugari Yoon. Silahkan masuk." Si sekretaris berdiri dan menunjuk kearah pintu untuk mempersilahkan masuk. Luhan mengangguk dan membungkuk sejenak dan langsung masuk ke ruangan Sehunnya.
Krieeettt
"Tidak! Tidak seperti itu. Hahahh, astaga taruh tanganmu dileherku saat perut kita menempel, sayang."
Brakk
"S-sehun. Apa yang kau.."
Luhan melepas genggamannya pada makanan yang ia bawa. Tangannya mengatup menutup mulutnya yang menganga kaget melihat kekasihnya memeluk intim bahkan memanggil panggilan sayang kepada wanita lain.
Sehun dan Jeonghan menengok kearah Luhan. Jeonghan menatap Sehun sesekali. "Captain, dia siapa?"
Dengan cepat Luhan berlari keluar dari kantor Sehun sambil menangis. Tidak peduli apa yang orang lain lihat.
"Oh, shittt!" Sehun melepas pelukannya pada Jeonghan dan langsung ikut berlari mengejar Luhan. Jeonghan berdiri dalam diam, dia tidak mengerti apa yang terjadi.
"Apakah dia kekasih Captain Oh?" Dada Jeonghan sesak. Dia meremas seragamnya sendiri. "Kenapa disaat aku mulai menyukaimu, Captain?"
To be continued..?
Haii. Maaf ya Xiu baru bisa Up sekarang. Soalnya jujur kemaren2 Xiu lagi vabyak pikiran. Dan sempet down banget waktu Jonghyun tiada. Alay ya... Maapin tapi itu sungguh terjadi gaes :"
Sama ini nih, mau kasih tau.. Jadi disini nggak semuanya BxB, ada beberapa yang Xiu bikin TG. Bukan apa apa, cuma Xiu memang begitu/? Gada unsur pilih kasih atau apapun deh, bener kkk.
Jadi, buat maincast, Chanbaek itu bxb, Hunhan Kaisoo nya normal couple guys, jadi pria dan wanita. Tapi tenang... Unsur bxb akan tetap diangkat dan jadi fokus utama disini. Oke oke? Makasih buat temen2 yang selalu setia nunggu ff yang belum sempurna ini. Mohon bimbingan nyaaaa... Mohon vote dan commentsnya. Karena kritik dan saran sangat xiu butuhkan. Terimakasih teman temaaankuuh
