DISCLAIMER :

Togashi-Sensei

kurisleen

PAIRING :

Absolutely KuroPika^^

SUMMARY :

Delapan bulan setelah pertemuan Kurapika dengan Genei Ryodan, dia menemukan pamannya yang sudah lama menghilang dan akhirnya terfokus untuk menemukan mata saudara sesukunya. Yang tidak diketahuinya adalah Kuroro Lucifer sudah menemukan seseorang yang bisa mengangkat kutukan Nen-nya.

GENRE :

Romance & Adventure

WARNING :

FemKura. Half Canon.


CHAPTER 6 : PAINT


"Danchou!" Shalnark berseru dengan gembira ketika mereka melihat bos mereka (bersama Kurapika) di hutan tempat di mana seharusnya mereka bertemu dengan para anggota Genei Ryodan yang terlibat dalam misi pencurian Mata Merah.

"Shalnark." Kuroro sedikit mengangguk padanya. "Matanya?"

"Aman." Pemuda maniak komputer itu menjawab, memegangi sebuah kotak berwarna coklat agar mereka bisa melihatnya.

Kurapika mengamati kotak itu sambil merasakan suatu sensasi yang familiar di dalam dadanya. Itu sensasi yang sama dengan yang ia rasakan setiap kali dirinya teringat akan pembantaian sukunya; perpaduan dari kemarahan, kebingungan, dan, cukup aneh memang, namun ia pun merasakan kebahagiaan. Kuroro mengambil kotak itu dari Shalnark dan menoleh melihat tunangannya. Gadis itu tengah menggigit bibir bawahnya dan Kuroro cukup yakin Kurapika pasti ingin mengambil mata itu dari tangannya sesegera mungkin.

Kuroro melangkah ke arahnya dan berhenti hanya ketika dia berjarak satu kaki darinya. "Ini." Lalu dia memberi Kurapika benda peninggalan berharga itu yang diterimanya dengan hati-hati. Kurapika tak bisa menahan diri untuk tidak menampakkan seulas senyum di wajahnya yang lembut. Meskipun hanya senyuman simpul, Kuroro telah melihatnya dan dia sedikit terkejut.

Dia tidak tahu Si Gadis Kuruta akan memperlihatkan ekspresi seperti itu. Yah, dia bisa memperlihatkannya namun tidak saat dirinya sedang bersama Kuroro. Yang gadis itu berikan padanya adalah ekspresi merengut, pelototan dan penampilan negatif lainnya.

Kurapika mendongak, menatap mata Kuroro. Untuk pertama kalinya, mata gadis itu terlihat benar-benar normal; yang berarti tak ada semburat kemerahan di dalamnya. "Kita harus kembali sekarang." Dia berbisik dan berbalik menuju jalan keluar dari hutan itu.

Shalnark bersiul. "Ada kemajuan, Danchou?"

Kuroro menggelengkan kepalanya. "Dia orang yang sulit dimengerti." Ia bergumam dan mengikuti Si Kuruta. Shalnark tersenyum sendiri dan ia pun melangkah ke arah yang berlawanan untuk bertemu dengan anggota Laba-laba lain yang tengah menunggunya.


Dua hari setelah mereka mencuri Mata Merah dari pesta Thanksgiving, Kuroro kembali ke Ryuusegai dan hal ini membuat Kurapika merasa sangat senang. Bahkan dia jadi lebih senang lagi saat mengetahui bahwa Sang Pemimpin Laba-laba itu tak akan kembali hingga seminggu kemudian. Seminggu penuh kedamaian di Mansion Bethel akhirnya bisa ia rasakan.

Kurapika sedang berada di ruang keluarga, berbicara dengan seseorang melalui telepon. "Ya. Kami akan mengirim uangnya ke sana. Itu saja. Terima kasih dan jaga dirimu."

Kairo Bethel sedang duduk di sofa mewah di dekatnya, membaca buku. "Bagaimana panti asuhan itu?" Dia bertanya saat Kurapika menempatkan diri duduk di sampingnya.

"Mereka kekurangan dana tapi aku sudah mengatasinya." Gadis itu menjawab, mengambil buku yang diletakkan di atas meja kopi dan mulai membalik halamannya.

"Jadi, bagaimana kabarmu dengan Kuroro?"

Gadis pirang itu langsung berhenti. "Tak ada hal yang baru." Dia menjawab setenang mungkin. "Seperti biasanya saja." Dan arti dari istilah 'biasa', maksudnya adalah bertengkar, berdebat dan menggoda.

"Apakah kalian berdua bisa bergaul dengan baik?" Pria itu bertanya lagi.

"Tidak." Kurapika menjawab dengan jujur. "Dan aku tidak berencana untuk itu."

"Kurapika…" Pamannya menatapnya khawatir dan gadis itu pun berdiri.

"Aku tak mau membicarakannya." Katanya dengan keras kepala. "Aku akan pergi ke panti asuhan untuk memeriksanya sendiri." Dan sambil berkata demikian, Si Kuruta berbalik dan melangkah menuju kamarnya.

Panti asuhan yang ia bicarakan ialah Panti Asuhan Water Lily yang berlokasi di jalanan terpencil Kota Morei. Pertama kalinya Kurapika menemukan tempat itu adalah saat dirinya menolong seorang anak kembali ke tempat tersebut. Dia melihat betapa sepi dan tidak memadai bangunan panti asuhan itu dan orang-orang tinggal di dalamnya, maka dia memutuskan bahwa dia akan mendukung panti dan anak yatim piatu di sana dengan uangnya sendiri. Jika pemerintah tak bisa memberikan apa yang mereka butuhkan, dia akan memberikannya.

Saat Kurapika sampai di gerbang, Sato sudah menunggunya di sana.

"Kurapika-sama, ijinkan aku mendampingimu." Kepala Pelayan itu berkata dan sedikit membungkuk hormat padanya.

"Itu hanya panti asuhan, Sato. Kau tak perlu melakukan itu." Kurapika menjawab dan tanpa menjelaskan lebih jauh, Sato mengangguk. Kemudian, Si Pirang Kuruta mengendarai yacht-nya sendiri menuju Kota Morei.


"Shal, di mana Mata Merah yang kita curi di pelelangan Norsalle waktu itu?" Kuroro bertanya saat dia tiba di markas utama mereka di Ryuusegai. Pria itu sedang tidak berpenampilan sebagai Danchou. Dia hanya mengenakan kemeja tangan panjang sederhana berwarna hitam dan celana panjang hitam. Bukan merupakan hal biasa melihatnya berpakaian seperti itu.

"Ini dia, Danchou." Shalnark membuka laci yang ada di sudut dan mengambil kotak lain yang berisikan Mata Merah. Dia berikan itu kepada bosnya dan Kuroro mengambilnya dengan sangat hati-hati.

"Aku tak akan berada di sini untuk beberapa lama dan itulah kenapa aku membubarkan kalian." Kuroro mengumumkan kepada para anak buahnya. "Tapi Shalnark, Feitan, Machi, Nobunaga, dan Phinx akan ikut pulang bersamaku ke Pulau Bethel."

Para anggota Laba-laba yang namanya disebut menatap Danchou mereka dengan bingung tapi Kuroro mengabaikannya. Dia akan menjelaskan kepada mereka saat semuanya sudah beres. "Aku ingin kalian berlima ikut bersamaku satu persatu. Hubungi aku begitu kalian sudah sampai."

Kelima anggota Laba-laba itu mengangguk dan Kuroro berjalan keluar dari bangunan yang terbengkalai itu hendak kembali ke Pulau Bethel. Meskipun dia bilang dirinya akan pergi selama seminggu, sebenarnya, dia tak akan pergi selama itu. Dia bilang begitu hanya untuk menggoda Si Kuruta dan melihat bagaimana reaksinya saat gadis itu tahu dirinya berbohong. Kurapika akan membuatnya sangat senang.


"Onee-chan! Pika-onee-chan!"

Kurapika melihat ke sebelah kanannya dan melihat seorang anak laki-laki berambut hitam pekat berlari ke arahnya, tersenyum senang sambil memegangi setangkai bunga berwarna kuning di tangannya, bunga itu terlihat lembut. Kurapika tersenyum saat melihatnya dan memeluknya ketika anak itu menghambur ke arahnya.

"Apa yang kau pegangi itu, Miko-chan?" Si Kuruta bertanya dan Miko menyelipkan bunga itu ke belakang telinganya.

"Bunga ini warnanya sama seperti rambutmu!" Miko berseru dengan lebih senang lagi dan Kurapika terkekeh karenanya.

Saat ini, dia sedang berada di taman Kota Morei. Dia membawa beberapa orang anak dari panti asuhan jadi mereka bisa bersenang-senang tanpa khawatir. Kurapika suka sekali bermain bersama anak-anak itu karena mengingatkannya pada Gon dan Killua yang sama kekanak-kanakannya seperti mereka.

"Bunganya cantik." Puji Kurapika dan anak itu tersenyum lebar padanya.

"Aku juga akan memberikannya pada Tuan Bethel!" Miko berkicau. "Kami akan membuat mahkota bunga untuknya!"

Kurapika pura-pura merengut. "Bagaimana denganku?" Tanyanya.

"Kami akan membuatkanmu kalung bunga!" Mendengar hal itu, Kurapika melonggarkan pelukannya dan anak tersebut berlari ke arah tangan bunga kecil tempat di mana teman-teman sepermainannya berada. Kurapika tersenyum melihatnya.

"Terimakasih sudah datang ke sini lagi, Nona Kurapika." Wanita mungil itu berterima kasih kepada Kurapika sambil menghampirinya.

"Hanya ini yang bisa kulakukan. Dan tolong, tak apa memanggilku dengan nama Kurapika saja, Nona Tanaka."

Nona Tanaka tersenyum. "Anak-anak selalu sangat bersemangat kapanpun kau ada di dekat mereka."

"Benarkah? Senang mendengarnya."

Anak-anak bermain tanpa henti dan Kurapika ikut bermain sebisanya. Kadang dia menjadi 'sesuatu' dalam permainan memberi tanda dan dia akan menggelitik anak yang gagal melihat benda dalam permainan mata-mata. Permainan berlanjut hingga matahari hampir terbenam dan sudah tiba waktunya untuk pulang.

"Anak-anak, ayo kita pulang sekarang." Nona Tanaka mengumumkan yang menimbulkan erangan kecewa dari mereka. "Bilang selamat tinggal pada Kurapika Onee-chan."

"Dadah, Onee-chan!" Anak-anak berseru bersamaan dan Kurapika tak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum melihat wajah konyol mereka. Mereka terlihat begitu menggemaskan hingga membuatnya berpikir untuk memiliki anak saat sudah benar-benar dewasa nanti.

Tiba-tiba saja, Kurapika gemetar memikirkannya. Dia ingin punya anak tapi bukan bersama pria itu.

"Nona Tanaka! Aku tak bisa menemukan Miko!" Seru salah seorang anak dan hal itu menyadarkan Kurapika dari lamunannya.

Benar juga, anak berambut hitam pekat itu tak bisa ditemukan di mana pun. Anak-anak lain mulai berseru dan memanggil namanya namun tak ada jawaban. Nona Tanaka kini terlihat khawatir.

"Aku akan menemukannya. Dia pasti tersesat." Kurapika membantu dan mengeluarkan rantainya. Anak-anak baru pertama kali melihatnya, mereka bersuara takjub 'ooohhhh' dan 'aaahhhh'. Kurapika memerintahkan dowsing chain dan berkonsentrasi membayangkan penampilan fisik anak itu. Beberapa saat kemudian, rantai tersebut mulai berayun ke kiri.

"Biarkan aku ikut bersamamu, Nona." Nona Tanaka menyarankan tapi Kurapika menggelengkan kepalanya.

"Kau harus tetap di sini bersama anak-anak, Nona Tanaka. Aku akan pergi dan menemukan Miko." Lalu, dia mulai melangkah ke arah yang ditunjukkan Dowsing Chain. Pola ayunannya tidak konsisten. Kadang, rantai itu akan bergerak ke kanan dan kembali ke kiri.

Saat itu sudah gelap dan Kurapika belum melihat jejak Miko sedikit pun, hal ini sangat mengkhawatirkan Si Kuruta. Akhirnya, dia mendapati dirinya tengah berdiri di depan pintu gerbang besar gudang yang terbengkalai di daerah terpencil Kota Morei. Awalnya Kurapika ragu. Lagipula bagaimana mungkin Miko jadi berada di tempat ini? Namun insting alaminya sebagai seorang Kuruta mengatakan bahwa dia harus masuk melalui jendela. Jadi, dia mencari celah dan mengeluarkan Chain Jail-nya. Dia lemparkan rantai itu ke atas dan rantai tersebut menyangkut sendiri di kusen jendela.

Kurapika mulai memanjat dinding secepat mungkin, hingga dia sampai di celah jendela yang rusak. Dia melongokkan kepalanya ke dalam tapi gudang itu sedikit gelap dan cahayanya buruk.

Tiba-tiba, sebuah jeritan terdengar dan bergema di dalam sana. Tanpa berpikir lagi, Kurapika melompat turun dan berlari ke arah di mana jeritan itu berasal. Suara itu terdengar seperti suara seorang anak.

Apa yang dilihat Kurapika membuatnya terpaku. Bangunan terbengkalai itu penuh dengan rak buku. Tapi bukan buku yang tersimpan di sana, melainkan mata. Ya, semua mata itu tersimpan dalam kotak kaca yang dipenuhi formalin dan alkohol untuk mengawetkannya.

"Lepaskan aku! Ibu!" Miko berjuang dengan sia-sia sementara dua orang pria tak dikenal menahannya ke tempat yang Kurapika lihat seperti tempat tidur operasi dan seorang pria lain memegangi suntikan. Air mata mengalir di kedua pipi anak itu.

"Diamkan dia!" Pria yang memegang suntikan pun membentak rekan-rekannya. Kemudian, perlahan dia berjalan menghampiri Miko namun bahkan sebelum dia menancapkan suntikan tersebut ke lengan anak itu, Dowsing Chain milik Kurapika melayang ke arahnya dan memukul suntikan yang sedang dipegangnya. Lalu, Si Kuruta melemparkannya lagi untuk yang kedua kali, kali ini mengincar pria itu.

Apa yang tidak ia perkirakan adalah pria itu pun seorang Pengguna Nen. Dan dia termasuk tipe Materialisasi! Dia memunculkan pedang Nen yang terlihat aneh dan membelokkan serangan Kurapika yang kedua.

"Lepaskan anak itu!" Kurapika berseru dengan marah. Sudah jelas orang-orang itu adalah pedagang manusia dan kejahatan semacam itu tidak boleh terhindar dari hukuman. Dan jelas bagian utama tubuh manusia yang mereka perdagangkan adalah matanya.

Pria itu terkekeh. "Betapa cantiknya wanita yang ada di hadapan kita ini!" Dia berseru. "Bagaimana kau bisa menemukan kami?"

"Itu bukan urusanmu! Sekarang lepaskan anak itu sebelum aku membunuh kalian semua."

"Aku takutkan itu urusan kami, Nona. Kau tahu, kalau kau tidak menjawab satu pun pertanyaan kami, anak ini akan membayarnya." Dia menjawab, menunjuk Miko yang mulutnya disumpal dan pisau tajam mengarah ke lehernya.

Kurapika sedikit terpaku dan bingung apa yang harus dia lakukan. Situasinya sama seperti dulu saat di York Shin, di mana teman-temannya disandera oleh Genei Ryodan. Tapi ada perbedaan yang cukup besar juga. Baik Gon maupun Killua adalah Pengguna Nen yang kuat sementara Miko hanyalah anak yatim piatu biasa yang tak mengetahui apapun tentang Nen dan segala misterinya.

"Apa yang kau inginkan sebagai pertukaran untuk anak itu?" Dia bicara setenang mungkin, menghindari membuat pria itu jengkel. "Uang? Aku akan membayarmu."

"Sayangnya," pria itu berjalan ke arahnya dengan berani. "Aku hanya ingin hiburan." Dia berkata sambil menatap Kurapika dengan lapar bagaikan seorang predator yang siap memangsa korbannya. Tangan kanan pria itu terangkat dan memiringkan dagu Kurapika. "Kau tahu apa maksudku, betul Nona?" Dia bertanya dengan licik dan perlahan tangan kirinya merayap masuk ke dalam baju gadis itu.

Kurapika terkesiap ngeri dan berusaha melompat ke belakang namun pria jahat itu meraih pergelangan tangannya dan memutarnya ke punggung Kurapika.

"Kau mau pergi ke mana, Nona? Kita baru saja mulai." Bisiknya merayu di telinga Kurapika dan gadis itu merinding jijik atas kontak yang menjijikkan tersebut. Dua orang pria lainnya yang sedang menyaksikan mereka tertawa dan dia mendengar keduanya berkata "Aku berikutnya!"

Pria itu memeluknya erat sambil membanjiri leher Kurapika dengan ciuman-ciuman menjijikkan. Kurapika merasa begitu dipermalukan, dilecehkan. Bulir-bulir air matanya mulai menetes dari mata yang kini berubah warna menjadi merah menyala. Untungnya, pria itu tidak melihatnya karena dia sedang sibuk dengan apa yang tengah dia lakukan. Jika dia melihatnya, dia akan memperkosanya terlebih dahulu sebelum mencongkel matanya keluar. Dengan putus asa, Kurapika berusaha menjauh dari setiap sentuhan yang dilakukan pria itu.

Namun sebelum pria tersebut mulai merobek baju atasannya, dua buah jarum melayang dengan cepat melintasi mereka berdua dan mengenai pria yang menjaga Miko. Mereka pun mati dan Miko bisa membebaskan dirinya sendiri. Tak ada ancaman lagi, kini Kurapika bisa menyerang tapi gerakannya tertahan oleh pria itu.

Mendadak, tiba-tiba saja, suatu sosok yang terlihat tak asing lagi muncul dan berjalan ke arah mereka. Sosok seorang pria berambut hitam pekat mengenakan kemeja tangan panjang hitam dan celana panjang hitam dengan tattoo salib di keningnya. Tatapannya yang biasanya kosong kapanpun Kurapika melihatnya kini menampakkan kemarahan. Dia mengeluarkan aura membunuh yang membuat Kurapika gemetar, bahkan pria jahat itu pun merasakannya. Sang Pemimpin Laba-laba memegangi Buku Skill-nya yang terbuka di telapak tangan kanannya.

"A-apa? Mundur atau aku akan membunuhnya!"

Kuroro menyeringai dengan main-main namun intensitas tatapan matanya mengamuk. Kuroro mengambil jarum-jarumnya, membalikkan halaman bukunya dan mendadak muncul di belakang pria itu. Dia mengarahkan jarum tersebut ke tenggorokannya dan membisikkan sesuatu yang hanya bisa didengar Kurapika sedikit saja.

"Kau pikir apa yang kaulakukan pada gadisku?" Dia bertanya lalu menancapkan jarum itu langsung ke tenggorokannya.

Pria itu mengeluarkan suara tercekik sebelum akhirnya terjatuh dan mati, dibanjiri darahnya sendiri. Saat merasakan hal itu, kedua lutut Kurapika pun lemas dan dia hampir jatuh ke lantai dengan keras andai Kuroro tidak segera meraihnya dan perlahan mendudukkannya di bawah.

Meskipun Kurapika sudah tak ingin menangis, tapi dia tak bisa lagi menahan air matanya yang mengalir tak terkendali dari matanya yang merah membara. Dia tidak mau menunjukkan sisi rapuh dan lemah dari dirinya, kepada musuh abadinya. Kuroro memposisikan diri di depan gadis itu dan memeluknya sedikit sementara Kurapika menangis terisak dan bersandar di bahunya.

Pasti Kurapika merasa sangat linglung dan bingung hingga tiba-tiba saja tak masalah baginya, bahwa Kuroro yang tengah menenangkannya. Kesuciannya hampir saja ternodai dan gadis mana pun akan bereaksi seperti itu.

Kuroro melihat Miko yang juga sedang menangis dan tengah menyaksikan mereka berdua. Dia tersenyum pada anak itu dan mengisyaratkan padanya untuk mendekat. Saat Miko hanya berjarak beberapa inci saja dengan Kurapika, Sang Pemimpin Laba-laba melonggarkan pelukannya dan membiarkan Miko memeluk gadis itu.

"On… Onee-chan." Miko terisak dan memeluk Kurapika lebih erat. "Se…sekarang… sudah tidak apa-apa.."

Si Kuruta mendongak melihat anak itu. "Kau baik-baik saja? Apakah mereka menyakitimu?" Dia menghela napas lega saat Miko menggelengkan kepalanya dan menyeringai ceria padanya. Kurapika membalas senyuman itu dan balik memeluknya.

Kuroro hanya melihat mereka, tidak jauh dari tempat keduanya berada namun kemudian perhatiannya beralih pada mata yang mengapung di dalam akuarium. Dia menjelajahi area itu dengan matanya yang berwarna onyx lalu kembali menatap Kurapika.

"Ayo kembalikan dia dan kita pulang." Kuroro memberitahu gadis itu, mengeluarkan buku Skill-nya lagi dan menggunakan teleportasi untuk keluar dari bangunan tersebut.


Saat Kuroro dan Kurapika mengembalikan Miko, Nona Tanaka hampir terlihat seolah dirinya bisa langsung pingsan kapan saja. Dia berterima kasih kepada mereka berdua dan pelan-pelan memarahi Miko karena memisahkan diri dari rombongan. Miko beralasan dia mengikuti seorang pria yang tengah membawa sebuah buket bunga berwarna kuning yang indah dan ingin meminta beberapa tangkai darinya.

Setelah Nona Tanaka berterima kasih lagi, Kuroro dan Kurapika menaiki taksi menuju Pantai Morei untuk pulang kembali ke rumah.

Seperti biasa, tak ada yang bicara sepatah kata pun, keduanya merenungkan tindakan mereka satu sama lain.

Kenapa Kuroro terlihat sangat marah saat menyaksikan apa yang dilakukan pria itu padanya?

Kenapa Kurapika membiarkan Kuroro memeluk dan menenangkannya?

Bahkan bagaimana Kuroro bisa menemukannya?

Begitu banyak pertanyaan yang belum ada jawabannya.


Kurapika duduk di kursi di balkon kamarnya, dia tengah meminum teh. Hembusan angin laut yang lembut membelainya perlahan ketika dalam diam dia melihat pemandangan menenangkan itu. Sudah dua hari sejak kejadian itu dan tak peduli betapa kerasnya dia berusaha, dia tak bisa melupakannya. Kejadian tersebut menjadi mimpi buruknya yang baru, yang ia alami setiap malam saat dia tidur dan mengganggunya tanpa henti.

Saat Kairo Bethel mengetahui tentang hal itu, bukan hanya dia memerintahkan untuk membasmi segala operasi sindikat tersebut di negara itu tapi juga di seluruh dunia. Dia pun memarahi Elite Seven karena tidak menjalankan tugasnya dengan baik sementara dirinya berterima kasih kepada Kuroro yang sudah membawa Kurapika pulang dalam kondisi selamat.

Mata Kurapika berkedut saat mengingat hal itu. Si Pirang Kuruta melihat ke atas meja dan melihat satu set cat poster, kuas dan beberapa kanvas yang ia gunakan selama tiga hari terakhir. Setiap kali dirinya sedang dalam mood yang buruk atau merasa terganggu, dia akan mulai melukis di mana pun di sekitar pulau itu. Semua lukisan-lukisannya terdahulu dibingkai dan dipajang di dalam mansion di Pulau Kirin.

"Kurasa aku harus melukis lagi." Kurapika berkata dan meraih peralatan melukisnya. Dia memasukkan semuanya ke dalam tas dan melangkah keluar dari kamar. Dia berjalan dengan sangat hati-hati agar tidak berpapasan dengan Kuroro Lucifer. Bukan hanya insiden di mana dirinya hampir diperkosalah yang tak bisa dia lupakan tapi juga saat Sang Pemimpin Laba-laba menyelamatkannya dan menyebutnya 'gadisku.' Rona merah terlihat di pipinya.

Dia sampai di taman halaman belakang dan menempatkan dirinya duduk di dalam gazebo. Tema lukisannya masih tentang kehidupan dan Kurapika menyiapkan semua yang ia butuhkan untuk mulai melukis. Dia pun menyusun serangkaian bunga di hadapannya untuk dilukis. Dengan sebuah sapuan kuas, dia memulainya.


Kuroro merasa terhibur melihat Si Kuruta tengah melukis.

Dia baru saja berjalan-jalan di sekitar taman, menikmati saat-saat penuh ketenangan ketika dirinya menemukan gazebo di mana Kurapika sedang menyusun peralatannya agar dia bisa mulai melukis. Kebetulan, Kuroro memiliki Mata Merah yang diberikan Shalnark tiga hari yang lalu. Kuroro berencana memberikan itu padanya saat Kurapika sudah bisa berhadapan dengannya, namun jelas sekali Si Kuruta menghindari kehadirannya dengan sengaja.

Tiba-tiba, suatu ide muncul di benaknya. Sang Pemimpin Laba-laba menyeringai lebar dan menghampiri gadis pirang itu. Kurapika pasti merasakan seseorang datang menuju di mana dirinya berada karena dia menoleh dan matanya sedikit terbelalak ketika melihat sosok itu. Kuroro terus tersenyum namun gadis itu sudah memalingkan wajahnya dan kembali melukis.

"Masih hidup?" Kuroro bertanya.

"Itu sudah jelas." Kurapika menjawab dengan tajam dan karena kepalanya menoleh menghindari Kuroro, Kuroro tidak melihat wajahnya mulai memerah dan menjadi semakin merah.

"Mhhmm…" Pria itu bergumam dan berjalan di hadapan Kurapika sambil memegangi sebuah kotak berisi sepasang Mata Merah di tangan kirinya. "Lukis sesuatu untukku." Ucapannya lebih terdengar seperti perintah daripada sebuah permintaan.

"Jika kau ingin lukisan potret dirimu, pergilah dan minta orang lain untuk melakukannya. Berhenti menggangguku."

Setelah Kurapika mengatakan hal itu, Kuroro meletakkan kotak tersebut di atas meja, membukanya dan mengambil sepasang tabung di dalamnya. Dia letakkan tabung itu di depan rangkaian bunga dan ketika Kurapika mendongak melihat benda tersebut, dia terlihat terkejut melihat sepasang Mata Merah yang lainnya lagi. Dia langsung berhenti melukis dan hanya menatap sepasang mata yang indah itu.

Kuroro tersenyum. "Aku akan kembali untuk mengambil lukisannya. Kau bisa memiliki benda yang menjadi objek lukisan itu kalau kau menginginkannya."

Setelah berkata demikian, Kuroro berlalu pergi dengan santai. Sayangnya, dia gagal melihat seulas senyum tipis yang terbentuk di bibir Si Kuruta saat gadis itu melukis kembali.


TBC


A/N :

Fic translated lainnya yang terlupakan… haha

Ada yang masih baca ga ya?

Huft… minggu ini aku lg banyak kerjaan di kantor, mungkin sampai bulan depan juga sama. What a life… hehe

So, please support me with your review!


~KuroPika FOREVER~