Seoul, 15.25

Chanyeol memijat keningnya sendiri. Kini dia berdiri didepan pintu apartemen Baekhyun tanpa mengetuknya sekalipun. Hanya menatap kosong pintu kayu mewah tersebut dengan alis tebalnya yang berkerut. Tangan kekar itu sesekali terangkat hendak menekan tombol bel, namun berkalipun juga dia urungkan.

"Baekhyun.." Lelaki itu menutup kedua matanya. Terbayang kejadian yang membuatnya dan sang ibu menjadi terasa jauh saat ini.

Flashback on

"Apakah kau tidak merasakannya?"

"Merasakan apa eomma?"

"Kau sudah terlalu dekat dengan Byun Baekhyun."

"Baiklah, lalu?"

"Hhh? Kau tidak mengerti yang eomma khawatirkan? Bahkan sekarang Jiwon tidak bisa lepas dari 'Amma'nya!"

"Lalu apa masalahnya, eomma? Baekhyun juga sudah menganggap Jiwon sebagai anaknya sendiri. Dan aku tidak keberatan atas itu."

"Apa maksudmu berkata seperti itu? Kau mencintainya? Lalu kau berniat menikah dengan pemuda itu, begitu maksudmu hah?"

"Jika memang benar aku mencintainya, bagaimana?"

"PARK CHANYEOL! BAGAIMANA MUNGKIN EOMMA MEMBIARKANMU MENIKAH DENGAN BYUN BAEKHYUN?!!"

"Aku mencintai Baekhyun. Jiwon juga begitu. Kami berdua mencintai Baekhyun."

"Park Chanyeol, kau benar-benar-!"

"Mengecewakan eomma? Hah. Eomma juga mengecewakanku."

"A-apa kau bilang barusan? Kau menyalahkan eomma? PARK CHANYEOL! BAEKHYUN ITU SAMA SEPERTIMU! DAN.. Oh.. astaga.."

"Lalu apa masalahnya?"

"Kau itu sama sepertinya! Kenapa kau tidak kunjung mengerti? Kau anakku satu-satunya, aku tidak ingin nantinya kau dan Jiwon-!"

"Jiwon juga anakku satu-satunya. Dia bahagia bersama Baekhyun. Apakah aku harus mengambil kebahagiaan anakku?"

"Apa maksudmu? Mana ada orang tua yang tega menjauhkan kebahagiaan anaknya??"

"Apakah kau tega mengambil kebahagiaan anakmu, eomma? Aku mencintainya, kebahagiaanku adalah Baekhyun, dan Jiwon."

"Kau.. berani padaku?"

"Tolong mengerti, aku dan Jiwon membutuhkan'nya' eomma"

Flashback off

Ting Tong

"Nee! Sebentar Minseokie!" Suara dari dalam apartemen itu melengking. Derap langkah Baekhyun semakin jelas.

Jglek, krieett

"Masuk dul-EH?! Chanyeol.. Astaga aku kira Minseokkie.. Ku pikir kau akan kesini lebih sore.." Baekhyun mematung ditempatnya berdiri. Chanyeol menatap wajah rumahan Baekhyun dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Ha..lo. Maaf datang tiba-tiba. Apa kau sedang sibuk?" Kerutan dahi pria bermarga Park itu melunak.

"Tidak.. hmm. Bagaimana jika kau masuk dulu?" Baekhyun membuka pintu apartemennya lebih luas dan mempersilahkan Chanyeol untuk masuk. Keduanya duduk di ruang tamu Baekhyun dengan sedikit awkward. Keduanya duduk bersebelahan dengan posisi saling berhadapan, Baekhyun memiringkan badannya kearah Chanyeol.

"Chanyeol, mau minum apa?" Baekhyun berusaha membuka obrolan.

"Tidak usah. Ah, Baekhyun. Sebenarnya aku ingin bicara." Chanyeol gugup. Iya, Chanyeol gugup sekarang.

"Hmm.. baiklah. Silahkan, bicara apa Yeol-ah? Apakah sesuatu penting?" Baekhyun mengusap bahu Chanyeol dengan lembut.

"Byun Baekhyun" Chanyeol mengusap dahinya sejenak kemudian Park itu menggenggam kedua tangan Baekhyun dengan sedikit erat. Genggaman yang baru sekali ini Baekhyun rasakan dalam hidupnya. Genggaman hangat seorang lelaki yang mampu menggetarkan hatinya. Dada Baekhyun sesak, dia sangat nervous sekarang. Lelaki tinggi itu menatapnya dengan keyakinan. Bahkan Baekhyun kecil ini tidak mampu membuka mulutnya untuk sekedar menjawab panggilan Chanyeol.

"Aku tidak tau apakah kau akan marah padaku setelah ini, mungkin kau akan jijik, atau mungkin malah menghajarku. Tapi aku tidak peduli dengan itu semua, aku hanya ingin berbicara tentang hatiku." Chanyeol mengusap punggung tangan Baekhyun, dan si mungilpun tidak berniat melepaskan usapan dalam genggaman nyaman itu.

"Aku sungguh dilema, aku tidak tau pada diriku sendiri, aku.. aku sangat tersiksa. Aku sungguh bingung dan takut untuk melangkah. Baekhyun, kau tau bagaimana aku kan? Aku selalu khawatir, aku selalu bingung dengan apa yang akan aku hadapi besok. Apakah langkahku ini benar atau tidak, aku tidak tau.." Baekhyun menatap Chanyeol dengan pandangan simpatinya, pria didepannya ini sedang mengalami masalah.

"Chanyeol, kau.. kenapa? Apa yang mengganggumu? Kau baik baik saja?" Tangan kiri Baekhyun tergerak mengusap kening menawan pilot tampan tersebut, mata Chanyeol berkaca-kaca, ia menutup matanya perlahan merasakan tangan Baekhyun membelai kepalanya dengan lembut. "Kau tau, segala sesuatu pasti ada jalannya. Jika kau salah jalan, masih akan ada jalan yang lain, tidak perlu takut atau bingung. Ikuti kata hatimu, Chanyeol-ie." Ibu jari Baekhyun mengusap berlian onyx Chanyeol yang menetes tepat di ujungnya. Baekhyun tersentak. "K-kau menangis? Apa sesakit itu, Chanyeol-ie?"

Baekhyun hanya mendapat anggukan dari Chanyeol. Pria ini, pemuda Park yang ia kenal sebagai seorang yang berwibawa, tampan, mempesona dengan kharismanya, dewasa dan merupakan ayah yang baik bagi Park Jiwon, malam ini meneteskan airmata dihadapannya.

Bibir Chanyeol bergetar, pria kekar itu menahan tangisnya dengan susah payah. Genggamannya pada tangan kanan Baekhyun mulai mengencang.

"Ya Tuhan, Park Chanyeol." Dengan sigap Baekhyun setengah duduk di sofanya, ia memeluk Chanyeol. Dia benamkan kepala pria itu didadanya, sambil mengusap ujung kepala 'Park' nya. Ia mendudukkan dirinya diatas paha Chanyeol.

Baekhyun menahan tangisnya, dia tidak tau apa yang terjadi pada Chanyeol. Tetapi hatinya sangat sakit melihat orang yang baru dikenalnya selama kurang lebih 3 bulan ini datang ke apartemennya dengan keadaan seperti ini. Hatinya remuk, ingin melindungi seorang Park Chanyeol. Chanyeolnya yang selalu membawa keceriaan, selalu membawa kebahagiaan bahkan sejak pertemuan konyol mereka, ternyata memiliki beban yang sangat besar. Hati pria itu sangat lembut, bahkan Baekhyun mengakui, hatinya lebih keras dari hati Chanyeol.

Saat ini, tangis Chanyeol teredam di dada Baekhyun. Tangan kekarnya memeluk pinggang Baekhyun dengan erat.

"Tolong aku. J-jangan pergi. K-kumohon." Sesingkat itu, namun dengan susah payah Chanyeol mengatakannya.

"Aku tidak pergi, aku janji." Baekhyun kembali mengusap kepala pria tampan itu. "Menangislah. Tapi jangan terlalu lama. Hatiku sakit melihatnya."

Dengan segera, Chanyeol berusaha menegakkan badannya. "Baekhyun. Aku.. aku menyakiti ibuku. Aku tidak tau. Aku sangat mencintai ibuku, dan juga Jiwon. Baekhyun bantu aku." Bahu Baekhyun digoncangkan oleh Chanyeol, si mungil hanya menatap Chanyeol penuh tanya.

"Chanyeol, ceritakan pelan-pelan apa masalahmu. Aku akan mendengarkanmu. Tenangkan dirimu. Aku ambilkan air dulu ya?" Baru saja hendak melangkahkan kaki ke dapur, tangan Baekhyun tertahan tangan Chanyeol.

"Tidak usah, jangan pergi dulu Baekhyun." Yang disuruhpun langsung kembali duduk di hadapan Chanyeol. Pilot idaman itu mengembuskan nafasnya sekali tarik dengan dalam, lalu membuangnya perlahan agar rileks. Matanya melembut menatap Baekhyun.

"Byun Baekhyun, sejak awal kita bertemu aku sudah memiliki ketertarikan pada dirimu. Bukan hanya fisikmu saja, tetapi bahkan hatimu. Kau mampu menjaga perasaan orang lain, caramu memperlakukan orang lain, aku sangat menyukainya. Bagaimana caramu merawat Jiwonku, aku sangat bahagia melihatnya. Aku juga merasa lebih terawat dan merasa lebih memperhatikan penampilanku saat mengenalmu. Hampir setiap hari kita berhubungan, entah bertemu atau melalui sambungan telepon. Dan.." Chanyeol tersenyum. Baekhyun menajamkan matanya, penasaran dengan apa yang akan dilanjutkan Chanyeol selanjutnya.

"Dan.. Aku selalu merasa rindu jika kita tidak saling menghubungi satu sama lain." Chanyeol menutup mulutnya, ia sungguh gugup. Baekhyun mengerutkan keningnya. Pria kecil ini tidak berusaha untuk memahami kata kata Chanyeol.

"Chanyeol.. aku.. masih tidak mengerti." Baekhyun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

"Ah.. Baiklah. Begini. Aku merasa nyaman denganmu, Byun Baekhyun. Aku merasa membutuhkanmu, mungkin tidak hanya aku, saat ini Jiwon juga sangat menyayangimu, ia menganggapmu seperti ibunya sendiri. Menangis ketika ia sadar kau tidak ada disampingnya saat bangun. Bahkan aku juga.."

Suasana apartemen Baekhyun hening. Baekhyun mulai tau arah pembicaraan Chanyeol.

"Baekhyun, aku mencintaimu. Maukah kau menjadi kekasihku?"

Deg

Benar dugaan Baekhyun. Chanyeol mengungkapkan perasaannya. Hati Baekhyun bergejolak, ia ingin berteriak 8 oktaf saat ini. Mata Baekhyun berkaca menatap Chanyeol. Seorang pria sempurna yang ternyata memiliki hati selembut kapas, yang bisa terbang kapan saja oleh angin bahkan hanya angin yang menerpanya dengan tidak terlalu kencang.

"Chanyeol, aku.. maaf. Tapi, aku masih tidak habis pikir.. kau-"

"Gay? Ah, aku sudah menduganya. Kau tidak sepertiku.. Ah.. betapa bodohnya aku. Maafkan aku Baekhyun." Chanyeol duduk menjauhi Baekhyun, senyum paksaannya terlengkung miris. "Maafkan aku sudah membuang waktumu. Aku sudah egois. Kau mau marah? Marahlah saja Baek. Aku sudah siap".

Baekhyun duduk mendekat kearah Chanyeol sambil mencubit bibir Chanyeol dengan gemas.

"Idiot!"

Chanyeol makin membuang wajahnya dari hadapan Baekhyun, ia menundukkan kepalanya.

"Karena itu kau merasa bersalah pada ibumu? Kau mencintaiku?" Pertanyaan Baekhyun barusan sangat tepat menusuk hati Chanyeol. Pria bermata lebar itu mengangguk dengan pelan. Baekhyun hanya tersenyum.

"Aku anak yang kurangajar ya? Kepada ibuku, dan juga kepadamu barusan. Aku hanya ingin mengungkapkan perasaanku, Baekhyun. Dan hanya ada 2 jawaban kan? Kau menerimaku atau tidak. Dan ternyata kau tidak sepertiku. Aku sudah menduganya. Maaf Baekhyun.. Maaf.. Ma-"

Cup

Bibir Chanyeol terbungkam oleh kecupan bibir mungil Baekhyun. Ya, Baekhyun mengecup bibirnya. Mata Chanyeol membulat.

"Aku juga mencintaimu!" Baekhyun dan Chanyeol saling menatap dalam. "Chanyeol, jawab aku dengan yakin. Apa kau sungguh sungguh mencintaiku?"

Chanyeol mengangguk pasti, tangannya kembali menggenggam tangan Baekhyun. "Aku sangat mencintaimu, Baekhyun!"

"Aku mencintaimu, aku juga mencintai Jiwon. Kau mau berjuang bersamaku? Untuk meyakinkan ibumu-" Baekhyun memberi jeda pada kalimatnya, matanya menatap pada Chanyeol dengan penuh harap. "-dan orang tuaku."

Chanyeol mengedip sambil tersenyum. "Bukankah seharusnya aku yang bertanya seperti itu Baek?"

"A-aku.. aku juga sangat ingin menyatakan perasaanku... Ternyata kau duluan yang mengatakannya.." Baekhyun mengulum bibirnya manis. Dia menunduk malu untuk mengakui ini. Sang pria jangkung tersenyum menatap wajah kemerahan si mungil.

"Baiklah, mari berjuang bersama?" Lengan Chanyeol melingkar di pinggang ramping Baekhyun. Tatapan keduanya bertemu.

"Kau tau, Byun Baekhyun? Aku hanya akan menyatakan perasaanku kepada pria hanya satu kali dalam seumur hidup. Aku seperti ini karenamu." Pelukan Chanyeol mengerat, membuat badan Baekhyun mendekat padanya.

Tangan Baekhyun mengalung indah di leher Chanyeol, menatap mata penuh keyakinan prianya sambil tersenyum manis. "Iya iya, aku tau. Kau pilot bodoh dasar." Keduanya terkekeh.

"Aku tidak menyangka bisa memilikimu, Baekhyun." Perlahan Chanyeol mendekatkan bibirnya ke bibir tipis Baekhyun, dan langsung melumatnya. Baekhyun yang awalnya sedikit kaget, pada akhirnya menutup mata dan merasakan gerak bibir tebal milik pilot gagahnya ini. Keduanya larut dalam sentuhan ringan yang perlahan mulai sedikit agresif.

Chanyeol mendorong pelan badan Baekhyun hingga pria bermata sipit itu terbaring disofa kamar tamunya. Ciuman keduanya tidak terlepas, bahkan terasa semakin kasar.

Jemari lentik Baekhyun menyusup dalam rambut legam cepak milik Chanyeol, meremas rambut itu perlahan menyalurkan cintanya ke kekasih barunya.

"E-eummh, Chanh-y-yeolh uhmmph" lenguhan Baekhyun mengalun tanpa disadari setelah Chanyeol menggigit dan langsung menghisap bibir bawah Baekhyun.

"Aku mencintaimu, Baekhyun."

"Aku juga mencintaimu, Park Chanyeol-ahmmnh!" Chanyeol langsung membungkam kembali bibir mungil kekasih mungilnya. Keduanya sangat menikmati momen ini, momen dimana keduanya dengan lega mengutarakan perasaan satu sama lain, dan terbalaskan.

Ting tong

Ting tong

Ting tong ting tong

Duk duk duk!

"HEY BAYI BESAR. APA KAU TULI TIBA TIBA? AKU SUDAH DILUAR!"

Suara melengking dari luar pintu apartment Baekhyun memutus sentuhan bibir sepasang kekasih baru ini.

Baekhyun mendorong dada Chanyeol sedikit kuat hingga membuat Chanyeol kaget, sekaligus terkekeh.

"Hahahh. Astaga, apakah itu Minseok hyung?" Chanyeol menatap Baekhyun dalam posisi setengah menindihnya.

"I-iya.. maaf ya.. aku harus membukakan pintu." Baekhyun bergegas pergi dadi tindihan Chanyeol dan segera membuka pintu tersebut. "Tunggu sebentar, jangan teriak begitu.."

-My Special Flight with You-

Luhan masuk kedalam mobil dengan tergesa, hingga membanting tasnya ke kursi penumpang disebelahnya. Ia banting pintu mobil tersebut hingga menggema dipenjuru basement luas tersebut.

"Aku tak menyangka dia seperti itu. Dasar lelaki brengsek! Aku membencimu Sehun. Hiks.." Dokter cantik itu mengusap perutnya perlahan, dia menunduk bersandar pada steer kemudinya. Bahunya tak berhenti bergerak, hingga sebuah panggilan masuk menginterupsinya.

Incomming call

Sehunnie️

Wajah Luhan membeku saat ia mengambil ponselnya. Wanita itu terdiam sejenak sambil menatap layar ponsel canggihnya. Tak berapa lama, Luhan menjawab panggilan tersebut.

"Lu? Kau dimana? Maafkan aku, aku sungguh sungguh memiliki alasan untuk hal tadi."

"A-aku sepertinya akan pergi berbelanja. Kebutuhan di apartemenku habis."

"Kau hendak kembali ke apartemenmu? Jangan begitu Lu, kembalilah ke apartemenku. Ku mohon?"

"Aku.. aku harus mengunjungi apartemenku. Selama ini aku selalu di apartemenmu, Sehun. Tidak salah kan jika mampir untuk membersihkannya? Aku akan menginap disana sementara waktu. Okay? Sampai jumpa."

pip!

Luhan menarik nafasnya dalam kemudian membuangnya perlahan. Ia mencoba mengontrol emosinya. Dadanya sangat sakit, dan dia frustasi sekarang. Luhan tidak sedang berbohong, ia sungguh sungguh pergi ke supermarket untuk berbelanja walaupun dalam keadaan yang sangat memprihatinkan.

Disisi lain, Sehun masih terdiam dengan keadaan pantat yang menyandar pada meja kerjanya. Ditangannya tergenggam erat sebuah ponsel canggih yang terlihat mengembun dilayarnya akibat keringat Sehun.

"Hyung, sudahlah. Kau sudah hampir setengah jam terdiam begitu" Ucap seseorang yang duduk diseberang meja bagian lain diruangan tersebut. Pria tersebut menutup laptopnya perlahan, kemudian berdiri lalu mendekat Sehun sambil membawa cangkir americanonya.

"Entah, pikiranku kalut. Aku ingin memeluk Luhan sekarang, Jaehyun." Sehun kembali duduk dikursinya, menatap bingkai foto lucunya bersama Luhan.

"Luhan.. betapa bodohnya aku tidak mengejarmu tadi." Si marga Oh tersebut tiba tiba menghardik dirinya sendiri.

"Kau tau Jaehyun-ah? Luhan sedang hamil, dan aku menyakitinya." Ucap Sehun dengan wajah datar. Jaehyun menegakkan badannya tiba-tiba dan menatap Sehun tak percaya.

"Hyung, aku sampai bingung harus turut berbahagia atau bersedih." Jaehyun mendekati Sehun dan menepuk pundaknya perlahan.

"Akupun tak tau, aku sangat bahagia saat mengetahui dia hamil. Tapi, dia tidak mengabariku dan menyimpannya sendiri. Aku mengetahui kehamilan Luhan dari Kyungsoo, temannya. Dan aku sedikit kecewa. Mengapa ia tak bilang padaku? Bagaimana aku bisa menjaganya?"

"Kau tau hyung, sangat sulit bagi seorang wanita yang hamil diluar nikah untuk mengaku pada kekasihnya tentang kehamilannya. Dan sepertinya dokter Luhan merasakan seperti itu. Dia bingung harus bilang padamu atau tidak. Aku rasa dia khawatir bila kau akan meninggalkannya jika tau beliau hamil anakmu."

Sehun terlihat berfikir sejenak. Tapi yang dikatakan Jaehyun ada benarnya. Mungkin Luhan dilema saat itu. Sehun paham, pasti perasaan kekasihnya sangat sensitif, terlebih ditengah kehamilannya.

"Ucapanmu terdengar seperti skenario drama saja." Sehun menepuk punggung Jaehyun dan beranjak dari ruangan mereka. Jaehyun tersenyum menatap raga Sehun yang menjauh.

"Besok ada penerbangan ke Haneda, Captain. Temuilah dokter Luhan sebelum kita berdinas, setidaknya kalian sempat berbicara 4 mata." Jaehyun kembali ke mejanya dan segera membereskan barangnya.

Sehun membalik badannya menatap Jaehyun. "Sepertinya aku harus berterimakasih banyak padamu. Entah bagaimana caranya, Jaehyun."

Dimple Jaehyun melekuk indah, ia tersenyum menatap Sehun. "Buy me the best steak in Seoul, Steven. Hahahh" tawa lembut pria Jung itu menggema, Sehun juga.

"Call. Haha, aku pergi dulu. See you tomorrow Jeffrey." Sehun segera pulang ke apartemennya untuk berkemas, lalu ia berniat menemui Luhan malam ini.

Luhan berjalan di restoran milik keluarga Kim dengan wajah yang lesu, cushion yang ia pakai tidak mampu menutupi wajah cantiknya yang sedikit sembab. Hingga akhirnya dia menemukan Kyungsoo yang duduk dimeja 12.

"Lu.." Kyungsoo beranjak dari bangkunya saat ia melihat Luhan, dengan segera Kyungsoo memeluk Luhan dengan erat.

"Rasanya sakit sekali, Soo." Ucap Luhan dengan lirih, dan hanya dibalas anggukan oleh Kyungsoo. Tangan mungil Kyungsoo mengusap punggungnya tipis milik Luhan untuk menenangkannya.

"Aku tau, Lu. Sudah ya? Kau makanlah dulu. Anakmu butuh asupan gizi yang baik." Kyungsoo menuntun Luhan untuk duduk. Yah, setidaknya Luhan sudah tidak menangis lagi. Ia sungguh berusaha mati-matian agar tidak terlihat lemah dimata orang lain.

"Ini ada salad dan beberapa makanan berprotein lainnya. Kau makanlah, sebentar lagi suamiku datang membawakanmu susu. Jadi habiskan makananmu lalu minumlah susu. Ya?" Kyungsoo mengusap tangan Luhan yang hendak menyendokkan makanannya ke mulut, hingga Luhan menengok kearah Kyungsoo sambil kaget.

"Astaga Kyungsoo, kau tidak perlu seperti itu. Kenapa kau menyuruh Jongin, kan aku bisa beli sendiri. Ya Tuhan, aku jadi merepotkan suami orang." Luhan sedikit gelagapan dan malu. Saat ini Kyungsoo hanya tersenyum.

"Tidak apa apa, kami ikhlas membantumu, Luhan. Jika ada apa apa, bilanglah pada kami. Ceritakan masalahmu, kau tidak sendiri. Okay?" Ucap Kyungsoo sambil menata salad Luhan menggunakan sendok.

"Betul sekali, selamat untuk kehadiran anakmu juga, Luhan." Tiba tiba seorang pria Tan datang membawa sebungkus plastik besar berisi susu hamil. Kyungsoo dan Luhan tersenyum manis, disusul pria tersebut yang segera melepas jaketnya.

"Aku mengecek persediaan dapur dulu ya nona nona cantik. Restoran ini harus dihandle langsung oleh presdirnya. Hahah." Pria itu menaruh jaketnya dipaha Kyungsoo, kemudian mencium sedikit pelipis dokter kandungan tersebut. "Jaga diri kalian baik baik."

"Astaga, kami tidak akan kemana mana, Jongin.." ucap Luhan sedikit bercanda. "Jongin sibuk.. tapi sempat membelikanku seperti ini.. astaga Kyungsoo, kau beruntung memiliki Jongin." Helaan nafas keluar dari mulut Kyungsoo.

"Beruntung katamu? Kau tau, dia sangat mudah bergairah. Dan aku kadang lelah melayaninya.. tapi bagaimana lagi, dia tidak akan berhenti sebelum mendapatkan apa yang dia mau."

"Pantas saja anakmu hiperaktif. Ayahnya ternyata begitu.." Luhan terkekeh, Kyungsoo hanya mendelik.

"Kau tidak tau betapa nakalnya Woojin sekarang Lu, dia sangat aktif." Kyungsoo menyecap coklat hangatnya bersamaan dengan Luhan yang melanjutkan acara makan siangnya.

"Aku senang, sebentar lagi Woojin memiliki adik dari Luhan auntie. Pasti dia akan sangat gemas melihatnya esok. Jaga anakmu, Lu." Ucap Kyungsoo sambil mengusap punggung tangan Luhan. Dokter cantik berdarah Beijing tersebut menganggukan kepalanya imut.

"Terimakasih Kyungsoo, untuk Jongin juga. Kalian sahabat terbaikku."

-O-

Jglek

Sebuah suara pintu apartemen yang dibuka membuyarkan Luhan yang sedang membereskan barang belanjaannya di lemari es. Tak berapa lama seorang pria berseragam pilot mendatanginga ke dapur dengan memasang wajah khawatir.

"L-luhan. Aku.. ingin bicara." Ucap pria tersebut dengan terbata. Luhan menengok pada pria tampan yang menatap matanya dengan dalam.

"Hey? Hahah. Santai saja. Apa yang mau dibicarakan? Sepertinya kita tidak perlu bicara, Sehun." Luhan kembali menatap barangnya, seakan tak peduli dengan ajakan Sehun untuk bicara dengannya.

"Luhan, aku minta maaf soal tadi siang. Aku sungguh tidak ada hubungan apa apa dengan pramugari Yoon. Kami akan mengadakan pesta perpisahan dan kami harus berdansa. Saat kau datang di jam istirahat tadi, kami sedang berlatih. Dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku meminta maaf. Sungguh." Sehun berlutut dihadapan Luhan dengan wajah putus asa dan penuh penyesalan.

Luhan menutup lemari esnya dan menatap Sehun dengan intens. Rasanya hatinya terbakar mendengar permintaan maaf dari ayah anak yang dikandungnya ini.

"Kau tau Sehun, rasanya sangat menyakitkan. Aku tidak tau bagaimana aku akan memaafkanmu, tapi aku tak membatasimu untuk bertemu denganku. Biarlah masalah ini lekang oleh waktu. Berlagaklah seperti biasa, aku tidak mau membahas apapun. Aku tidak mau terbebani pikiran, pekerjaanku sudah rumit. Kumohon jangan kau persulit. Terimakasih." Ucap Luhan panjang lebar sambil kembali membuka lemari dinakas dapurnya. Ia menaruh belanjaannya disana.

Sehun mengangguk dan menggumamkan kata maaf lagi dengan perlahan. Pandangannya terkunci pada sosok indah dihadapannya ini. Pilot muda itu merasa bodoh karena telah menyakiti wanita yang dewasa hatinya. Sehun mendekati Luhan dan berniat membantu wanita itu beres beres, hingga dengan tidak sengaja Sehun melihat paper bag berisi susu ibu hamil.

"Lu, apa kau menyembunyikan sesuatu dariku?" Tanya Sehun to the point. Gerakan Luhan terhenti, kemudian dokter cantik itu memutar badannya kearah Sehun.

"Iya. Kau penasaran?"

"Jika kau tidak keberatan, sayang". Jawab Sehun enteng.

Luhan langsung mengambil tasnya dan merogoh sesuatu, sampai benda berbentuk panjang berwarna putih tergenggam ditangannya. "Lihat ini". Luhan mendekati Sehun, dan memberikan sebuah test pack positif ke tangan Sehun.

"Ini-?" Sehun menatap testpack itu sejenak. Pinggul pria itu bersandar pada meja makan dibelakangnya, Sehun terus menatap testpack Luhan sampai dia menutup bibirnya dengan mata yang berkaca.

Luhan menatap Sehun dengan pasrah. Seburuk apapun yang Sehun katakan nanti, Luhan sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk siap menerimanya. Namun kali ini, Luhan yang panik. Dia menegakkan badannya tanpa berusaha mendekati ayah dari bayi yang dia kandung.

"Apakah sesusah itu memberitahuku? Aku sudah menduganya sejak berhari hari yang lalu". Sehun menatap Luhan dengan air mata yang sekuat tenaga ia tahan, namun tetap jatuh juga.

"Sehun, anak kita-"

Grep

Hanya sekejap, badan ramping Luhan telah berada dalam dekapan hangat seorang Oh Sehun. Wanita itu terdiam bingung, dia masih tak paham apa maksud Sehun. Apakah Sehun menerima anak ini atau tidak.

Dengan segera Sehun melepaskan pelukannya pada Luhan, lalu mengusap airmatanya sendiri. Pria itu terlihat sangat lemah sekarang, terlebih dihadapan seorang Shin Luhan. Pilot muda tersebut mengeluarkan sebuah kotak dari celana kainnya, kemudian membuka kotak kecil berbludru navy senada dengan dasi kantornya.

"Shin Luhan, will you marry me?" Lamaran langsung terlontar mantap dari bibir seorang Oh Sehun terhadap wanita yang sudah hampir 4 tahun menemani perjalanan hidupnya. Lamaran tersebut didukung oleh cincin bermata berlian swarovski indah berukuran 17, yang sesuai dengan jari manis milik Luhan.

Keduanya terdiam, Sehun masih berdiri dihadapan Luhan membawa cincin tersebut. Sementara Luhan membatu melihat cincin indah dengan ukiran HunHan dibagian dalamnya. Cantik sekali.

"Sehun, kau.. kau melamarku?" Hanya anggukan Sehun yang diterima Luhan. Sehun tersenyum tampan, menunggu jawaban dari ratunya ini.

"I'm still waiting, Lu". Luhan menatap Sehun dan cincin yang kekasihnya bawa secara bergantian. Luhan menutup mulutnya dengan kedua tangan, dan tak kuasa menahan air matanya sendiri.

"I will Oh Sehun, I Will!"

Pelukan erat antara keduanya sangat indah dilihat. Tangisan Luhan tak terbendung, karena ia tak menyangka Sehun akan secepat ini melamarnya.

"Aku tak menyangka kau melamarku. Kau melamarku bukan karena aku memergokimu dengan Yoon Jeonghan kan?" Luhan mendrama dalam dekapan calon suaminya. Sehun terkekeh sambil mengusap kepala Luhan.

"Tentu tidak sayangku. Aku membeli cincin ini tadi pagi sebelum kau datang ke kantorku. Bahkan sertifikat berliannya masih berada dikantongku." Keduanya berhadapan, Sehun menatap Luhan penuh arti.

"Luhan, terimakasih telah bersikap dewasa. Kelakuanku siang ini sesungguhnya sangat buruk. Terutama untuk hatimu, dan anak kita. Aku sangat takut setelah kejadian tadi. Aku takut kau akan meninggalkanku. Tadinya aku berniat melamarmu minggu depan, tapi sepertinya hari ini momentnya lebih tepat". Sehun mencium kening dokter muda tersebut dan kembali memeluknya.

"Aku sangat mencintaimu, Luhan. Jangan pernah tinggalkan Sehun yang bodoh ini. Aku tak tahu apa jadinya hidupku tanpamu". Sehun jujur dari dalam hati. Dia sungguh tak bisa hidup tanpa Luhan.

"Aku juga sangat mencintaimu, Sehunie. Jangan nakal lagi. Aku dan baby tidak suka melihatnya". Ucap Luhan sambil cemberut. Kekehan Sehun kembali terdengar.

"Oh iya Sehunie, apa sebelumnya kau sudah mengetahui kehamilanku?"

"Ya, beberapa hari yang lalu. Aku menemukan bungkus testpack dikamar mandi. Hanya dirimu satu satunya wanita yang pernah tidur dan menggunakan kamar mandi kamarku, sayang. Ah! Apalagi tanda tanda aneh ini. Beberapa hari terakhir kau sering ingin makan yang aneh aneh, lalu kau menghindari makanan mentah. Dari tanda tanda itulah aku menyimpulkan jika kau hamil". Tanpa disadari, sudah tersemat cincin emas putih bermata berlian dijari manis kanan Luhan.

Ternyata selama ini Sehun memerhatikannya. Senyum manis melengkung dibibir indah wanita Korea-Beijing ini.

"Terimakasih telah memerhatikanku sejauh itu. Terimakasih kau tahan denganku. Aku sangat beruntung memilikimu, Oh Sehun". Ucap Luhan dengan yakin. Sehun mengangkat tangan Luhan dan mengecup lembut cincin dipunggung tangan jemari dokter eksis tersebut.

"Aku lebih beruntung memilikimu, Shin Luhan. Ah, ralat, Oh Luhan". Ucapan Sehun itu dibalas dengan wajah cemberut dari Luhan.

"Ya! Belum! Belum sampai kita berada di altar.. hehe" ucap Luhan dengan polos.

"Baiklah nyonya Oh. Anyway, besok aku dan Capt. Jung akan ke Haneda. Aku ijin ya?" Pelukan lengan kekar Sehun dipinggang Luhan melemah.

"Lalu, kapan kita ke Beijing?" Luhan makin cemberut.

"As soon as possible, my queen". Kecupan lembut Sehun daratkan dibibir ranum Dokter Shin.

-O-

Los Angeles, 01.15am

"Flight attendant, please be seated". Cuaca di Los Angeles saat itu cukup buruk. Apalagi bagi penerbangan Captain Park dan Captain Nam dini hari ini. Dua penerbang tersebut terlihat sedikit berkeringat.

"50 knots Capt"

"Too risky. Turn off auto pilot, we'll do it manually".

"Okay Capt!"

Keduanya mematikan auto pilot, dan langsung memegang kendali secara manual.

"Ready for landing". Suara baritone Chanyeol yang serak, kembali memberi arahan pada flight attendant di cabin penumpang. Setelah menerima instruksi, kepala awak kabin langsung duduk dikursi dan mengencangkan sabuk pengaman.

"Hold the brake, point 4".

"Check, Capt"

60

40

Recharge - Recharge

Keduanya menarik tuas rem dan langsung menetralkan speed control secara bersamaan, melawan hembusan angin yang cukup kencang ditengah hujan deras Los Angeles.

"Push the brake up, full". Tangan keduanya bergetar berusaha mengarahkan pesawat ke garis lurus runway sepanjang 3000 meter tersebut.

"In the name of Father, Son, and Holy Spirit, we believe that You are the one who hold our life and our death". Chanyeol menegakkan tuasnya yakin, pendaratan kali ini tidak semulus biasanya. Pesawat sudah berputar 3 kali diatas langit LAX airport, mau tidak mau, Chanyeol dan Joohyuk harus segera menurunkan burung besi tersebut.

Dengan keyakinan dan doa pasrah yang terucap dari bibir mereka, Chanyeol dan Joohyuk berhasil mendaratkan pesawat airbus tersebut dengan sedikit lecet dibagian sayap kiri karena posisi miringnya pesawat hingga menubruk aspal runway saat melawan angin.

Saat ini pesawat tersebut telah berhenti diujung landasan, bisa dibilang pesawat ini tergelincir saat landing. Beberapa truk petugas pemadam dan ambulance langsung mendekat. Mereka telah bersiap diujung landasan pada saat menara ATC di LAX mengabarkan jika akan ada pendaratan darurat dari Chanyeol beberapa menit yang lalu.

(ATC : Pusat Informasi lalu lintas penerbangan bandara)

"Korean Airlines CB427 land safely, left wing crashed, we just need push back". Tak lama setelah Chanyeol kembali mengabari bahwa pesawat tersebut baik baik saja, beberapa truk pemadam serta ambulance kembali menjauh, dan membiarkan pesawat itu parkir dengan sendirinya.

"Good job, Capt". Joohyun menepuk bahu Chanyeol sekilas.

"Not me, you too. Us, our flight attendant, our passengers too. We did it". Chanyeol tersenyum setelah berhasil memarkirkan pesawatnya. Kedua pilot itu melepas seat belt, sambil memundurkan kursinya.

"Kita harus memeriksa sayap, capt". Ucap Joohyuk tiba tiba.

"Ijinkan aku menenangkan pikiranku. Aku tiba tiba memikirkan Jiwon dan Baekhyun". Ucapnya sambil menyandarkan kepala lemah.

"Baiklah, biarkan aku periksa dulu". Sebelum Joohyuk beranjak dari kursinya, tiba tiba pintu kokpit terbuka memperlihatkan seorang pramugari dengan mata yang berkaca kaca.

"Captain Park, Captain Nam, penumpang tidak ingin keluar jika anda berdua belum menemui mereka". Pramugari tersebut melebarkan pintu kokpit dan terlihat para penumpang yang berusaha melihat kedalam kokpit. Joohyuk langsung keluar dari kokpit, disusul Chanyeol yang masih lemas, namun ia menahannya.

Chanyeol mengambil microphone milik flight attendant.

"Hello Ladies and Gentleman, this ks your Captain speaking. My name is Richard Park with my co-Pilot Jason Nam, would like to say thank you very much for your patience, and also thanks for choose Korean Airlines. See you on another flight". Hanya pidato singkat, tunggu, bukan pidato. Lebih ke ucapan terimakasih, iya kan?

Singkat, tetapi riuh tepuk tangan menggema dalam pesawat tersebut. Tak lama, instruksi untuk penumpang segera meninggalkan pesawatpun dicetuskan dengan tujuan akan dilalukannya pemeriksaan teknis pada badan pesawat.

Para pilot dan awak kabin langsung keluar melalui garbarata saat semua penumpang telah keluar. Chanyeol dan Joohyuk berdiri diujung garbarata sambil melihat keujung sayap bagian kiri.

(Garbarata : jembatan penghubung antara pesawat dan arrival line atau departure lounge)

"Aku sudah berfikir aneh aneh tadi, capt". Ucap Joohyuk sambil memerhatikan sayap pesawat dan mobil teknisi yang mondar mandir dibawah.

Chanyeol masih terdiam. Pandangannya tak lepas dari pesawat kokohnya itu. Dia terlalu lelah. Akhirnya Chanyeol berjalan duluan, dia menuju ke tempat penjemputannya dan awak kabin setelah melewati bagian keimigrasian. Duduk sedikit menjauh dari awaknya, mengambil ponsel dan menelepon seseorang.

"Hey captain! Sudah sampai?"

Chanyeol tersenyum manis dalam diam. Menutup matanya sambil membayangkan simungilnya ini menyapa dengan wajah yang sumringah. Betapa bahagianya Chanyeol masih bisa mendengar suara Baekhyun, padahal beberapa menit yang lalu dia memegang nyawa 357 penumpang yang hampir saja terenggut maut.

"Hey bayi besar, kenapa diam saja? Jangan menakutiku".

"Tidak, aku hanya rindu padamu. Sangat rindu".

"Bodoh, harusnya aku yang sangat rindu. Kerjamu jauh jauh sekali".

"Aku bahagia masih bisa mendengar suaramu, Baekhyun".

Baekhyun terdiam, senyumnya pudar diujung sana.

"Apa terjadi sesuatu hari ini?"

Gotcha

"Tidak ada. Jangan panik, aku baik baik saja, sayang. Bagaimana Jiwon?"

"Aku membawanya ke salon untuk potong rambut, lalu memotong kuku dan makan malam bersama ibumu".

"Syukurlah. Aku rindu kalian".

"Cepatlah pulang, aku.. rindu".

"Aku harus stay 3 hari, ada urusan mendadak". Chanyeol mengusap foto Baekhyun dan Jiwon dalam dompetnya dengan lembut. "Tapi aku janji akan segera pulang, secepatnya".

Baekhyun kembali terdiam. Dia tau telah terjadi sesuatu pada Chanyeolnya. Baekhyun mulai panik saat ada email dari Minseok yang masuk ke iPadnya tentang artikel resmi kecelakaan penerbangan Korean Airlines di Los Angeles yang tergelincir.

Baekhyun membaca sambil berusaha bertanya dengan Chanyeol dengan nada senormal mungkin.

"Kau tidak apa kan? Kau berhutang cerita padaku tuan Park"

Kekehan Chanyeol terdengar, dia ingin memeluk Baekhyunnya ini.

"Baiklah, ingatkan aku untuk yang satu itu. Anyway, aku harus segera ke hotel, akan kutelepon setelah sampai. See you when i reach my hotel, baby".

"See you~"

Wajah Chanyeol melunak, hatinya lebih tenang sekarang. Senyumnya merekah, sepanjang perjalanan menuju tempat bus maskapainya. Ia berjalan berdampingan dengan 3 pilot lainnya.

"Park Chanyeol!" Tiba tiba sebuah suara menginterupsi Chanyeol. Pria tinggi itu menoleh dan kaget saat melihat seorang wanita berlogat Korea berlari dan memeluknya dengan erat.

"Seohyun?" Pilot muda tersebut membulatkan matanya.

"Iya, ini aku Seohyun. Aku merindukanmu, sangat".

"Aku juga sangat merindukanmu".

TBC or?..

E e sapa tu Seohyun?

IT'S BEEN ONE YEAR YOROBUUUN. BANYAK KEJADIAN ANEH BIN AJAIB YG TERJADI PADA DIRIKU. MULAI DARI LUPA PASSWORD, SAMPE ILANG IDE CERITA.

Kebetulan beberapa chap sebelumnya aku ada edit edit dikit soalny banyak yg typo dan ganyambung. Ada beda nama juga di bbrp tokoh. Aku tu baru nyadar segitu begonya aku.

Btw aku kaget masih ada yang nunggu kelanjutan ff nista ini. Btw rate nya aku turunin jadi T ya. Soalnya kayanya aku fokusinnya ke drama keluarganya aja deh. Kalo yang rate M M an disebelah aja ya wkwk.

Sekali lagi aku minta maaf banget gais, aku bener bener give up dulu itu. Aku ngerasa udh kehilangan acc ini. Tapi akhirnya bisa dianuin, aku senang. Mohon maaf sebesar besarnya. Maaf belum bisa bikin ff sekeren yg kalian mau. Aku cuma luapin apa yg aku pengen tulis. Terutama minatku dengan bidang kedirgantaraan dan medis. Aku bisa explore bidang tsb karena ff ini. Aku belajar banyak untuk bahan menulis. Aku seneng banget bisa nulis kaya gini.

btw aku langsung up 3 ep sekalian. soalnya di wp udah lanjut banyak. hehe. maafin aku ya gais. aku sempet gabisa buka acc ini