DISCLAIMER :
Togashi-Sensei
Kurisleen
SUMMARY :
Delapan bulan setelah pertemuan Kurapika dan Genei Ryodan, dia menemukan pamannya yang sudah lama menghilang dan akhirnya fokus untuk menemukan matas audara sesukunya. Yang tidak ia ketahui adalah Kuroro Lucifer sudah menemukan seseorang yang bisa mengangkat kutukan Nen-nya.
WARNING :
FemKura. Half Canon.
CHAPTER 7 : DANCE
"Apa INI memang benar-benar perlu?" Hampir saja Kurapika merengek seperti anak kecil saat melihat apa yang pamannya ingin dia lihat; gaun ungu berkerah halter neck yang dipadukan dengan sabuk berwarna hitam.
"Oh, iya, Sayangku." Kairo menjawab sambil menatap gaun itu dengan matanya yang sebiru samudera. "Kau akan terlihat cantik mengenakannya."
"Ugh." Si Gadis Pirang mendengus dan melangkah menghampiri gaun tersebut, mengamatinya dengan begitu teliti. "Sebenarnya aku tidak begitu keberatan memakai gaun, tapi mengenakannya untuk besok? Tentu saja TIDAK." Dia berkata dan menoleh menatap pamannya. "Dan tolong jelaskan lagi kenapa kau harus mengumumkan pertunangan konyol ini di depan umum?"
Ya, seisi rumah Bethel sedang sibuk; sibuk mempersiapkan setiap detail yang diperlukan untuk pesta pertunangan resmi antara Kuroro Lucifer dan Kurapika Kuruta. Pestanya akan diadakan di mansion lain di Kota Landenberg dan pestanya akan menjadi pesta yang megah dan elegan, dengan para undangan yang terdiri dari orang-orang yang terkenal dan berpengaruh. Pesta itu terbuka untuk media dan masyarakat umum yang tertarik.
Kurapika menunggu jawaban pamannya namun pria itu hanya tersenyum.
"Bagaimana? Aku menunggu jawabanmu." Kurapika mengetukkan kakinya dengan tak sabar dan menyilangkan kedua tangannya.
Kairo berdehem dulu sebelum menjawab. "Yah, kau tahu betapa sulitnya aku dengan media tapi besok adalah pengecualian." Dia mulai bicara. "Kita adalah tokoh terkemuka di masyarakat, Sayangku. Semua mata dan telinga akan tertuju pada kita saat ini, terutama pada dirimu. Aku tak mau media melanggar privasimu seperti apa yang mereka lakukan padaku dan Zali. Itulah kenapa aku akan membiarkan mereka melakukan apapun yang mereka inginkan besok, dan setelahnya, mereka takkan lagi mengganggumu, aku dan Kuroro."
Saat pamannya menyebut nama Sang Pemimpin Laba-laba, Kurapika tampak tegang. Mata biru samuderanya yang gelap menatap ke bawah untuk sesaat. Melihat sikapnya menjadi lain dari biasa, Kairo menyadari perubahan kecil dalam postur tubuhnya, dia pun menyeringai nakal.
"Ngomong-ngomong tentang Kuroro, aku penasaran ada di mana dia." Katanya lantang. "Beberapa hari terakhir ini, kalian berdua tidak begitu sering bertengkar."
"Itulah kenapa kami saling menghindari satu sama lain. Dan tolong berhenti membicarakan bajingan itu."
Pria tersebut mengangguk dan baru saja akan melangkah menuju pintu saat menemukan sesuatu tergantung di dinding.
"Ini lukisan baru?" Dia bertanya ketika melihat lukisan sepasang Mata Merah dengan bunga daffodil di belakangnya. Lukisan itu tergantung di dinding dengan bingkai berwarna emas.
Kurapika tak tahan untuk tidak merasa terganggu oleh adanya dorongan yang mendadak muncul untuk merobohkan lukisan itu. Kenapa dia memajangnya di sana dan bukannya di mansion Pulau Kirin, dia pun tak tahu kenapa. Kairo memegangi dagunya dan memeriksa lukisan yang baru dibuat tersebut. Dia mengangguk-angguk. Gadis itu dan pamannya sama-sama menyukai seni.
"Ayah, kubilang ayo kita pergi." Si Gadis Kuruta bergegas keluar dari kamarnya dan Kairo pun mengikuti, seulas senyum masih nampak di wajahnya.
Kuroro mendaratkan yacht-nya begitu sampai ke pelabuhan. Ada Shalnark bersamanya yang segera memberikan kabar terbaru mengenai para anggota Geng Laba-laba yang ia tugaskan untuk datang bersamanya ke Pulau Bethel.
"Danchou, Machi sudah sampai kemarin, lalu Feitan menyusul. Phinx dan Nobu akan sampai hari ini jam tiga sore." Shalnark mengoceh dan Kuroro mendengarkannya baik-baik sambil berjalan menuju mansion.
Saat mereka tiba, terlihat Machi dan Feitan menunggu dengan sabar di ruang keluarga. Para pelayan telah melayani mereka dengan baik karena Kuroro telah memerintahkannya. Dia bisa melihat para anggotanya tidak terbiasa dengan perlakuan seperti itu.
"Danchou." Machi menyadari kedatangannya dan beranjak berdiri.
"Apakah Kurapika sudah melihat kalian berdua?" Kuroro bertanya dan mereka menggelengkan kepalanya.
"Tidak, dan kurasa dia tidak mau," kata Feitan.
"Dia belum keluar dari kamarnya." Machi menoleh melihat ke arah tangga utama yang menuju ke lantai dua di mana seluruh kamar penghuni mansion berada.
Kuroro memahami hal itu, dia mengangguk sekali dan melirik Shalnark yang tengah memegangi netbook-nya yang terbuka. "Bagaimana penyelidikan tentang sindikat itu?" Sindikat yang dia maksud adalah pelaku perdagangan manusia yang hampir memerkosa tunangannya. Hingga saat ini, Kuroro masih bingung kenapa dirinya tiba-tiba merasa sangat marah saat melihat apa yang telah dilakukan para bajingan itu pada Kurapika.
Bahkan sebelum dia bertunangan dengan Kurapika, dia sudah waspada. Dia curiga mereka memiliki sepasang Mata Merah yang mereka jual di pelelangan.
"Sepertinya mereka beroperasi di seluruh dunia, Danchou." Pemuda berambut pirang pasir itu mulai menjawab. "Tapi aku masih belum bisa menemukan petunjuk apapun, apakah mereka adalah organisasi yang menjual Mata Merah ke pelelangan dan para mafia."
"Temukan lebih banyak informasi tentang mereka." Kuroro berkata dan mengangkat tangannya ke mulutnya. "Kalau bisa retas sistem mereka, temukan negara dan tempat-tempat di mana mereka beroperasi secara spesifik, dan kau tahu harus bagaimana selanjutnya."
"Ya, Danchou!" Shalnark menjawab sambil tersenyum dan duduk di sofa yang ditempati Machi dan Feitan. Dia pun mulai mengetik dengan cepat di netbook-nya dengan ekspresi tegang terlihat di wajahnya.
Keheningan tampak menyelimuti mereka. Kadang terdengar ketukan jari Shalnark di keyboard. Machi dan Feitan menyaksikan Shalnark melakukan pekerjaannya sambil membantu pemuda itu, seringkali berbisik padanya, berhati-hati untuk tidak mengganggu Danchou mereka. Sementara Kuroro duduk di sofa mewah lainnya yang ada di ruangan itu, masih berpikir dalam-dalam.
Namun keheningan tersebut tiba-tiba terganggu saat mereka mendengar suara obrolan pelan terdengar dari lantai atas. Kuroro menoleh ke arah di mana suara itu berasal dan tersenyum senang atas apa yang dilihat mata onyx-nya. Di sana, dia melihat Kairo Bethel sedang berbicara dengan—tak lain tak bukan—adalah tunangannya, yang sedang melangkah ke belakang dengan kedua tangan di balik badannya. Ketika Kairo melihat Kuroro, pria itu berhenti melangkah dan mengisyaratkan Kurapika untuk berbalik.
Kurapika pun berbalik dan saat melihat tamu mansion tersebut, matanya sedikit terbelalak terkejut dan Kuroro melihat betapa cepat mata biru samuderanya berubah warna menjadi merah dan kembali lagi ke warna aslinya. Dia kira Kurapika akan geram dan marah mengetahui Kuroro membawa anggota Geng Laba-laba bersamanya, tapi Si Gadis Pirang Kuruta tidak melakukannya sedikit pun. Malah, dia melanjutkan langkahnya menuruni tangga bersama pamannya.
Kuroro dan para anak buahnya berdiri saat Kairo Bethel berjalan menuju tempat di mana mereka berada dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku bajunya.
"Teman-temanmu, Kuroro?" Pria itu bertanya dan mengamati Machi, Feitan dan Shalnark.
Kuroro tersenyum dan menatap Kurapika yang berada beberapa meter di belakang pamannya dan memalingkan wajahnya. Dia dapat melihat kedua tangan gadis itu mengepal erat. "Pengawal Kurapika yang baru."
Pernyataannya berhasil menangkap perhatian Si Gadis Kuruta dan para anggota Geng Laba-laba. Kairo menaikkan kedua alis matanya mendengar hal itu. "Betapa bijaksananya kau, Kuroro." Dia berkata dan benar-benar terkekeh.
"Akan datang dua orang lagi." Pemimpin Laba-laba itu memberitahu. "Mereka—" Kuroro tidak punya waktu menyelesaikan kalimatnya ketika Kurapika tiba-tiba menyela.
"Aku tidak butuh pengawal lagi!" Dia hampir berteriak dan menghentakkan kakinya, melangkah ke arah pria itu. Dia memelototinya dengan berbahaya. "Aku sudah memiliki Elite Seven. Aku tak perlu Laba-labamu."
Kuroro menyeringai. "Sejauh yang kuperhatikan, pengawalmu yang disebut Elite Seven itu tidak menjalankan tugasnya dengan baik."
"Kau bilang mereka tak ada gunanya?"
"Terus terang saja, iya."
Tiba-tiba Kurapika menarik kerah baju pria itu dan para anggota Geng Laba-laba langsung waspada andaikata hal terburuk terjadi. "Kau brengsek." Dia mendesis dan ditanggapi Kuroro dengan seringai angkuhnya.
"Aku bisa terima hinaanmu tapi jika kau mau bilang bahwa aku salah, itu lain masalahnya, Kurapika." Sekarang dia bisa melihat semburat warna merah di matanya.
"Baik, cukup." Kairo Bethel akhirnya turun tangan dan menempatkan tangannya di bahu sang keponakan. Kurapika melepaskan cengkeraman eratnya di jaket Kuroro dan berjalan keluar dari mansion dengan marah.
Kairo berbalik menghadap Kuroro dan sedikit mengernyit. "Bagaimana kau akan menghapuskan Nen-nya Zali jika kau terus membuatnya marah?" ia bertanya.
Pemimpin Laba-laba terkekeh pelan. "Kau tahu apa yang mereka katakan, 'semakin kau benci, semakin kau mencinta.'"
"Benar." Kairo sependapat dengannya.
Hari berikutnya…
"Whoa!" Gon berseru, mengamati Mansion Bethel Landenberg dengan tatapan liar. "Tak bisa kupercaya, bahkan ternyata Kurapika lebih kaya darimu, Killua." Dia, Killua, dan Leorio akhirnya tiba di pesta pertunangan dan kini sedang duduk di meja VIP, menyaksikan orang-orang tengah bercakap-cakap satu sama lain. Pesta itu diadakan di taman mansion yang sangat luas karena itulah yang diinginkan Kairo Bethel.
Pesta itu berbeda dengan pesta lainnya. Pestanya begitu mewah dan mahal hingga setiap orang terkemuka akan merasa terhormat diundang datang ke sana. Tidak biasanya Keluarga Bethel menyelenggarakan perayaan yang luar biasa seperti pesta ini. Namun karena tujuan pesta kali ini begitu berarti, Kairo Bethel menyelenggarakannya dengan segenap daya dan upaya.
"Ayahku mengenal Tuan Bethel karena dia pernah menyewanya untuk membunuh mereka yang berusaha membunuh Zali Bethel." Killua menjawab dan memasukkan potongan besar coklat ke dalam mulutnya.
"Eh? Benarkah?" Dia bertanya dan mantan pembunuh muda itu pun mengangguk.
"Oi! Killua, seharusnya kau tidak boleh makan makanan manis sebelum makan malam!" Leorio mendesis kesal dan meraih coklat itu dari Killua.
"Berhenti jadi orang tua pemarah, Leorio." Killua menyeringai. "Kau hanya cemburu pada pria beruntung yang akan Kurapika nikahi."
Wajah Leorio mendadak memerah mendengarnya. "A…Aku? Cemburu? Kau bilang apa, anak nakal?"
Gon tertawa melihat reaksi teman yang berusia lebih tua darinya itu. "Ha! Wajahmu memerah!"
"Kubilang, sayang sekali Kurapika menolakmu saat kau mengakui perasaanmu padanya." Zoldyck muda itu menjawab dan menyeringai padanya.
"Cukup!" Leorio berdiri dan berusaha meraih Killua namun ia sudah berdiri dan menghindar. "Kembali ke sini!"
"Oi! Teman-teman, hentikan!" Gon berseru saat dia menyadari ada beberapa orang menatap mereka dengan tatapan tak suka.
Beberapa saat dari sekarang, pesta pertunangan akan resmi dimulai. Seperti yang sudah diperkirakan, para tamu undangan merupakan kalangan kelas atas, seringkali berasal dari keluarga dengan status sosial yang tinggi. Beberapa keluarga mafia pun diundang termasuk Keluarga Nostrad. Media pun hadir, menunggu terjadinya hal-hal yang menarik.
Tiba-tiba, sebuah mobil Lamborghini berwarna perak tiba di jalan masuk taman dan ketiga orang sahabat Kurapika menoleh melihat tamu yang baru datang itu. Valet bergegas membuka pintu mobil dan seorang pria dengan rambut coklat dan mata yang berwarna hijau, mengenakan setelan putih, melangkah keluar dengan seulas senyum menghiasi wajahnya. Beberapa orang reporter dari media datang menyapa dan menanyakan beberapa hal padanya.
"Aku tahu pria itu!" Leorio berkata, melupakan Killua sepenuhnya. "Dia adalah Michael Fuji, putra pemilik Fuji Memorial Hospital."
"Dia seorang dokter?" Gon bertanya.
"Dokter bedah, lebih tepatnya." Calon dokter itu meralat. "Wah! Aku harus mengobrol dengannya!" Dia berkata dan berjalan menuju pria bernama Michael Fuji itu dengan bersemangat.
Gon dan Killua kembali ke tempat duduk mereka dan kembali memakan makanan manis yang mereka dapatkan dari meja prasmanan. Sesaat mereka bercakap-cakap sebentar mengenai petualangan penemuan terakhir mereka. Tiba-tiba, Killua melihat dua sosok yang terlihat familiar dari kejauhan. Matanya membelalak tak percaya saat kesadaran menimpanya.
"Gon!" Dia hampir berteriak dan menunjuk ke arah dua sosok itu. "Kurapika dan—"
"Kuroro Lucifer!" Gon menyelesaikan kalimatnya.
Kurapika melihat sisi kiri dan kanannya dengan hati-hati. Gaun yang dipakainya sangat tidak nyaman dan Kuroro membuatnya jadi lebih buruk karena dia berdiri begitu dekat dengannya hingga dia tak tahan untuk tidak menggeliat.
Kuroro menyelipkan tangannya ke pinggang Kurapika dan sesuai perkiraan, gadis itu menjadi sedikit tegang.
"Kau pikir apa yang kaulakukan?" Kurapika berdesis padanya.
"Hmm?" Kuroro hanya bergumam dan membimbingnya ke tempat pesta. Kurapika berusaha meloloskan diri dari lengan pria itu namun Kuroro mempererat pelukannya dan menarik gadis itu lebih dekat ke tubuhnya. "Bukankah pasangan seharusnya sedekat ini?" Dia bertanya sambil memperlihatkan senyumnya yang menawan.
"Sayangnya, kita bukan—"
"Kurapika!" Suara kekanakan yang terdengar familiar pun berseru dan Kurapika melihat ke arahnya. Matanya terbelalak saat melihat Gon dan Killua menghampirinya secepat mungkin.
"G...Gon...Killua!" Kurapika tergagap dan melepaskan diri dari pelukan Kuroro untuk berjumpa dengan sahabat-sahabatnya, bukan untuk menyapa mereka namun untuk menghentikan mereka jika mereka berusaha melakukan sesuatu.
"Kenapa Pemimpin Laba-laba ada di sini?" Tanya Killua dengan berbahaya sembari dirinya dan Gon bersiap dalam posisi bertahan, siap menyerang Kuroro jika pria itu mencoba melakukan hal yang tidak-tidak.
"Bukankah seharusnya dia berada dalam pengaruh Judgement Chain-mu?" Gon pun bertanya, namun mata coklatnya tetap tertuju pada Kuroro.
"Teman-teman, dengar." Kurapika berusaha membujuk keduanya namun mereka seolah tidak mau mendengarkan.
Sementara itu Kuroro menyaksikan semuanya dengan merasa terhibur sementara tamu-tamu menoleh melihat keributan kecil yang sedang terjadi.
"Anak-anak." Tiba-tiba Kairo Bethel muncul di belakang Kuroro dengan Sato dan Kenji bersamanya. "Ikut aku, mari kita bicara." Dia selalu menjadi penyelamat bagi Kurapika dan Kuroro dalam saat-saat seperti ini.
Merasa mengenal pria itu dan rencananya, Killua dan Gon memutuskan bahwa merupakan ide yang bagus jika melakukan apa yang diinginkannya. Pasti Tuan Bethel akan menjelaskan kepada mereka apa yang terjadi. Maka, mereka mengikutinya kembali ke mansion. Awalnya Gon merasa ragu karena dia khawatir meninggalkan Kurapika bersama Kuroro Lucifer. Namun Kurapika menatapnya yakin dan tersenyum.
Ketika paman dan sahabat-sahabatnya menghilang dari pandangan, Kurapika menoleh ke arah Kuroro dan sedikit memelototinya.
"Mari?" Kuroro bertanya dan mengisyaratkan kepada Kurapika untuk menerima uluran tangannya. Gadis itu merasa ragu dan menatap tangan Kuroro, namun akhirnya dia menerimanya dan berjalan menuju ke tempat di mana mereka seharusnya duduk.
Di pertengahan jalan, para tamu menyapa dan memberikan ucapan selamat. Kurapika harus terus tersenyum namun Kuroro tak tahan untuk tidak menyadari bahwa senyumnya palsu.
Ketika mereka tengah berbicara dengan salah seorang rekan bisnis Tuan Bethel, seorang pemuda berambut coklat menghampiri pasangan itu dan berhenti dengan jarak beberapa langkah dari Kurapika.
"Hei, Kurapika." Si Pirang Kuruta pun menoleh, demikian pula halnya dengan Kuroro.
"Michael?" Kurapika bertanya seolah tak percaya dan Michael Fuji tersenyum lebar padanya.
"Bagaimana kabarmu?" Michael balik bertanya saat Kurapika menghampirinya setelah undur diri dari percakapannya.
"Baik. Bagaimana denganmu? Kapan kau kembali?" Tanya Kurapika dengan riang ketika berhadapan dengannya.
"Baik. Aku baru kembali hari ini untukmu." Pemuda berambut coklat itu menjawab dan mengalihkan perhatiannya kepada Kuroro. "Kau pasti Kuroro Lucifer, tunangan Kurapika." Dia berkata dan mengulurkan tangannya. "Michael Fuji. Senang bertemu denganmu."
Kuroro hanya tersenyum tipis dan menyalaminya. Kurapika dan Michael bercakap-cakap tentang berbagai hal sementara Kuroro hanya diam mendengarkan. Entah mengapa, dia merasa tak bisa mempercayai Michael Fuji. Ada aura yang mengelilinginya, aura yang terasa agak jahat dan manipulatif.
Sesaat kemudian, Sato datang memberitahu Kurapika bahwa Gubernur telah tiba dan Kurapika harus menyapanya beserta keluarganya. Kurapika langsung pamit dan pergi ke jalan masuk taman bersama Sato yang mengikuti di belakangnya.
"Dia berharga." Michael berkata sambil matanya mengikuti sosok Kurapika yang menjauh.
Kuroro menoleh padanya. "Berharga?" Ia bertanya ingin tahu.
"Kau tahu, dia berharga karena dirinya adalah Wanita Kuruta terakhir yang masih hidup." Dokter itu menjawab dan menatapnya.
"Kau bukan hanya seorang dokter, betul bukan, Michael?" Kuroro berkata sambil menyeringai dan Michael terkekeh. "Betul. Selain sebagai seorang dokter, aku pun bekerja sebagai Virus Hunter bagi Perkumpulan Hunter."
"Itu bukan satu-satunya kesimpulanku." Kuroro menambahkan, memasukkan tangannya ke dalam saku dan tersenyum angkuh. "Sebenarnya kau menyukainya, 'kan?"
Senyum Michael langsung menghilang dan dia menoleh ke arah Kuroro. Sementara Kuroro hanya menyaksikan Kurapika menyalami Gubernur dan memeluk istrinya.
"Kenapa kau bilang begitu?" Michael bertanya tanpa melepaskan tatapannya dari Sang Pemimpin Laba-laba, lalu Kuroro balik menatapnya.
"Itu kesimpulanku saja."
"Wah, benar-benar." Michael berkata dengan mengejek. "Sejujurnya, ya, aku menyukainya. Sangat." Suaranya pun berubah jahat. "Dan aku bukan tipe orang yang menyerah tanpa bertarung."
"Aku juga." Kuroro berkata, terkejut sendiri dengan apa yang diucapkannya.
Dokter itu sedikit tertawa dan kembali menoleh kepada Kurapika yang kini sedang bercakap-cakap dengan istri Gubernur, tersenyum dan tertawa-tawa. "Aku akan memilikinya, Kuroor Lucifer. Tunggu saja dan lihatlah."
Kuroro menanggapinya dengan tersenyum. "Aku akan mengantisipasi hal itu, Tuan Fuji." Dia berkata, menantangnya.
"Aku punya keuntungan. Aku sudah mengenalnya selama delapan bulan sementara kau baru bertemu dengannya beberapa minggu yang lalu."
"Kau salah." Sang Pemimpin Laba-laba menjawab, menyilangkan kedua lengannya di dada. Michael menatapnya bingung dan Kuroro pun memberikan penjelasan atas pertanyaannya yang tersirat. "Kau tahu, aku dan Kurapika bertemu lima tahun lalu di kampung halamannya, Desa Lukuso. Namun, aku tinggal sebentar saja dan meninggalkannya dengan tergesa-gesa. Jadi, dia pergi mencariku." Kuroro menampakkan raut wajah angkuh kepada Michael. "Bagaimana menurutmu tentang kisah cinta kami?"
"Apa—"
"Tapi kau juga benar." Kuroro menyela sebelum dokter muda itu dapat menyelesaikan kalimatnya. "Kau punya keuntungan dan itu akan membuat semuanya menjadi lebih menantang."
Sambil berkata demikian, Kuroro Lucifer berjalan menjauh, menuju Kurapika untuk bergabung dengan tunangannya itu dan meninggalkan Michael yang kebingungan di belakangnya.
Pesta pun dimulai, beberapa orang tamu memberikan pidatonya, dipersembahkan untuk Kuroro dan Kurapika yang tengah duduk berdekatan di meja VIP. Kemudian para tamu memberikan berbagai kado mahal yang mereka terima dengan penuh rasa terima kasih. Sesaat kemudian, Kairo Bethel kembali memberikan pidato singkat dan bersulang bagi Kuroro dan Kurapika. Sepanjang waktu, pasangan itu terus berdekatan satu sama lain, berhati-hati untuk tidak membuat siapapun curiga akan sikap Kurapika yang mudah berubah terhadap tunangannya.
Kuroro, seperti halnya Kurapika, biasanya tidak menikmati pesta seperti ini namun dia harus melakukannya. Tiba-tiba dia merasa posesif terhadap Si Kuruta setelah Michael Fuji menyatakan bahwa dia akan berjuang untuk mendapatkannya. Ngomong-ngomong tentang pria itu, saat ini Michael sedang duduk di meja VIP lain, tersenyum palsu kepada pasangan itu.
Sementara itu, Gon dan Killua sudah kembali dari percakapan mereka yang panjang bersama Kairo. Untungnya, tak seorang pun dari mereka bersikap seperti yang mereka lakukan tadi saat pertama kali melihat Kuroro dan Kurapika. Si Kuruta beranggapan bahwa pamannya pasti sudah menjelaskan semuanya. Yang belum dilakukan adalah, menjelaskan kepada Leorio yang masih berusaha mempertahankan percakapannya dengan Michael.
Tiba-tiba saja, Kuroro berdiri di tengah pertunjukan yang dilakukan oleh seorang pianis dan membungkuk, berbisik di telinga Kurapika. "Ayo pergi." Dia berkata dan menarik tubuhnya kembali.
Kurapika menatapnya, dahinya mengernyit. "Ke mana?" Dia bertanya. "Kalau ini bukan hal penting—" Dia tak bisa menyelesaikan kalimatnya saat pria berambut hitam pekat itu meraih pergelangan tangannya dan menariknya, memaksa dirinya untuk ikut berdiri. "Tunggu! Hei!" Si Gadis Pirang pun protes sementara Kuroro menyeretnya untuk pergi bersamanya menuju ke lantai dansa.
Sebelum Kurapika menyadarinya, sang pianis sudah memainkan lagu lain yang cocok untuk dansa yang bertempo lambat. Melihat pasangan itu di tengah-tengah lantai dansa, para tamu bertepuk tangan sambil tersenyum lebar kepada mereka. Wajah Kurapika merona, sepuluh kali lebih merah daripada biasanya dan hal itu membuat Kuroro terhibur.
Sang Pemimpin Laba-laba menyelipkan kedua lengannya melingkari pinggang ramping gadis itu dan menariknya lebih dekat, membuat Kurapika tak punya pilihan selain menempatkan kedua tangannya ke kedua bahu Kuroro. Lalu, mereka berdua mulai berdansa perlahan seirama dengan musik. Kurapika menyembunyikan rona di wajahnya dengan menunduk melihat ke arah kaki mereka, sementara Kuroro lebih terlihat seperti sedang memeluknya daripada hanya sekedar berdansa.
"Apakah itu cara yang pantas dilakukan pria untuk mengajak seorang gadis berdansa?" Dengan marah dia bertanya, namun Kuroro hanya menanggapinya dengan bergumam pelan.
Bagi Kuroro, dia sendiri merasa sedikit bingung apakah dirinya melakukan hal ini untuk mendapatkan kebaikan hatinya atau karena alasan lain. Bagi Kurapika, dia pun bingung dengan setiap pendekatan yang dilakukan Kuroro. Dia merasa rentan dengan setiap sentuhan dan kontak antara mereka berdua. Dia ingin sekali membunuh pria itu setelah semuanya selesai; setelah nen terkutuk di tubuhnya hilang.
Namun jika memang sudah hilang nanti, bisakah dia menyelesaikan pembalasan dendamnya?
TBC
A/N :
Masih dalam rangka pemanasan, translate dulu... Hehe!
Review please ^^
~KuroPika FOREVER~
