[REMINDER]This sheet is about HunHan point of view.
Seoul, 08.20
"Baiklah, aku akan segera ke gedung sebelah dalam 10 menit. Iya, terima kasih professor". Wanita berambut panjang tersebut berjalan menyusuri lorong sambil membekap beberapa buku didadanya. Senyumnya tidak luntur sejak pagi hari tadi. Derap langkah heels warna pastel tersebut terdengar teratur ditelinga. Tidak sedikit yang berusaha menyapa wanita tersebut, dan semua sapaan itu terbalas.
"dokter Shin, dokter shin!" Suara lelaki menginterupsi langkah wanita cantik tersebut, yang tak lain adalah Luhan. Dengan segera Luhan membalikkan badannya dan menunggu pria tersebut yang sedikit berlari kearahnya.
"Ah, iya? Ada perlu apa ya?" Luhan menatap orang tersebut dengan heran. Siapa pria ini?
"W—wow. Cantik.." lirihan pria itu terdengar oleh Luhan. Dengan wajah yang selengekan, pria sipit itu masih menatap Luhan penuh kekaguman. Wanita dewasa itu sedikit terkekeh karena kelakuan pria ini yang tidak kunjung mengatakan sesuatu, malah hanya melihat wajahnya saja sambil melongo.
"Hello? Apa ada sesuatu?" Luhan menggerakkan telapaknya didepan wajah si pria tinggi tersebut.
Dengan bodohnya, pria tadi menggelengkan kepalanya berusaha mengembalikan fokusnya.
"Ah, halo dokter Shin, namaku—"
"Ahn Jaehyun?" Luhan memotong perkataan dokter muda itu dengan cepat. Wajah kaget pria berseragam dokter tersebut membuat Luhan ngakak.
"Darimana kau tau namaku?" Dokter Ahn menutup bibirnya dalam keadaan kaget.
"Hahah, mudah saja. ID card mu". Luhan menunjuk ID card pria bernama Ahn Jaehyun itu dengan lirikan matanya. Seketika, Jaehyun tersebut menatap ID cardnya dengan wajah bodoh.
"Astaga. Maafkan aku dokter Shin. Hehe. Oh iya, aku ada perlu. Tadi Professor Lee memanggilmu. Dia ada di gedung radiologi saat ini". Ucapan Jaehyun hanya dibalas anggukan oleh Luhan.
"Iya, aku sudah tau. Aku sedang akan menuju kesana, barusan beliau menelepon. Aku duluan ya? Terimakasih informasinya. Kau sudah mengulur waktuku selama dua menit dengan informasi yang sebetulnya tidak berguna karena kau sudah terlambat memberitahuku. Sampai berjumpa lagi!" Luhan meninggalkan Jaehyun yang mendadak manyun setelah wanita itu menjauh.
"Benar yang dikatakan orang orang, dia kelewat cantik, tapi galak sekali. Jika dilihat tadi, dia memang senyum. Tapi senyumnya senyum membunuh.. astaga seram sekali, bagaimana bisa Professor Lee mampu menjadikannya asisten?". Pria itu terus terusan ngedumel dalam perjalanannya menuju ruangan.
-My Special Flight with You-
Gimpo ️to Haneda, 09.35
"Ready to take off"
Gimpo airport pagi ini sangat cerah. Kedua pilot didalam cockpit masih sibuk mengecek beberapa catatan sekaligus mempersiapkan autopilot.
"Kenapa? Kok senyumnya tidak berhenti mengembang, capt?" Jaehyun yang selesai mengaktifkan autopilot sangat terinterupsi dengan wajah sumringah Sehun pagi ini.
"Pagi ini cerah, seperti suasana hatiku. Oh, by the way.. tentang obrolan kita kemarin, kau benar. Aku langsung melamar Luhan, dan kami akan menikah segera. Doakan ya?" Dengan sangat percaya diri, Sehun membeberkan itu semua.
"Wah! Benarkah? Aku turut senang untukmu Capt! Kalau begitu, jadikan aku bridesman!" Permintaan Jaehyun langsung dikonfirmasi oleh Sehun.
"Okay! Hahah. Oh iya Jaehyun, apa kau tau siapa yang dapat giliran Incheon - Beijing untuk lusa?"
"Aku tidak yakin, tapi menurut jadwal, itu adalah jadwal Captain Park Chanyeol. Namun aku tidak yakin dalam keadaan begini apakah beliau tetap diberangkatkan. Memangnya ada apa Capt?" Ucapan Jaehyun betul juga. Apakah setelah kejadian kecelakaan kemarin, Chanyeol masih boleh diberangkatkan? "Apakah anda yang menggantikan beliau? Bukankan hari itu kita libur?"
Sehun sedikit menerawang jauh ke awan yang barusan pesawatnya lewati. Membetulkan letak kacamata hitam RayBan-nya yang melorot.
"No, Jeffrey. Kita tidak akan menggantikan siapapun, kita libur. Aku hanya berencana berangkat ke Beijing, bersama Luhan". Sehun beralih dari dokumennya, ke ponsel. Dia mengecek jadwal untuk minggu ini, dan benar saja, jadwal itu masih belum berganti. Ada nama Park Chanyeol disana.
"Bahkan Captain Park belum touchdown di Seoul. Sungguh maskapai ini gila jika mereka tetap membiarkan Chanyeol bekerja". Pemuda yang barusaja mencapai gelar Captainnya tersebut menaruh kembali ponselnya.
"Ada urusan apa ke Beijing, Capt?"
"Aku akan bertemu orang tua Luhan, untuk melamarnya". Senyum bodoh itu lagi yang terpahat diwajah Sehun.
"Segera capt! Hahah. Hey! Jangan lupa greetings pada penumpang!" Jaehyun mengingatkan.
"AstagaLuhan, hampir saja aku lupa". Dengan segera Sehun mengambil microphonenya.
—astaga Tuhan woy, bukan Luhan. Dsr bucin :)—
"Good morning ladies and gentlemen, this is your captain speaking. My name is Sehun Oh with my flight pilot Jaehyun Jung."
-My Special Flight with You-
Seoul, 13.25
"Kebanyakan memang memiliki indikasi yang berbeda. Tapi kita harus menemukan persamaan dalam beberapa indikator tersebut untuk mampu diimplementasikan secara baik melalui teori teori ini". Luhan dan beberapa dokter memperhatikan presentasi dari Professor Lee. Setiap lingkaran lingkaran yang beliau tandai memiliki definisi tersendiri bagi Shin Luhan.
"Semoga kita dapat menemukan hasil terbaik untuk penelitian ini. Terimakasih atas waktu kalian. Akan kucukupkan sampai disini hari ini. Sampai jumpa minggu depan".
7 dokter muda tersebut saling membungkuk saling berpamitan, hingga diruangan tersebut menyisakan 3 orang saja termasuk Luhan. Mereka adalah teman dokter Luhan, ada Eunbi, dan Jinki.
"Astaga Eunbi-ah, Luhannie, disaat kita hampir menemukan conclusion, selalu saja ada hal tidak terduga". Keluh Jinki yang sebetulnya sudah mulai muak dengan penelitian ini.
"Sebagai dokter yang dipilih professor Lee, kita harus profesional Jinki-ya. Kau jangan mau kalah dengan teman teman yang lain". Nasihat Luhan kepada kawan seangkatannya ini.
Ketiganya bersandar sambil meminum Americano mereka—kecuali Luhan, karena sedang hamil. Luhan dengan santai mengecek ponselnya. Ternyata ada pesan dari Sehun sejak pagi tadi yang belum dia baca.
Sehun berkata bahwa ia akan sampai pukul 5 sore nanti, dan menyuruh Luhan untuk menjemput. Dan lagi lagi Luhan dibuat penasaran ketika Sehun mengatakan bahwa pria itu membawa sesuatu untuknya. hal itu membuat Luhan bertanya tanya dalam hati.
Luhan bersiap untuk pulang sekarang. Matanya berbinar menunggu kejutan apa lagi yang akan Sehun berikan kepadanya. Luhan harus segera menyiapkan data pasiennya sebelum ia pulang.
"Selesai. Aku segera pulang dan bersiap!" Luhan mengambil tas dan menimang manis jas dokternya, lalu bergegas ke parkiran mobil.
Matahari semakin redup, suhu mulai menurun. Luhan mulai mengeratkan mantelnya sebelum keluar dari gedung tersebut.
"Halo dokter Shin!" Seorang pria berambut hitam langsung berjalan beriringan dengan Luhan. Wanita cantik itu tidak berniat untuk menghentikan langkahnya. Ia tetap berjalan dengan membalas sapaan pria tersebut.
"Oh? Hai dokter aneh. Kita betul betul bertemu lagi ya?" Jawab Luhan dengan senyuman. Lagi lagi dokter tampan tersebut memanyunkan bibirnya.
"Hey, aku tidak aneh. Kau tau? Semua karyawan di unitku bilang aku ini tampan. Handsome doctor. Julukan yang hebat kan?" Oh, ternyata si super percaya diri, Ahn Jaehyun. Pria itu menggulung lengan kemeja birunya sampai siku. Kalian tau bagaimana respon nyonya besar kita? Ya. Hanya diam saja dan berpandangan fokus kedepan. Sesungguhnya pria disampingnya ini kelewat tampan. Tapi kenapa tidak direspon dengan baik?
"Selain aneh, kau juga terlalu percaya diri. Hah, aku kasihan pada orang orang di unitmu. Jangan bilang padaku jika kau spesialis mata". Sungguh nada bicara Luhan sangat dingin, tetapi bibirnya tersenyum.
Baiklah, Jaehyun mulai tersindir.
"Aku dokter UGD. Kau puas? Aku dokter baru! Dan kenapa kau tidak melihatku saat aku mengajakmu berbicara? Sombong sekali! Hey!" Jaehyun berhenti mendadak dihadapan Luhan. Hal itu membuat Luhan kaget saat badannya terhuyung hampir menabrak pria yang memiliki selisih tinggi sangat banyak darinya ini. Dengan gerak reflek, Luhan menahan perutnya yang masih datar.
"HAH!" Luhan berhenti tepat didepan Jaehyun. Dengan pandangan amarah, dia menatap Jaehyun sambil menahan nafas emosinya. "Ahn Jaehyun. Aku tidak paham lagi. Kita baru berkenalan dan kau melakukan hal memalukan seperti ini. Kenapa kau tidak bisa sopan sedikit? Apa maumu hah?"
Jaehyun balik menatap Luhan dengan wajah kagetnya. Wanita yang lebih tua darinya 4 tahun ini terlihat marah sungguhan. Kata teman playboynya, gadis akan terlihat imut saat ngambek atau setelah kita kerjai. Tapi kenapa untuk wanita yang satu ini berbeda ya?
"D—dokter Shin.. maafkan aku. Apa kau marah?" Pandangan Jaehyun menjadi kalem dan nyaris memelas. Dia mengatupkan kedua tangannya sendiri. "Maafkan aku jika membuatmu marah, aku sungguh tidak bermaksud. Sungguh!" Pria tinggi itu segera menyingkirkan badannya dari hadapan Luhan.
Luhan berusaha menarik nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan hingga lega. Dia tidak boleh emosian. Dia sedang hamil, dan jangan sampai stress. Pijatan kecil di kening dia lakukan untuk merilekskan kepalanya.
"Apa maumu?"
"A—aku fansmu.. Aku sering melihatmu di iklan rumah sakit, dan juga prestasi prestasimu. Kau wanita yang hebat hehe, aku ingin berkenalan.." ucap Jaehyun dengan perlahan. Takut takut nanti Luhan bisa marah tiba tiba.
"Hhh jika mau berkenalan tidak begitu caranya. Sudahlah. Kembali ke unitmu sana!" Balas Luhan dengan nada sedikit meninggi.
"Aku sudah selesai bekerja.. aku hendak ke parkiran dan malah bertemu dengan dokter Shin.. maaf ya jika caraku tidak baik. Aku sedikit terburu. Aku duluan ya dokter Shin, selamat sore". Jaehyun membungkuk hormat pada seniornya itu, lalu segera berlari kecil menjauhi raga Luhan yang masih berdiri diam di lorong rumah sakit.
Luhan menghembuskan nafasnya agak kasar. Moodnya tiba tiba buruk karena bocah tadi.
"Hih! Menyebalkan sekali. Merusak moodku saja!" Luhan dengan lemah kembali berjalan menuju mobilnya. Pikirannya tertuju untuk kembali ke apartemennya dan bertemu Sehun.
-My Special Flight with You-
Haneda ️to Gimpo, 16.20
Pesawat berwarna biru tersebut mulai turun perlahan. Langit Korea sangat cerah tapi berangin sore itu, cahaya matahari sore terbias indah dijendela kokpit di sisi Sehun.
"Aku tidak sabar bertemu Luhan." Ucap pilot bermarga Oh tersebut sambil memandang langit dengan senyum khas seorang lelaki yang sedang berniat untuk meminang kekasih tercintanya.
Klak!
Seketika Sehun menengok ke arah Jaehyun saat mendengar suara bantingan barang. Melihat Jaehyun melepas genggamannya pada steer, Sehun yang saat itu bertugas sebagai monitoring pilot, langsung melepas papannya dan segera meraih steer.
"Jaehyun-ah. Jaehyun-ah!" Jaehyun menunduk dalam, dia tak menyahuti panggilan Sehun. Kokpit Boeing besar ini membuatnya tak mampu meraih raga Jaehyun. Maka dari itu Sehun menelepon awak kabin melalui telepon.
"Yes capt?"
"Ask Yoon Jeonghan to go inside."
"Call Capt."
Tak lama, pintu kokpit terbuka dengan wajah pramugari cantik disana.
"Something happen Capt?"
"Ya, periksa Jaehyun. Dia tak bangun, tiba tiba melepas steernya hingga pesawat ini tidak seimbang". Ucap Sehun dengan nada yang dibuat santai.
Mata Jeonghan membulat, jadi.. co-pilotnya pingsan? Jeonghan segera mengikat rambutnya, Supervisor pramugari ini segera menepuk dan mengangkat wajah Jaehyun perlahan. Jeonghan melepas headset pilot Jaehyun dan terbelalak setelah melihat wajah Jaehyun.
"Captain Jung— astaga!" Jeonghan shock melihat adanya darah mengalir lumayan deras dari hidung Jaehyun dan langsung membasahi seragam putih milik co-pilot itu. Sehun langsung menengok kearah Jaehyun, dan sedikit kaget.
"What? Apa yang terjadi padanya?"
"Captain Jung, mimisan deras, Capt. Bibirnya pucat, dan beliau dalam posisi tidak sadar sama sekali". Jeonghan segera mengambil kotak medis disamping seat milik Jaehyun dan langsung mengambil kapas untuk Jaehyun. Jeonghan memegangi kapas tersebut di hidung Jaehyun sembari berusaha mengambil telepon didekat seat Sehun. Lirikan mata Sehun melihat Jeonghan yang kesusahan mengambil teleponnya, dengan sigap Sehun langsung menyodorkan telepon tersebut tanpa mengurangi konsentrasinya mengatur persiapan Landing.
"Terimakasih Capt". Ucapan lembut itu dibalas senyum dan anggukan kecil dari Sehun. Tidak lama, Sehun menelepon ATC Gimpo.
"QZ1220 speaking, we have only 1 pilot to landed the plane".
"Whathappend with the other one?"
—apa yang terjadi dengan pilot satunya?—
"He fainted, we still don't know the reason but he got hard nose bleeding during flight".
—dia pingsan, kami belum bisa memastikan mengapa tapi dia mengalami mimisan parah saat terbang—
"Okay, single landed pilot mode captain. We'll prepare for your emergency landing. Zone 2 row L".
—baiklah, mempersiapkan pendaratan pilot tunggal. Kami akan menyiapkan persiapan pendaratan darurat anda. Zona 2 baris L—
"Thank you".
"You're welcome, be safe. We're here".
Sehun menghela nafasnya agak kasar, sambil menatap Jeonghan sebentar.
"Tetaplah disini, aku membutuhkanmu". Ucap Sehun dan hanya dibalas anggukan oleh Jeonghan.
"Be safe, kami semua bergantung padamu". Jeonghan duduk dikursi tengah yang berada didepan pintu kokpit sambil terus memegangi kepala Jaehyun agar terangkat demi meminimalisir mimisannya.
Jeonghan yang tadi telah memegang teleponnya, langsung mengabarkan ke awak kabin untuk persiapan pendaratan.
Disana ada Hoshi yang mengabarkan kepada para penumpang.
"Good afternoon ladies and gentlemen, we're almost reach Gimpo Airport Korea. Due to some reason, we are preparing to do emergency landing. Please don't panic, stay on your seat, and wait for our command later. Thank you".
—selamat sore para penumpang yang terhormat, kita hampir sampai di Gimpo Airport Korea. Dikarenakan beberapa alasan, pesawat ini akan melakukan pendaratan darurat. Dimohon untuk tetap tenang, tetap duduk dikursi anda, dan tunggu perintah kami selanjutnya. Terimakasih.—
Terlihat para penumpang yang mulai kebingungan dengan keadaan. Pesawat ini terlihat baik baik saja.
Para pramugari dan pramugara berkumpul di titik depan serta ekor, Hoshi yang berada didepan, mengabari kondisi kokpit pada awak kabin yang berada di belakang melalui telepon.
"Dear for our passengers, please be seated until the plane stopped on parking area. We have to do kokpit evacuation. Thank you".
Lagi lagi suara Hoshi terdengar. Berita tambahan ini membuat para penumpang semakin penasaran sebetulnya apa yang terjadi.
"Cabin crew, ready for landing".
Suara Sehun yang tenang, membuat awak kabin sedikit lega. Dengan segera mereka menuju seat masing masing dan memasang sabuk pengamannya.
Didalam kokpit, Sehun masih berhubungan dengan menara ATC dimana role ATC tersebut bertindak sebagai monitoring pilot pengganti. ATC membantu operational pilot melalui sambungan radar serta telepon.
"80 knot. Too windy capt".
Approach minimum. 1800.
"Turn off autopilot. Flaps 2". Sehun menonaktifkan autopilot, dimana dalam kondisi berangin, badai, hujan, tidak boleh digunakan. Wajah Sehun saat ini sangat menenangkan, santai tapi fokus.
Jeonghan yang merasa sedikit pegal dengan posisi badan yang harus stay dengan sabuk pengaman tetapi tetap memegangi kepala Jaehyun. Sehun bekerja sendiri kali ini. Berkali kali Jeonghan mendengar Sehun menghela nafas. Sungguh sulit jika asistenmu memberi arahan tetapi dia tidak berada diposisi yang kau lihat saat ini.
60
50
Recharge, recharge
Flaps demi flaps semakin dinaikkan. Runway sudah didepan mata, roda hampir menyentuh landasan pesawat. Sehun yang masih memasang wajah datarnya itu mendaratkan pesawat dengan halus. Tidak ada yang aneh dalam pendaratan ini.
"Good afternoon all passengers this is your Captain speaking, my Name is Sehun Oh with my co-pilot Jaehyun Jung. We already in Gimpo Airport Korea, and now is 5.10pm, 20 minutes longer than our schedule and we feel so sorry for the delayed landing schedule. My co-pilot Jung Jaehyun got fainted and i do single pilot landing, so due to Captain Jung evacuation, we begging for all passengers to be seated on your seat to wait the medics come. Thank you for choosing KorAirways with you, don't forget to check our website on . See you on the next flight".
—selamat sore para penumpang yang terhormat, disini Captain anda Oh Sehun bersama co-pilot Jung Jaehyun. Kita sudah berada di Gimpo Airport, Korea, dan saat ini menunjukkan pukul 5.10 sore, terlambat 20 menit dari jadwal pendaratan sebelumnya. Co-pilot saya pingsan dan saya harus melakukan pendaratan satu pilot, demi kenyamanan evakuasi dari Captain Jung, kami mohon kepada seluruh penumpang untuk tetap berada di kursi anda sampai petugas medis sampai. Terimakasih telah memilih KorAirways untuk perjalan anda, jangan lupa tetap mengecek situs kami di . sampai jumpa di penerbangan selanjutnya.—
Sehun berdiri dan membantu Jeonghan melepas sabuk pengamannya, ia mendekati Jaehyun dan memeriksa keadaan juniornya tersebut.
"Jaehyun-ah. Jaehyun!" Sehun mengusap darah sisa yang keluar diujung hidung pemuda Jung tersebut menggunakan Tissue.
Jeonghan meregangkan tubuhnya sejenak, lalu kembali mengecek nadi Jaehyun. Wajah cantiknya masih panik.
"Detaknya sangat pelan. Pasti tekanan darahnya turun drastis". Sehun mengikuti Jeonghan untuk mengecek nadi Jaehyun. Hembusan nafas terdengar berat dari mulut Jaehyun yang terbuka.
"Dia bergerak! Jaehyun-ah. Ini Sehun hyung. Bangunlah". Dengan wajah datar campur panik, Sehun menepuk pelan pipi Jaehyun.
Krieett
"Permisi, kami unit medis". Seseorang berjas dokter langsung masuk kokpit dan memeriksa Jaehyun. Terlihat 2 orang berompi putih berada diluar.
"Bagaimana kejadiannya?"
"Saat akan landing, tiba tiba dia pingsan menunduk. Lalu kupanggil pramugari untuk menjaganya, saat diperiksa oleh pramugari Yoon, dia mimisan parah. Lihatlah darahnya, sangat banyak sampai menempel diseragam pramugari Yoon". Ucap Sehun dengan lancar. Sehun dan dokter paruh baya itu membantu melepas seat belt Jaehyun dan menuntunnya ke emergency stretcher disambungan garbarata.
Emergency strether: tempat tidur dorong darurat
Garbarata: jembatan dari lounge ke pesawat
Para penumpang yang menyaksikan itu ada yang sampai menutup wajahnya. Jaehyun terlihat sangat mengenaskan dengan bercak darah dibaju putihnya, dan juga kondisinya yang tak sadarkan diri.
Sehun membiarkan petugas medis membawa Jaehyun segera, sedangkan dia menuju microphone cabin crew untuk menjelaskan apa yang terjadi pada penumpangnya.
"Maaf atas keterlambatan penerbangan kali ini. Keterlambatan disebabkan karena co-pilot saya, Captain Jung Jaehyun mengalami pendarahan yang belum diketahui sebabnya, lalu pesawat sempat berputar sebanyak 2 kali di daerah Gimpo untuk mempersiapakan pendaratan darurat. Kita doakan semoga Captain Jung kembali sehat. Atas pengertiannya, kami ucapkan terimakasih".
Sehun langsung menurunkan topi pilotnya dan berbungkuk sejenak kepada penumpangnya, lalu bergegas menyusul Jaehyun dan tenaga medis.
Disisi lain, Luhan telah berada di bandara 50 menit yang lalu. Ini lebih lama dari apa yang Luhan kira. Sang calon suamipun belum mengabari ataupun terlihat keluar dari pintu kedatangan. Pesawat Sehun sudah berganti keterangan menjadi Landed dilayar. Tandanya dia sudah sampai sejak tadi, tapi mana mungkin selama ini? Biasanya cabin crew melewati fast track, tidak mungkin kan mereka ikut mengantri imigrasi bersama penumpang?
Kening Luhan mulai berkerut saat ada petugas kesehatan yang membuka pintu sedikit lebar. Disana terlihat seperti stretcher yang didorong. Dengan segera, Luhan bertanya kepada petugas yang menjaga pintu tersebut.
"Permisi, apa ada kecelakaan?" Tanya Luhan dengan wajah santai yang dipaksakan.
"Tidak, hanya saja pilot maskapai KorAirways dari Haneda collaps dan pendarahan pada hidung. Kami akan membawanya ke unit kesehatan". Jawab perempuan muda berompi putih tersebut. Luhan hanya ber Oh ria.
Dari jauh sebuah stretcher dengan seseorang berseragam pilot bebercak darah mendekati pintu tersebut, diikuti dua pramugari yang membawa koper dengan sedikit berlari. Luhan tidak bisa melihat dengan jelas wajah pilot tersebut karena masker oxygen yang dipasang disekitar mulut dan hidungnya.
"Cepat, Captain Oh akan menyusul ke ruang medis". Ucap salah satu pramugari kepada temannya. Luhan reflek menengok saat ada marga kekasihnya dipanggil. Setelah rombongan tersebut melewati Luhan, ia melihat koper yang ditarik salah satu pramugari bertuliskan Captain Steven Oh. Luhan kembali menyadarkan ingatannya. Sehun dari Maskapai KorAirways, dan dia terbang dari Haneda juga.. berarti orang itu..?
"Tidak.. SEHUN!" Luhan berlari menyusul rombongan tersebut yang telah sampai di ruang medis. Para pramugari berhenti diluar ruangan. Luhan langsung menuju pintu tersebut dan berusaha membukanya secara paksa, sampai para pramugari menghentikannya.
"Nona, maaf anda tidak boleh masuk. Sedang ada pemeriksaan didalam". Pramugari Yoon memegang badan Luhan, dibantu pramugari Lee yang agak kesusahan karena dia masih membawa tas ditangannya.
"Dia— Dia calon suamiku!" Mata dua pramugari tersebut terbelalak, terlebih mata pramugari Lee.
"M-maksud anda?" Pertanyaan tersebut dihiraukan Luhan, dia tetap memberontak ingin masuk.
"Aku dokter! Aku akan merawat calon suamiku sendiri!" Bentakan Luhan membuat Pramugari Lee dan Yoon mulai panik.
"Hey, hey! Ada ribut apa ini? What the? Luhan?!" Sehun yang datang segera menarik Luhan dari tangan Lee dan Yoon.
"Nona ini berusaha masuk kedalam, beliau bilang dia calon istri Captain Jung". Ucap pramugari Yoon sambil membetulkan bajunya.
"Nona, yang didalam bukanlah Captain Oh". Ucap Taeyong dengan sendu.
Seketika Luhan terbelalak panik, melihat Sehun didepannya sambil memegang erat seperti ini membuatnya bingung. Jadi.. dia salah orang?
"T—tapi.. mereka bilang itu Captain pesawatmu.. a—aku.." Luhan bingung harus berkata apa. "Aku kira itu kau.."
"Jadi yang berteriak akan merawat suaminya sendiri itu kau? Kau calon istri Jaehyun?" Goda Sehun pada dokter cantik tersebut.
"Nona Shin, Captain Jung adalah calon suami Pramugari Lee. Benar kan Taeyongie?" Jeonghan malah ikut menggoda Luhan dihadapan calon suami dan temannya.
"A-aku sampai kaget tadi ada yang mengaku calon istri Jaehyunnie.." Ucap Taeyong sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. Sehun terbahak sejenak.
"Astaga Luhan, kau ini. Bagaimana bisa begitu? Kau tidak mengenali pacarmu sendiri?" Tanya Sehun dengan jahil.
"A-aku melihat kopermu dibawa olehnya.." ucap Luhan lirih sambil menunjuk pramugari Yoon.
"Iya, aku titipkan. Karena aku harus mengisi list teknisi dulu sayang".
"Maafkan aku pramugari Lee. Aku tidak tau.." Luhan membungkuk pada Taeyong dengan wajah yang sangat malu.
"Taeyong, jika ada kabar tentang Jaehyun, kabari aku. Aku, Luhan, dan Jeonghan butuh bicara sejenak".
"Baik capt!" Tak lama, Taeyong masuk ke ruangan tersebut setelah dipersilahkan.
Luhan, Sehun dan Jeonghan berada di Starbucks area airport. Ketiganya telah memesan kopi dan lattenya masing masing.
"Tujuanku mengajak kalian kesini, adalah untuk menjelaskan tentang peristiwa tidak nyaman beberapa hari lalu. Luhan, ini Yoon Jeonghan. Dia supervisor flight attendant ku. Dan Jeonghan-ah, ini Shin Luhan, calon istriku. Kemarin ada salah paham dari Luhan, Jeonghan, maafkan aku, dan maafkan Luhan, okay?" Sehun mengusap bahu Jeonghan dengan halus. Jeonghan mengangguk mengerti.
"Justru aku yang minta maaf. Aku bahkan tidak tau kalau Captain Oh sudah memiliki kekasih. Masalah farewell party, sebaiknya dibatalkan sa—"
"Tidak! Kalian tidak boleh membatalkannya. Tidak apa apa, kalian harus tetap menjadi pasangan dansa!" Ucap Luhan dengan nada excited, Sehun hampir saja tersedak lattenya sendiri. Dia menatap Luhan dengan pandangan heran.
"Apa kau nanti tidak cem—"
"Lakukan saja! Ini pesta perpisahan team kalian.. harus dirayakan! Aku akan sangat sedih jika kalian tidak datang. Aku percaya pada pramugari Yoon! Dia cantik dan baik. Dan aku juga percaya padamu, Sehun-ah". Sambung wanita bermarga Shin tersebut sambil menggenggam tangan Sehun.
"Aku akan marah jika kalian tidak datang ke pesta tersebut. Jadi kalian harus merayakannya, sekalian menyambut sembuhnya Captain Jung". Luhan mengancam Sehun dan Jeonghan dengan nada usil. Keduanya menatap Luhan dengan kebingungan.
Sehun mengusap kepala Luhan dengan lembut, dia tersenyum pada calon istrinya ini.
"Iya, baiklah. Aku janji tidak akan nakal. Terimakasih sudah percaya padaku dan Jeonghan, Lu. Aku mencintaimu". Ucap Sehun dengan lirih. Ia malu karena dihadapan mereka ada Jeonghan. Jeonghanpun terkekeh melihat pasangan dihadapannya ini. Sungguh seperti anak SMA pacaran saja.
'maafkan aku yang sempat mencintaimu.
Maafkan aku yang egois tidak mampu mengerti keadaanmu.
Maafkan aku yang sempat mendambamu.
Sekarang aku tau sebabnya mengapa kau selalu menghindariku.
Kau telah memiliki seseorang yang lebih mencintaimu daripada aku.
Sungguh kubaru menyadari bagaimana rasanya cinta yang tidak harus memiliki.
Aku sadar, dan mulai kurelakan hatiku ini.
Dirimu dan dirinya bagaikan raja dan ratu yang telah ditakdirkan.
Dan aku disini, memiliki hati untuk diselamatkan.
Kuucapkan selamat untuk kalian.
Kudoakan yang terbaik agar senantiasa dilingkupi selalu kebahagiaan.'
—Yoon Jeonghan—
Jeonghan menutup buku diary miliknya. Dia masih berseragam, dan duduk sendiri di Starbucks. Kegundahannya perlahan terbang bersama cahaya matahari yang terus meredup berganti malam. Dia menulis diary nya sangat awal hari ini. Tapi dia tidak mampu menahan curahan hatinya, yang kini telah ia ceritakan pada kertas dan pena, kedua sahabatnya.
Sehun dan Luhan telah meninggalkan Jeonghan sendiri disana. Berteman dengan goresan tinta dalam keramaian.
-O-
Sepasang kekasih nemasuki restaurant Italia. Disana sudah ada reservation atas nama Oh Sehun. Lalu keduanya langsung masuk ke ruangan VIP untuk candlelight dinner berdua. Sehun menarik kursi untuk Luhan, lalu berjalan ke kursinya sendiri.
"Kau sudah memesan semua ini sebelumnya?" Tanya Luhan dengan menautkan keningnya. Hanya anggukan Sehun yang dia dapat.
"Astaga Sehun-ah. Kau baru saja pulang berdinas dan sempat sempatnya kau menyiapkan ini semua? Harusnya kita pulang saja, aku bisa menyiapkan makanan dirumah. Lihatlah, aku tidak berbusana dengan tepat!". Nada suara Luhan meninggi, namun lirih. Sehun terkekeh melihat Luhan yang ribet menutupi setelan celana jeans, dan kemeja putih polos berdobel jaket strips dengan mantel merahnya sendiri. Luhan merasa jika akan candle light dinner, setidaknya harus memakan gown. Iyakan aeris? Bahkan saat ini Luhan hanya memakai flat shoes merah yang super simple dengan pita kecil diujung dekat jarinya.
"Luhan, kau sudah cantik. Tidak perlu begitu sayang. Lagipula aku sudah berjanji membawakan sesuatu kan? Buka mantelmu, Lu. Ini perintah". Ucapan Sehun membuat Luhan memerah, meski agak sedikit takut mendengar perintah diakhir katanya. Luhan mengikuti perintah Sehun dan memberikan mantelnya pada karyawan resto tersebut.
Dihadapan mereka berdua sudah ada wagyu steak dengan saus khasnya. Luhan masih menatap Sehun tidak nyaman. Wanita itu terus menggigiti bibirnya sendiri.
"Bagaimana pekerjaan hari ini?"
"Lancar. Aku juga sempat kuliah siang dengan professor Lee. Bagaimana denganmu?" Luhan mulai merilekskan badannya. Menatap Sehun dengan kedua tangan yang ia silangkan diatas meja.
"Semuanya lancar, sampai saat Jaehyun pingsan mendadak dilangit Gimpo. Hahahh" Sehun teringat kejadian hari ini, meskipun fatal, namun Sehun tetap menjadikan hal ini pengalaman masa kerjanya yang menegangkan. Disisi lain, dia masih khawatir dengan keadaan Jaehyun.
"Jangan begitu, Jaehyun sedang sakit! Hmm. Ngomong omong, aku juga memiliki teman baru bernama Jaehyun, Ahn Jaehyun, sepertinya dokter baru". Wajah sidokter cantik itu tiba tiba masam. Dia teringat bagaimana tidak elitnya Ahn Jaehyun memanggilnya dikala terburu-buru.
"Hah? Serius? Bisa kebetulan begitu ya? Namanya sama sama Jaehyun?"
"Eum! Maka dari itu. Tapi dia sangat annoying, jika kau besok bertemu dengannya, biarkan saja. Okay?"
"Kebetulan juga untuk kita ya, Lu?"
"Kebetulan apa?"
"Kebetulan kita dipertemukan dan dijodohkan oleh Tuhan".
"M-maksudmu?"
"Ayo menikah!"
Sehun menaruh sebuah kalung berpermata indah diatas meja Luhan, dengan reflek Luhan memundurkan kepalanya. Dia kaget, bukankah kemarin Sehun sudah melamarnya?
"S-sehun, bukankah kemarin kau suda—"
"Melamarmu? Aku ingin lamaranku berkesan untukmu, Luhan. Melamarmu didapur dalam posisi emosi itu tidak romantis, Lu. Maka dari itu aku melamarmu lagi.. sekalian memberi informasi untukmu agar bersiap."
Tiba tiba tangan Luhan digenggam oleh Sehun. Diusapnya tangan mungil tersebut. Sang wanitapun hanya mengerutkan keningnya lagi.
"Bersiap? Untuk apa?"
"Kita ke Beijing Lusa. Ini". Sehun segera menyelipkan tiket mereka berdua di atas meja disamping kalung persembahan Sehun untuk Luhan. Luhan segera menutup mulutnya.
"Sejak kapan kau memesan tiket tiket ini? Astaga, Sehun". Luhan hampir menangis, ternyata sesungguh-sungguh ini menikahinya.
"Sayang.." Sehun berdiri mendekati Luhan dan bersimpuh dihadapan dokter cantik tersebut. Digenggamnya tangan Luhan dengan erat, tanda sayang tulusnya.
"Jangan menangis. Mari kita menikah, dan saling memiliki kehidupan masing masing. Okay?" Sehun mengusap tangan Luhan yang bergetar. Luhan mengangguk lemah diikuti untaian senyum manis yang sejak 4 tahun ini memikat seorang Oh Sehun.
"Aku mencintaimu, Sehun."
"Aku lebih mencintaimu, Luhan. Aku berjanji akan menjagamu sampai aku tak mampu menjagamu lagi". Pria yang masih berseragam pilot tersebut meninggikan badannya dan mencium kening Luhan dengan snagat lembut. Sosok dihadapannya ininyang sebentar lagi mengangkat jabatannya menjadi seorang suami dan juga ayah. Sehun sangat bersyukur senja itu. Makan malam terindah dalam hidupnya, ditemani oleh calon istri dan anaknya.
TBC...
FINALLY UP GAIS. Gila ga si ganyampe sebulan wkwk, sumpa ini rekor up tercepet :")
Btw yg ini HUNHAN pov. Jd disini main pairnya chanbaek yg yaoi. Tapi side pairingnya HunHan yg kubuat GS biar berirama/? Biar ada kontra dibagian itunya juga... Gitu../?
Maafin aku ya yang tak mampu up cepet. Btw akan kuusahain terus up agak cepetan. Karena akus sedang haus menulis. Oh iya, kalo ada kritik saran, langsung aja comment/message aku ya! Aku butuh banget saran2 dr kalian. Jangan lupa vote juga sama comment. Soalnya aku senang disaat tulisanku dianuin sama kalian. Jangan jadi silent reader ya! Krna dengan itu, kalian sudah bisa ngehargain author2 didunia orenji ini. Makasih yg masih setia nunggu MSFWY! Kalian penyemangat aku banget. Wkwk️
