Previous Chapter

.

.

"Kamsahamnida, yeorobun! Besok Baekhyun kasih liat gerakan baru lagi ya!" ucap Baekhyun dengan ceria dan percaya dirinya. Tidak menyangka sambutannya semeriah ini. Ia berlari ke arah Chanyeol. Lebih tepatnya lagi, ke sebuah meja didepan Chanyeol. Tempat ia menaruh tas dan handuk kecilnya.

Kedua mata Chanyeol terbelalak. Selama ini ia sering melihat berbagai jenis cewek cantik. Baik di Korea maupun Indonesia. Atau di gala dinner yang sering ia kunjungi bersama para keluarganya, di Pub (dimana ia kadang terdampar dengan Jongin, Sehun dan Inez), di konser, maupun di party lainnya. Tapi, peri hutan yang baru saja tiba dihadapannya benar-benar terlihat unik. Tidak artifisial.

Ya, peri hutan, karena gerak-geriknya nampak begitu bebas. Tidak terkungkung oleh apapun dan siapapun. Dan sekelebat keinginan Chanyeol saat ini adalah memilikinya.

.

.

.

Chapter 2

Beautiful Imagine

[REMAKE NOVEL by SITTA KARINA]

Cast : Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Oh Sehun, Kim Jongin and other cast.

Rate : T

Genre : (tentuin sendiri)

.

P.s : cerita ini hasil remake. Dan mungkin ada sedikit cerita yang aku tambahin disini.

P.s.s : Disini pemainnya di bikin orang Indonesia. Jadi omongannya pake Lo-Gue.

P.s.s.s : Typo(s) dimana-mana. GS.

.

.

Happy Reading

.

.

Pada cerita klasik Eropa, peri hutan adalah makhluk yang bebas, tidak untuk dimiliki. Ia adalah teman siang dan malam, serta sahabat leprechaun yang nyanyiannya akan menyejukkan hati bagi siapapun yang mendengarnya.

Jadi, peri hutan ini –maksudnya, Baekhyun- sepertinya tidak bisa dimiliki hanya oleh dirinya.

Chanyeol menggelengkan kepalanya sekali dengan gestur tenang ditambah seulas senyum confidentnya yang mengembang perlahan.

Hell no. He's Park. He gets what he sees.

At least, itulah yang pernah Reno ajarkan dulu kepadanya tentang bagaimana menggaet cewek. Karena berdasarkan riset sepanjang masa, nggak ada cewek yang resist kharismanya cowok-cowok Park.

"Baekhyun?" panggil Chanyeol sambil menyentuh bahu gadis yang sedang beres-beres ini dari belakang.

"Ya?"Baekhyun balik badan. Mencari arah suara lembut namun terdengar berat itu.

"Hei..." Chanyeol menatap langsung mata itu dengan ramah namun tajam. "Mau jadi cewek gue?"

Suasana hening tiba-tiba menyelimuti mereka berdua.

Mata Baekhyun mengerjap beberapa kali, dibarengi dengan degup jangtung yang memacu cepat. Bukan karena tersipu maupun deg-degan, tetapi karena sisa latihan yang melelahkan tadi... atau mungkin juga karena bingung mendapati seorang cowok –lumayan cakep dan sama sekali tak dikenalnya –berkata nonsense seperti itu.

Dan tak lama kemudian, tawa Baekhyun pecah. Menambah keramaian suasana.

"Wah! Wow! Hari ini bener-bener fun! Tadi Sica muji aku habis-habisan, karena bisa ngikutin gerakannya yang susah, terus-" Baekhyun menatap langsung ke mata Chanyeol sambil tersenyum yang bikin Chanyeol mendadak hampir lemes, " –ada cowok lucu yang bahkan aku nggak tau namanya tiba-tiba nembak aku disiang bolong begini? Wow, what a sweet dream!"

Chanyeol ikut tergelak juga. Kalau sambutannya seperti ini, Chanyeol tidak heran. Tipe perempuan yang sulit ditebak seperti Baekhyun ini pasti susah ditebak. Dan Chanyeol sudah mempersiapkan diri untuk makhluk yang jago berkelit ini. Justru itulah tantangan yang seru.

"Anak baru, gue nggak bercanda." Ucap Chanyeol seraya bersandar pada pagar pemisah antara mereka. Lalu Chanyeol mendekatkan wajahnya ke arah Baekhyun. Ia yakin cewek ini pasti kebat-kebit diperlakukan demikian. Tapi tidak ada yang bilang kalau gertak sedikit adalah sesuatu yang harmful buat cewek.

"Maaf ya, Sunbae. Saya sudah punya anak." Balas Baekhyun sambil tersenyum manis. Terlalu manis. Saking manisnya sampai semut lupa sama gula. Ia kini menunggu reaksi Chanyeol mendengar perkataannya itu.

Chanyeol tertawa kecil seraya mengusak kepala Baekhyun. "Kamu tau kan peraturan disekolah ini? Kalau punya anak ataupun hamil , kamu nggak mungkin bisa masuk sini. Tapi, refleks lidah kamu boleh juga. Hahaha...!"

Mendadak Baekhyun berhenti tersenyum. Cowok kayak Chanyeol begini –yang terlalu percaya diri seperti ini- termasuk jenis cowok yang harus dihindari dari sekian banyak forbidden guys dalam list-nya.

"Please, jangan marah." Chanyeol menangkap pergelangan tangan Baekhyun sebelum cewek itu mengambil langkah seribu dan kesempatan itu hilang sama sekali. " Gue Cuma bercanda kok. Tapi, yang tadi gue minta itu beneran. Gue suka ngeliat elo dan gue pengen elo jadi cewek gue. Memangnya salah ya kalo ngomong begitu? Feeling kan nggak bisa diatur."

Baekhyun melepaskan tangan Chanyeol yang mencekal pergelangan tangannya dan menjaga jarak dengan cowok tinggi didepannya ini.

Bull! Mana ada sih, love at the first sight di jaman modern kayak begini? Cowok ini seratus persen gombal dan ngawur!

Baekhyun masih menatapi cowok ini, curiga. Tapi Chanyeol hanya memandanginya sambil nyengir manis. Di tengan keramaian di hari yang menjelang sore ini, keduanya berdiri terpaku, tidak bergeming sama sekali dalam waktu yang cukup lama. Lucunya, tidak satupun orang yang menyadari atmosphere yang menyelimuti dua sosok yang bersanding itu, yang biasanya panorama macam ini gampang bikin gempar satu sekolah dengan gosip-gosip asal nyablak.

"Mau jadi pacarku, Baek?" Tanya Chanyeo lagi, lebih kalem, membuat heran Baekhyun bagaimana cowok di hadapannya bisa setenang ini.

Apa dia nggak malu 'nembak alias nyatain perasaan dia' ditengah banyak orang kayak begini? Lagipula, Baekhyun baru seminggu di sekolah menengah Indonesia ini dan sejujurnya ia belum memiliki banyak teman, kecuali beberapa orang dari teman sekelasnya. Cowok ini, yang sepertinya seorang senior adalah salah satu-satunya kakak kelas cowok yang belum pernah nyatronin kelasnya untuk sekedar kenalan atau mengajak ke kantin bersama. Dan kini, tiba-tiba ia muncul di depannya lalu memintanya menjadi pacarnya, tanpa mengucapkan kata cinta sama sekali?

Baekhyun akui, cowok didepannya ini memang tampan. Kulitnya putih, matanya agak besar walau dia kelihatannya juga orang keturunan Korea sama seperti dirinya, tubuhnya jangkung, rambutnya yang berwarna hitam dan disisir keatas hingga menampakkan dahinya yang lebar menambah kadar ketampanannya. Saat cowok itu tersenyum, dimple nya kelihatan walaupun cuma satu.

Baekhyun kemudian tersenyum lebar. "Maaf ya. Aku masih pengen melihat dunia."

"Masih pengen melihat dunia?" Chanyeol mengedipkan matanya berkali-kali, tidak mengerti dengan ucapan Baekhyun. "Apa maksudnya, Gongju1?"

Baekhyun tergelak pelan walau dengan cepat ia dapat menguasai diri lagi.

"Iya. Maksudku ya itu tadi. Aku masih pengen melihat dunia, Sunbae." Ucap Baekhyun (sok) santai.

"Oh, begitu. Ya udah, aku ajak kamu ngeliat dunia. Kamu mau keliling dunia kemana aja?" Chanyeol makin tertarik dengan pembicaraan ini. "Eropa? Keluargaku punya flat di St. Tropez. Atau Meksiko. Disana juga ada rumah peristirahatan yang cantik, namanya Casa del Verano, artinya rumah musim panas. Or to the west coast, maybe? LA, Frisco..."

Baekhyun bengong mendengarnya. Lalu, tak lama kemudian tertawa keras.

"Ngawur kamu! Maksudnya, aku tuh masih pengen nikmatin hidup tanpa terikat dengan siapapun, bukannya kepingin keliling dunia seperti itu. Tapi, really, tempat-tempat yang kamu sebutkan tadi hebat banget. Itu beneran punya keluarga kamu?"

"Yap!" Chanyeol menjawab simpel. "Kenapa? Kamu pengen kesana? Suka traveling?"

"Geurom2!" ujar Baekhyun cepat, lalu ia terdiam. Menyadari dirinya kelepasan lagi berbahasa Korea.

Sembilan tahun tinggal di negeri-nya para Idol tampan dan cantik benar-benar membuatnya susah untuk berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Apalagi mengikuti bahasa slang-nya anak Jakarta. Rumit banget. Tapi, Baekhyun akan tetap berusaha.

"Yap, tentu dong! Keliling dunia kan impian semua orang."

"Begitu..." sesaat Chanyeol memperhatikan cewek ini ketika barusan menjawabnya. Baekhyun nampak begitu berbunga-bunga dan wajah yang tadinya antipati terhadap dirinya, kini berangsur cerah, seperti sedang membayangkan ia benar-benar berada ditempat-tempat dari segala penjuru dunia. "Hei, by the way, gue Chanyeol. Gue juga asal Korea kok. Jadi nggak usah canggung sama gue. Walaupun gue ditolak, I think it's kinda nice to know someone who's as lively as you, Baekhyun-"

"Baekkie." Ucap Baekhyun sambil menjabat hangat tangan Chanyeol.

Chanyeol tidak melepaskan tangan itu. Ia hanya menaikkan satu alisnya, bingung. "Baekkie?"

"Panggilanku Baekkie. Tapi, itu hanya berlaku untuk orang-orang dekat aja. Kamu mau kan jadi sahabat aku?"

"Hanya sahabat?" Chanyeol mengernyit, "Jadi, kamu beneran nolak aku ya?"

"Kamu kayaknya juga nggak sakit hati kan?"

"Hehehe, that's me. Emotionally involved Cuma bikin pusing aja." Jawab Chanyeol dengan cengiran kayak anak yang nggak punya dosa.

"Terus, kenapa nembak aku?"

"Karena kamu ngebuat aku mendadak penasaran sama apa yang namanya 'terikat'." Chanyeol menjawab sekenanya.

"Sembarangan." Baekhyun menggerutu dengan menarik napasnya pelan.

"Dan sifat setengah polos dan jutek kamu itu bikin aku makin penasaran." Lanjut Chanyeol.

"I'm outta here3."

"Wait!" Chanyeol menahan pergelangan tangan itu lebih keras lagi. "Sorry kalau aku keterlaluan. Please stay."

"Oke." Jawab Baekhyun. "Tapi, sahabatan aja mau kan, Chan?"

"Alright. We'll see. Lagipula kita punya kesenangan yang sama. Travelling." Chanyeol menatap cewek ini dengan senyum dinginnya yang tersirat menantang. "Let's see how long can you resist me."

"Ya ampun, Chan!" Lama-kelamaan Baekhyun tidak dapat menahan tawanya yang spontan meledak melihat air muka sahabat barunya ini. Biasanya, cowok langsung BT dan kesal apabila ditolak seperti itu. At Least, selama ini Baekhyun bertemu dengan beberapa laki-laki yang bersikap demikian. Tetapi, playboy aneh satu ini... Baekhyun jadi penasaran juga dengannya.

"Kamu udah sering ditolak cewek atau emang dasar playboy yang 'nothing to lose4' kalo nembak cewek sih?" ujar Baekhyun sambil menyandang tas olahraganya yang berukuran besar. Ia berjalan kearah pintu gerbang sekolah. Diikuti Chnayeol.

Chanyeol diam sesaat . Baekhyun yakin sekali kalau saat itu cowok disebelahnya ini pasti sedang berpikir-pikir mengarang alasan. Tetapi dalam selang beberapa detik, ekspresi usil itu berubah menjadi lebih kalem, seperti sisi lain yang tenang dari cowok ini yang sepertinya jarang diperlihatkan kepada orang lain. Dan Baekhyun merasa agak tersanjung menyadari dirinya salah satu yang dapat menikmati hal ini.

"Nggak dua-duanya." Jawab Chanyeol. "Aku bukan tipe orang yang doyan terikat. Tapi, memiliki seorang partner yang begitu 'hidup' dan menyenangkan adalah impian semua orang, bukan? Kurasa itu lumrah."

Begitu hidup? Yeah right. Wait 'til he finds out. Baekhyun membuang muka dan terus berjalan. Ia agak kesal karena lawan bicaranya kali ini selalu saja bisa membalikkan kata-katanya. Ia tendang kerikil kecil yang menghalangi jalannya dengan hentakan kaki sekeras mungkin. "Kamu kan belum kenal aku."

Angin mendesir pelan, mengitari mereka berdua. Baekhyun menghentikan langkahnya, menyadari cowok ini tidak memberi respon berarti atas luapan kekesalannya yang ketara tadi. Tetapi, ia menyesali sikap menunggunya yang malah membuahkan senyum dibibir Chanyeol.

Chanyeol berusaha menahan agar senyumannya tidak kian melebar. "Kita punya banyak waktu untuk itu."

Dasar keras kepala!

"Huh!" Baekhyun berpaling sok angkuh. Gondok.

0o0

Sejak perkenalan di hari Jumat sore minggu lalu itu, Chanyeol dan Baekhyun terkenal sebagai best couple disekolah. Tidak ada satupun yang percaya kalau hubungan mereka berdua hanya sahabat baik, dan lebih tidak percaya lagi ketika mendengar gosip bahwa sebenarnya Chanyeol telah ditolak Baekhyun.

'Sahabat? Sembarangan!' batin Chanyeol, kesal tiap kali ada orang yang menganggap mereka demikian. Just wait and see.

Chanyeol menoleh ke cewek disebelahnya yang sedang asik mengunyah sambil mengagumi jajanan favorit disekolah. Batagor-nya Mang Ujang. "Elo pengen ngeliat festival film, nggak?"

"He-eh. Di Jakarta ada nggak? Di Korea lumayang sering lho."

"Hmm. Apa ya? Kayaknya ada sih. Lusa di Jakarta Theatre. British Movie Festival. jadi filmya macam Mr. Bean, Bridget Jones's Diary, sampai film-film medieval gitu. Mau?" tawar Chanyeol.

Baekhyun langsung ngangguk-nganggukin kepalanya. "Mau-mau. Wah, boleh tuh ngulang Bridget Jones's Diary lagi. Walaupun udah lumayan lama, aku suka banget film itu."

"Hahaa, gue juga. Punya kakak cewek yang hampir tiap hari nyetel DVD film itu. Kayaknya cukup untuk ngebuat gue hafal percakapannya." Chanyeol tertawa rileks lalu ia curi pandang, melihat gadis yang berjalan ringan disebelahnya ini. "So, lusa mau ke BMF?"

"Ayo, mau banget. Kita ketemuan disana ya. Jam 5."

"Oke. Kamu nggak aku jemput aja?"

Baekhyun menggelengkan kepalanya sambil tersenyum manis.

Selama beberapa hari ini, Chanyeol jadi guide untuk melihat-lihat sekolah mereka, mulai dari ruangan kelas, perpustakaan, sampai ruangan semi-indoor klub otomotif dimana Chanyeol bergabung. Dan tentu saja untuk bagian terakhir ini, Chanyeol dengan bangga memperlihatkan seluruh masterpiece hasil kerja tim-nya. Ya, selain ikut klub basket, Chanyeol juga ikut klub otomotif. Ardhan dan Arkan -duo kembar- yang mendapat inspeksi dadakan ini langsung salah tingkah tak karuan.

"Jadi, kamu dulu juga ikut ekskul dance dan Bela diri ya?" Tanya Arkan sambil menutup kap mesin Honda Civic-nya.

"Dance iya, tapi bela diri cuma ikut kyudo di Korea." jawab Baekhyun sambil membungkukkan badannya. Memperhatikan bagian bawah mobil itu.

"Kyudo?" ucap Arkan dan Ardhan hampir berbarengan. Sedangkan Chanyeol berjengit kaget mendengar duo kembar itu.

"Yap! Aku ikut kyudo. Apa ya bahasa Indonesianya? Oh ya, klub panahan. Kalau di Jepang namanya Japanese archery. Tau kan? Memanah dengan target berbentuk lingkaran yang berjarak 28 meter dari tempat shooter-nya."

"Olahraga seperti itu... serius lo, Baek?" Ardhan berdecak kagum.

"Biasa aja kali. Di Korea udah biasa kali ikut begituan." Chanyeol mendengus melihat ekspresi anak kembar itu.

"Ya woles dong! Gue kan orang Indonesia, mana gue tau. Dasar, telinga gajah!" Ardhan melempar lap mobilnya yang penuh oli ke arah Chanyeol.

"Sialan!" umpat Chanyeol.

"Berarti itu termasuk beladiri juga dong?" tanya Arkan dengan wajah yang berbinar.

Baekhyun tersenyum antusias. "Ya, kira-kira begitu. Cuma, aku nggak terlalu jago kok. Lebih sering meleset daripada kena targetnya. Kapten aku tuh yang jago banget."

"Kalo ketemu sepupu-sepupuku pasti mereka seneng banget tuh. Salah satu dari mereka ada yang bisa aikido yang dari Jepang itu." ujar Chanyeol menarik perhatian Baekhyun.

"Wah, Chanyeol, sepupumu itu hebat banget bisa aikido. Itu kan termasuk beladiri maut!" jawab Baekhyun dengan sorot mata excited dan penasaran. "Pasti dia tipe orang yang keren abis. Kalau cowok di Jepang kan memang sebaiknya bisa beladiri. Kamu sendiri menguasai beladiri apa, Chan?"

"Nggak. Nggak satupun, Baek. Gue nggak tertarik. Kenapa?" Chanyeol menatap Baekhyun hampa.

Suasana sempat hening untuk beberapap detik. Baekhyun merasa agak risih mendapati hal ini. Kesannya ia telah memojokkan Chanyeol didepan teman-temannya pula. Untungnya, saat itu Arkan dan Ardhan tidak begitu ngeh terhadap perubahan suasana yang meliputi mereka.

"Eh, aku mau belik ke kelas dulu deh. Bye!" tutur Baekhyun tiba-tiba sambil langsung berlali sebelum Chanyeol sempat menjawab.

Chanyeol tidak mencegahnya. Sebenarnya ia tidak terlalu tersentil dengan kalimat Baekhyun barusan. Mungkin bagian kalimat yang membuat Chanyeol kurang suka adalah mendengar ternyata Baekhyun amat mengagumi orang yang bisa beladiri aikido, dan itu adalah Jimin, sepupunya. Bukan dirinya.

"Chan, ini organizer elo? Ntar kotor lho. Si bocah satu ini kan doyan numpahin oli." Arkan berpaling ke Ardhan seraya mengambil sebuah buku berwarna hitam yang tergeletak diantara botol-botol oli dan minyak pelumas.

"Bukan. Punya Baekhyun. Sini deh, ntar gue balikin." Kata Chanyeol sambil mengambil organizer itu dari tangan Ardhan dan berlalu.

0o0

Sekolah telah lama usai dan kenyataannya organizer itu masih tergelatak tak bertuan diatas meja Chanyeol. Beberapa cewek kelas 3, Inka, Rena dan Dila mengajak Chanyeol makan siang bareng di McD. Kata mereka, Jongin cs sudah duluan kesana. Chanyeol pun menolak halus. Ia tahu banget kalau cewek-cewek ini sebenarnya hanya pengen naik Subaru Impreza kesayangannya yang kinclong. Tetapi, Chanyeol pengen mengajak Baekhyun lebih dulu. Ia membayangkan cewek ini pastinya akan memuji mobil mulus itu setengah mati.

'Isinya apaan ya?'

Tiba-tiba Chanyeol tertarik untuk membuka kancing penutup organizer yang sepertinya terbuat dari fine leather5. Pernak-pernik cewek emang aneh dan detail banget.

Chanyeol membuka halaman buku itu dengan 'asal'. Tiba-tiba sebuah kertas terselip diantaranya meluncur jatuh ke dekat sepatunya. Ia ambil kertas itu dengan ekspresi tidak tertarik, mengetahui tulisannya adalah tulisan Jepang yang sama sekali tidak dimengertinya. Sepertinya itu dari seseorang dari Jepang yang Baekhyun kenal.

Tatkala Chanyeol akan mengembalikkan kertas itu ke tempatnya, kedua matanya tertuju pada serangkaian kata, yang kebetulan satu-satunya yang menggunakan bahasa Inggris di kertas itu.

Surat. Yang dibacanya kini adalah sebuah surat.

"...I will always miss you, Baekhyun-chan6 . Never thought you will leave Japan so soon. I think you're the only girl who could make me feel this way."

Chanyeol membacanya dengan napas tertahan, lalu menyelipkan kertas itu kembali diantara lembaran kertas organizer lain yang berwarna-warni.

Sebuah surat cinta. Dan Chanyeol telah membacanya. Nama pengirim surat itu –rivalnya- yang kebetulan juga ditulis dalam huruf romawi, terasa masih terngiang-ngiang di otaknya.

"Kaminari Kei."

'Jadi itu toh yang ngebuat elo nolak gue, Baek? Kenapa nggak berkata jujur aja sih? Bukannya kita sahabat?' pikir Chanyeol.

Chanyeol lalu tersenyum sinis sambil menyandang ranselnya. Tak lupa ia bawa benda milik Baekhyun itu. Ia tahu, dirinya agak keterlaluan juga mengusik privasi orang seperti itu. Baekhyun pasti akan marah sekali kalau mengetahuinya. Tapi ia sendiri rasanya juga tidak kalah ngamuk, apalagi kalau mengingat-ingat nama si Jepang sialan itu.

"Cih! Dasar cewek."

.

.

.

.

.

.

To Be Continue.

Or

End?

Arti-arti yang ada angkanya (siapa tau ada yang nggak ngerti.)

Gongju : Tuan putri (Kalau di jaman Joseon –Setau ku-)

Geurom! : Tentu saja

"I'm outta here" : Aku pergi dari sini

Nothing to lose : Nggak rugi / tidak rugi

Fine leather : kulit halus. (jadi buku/organizer nya baek itu sampulnya pake kulit yang halus gitu.)

–Chan : dalam bahasa jepang ~Chan itu sebutan untuk orang kesayangan (biasanya untuk perempuan).

2016-01-18

Huang Han Jong