"...I will always miss you, Baekhyun-chan. Never thought you will leave Japan so soon. I think you're the only girl who could make me feel this way."
Chanyeol membacanya dengan napas tertahan, lalu menyelipkan kertas itu kembali diantara lembaran kertas organizer lain yang berwarna-warni.
Sebuah surat cinta. Dan Chanyeol telah membacanya. Nama pengirim surat itu –rivalnya- yang kebetulan juga ditulis dalam huruf romawi, terasa masih terngiang-ngiang di otaknya.
"Kaminari Kei."
'Jadi itu toh yang ngebuat elo nolak gue, Baek? Kenapa nggak berkata jujur aja sih? Bukannya kita sahabat?' pikir Chanyeol.
Chanyeol lalu tersenyum sinis sambil menyandang ranselnya. Tak lupa ia bawa benda milik Baekhyun itu. Ia tahu, dirinya agak keterlaluan juga mengusik privasi orang seperti itu. Baekhyun pasti akan marah sekali kalau mengetahuinya. Tapi ia sendiri rasanya juga tidak kalah ngamuk, apalagi kalau mengingat-ingat nama si Jepang sialan itu.
"Cih! Dasar cewek."
.
.
.
Chapter 3
Beautiful Imagine
[REMAKE NOVEL by SITTA KARINA]
Cast : Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Oh Sehun, Kim Jongin and other cast.
Rate : T
Genre : (tentuin sendiri)
.
P.s : cerita ini hasil remake. Dan mungkin ada sedikit cerita yang aku tambahin disini.
P.s.s : Disini pemainnya di bikin orang Indonesia. Jadi omongannya pake Lo-Gue.
P.s.s.s : Typo(s) dimana-mana. GS. Lupa sama jalan ceritanya? Baca ulang
.
.
Happy Reading
.
.
"Si anak pindahan dari korea itu mulai bertingkah, Ka."
Baekhyun tidak jadi melangkah keluar dari WC ketika mendengar suara tinggi yang tidak dikenalnya itu. ia hanya bersandar pada dinding, bermaksud menguping lebih lanjut lagi.
"Iya, gue juga merhatiin. Dia deket ya sama Chanyeol?" kata Rena gusar.
Cewek bernama Inka, berperawakan tinggi semampai dengan aura bossy-nya yang amat overwhelming, nampak tidak bergeming.
"Elo nggak tau, Ka? Si Baekhyun itu udah ditembak Chanyeol seusai latihan dance minggu lalu. Ditolak pula Chanyeol-nya. Kasian deh tuh cowok. Coba nembak gue, pasti langsung gue terima deh, tanpa mikir-mikir lagi." Timpal Dila berapi-api. " Eh, elo bukannya dulu pernah pacaran sama Chanyeol, Ka?"
Inka berpaling ke temannya dengan tatapan menusuk. "Setahu gue, seorang Park Chanyeol nggak tertarik untuk berhubungan serius sama cewek. Dia nggak pernah nembak siapa pun sebelumnya, karena dia nggak gampang terkesima sama hal baru. Dia juga terkenal amat selektif. Gue nggak pernah tahu kalau sekarang Chanyeol sudah menetapkan pilihan hatinya."
"Terus elo mau gimana, Ka?" tanya Rena pasrah.
"Mau gimana apanya? Urusan Chanyeol dan junior kita itu nggak ada hubungannya sama gue. Asal dai nggak nyolot aja jadi adik kelas." Sambil mengucapkan itu, Inka berlalu dan diikuti kedua temannya.
"Wah, repot ya!" akhirnya Baekhyun keluar juga dari WC dengan ekspresi bingung sekaligus takjub. Istirahat sebentar lagi selesai dan ia baru saja mengganti bajunya yang berkeringat karena pelajaran olahraga tadi ia bermain softball.
"Chanyeol..." tanpa sadar nama itu terlantun halus oleh bibirnya.
Sejak awal bertemu, Baekhyun sudah merasa ada sesuatu yang berbeda mengenai diri cowok ini. Dari paras wajah sampai bahasa tubuhnya benar-benar memancarkan sosok cowok yang 'berkarakter'. Tapi dilain pihak ia merasa agak ragu juga, apakah dirinya terlalu cepat menilai figur bernama Chanyeol ini.
Baekhyun tidak memungkiri kalau dirinya ternyata lumayan menikmati tatapan sirik cewek lain yang merasa 'Prince Chanyeol' –nya diambil (Belakangan ini, Baekhyun baru menyadari bahwa banyak cewek yang menjuluki sahabat barunya demikian).
Prince Chanyeol. Kayak nama pangeran aja. Dari mana ya? Inggris.. Monaco.. atau mungkin Perancis? Abisnya sekilas gestur Chanyeol juga kayak aristokrat beneran. Dan Baekhyun setengah mati menahan diri agar tidak tertarik.
'Walau begitu, Chanyeol bener-bener care sam aku.' Batin Baekhyun, sesaat merasakan kedamaian menyelebungi hatinya. Tapi...
"Nggak boleh, Baek!" ucap Baekhyun kepada dirinya sendiri. Cinta itu ilusi. Yang nyata adalah ini. Baekhyun memegangi dadanya sesaat. Yap, kamu nggak boleh egois dan memanfaatkan kebaikan Chanyeol. Kamu harus melepaskannya, bukan? Sama seperti Kei-Kun*. Semua demi kebaikan bersama–
"Eh?" Ngomong-ngomong soal Kei, Baekhyun jadi teringat sama organizer-nya yang masih tertinggal di klub otomotif. Waktu ia begitu salting dan kikuk mendapati Chanyeol yang nampak tersinggung mendenngar kata-katanya, sampai langsung menghambur keluar seperti itu.
'Ntar aku SMS Chanyeol aja deh. Biar besok pas nonton BMF, Chanyeol bawa organizer-nya.' Batin Baekhyun sambil berjalan ke kelasnya.
0o0
Hari jumat yang cerah...
Tadi pagi saat bangunr tidur, hal pertama yang muncul di kepala Chanyeol adalah rencana menontonnya bersama Baekhyun di Jakarta Theatre, sedangkan yang kedua...
... Damn. Kaminari Kei.
Otomatis pikiran pertamanya itu menjadi terusik dan buyar. And all of a sudden, Chanyeol thought that having movies together with Baekhyun in BMF session, Jakarta Theatre, is the most ridiculous decision he ever made!
Semalam, Yoora, kakak perempuannya, kedatangan teman lama dari Jepang. Mizuno Toru yang ditemani sahabatnya, seorang bintang drama Jepang terkenal Kimura Takuya. Kebetulan keduanya mau liburan ke Bali, ketemuan disana dengan teman-teman lainnya sesama lulusan Jakarta International School. Dulu, Toru memang lulusan JIS. Selama di Jakarta, mereka bertiga udah janjian dengan Yunho untuk mencoba clubbing spot baru di bilangan Thamrin.
'Hebat banget, Yoora.' Pikir Chanyeol.
Bukan kakaknya kalau ketemu tamu yang dateng bukan cowok. Kadang ia heran, bagaimana caranya Yoora meng-handle seluruh teman cowok yang banyaknya nggak ketulungan itu.
Sebenarnya sih, Chanyeol pengen banget minta tolong pada Toru untuk menerjemahkan isi surat itu kepadanya. Tapi tentu saja ia gengsi, malu dan tahu bahwa itu sudah kelewat batas. Membaca suratnya saja sudah keterlaluan, apalagi sampai memperlihatkannya kepada orang lain. Lagipula Yoora pasti tidak suka melihat perbuatan piciknya ini. Diam-diam Chanyeol juga takut kalau sampai dibenci kakak perempuannya ini hanya karena tidak bisa menjadi proper gentleman.
Sepulang sekolah hari ini, Chanyeol sempat main gokart bareng Ardhan dan Arkan di Redline Go-Kart, Pondok Indah. Mereka juga sekalian mengetest mesin gokart hasil percobaan di klub mesin lebih advanced. Awalnya Chanyeol ingin mengajak Baekhyun bersamanya siang ini, sekalian memamerkan hasil karyanya... juga si Subaru, yang sejak kemarin belum sempat diperlihatkan kepada cewek ini. Tapi, lagi-lagi nama 'Kaminari Kei' membuatnya berubah pikiran.
"Hei, kenapa sih dari kemarin mukamu dilipet melulu? Biasanya malah kamu kan yang jadi tim penghibur gue kalo lagi BT sama si Taecyeon." Ucap Yoora sambil mengambil cepat kaleng Pringles di tangan Chanyeol.
"Huh! Mbak kan punya Siwon. Suka ngaco, deh. Punya pacar, tapi juga punya sahabat cowok, terus cowok lainnya... bener-bener pelecehan terhadap laki-laki!" Bukannya dihibur, Yoora malah disemprot oleh adik satu-satunya ini. "Taecyeon, Siwon, Jongwoon, Namjoon... keterlaluan kamu, Mbak. Terus habis ini siapa lagi? Orang jepang itu juga?"
Yoora sempat terbengong mendengarnya, tapi segera saja ekspresinya berubah menjadi lebih lembut. Chanyeol bukanlah tipe meledak-ledak seperti ini. Biasanya ia ceria dan termasuk tipe pecinta damai di keluarga besarnya, bukan tipe petarung seperti Yunho, Jongin dan Sehun. Kalau sampai Chanyeol upset seperti ini, berarti...
"Chan." Panggil Yoora seraya menatap Chanyeol dan mengambil tempat duduk disebelahnya. "Sebelum aku tanya, bisa nggak kamu nggak usah manggil gue dengan kata 'Mbak' geli gue rasanya."
"Asik aja manggil gitu. Pokoknya manggil Mbak aja. Jangan protes."
Yoora mengehela napas. "Oke-oke. Jadi, kamu ada masalah ya? Sama siapa? Hmm, let me guess, kalau itu Chanyeol, aku yakin masalahnya pasti bukan sama cewek. Kamu kan dicintai para wanita."
"Justru sama makhluk itu masalahnya!" Sembur Chanyeol kesal. Dan tidak lama kemudian, seperti hasrat yang sudah lama terpendam, Chanyeol menumpahkan seluruh kegundahan hatinya kepada kakak cewek satu-satunya ini.
"Tapi belum tentu Kei itu pacarnya Baekhyun, kan? Kebetulan kamu hanya baca bagian yang kamu mengerti aja. Mungkin selama ini mereka hanya berteman biasa." Tukas Yoora.
"Andaikan aku bisa percaya itu semua." Chanyeol menanggapi acuh tak acuh. Aneh sekali gue ini. Masa iya masa-masa puber gue baru dimulai sekarang sih? Uring-uringan nggak jelas gini hanya gara-gara masalah cewek, kayak cewek Cuma dia aja di dunia. Elo bisa dapetin cewek manapun, Chan!
"Yunho bilang cowok nggak mungkin mau commit di masa mudanya." Chanyeol terlihat sedang mengatur napas, saking intense-nya ia mengeluarkan apa yang nampak benar-benar mengganjal di hatinya. "Kalau memang benar begitu, kenapa yang kepikiran di otak aku saat membayangkan Baekhyun adalah that is it."
"That is it?" Yoora mengangkat sebelah alisnya, agak bingung –atau lebih tepatnya tidak percaya atas apa yang ditangkap telinganya.
" 'That is it' adalah kata-kata yang harusnya kita ucapkan kalau mendapati cewek yang kita sukai di saat usia kita udah thirty-something, bukannya belasan tahun kayak aku sekarang." ucap Chanyeol, sesaat matanya bekilat sangsi, "Makanya aku jadi takut sama diri aku sendiri."
"Chan... please, denger dulu—"
"Maka dari itu aku nggak suka waktu tau tentang Kaminari Kei, entah siapanya Baekhyun selama di Jepang. Kalau ada di depan mata, aku bakalan dengan senang hati jadi rivalnya."
Terdapat jeda lama diantara mereka dimana Chanyeol hanya menjalankan jemari tangannya menyusuri rambut cepaknya ke belakang dengan ekspresi frustated.
"Sore ini kamu ada acara?" Tanya Yoora lagi, sambil meneruskan 'at home' manicure-nya.
Sesaat Chanyeol teringat janjinya pada Baekhyun untuk nonton bareng British Movie Festival, tapi ia hempaskan pikiran itu jauh-jauh. "Nggak. Kenapa?"
"Temenin aku, yuk, ke Aksara Kemang. Mau cari buku fashion design nih."
"Tumben ngajak aku. Biasanya asyik berduaan sama Siwon." Kata Chanyeol, masih dalam keadaan ngambeknya. Kalau didepan Yoora, Chanyeol udah nggak bakal jaim lagi. Jadi, asli-aslinya dia sebagai anak SMA biasa sekaligus anak bungsu pasti keluar juga.
"Sebenarnya pacar kamu itu Siwon atau Taecyeon sih?"
"Taecyeon."
"Lantas, Siwon apaan-?"
Yoora bangkit dari duduknya seraya meraih cepat velvet clucth bag miliknya. "Yuk, siap-siap. Bentar lagi Taecyeon jemput nih."
Chanyeol menghela napas berat. Ia tau banget kakaknya pasti mengelak kalau ditanya hal beginian. Dan seperti biasanya ia juga males untuk terlalu mencari tahu. "Beliin aku buku otomotif juga dong, yang tentang world rally championship."
"Ya, udah. Cepetan gih, mandi."
Wajah Chanyeol impuls kini lebih cerah, lupa pada kekesalannya, juga pada janjinya sore ini.
0o0
Baekhyun berdiri resah di depan loket bioskop tertua di Jakarta itu. Sesekali ia menengok ke kanan dan ke kiri mencari tanda-tanda kehadiran Chanyeol.
Sore ini Jakarta Theatre ternyata lebih ramai dari dugaannya. Baekhyun sempat panik melihat kerumunan orang yang menyemut itu. Ia selalu panik kalau berada ditempat ramai dan sumpek seperti ini –apalagi kalau seorang diri saja.
'Tenang, Baek. Bentar lagi chanyeol dateng kok.' Batin Baekhyun menyenangkan diri.
Tapi sampai 2 jam lebih 30 menit kemudian, Chanyeol tidak juga muncul. Handphone Chanyeol yang berkali-kali Baekhyun hubungi ternyata nggak aktif. Antara panik, kalut dan kesal, Baekhyun berjalan keluar ke area parkiran dan menunggu disana untuk beberapa menit lagi.
Dulu di Seoul, teman-temannya tidak pernah meninggalkannya sendiri seperti ini. Kyunghee, Nara, juga Kei(Kaminari Kei) sewaktu dirinya berada di Jepang... mereka semua malah terkesan amat cemas dan selalu stand-by di dekatnya. Terutama Kei.
Dan Kei bukan Chanyeol
"Dasar cowok nyebelin... " maki Baekhyun kepada angin yang tiba-tiba berhembus menerpa wajahnya. Kalo nggak jadi pergi, kasih kabar kek, nelpon kek, sms kek. Memangnya dia kere atau apa?!.
Bajunya –t-shirt ketat hijau tua yang dibalut jacket wol capuchon putih susu –kini terlihat lecek. Begitu juga celana jeans-nya. Padahal Baekhyun sengaja bergaya sedikit spesial hari ini. Lagipula, ia berpikir kalau hari ini adalah pertama kali Chanyeol melihat dirinya dalam baju selain setelan putih abu-abu. Menurutnya, seragam sekolah Indonesia amat tidak variatif dan roknya panjang banget. Susah bergerak pula karena modelnya span.
"Ah, sudahlah. Aku mau pulang aja –ARGH, ADUH!" ucapnya sendiri. Ia lelah menunggu orang tak tau diuntung seperti ini. Chanyeol you jerk-
Baekhyun memegangi dadanya dengan wajah meringis dan kedua mata yang membelalak.
'Aduh jangan sekarang dong.. Baekkie kan lagi sendirian!'
Dengan langkah sedikit tertatih, Baekhyun berusaha meraih sebuah tiang di area parkiran mobil tempat ia berdiri. Lalu ia duduk di tepi trotoar dengan napas ngos-ngosan dan mengambil ponsel dari dalam tas besarnya.
"Ayah bisa jemput Baekkie sekarang? Sakit lagi, nih."
Baekhyun meringis ketika mendengar suara keras laki-laki dari speaker ponselnya. Duh, pasti Ayah khawatir banget deh, sampai jadi marah begini. Maafin Baekkie ya, Yah?
"Iya, Baekkie sendirian." Baekhyun berpikir sejenak, berusaha merekayasa cerita yang dapat menciptakan rasa tenang temporer bagi Ayah. "Ng-nggak, sih. Tadinya ada temen-temen, tapi Baekkie nggak bisa nebeng pulang sama mereka, karena udah pada punya pacar masing-masing. Ayah lagi sibuk ya?" Ekspresi lemah itu nampak lebih cerah ketika suara diujung sana dengan segera mengiyakannya. "Makasih, Yah."
0o0
Empat hari berlalu sejak rencana nonton di BMF bersama Baekhyun yang gagal total.
Awalnya Chanyeol berusaha mengesampingkan segala pikiran termasuk rasa bersalahnya akibat mangkir dari janjinya Jumat sore lalu, tapi lama-lama nuraninya terusik juga. Dan kini iai sedang berjalan menuju kelas II-A dengan perasaan antara cemas namun juga sedikit berharap.
Ia sempat terpikir bagaimana kalau Baekhyun menunggunya beneran saat itu, lalu ternyata hujan turun deras. Lalu ia sendirian, sedih dan kedinginan. Atau bisa saja ada orang yang berniat jahat kepadanya, dan ia defenseless.
'STOP IT!' Pekiknya dalam hati. Ia terlalu banyak mikir, terlalu cemas. Harusnya ia bisa seperti Yunho, yang selalu smooth and cool ngadepin berbagai masalah sama cewek.
Tapi apakah tindakan seperti Yunho itu agak keterlaluan ya? Dan cenderung Brengsek...
Mungkin ia brengsek. No, bukan mungkin. Ia memang benar-benar brengsek.
Jangankan Yunho, meninggalkan cewek seperti itu bahkan tidak akan di lakukan oleh seorang Park paling bejat sekalipun macamnya Sehun.
Dan kini, ia, Park Chanyeol yang terkenal santun, ternyata lebih 'menyeramkan' dari Sehun!
Ok, off the record. Chanyeol akan benar-benar minta maaf pada Baekhyun. Tidak mungkin, tidak mungkin hati kecilnya tega menyakiti orang yang dengan sekejab mata menumbuhkan taman bunga di hatinya.
Ketika sampai di depan pintu kelas, Chanyeol memandang menyisir ke barisan tempat duduk tengah, tempat Baekhyun biasa duduk. Dan tempat itu kini kosong.
"Fitri," seraya bersandar pada pintu, Chanyeol memanggil salah satu cewek yang sedang duduk mengerubung di dekat jendela. Teman-teman si cewek itu langsung mengangkat muka dan mencari arah suaranya. Kalau tidak salah dengar, saat itu sepertinya Chanyeol mendengar sesahutan 'Prince Chanyeol' dari arah kerumunan tersebut.
"Ya!" Fitri menjawab riang sambil berlari kecil kearah Chanyeol.
"Lihat Baekkie, nggak?" tanya Chanyeol kepada cewek yang cara menatapnya seperti ingin menelan dirinya ini.
"Baekkie? Siapa tuh?"
"Sorry, maksud gue Baekhyun. Hari ini dia kemana? Kok, bangkunya kosong?"
Fitri nampak surprised bercampur kecewa mengetahui ternyata Chanyeol memiliki panggilan spesial kepada teman baru dikelasnya.
Sambil memilin-milin rambut ikalnya, ia menjawab, "Oh, Baekhyun." Chanyeol menganggukkan kepalanya. "Elo nggak tau, Chan? Baekhyun kan nggak masuk sekolah sejak Sabtu kemarin, katanya sih sakit–"
"Sakit?" Chanyeol memotong pembicaraannya. "Sabtu kemarin? Lama sekali. Sakit apa emangnya? Erus, elo udah pada ngejenguk dia?"
"Ngh, Belom. Akhir-akhir ini kita kan lagi banyak ulangan. Lho, bukannya elo yang harusnya ngejenguk dia duluan, Chan? Katanya, kalian berdua udah jadian."
Chanyeol tersenyum tipis saja dituding begitu. "Belum, sih. Lagi nyoba terus."
"Ya ampun, repot amat sih?" Fitri tertawa kenes, lalu kedua tangannya merangkul manja lengan Chanyeol. "Kapan nih janji mau makan di Little Mexican bareng aku, Chan? Aku pengen nyoba tortilla. Kamu kan ahli dalam masakan Meksiko."
Chanyeol lagi nggak mood setegah mati siang ini, walaupun yang gelendotan dengannya adalah Fitri yang dulu pernah ia idolakan. "kalo tortilla aja di kantin bawah juga ada, Fit."
"Itu mah keripik kentang. Come on, kan lebih enak kalau sambil duduk di balcony berdua sama kamu, Chan."
"not now, please." Chanyeol melepaskan tangan itu dengan ogah-ogahan.
"Kok Chanyeol sekarang jadi sensi sih? Tadi kamu manggil Baekhyun siapa? Baekkie? Kamu beneran naksir sama dia? Jadi rumors itu bener?" raut muka Fitri yang biasanya seperti Hawaiian Barbie, saking mulus, sempurna, dan indah banget kulitnya, kini berubah keruh. Kesal dan resah.
"Baekkie, Fit. Panggilannya Baekkie." Ucap Chanyeol pelan, seperti sedang dalam keadaan trance. Matanya kosong. Raut tampannya sedikit tegang dan serius sampai permukaan dahinya berkerut-kerut.
"Oh, Baekkie. Namanya panggilannya imut juga. Terus, dia suka hang out dimana? Dari gayanya sih lumayan cool, tapi aku nggak yakin dia cukup cool sama Chanyeol."
"You think so?" Chanyeol menoleh kearah Hawaiian Barbie ini dengan sorot mata sayu namun menusuk. "Mungkin karena itu dia jadi nggak mau sama cowok kayak gue."
"AH!" Fitri memekik tertahan, nggak terima sama statement itu. "You're way too cool and too rich for her. Harusnya Chanyeol sama aku tau!"
Chanyeol tertawa kecil,merasa heran mengapa Fitri yang dulu begitu menyilaukan di matanya, begitu ingin digapainya kini terasa begitu biasa. Cantik, namun biasa.
"Elo bisa dapetin siapa aja, Fit." Setelah itu Chanyeol beranjak pergi.
"Terus, Subaru-mu kok jarang keliatan lagi di parkiran sekolah? Seru kan kalo dijejer sama BMW gue. Biar skeolah kita keliatan lebih kinclong dari luarnya."
"Nggak ah, Fit. Akhir-akhir ini gue nge-bus melulu. Lagi nggak kebagian mobil dirumah." Merasa informasi yang ingin diketahui sudah cukup, Chanyeol pun beranjak meninggalkan tempat itu.
"Eh... By the way, Chan, siapa yang make Subaru-nya kalo dirumah?"
0o0
"Villa Permata Mas, Kebon Jeruk?"
"Yap. Chan, jangan-jangan elo nggak tau daerah itu lagi? Mentang-mentang tinggal di daerah Kertanegara."
"Tau, lah. Gue kan peta berjalan."
"Sampaikan salam gue buat Baekhyun ya? Semoga cepet sembuh."
"Ok. Thanks alamatnya, Jong."
Chanyeol bersyukur Jongin nggak ikut ngejenguk Baekhyun siang ini. Ia sedang tidak ingin berbagi apapun dengan siapapun.
Ketika sampai didepan sebuah rumah –sesuai petunjuk Jongin sewaktu disekolah tadi- Chanyeol hanya berdiri lama mengamatinya, menganalisanya.
Rumahnya tidak terlalu besar, standar rumah daerah suburban di Jakarta. Tetapi, Chanyeol dapat merasakan rumah ini memiliki hawa- atau mungkin aura sekitarnya- yang enak. Tipe rumah yang memang di desain untuk 'benar-benar dihuni' saat sedang ada arisan atau pesta saja- seperti rumahnya. Rumah Baekhyun amat homey dan asri.
Tak lama setelah memencet bel, Chanyeol disambu toleh seorang pembantu perempuan yang masih belia. Dari belakang pembantu itu, muncul sebuah kepala kecil.
"Anta wa dare? Nee-chan no tomodachi ka?" tanya anak laki-laki kecil ini dengan ekspresi sungkan namun excited. Ia menatap langsung ke mata Chanyeol dengan sepasang bola mata yang amat jernih.
(Arti 'Anta wa dare? Nee-chan no tomodachi ka?' = "Kamu siapa? Temannya kakak, ya?")
Chanyeol berdiri mematung menatapi makhluk kecil ini. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Anak ini pasti memiliki label 'made in japan' di punggungnya sampai bisa ngomong se-cas-cis-cus ini.
"Baekhan, pake bahasa Indonesia ya? Ayo, inget kata Mama Papa Baekhan." Ucap si pembantu, berjalan kearah dapur sambil menggandeng si kecil ini. "Maaf, Mas. Ini adiknya Mbak Baekhyun. Temennya, Mbak Baekhyun, ya? Silahkan aja langsung kekamarnya. Saya mesti nemenin Baekhan makan siang dulu."
"Hm, ya. Terima kasih. Tapi adiknya kok pakai bahasa Jepang ya?"
"Oh itu, Mas, Baekhan dari kecil tinggal di Jepang."
"Oh gitu." Chanyeol menganggukkan kepalanya mengerti.
"Langsung keatas aja, Mas. Saya tinggal dulu. Permisi."
'Ke atas, ya?'
Chanyeol melangkahkan kakinya ke arah tangga setelah dirinya benar-benar sendiri di ruangan kecil itu. semakin ia mendekati lantai atas, semakin keras suara musik yang tadinya terdengar sayup-sayup olehnya. Dan ketika ia berhenti didepan sebuah pintu coklat muda dengan gambar kupu-kupu bernuansa biru muda, hijau muda, serta pink bertuliskan 'Hime no heya', Chanyeol yakin ini adalah 'sarang-nya Baekhyun.
"Baek, ini aku." Ucapnya sambil mengetuk pintu tiga kali.
Tetapi, tidak ada respon dari dalam kamar. Mungkin karena saking kerasnya musik di dalam. Tanpa sungkan, Chanyeol pun membuka pintu itu, dan matanya langsung membelalak.
Di depannya, Baekhyun –memakai shorts dan tank-top putih polos– sedang memperagakan rangkaian tari dan gerakan, hasil latihan tim dance SMU mereka beberapa hari belakangan ini.
Indah
Mempesona
Dan
Seksi
Chanyeol sampai merasa tenggorokannya tercekat untuk menyapa gadis ini. Bahkan ia sempat lupa dengan rasa kesalnya terhadap Kaminari Kei. Baekhyun terlalu memukau, menyita seluruh energi dan kesadarannya walau tidak sampai pada titik terakhir.
Chanyeol memaksakan dirinya untuk segera sadar.
"S-selamat siang."
Suara Chanyeol yang lumayan keras membuat Baekhyun menengok ke arahnya, lalu tersenyum sumringah. Sesaat ia lupa kalau dirinya masih marah berat sama cowook ini. "Annyeong! Hey, sudah lama?"
Chanyeol menatap mulai dari ujung kaki sampai ujung rambut Baekhyun, sambil bersiul usil. "Sudah lama apanya? Dateng ke rumah kamu atau ngeliatin kamu menari –ADDAW!"
Sebuah benda, sepertinya berbentuk bulat, menghantam tepat pada kening Chanyeol.
"Byeontae! Kenapa kamu bisa ada di kamarku?!" tiba-tiba Baekhyun baru menyadari bahwa kini ada seorang cowok berdiri dengan gaya kasual di pintu kamarnya, the most private space in her life.
"Kok, malah ngamuk?! Hei, Baek, jangan salah sangka dulu. Pembantumu yang nyuruh aku langsung ke sini."
"Ugh! Tapi kamu kan bisa ngetok dulu!"
"I DID!"
.
.
.
TBC or END?
Maaf ya updatenya lama. Ini udah diusahain disempetin buat ngepublish. Jadwal RL padet, jadwalnya EXO aja kalah sama jadwalku/soksibuk/
Review juseyooo
