"S-selamat siang."

Suara Chanyeol yang lumayan keras membuat Baekhyun menengok ke arahnya, lalu tersenyum sumringah. Sesaat ia lupa kalau dirinya masih marah berat sama cowook ini. "Annyeong! Hey, sudah lama?"

Chanyeol menatap mulai dari ujung kaki sampai ujung rambut Baekhyun, sambil bersiul usil. "Sudah lama apanya? Dateng ke rumah kamu atau ngeliatin kamu menari –ADDAW!"

Sebuah benda, sepertinya berbentuk bulat, menghantam tepat pada kening Chanyeol.

"Byeontae! Kenapa kamu bisa ada di kamarku?!" tiba-tiba Baekhyun baru menyadari bahwa kini ada seorang cowok berdiri dengan gaya kasual di pintu kamarnya, the most private space in her life.

"Kok, malah ngamuk?! Hei, Baek, jangan salah sangka dulu. Pembantumu yang nyuruh aku langsung ke sini."

"Ugh! Tapi kamu kan bisa ngetok pintu dulu!"

"I DID!"

.

.

Chapter 4

Beautiful Imagine

[REMAKE NOVEL by SITTA KARINA]

Cast : Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Oh Sehun, Kim Jongin and other cast.

Rate : T

Genre : (tentuin sendiri)

.

P.s : cerita ini hasil remake. Dan mungkin ada sedikit cerita yang aku tambahin disini.

P.s.s : Disini pemainnya di bikin orang Indonesia. Jadi omongannya pake Lo-Gue.

P.s.s.s : Typo(s) dimana-mana. GS. Lupa sama jalan ceritanya? Baca ulang

.

.

Happy Reading

.

.

Hening berlangsung begitu lama, walau sebenarnya hanya dalam ketukan detik. Dan sebelum Baekhyun angkat bicara lagi untuk membentak Chanyeol, cowok ini mengambil inisiatif duluan melakukan sesuatu.

"Aku tunggu di luar ya. Silakan kamu ganti baju dulu."

"Huh..." melihat gaya cool dan sok inosen itu, rasanya Baekhyun ingin melempar sesuatu sekali lagi ke arah kakak kelasnya ini.

Tidak lama kemudian, Baekhyun keluar dari kamarnya dengan setelan celana capri dan t-shirt santai. Chanyeol berusaha menyembunyikan senyumnya, mengetahui wajah pujaannya itu masih tersisa gradasi blushing-nya.

"Kirain kamu sakit parah." Kata Chanyeol sambil seenaknya mengusap-usap rambut Baekhyun. Sebuah senyum manis terulas di bibirnya. Kekhawatiran murni.

"Nggak liat ya? Memangnya, apa lagi alasan orang nggak masuk sekolah?" tukas Baekhyun jutek, lalu wajahnya mendadak murung, "Dan itu gara-gara kamu..." bisiknya.

Chanyeol yang sudah mengulurkan tangan untuk menggodanya lagi, langsung berhenti.

"Kamu ninggalin aku begitu saja di Jakarta Theatre, dan kini dateng... kayak nggak ada apa-apa?" desis Baekhyun dengan wajah –yang bagi Chanyeol –nampak sedang menahan tangis.

Chanyeol menatap Baekhyun dengan tidak kalah sinisnya. Lalu tangan kanan itu menggebrak keras dinding di sebelah wajah Baekhyun, membuatnya terkejut. "Aku nggak suka cewek nggak jujur," paparnya dingin, "yang malah keliatannya sok suci banget di depan aku."

"Arghh, shut up!" Baekhyun mendorong tubuh Chanyeol keras. "Sahabat macam apa kamu?"

Chanyeol tidak bergeming dihentak begitu, tenaga Baekhyun nihil dibandingkan tenaganya sebagai cowok. "Harusnya aku yang bertanya begitu, Hime*," Chanyeol berkata dingin. Nada suaranya masih memancarkan kekesalan dan kekecewaan yang cukup intense.

/hime = putri (dalam bahasa jepang)/

"You're a jerk," ucap Baekhyun sungguh-sungguh. "Just because you're a Park, you think you own the world... and free to do anything!"

"Kamu ngelantur, Baek," Chanyeol meremas tangan kiri Baekhyun, agak keras; setengah karena ia menahan kesal, setengah lagi karena ingin menyentuh kulit halus yang sepertinya wangi khas Bath & Body Works. Wangi yang serupa pernah ia cium di kamar Inez.

"Lepasin aku!" Baekhyun berontak yang sayangnya sama sekali tidak digubris oleh Chanyeol. Belum saatnya, karena Chanyeol ingin membuat Baekhyun mendengarnya. Sedikit saja alasan... bahwa bukan Baekhyun saja yang kecewa dirinya juga sebenarnya tersiksa.

"Nggak," Chanyeol me-reply simpel. Cuek dan simpel.

PLAKK!

Kali ini keduanya baru benar-benar terdiam. Lalu Chanyeol mengangkat tangan kanannya perlahan, ingin menyentuh bekas tamparan Baekhyun di pipinya, lalu ia mengubah niatnya dan membiarkan telapak tangannya kini menyentuh pipi lembut Baekhyun. Tatapan Chanyeol begitu sendu, begitu sedih.

"Sudah puas?" tanya Chanyeol perlahan. "Kalau mau sekali lagi, lebih keras sekalipun, aku nggak akan pergi. I deserve this."

Sikap baik ini malah membuat Baekhyun menjadi awkward dan semakin bingung. Juga sedikit merasa bersalah. "Kamu dateng ke rumahku dan marah-marah. Harusnya kan yang marah itu aku. Aku tidak tahu apa maksudmu, Chan!"

"Kalau tentang Kaminari Kei tahu?" Chanyeol mengembalikan tanagn kanannya ke posisi sebelumnya, bertumpu pada dinding, dan menikmati wajah membara Baekhyun dari jarak amat dekat.

Mendengar nama itu, ekspresi marah Baekhyun langsung hilang.

'Tuh kan bener! Mereka ada apa-apanya. Sial!' Chanyeol membatin sendiri. Giginya gemeletuk, menahan kesal. Ia seperti berputar-putar dalam lingkaran kekonyolan yang sama, yang diciptakan oleh Baekhyun.

"Chan," ucap Baekhyun lembut seraya mendorong tubuh Chanyeol ke belakang tanpa banyak usaha, "Kamu jealous, ya?"

"Isn't it obvious for someone who has fallen for you?" tanya Chanyeol balik dengan suara tinggi yang berupa bisikan.

Baekhyun menggeleng-gelengkan kepalanya, kekeh. "Nggak, kita kan sahabat, Chan. Dan, Kei... juga teman baikku. Aku ini bener-bener single lho. Dan memang berniat begitu untuk waktu yang cukup lama."

"Kenapa?" sepertinya Chanyeol bingung harus tanya seperti apa lagi. Ia ingin julukan 'Prince Chanyeol' diucapakan dari mulut Baekhyun, bukan cewek lainnya. Tapi mengapa hal itu mustahil sekali?

"Kenapa, Baek?" bisik Chanyeol lagi. Jauh di hati kecilnya, jauh di ambang harga dirinya, ia nggak terima diperlakukan begini sebagai cowok.

Mengapa Baekhyun begitu tidak tertarik kepada dirinya? Apa ada yang salah dengannya?

Chanyeol memberanikan diri menatap mata bening yang nampak khawatir itu. Baekhyun... terlihat ceria seperti biasanya. Tapi, sekilas Chanyeol dapat melihat sekelumit keputusasaan yang seperti meraung minta tolong, terhimpit di suatu kegelapan yang Chanyeol sendiri tidak tahu berada di mana. Apa yang Baekhyun sembunyikan darinya?

"Jadi, Kaminari ini bukan siapa-siapa kamu? Not even a boyfriend?"

"Tentu saja tidak. Kita bener-bener berteman baik."

"Kamu bener-bener nggak tertarik pada semua cowok... atau hanya pada diriku aja?"

Baekhyun mendelik sewot ditanya seperti itu. "Hei, aku cewek normal kok. Tentu saja tertarik sama cowok"

Itu tidak menjawab pertanyaanku, Hime.

"Lantas, aku..." Chanyeol tidak jadi berkata-kata.

Baekhyun menatapi sahabat barunya ini. Meneliti tiap garis sempurna yang membentuk wajah tampan yang keras namun juga lembut. Dan kacamata itu... sepertinya benda itu yang membuat paras Chanyeol semakin cocok disebut sebagai Prince Chanyeol. Karena dengan kacamata minimalis itu, ia terlihat begitu smart, intelek, namun tetap 'cowok' banget. Sepertinya kacamata itu berfungsi memagari figur liar Chanyeol yang –menurut kasak-kusuk sebagian besar siswa-siswi di Nasional High– bergaya living la vida loca. Bagi Baekhyun, tidak banyak cowok seumurannya yang cocok memakai kacamata, karena tak jarang malah akan terlihat seperti kutubuku maupun nampak lebih tua. Tapi, kalau misalnya Chanyeol berniat menggantinya dengan soft lens, mungkin Baekhyun adalah orang pertama yang akan protes.

Maybe some guy are born special. Maybe Chanyeol is one of them.

"Apa yang kamu inginkan, Chan?" Tanya Baekhyun pelan. "Right here, right now, I'm real. Isn't it enough for you? Do you always intend to seize everything? Cant't you just enjoy it?"

Chanyeol membisu seraya tertunduk. Namun tangannya terkepal keras, refleksi emosi yang bermain di hatinya. Sebagai cowok, ia tidak suka didikte begitu. Beberapa hari belakangan ini, Chanyeol merasa egonya seperti tertindas.

"Kei dulu juga pernah memintaku menjadi ceweknya," kata Baekhyun lagi. "Sama kayak kamu."

"Terus, nasibnya sama juga kayak aku?"

Baekhyun memandanginya agak lama sebelum tertunduk. "Ya."

Oh, shoot! Ternyata orang yang disukainya doyan nolakin cowok. Kenapa tren sifat cewek tiap tahunnya selalu berubah sih? Kadang suka sok jual mahal, kadang terlalu agresif, tapi yang ini... sosok unik ini... apa yang Baekhyun cari sebenarnya? Chanyeol juga ingin sekali mengetahui alasannya.

Chanyeol menuruni tangga dengan lunglai, diikuti Baekhyun yang masih merasa tak yakin, apakah menghabiskan waktu berdua sore ini bersama Chanyeol ide yang tepat.

"Baek," ketika menapaki tangga kelima, Chanyeol berbalik dan memeluknya cepat, membuat Baekhyun terkejut, panik, namun tiak bisa berbuat apa-apa melawan tenaga sekuat itu. "Maafkan aku ya waktu itu."

"Waktu kapan?" saat pertama kali nafas Chanyeol menyapu lehernya, tiba-tiba Baekhyun lupa segalanya.

"Jangan pura-pura bodoh, Hime. Tentu saja waktu aku nggak dateng ke BMF. Aku rasa..."

Aki memegang kedua lengan yang merengkuh pinggangnya dengan segenap kesadaran yang ada. "Hanase... onegai"* dan bodohnya, kalau dalam keadaan panik seperti ini, Baekhyun malah berkata-kata dalam bahasa Jepang. Mana mungkin cowok ini ngerti?!

*Hanase... onegai (Lepaskan... please)

Chanyeol merasakan tubuh gadisi ini malah makin tegang dalam pelukannya. Harusnya kan tidak begini. Gosh, what is he trying to pull anyway?

"Lepasin. Pergi kamu," ucap Baekhyun lirih, seperti setengah hati mengusirnya.

Chanyeol tidak beranjak dari tempatnya berdiri. Masih di anak tangga kelima dan ia tertegun memandanginya. Apa yang membuat seorang Byun Baekhyun begitu menguasai dirinya, membuat seluruh rasionalnya melayang?

"Aku nggak bermaksud nyakitin kamu," ucap Chanyeol akhirnya, "maafkan aku tadi. Niat aku datang ke sini adalah untuk meminta maaf dan melihat apakah kamu baik-baik saja. 3 hari absen adalah waktu yang cukup lama buat anak SMA, tahu? Wajar saja kan kalau sebagai teman aku khawatir."

Baekhyun tertawa sambil menyibakkan rambutnya ke belakang. Tawa yang menandakan dirinya kini sudah tidak takut lagi kepadanya, membuat Chanyeol ikut lega mengetahui hal itu. ia paling tidak tega melihat perempuan ketakutan –apalagi karena dirinya.

"Nee-chan, doo shimashita ka?"* (Kakak, ada apa?)

Suara anak kecil itu membuat Baekhyun dan Chanyeol tersentak. Ternyata Baekhan ada di hadapan mereka, bingung melihat ekspresi kakak perempuannya yang tidak tenang seperti itu. Dan walaupun masih kecil, naluri Baekhan sebagai laki-laki tergugah. Baekhan langsung memandang Chanyeol curiga, menjadikannya tersangka atas ketidaknyamanan kakaknya.

"Ah, Baekhan, Nandemonai.* Kakak baik-baik saja kok. Baekhan, kenalkan ini Chanyeol, teman kakak." Baekhyun melepaskan tangan Chanyeol yang masih menetap di sisi tubuhnya, lalu berjalan ke arah adik laki-lakinya yang masih menatap mereka berdua penuh tanda tanya, tetapi lebih antisipasi kepada Chanyeol.

*Nandemonai (Tidak apa-apa)

Dan Chanyeol menyambutnya dengan tatapan setajam mata elang, yang seolah-olah berbicara 'Halo adik kecil. Kelak kamu besar nanti, kamu pasti jadi laki-laki jantan, yang bisa melindungi kakakmu yang cantik ini.'

"Hai, Baekhan," Chanyeol mengulurkan tangannya. Walaupun ke anak kecil, Chanyeol tahu benar apa yang namanya sopan santun. Dan baginya, sopan-santun berlaku bagi segala umur. "Tenang aja, aku ini orang yang amat sayang sama kakakmu."

Mendengar itu, mata bulat Baekhan langsung membelalak senang, dan Baekhyun hanya mendengus halus, "Well done, Cassanova."

"Hontoo?"* Baekhan tidak dapat menyembunyikan kebahagiaannya itu. ia tidak mengerti apa masalah kakaknya selama ini, mengapa ayah begitu khawatir padanya. Tapi di tangan cowok ini, ia yakin kakaknya pasti akan baik-baik saja.

*Hontoo? (Benarkah?)

"Hai,"* jawab Chanyeol mantap. Sedikit demi sedikit, ia semakin suka saja pada bahasa ini.

*Hai (Iya)

"Kamu kok jadi kayak pacarku saja. Jangan bikin Baekhan bingung ya. Kita ini sahabatan. Gara-gara dia sering ikutan aku nonton dorama* sewaktu masih di Jepang, dia jadi menganggap kalo dua orang cewek-cowok bareng kayak gini adalah pacaran... yeah, stuff like that –"

*Dorama (Drama)

"Dan kamu nggak mau Baekhan menganggap kita demikian?" potong Chanyeol. Ekspresi wajahnya senang sekali melihat kesewotan gadis ini.

"Ya, entar dia bingung," tandas Baekhyun cepat. Mendadak ia merasa capek, baik pikiran maupun badannya. Meng-handle Kei tidak pernah sesulit ini. Ia tidak pernah menyangka Prince Chanyeol yang terlihat begitu charming dan 'terkendali' ternyata aslinya benar-benar annoying!

Deg!

Baekhyun melotot panik. Lelah rasanya. Dadanya sakit lagi dan ia sudah siap tumbang...

Hup!

Tapi sebelum itu terjadi, tanpa menyadari keadaan cewek ini yang sesungguhnya, Chanyeol sudah menggendong Baekhyun sambil tertawa ringan. "Hime, aku nggak tau kamu sakit apa, tapi alangkah baiknya kalau kita ngobrol santai denganmu dan Baekhan di sofa, daripada perang mulut seperti ini melulu. I'm your admirer, not your enemy," lalu melirik jam dinding yang berdentang keras, menunjukkan sudah pukul 3 "... dan aku lapar sekali. Belum makan siang nih. Mungkin kamu punya sisa ramen atau apa aja yang bisa dimakan –"

"Baekhan punya!" ucap Baekhan cepat sambil loncat ke pangkuan Chanyeol penuh semangat. "Nii-chan mau ramen Baekhan?"

"Dengan senang hati," Chanyeol tersenyum manis lalu menarik Baekhyun untuk duduk di sampingnya, "Kamu masih nggak enak badan?" tanyanya sungguh-sungguh. "Maafkan caraku dari kemarin ya? Tapi aku benar-benar ingin jadi sahabatmu, dan itu harus diawali dengan saling care satu sama lain, bukan? Kurasa... mungkin sebaiknya kamu jangan terlalu capek latihan dance-nya. Bukannya apa-apa, kasihan badanmu, Baek. Jangan terlalu ngikutin semua request Sica. Dia itu perfeksionis sejati dan dia seneng dapet bibit unggul yang gampang diasah kayak kamu. Tapi, badan kamu kan hanya kamu yang tahu. Jadi, jangan terlalu dipaksainlah..."

"Now you sound like a doctor," Baekhyun terkekeh geli.

"I could be anything," Chanyeol menanggapi candaan itu dengan serius, membuat ekspresi wajahnya nampak lucu dimata Baekhyun, "When I'm with you."

'Chanyeol itu baik ya?' batin Baekhyun damai, hampir terpancar di wajahnya yang dengan lembut menatap cowok ini lekat-lekat.

And he did care about me.