Hinata menyipitkan matanya kala melihat seseorang yang mulai tidak asing lagi dimatanya.

Bukankah itu Naruto?!

Hinata penasaran dengan siapa pria itu saat ini. Rambut yang sama-sama blonde. Tentu saja mereka terlihat begitu serasi.

Sayang sekali ia tidak bisa melihatnya dari dekat.

"Hinata.. Kau kenapa?" Oh ia bahkan melupakan kehadiran Sasuke disisinya. "Emm.. Tidak apa-apa Sasuke-kun."

Sasuke mengernyit dan mengikuti arah pandang Hinata yang sedaritadi tak teralihkan.

"Oh itu pamanmu.. Ternyata dia juga punya kekasih."

Hinata mengernyit. Entah kenapa ia tidak suka dengan perkataan Sasuke barusan.

"Mau bergabung dengannya?"

"Ah.. Tidak usah Sasuke-kun. Biarkan saja mereka."

Hinata berusaha acuh.

Namun rasa penasarannya membuat ia justru malah mengikuti kemana perginya Naruto.

Hinata bahkan tidak menyadari kenyataan jika sebenarnya Narutolah yang kini tengah mengikutinya.

Wanita itu menggandeng tangan Naruto mesra. Apalagi mereka berdua begitu nampak tak terganggu dengan orang lain. Seolah mereka memiliki dunia mereka sendiri. Dan itu membuat Hinata mendengus. Ia sudah menduga hal ini pasti akan terjadi.

Begitu Naruto memasuki restaurant seafood. Ia pun menarik Sasuke untuk masuk kedalamnya.

Mereka memilih tempat yang tidak terlalu jauh dari meja Naruto berada. Namun tentu tempat yang tidak dapat dijangkau oleh indra mata biru pria itu.

"Kau mau pesan apa Hinata?"

Hinata tidak menghiraukan perkataan Sasuke karena terlalu sibuk memperhatikan Naruto didepan sana.

"Hinata.."

"A-Ah ya.. Samakan saja denganmu Sasuke-kun."

"Kau yakin?"

"Ya ya. Samakan saja Sasuke-kun!"

"Hn. Baiklah."

Hinata berjengit kala melihat Naruto meraih jemari wanita yang bersamanya itu dan menggenggamnya diatas meja makan.

"Cih! Mesra sekali.." Desisnya.

Sasuke membuang napasnya. Ia tau apa yang sedari tadi Hinata perhatikan.

"Hinata. Kenapa kita tidak bergabung saja dengan mereka?"

"Apa?!" Hinata menatap tidak percaya dengan apa yang Sasuke katakan barusan.

"Tidak Tidak! Aku sungguh tidak suka wanita itu.." Hinata mencibir tidak suka saat melihat wanita berambut blonde itu mengerling kearah Naruto.

"Wanita penggoda.." ujarnya.

"Oke, baiklah. Kita nikmati saja makanan ini. Tapi setidaknya lupakan mereka, ini kencan pertama kita bukan."

Hinata menoleh dan mendapati kepiting beserta lobster besar pedas yang tersaji dimeja makan.

"Astaga.. Aku tidak bisa makan ini."

"Tadi kau bersikeras ingin menu yang sama denganku."

"Err.. Pesankan aku Mie ramen saja Sasuke-kun."

"Ini restoran Seafood. Mie tidak ada dimenu."

"Hm.. Yasudah aku nanti saja. Kau makan saja dulu."

"Yasudah aku keluar dulu."

"Eh?! Tidak perlu Sasuke-kun."

Sasuke meninggalkan Hinata tanpa menghiraukan perkataan gadis itu.

Dan disaat itulah Naruto menolehkan kepalanya kebelakang.

"Astaga.." Dengan cepat Hinata menutup wajahnya menggunakan buku Menu berharap Naruto tidak menyadari keberadaannya ditempat itu.

Untuk beberapa menit Hinata merasa lega karena sepertinya pria itu tidak menyadari keberadaannya.

"Ekhem!" Namun sayang kenyataan tak sesuai harapannya. Justru Naruto sekarang menyeringai melihatnya.

"Boleh kami bergabung nona?" Pria itu bersikap seolah-olah mereka tidak pernah berinteraksi sebelumnya.

Hinata menatap Naruto acuh dan hanya mengedikan dagunya dengan santai.

"Terimakasih." Naruto menarik kursi untuk wanita yang bersamanya. Dan itu membuat Hinata ingin muntah melihatnya. Gadis Hyuuga itu hanya membuang mukanya sebal sebelum berdehem sekali dan kembali bersikap acuh.

Namun diam-diam Hinata memperhatikan wanita disamping Naruto.

Sial.

Wanita itu terlalu cantik. Lihat bibir merah nya yang terlihat sangat menggoda itu.

Oh dirinya saja yang notabenenya seorang wanita jujur saja mengakui penampilan gadis itu begitu sempurna.

Entah wajahnya itu disapu make up atau tidak. Tapi yang pasti kecantikannya terlihat begitu natural.

Dengan rambut pirang panjangnya. Gadis itu menggulung rambutnya tinggi dengan menyisakan aksen anak rambut yang entah kenapa kesuluruhannya nampak begitu seksi. Apalagi dengan atasan off-shoulder longgar dengan bahan berenda yang cantik itu berhasil memamerkan bahunya yang putih mulus.

Lalu skinny jeans diatas mata kaki dengan aksen banyak sobekan dibagian paha yang dipadukan dengan wedges sneakers berwarna senada dengan atasannya yang berwarna biru muda itu membuat penampilannya begitu chic dan fhasioneble.

Berbeda dengannya yang hanya mengenakan dress hitam polos dengan plat shoes hitam yang juga sama polosnya.

Dan ia iri dengan kenyataan yang begitu menohok itu.

"Senang melihatmu disini paman." Hinata menendang kaki Naruto dibawah sana saat Sasuke kembali membawa ramen instan untuknya.

"Oh yeah?" Naruto menaikan kedua alisnya dan tersenyum lebar. Terlalu lebar malah.

"Aku tidak ingat. Sejak kapan aku menjadi seorang paman." Celetukan Naruto membuat Hinata melotot tajam.

Sasuke duduk disamping Hinata saat melihat kursinya kini sudah ditempati.

"Hn. Akhirnya kalian bergabung juga. Hinata terus memperhatikan kalian berdua. Dan aku tidak bisa terima itu karena dia mengabaikanku."

Shit.

Untuk kali ini Hinata mengutuk Sasuke yang kejujurannya begitu sangat tidak dibutuhkan!

"Oh yeah?" Apalagi melihat seringaian pria blonde itu sekarang.

Hinata menahan dirinya sendiri untuk tidak menyiramkan kuah ramen panas ditangannya ke wajah Naruto saat ini juga.

"Hn. Mungkin dia penasaran dengan wanitamu"

Double Shit.

Naruto terkekeh mendengarnya yang bagi Hinata itu terdengar begitu mengejek dirinya.

"Oh ya perkenalkan.. Aku Ino Yamanaka." Well, tentu saja. Ini kesempatan wanita itu untuk angkat bicara.

"Mm.." Dan Hinata tentu memilih mencoba melenyapkan kekesalannya dengan bersikap manis membalas jabatan tangan Ino yang terulur padanya daripada harus mengingat kembali percakapan tidak menyenangkan dimeja makan ini sebelumnya.

"Oh ya, kau mau pesan apa Naruto-kun?"

Kun..?

Cih! Hinata mendecih dalam hati. Menjijikan sekali. Pria itu tidak pantas memakai embelan apapaun.

"Kalian tidak perlu memesan apapun. Sasuke-kun sudah memesankannya untuk kalian." Hinata mengedikan dagunya kearah sajian makanan yang sebenarnya miliknya.

"Umh, Benarkah Sasuke?" Hinata mengernyit melihat Ino yang seolah meminta perhatian lebih dari Sasuke.

"Hn. Awalnya itu untuk Hi-" ayolah jangan lagi!

"Ah! Ayolah.."

Jangan lagi Sasuke! Dalam hati Hinata merutuk.

"Hentikan percakapan kalian. Aku sudah lapar!" ia mengambil sumpitnya dan mulai melahap ramennya tanpa peduli apapun lagi. Sudah cukup Sasuke mempermalukannya kali ini.

"Hn. Yasudah."

Namun pemandangan berikutnya berhasil membuatnya selera makannya nyaris lenyap tak tersisa.

"Naruto-kun buka mulutmu.."

Bagaimana tidak. Pasangan sejoli didepannya bersikap menjijikan dengan saling menyuapi tanpa peduli kehadiran dirinya. Well sebenarnya hanya Ino saja yang menyuapi.

Tapi sungguh. Itu pemandangan yang paling membuatnya ingin muntah!

Apalagi saat pria itu dengan sengaja mengelap sisa makanan dimulut Ino dengan mata yang justru malah teruju padanya.

Sialan.

CTRAK!

Tanpa disadari Hinata mematahkan sumpitnya dan menarik perhatian.

"A-Ah.."

Benar-benar sialan.

"Aku akan ketoilet sebentar.." dengan cepat melarikan diri dari rasa malu yang tidak ingin ia tanggung lebih lama lagi.

Dan itu membuat Naruto menyeringai lebar.

Ia tidak menyangka istrinya itu benar-benar gadis naif yang polos.

Ia tau Hinata tentu tidak mencintainya. Belum. Untuk sekarang.

Tapi gelagat gadis itu yang begitu kentara tidak suka akan kehadiran Ino justru memperlihatkan sisi dirinya yang asli.

Gadis itu bukan orang yang rela bagi-bagi.

"Ah.. Aku permisi dulu." Naruto memperlihatkan ponselnya seolah meminta izin untuk menghubungi seseorang.

"Hn. Silakan."

Dan kode itu justru ditangkap jelas oleh Ino. "Baiklah.. Tugasku hanya tinggal satu lagi."

Oke. Kalian akan paham setelah ini.

FlashBack.

Naruto memandang Ino dengan datar.

"Banyak alasan."

"Ah.. Kau menganggu saja Naruto! Aku sedang malas kemana-mana!"

"Hn. Aku tidak peduli."

"Baiklah. Tapi beikan aku lamborgini baru!"

"Jangan mencoba memerasku. Kau takkan berhasil."

"Belikan semua yang aku mau!"

"Berisik."

"Oh ayolah sepupu. Kau seharusnya berterimakasih padaku."

"Lakukan saja tugasmu Ino."

"Setidaknya aku butuh apartemen baru!"

"Hn. Kau tentu tau apa yang akan kukatakan pada ayahmu jika kau gagal"

Perkataan Naruto membuat Ino tersenyum kecut. Bakat picik pria ini memang tidak bisa disepelekan begitu saja.

"Lihat saja. Aku akan buat istrimu terbakar sampai keulu hati."

"Hn. Pastikan kau tidak terlihat jalang."

"Sialan kau. Sejak kapan aku menjalang brengsek."

"Hn. Aku kenal beberapa pria yang kau peras sampai bangkrut." Ino tertawa geli untuk kali ini.

"Setidaknya aku wanita handal dan bukan gigolo keparat sepertimu Naruto."

"Setidaknya hatiku tidak tersentuh."

Ino berhasil tergelak mendengar Naruto mengatakan itu.

"Cinta terlalu suci untuk pendosa sepertimu Naruto.. Kau pikir aku tidak tau seberapa banyak wanita yang kau tiduri ha?"

"Berisik. Kau pikir aku tidak tau siapa yang mendobrak selaputmu hn?"

"Ahh.. Baiklah hentikan!" Ino kesal menyadari ternyata Naruto bukan orang idiot yang tunduk begitu saja. Dan pria itu tahu dimana titik letak kelemahannya. Mulai saat ini Ino sadar betul ia tidak akan pernah bisa menang melawan Naruto.

Dengan itu ia bergegas menuruti kemanapun Naruto membawanya.

"Memangnya kau tau dimana mereka sekarang?" Ino mencibir.

"Hn. Aku tau. Segalanya."

Naruto memperhatikan arlojinya sebelum berhenti dipusat perbelanjaan.

Dan Ino memutar matanya paham benar dengan perkataan Naruto sebelumnya.

"Kau terlalu over Naruto. Dia akan menyadarinya nanti."

"Tidak selagi kau tutup mulut."

Dan tidak perlu waktu lama untuk menemukan keberadaan Hinata yang kini tengah bersama Sasuke.

"Apa perlu kita hampiri mereka?"

"Tidak perlu."

"Lalu."

"Berisik. Jalan saja!"

Naruto menarik Ino berjalan melewati Hinata begitu saja.

Dan tentu ia tidak perlu repot hanya untuk menyapa keberadaan mereka. Bersikap pura-pura buta akan kehadiran mereka lebih berpeluang untuknya.

Dan benar saja. Ia bisa merasakan aura penasaran dari belakang sana yang sangat kentara.

"Gandeng tanganku Ino."

"Kau yakin dia sudah melihatnya?" Ino menurut menggandeng lengan Naruto. Bersikap seperti remaja yang sedang dirasuki cinta.

"Hn. Kau bisa pastikan sendiri."

"Menjijikan sekali.." Ino berdesis tidak suka dengan posisinya saat ini.

"Kau pikir aku sudi berlama-lama menempel denganmu."

"Hm.. Kemana kita sekarang?"

Naruto mengedikan dagunya kearah tempat makan yang tidak jauh dari tempat mereka saat ini.

Mereka memasuki restaurant seafood dan duduk dimeja samping jauh dari pintu masuk.

"Haha.. Istrimu terlalu naif Naruto." Ino tertawa menyadari jika Hinata ternyata memang mengikuti pergerakan mereka.

"Kalau begini caranya kita tidak perlu repot. Kau lihat.. Mangsanya justru masuk ke sarang perangkap begitu saja."

"Ingat? Kau jauh lebih tua darinya." Naruto membela diri seolah menyatakan jika Hinata masih sangat labil. Tapi jelas itu terkesan mengejek Usia Ino yang saat ini jelas bukanlah seorang remaja baru lagi.

"Aku tidak setua itu! Kau lihat aku bisa jadi usia berapapun yang aku mau."

"Hn." Naruto harus mengakui jika perkataan Ino benar adanya.

Buktinya wanita itu terlihat seusia istrinya dibanding usianya yang sebenarnya sudah menginjak 27thn.

Oh tentu saja. Wanita itu handal dalam hal berdandan. Bahkan menjadi persis seperti avatar sekalipun ia bisa lakukan.

"Pegang tanganku Naruto."

"Untuk apa."

"Pegang saja bodoh!"

"Tsk." Naruto menurut. Ia meraih jemari Ino dan menggenggamnya kuat-kuat.

"Astaga.. Kau menyakiti kulit mulusku brengsek.." berbeda dengan nada suaranya yang menyentak. Ino justru tersenyum lembt dan mengerling kearah Naruto. Bersikap manis menyadari tatapan mata Hinata yang sedari tadi memperhatikan dirinya.

Ino memperhatikan Sasuke yang melewati mereka beberapa saat kemudian.

"Tampan.." ucapnya sekilas.

"Murahan."

"Idiot. Pastikan istrimu melihat saat aku merampasnya tidak akan lama lagi."

"Hn. Lakukan sesukamu."

"Kita ke meja mereka sekarang."

"Tidak perlu. Aku ingin tau apa dia akan mengikutiku setelah ini."

"Baka! Bagaimana jika mereka tidak mengikuti kita lagi. Aku justru lebih penasaran bagaimana sikap istrimu jika melihatku menyuapimu. Bagaimana?"

Naruto menyeringai.

"Dengan senang hati."

Mereka kemudian menghampiri meja Hinata.

Naruto bisa melihat raut muka sebal Hinata saat melihatnya menarik kursi untuk Ino.

Dan ia sangat menikmati kekesalan gadis itu.

Apalagi saat jelas-jelas Hinata memperhatikan penampilan Ino dengan senyum kecutnya.

Jelas sekali ia iri dan merasa kalah dengan penampilan Ino.

Dilanjutkan dengan kenyataan yang Sasuke utarakan membuatnya hampir tertawa puas.

Lalu saat Hinata memberikan porsi makanan nya kepada mereka. Naruto tentu tidak menyia-nyiakan kesempatan itu begitu saja.

Kecerdasan Ino membuat semuanya berjalan semakin baik.

Skenario dadakan tanpa prediksi ini justru semakin menyenangkan melihat kekesalan Hinata yang sampai mematahkan sumpit ramennya.

Dan saat gadis itu bergegas pergi ketoilet untuk menutupi rasa malunya. Naruto pun tidak melepaskan kesempatan itu.

-Flashback End-

Dan disinilah ia sekarang.

"Hmph!" Memebekap dan menarik Hinata masuk ke toilet pria.

Tentu saja ia membuat gadis itu terkejut.

Naruto segera menarik Hinata kesalah satu kabin toilet kosong dan mengunci pintunya.

"Kau gila! Lepaskan aku!"

"Hn. Katakan kau tidak mengikutiku maka kau akan kubebaskan."

Naruto memojokan Hinata dan menghimpitnya didinding.

"Katakan.."

"Aku tidak.." Hinata kehilangan kata-katanya.

"Hn?"

"Jangan terlalu percaya diri!"

"Jadi semua yang bocah itu katakan bohong hm.." Naruto menempelkan wajahnya dirahang Hinata dan mulai menghirup aroma yang mengguar dilehernya.

"Ah! A-Apa yang kau.. Menjauh dariku!"

"Katakan.."

"A-Aku.. Ugh!" Hinata mengernyit merasakan benda basah menyentuh lehernya.

Rasanya geli. Aneh dan.. Sudah cukup!

"TOLONG!! Hmph!!" Naruto membekap mulut Hinata saat gadis itu mencoba berteriak.

"Sssht.. Pelankan suaramu sayang.. Kau benar-benar ingin kuperkosa disini hm?"

Hinata menatap horor Naruto mendengar perkataan pria itu. Tentu ia tahu Naruto tidak bercanda.

"Anak pintar." Naruto menyeringai melepaskan bekapan mulutnya melihat ekspresi Hinata.

"A-ah.. Ternyata kau!"

"Hm..?"

"Ternyata kau yang mengikutiku!!"

Hinata menarik lengannya berusaha keluar dari himpitan Naruto.

"Kenapa membalikan fakta. Sudah jelas kau yang mengikutiku.."

"Lalu kau ini apa ha?! Kau yang mengikutiku sampai disini brengsek.."

Naruto menaikan alisnya dan menyeringai. "Kau benar." Akunya.

"Aku mengikutimu sampai disini hanya untuk memastikan saja. Apa benar kau tidak mengikutiku hn?" Lanjutnya santai.

"Iya! Aku mengikutimu puas kau ha?!"

Naruto terkekeh dan mengecup ujung bibir Hinata sesaat.

"Seharusnya kau katakan itu daritadi sayang."

Hinata membuang mukanya jijik mendapatkan perlakuan itu dari Naruto. Lalu mendorong dada bidang pria itu dan merenggangkan jarak diantara mereka.

"Hn. Dan harusnya kau tetap dirumah." Dan perkataan Naruto membuat Hinata jengah. Ia mengangkat wajahnya dan mendorong pria itu dengan kesal.

"Oh! Jadi kau ingin istrimu ini tetap dirumah ha?!"

"Kau mau aku tetap dirumah melakukan pekerjaan rumah. Menyapu mengepel mencuci piring, mencuci pakaian memasak dan melakukan segalanya sementara kau bersenang-senang dengan wanita lain diluar sana ha!?"

Dan perkataan Hinata kali ini jelas membuat Naruto tertawa geli.

"Kau pikir itu lucu brengsek!?"

Naruto kembali mendekati Hinata dan kembali mengurung gadis itu diantara kedua lengannya.

"Bukankah kau sendiri yang bilang jika kau tidak akan peduli hm?" Bisiknya datar.

Sial.

"..." Hinata merutuk. Ia lupa kenyataan itu.

"Ingatkan aku saat kau bersikeras memintaku menyetujui hal yang sama." Naruto kembali membelai sisi wajah Hinata.

Benar-benar sialan!

"Untuk tidak ikut campur ?" Naruto kembali mendekatkan wajahnya.

"Tidak peduli dengan siapa aku pergi hm.." Rasanya Hinata ingin menggali lubang dan mengubur dirinya hidup-hidup saat ini juga.

Dan Naruto menikmati setiap perubahan wajah Hinata yang sekarang memerah namun penuh kekesalan.

"Tapi kau benar sayang.." Naruto kembali menelusup pipi Hinata dan berbisik ditelinga gadis itu yang saat ini masih kehilangan perkataannya. "Akulah yang mengikutimu.. Disini."

Hinata mengernyit.

"Kau tau.. Aku tidak suka dibantah. Dan kau sengaja melakukan itu!"

Ya. Ingatkan Naruto dengan kejadian hangat sebelum ini dimana ia ditinggalkan begitu saja ditempat parkir!

Sendirian. Dengan harga diri terinjak.

Tentu saja! Kau pikir orang-orang disana tidak akan menggosipkan dirinya eh?

Naruto tentu tidak ingin mendengar berita murahan tentang dirinya yang dicampakan oleh istri yang baru ia nikahi yang malah memilih pergi bersama pria lain dibandingkan dengan dirinya sendiri.

Cih!

"Tapi itu bukan tanpa alasan.."

"Apa maksudmu?" Hinata angkat bicara. Ia tentu ingin tau motif apa dibalik pria ini mengikutinya sampai disini.

"Putuskan hubunganmu dengan bocah itu."

"Tidak bisa! Hubungan kami baru resmi sehari sebelum kau menghancurkan segalanya!"

"Jika kau tidak bisa melakukannya. Maka aku bisa." Naruto menyeringai lebar.

Hinata ikut menyeringai.

"Jangan bodoh. Dia sudah mengira kau itu pamanku. Apapun yang kau katakan. Dia tidak akan percaya."

"Oh yeah? Bagaimana jika bukan aku yang mengatakannya hn."

Seringaian Hinata lenyap begitu saja.

"Maksudmu..'

"Kau pikir bocah itu benar-benar serius padamu hm?"

Hinata tidak mengerti kemana pembicaraan ini mengarah. Tapi ia sangat yakin jika Sasuke benar-benar mencintainya.

"Kita buktikan jika kau tidak percaya."

Naruto membawa Hinata kembali ketempat mereka.

Namun dipertengahan langkah mereka terhenti saat Hinata melihat pemandangan menjijikan dimana Sasuke tengah berciuman dengan Ino.

Sejujurnya ia tidak akan percaya begitu saja. Ini semua sudah direncanakan oleh Naruto tentu saja.

Tapi tidak saat ia melihat Sasuke membalas ciuman itu dengan mudahnya.

Astaga. Ini tempat umum. Tapi dia seolah tak peduli.

Menjijikan sekali!

Hinata kembali melangkah dan duduk didepan mereka tanpa mengatakan apa-apa.

Dan hal itu membuat Sasuke terperanjat.

"H-Hinata.."

Naruto duduk menyusul dan menahan seringaiannya.

PLAK!

Namun yang membuatnya terkejut adalah sebuah tamparan yang justru Hinata berikan padanya.

"Puas kau ha?"

Naruto menatap Hinata dan tertawa kecil. Ia sungguh tidak peduli dengan rasa panas dipipinya. Ia justru semakin kagum dengan sikap istrinya yang tidak bisa diprediksi itu. "Hinata ini semua memang bukan.."

PLAKK!!

Kali ini tamparan keras itu melayang kepipi Sasuke dan membuat perkataannya terhenti.

"Tutup mulutmu Uchiha. Aku tidak sudi melihat wajahmu lagi!" Hinata dengan senang hati menyiramkan sisa ramennya kearah Sasuke.

"Dan terimakasih Ino Yamanaka. Kau benar-benar sangat membantu disini.' Hinata menarik Naruto pergi dari tempat itu dan menggerutu kesal.

"Aku tidak peduli berapa banyak kau membayarnya.. Tapi aku tidak suka cara kerja wanitamu." Hinata melemparkan dirinya kekursi mobil Naruto yang empuk. Lalu memejamkan matanya lelah.

"Hn. Setidaknya kau tau dia bocah bajingan."

"Berisik! Aku bahkan tidak peduli seberapa banyak wanita lain yang dia kencani dibelakangku selagi aku tidak melihatnya langsung!" Hinata memijat pangkal hidungnya sesaat.

"Itu menjijikan." Lanjutnya nyinyir.

Setelah itu tidak ada percakapan. Naruto membiarkan Hinata tertidur dikursinya.

Ia tahu gadis itu masih kelaparan.

Dengan itu setibanya di apartemen Naruto membuatkannya Stake lada hitam dan Nasi kare.

Hidup sendiri membuatnya terbiasa melakukan segala halnya sendirian. Termasuk memasak.

Dan ia senang melihat masakannya dinikmati Hinata.

Mereka kini terduduk disofa sembari menonton televisi.

"Besok kau harus mulai lakukan tugasmu sebagai seorang istri."

Hinata memutar bola matanya bosan.

"Tidakkah kau berpikir rasional. Tidak ada keuntungan sedikitpun untukku!"

"Tidak. Kau pikir orang bodoh bisa pintar dengan sendirinya hn?"

Hinata mengernyit tidak mengerti maksud perkataan Naruto kali ini.

"Jangan berbelit-belit aku tidak suka berpikir!"

"Tentu saja bodoh. Kau hanya harus belajar untuk bisa menjadi sosok wanita yang sebenarnya."

"Cih.. Dia pikir aku wanita seperti apa." Hinata menggerutu tidak terima dan mendapati hadiah sentilan didahinya dari Naruto.

"Hentikan itu brengsek! Kau pikir itu tidak sakit apa.."

Naruto mengabaikan ocehan Hinata dan mengambil alat tulis untuk gadis itu lalu melemparkannya kearah Hinata dan membuat gadis itu kembali menggerutu.

"Tulis semua yang kukatakan."

"Apa-apaan kau ini! Seakan penting saja."

"Lakukan saja jangan banyak bicara!"

Hinata mendengus tidak suka dan mulai menuliskan apapun yang keluar dari mulut Naruto yang saat ini berjalan bulak balik didepannya seperti guru pengawasnya dulu.

"Pertama. Kau harus bangun lebih awal dariku. Dan buatkan aku kopi."

"Lalu setelah itu kau boleh membangunkanku. Tapi ingat! Jangan sampai aku terbangun dan kau belum melakukan pekerjaan itu mengerti!" Hinata memutar matanya malas. "Memangnya kau biasa bangun jam berapa eh?!"

"Pertanyaan yang bagus! Aku biasanya bangun pukul 5 pagi."

"APA?!" Hinata melotot tidak percaya.

"Yang benar saja! Aku tidak bisa bangun sepagi itu!"

Naruto mengangkat bahunya acuh. "Hn. Aku tidak peduli."

"Tsk. Sialan."

"Lanjutkan! Setelah itu kau siapkan air hangat untukku mandi. Dan siapkan juga pakaianku."

"Lalu buatkan sarapan untukku."

"Setelah itu baru kau bersihkan semua ruangan di apartemen ini. Setelah itu kau boleh bersantai."

"Satu lagi! Kau harus datang kekantorku sebelum jam makan siang. Dan jangan lupa bawakan aku makanan yang kau buat. Garis bawahi! Makanan. Yang. Kau. buat!" Naruto menekan setiap perkataannya yang membuat Hinata jengah.

"Dan oh! Kau harus selalu menyambutku didepan pintu saat aku pulang. Darimanapun. Dan kapanpun. Mengerti!"

Hinata melempar alat tulis yang barusaja ia gunakan dengan marah.

"Semuanya tentangmu! Buatkan ini. Buatkan itu. Siapkan ini. Siapkan itu! Ini semua tidak adil sialan!"

"Mana bagianku! Semuanya hanya ada kerugian yang ku dapat!"

"Hn. Itu semua tugas seorang istri asal kau tau. Dan tugasku tidak perlu kau atur. Aku akan melakukannya sebelum kau sadari itu."

Hinata memutar matanya kembali.

"Itu tetap tidak adil! Kenapa kau atur-atur aku dan memerintahku sesuka hatimu sementara aku bahkan tidak boleh melakukan apapun selain menurutimu!"

"Hn. Kau itu bocah. Tidak akan mengerti jika tak kuberi tau lebih dulu."

Ya. Benar.

Hinata hanya mendengus tidak terima.

"Jika kau tidak mau melakukan semua itu.. Hanya satu yang perlu kau lakukan."

"Apapun itu akan kulakukan! Aku tidak sudi jadi pelayanmu!'

"Kau yakin?'

"Tentu saja."

"Baiklah. Kau hanya perlu tidur dan bercinta denganku. Mulai malam ini. Dan seterusnya."

Hinata mengatupkan mulutnya yang terbuka.

'Najis!'

"Jangan bermimpi! Lebih baik aku menjadi pelayanmu daripada harus melayanimu diranjang!" Hinata bergidik. Ia tentu tidak ingin membayangkan dirinya bersama pria itu tidur telanjang. Tapi sayangnya justru bayangan itu telah menghampirinya begitu saja.

"Arrhh!! Itu tidak mungkin!" Hinata memicingkan matanya kearah Naruto yang saat ini tengah menyeringai.

"Baiklah. Tapi jangan pernah menyentuhku! Apapun yang terjadi!"

"Hn." Naruto hanya menjawabnya dengan konsonan khasnya.

'Tapi aku tidak janji.' Lanjutnya dalam hati.

Dan dimulailah perubahan kehidupan mereka yang sesungguhnya disini.

Oh ya ada yang bilang cerita ini kyk fim perfect husband. Saya tidak tau dimana letak kemiripanya karena saya sndiri tidak pernah mnonton film tersebut. Saya hanya mengikuti alur imajinasi saya sendiri. Dan oh ya setelah membaca ripiu km. Rasanya kenapa ya saya g kasih judul yg sama difenfik ini. Karena sungguh itu sangat menggambarkan cerita ini sebenarnya. Well,saya memberi judul fenfik ini ngasal bgt. Jd g tau dimana letak cause i love u nya haha..

Lalu buat yg riquest agar narutonya g dibikin melo krna cinta cemburu sama hinata. Tenang ajaa.. Saya jg tidak ingin Naruto terlihat tidak keren. tentu saya akan buat dia melow dengan karakternya sendiri. Dan tunggu saja ya saat itu tiba.

Lalu terimakasih buat semua peripiuFollwfavs yang mengikuti cerita absurd ini. Terimakasih buat saran dan respon kalian semua. Saya sangat menghargainya.

Maafkan jika setiap chapternya masih kurang memuaskan. Saya tidak bisa mengetik banyak-banyak karena saya membuat ini diaplikasinya. Dan kalo kebanyakan words nya suka jd leg hp saya. :')