Mingyu memandang jengah layar laptopnya. Menampilkan lembar berisi skenario proyek film terbaru nya. Syutingnya tiga hari lagi. Dan Mingyu merasa kesal.
Bagaimana bisa kakaknya memproduksi film terus-menerus tanpa henti? Dan kenapa juga harus ia yang selalu jadi aktor nya?
Tapi kemudian, Mingyu membuang jauh-jauh kekesalannya. Ketika ia melihat foto yang dikirimkan kakaknya semalam. Foto pemuda yang kemarin di lihat nya di pemakaman.
Well, itu bukan pertemuan pertama yang bagus. Dan lagi, mereka bukan bertemu, hanya kebetulan berada di tempat yang sama.
Mingyu meraih ponselnya, menatap kembali foto itu. Ia tersenyum lebar seperti orang idiot.
Sebenarnya, Mingyu sendiri tak tahu orientasi seksual nya itu homo atau hetero, menjadi bintang gay bukan berarti dia juga berbelok.
Mingyu lagi-lagi tersenyum idiot, kali ini dia menatap layar laptopnya. Membayangkan ia dan pemuda dalam foto itu akan memerankan skenario gila yang dikirim kakaknya itu.
Mingyu merasa jantungnya berdegup kencang dan napasnya mulai sesak. Ia melirik kebawah, selangkangan nya menggembung.
Luar biasa, hanya dengan bayangan saja ia sudah horny.
"Oh fuck, hormon sialan!"
Mau tak mau, Mingyu bangkit dan masuk kamar mandi. Sialnya, ia tak tahu siapa nama pemuda itu.
Tiga hari berlalu dengan cepat. Mingyu mendengus sambil memegangi lembar skenario nya. Kaki-kakinya yang panjang melangkah menyusuri lorong, masuk ke lift dan naik ke lantai tiga. Setengah tahun bekerja, membuatnya terbiasa di rumah produksi itu.
Beberapa menit setelahnya, Mingyu keluar. Ia melirik lagi lembar skenario di tangannya. Tiba-tiba ia merasa gugup. Mengingat siapa yang akan menjadi lawan mainnya.
Ayolah Kim Mingyu, ini bukan debutmu.
"Hoho! Bintang kita sudah datang!" Suara ceria kakaknya menyambut kedatangan Mingyu begitu pemuda itu membuka pintu studio.
Para kru berlalu lalang menyiapkan set syuting dan perlengkapan lainnya. Sementara kamera sudah berjajar rapih siap merekam.
Mingyu menghampiri seorang coordi yang biasanya merias wajahnya. Ia mendudukkan dirinya di depan meja rias bercermin besar dengan lampu-lampu tambahan pada bagian bingkainya.
"Apa kabar, Playboy?" Sapa coordi nya, di studio Mingyu memang dipanggil dengan nama panggung nya.
"Just, normal." Pendek Mingyu.
Wanita penata rias itu tersenyum. "Normal condition for an abnormal movie?" Ejek coordi itu.
Mingyu mendengus, Hyuna dan staff nya sama saja, sama-sama hobi mengejek orang.
"Just shut up." Geram Mingyu, jengkel.
Wanita itu tertawa. "Baiklah, mari kita mulai." Wanita itu mulai memoleskan make up ke wajah Mingyu. Sementara pemuda jangkung itu sibuk memainkan ponselnya.
Tiga puluh menit berlalu, dan Mingyu sudah selesai di make up.
"Playboy, ini kostum mu." Seorang staff datang, dan memberikan kantong kertas kepada Mingyu.
Pemuda itu mengangguk paham, lalu bergegas masuk ke ruang ganti. Dalam lima menit, Mingyu sudah selesai dengan kostum nya.
Pakaian tahanan bermotif garis-garis hitam putih dengan sepatu sneakers putih. Baiklah, kita lihat akan seperti apa syuting hari ini.
Coordi yang tadi merias wajah Mingyu kembali datang, dia harus merapihkan dan touch up terakhir untuk penampilan Mingyu.
"Hei, lawan main mu hari ini manis sekali. Errr, bahkan cantik. Aku sampai ingin membawanya pulang." Ucap wanita itu,di iringi tawa di akhir kalimat nya.
Mingyu berdehem. Entah kenapa kesal dengan perkataan coordi itu.
"Hei, Playboy. Kufikir kau akan sangat serasi dengan nya, sepulang syuting, pergilah ajak dia makan malam bersama." Ucap wanita itu lagi.
"Noona, kau cerewet sekali hari ini." Sahut Mingyu, sekenanya.
"Baiklah, kita selesai~"
Mingyu menatap bayangan dirinya di cermin. Tampan, seperti biasanya.
Lima menit lagi syuting di mulai. Dari jauh, Mingyu melihat pemuda itu, yang akan menjadi lawan mainnya.
Sampai kemudian, Mingyu terkejut ketika pemuda itu dan kakaknya menghampiri.
"Ming- Playboy, ini kukenalkan lawan main mu." Ucap Hyuna, menghampiri sambil tangannya menggandeng tangan pemuda itu.
"Ah ya, halo, senang bertemu dengan mu." Mingyu berusaha menyapa senormal mungkin. Tapi jantungnya benar-benar dalam kondisi tidak terkontrol.
"Playboy, ini Beanie, dan Beanie, ini Playboy. Kalian bisa coba saling menyapa dahulu sebelum mulai syuting, kutinggal ya." Dan kemudian Hyuna pergi begitu saja dengan seenaknya, tanpa peduli jantung Mingyu yang serasa mau lepas.
"Halo, Playboy~" sapa pemuda itu sambil tersenyum ramah.
Mingyu menilik pemuda ramping itu dari atas ke bawah. Luar biasa. Pemuda itu mengenakan stelan sipir, dan benar-benar cocok membalut tubuh ramping dan kaki panjangnya.
"Hngg, nama asliku Kim Mingyu, kau boleh memanggil ku Mingyu jika nanti kita berpapasan di luar." Ucap Mingyu, ia bahkan tak sadar bicara apa karena terlalu fokus memperhatikan pemuda di depannya.
"Ah, begitu. Namaku Jeon Wonwoo. Kau boleh memanggil ku Wonwoo, ini adalah film debutku, mohon bantuannya." Lagi-lagi pemuda itu, Wonwoo, memamerkan senyumnya yang manis.
Mingyu mereguk paksa ludahnya sendiri. Otaknya pasti sudah gila, bagaimana bisa dia sudah mulai membayangkan adegan-adegan di film yang akan mereka perankan, ketika syuting bahkan belum dimulai.
"Baiklah." Ucap Mingyu, Kelu.
"Syuting kita mulai! Set ready!" Seruan Hyuna memotong percakapan mereka, dan Wonwoo yang berlari kecil kembali ke tempatnya.
"Scene 1 take 1, Playboy masuk! Start-- action!"
Adegan pertama bermulai dari Mingyu, sebagai seorang tahanan yang duduk sendirian di dalam sel penjara yang sempit. Dengan latar waktu tengah malam.
Mingyu terlihat melamun sendirian, sampai kemudian Wonwoo terlihat berjalan di depan selnya, sepertinya sipir itu sedang melakukan patroli malam. Memeriksa apakah semua tahanan sudah tidur.
Wonwoo melongok kedalam sel Mingyu lewat celah kotak di bagian atas pintu besi itu, ia mengernyit ketika mendapati tahanan di dalamnya belum tertidur.
"Hei, kau! Tahanan nomor 0604! Kenapa kau belum tidur? Kau tahu hukumannya jika kau besok telat bangun saat kegiatan pagi, kan?" Wonwoo bertanya dengan suara nya yang terdengar naik oktaf, memberi kesan membentak.
Alih-alih menjawab, Mingyu justru bangun dari duduknya. Dan menghampiri pintu. Wajahnya sekarang berhadapan dengan Wonwoo.
"Sipir, tadi kulihat ada ular di dalam sel-ku, karena itulah aku tidak bisa tidur." Sahut Mingyu, sambil menunjuk sudut ruangan yang gelap dan terdapat meja berkaki rendah.
"Apa? Ular?" Ulang Wonwoo tak percaya. Bagaimana bisa ada ular di situ. Ini kan bukan hutan.
Mingyu mengangguk. "Kalau tak percaya, masuk dan periksalah." Sahut Mingyu meyakinkan.
Wonwoo awalnya ragu. Tapi kemudian dia membuka pintu sel itu dan masuk kedalam nya.
"Kalau kau berbohong, kau akan dihukum mengosek wc, ya!" Peringat Wonwoo, namun Mingyu hanya menggendikkan bahunya.
Wonwoo berjalan kearah yang ditunjuk Mingyu, ia mengeluarkan dan menyalakan senter kecilnya, lalu membungkuk-agak menungging untuk memeriksa kolong meja.
Mingyu yang berada di belakangnya mereguk ludahnya. Ia diam-diam menutup pintu sel itu.
"Tidak ada apa-apa, dasar pembohong!" Omel Wonwoo kesal, merasa ditipu.
"Tadi ada, aku tak bohong." Sahut Mingyu.
"Halah, jangan-jangan yang kau maksud itu ular mu sendiri, ya?" Tanya Wonwoo, menaikkan sebelah alisnya sambil melirik ke arah selangkangan Mingyu. Dengan tangan yang terlipat di dada.
Mingyu menyeringai. "Kau benar, sipir. Itu adalah ular ku sendiri, mau menangkapnya?" Tanya Mingyu, dengan senyum mesum yang mekar di wajahnya.
Wonwoo merasa terancam, apalagi ketika Mingyu menghampiri dan mendorongnya ke sisi ruangan yang gelap. Membuat sipir manis itu menyandar di dinding dan mengurungnya dengan kedua tangan kokoh itu.
"Minggir, sialan. Kau mau apa hah?" Tanya Wonwoo, mencoba lepas dari tangan-tangan Mingyu.
"Aku hanya mempermudah mu untuk menangkap ular nya, Tuan sipir." Sahut Mingyu, seringainya kian melebar.
Wonwoo merasa pipinya bersemu merah. "Awas, aku mau-mmmphh-"
Kalimat Wonwoo terputus oleh Mingyu yang sudah terlanjur melumat bibirnya. Menciumnya rakus dan menelusupkan lidahnya ke dalam mulut Wonwoo.
Wonwoo mengerang, tangannya bergerak meremas rambut Mingyu, dan secara tak sadar, ia membalas perbuatan Mingyu. Menikmati cumbuan mereka.
"Mnggh- hmmmh~~" lenguhan Wonwoo terdengar, saat tangan nakal Mingyu mengelus bagian selatan nya.
Tahanan tampan itu menggerakkan tangan nya naik turun, memijat penis Wonwoo dengan ritme teratur.
Sejujurnya, Mingyu benar-benar horny dan terbawa perasaan. Hormonnya membuat nya menjadi sangat agresif, lebih dari biasanya.
"Hah. . . Hmmmh- eunghhh~~" Wonwoo mengerang, kali ini tangan Mingyu sudah menggerayangi bokongnya. Meremas-remas dan terkadang menusuk-nusuk anal Wonwoo dengan jarinya.
Mingyu menghentikan ciumannya, membiarkan Wonwoo mengambil nafas sedang dia beralih mengecupi leher mulus itu. Menggigit dan terkadang menghisapnya kuat-kuat. Menghasilkan desahan erotis Wonwoo.
Tangan Mingyu kini menelusup masuk kedalam atasan Wonwoo, mengusap-usap perut ratanya dan memilih putingnya.
"Arggh, tahanan sialan-eunghh~"
Mingyu benar-benar tak tahan. Dengan tidak sabaran ia melucuti celana Wonwoo. Membuat kaki jenjang sipir itu terpampang jelas.
Tapi ketika Mingyu menggenggam penis nya, Wonwoo bereaksi, ia balas menyusupkan tangannya kedalam celana Mingyu, dan mengelus-elus kejantanan Mingyu yang mulai mengeras.
"What a bad officer~" Desis Mingyu, ia kemudian melucuti celana nya sendiri. Dan membiarkan Wonwoo memegang kejantanan nya dengan leluasa.
"Kau tadi mencari ularnya, kan? Sekarang ular itu ada dalam genggaman mu, sipir." Bisik Mingyu di telinga Wonwoo, dengan nada seduktif.
Wonwoo merona. Dia tak tahu harus bagaimana.
"Mau coba rasanya?" Mingyu mendudukkan dirinya di atas meja di sudut ruangan, lalu menarik Wonwoo untuk membungkuk, mengulum penisnya.
Wonwoo menelan ludahnya. Perlahan, ia mengulum organ berbatang itu dan mengemut nya seperti lolipop.
Mingyu mendesah, ia mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur, membuat penis nya keluar masuk di mulut pemuda manis itu.
Wonwoo menatap Mingyu, yang balas menatapnya. Rasanya Mingyu ingin segera memakan Wonwoo yang terlihat begitu polos, padahal mulutnya sedang mengulum penisnya. Benar-benar ironi yang menakjubkan.
Wonwoo menggerakkan kepalanya, mengikuti ritme pinggul Mingyu. Tapi tiba-tiba, Mingyu bergerak rusuh menarik penisnya dan membalik posisi mereka, menjadi Wonwoo yang terduduk di meja. Mingyu menaikkan kedua kaki Wonwoo keatas bahunya, kemudian merunduk untuk menjilati lubang anal Wonwoo yang terlihat rapat dengan rektum berkedut seolah minta di isi.
Mingyu menggerakkan lidahnya menusuk-nusuk lubang Wonwoo dan melumurinya dengan liurnya.
"Anghhh~~ hmmhhh~~" sementara Wonwoo tak henti-hentinya melenguh.
Mingyu menyeringai lebar memandangi wajah horny Wonwoo yang tetap terlihat cantik meski peluh membasahi pelipisnya.
Pemuda jangkung itu menghadapkan panis nya di depan anal Wonwoo, kemudian dengan perlahan memasukannya, membuat Wonwoo meringis saat benda itu menerobos tubuhnya.
"Arghh, hahhh~~"
"Are you ready, sweetheart?" Mingyu lagi-lagi menyeringai mesum.
Tanpa menunggu jawaban Wonwoo, ia mulai menggerakkan pinggulnya. Perlahan-lahan, kemudian dengan tempo yang semakin meningkat.
Sejujurnya, Mingyu merasakan euforia yang meledak-ledak di dalam dirinya seiring gerakan maju-mundur nya menghujam lubang senggama Wonwoo dengan kelewat semangat. Ia benar-benar tak dapat menahan dirinya untuk tidak meracau nikmat ketika penisnya di cengkeram oleh lubang Wonwoo yang semakin mengetat dan seakan menjepit penisnya yang berkedut.
"Akh! Akh! Akh! Moreehhh fasterhhh~~ eunghhh~" dan Wonwoo yang berada di bawah nya benar-benar tak bisa berhenti mendesah dan meringis. Pengalaman pertama nya dan tanpa lube.
Mingyu terus menghentak-hentak pinggulnya semakin cepat. Ia merasa penis nya semakin membesar dan sebentar lagi akan tiba.
"ARGHHH~~"
"Hmmmphh~"
Erangan keduanya terdengar di udara. Mingyu mendongak, menikmati gelombang orgasme nya dan spermanya yang terasa mengucur keluar.
Dan Wonwoo terbelalak, saat sadar kalau Mingyu ternyata tidak pakai kondom dan sperma pemuda itu memenuhi analnya.
"CUT!" Teriak Hyuna, menandakan syuting berakhir, dan para kru mulai berbicara mengenai betapa emosional nya adegan tadi.
Tapi, Mingyu tak peduli. Tanpa aba-aba ia justru membalik tubuh Wonwoo menjadi menungging dan memulai ronde berikutnya.
Perbuatan Mingyu itu membuat seisi studio heboh, terlebih-lebih kakaknya.
"YAK!! SYUTING NYA SUDAH BERAKHIR!"
Mingyu tak mendengar nya, yang Mingyu ingin dengar hanyalah desahan Wonwoo yang terasa erotis di telinganya.
Tbc :)
Ini udah lama sejak terakhir aku nulis Rated :) dan sampe harus ngubek lagi nyari bahan :)
btw yang ini isinya sedikit jadi aku gak mager huhuhu
The servant hapus aja kali ya?
