Hyuna menarik paksa tangan Mingyu meninggalkan studio, bahkan ketika adiknya itu hanya mengenakan bathrobe tanpa dalaman apapun.

Wajah wanita itu memerah menahan kesal. Benar-benar merasa jengkel atas kejadian diluar kendali yang di lakukan Mingyu tadi.

Sebenarnya ia sudah akan menghentikan ronde tambahan yang dilakukan Mingyu, namun sebagian besar kru nya justru melarang dan malah melanjutkan syuting, benar-benar di luar kendali. Sampai Mingyu menyelesaikan ronde tambahan nya.

Perbuatan Mingyu membuat Hyuna malu pada pihak agensi Wonwoo, ia sampai harus meminta maaf berulang-ulang kali agar manajer Wonwoo yang datang bersama pemuda itu tidak menuntutnya atas pelanggaran kontrak.

Well, mereka sudah sepakat untuk syuting sesuai naskah tanpa improvisasi atau tambahan apapun.

Dan, Mingyu mengacaukan nya. Di tambah Hyuna harus membayar ekstra untuk adegan tambahan yang tak terduga itu.

"Duduk, sialan." Suruh Hyuna ketus, ia melipat tangannya di dada dan mengawasi adiknya yang kini duduk di sofa depannya.

Mingyu duduk menyandar, menumpang kan kaki kanannya di atas kaki kirinya, lalu menatap sang kakak tanpa ekspresi bersalah sedikitpun.

"Apa?!" Tanya Mingyu ketus, saat Hyuna terus menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Arghhh!" Hyuna mengacak rambut panjang nya frustasi.

Mingyu berdehem menanggapi nya.

"Bagaimana bisa kau lepas kontrol begitu hah?" Tanya Hyuna akhirnya, mendudukkan dirinya di seberang Mingyu.

Pemuda itu tersenyum miring. "Harus ku akui, yang tadi itu aku terbawa perasaan sampai lepas kontrol. Hormon ku terasa meledak-ledak saat melakukannya." Sahut Mingyu, terdengar seenaknya.

Hyuna mendecih. "Well, mari kita salahkan hormon mu untuk hal itu, lalu kenapa kau tidak pakai kondom, tolol?" Tanya Hyuna lagi. Ia benar-benar tak habis fikir dengan kelakuan Mingyu. Padahal ia sudah menyediakan terkotak-kotak kondom untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.

"Aku lupa." Sahut Mingyu lagi. Cuek.

Hyuna mendengus. "Aku tak tahu kau melakukannya karena hormon mu tak terkendali atau karena punya dendam padaku. Tapi, mari kita buat ini lebih mudah."

Mingyu menaikkan sebelah alisnya, menatap kakaknya dengan pandangan meminta penjelasan.

"Kau istirahat lah dulu selama sebulan penuh, kita mulai lagi saat hormon mu sudah lebih bisa di kendalikan." Putus Hyuna akhirnya.

Mingyu tertawa kecil mendengarnya. "Aku tak bisa janji untuk hal itu." Gumamnya.

Hyuna melotot. "Jangan main-main, bocah sialan!" Hardiknya ketus.

"Baiklah, kalau memang hanya begitu aku permisi dulu, badanku bau sperma." Mingyu bangkit.

Tapi sebelum pergi, ia berucap. "Noona, i hope you'll understand, because he's such a hottie for me." Lalu berkedip jahil ke arah kakaknya.

Hyuna kembali dalam mode fujoshi nya, ia menggerling membalas kedipan adiknya.

"Sebenarnya, aku juga menikmati adegan tambahan itu, kalau saja aku tak harus membayar ekstra untuk melihatnya."

Dan Mingyu benar-benar pergi dari ruangan itu.

Seperti ucapan kakaknya, Mingyu di liburkan selama sebulan. Atau lebih tepatnya vakum. Semua jadwal syuting nya di kosongkan, bahkan fanmeeting pertamanya di batalkan dan menimbulkan protes fans nya di website khusus penggemar.

Dan sekarang, sudah lebih dari seminggu Mingyu mendekam di apartemen nya. Pola kehidupan nya hanya berotasi tentang bermalas-malasan dan mengerjakan pekerjaan rumah.

Mingyu melirik jam dinding yang menunjukkan pukul setengah delapan malam. Ia mendengus, lalu kembali sibuk dengan layar televisi yang sedang menayangkan acara komedi.

Mingyu memeluk sekantong besar kripik jagung, lalu merebahkan tubuhnya di sofa. Berselonjor malas.

Posisinya bertahan selama dua puluh menit sebelum pintu apartemen nya di ketuk, dan bel nya dibunyikan berulang kali.

"Aku datang!" Teriak Mingyu, dengan malas ia bangkit dari sofa malasnya, lalu keluar dari kamarnya. Meninggalkan televisi yang masih menyala dan kripik nya tergeletak begitu saja.

Mingyu membuka nya, lalu mengernyit melihat siapa yang datang.

"Seokmin?"

"Hooo, Mingyu, lihat dirimu. Terakhir kali kita bertemu adalah saat wawancara kerja di perusahaan, aku diterima dan kau tidak. Tapi keadaan mu lebih kaya dariku, jadi apa pekerjaan mu saat ini?" Ucap Seokmin panjang lebar, diakhiri sebuah pertanyaan.

Mingyu mendengus atas ucapan Seokmin yang berbelit-belit seperti kabel telepon di rumah neneknya.

"Aku pengangguran, masuk dulu." Sahut Mingyu, Lalu mpersilahkan Seokmin masuk kedalam apartemen nya, dan duduk di kursi ruang tamu.

"Apa? Menganggur?" Ulang Seokmin tak percaya. Mata nya terbelalak.

Mingyu mengangguk. "Ya, kau lihat sendiri kan? Jadi, apa tujuanmu datang kesini?" Tanya Mingyu, ia sengaja mengalihkan pembicaraan kar tak ingin membicarakan pekerjaan nya.

"Ah, ya benar. Aku ingin mengajakmu pergi ke tempat Junhui, dia mengadakan pesta untuk pertunangan nya." Sahut Seokmin menjelaskan.

Mingyu mengangguk. Ia memang sudah lama tidak berhubungan dengan teman-temannya. Ya, karena ia sibuk syuting dan lain-lain.

"Dimana?" Tanya Mingyu lagi.

"Di Paradise." Sahut Seokmin, di iringi senyum kuda yang kelewat lebar.

"Oke, aku siap-siap dulu." Mingyu masuk kedalam kamarnya, meninggalkan Seokmin di ruang tamu.

Tak sampai sepuluh menit, Mingyu keluar dengan pakaian yang lebih layak di pakai keluar, dari pada training pendek dan kaos oblong yang tadi dipakainya.

Seokmin berdiri. "Baiklah, ayo pergi."

Lalu keduanya meninggal kan unit apartemen itu.

Sekitar setengah jam kemudian, mereka sampai di Paradise club, sebuah bar populer di Seoul yang menjadi tempat berkumpulnya kaum muda untuk bermaksiat.

Ketika Mingyu turun dari mobil bersama Seokmin, samar-samar suara dentuman musik menyapa telinga mereka. Begitu pula bau alkohol dan wanita berpakaian minim berkeliaran di sekitar lokasi. Oh ya, mereka menggunakan Seokmin omong-omong.

Mingyu dan Seokmin berjalan menuju pintu utama. Dan ketika kaki mereka menapaki lantai marmer mengkilap yang tersorot lampu warna-warni itu, musik jauh lebih berdentum dari tadi. Dan alkohol lebih menusuk, jangan lupakan asap nikotin yang melebur bersama oksigen. Juga cekikikan perempuan memenuhi ruangan.

Mereka melewati dance floor di lantai dasar dan naik ke ruang reservasi melalui tangga panjang yang menghubungkan lantai atas.

Pemuda-pemuda tampan itu masuk kedalam ruangan, dan seketika suasana nya berubah. Ruang vip itu jauh lebih tenang dari pada lantai dasar. Setidaknya, juga tidak sepengap tadi.

"Yoooo lihat siapa yang datang!" Seruan familiar itu menyapa pendengaran mereka, dan Junhui selaku pemilik acara datang menghampiri. Menjabat tangan dua pemuda itu satu persatu kemudian menggiring nya menuju sofa yang melingkar dengan meja panjang yang dipenuhi botol-botol minuman keras.

Junhui memperkenalkan mereka pada tunangannya, dan kemudian duduk untuk mengobrol sambil menyesap minuman dan hidangan yang tersedia.

Mingyu mulai bosan ketika dia sudah duduk selama seperempat jam dan tidak ada kegiatan yang berarti, ini lebih seperti acara reuni teman lama.

"Hngg, aku ketoilet sebentar, ya?" Mingyu bangkit, membenarkan kemejanya yang sempat kusut dan meraih coat pendek nya. Mingyu memang sengaja memakai coat karena ini sudah musim gugur dan udara malam cukup membuatnya menggigil.

Mingyu berjalan meninggalkan ruangan itu sambil memakai coatnya, ia berlari ke lantai bawah dan kemudian berbelok masuk ke toilet di bagian dalam.

Tidak sampai lima menit, Mingyu sudah selesai dengan urusan nya. Dia bermaksud untuk kembali ke lantai atas, karena Junhui bilang kalau teman-teman nya yang lain seperti Soonyoung dan Eunwoo juga akan datang.

Tapi langkahnya terhenti ketika ia akan menaiki anak tangga pertama. Mingyu menoleh, dan mendapati pemandangan yang sedikit banyak cukup menarik perhatian di situ.

Seorang pemuda manis yang di teriaki oleh dua orang gadis bermake up tebal dan berpakaian seronok.

"DASAR JALANG! KU PERINGATKAN KAU MENJAUH DARI AYAHKU, SIALAN!" Teriak gadis itu, suaranya menarik perhatian orang-orang di situ dan membuat keadaan agak sedikit hening.

Pemuda yang di teriaki itu hanya terdiam. Tidak merespon apapun.

Mingyu menyandarkan punggungnya ke pilar penyangga tangga, menanti apa yang terjadi selanjutnya.

"Dasar gay tak tahu diri! Berani-beraninya kau menggoda ayahku! Anal mu itu gatal ya, minta di sodok? Sini kusodok kau pakai botol minum, sialan!"

BYURR!

Gadis itu mengguyur si pemuda dengan sebotol wine, beruntung nya dia tidak memecahkan botolnya.

"Hei Yerim, sudahlah, kita jadi bahan pembicaraan, lihat mereka merekam mu!" Teman gadis itu memperingati, tampaknya dia takut melihat orang-orang merekam adegan mereka, tanpa berusaha menghentikan sedikit pun.

Tapi diam-diam, Mingyu melipir memanggil security, karena ia tak ingin terjadi tindak yang lebih jauh.

Sekitar dua menit kembali, keributan tadi belum berhenti, malah tampaknya semakin menjadi. Terlihat dari bekas tamparan yang membekas di pipi mulus pemuda itu.

"Bagaimana tamparan ku, gay sialan? Mau ku tampar lagi? Dasar makhluk murahan menjijikkan!" Ucap gadis itu, dia tidak segan-segan melayangkan tangannya.

Plak!

Tamparan kedua kalinya, dan bertepatan petugas keamanan tempat itu datang menghampiri.

"Hentikan keributan ini! Nona, Anda berdua ikut saya atas tuduhan penyerangan, dan anda Tuan silahkan ikut kami untuk di mintai kesaksian sebagai korban." Ucap salah seorang petugas itu, mereka memegangi tangan gadis-gadis itu.

Pelaku pelabrakan itu berontak minta di lepas, sementara temannya diam karena merasa takut. Mereka di seret pergi dari tempat itu.

Sementara si pemuda, berjalan gontai menuju utama meninggalkan tempat itu.

Mingyu kenal pemuda itu, dia adalah Wonwoo, lawan mainnya tempo hari.

Malam sudah semakin larut, jam di tangan menunjukkan angka hampir sepuluh malam, tapi lalu lalang jalanan Seoul tidak pernah sepi.

Pemuda itu menyusuri trotoar seorang diri dengan kemeja putih yang basah kuyup oleh wine dan tubuh yang mulai menggigil karena terpaan angin musim gugur.

Langkah nya terus melaju, tidak peduli orang-orang yang menatapnya dengan berbagai ekspresi. Tapi kebanyakan, mereka menatapnya dengan pandangan merendahkan.

Ia terbiasa dengan semua itu. Mungkin orang-orang itu berfikir kalau dia adalah orang bodoh yang berjalan-jalan di tengah malam musim gugur dengan pakaian basah.

Tubuhnya tersentak ketika mendengar suara klakson di iringi sebuah mobil yang menepi tak jauh darinya, tapi pura-pura tidak peduli dan lanjut berjalan.

Dari mobil itu, turun pemuda jangkung yang kita kenal, Mingyu.

"Wonwoo, tunggu!" Serunya, menghampiri Wonwoo yang sejak tadi berjalan sendirian menyusuri dinginnya malam.

Wonwoo menoleh. "Play- Mingyu? Ada apa?" Wonwoo menatap pemuda itu dengan penuh tanya. Ia menghentikan langkahnya, dan membiarkan Mingyu berdiri di samping nya.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Mingyu membuka coatnya, dia lalu memakai kan nya pada Wonwoo.

"Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi kau bisa sakit kalau malam-malam berpakaian basah begini." Ucap Mingyu, tangannya bergerak mengancingkan coat nya yang terlihat kebesaran di tubuh kurus Wonwoo.

"Aku sudah sakit, sebenarnya." Cicit Wonwoo dengan suara serak.

Mingyu menatapnya, dia tidak mengerti maksud kalimat Wonwoo. Apa kah Wonwoo mengatakan nya secara konotasi atau denotasi.

"Kalau memang sangat sakit, kau bisa memberi tahu ku dimana sakitnya." Ucap Mingyu akhirnya, setelah beberapa saat hening menerpa keduanya.

Wonwoo menatap Mingyu dengan mata berkaca-kaca, ia terisak pelan sebelum menghambur memeluk Mingyu. Menyembunyikan wajahnya di bahu kokoh Mingyu.

"Rasanya sakit sekali, Mingyu."

Dan Mingyu merasakan kemejanya basah oleh tangisan Wonwoo.

Tbc :)

ciee update lagi uwu