Mingyu masih memeluk pemuda manis itu, mengusap punggungnya sesekali dan mengucapkan beberapa kalimat penenang.
"Tidak apa-apa, Wonwoo. Semuanya akan baik-baik saja." Lirih Mingyu, dalam hati ia bertanya banyak hal.
Tentang siapa Wonwoo sebenarnya, dan berapa banyak luka yang di simpan nya sampai masa ini.
Wonwoo melepas pelukan mereka. Lalu mengangguk pelan. "Terima kasih, Mingyu."
Mingyu tersenyum. "Jadi, apa kau akan membiarkan ku sedikit mendengar kisahmu?" Tanyanya lembut. Mingyu merasa iba.
Wonwoo benar-benar tidak seperti yang ia bayangkan. Wonwoo terlihat baik-baik saja meski dia menyembunyikan banyak luka di balik senyumnya.
Wonwoo menatap Mingyu. Terlihat ragu. Bagaimana mungkin mereka membicarakan hal-hal pribadi sedang mereka hanya bertemu sekali?
"Aku bertanya begitu sebagai teman, Wonwoo. Kau bisa berbagi kepadaku, meski mungkin aku tidak bisa memberi saran yang bagus, setidaknya aku akan meminjamkan bahu ku untuk tangismu." Ucap Mingyu lagi. Ah, Wonwoo benar-benar membuat nya penasaran.
Ia seperti lautan jamrud yang indah, namun menyimpan banyak misteri di dalamnya. Dan Mingyu, ia menyelam lebih dalam.
Wonwoo terdiam. Teman, ya?
Kemudian ia mengangguk, "Baiklah."
Dan Mingyu tersenyum.
Mingyu menghentikan taksi yang mereka tumpangi di apartemen nya. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, tadinya Mingyu bermaksud mengantar Wonwoo pulang, namun Wonwoo menolak dan bersikeras untuk ikut bersama Mingyu. Bahkan memaksa untuk menginap.
Begitu turun, mereka berjalan berdampingan menuju apartemen. Keduanya sama-sama terdiam sampai Mingyu membuka kan pintu unitnya.
Mereka masuk, dan Wonwoo mendudukkan dirinya di sofa ruang tamu. Sementara Mingyu kedapur untuk menyeduh teh lemon hangat.
Lima menit kemudian, keduanya duduk bersebelahan di sofa, dengan seteko kecil teh lemon panas dan dua cangkir, serta setoples kukis vanila.
Keadaan canggung. Tentu saja, mereka baru bertemu sekali, dan sekarang sudah sedekat ini.
"Jadi, kau akan langsung istirahat atau meneruskan cerita mu?" Tanya Mingyu hati-hati, ia tahu mood Wonwoo sedang tidak baik.
Wonwoo menghela nafas berat. Ia memejamkan matanya. Dan detik berikutnya menyandarkan kepalanya di bahu Mingyu.
"I feel worse, Mingyu." Lirih Wonwoo sendu.
Ming bergerak merangkul Wonwoo, melingkari bahu pemuda itu dan menenangkan nya dengan usapan di lengan atasnya.
"Aku akan mendengar kan mu, Wonwoo. Jangan menahannya sendirian." Balas Mingyu, menatap Wonwoo lembut. Mingyu tak pernah melihat tatapan sepilu yang Wonwoo miliki saat ini, dan itu membuat Mingyu ikut merasa sesak.
Seberapa menyakitkan nya luka yang di tanggung Wonwoo?
Wonwoo menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan nya.
"Sebenarnya, aku tidak tahu bagaimana menyebut keadaan ku saat ini." Wonwoo menerawang. Menyusuri ingatannya.
Mingyu menaikkan sebelah alisnya, menunggu kalimat Wonwoo berikutnya.
"Saat usiaku lima belas tahun, ibuku meninggal. Dia sakit keras, di tambah beban mental yang di terima nya begitu berat." Wonwoo memejamkan matanya. Pelupuk matanya terasa memanas.
"Ayahku berselingkuh terang-terangan sejak ibu ku sakit, dia bahkan dengan seenaknya mabuk-mabukan dan membawa selingkuhan nya kerumah. Pada saat itu, kondisi finansial kami benar-benar hancur, karena perusahaan Kakek yang di kelola Ayah hancur tak bersisa dan semua aset kami disita."
"Ayahku mungkin depresi, sampai dia begitu. Kadang-kadang, dia memukuliku kalau sedang marah. Kemudian setelah ibu ku meninggal, Ayahku menikah dengan selingkuhannya." Setetes air mata mengalir membasahi pipi pucat itu. Menganak sungai dengan deras.
Mingyu iba, ini baru setengah jalan cerita Wonwoo, dan hatinya sudah terasa tersayat. Nasib Wonwoo jauh lebih tragis dari dirinya.
"Ayahku mulai kembali bekerja, dia mengambil pekerjaan apa saja yang di tawarkan padanya. Saat Ayahku pergi bekerja, ibu tiri ku sering bertingkah aneh. Dia sering menatapku dengan pandangan penuh nafsu yang membuatku takut." Wonwoo menghela nafas, menyusut air matanya sebelum kembali berkata.
"Sampai suatu hari, dia menyeret ku ke kamar tidur ku, lalu memaksaku untuk melampiaskan nafsunya. Dia memaksaku untuk melakukan seks dan memukuliku dengan gagang sapu kalau aku menolak." Wonwoo menangis. Kepingan memori itu benar-benar membuka lukanya yang belum sembuh.
Mingyu memeluk bahunya erat, kemudian mengusap punggungnya.
"Dia memaksaku berulang kali, dan ketika ayahku memergoki nya, wanita itu bilang kalau aku yang menggoda nya, Ayahku marah besar. Dia menyeret ku dan memukuliku habis-habisan. Aku pingsan, dan ketika aku tersadar, aku berada di tempat asing. Ternyata, Ayahku menjualku pada seorang germo. Dan membuatku di perlakuan layaknya budak selama tiga tahun di sebuah rumah bordir."
Mingyu terbelalak. Hatinya pilu mendengar semua kisah Wonwoo. Di rasakan nya dengan jelas tubuh Wonwoo yang bergetar dalam pelukannya.
"Wonwoo, sudah cukup. Kalau kau tidak sanggup, kita tidur saja." Bisik Mingyu, tak sanggup lagi melihat Wonwoo menangis, terlebih-lebih kisahnya yang luar biasa menyakitkan. Tapi Wonwoo menggeleng, ia benar-benar ingin menuntaskan segalanya, semua rasa sakit yang selama ini di pendam nya.
"Sampai kemudian, ada seorang pria sesusia ayahku yang datang ke rumah bordir, ia membeli ku dari germo itu, kemudian membawa ku pulang. Dia bilang, dia baru saja kehilangan istrinya. Dan dia tidak bisa menemui wanita lagi, jadi dia mencari laki-laki untuk melampiaskan nafsunya. Aku fikir dia sama kejamnya dengan ayahku, tapi kemudian, dia memperlakukan ku dengan baik. Dia memberiku tempat tinggal dan mencukupi kebutuhan ku. Dia tak pernah menyentuh ku sekali pun, aku merasa menemukan sosok ayah yang sesungguhnya. Sedikit banyak, dia mengobati luka ku. Kami tinggal bersama selama beberapa tahun."
Wonwoo terisak-isak. Sementara Mingyu bergerak menghapus lelehan air mata di pipi pemuda itu.
"Tapi semuanya hancur, saat anak gadisnya memergoki ku sedang di dalam mobil bersama nya. Dan yah, kau tahu gadis itu adalah yang melabrak ku tadi di Paradise." Wonwoo mengakhiri kisahnya. Menyandarkan kepalanya di dada pemuda jangkung yang memeluk bahunya.
"Tapi, kenapa kau membiarkan gadis itu menyakiti mu?" Tanya Mingyu, masih tidak terima Wonwoo menerima perlakuan menyakitkan terlebih dengan semua luka yang di tanggung nya.
"Kau lucu, Mingyu. Aku yang menyakiti gadis itu, sudah sepantasnya dia marah. Aku merebut perhatian Ayahnya, sementara dia bilang ayahnya sering tidak pulang dan selalu mengabaikannya." Wonwoo tersenyum tipis, terlihat dipaksakan.
Mingyu menggeleng. "Kau tidak seperti itu, Wonwoo. Ini bukan salah mu, kau juga korban disini." Mingyu merapihkan poni Wonwoo yang berantakan, lalu menarik tisu dari atas meja dan menghapus peluh dan air mata yang menyatu di wajah Wonwoo.
Wonwoo tersenyum, kali ini lebih tulus. "Terima kasih, Mingyu."
Mingyu tersenyum. Mengusap rambutnya lembut. "Baiklah, cukup ceritanya untuk malam ini. Kita istirahat sekarang, nanti di lanjut lagi. Kita punya banyak waktu untuk di habiskan bersama, tidak perlu terburu-buru. Ini sudah sangat larut."
Keduanya melirik jam dinding yang menunjukkan pukul dua dini hari.
Wonwoo mengangguk. Lalu tanpa sepatah kata pun, Mingyu menggendong Wonwoo ala bridal. Membawanya masuk ke kamar dan merebahkan nya perlahan di kasurnya.
"Aku hanya punya satu ranjang, untuk malam ini, tidak apa kan kalau kita berbagi?" Tanya nya lembut.
Wonwoo mengangguk malu-malu. Lalu Mingyu merebahkan tubuhnya di sebelah Wonwoo.
"Selamat malam~" Mingyu menguap, mematikan lampu lewat saklar dekat ranjang nya, dan jatuh terlelap.
Sementara Wonwoo, diam-diam merona karena tingkah Mingyu.
Yang Mingyu harapkan saat bangun pagi ini adalah; melihat sosok Wonwoo yang sedang bergelung hangat dalam selimut nya dan mentari pagi yang menyorot wajah manis itu. Lalu Mingyu akan diam-diam mengagumi nya.
Tapi, harapan tinggalah harapan. Begitu membuka mata, sisi lain tempat tidurnya kosong, dan dingin. Menandakan tempat itu sudah lama ditinggalkan Wonwoo.
Mingyu tersenyum kecut. Tapi kemudian samar-samar dia mencium aroma dari arah dapur.
Senyum lebarnya kembali terbit. Dengan penuh semangat Mingyu menendang selimut nya lalu bangkit meninggalkan ranjang.
Dan ketika dia sampai di dapur, dilihatnya Wonwoo yang sedang berkutat dengan kegiatan memasak.
Mingyu tersenyum, ia menyandarkan sisi tubuhnya pada pintu kulkas yang lebar. Melihat ada seseorang di apartemen nya pada hari sepagi ini, adalah sebuah momen langka. Terlebih lagi, orang itu sedang memasak untuknya. Dan bagi Mingyu, istimewanya orang itu adalah Wonwoo. Hati pemuda tampan itu menghangat.
"Selamat pagi, Wonwoo." Sapa Mingyu ramah.
Wonwoo menoleh, lalu tersenyum hangat. Ia mematikan kompor dan membawa piring berisi potongan sandwich tuna yang tadi di panggang nya.
"Selamat pagi, Mingyu. Duduklah, aku sudah membuat kan mu sarapan."balas pemuda manis itu, dengan senyum hangat merekah.
Keduanya duduk berhadapan di meja makan Mingyu yang sempit. Hanya cukup untuk dua orang.
"Mimosa?" Mingyu melirik jus jeruk yang berdiri di sebelah piring sandwich nya.
Wonwoo mengangguk. "Supaya segar minum jus di pagi hari." Alasan Wonwoo.
"Baiklah, terima kasih hidangan nya."
Mereka mulai makan dengan tenang. Sesekali terdengar candaan dan komentar Mingyu betapa lezat nya masakan Wonwoo. Padahal itu hanya sandwich tuna.
Setelah makanan mereka habis, mereka bergantian mandi. Awalnya Wonwoo baru kemudian Mingyu.
"Kau mau pulang sekarang?" Tanya Mingyu, setelah selesai berpakaian dan mendapati Wonwoo sedang duduk membaca buletin pagi langganan Mingyu yang biasa di lempar oleh loper ke depan pintunya.
Wonwoo menoleh. Ia tampak berfikir sejenak. Omong-omong, saat ini Wonwoo memakai sweater maroon milik Mingyu, karena bajunya yang kemarin kotor berlumuran wine. Dia tampak menggemaskan karena sweater itu menenggelamkan tubuhnya, apalagi dengan kepala dimiringkan begitu, Wonwoo benar-benar manis.
"Baiklah." Sahut Wonwoo kemudian.
Mingyu mengangguk, dia keluar apartemen lebih dulu, sementara Wonwoo menyusul di belakangnya.
Saat di lift, Mingyu menggenggam tangan Wonwoo. Membuat pemuda itu menatapnya.
"Your hands looks so lonely. Would they like to met mine?" Tanyanya, yang sukses membuat Wonwoo merona sampai ke telinganya.
"You're so cheesy, Mingyu." Balas Wonwoo malu-malu.
Keduanya terdiam, bahkan sampai di dalam mobil. Selama perjalanan tidak ada yang berucap apapun, kecuali Wonwoo yang menunjukkan jalan atau Mingyu yang menanyakan rute.
Sekitar setengah jam, mereka sampai di depan sebuah rumah di kompleks perumahan elit. Berada di kawasan Gangnam.
Mingyu mengamati rumah mewah itu. Terlihat sepi.
"Kau tinggal sendiri di sini?" Tanya Mingyu.
Wonwoo menggeleng. "Tidak, aku berdua dengan nya." Sahut Wonwoo.
Mingyu mengangguk paham.
"Baiklah, aku permisi dulu. Kau mau mampir, Mingyu?"
Mingyu menggeleng. "Aku pulang saja."
Wonwoo melambai, lalu tersenyum hangat. Ia membuka pintu gerbang. Tapi baru selangkah di pekarangan, Mingyu tiba-tiba meneriaki nya.
"Wonwoo apakah lusa kau senggang?"
Wonwoo mengangguk malu-malu.
"Aku akan menjemput mu lusa." Ucap Mingyu lagi.
Wonwoo mengangguk. Ia kemudian masuk kedalam rumahnya.
Samar-samar, Mingyu melihat seorang pria menyambut kedatangan Wonwoo. Dan Mingyu segera memutar balik mobilnya, pulang.
Tbc :)
