"Ya, Mingyu." Sahut Wonwoo pendek. Diakhiri dengan senyuman manis yang mampu membuat hormon endorfin dalam diri Mingyu meledak-ledak karena luapan euforia yang di dapat nya.

Dengan cepat Mingyu membalas senyum manis Wonwoo dengan senyum kelewat lebarnya. Tangan kanannya meraih tangan Wonwoo, lalu mengecup punggung tangan seputih porselen itu.

"Ah, Wonwoo~ aku bisa mati karena terlalu senang!" Seru Mingyu, girang bukan main. Ia merasa jantungnya berdebar-debar semakin keras dan tanpa sadar darah segar dari hidungnya meleleh, dia mimisan.

Wonwoo terbelalak. Dengan cepat ia menarik berlembar-lembar tisu dan menyusut tetesan darah Mingyu yang mengalir.

"Mingyu, kau berlebihan!" Pekik Wonwoo, panik bukan kepalang.

Tapi Mingyu justru cengengesan. "Aku sudah berusaha menahannya, Wonwoo. Tapi tubuhku bereaksi lebih." Sahut Mingyu, mendongakkan kepalanya dan membiarkan Wonwoo menyumpali salah satu lubang hidungnya dengan buntalan tisu.

Wonwoo mendengus. Diam-diam merasa malu. Baru kali ini dia melihat reaksi yang berlebihan begitu. Menandakan betapa bergejolaknya euforia yang Mingyu alami hanya karena sebuah kata setuju darinya.

"Sebaiknya kau berisitirahat, Mingyu. Mungkin kau kelelahan." Ucap Wonwoo, berusaha menutupi rona merah di pipi nya.

"Ey, aku sama sekali tidak merasa lelah. Aku hanya terlalu senang karena bisa memacari the most sweetest boy in this world." Sahut Mingyu enteng. Dia bangkit dan berjalan menuju sofa di depan tv tanpa merasa bersalah.

"Mingyu!" Wonwoo menunduk. Apa-apaan sebutan Mingyu tadi?

Mingyu terkekeh. Tangannya bergerak menekan remot tv, menyalakan layar 21 inchi itu dan menonton siaran komedi.

Sementara Wonwoo, sibuk membereskan dapur.

"Wonwoo, kau tak perlu mencuci piring nya, kita lakukan saja besok. Ini sudah mulai larut." Ucap Mingyu, ia tidak ingin Wonwoo kedinginan gara-gara mencuci piring di saat hujan deras. Meskipun penghangat ruangan sudah di nyalakan sejak tadi.

Wonwoo menghampiri Mingyu setelah mengeringkan tangannya.

"Terlambat, aku bahkan sudah selesai menyusun nya di rak." Cibir Wonwoo. Mendudukkan dirinya di antara kaki-kaki panjang Mingyu yang berselonjor di sofa.

Mingyu tersenyum. Mengusak helaian surai Wonwoo, kemudian menciumi pelipisnya. Membuat Wonwoo kegelian.

"Mingyu, ih!" Wonwoo berusaha menjauhkan wajahnya dari Mingyu, tapi pemuda jangkung itu justru meraih tubuh kurusnya kedalam pelukan. Kemudian tertawa kecil.

"Mimisan mu sudah berhenti?" Tanya Wonwoo, menghadapkan wajahnya pada Mingyu, dan memeriksa hidung mancung pemuda itu.

"Sudah, sayang~" Sahut Mingyu, berusaha menggoda Wonwoo.

Dan benar saja, rona merah samar-samar merebak di pipi Wonwoo.

Pemuda manis itu menunduk. Sementara Mingyu menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Wonwoo. Menyamankan dagunya di atas bahu pemuda itu.

"Sudah mengantuk, hm?" Tanya Mingyu, tangannya mengusap-usap lengan atas Wonwoo.

Sementara yang di tanya mengangguk. Kemudian menguap sambil mengusap wajahnya perlahan.

"Kalau begitu kita tidur, yuk." Mingyu mematikan tv. Lalu tanpa sepatah kata pun, mengangkat Wonwoo, menggendong nya ala bridal.

"Mingyu!" Wonwoo memekik kaget. Dengan refleks tangannya melingkari leher Mingyu.

"Dengan kecepatan cahaya melaju menuju kasur whussshhh~~" Seru Mingyu, menirukan gaya superhero tontonan anak-anak yang sedang populer.

Wonwoo tertawa karena nya. Sementara Mingyu setengah berlari menuju kamar nya.

Sepuluh menit setelah mereka selesai menyikat gigi dan mencuci wajahnya, keduanya terbaring berhadapan di atas ranjang empuk Mingyu, yang malam itu terasa lebih hangat.

Mingyu mendekatkan tubuhnya, kemudian tangannya melingkari pinggang Wonwoo, membawa pemuda itu kedalam pelukannya.

"Good night, sweetheart." Bisik Mingyu, dengan lembut mengecup pucuk kepala Wonwoo.

Membuat pemuda manis itu menyusupkan wajahnya ke dada Mingyu, sambil terpejam Wonwoo bergumam.

"Good night too, Gyu."

Sepulang mengantar Wonwoo, Mingyu mendapati kakaknya di dalam unit apartemen nya. Entah bagaimana caranya wanita itu masuk, padahal Mingyu tak pernah memberitahukan password nya.

"Noona, apa yang kau lakukan disini?" Tanya Mingyu heran, membuka hoodie nya dan menaruh nya asal di sofa. Kemudian duduk mendekati keponakannya yang sedang sibuk mengunyah keripik kentang.

Hyuna menghentikan aktifitas nya menyusun barang-barang Daehan di meja, lalu menatap adiknya sambil berkacak pinggang.

"Aku titip Daehan ya, aku harus pergi ke Thailand selama seminggu kedepan." Ucapnya kemudian.

Mingyu mengerutkan keningnya hendak protes, sebelum Hyuna kembali melanjutkan kalimatnya.

"Tenang saja, hanya untuk dua jam kedepan. Nanti si bajingan itu akan datang menjemput anaknya." Sahut Hyuna ringan. Tangannya bergerak menghampiri anak berumur lima tahun itu, mengganti pakaiannya yang belepotan krim cokelat dan remahan kripik.

Mingyu mengangguk paham, tapi dia mencela kalimat kakaknya.

"Noona, kau harus mulai berhenti memanggil Hyunseung Hyung dengan sebutan bajingan, kurasa." Mingyu melirik kakaknya yang sekarang sedang menyiapkan dot-dot susu Daehan.

Hyuna menggerling. "Dia pantas mendapat sebutan itu."

Mingyu menggeleng cepat. "Bagaimana kalau Daehan menirumu?" Tanya Mingyu lagi.

Hyuna mendengus. "I see, Mingyu." Sahutnya malas.

Wanita itu berjalan cepat dengan kaki-kakinya di balut boots yang tinggi. Menghampiri anaknya, dan duduk di sebelahnya.

"Daehan-ie, dengarkan eomma ya. Hari ini eomma akan pergi ke luar negeri, nanti Daehan-ie akan dijemput Appa dan tinggal di rumah Appa, paham?" Tanyanya, mengusak lembut helaian surai anak itu.

Daehan mengangguk lucu sambil tersenyum memamerkan gigi-gigi susunya yang mungil.

"Iya, eomma." Sahut anak itu.

Hyuna tersenyum. "Pintar." Pujinya.

Hyuna bangkit. "Dua jam lagi Appa akan menjemput, sekarang Daehan-ie bersama Mingyu samchon dulu, ya?" Tanya Hyuna lagi.

Dan lagi-lagi anak manis itu hanya mengangguk mengiyakan ucapan ibunya.

Hyuna meraih dompet nya dan mengeluarkan beberapa lembar uang. Memberikan nya pada Mingyu. "Ini untuk jajan nya, dia belum makan siang, omong-omong. Aku titip padamu ya!"

Setelah mengusap rambut anak nya dan menciumi pipi gembil Daehan, Hyuna menghilang dari balik pintu.

Menyisakan Mingyu dan Daehan yang saling pandang.

"Daehan lapar?" Tanya Mingyu hati-hati. Walaupun sudah dekat dengan Daehan, ia tetap harus bersikap hati-hati, karena Daehan agak keras kepala seperti ibunya.

Bocah lucu berambut jamur itu mengangguk, lalu memamerkan cengirannya. "Hu'um." Sahutnya ceria.

Mingyu mau tak mau mengusak rambut anak itu. Gemas sekali.

"Mau makan apa, hm?" Tanya Mingyu lagi.

Daehan terlihat berfikir. Dia menumpu dagunya dengan telapak tangan, memasang pose berfikir yang menggemaskan.

"Bulgel?" Daehan melirik Mingyu, berharap Mingyu mengerti kata-kata nya yang tercadel-cadel begitu.

Mingyu tertawa. Ia tahu betul kalau biasanya Hyuna tidak pernah membiarkan anak nya makan makanan cepat saji. Dan biasanya juga, Mingyu lah yang diam-diam memberi Daehan makanan cepat saji.

"Siap!" Mingyu memasang pose salute seperti tentara yang akan menjalankan misi. Dan membuat Daehan tergelak dalam tawa.

Mingyu memangku bocah itu. "Sambil menunggu ayah mu datang, kita pergi ke subway, yuk." Ajak Mingyu.

Meraih uang yang tadi diberikan Hyuna dan keluar dari apartemen nya. Kebetulan, seratus meter dari apartemen nya ada sebuah restoran cepat saji yang cukup terkenal.

Saat sedang mengantri makanan untuk Daehan, Mingyu menerima sebuah pesan video, tapi ia tidak langsung memeriksa nya karena id pengirim nya tidak dikenal. Dan lagi pula, tangannya repot membawa nampan penuh berisi makan siang.

Mingyu menghampiri keponakannya yang duduk di dekat jendela. Lalu menyodorkan paket makan siang porsi anak-anak itu, dan membiarkan Daehan makan sendiri.

Mingyu justru sibuk berbalas chat dengan Wonwoo. Pemuda manis yang baru resmi jadi kekasihnya itu mengatakan kalau sore ini dia akan ada pemotretan di Jeju, hanya sekedar memberi informasi supaya Mingyu tidak mencarinya di rumah.

Setelah selesai dengan urusan makan, Mingyu membawa Daehan kembali ke apartemen nya. Dan setengah jam kemudian, ayah dari bocah lucu itu datang.

Mingyu mendapati mantan suami kakaknya itu terlihat lebih tua dari usianya. Rambutnya yang di cat abu-abu membuat kesan tua itu lebih kentara. Tubuhnya yang kurus di balut jas panjang formalnya, sepertinya ia baru pulang dari kantornya. Omong-omong, Hyunseung itu seorang pengacara. Dan dia cukup sibuk dalam bidangnya.

Satu fakta yang miris, Hyunseung biasa menangani perceraian banyak orang, tapi ia justru tidak bisa menghindari perceraian nya sendiri.

Pria itu menggendong Daehan, sementara supirnya menarik kopor dan tas-tas kecil berisi barang-barang anak itu.

"Terima kasih ya, Mingyu." Ucap Hyunseung, sekedar berbasa-basi.

Mingyu mengibaskan tangannya. "Santai saja, Hyung. Lagi pula aku juga senang menjaganya." Sahut Mingyu.

Hyunseung tersenyum. "Dia masih begitu ya?" Tanya Hyunseung lagi.

Mingyu tahu betul siapa yang dimaksud pria itu. Hanya bisa mengangguk mengiyakan dan tersenyum tipis.

Hyunseung menarik nafas. "Yah, mau bagaimana lagi. Tidak ada di antara kita yang bisa menghentikan nya. Aku hanya cemas dia terlibat hal-hal yang membahayakan nya." Ucapnya pria itu lagi, tangannya bergerak merapihkan helaian rambut anaknya.

Mingyu tersenyum canggung. Sebenarnya dia agak kurang nyaman bicara dengan bekas kakak ipar nya ini, karena yah, bagaimana pun mereka tidak pernah dekat, bahkan ketika Hyunseung masih bersama Hyuna.

"Kufikir Noona juga tahu batasan nya, Hyung." Sahut Mingyu.

Hyunseung tersenyum tipis. "Baiklah, aku permisi." Hyunseung berjalan menuju pintu, tapi sebelum itu dia membiarkan Daehan memberi salam pada pamannya.

"Daehan-ie, beri salam pada Mingyu samchon."

Bocah lucu itu melambai-lambai dalam gendongan ayahnya, mulut mungilnya bergumam,

"Dadah, samchon~" berulang kali. Yang dibalas Mingyu dengan lambaian tangan.

Setelah Hyunseung pergi dari apartemen nya, Mingyu pergi masuk kamar mandi. Selain waktu yang semakin petang, Mingyu juga merasa gerah karena hari ini cuaca cukup panas.

Mingyu masuk ke kamar mandi, dan keluar dari sana sekitar dua puluh menit kemudian, dengan tubuh lebih segar dan rambut yang basah.

Mingyu segera berpakaian dan bermaksud mencari makan malam di luar, sekalian minum-minum bersama Seokmin dan teman-temannya. Mereka cukup akrab kembali belakangan ini.

Mingyu meninggalkan apartemen setelah memastikan ponselnya di isi daya, dan dia benar-benar lupa dengan pesan video yang di terima nya siang tadi.

Sekitar pukul tiga pagi, Mingyu terbangun dari tidurnya. Karena ponselnya yang tergeletak di nakas samping kasurnya berdering tiada henti. Membuatnya mau tak mau memeriksa, dan mendapati nomor tak dikenal yang menelfon nya terus menerus. Terhitung ada lima panggilan tak terjawab di log panggilan nya, dari nomor yang sama.

Mingyu menggeram, sambil mengucek matanya yang berat, ia mengangkat panggilan itu.

"Halo?" Suara serak Mingyu terdengar mengudara.

Namun, tidak ada sahutan dari seberang sana. Hanya terdengar suara krasak krusuk mencurigakan yang membuat Mingyu mau tak mau menajamkan pendengarannya.

Tapi beberapa detik kemudian, panggilan terputus. Dan Mingyu mengumpat-ngumpat dalam hati.

Orang kurang kerjaan macam apa yang menelfon dini hari begini?

Kemudian, sekalian memeriksa ponselnya, Mingyu teringat pesan video yang di terima nya kemarin siang. Dan, alangkah terkejutnya ia ketika melihat isinya.

Video berdurasi kurang dari satu menit itu menampilkan kakaknya yang terikat dengan rantai dan tali-tali berwarna hitam, dengan sebuah gag ball menyumpali mulutnya.

Samar-samar Mingyu mendengar isakan Hyuna, "selamatkan aku, tolong."

Mingyu menggeram. Dan dia mendapati sebuah pesan singkat mengiringi video itu. Berisi sebuah alamat dan sebaris kalimat;

"Come and save her, dude."

Tbc

Mingyu bucin banget ya? Sebucin itulah aku pada Wonwoo :" hwhwhwhw

Vomment juseyong~ :3

Buat kalian yang sering baca ff ku pasti gak aneh adegan begini :3 ya ampun otakku :3