Mingyu tidak bisa berfikir apa-apa lagi. Ia merasa fikiran nya berkabut dan dia tidak dapat mempertimbangkan apapun lagi. Dengan begitu serampangan ia turun dari kasurnya.

Menyambar celana jeans longgar dan hoodie abu-abu dari dalam lemarinya, lalu memakainya. Mengabaikan wajah bantal dan rambutnya yang masih acak-acakan karena baru bangun tidur.

Mingyu tidak lagi berfikir panjang. Otaknya hanya di penuhi bayangan kakaknya yang menderita karena di sandera orang.

Terlebih lagi mengingat kalau ia sudah terlambat beberapa jam untuk menjemput kakaknya itu. Mingyu makin tidak karuan.

Pemuda itu meraih kunci mobilnya, keluar dari unit apartemen nya, dan dengan serampangan mengendarai mobil menuju alamat yang terpampang di layar ponselnya.

Wonwoo menatap keluar jendela mobil yang di tumpangi nya. Sementara manajernya duduk di sebelahnya. Di bagian depan, dua orang yang mengaku perwakilan dari perusahaan yang mengontrak Wonwoo duduk bersebelahan.

Mereka akan menuju bandara, karena Wonwoo ada pemotretan di Jeju.

Biasanya, Wonwoo akan berangkat bersama sepuluh orang staff agensi, mengingat ada begitu banyak keperluan yang harus di bawanya.

Tapi kali ini, Wonwoo merasa janggal. Manajernya bilang kalau staff akan menyusul mereka di belakang dengan minibus, sedangkan mereka berangkat lebih dulu karena perbedaan penerbangan.

Ini benar-benar aneh, fikir Wonwoo. Selain itu, sebenarnya Wonwoo merasa agak curiga dengan manajernya. Karena pria itu adalah manajer barunya yang baru mulai bekerja seminggu lalu, karena manajer lama Wonwoo mengundurkan diri.

Wonwoo masih belum percaya pada pria itu.

Wonwoo mengalihkan pandangannya pada dua orang di kursi depan, dua pria itu lebih cocok menjadi tukang pukul dari pada perwakilan perusahaan sebenarnya. Wonwoo sampai bergidik ngeri melihat jambang yang tumbuh lebat di pipi salah satu dari mereka. Sedangkan yang satunya berkepala botak dengan wajah mulus yang tampak mengerikan.

Entah kenapa Wonwoo merasa firasat buruk.

Wonwoo kembali mengamati jalanan. Tapi ia lagi-lagi merasa aneh. Seingatnya, ini jalan yang berbeda dengan yang biasa mereka lalui untuk mencapai bandara.

"Hyung, kau yakin kita tak salah jalan?" Tanya Wonwoo, menatap manajernya itu.

Sementara yang di tatap sibuk menggerak-gerakkan tangannya di layar tablet dalam pangkuannya.

"Tidak, Wonwoo." Sahut pria itu singkat.

Tapi seperempat jam kemudian, Wonwoo tahu kalau pria itu berbohong. Karena dia tiba-tiba saja keluar, dan meninggalkan Wonwoo begitu saja.

Wonwoo berteriak-teriak dalam mobil yang melaju luar biasa kencang itu. Tapi adalah salah seorang pria mirip tukang pukul itu pindah ke kursi belakang, dan menyumpali mulutnya dengan sapu tangan.

Wonwoo merasa air matanya mengalir dan kesadaran nya mulai meredup. Dalam keadaan setengah sadar, bibirnya bergumam.

"Mingyu, tolong aku."

Mingyu menghentikan mobilnya. Di depan sebuah gedung bertingkat dengan sebuah tittle salah satu club malam paling terkenal dan diminati di Seoul.

Dahinya mengernyit, sambil menatapi dari sudut ke sudut gedung itu. Bukankah bangunan itu terlalu mencolok untuk di jadikan tempat penyanderaan? Terlalu terbuka dan mudah di lacak orang-orang.

Dan lagi, orang gila macam apa yang menculik dan menyandera kakaknya itu?

Mingyu melirik jam kecil yang menempel di atas dashboard mobil bersebelahan dengan boneka mungil yang di belinya bersama Wonwoo kemarin.

Omong-omong soal Wonwoo, Mingyu tiba-tiba saja jadi khawatir. Matanya bergerak-gerak gelisah menyapu keluar jendela, menyusuri area parkir tempatnya saat ini.

Haruskah ia turun? Lalu, bagaimana dengan polisi?

Mingyu terdiam. Menyesali kecerobohannya yang berangkat begitu saja. Maka, Mingyu akhirnya mengirim pesan di grup chat agensinya.

Alamat tempatnya berada sekarang dan juga perihal yang terjadi.

Sesaat setelah Mingyu menekan 'send' seseorang mengetuk-ngetuk jendela mobil nya dengan tidak sabaran.

Mingyu menurunkan kaca mobilnya. Dan menatap was-was dua orang pria bertubuh kekar yang berdiri di depan pintu nya.

"Get out!"suruh salah satu di antara mereka. Mingyu mengernyit mendengar bahasa Inggris kaku dengan logat yang aneh itu.

Tapi, ia turun juga. Dia masih kebingungan saat tiba-tiba saja dua orang itu menutup kepalanya dengan sebuah kantong kain hitam dan mengikat tangan nya.

"Hei! Lepas aku sialan!" Teriak Mingyu, berusaha memberontak untuk melepaskan ikatan tangannya.

"Shut up, dude!"

Dan kemudian, Mingyu merasa tubuhnya di dorong-dorong. Dan kakinya berjalan dengan terseret-seret, tubuhnya setengah di angkat oleh dua orang itu.

Mingyu tidak begitu ingat, tapi sepanjang jalan, samar-samar dia mencium asap nikotin dan bau alkohol. Juga terdengar bunyi musik yang berdentum-dentum. Menandakan mereka melewati area club malam.

Dua orang itu membawanya turun ke basement, dan melewati begitu banyak anak tangga yang lebih menurun lagi. Mingyu mengernyit dalam diam. Ruang bawah tanah?

Kemudian, Mingyu merasa kakinya melewati lorong yang panjang dan sempit. Lorong itu terasa berbelok-belok dan dinding-dinding nya begitu dingin saat tangan nya tak sengaja menyentuh. Juga, gelap. Karena ia tak merasakan bias cahaya sedikitpun.

Setelah hampir seperempat jam, dari balik kain hitam yang membungkus matanya, Mingyu melihat cahaya yang menembus kegelapan di sekelilingnya.

Samar-samar ia mendengar suara pintu yang bergeser dan bunyi 'ting' seperti lift tertutup.

Kemudian, ia merasa melewati pintu tersebut, begitu masuk, ia mendengar beberapa orang -sepertinya- yang berbicara dengan bahasa asing.

Terakhir, Mingyu merasa tubuhnya di dorong paksa dan ia tersungkur ke lantai.

Wonwoo membuka matanya, dan ia terbelalak saat menyadari sekujur tubuhnya di ikat dan sebuah choker berantai melingkari leher nya. Badannya terasa sakit dan pegal. Apalagi punggungnya yang di paksa menyandar pada dinding di belakang dan tungkai nya yang di paksa duduk di sudut ruangan itu.

Semuanya remang-remang. Wonwoo paham betul, saat ini dia di culik - di sekap tepatnya. Ia tak asing dengan adegan begini seperti di film-film Hollywood.

Tapi, Wonwoo tak habis pikir seberapa miskin orang yang menyandera nya ini, apa dia tak punya uang untuk membeli lampu? Atau setidaknya beri dia senter agar merasa tidak se-sesak ini di dalam kegelapan.

Melepas fikiran tentang itu, Wonwoo berupaya melepas ikatan tangannya. Ia bergerak-gerak kasar sebisanya. Tak peduli nafasnya tersengal-sengal dan tubuhnya luar biasa lemas.

"Arghh! Lepaskan aku, sialan!" Teriak Wonwoo, menghabiskan sisa tenaganya sampai tenggorokan nya terasa kering.

"Sssttsss. . . Diamlah!" Samar-samar, Wonwoo mendengar isyarat yang menyuruhnya diam itu.

Wonwoo memicingkan mata, diam-diam ia merasa merinding. Takut-takut kalau yang bersuara tadi adalah hantu.

Meskipun gelap, Wonwoo bisa menangkap ada orang lain yang juga di sekap bersama nya di situ. Sepertinya dua atau tiga orang. Dan semua nya laki-laki bertubuh kurus sepertinya. Yang di ikat tak jauh darinya.

"Siapa kau?" Tanya Wonwoo. "Kau bukan hantu, kan?" Lanjutnya lagi.

Terdengar kekehan kecil menyahut. "Bukan. Tenang lah, sia-sia saja kau berontak. Ikatannya terlalu kencang." Balas sebuah suara. Ia berbisik, tapi Wonwoo masih bisa menangkap suaranya dengan jelas.

"Cih, bagaimana bisa tenang di ikat begini?" Sebuah suara menyahut lagi.

"Manusia sialan yang mengikat kita!" Balas suara lainnya.

Wonwoo menarik nafas panjang. Ada sebersit lega yang menghampiri. Setidaknya, ia tidak sendirian di sini.

"Apa kalian tahu kita ada dimana?" Tanya Wonwoo kemudian.

Ketiga pemuda itu terdiam sejenak. Lalu suara lembut yang pertama tadi terdengar lagi. Berbisik mengalun melalui udara.

"Sepertinya ruang bawah tanah." Sahut suara itu.

"Sejak kapan kalian disini?" Tanya Wonwoo lagi. Ia fikir ketiga pemuda itu lebih dulu di sini.

"Beberapa jam yang lalu?" Sahut sebuah suara yang lebih ringan.

"Sepertinya kita di kumpulkan dalam waktu yang berdekatan." Balas seseorang lagi.

Wonwoo pusing rasanya mendengar hanya suara yang saling bersahutan itu, setidaknya ia ingin melihat rupa ketiga orang itu.

Tapi, karena penasaran, Wonwoo akan bertanya satu hal lagi. Dan dia akan menarik kesimpulan dari tiap jawaban itu. Mungkin saja saling berhubungan.

"Apa pekerjaan kalian sebenarnya?" Tanya Wonwoo lagi.

Hening sesaat. Ketiga pemuda itu mungkin merasa kalau Wonwoo terlalu cerewet. Tapi kemudian, suara-suara itu terdengar lagi, saling bersahutan.

"Aku hanya seorang pemilik kafe kecil di Myeongdong."

"Aku pelayan restoran."

"Aku pegawai bank."

Lagi-lagi pusing terasa mendera Wonwoo. Pekerjaan-pekerjaaan itu terlalu random. Dan dia masih belum tahu benang merah yang saling menghubungkan nya.

"Kau sendiri?" Sebuah suara balik bertanya pada Wonwoo, ia tahu itu adalah suara yang sempat menentang ucapan si suara lembut tadi.

"Aktor?" Wonwoo berucap ragu-ragu. Haruskah ia katakan kalau dirinya adalah aktor film porno yang baru debut beberapa Minggu lalu?

Tapi kemudian ia harus menelan kembali semua fikiran itu, saat terdengar suara derap beberapa pasang kaki yang mendekat di iringi derit pintu terbuka, dan lampu yang di nyalakan. Membuat Wonwoo mengecilkan pupil matanya yang tidak siap dengan cahaya yang tiba-tiba menerpa. Ruangan itu terang benderang seketika.

Wonwoo mengernyit, di lihat nya sekitar tiga orang perempuan berwajah oriental yang jangkung. Tubuh ketiganya di balut gaun selutut. Dua diantaranya berwarna putih sedangkan yang di tengah, berambut sebahu bergaun merah.

Mereka bicara dalam bahasa yang tidak di mengerti. Lalu kemudian, salah satu yang bergaun putih keluar. Sedangkan yang satu lagi menarik kursi untuk di duduki gadis bergaun merah itu.

"Halo, para bottom-bottom manis~ lihat betapa seksinya kalian!" Ucap si gaun merah itu, kalimat nya terdengar aneh dengan logat yang asing. Membuat Wonwoo hampir tidak bisa mengerti ucapannya.

Si gaun merah itu mengangkat sebelah kakinya, tumpang kaki dengan pose angkuh yang begitu kentara. Wajah jutek nya di bingkai oleh poni pendek yang membuatnya terlihat seperti ibu tiri dalam dongeng Cinderella.

Wonwoo menatap benci gadis itu, ingin sekali ia meludahi wajah sombong nya. Apa-apaan menculik dan menyekapnya begini? Apa tujuannya?

Tiba-tiba saja sebuah pemikiran terbersit dalam benak Wonwoo, mungkin saja gadis-gadis itu adalah seorang hiperseks yang menculik para lelaki untuk di jadikan pemuas seks nya. Wonwoo bergidik ngeri.

"Hohoi~ lihat, kita punya aktor rookie yang sedang naik daun. Nice to meet you, Beanie." Gadis itu menghampiri Wonwoo, menyadari bahwa pemuda manis itu menatapnya penuh kebencian, di saat sandera yang lain menunduk.

Wonwoo berdecih. "Aku sama sekali tak senang bertemu dengan mu!" Balas Wonwoo ketus. Ia tahu kalau gadis itu mengerti bahasanya, meski pengucapan gadis itu benar-benar payah.

Si gadis menarik seringai. Ia kemudian berbalik, dan kembali duduk di kursinya dengan gaya kelewat menjengkelkan.

Berselang beberapa lama, gadis yang tadi menghilang dibalik pintu itu kembali, kali ini terdengar gedebak gedebuk dan bentakan-bentakan dalam bahasa asing, suara segerombolan laki-laki.

Wonwoo mengernyit. Gadis itu menyandera lebih banyak dari yang di kiranya.

Di belakang gadis tadi, ada sekitar sepuluh orang pria masuk secara bergiliran. Tiga di antaranya dalam keadaan terikat, dengan dua orang masing-masing memegangi tiap-tiap orang yang diikat itu.

Wonwoo paham, mereka yang di ikat adalah sandera sedangkan sisanya adalah anak buah gadis bergaun merah. Mengingat tingkah nya seperti boss.

Wonwoo ingat dua di antara pria-pria kekar itu adalah yang berkomplot dengan manajernya dan menculik nya dengan dalih pemotretan.

Tapi, Wonwoo tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya kala ia melihat salah satu dari pria yang terikat itu, adalah kekasih nya.

Wonwoo tidak bisa menahan suara nya, serta merta ia berteriak meski lehernya terasa tercekat.

"Mingyu!"

Pemilik nama itu menoleh, tatapan mereka bertabrakan dan Wonwoo bisa melihat keterkejutan itu dengan jelas dalam tatapan Mingyu.

Tapi tatapan terkejut itu berubah menjadi tatapan penuh kemarahan.

Dan, hal itu menimbulkan seringan iblis di bibir bergincu tebal milik si gadis bergaun merah itu.

Tbc :)

Kangen gak?