Bandara internasional Bangkok tetap ramai seperti biasanya, meski waktu menunjukkan pukul setengah dua dini hari, tidak menyurutkan kesibukan sama sekali. Orang-orang berlalu lalang dengan terburu-buru sambil menarik koper mereka atau menggandeng pasangan masing-masing.
Dan di antara hiruk pikuk itu, seorang wanita cantik tengah terduduk menyandar di lobby. Setelah menyelesaikan urusan yang sekiranya bisa di selesaikan, Hyuna langsung pergi ke bandara lagi. Keadaan benar-benar kacau. Padahal seharusnya ia rapat dan menyiapkan proyek dengan salah satu rumah produksi mitra bisnisnya, untuk membahas mengenai web series dewasa yang telah mereka rencanakan.
Tapi semuanya kacau, hanya karena penemuan seikat ceri di dalam kamar hotel.
Wanita itu menarik nafas panjang. Tubuhnya kelelahan dan matanya mengantuk. Tapi mana bisa ia tertidur di situasi darurat begini?
Hyuna meraih ponselnya, menatap lesu layar datar ponsel pintar itu, menunggu kabar terbaru dari salah satu pegawai nya. Ia melirik tiket dan paspor yang tergeletak di pangkuannya, penerbangan nya masih lama.
Kemudian, sebuah panggilan masuk.
"Halo? Bagaimana? Dia ada tidak?" Hyuna buru-buru bertanya bahkan ketika orang di sana belum membuka mulut untuk membalas salamnya.
Hyuna terdiam sejenak mendengar balasan dari seberang sana.
"Ck, sudah kuduga. Baiklah, aku pulang sekarang, kemungkinan besok siang aku sampai. Ya, sekarang coba kau minta petugas keamanan apartemen nya untuk memeriksa cctv." balas Hyuna lagi.
Panggilan terputus. Dan wanita itu lagi-lagi menarik nafas panjang. Dengan langkah lesu ia bangkit, menarik kopernya untuk check-in.
"Lakukan perintah ku atau ku ledakkan kepala kalian!"
Wonwoo berjengit dan bergidik ngeri mendengar nya. Menatap wanita bergaun merah itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Lalu kemudian Wonwoo meringis.
"Dia itu psikopat atau bagaimana?" Gumam Wonwoo.
Bukan hanya Wonwoo, orang-orang yang menjadi sandera lainnya pun tak kalah terkejutnya. Ucapan-ucapan dari gadis bergaun merah itu benar-benar di luar ekspektasi.
Lucas menoleh ke arah Jungwoo, yang di balas tatapan penuh nanar dan memohon belas kasihan. Lucas meringis, bagaimana mungkin dia melakukan hal itu pada Jungwoo? Tentu saja dia tak tega.
"Cepat, Lucas Wong! Kau top nya, dan Jungwoo bottom." Lagi-lagi Cherry berucap santai, kali ini bahkan sambil menopang dagu.
Ugh, Wonwoo merasa perutnya mual.
"Kau dengar tidak?!" Bentak Cherry, terlihat mulai naik darah.
"Ti-tidak, aku tak bisa melakukannya." Lucas menunduk.
Di luar dugaan, Cherry bangkit dari duduknya, dan merebut cambuk yang tadi di pegang anak buahnya, kemudian menghampiri Lucas dan mengangkat cambuk nya tinggi-tinggi.
"Ku beri kau satu kesempatan! Cepat!"
"Sekali tidak tetap tidak, sialan!" Balas Lucas, menaikkan oktaf suaranya.
Cherry menyeringai. Ia lalu mengayunkan cambuknya, berkali-kali, di iringi oleh teriakan dan rintihan kesakitan dari Lucas.
Ctar!
Ctar!
Ctar!
Ctar!
Ctar!
"Argh! Henti-hkan. . ." Lucas ambruk, tubuhnya tersungkur di atas lantai beton itu. Sementara Jungwoo di sebelahnya menatap nya ngeri.
"Hah, sial. Seharusnya aku mendapat tontonan menarik, tapi malah harus repot-repot mencambuk orang seperti mu." Cherry menyeka dahinya dengan punggung tangan, mengibaskan cambuk nya lalu melempar nya pada anak buahnya.
Ia kembali melangkah angkuh dan duduk di kursinya, meninggalkan Lucas yang hampir semaput karena cambukan nya.
"Bawa mereka ke pinggir!" Cherry menunjuk Lucas dan Jungwoo, yang kemudian segera di seret menepi oleh anak buahnya.
Wonwoo menatap ngeri Lucas yang terkulai beberapa langkah di sebelahnya. Mengerikan. Wonwoo bahkan dapat melihat dengan jelas daging yang menyembul dan darah yang mengalir dari luka cambuk yang menganga cukup lebar itu. Ugh, rasanya pasti perih dan ngilu sekali.
Cherry kembali sibuk duduk menopang dagu, kali ini salah satu pengawalnya mengipasi nya.
"Hm, sekarang coba kita lihat pertunjukan berikutnya." Gumamnya, ia mengedarkan pandangan. Menatap para sandera nya bergiliran.
Kemudian, sebuah seringai tercipta dan pilihan nya jatuh pada Taeyong dan Ten.
"Ten, kau pasti akan mempersembahkan pertunjukan terbaik untuk teman lama mu ini kan?"
Pemuda yang berdiri satu meter di depannya itu membuang muka. Tak sudi membalas tatapan gadis itu.
"Tidak ada teman yang menculik temannya dan mempermalukan nya seperti ini, Cherry." Balas Ten, dengan suara rendah yang agak serak.
"Jujur saja, kau juga diam-diam suka pada Lee Taeyong, kan?" Cherry mengetuk-ngetuk jarinya di dagu, kemudian menggerling mengejek ke arah Ten yang terdiam kaku di tempatnya.
Taeyong yang merasa nama di sebut-sebut menoleh, menatap bergantian Cherry dan Ten.
Sebenarnya, Taeyong merasa tidak asing pada gadis bergaun merah itu dan pada pemuda kurus yang sekarang berdiri setengah meter di sebelahnya itu. Wajah mereka familiar.
"Kau ingat, Lee Taeyong, perkemahan internasional yang di adakan di Bangkok, lima tahun lalu?" Tanya Cherry. Kali ini menatap Taeyong.
Pemuda dengan wajah bak tokoh webtoon kabur itu terlihat mengingat-ngingat. Kemudian pupil matanya membesar, sebuah ingatan menyeruak dalam ingatan nya.
"Tunggu dulu, itu kalian? Gadis dan pemuda yang ku tolong saat penjelajahan hutan?" Taeyong akhirnya bersuara, bertanya dengan ragu.
Cherry tertawa puas. "Benar. Itu kami. Dan pemuda yang waktu itu kau tolong saat nyaris terperosok ke jurang adalah orang yang saat ini berdiri di sebelah mu."
"Bagaimana Ten, seharusnya kau berterimakasih, aku membantu mu menemukan orang yang kau sukai sejak lama. Bahkan memberi mu kesempatan untuk bercinta dengannya!" Lanjut gadis itu, menyeringai.
Taeyong menatap tajam gadis itu, sementara Ten hanya menunduk kehabisan kata-kata.
"Dan kau tidak tahu terima kasih, gadis sialan!" Balas Taeyong.
"Halah, banyak omong! Sudah cepat lakukan." Sergah Cherry, tak sabaran.
"Tidak, aku tidak akan Sudi melakukannya!" Balas Taeyong.
"Ck, todongkan pistol nya." Cherry melipat tangannya.
Dan beberapa detik berikutnya, Taeyong merasakan sebuah permukaan bulat dan dingin menempel di pelipisnya. Sebuah moncong revolver.
Cherry menarik seringai nya. "Masih, menolak?"
Taeyong memejamkan matanya. "Tidak-"
Tapi sesuatu di luar dugaan terjadi.
"Buka borgolnya, aku akan melakukannya!" Ucap Ten, meski suaranya terdengar bergetar dan serak.
Cherry kembali tertawa. "Buka borgolnya!"
Dan pria yang sejak tadi berdiri di belakang Ten pun bergerak membuka borgol besi dengan warna hot pink itu.
Taeyong melotot, menatap tak percaya ke arah pemuda kurus di samping nya itu.
"Kau gila!" Bentak Taeyong, marah.
"A-aku, aku tidak keberatan, dari pada kau terluka, Taeyong." Balas Ten, mencoba tenang. Setelah borgol nya di lepas, pemuda itu pun melucuti pakaiannya sendiri.
"Ten!" Bentak Taeyong.
"Apa?!" Balas Ten, membentak. Ia menatap Taeyong dengan pandangan penuh luka dan mata memerah menahan air mata yang menggantung di pelupuk matanya.
Taeyong merasa emosinya kian meluap-luap.
"Bagaimana bisa kau merendahkan diri mu begitu? Kau itu jalang atau bagaimana?!" Rahang Taeyong mengeras.
Ten menangis. "Ya! Anggap saja aku jalang! Kau sudah menyelamatkanku, bagaimana bisa aku membiarkan kepala mu di ledakan tepat di depan mata ku?!" Pemuda manis itu berteriak sampai suaranya tercekat dan tenggorokan nya kering.
Semua orang yang ada di situ terdiam. Menunduk, ah kenapa harus penuh drama begini?
"Hei hei~ mau sampai kapan kalian akan berdrama begitu? Aku bahkan tidak menyiapkan skenario nya." Cherry mengibas-ngibaskan tangannya di udara, dengan wajah bosan.
"Dia itu tak punya hati ya?" Gumam Wonwoo, menatap gadis bergaun merah itu penuh kebencian.
Sesaat setelah borgol di yang membelenggu tangan Taeyong juga terlepas, semua pasang mata di sana terbelalak. Tidak percaya dengan apa yang di lakukan oleh pemuda manis yang mengaku teman lama Cherry itu, mereka menganga sambil memperhatikan bagaimana Ten yang dengan serampangan menubruk Taeyong dan menciuminya.
Tapi, ada sepasang mata yang tidak terkejut, justru menatap adegan itu dengan senyum penuh kepuasan.
Yunho memarkir mobilnya di depan gerbang, ia mengernyit heran melihat gerbang dalam keadaan dikunci dan rumah tampak sepi.
Melihat hal itu, sudah dapat di tebak kalau Wonwoo tidak ada di rumah.
Yunho meraih ponselnya, mendial nomor Wonwoo yang ia jadikan panggilan cepat tombol nomor dua di ponselnya.
Tersambung, tapi tidak di angkat. Begitu juga dengan panggilan-panggilan berikutnya. Sebenarnya, Yunho sudah sering mengetahui Wonwoo pergi berhari-hari. Ini sudah dua hari ia tak pulang, tapi masalahnya adalah Wonwoo tak dapat dihubungi dan Yunho tak tahan dengan rasa cemasnya.
Mau tak mau, Yunho memutar kemudi nya, kembali kerumahnya yang lain.
Yunho mendengus, yang di harapkan nya saat pulang ke rumah adalah sambutan yang manis dari anaknya seperti yang Wonwoo lakukan, tapi Yerim bahkan tidak melepas ponselnya dan cekikikan sendiri seperti orang gila di ruang tamu.
"Kau bahkan tidak mau menyapa ayah mu, Jung Yerim?" Sindir Yunho, terang-terangan.
Yerim menoleh, memasang senyum manisnya "Selamat datang, Ayah, tumben tidak berada di tempat baby boy mu." Balas gadis itu.
Yunho menghela nafas panjang. "Sudah berulang kali kukatakan, Wonwoo itu kakak mu, Yerim."
"Ya, ya terserah saja aku tidak peduli."
Yunho menaiki tangga, berjalan menuju kamarnya di lantai dua.
Sementara Yerim mengintip nya dari ujung ruangan, gadis itu tersenyum puas dan kembali duduk di ruang tamu. Menelfon seseorang.
"Bagaimana? Sudah seperti yang kukatakan?" Gadis itu tampak celingukan memastikan tidak ada yang mendengar obrolan nya.
"Hei, kenapa tidak kau dahulukan?" Dahinya mengkerut tak suka.
"Oh, begitu rupanya. Baiklah, tapi kau harus mengirimkan videonya pada ku." Ucap gadis itu lagi. Melipat kakinya dan menyandar di sofa.
"Oke, akan ku telfon lagi nanti." Dia menutup sambungan telepon, lalu tertawa menggelegar seperti nenek sihir.
"Rasakan itu jalang sialan!" Serunya disertai tawa jahat, tanpa sadar kalau Yunho berdiri di belakangnya dengan tatapan mengintimidasi.
"Katakan, siapa yang kau maksud jalang, Jung Yerim?"
Gadis itu menegang di duduknya dan merasakan kulitnya meremang. Dengan ketakutan dia menoleh, dan terkejut mendapati ayahnya sudah berdiri di belakangnya sambil melipat tangan di depan dada.
"A-ayah, aku bisa jelas-" kalimat ketakutan nya terpotong, oleh sinisnya ucapan Yunho,
"Ya, cepat katakan, sebelum aku mengusir mu dari rumah ini!"
Tbc
