Yerim menatap terkejut ke arah Yunho yang saat ini berdiri sambil melipat tangannya, menatap gadis itu dengan pandangan penuh intimidasi.

Tapi tiba-tiba saja gadis itu tersenyum, lalu tertawa hambar. "Siapa lagi? Tentu saja jalang sialan yang merebut Ayah dari ku!" Serunya sambil mengibaskan tangannya.

Yunho memejamkan matanya, rahang nya mengeras dan ingin sekali rasanya menjenggut rambut gadis itu lalu menyeretnya sampai keluar rumah.

Tapi, Yunho masih punya hati. Bagaimanapun gadis di depannya itu adalah anak yang sudah di asuhnya bertahun-tahun.

"Bagus, sekarang kau boleh pergi dari rumah ini." Ucap Yunho, setengah menggeram. Suara nya dalam dan terdengar mengerikan.

Yerim terbelalak. "Ayah mengusir ku demi jalang itu?" Pekiknya histeris.

Yunho mengangguk cepat. "Ya, jadi pergi dari hadapan ku sekarang juga! Aku sudah jengkel padamu sejak lama sebenarnya!"

Yerim menangis. Matanya memerah dengan emosi dia menunjuk-nunjuk wajah ayahnya sambil berteriak serak sampai tenggorokan nya kering,

"Lihat! Ayah jadi begini gara-gara makhluk sialan itu! Ayah sudah tak menyayangi ku! Aku benci Ayah!"

Yunho terdiam. Dia bahkan tak bergeming barang sesenti pun saat gadis itu berbalik arah dan pergi meninggalkan rumah dengan air mata meleleh dan hanya membawa tas tangannya.

Debuman pintu di banting terdengar keras dan Yunho menjamin kalau mungkin pintu eboni nya retak karena bantingan anak gadisnya.

"Percayalah aku juga membenci mu, Jung Yerim." Rutuk Yunho kemudian.

Keadaan ruang penyekapan itu benar-benar canggung. Mereka berdelapan duduk saling berjauhan.

Wonwoo melirik Mingyu yang terlelap di bahunya, kemudian mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Ia meringis saat mengingat kejadian tadi, antara Taeyong dan Ten.

Wonwoo memejamkan matanya, mencoba terlelap. Berharap saat esok terbangun, semua kesialan ini sudah berakhir.

Ruangan rapat itu terlihat suram, wajah-wajah lelah dan kerutan gelisah nampak jelas mendominasi. Sekitar lima belas orang yang tergabung dalam tim produksi, berkumpul untuk merundingkan masalah yang terjadi.

Perkara hilangnya aktor mereka. Ditambah, tadi salah satu agensi juga menelfon menyampaikan kabar, bahwa aktor mereka juga tak ada kabarnya.

Untuk saat ini, Hyuna tak bisa berbuat sembarangan, ia hanya mencoba menutupi masalah ini agar tidak sampai ketelinga penggemar, mengingat mereka sudah tahu biang keladinya.

"Baiklah, selain lima ceri utama, kalian boleh bubar." Ucap Hyuna akhirnya, setelah selama hampir sepuluh menit hening.

Orang-orang yang dimaksud Hyuna bangkit, dan meninggalkan kursi-kursi mereka, menyisakan Hyuna dengan lima orang staff yang tersisa.

Lima orang itu adalah tim inti pendiri 'The Gang of Cherry' termasuk Hyuna sendiri.

"Jadi kita harus bagaimana?" Hyo-rin yang merupakan penulis naskah bertanya, menarik nafas panjang dan menyandarkan punggungnya.

Hyuna bergeming, memijit pelipisnya.

"Sudah jelas kita harus menemui gadis sinting itu, kan?" Kali ini Soyeon yang bicara.

Dua orang yang tersisa saling menatap, lalu mengiyakan pertanyaan Soyeon.

"Kurasa itu benar." Sahut Jina.

"Hyuna, kita harus segera membawa kembali Playboy, kau tau sendiri Cherry itu bagaimana." Yuna yang sejak tadi diam akhirnya bicara juga.

"Tapi, kau tahu, dia pasti mengelak kan?" Hyuna bertanya frustrasi.

Hyorin meneguk kola kalengan nya, "Aku akan hubungi kenalan ku, kau coba bujuk Cherry agar mengirim lokasinya." Ucap gadis itu kemudian.

"Benar, kita harus segera membawa Playboy kembali, Minggu depan dia ada fanmeeting, astaga rasanya kepalaku hampir meledak hanya dengan memikirkannya." Kali ini Jina mengeluh panjang lebar.

"Penggemar akan bertanya-tanya, kalau kita membatalkan nya seminggu sebelum acara dan kita tidak punya alasan yang jelas." Soyeon menyela ketika Hyuna akan buka mulut.

"Arghh aku tahu! Aku juga sudah berulang kali menghubungi nya, tapi tak ada kabar!" Teriak Hyuna.

Ke empat temannya bungkam. Hening menyeruak di antara mereka, hanya detakan jam dinding yang terdengar.

"Kalau kita tidak bisa tanya Cherry, kita masih bisa merayu Melona." Ucap Yuna, tersenyum lebar seakan menemukan harta karun.

Ke empat wanita lainnya di ruangan itu serempak tertawa, lalu mereka bertepuk tangan.

"Ular itu!" Teriak Soyeon setelah tawanya selesai berderai.

"Si tolol bergaun merah itu masih tak sadar kalau dia bersahabat dengan ular!" Timpal Hyorin.

"Bagus, untuk malam ini kita cukupkan sampai di sini, Yuna kau hubungi siluman ular itu secepatnya!" Perintah Hyuna, meraih tasnya lalu beranjak dari duduknya.

Di ikuti oleh ke empat temannya.

Yerim menghentak-hentakan kakinya di trotoar, sambil terus berjalan tak tentu arah. Kesal dan marah.

Dia masih tak habis fikir bagaimana bisa ayahnya mengusir nya dari rumah gara-gara laki-laki itu?

"Jalang sialan! Kubalas kau nanti!"

Ini sudah hari ketiga sejak ia di usir, hari pertama dan kedua, teman-temannya masih mau menampung nya, tapi setelah kedua orang tua mereka tahu kalau ia diusir oleh ayahnya sendiri, mereka justru ikut mengusir Yerim, dengan alasan; kalau ayahnya saja tak sanggup menghadapinya, apalagi kami yang cuma orang lain?

Semalam dan tadi dia masih bisa menginap di hotel, tapi sekarang uangnya sudah habis. Dan Yerim menyalahkan ayahnya yang menyita kartu kredit nya dan mobil mewahnya. Yunho hanya membicarakan Yerim pergi membawa ponselnya dan beberapa lembar uang yang tidak seberapa.

Yerim mendudukkan dirinya di halte, menatap lalu lintas yang ramai sedang fikiran nya kemana-mana.

"Jalang itu padahal sudah ku singkirkan, tapi masih saja membuat kesal." Gumamnya lagi, ia melirik ponselnya yang hampir kehabisan baterai.

Yerim menarik nafas panjang. Melamun. Lalu tiba-tiba ponselnya berdering, sebuah notifikasi masuk.

Melihatnya sekilas, sebelum akhirnya sebuah bohlam bersinar di atas kepalanya secara imajiner.

"Halo?"

"Cepat jemput aku, ada sesuatu yang harus dibicarakan."

"Kita sudah sepakat kan? Kukirim lokasi ku sekarang."

Sambungan terputus, dan ia tersenyum lebar-lebar.

Yunho mencak-mencak, amarahnya memuncak sampai kebun-kebun, sudah tiga hari Wonwoo tak pulang, dia sudah lapor polisi, dan sekarang mencari ke agensi tempat Wonwoo bekerja, tapi yang didapat dia malah di oper kesana kemari, semua orang di agensi itu seakan menghindari nya dan tak mau memberi kejelasan apapun tentang anaknya, padahal sudah jelas Wonwoo terakhir kali pergi untuk pemotretan di Jeju.

"Liat saja, ku tuntut kalian semua! Sampai bangkrut sekalian, bajingan!" Di lempar nya kata-kata kasar itu, lalu masuk kedalam mobil dan menutup pintu nya kencang.

Yunho menstater mobil nya, menginjak pedal gas dan pergi dari tempat itu.

"Heh, bangun!"

Wonwoo merasa kepalanya berat dan kelopak matanya serasa menempel tak bisa dibuka.

"Ada apa?" Dengan serak Wonwoo bertanya, susah payah membuka mata, yang didapat nya adalah roti lapis kemasan beserta sebotol kecil air mineral.

"Makan itu, habis ini giliran mu dengan Playboy." Sahut gadis itu enteng.

Wonwoo seketika melotot mendengar nya. Membuat gadis di depannya itu mengangkat sebelah alisnya.

"Apa?" Tanyanya, bahasa Koreanya benar-benar payah. Bahkan terdengar sangat kaku.

Gadis bergaun hijau muda itu bukan Cherry, tapi Wonwoo ingat kalau gadis itu salah satu dari teman-temannya Cherry.

"Di atap?" Wonwoo bertanya pelan. Dia tidak bisa membayangkan kalau harus seperti Taeyong dan Ten tempo hari. Benar-benar memalukan.

Gadis itu menggeleng cepat. "Ruang khusus." Sahutnya.

Wonwoo menarik nafas, tapi tetap saja dia gelisah. Dia akan disuruh berhubungan badan dan di tonton oleh orang lain. Wonwoo merasa dirinya lebih rendah dari sampah.

Maksudnya, bahkan pelacur saja dibayar untuk melakukannya dan dijaga privasi nya, tapi ini?

Kalau Wonwoo disuruh melakukan hal itu karena tuntutan skenario sih, dia terima saja karena itu memang pekerjaan nya.

Tapi ini berbeda, bung.

Wonwoo menunduk. Mengunyah rotinya dengan tidak semangat.

Mingyu menatap heran ruangan dengan panggung kecil dan tirai merah mirip ruang teater musikal itu, hanya saja ukuran nya sempit dan kursi penonton hanya ada sebanyak sepuluh kursi.

Dia menatap penuh curiga anak buah Cherry yang mondar mandir sambil membawa berbagai macam barang. Mingyu mencuri pandang, dan menatap horor saat menyadari bahwa koper besar di depannya itu berisi sex toys, dan jumlahnya tidak sedikit.

"Apa yang dilakukan orang-orang gila itu, sih?" Gumam Mingyu.

Lalu tiba-tiba dia teringat akan kejadian kemarin lusa, saat Taeyong dan Ten di paksa bersenggama. Jangan-jangan, sekarang giliran nya?

Mingyu bergidik ngeri. Dia menatap sekeliling. Hanya ada dirinya dan para bodyguard bertubuh besar itu.

Tak lama kemudian, Cherry masuk, bersama dua orang temannya yang selalu mengikuti kesana kemari. Seperti biasa, gadis itu mengenakan gaun merah selututnya, dan dua temannya yang satu bergaun hijau sedang satunya bergaun kuning.

"Bagus, mereka terlihat seperti pelangi berjalan, tapi versi menyebalkan." Gerutu Mingyu sinis.

Tapi semua gerutuan Mingyu terhenti begitu saja saat melihat siapa yang diseret di belakang Cherry, itu adalah kekasih nya. Wonwoo.

Rahang Mingyu mengeras melihat Wonwoo diseret-seret begitu, mereka membawa pemuda manis itu menghampiri Mingyu, lalu mendorongnya sampai Wonwoo nyaris tersungkur ke lantai.

"Pelan-pelan sedikit, bajingan!" Bentak Mingyu, dan tentu saja para pria bertubuh besar itu tidak paham kata-katanya. Mereka pergi begitu saja.

Sementara Wonwoo beringsut mendekati Mingyu. Matanya memerah menahan tangis.

"Mingyu, aku takut." Gumam Wonwoo dengan suara serak.

Mingyu meringis, tangannya di borgol, membuat nya sulit untuk merengkuh pemuda itu.

"Maafkan aku Wonwoo, tidak apa-apa. Ada aku disini." Ucapnya.

Wonwoo mengangguk pelan. Menyandarkan kepalanya pada bahu Mingyu.

Orang-orang suruhan Cherry itu sibuk bukan main, mereka bahkan mengeluarkan tiba buah kamera film, entah untuk apa.

Sampai kemudian, semua kegiatan itu terhenti, Mingyu dan Wonwoo di bawa naik ke atas panggung kecil itu, dan lampu sorot mengarah tepat ke mereka.

Cherry dan teman-temannya muncul kembali, tapi kali ini dia membawa seorang lagi. Seorang gadis berpakaian kasual membuntuti mereka dari belakang.

"Wah wah, lihat OTP tersayang ku ini, bukankah mereka sangat serasi? Aku jadi tak sabar melihat penampilan mereka." Oceh Cherry sambil bertepuk tangan.

Tapi bukan itu yang Wonwoo perhatikan, melainkan gadis berpakaian kasual itu.

"Jung Yerim?" Pertanyaan itu sarat akan keterkejutan dan penuh tanya.

Gadis berpakaian kasual itu menghampiri panggung.

"Benar, ini aku. Bagaimana rasanya hidup dalam kurungan, jalang sialan?"

Gadis itu tertawa kencang, tawa yang menggema di teater kecil itu, dan Wonwoo bersumpah, itu adalah tawa paling mengerikan dan menyakitkan yang pernah ia dengar seumur hidup.

Tbc :")

Halo~ bau-bau end sudah mulai tercium~~

Aku cepetin, aku gak tega soalnya kalo Wonwoo kelamaan di sandera :"