"Hyuna?"
Wanita cantik itu terkesiap ketika berhadapan langsung dengan Cherry. Ini diluar rencananya. Ia sama sekali tidak menyangka.
Seharusnya, yang ia temui hanya Melona, si ular licik yang akan berkhianat pada Cherry dan memberi mereka akses untuk membebaskan Mingyu dan Wonwoo. Sebagai imbalan, gadis itu akan dibiarkan berkencan dengan Daniel, kenalan Hyo-rin.
Kening Cherry dan Hyuna sama-sama berkerut. Cherry sendiri sama sekali tidak mengharapkan pertemuan ini, karena dia sedang menghindar dari Hyuna. Tentu saja, dia melanggar perjanjian mereka, begitu juga dengan Hyuna.
Melona, si gadis ular bergaun hijau itu berdehem. "Ekhem, karena sudah sekalian bertemu, kenapa kalian tidak bicara dulu?" Tanyanya.
Cherry dan Hyuna bersamaan menatap gadis itu. Sama sekali tidak paham dengan kondisi saat ini, sedang Hyo-rin tampak kesal.
"Jalang hijau sialan! Kau berbohong ya?!" Bentaknya. Daniel yang berdiri di belakang mereka mencoba menahan Hyo-rin.
Melona tertawa terbahak-bahak. "Aku tidak berbohong. Buktinya kalian sampai disini."
Cherry yang mulai mengerti duduk perkaranya serta merta menjambak rambut gadis bergaun hijau itu.
"Dasar ular, kau mengkhianati ku lagi?!" Bentaknya.
Melona dengan tenang melepas cengkeraman Cherry di rambut nya.
"Aku tidak mengkhianati mu, Cherry. Hanya membantu mu meluruskan semua kesalahan yang terjadi di antara kalian. Aku tak mau kalian terus-menerus menyalahi kesepakatan antara kita. Jadi, selesaikan itu sekarang."
Cherry melotot. Disisi lain Hyuna juga merasa tertipu.
Gadis bergaun merah itu mendengus kasar. Lalu berucap "Ya sudah, kita bicarakan di dalam."
Cherry melengos dan berbalik masuk ke dalam club itu lagi, di ikuti dengan yang lainnya.
Sebelum masuk, Hyo-rin menodongkan telunjuknya tepat ke wajah Melon,
"Awas saja kalau kau mengacau!"
Melona meraih telunjuk itu, dan menurunkan nya. Lalu tersenyum manis, yang terlihat begitu menyebalkan bagi Hyo-rin.
Wonwoo merasa kakinya kebas karena terus berlari, sudah hampir setengah jam mereka berlari. Kaki-kakinya kram karena berlari tanpa pemanasan. Di tambah belakangan ini dia jarang berolahraga.
Tapi Mingyu di depannya masih saja menarik-menyeret tangannya.
"Mingyu, aku capek!" Seru Wonwoo akhirnya. Menghentak pegangan tangan mereka dan membuat Mingyu menghentikan langkahnya.
Pemuda itu menoleh dengan napas tersengal dan mendapati Wonwoo yang terbatuk-batuk karena paru-parunya kehabisan napas.
"Maaf kan aku." Ucap Mingyu, dia meraih tangan Wonwoo lagi. Menggandeng nya lembut dan membawanya duduk di trotoar.
Jalanan benar-benar lenggang. Mingyu berharap ia menemukan telepon umum atau sebuah taksi yang melintas.
Sambil menunggu Wonwoo beristirahat, ia menoleh ke sekeliling.
Sejak keluar dari pintu tadi, mereka berpencar. Sandera lainnya mengambil jalan masing-masing. Dan hanya Mingyu yang pergi berdua dengan Wonwoo.
Mingyu berjalan mondar-mandir, mencoba melihat keadaan. Saat ini ia berharap kalau ada pengendara yang lewat atau ia menemukan telepon umum. Atau apapun yang dapat digunakan untuk meminta bantuan.
Sementara Wonwoo duduk kelelahan dengan kening berpeluh dan nafas yang terengah-engah. Wonwoo memejamkan matanya sejenak, dan ketika ia membuka mata, pandangan nya mengabur dan serasa berkunang-kunang. Sedang tubuhnya terasa semakin lemas.
"Ming-gyu. . ." Lirihnya pelan.
Namun yang membuat Mingyu menoleh bukan suara lirih Wonwoo, melainkan suara berdebum yang terdengar setelah nya.
Bruk!
"Wonwoo!" Kaki-kaki panjang Mingyu berderap menghampiri Wonwoo yang tergolek di trotoar. Tak sadarkan diri.
Dengan panik Mingyu meraih tubuh itu kepelukan nya, lalu menggendong nya.
"Wonwoo, maafkan aku." Mingyu terisak, panik bukan main. Ia kembali berlari, berharap di depan sana terdapat seseorang yang dapat dimintai tolong.
Yunho menarik nafas putus asa. Ia membungkuk lalu meninggalkan kantor polisi. Baru saja menanyakan kabar terbaru mengenai hilangnya Wonwoo. Namun polisi-polisi itu berkata kalau mereka belum mendapat informasi apapun.
Terhitung sudah seminggu Yunho ditinggal anak-anaknya. Wonwoo yang lenyap begitu saja, dan Yerim yang tak pulang-pulang.
Yunho masuk kedalam mobilnya. Sesaat ia terdiam. Mencoba menenangkan dirinya sendiri. Sampai kemudian dering ponsel membuat nya mau tak mau meraih benda persegi itu.
"Ya, selamat malam."
"Ah, baiklah saya mengerti. . . Tentu, tolong kirimkan alamatnya."
"Ah baik, saya akan sampai dalam beberapa puluh menit."
"Ya, sampai nanti."
Sambungan telepon terputus. Yunho lagi-lagi menghela nafas. Fikirannya sedang tak karuan, sampai ia lupa janji pertemuan dengan senior sekaligus rekan bisnisnya. Mau tak mau, ia kembali mengemudikan mobilnya.
Beruntung, Yunho masih mengenakan setelan jas nya.
"Astaga Wonwoo, aku harus bagaimana?" Mingyu terduduk dengan bingung. Sementara Wonwoo tergeletak di pangkuannya. Ia sudah lelah berlari dan yang ditemuinya hanya jalan lenggang dan lampu-lampu jalan.
Sepertinya ini bukan jalan utama, sehingga sepi pengendara.
Mingyu memejamkan matanya. Tubuhnya lelah dan mengantuk. Sementara hatinya gelisah karena Wonwoo tak juga sadar.
Pemuda itu tercenung. Ia kemudian merebahkan Wonwoo di trotoar. Mencoba memberi pertolongan pertama sebisanya.
Mingyu terpaku sejenak. Ia pernah mempelajari ini saat sekolah dulu. Seharusnya berhasil kalau tekniknya benar.
Dengan ragu tangannya terulur untuk melakukan CPR. Mingyu mengigit bibir bawahnya.
Lalu menarik tangannya kembali. Kalau salah ia justru bisa membuat Wonwoo tersedak nafas nya sendiri.
"Arghh ayolah." Ringisnya.
Lagi-lagi dia mengulurkan tangannya. Sampai tiba-tiba, telinganya menegak mendengar suara deru mesin mobil.
Ia menoleh, dan matanya terbelalak melihat sebuah mobil melaju ke arahnya. Mingyu buru-buru bangkit lalu melambaikan tangannya sambil menghampiri mobil itu.
Dua menit kemudian, mobil itu berhenti dan Mingyu cepat-cepat berkata.
"Tolong! Kumohon beri aku tumpangan!"
Seorang pria yang mengendarai mobil itu menatapnya. "Tenanglah. Aku akan menolong mu!" Sahut pria itu. Sambil turun dari mobilnya tanpa mematikan mesin nya.
"Pacarku pingsan, disana!" Ucap Mingyu lagi, ia menunjuk Wonwoo yang tergeletak lima puluh meter di belakangnya.
Pria itu mengikuti arah telunjuk pemuda itu. Dan ketika melihat objek yang ditunjukkan, seketika matanya terbelalak.
"Wonwoo! Astaga anakku!" Jerit pria itu, lalu bergegas berlari memeluk Wonwoo yang masih tak sadarkan diri.
Sekarang, gantian Mingyu yang kebingungan. Dia terpekur sesaat sebelum menyadari kalau yang di depannya adalah Jung Yunho, ayah angkat Wonwoo.
Yunho buru-buru menggendong Wonwoo dan membawanya masuk kedalam mobilnya.
Kemudian dia segera duduk di kursi kemudi.
"Hei! Kau mau ikut tidak?" Seruan Yunho menyadarkan Mingyu dari lamunan nya.
"Iya, iya." Buru-buru Mingyu ikut masuk kedalam mobil. Duduk di kursi belakang bersama Wonwoo, merebahkan kepala Wonwoo di pangkuannya.
Sementara Yunho kembali melajukan mobilnya, putar arah. Tujuannya saat ini hanya lah rumah sakit.
Ruangan itu terasa pengap dan canggung. Enam orang yang duduk mengelilingi meja panjang itu tampak saling lirik satu sama lain. Sementara yang berada paling ujung dan berhadap-hadapan, duduk menegang dengan mulut yang enggan terbuka sejak tadi.
Lalu tiba-tiba terdengar suara cebikan. "Ck, masalah ini tidak akan ketemu titik terang kalau kalian semua hanya membisu seperti patung batu." Ucap Melona, kelewat santai. Entah apa yang membuatnya memiliki keberanian- ralat lebih tepatnya entah apa yang membuatnya bisa bersikap setidak tahu malu begitu.
"Diam kau Medusa." Sergah Hyorin yang duduk di sebelah Daniel. Bersebrangan dengan Melona yang duduk di ujung meja lainnya.
Melona memutar bola matanya. Bukan kali pertama Hyo-rin mengatainya begitu.
Medusa, ular, jalang bersisik, intinya satu, Hyo-rin menyamakan nya dengan reptil melata yang tidak punya kaki dan suka mendesis itu.
"Baiklah. Kita selesaikan ini, aku akan mengatakannya dengan jelas. Aku yang menyuruh Daniel untuk mengorek informasi dari ular hijau itu." Hyuna akhirnya berkata panjang lebar sambil melirik Melona di ujung meja.
Sementara gadis bergaun hijau itu hanya bisa membuang muka saat lagi-lagi dia dikatai ular.
"Ck, aku paham betul kenapa kau begitu. Aku juga mengaku, aku yang menyuruh Jung Yerim untuk mencari informasi tentang aktor baru mu." Balas Cherry akhirnya.
Bagaimana pun, mereka berdua sama-sama melanggar aturan yang mereka buat. Dan sama-sama memegang kartu AS masing-masing. Dengan kata lain, masalahnya akan makin rumit kalau mereka tidak segera meluruskan nya.
"Dia adikku. Makanya aku tidak bisa menyerahkan nya padamu." Ucap Hyuna akhirnya.
Jadi, pada awal Hyuna merintis rumah produksi nya di Thailand, dia bertemu dengan Cherry yang menawarkan diri untuk bermitra, gadis itu sendiri memiliki pamor untuk bidang ini. Dan menjanjikan kalau semuanya akan berjalan mulus dan Hyuna bisa mendapat izin usaha dengan mudah. Bahkan ketika LGBT di Korea masih tabu.
Mereka sepakat; dengan syarat setiap kali Hyuna memproduksi film nya, dia harus membawa aktor-aktor nya untuk live action di depan Cherry. Sebagai bayaran atas usaha gadis itu memperlancar semua urusan.
Biasanya, Hyuna berdalih pada aktor-aktor dari agensi itu bahwa mereka akan syuting lagi untuk versi Thailand. Semuanya berjalan lancar sampai kemudian, Mingyu memulai debutnya. Sudah enam judul rilis dan Hyuna sama sekali tak membawa siapapun ke depan Cherry, dari situ lah masalah ini dimulai.
"Aku tahu. Makanya aku memberi nya makan dengan benar." Sahut Cherry lagi.
Lalu kembali hening. Selain Hyuna dan Cherry, mereka sama sekali tak berani buka mulut. Seakan menjadi penonton dari dialog dua kali wanita dengan posisi paling berkuasa di sana.
Hyo-rin paham betul, Hyuna yang terlibat langsung dengan wanita bergaun merah itu.
Sedangkan Melona cukup tahu diri, secara teknis dia memang temannya Cherry, namun kenyataannya, dia lebih seperti pesuruh yang menjilat ujung gaun merah itu.
"Aku akan lepaskan adikmu." Cherry akhirnya kembali buka mulut, dan dia bangkit dari duduknya.
Ia kemudian berjalan mendahului orang-orang itu, sedangkan yang lainnya mengekor di belakangnya. Hyuna mempercepat langkahnya dan mensejajarkan nya dengan gadis bergaun merah itu.
Mereka berjalan melewati lorong yang panjang dan serasa berkelok-kelok. Dalam hati Hyuna merutuki bagaimana bisa ada labirin di dalam club malam begini?
Mereka berjalan dalam hening, hanya suara ketukan heels yang terdengar menggema di sepanjang lorong itu. Sampai kemudian, mereka berhenti di depan sebuah ruangan dengan dua orang yang berdiri di masing-masing sisi. Menjaga pintu itu.
Cherry bicara dengan bahasanya, meminta bodyguardnya untuk membuka pintu itu. Dan dengan segera di turuti.
"Adikmu ada di dalam." Cherry membiarkan Hyuna masuk lebih dulu.
Namun baru beberapa langkah, Hyuna keluar lagi dengan wajah murka.
"Pembohong sialan! Kau sembunyikan dimana adikku?!" Bentaknya sambil menatap nyalang pada Cherry yang berdiri sambil melipat tangannya.
"Apa maksudmu?!" Cherry bergegas menerobos masuk. Matanya terbelalak sampai hampir keluar melihat ruangan itu kosong melompong seperti hatinya.ups
Dia berteriak-teriak pada para bodyguardnya, dan menunjuk-nunjuk wajah mereka dengan nyalang. Tangannya bahkan beberapa kali bergerak menampar pria-pria kekar itu. Yang hanya bisa berdiri kaku dengan wajah datar.
Hyuna mengusak rambut nya kasar. Sementara Cherry masih mencari dan membuka semua pintu. Sampai kemudian, ketika di toilet, dia menyadari kalau para sandera nya kabur lewat pintu alternatif di bilik paling ujung.
Cherry kembali berteriak-teriak kepada anak buahnya, sekarang bahkan menjambaki teman-temannya.
Mereka semua panik dan kesal. Bagaimanapun ini adalah hal ilegal, ya walaupun secara teknis Cherry dan kawannya yang bersalah, tapi Hyuna dan rekannya juga pasti akan kena getahnya.
Apalagi, saat mereka melihat serombongan mobil polisi berhenti tepat di depan pintu alternatif itu. Dengan suara sirene yang begitu memekakkan telinga.
Tbc :)
