Lorong yang diapit dua dinding putih itu terasa hening. Selain karena waktu menunjukkan pukul dini hari, juga karena itu adalah lorong rumah sakit.
Di dekat ruang gawat darurat, Mingyu mendudukkan dirinya pada kursi-kursi tunggu yang kosong. Sementara Yunho pergi untuk menerima telepon dan mengurus administrasi.
Mingyu memejamkan matanya sejenak. Mengistirahatkan dirinya sebentar. Matanya terasa sangat berat, tapi ia sama sekali tak bisa tidur.
"Namamu Mingyu, kan?" Tanya Yunho, dia baru kembali dari urusan nya.
Mingyu mendongak, lalu mengangguk. Mulutnya terasa kelu karena fikiran nya sedang tak menentu.
"Kau pulanglah, aku tahu kau lelah." Yunho meraih tangan Mingyu, lalu meletakkan beberapa lembar uang di genggamannya.
"Untuk ongkos taksi." Gumam Yunho kemudian. Mingyu mengernyit.
"Tapi Wonwoo-" ucapan Mingyu terpotong oleh gelengan Yunho.
"Aku akan menjaganya, kau harus mengurus dirimu juga, Mingyu." Yunho melirik bayangan Mingyu di kaca jendela ruang rawat Wonwoo.
Membuat Mingyu mengikuti arah pandangnya, dan Mingyu menemukan dirinya sangat kacau. Rambutnya berantakan dan wajahnya terlihat sangat lesu.
Akhirnya, Mingyu mengangguk. "Baiklah, aku permisi dulu." Mingyu membungkuk hormat lalu meninggalkan lorong itu.
Meninggalkan Yunho yang hanya menatap punggungnya lalu duduk kembali di kursi-kursi lobi.
*Seminggu kemudian*
"Kau sudah minum obat mu?" Tanya Mingyu, masuk kedalam ruang rawat Wonwoo dan menemukan pacarnya itu sedang duduk bersandar.
Wonwoo mengangguk. "Aku mau pulang." Gumamnya. Sementara Mingyu hanya membalasnya dengan senyuman.
"Nanti kita pulang, kalau kau sudah benar-benar sehat." Ucap Mingyu kemudian.
Wonwoo mendengus. Sebenarnya, tubuh Wonwoo sudah pulih. Dokter bilang dia hanya sangat kelelahan dan syok. Perawatan selama seminggu sudah cukup sebenarnya, tapi Yunho bersikeras agar anaknya dirawat lebih lama.
Yunho sendiri punya alasan, setidaknya Wonwoo akan aman di rumah sakit. Banyak yang menjaganya, sementara Yunho akhir-akhir ini sibuk mengurusi pekerjaan dan juga tuntutan nya. Ya, Yunho membayar pengacara untuk kasus menghilang nya Wonwoo, atas tuduhan penculikan dan penyekapan.
Sementara Mingyu sendiri, tidak bisa melakukan apa-apa bahkan saat kakaknya ikut terseret. Dia memilih menjaga Wonwoo di rumah sakit, siang maupun malam.
"Mingyu, bagaimana kalau Kakak mu-" belum sempat Wonwoo menyelesaikan kata-katanya, Mingyu sudah lebih dulu menggeleng.
"Itu bukan masalah, Wonwoo. Apapun yang akan menimpanya, itu pasti setimpal dengan perbuatannya." Ucap Mingyu kemudian. Bukannya kejam, tapi mau bagaimana lagi. Masalah ini sudah dibawah ke ranah hukum, sudah terlanjur. Dan Yunho sama sekali tidak ada niatan untuk membatalkan gugatan nya.
Tapi yang jadi masalah bagi Mingyu sekarang adalah, bagaimana cara mengembalikan Wonwoo yang dulu? Wonwoo saat ini terlihat agak menghindari nya. Wonwoo juga terlihat sering melamun.
Mingyu menghela nafas. Dia lalu merogoh saku dalam jaketnya, mengeluarkan dua buku kecil tipis serta dua lembar tiket pesawat.
"Bagaimana?" Mingyu menyodorkannya kehadapan Wonwoo.
Pemuda itu mengernyit bingung. "Apanya?"
Mingyu tersenyum. "Bagaimana kalau kita liburan? Jeju?"
Kernyitan didahi Wonwoo semakin jelas, sama sekali tidak mengerti dengan maksud Mingyu.
"Kau butuh penyegaran, Wonwoo. Bagaimana kalau kita berlibur selama seminggu di Jeju?"
Wonwoo menghela nafas. Lalu mengangguk. "Kau harus bicara dengan Daddy." Tukas Wonwoo akhirnya.
Mingyu mengangguk paham. Lalu mulai memikirkan kata-kata yang tepat untuk meminta izin kepada Yunho.
Yunho baru saja tiba saat dia mendapati Wonwoo yang selesai makan siang. Suster baru saja keluar membawa nampan kosongnya dan sekarang Wonwoo duduk bersandar sementara Mingyu mengupas apel untuk pencuci mulutnya.
"Daddy!" Seru Wonwoo ceria. Dia mengulurkan tangannya, membuat Yunho menghampiri nya lalu memberi sebuah pelukan hangat.
"Dad, kita pulang sore ini, ya?" Pertanyaan Wonwoo itu disambut kerutan di dahi Yunho.
Pria yang selama ini menjadi wali Wonwoo itu tampak tidak senang. "Besok, Wonwoo." Sergah Yunho.
Wonwoo menggeleng cepat. "Sore ini saja, ya? Soalnya aku harus persiapan ke Jeju." Ucap Wonwoo lagi. Menatap ayah angkatnya dengan ekspresi memohon.
Kerutan di dahi Yunho semakin jelas terlihat. Ia kemudian menoleh pada Mingyu, menatap pemuda itu dengan tatapan menuntut. Meminta penjelasan. Sementara yang ditatap menghela nafasnya gugup.
"Mingyu?" Suara berat Yunho terdengar dingin di telinga Mingyu. Sedangkan Wonwoo masih bertahan dengan tatapan memelas nya.
"Ah, itu. . ." Mingyu akhirnya mengeluarkan tiket pesawat yang sejak tadi disembunyikan nya.
"Menurutku Wonwoo butuh penyegaran, agar ia bisa segera pulih dari syok nya paska penyekapan kemarin. Makanya, aku menyiapkan tiket liburan untuk kami berdua ke Jeju." Mingyu mencicit menjelaskan rencananya.
Yunho masih bergeming. Ruangan terasa hening dan itu benar-benar membuat Mingyu serasa duduk di kursi panas quiz 'Who want to be millionaire'. Menanti jawaban Yunho serasa menanti keputusan final dari quiz tersebut.
Setelah dua puluh detik, terdengar Yunho menarik nafas panjang. "Kapan kalian berangkat?"
Mingyu gelagapan. Buru-buru ia menjawab. "Tiga hari lagi."
Yunho menatap Wonwoo, yang masih memberikan tatapan memohon nya. Mengusap sayang rambut anak angkatnya itu. "Daddy akan suruh Paman Shin untuk mengawasi kalian dari jauh." Ucapnya final.
Wonwoo tersenyum lebar, ia lalu menghambur memeluk Yunho. Menyandarkan kepalanya pada perut ayah angkatnya itu. Posisi Yunho yang berdiri sedangkan Wonwoo duduk, memudahkan Yunho untuk mengusap sekali lagi surai anaknya. Betapa Yunho menyayangi Wonwoo seperti benih nya sendiri.
Sementara Mingyu, mau tak mau dia juga tersenyum senang. Walau dalam hati dia sudah bersorak gembira.
Tiga hari, setelah melalui berbagai persiapan termasuk bersaksi untuk pengadilan, disinilah Mingyu membawa Wonwoo. Di sebuah hotel berbintang yang terletak beberapa ratus meter dari bibir pantai.
Pulau Jeju yang dikenal akan keindahan pantainya. Dengan laut biru jernih dan pasir putih di sepanjang pantai. Kelap-kelip lampu juga terasa semarak malam itu.
Mingyu menarik Wonwoo agar bersandar di bahunya. Menikmati keindahan malam dari balkon kamar hotel mereka, berpelukan hangat diatas empuk nya sofa.
"Pemandangan nya indah." Gumam Wonwoo, menikmati detik demi detik yang ada. Sementara kepalanya bersandar pada bahu Mingyu, samar-samar merasa hawa hangat yang berhembus dari nafas Mingyu karena posisi mereka yang tidak berjarak.
"Cuacanya juga cerah, kita tidak salah memilih tanggal." Sahut Mingyu, Wonwoo menyahut mengiyakan.
Lalu mereka terdiam. Menikmati suasana yang ada. Damai, dan hangat terasa menyelimuti mereka. Sedang jantung mereka berdebar seiringan. Menciptakan harmoni yang melebur dengan indahnya malam.
"Wonwoo kau mengantuk?" Mingyu menunduk, untuk melihat ekspresi Wonwoo. Sosok manis yang bergelung dalam dekapannya itu menguap, sementara ujung hidungnya sudah memerah karena kantuk. Mereka memang baru tiba beberapa jam yang lalu, sesaat sebelum makan malam. Wajar saja kalau Wonwoo kelebihan. Terlebih dia baru keluar dari rumah sakit.
Wonwoo mengangguk. "Tapi aku ingin tidur disini, Mingyu." Wonwoo mendongak, hanya untuk memperlihatkan raut menggemaskan nya yang tampak memohon. Seperti anak kucing yang memelas minta di bawa pulang.
Mingyu tersenyum melihat tingkahnya. "Ya, tidurlah sayang. Nanti kugendong kedalam kalau sudah larut." Sahut Mingyu akhirnya.
Wonwoo mengangguk. Nafasnya mulai teratur sedang matanya sudah memejam. Beberapa menit setelahnya, Mingyu merasa bahunya memberat karena Wonwoo sepenuhnya bertumpu padanya. Mingyu mengeratkan pelukan, berusaha menghalau Wonwoo dari angin malam yang berhembus.
Mingyu mengalihkan pandangannya. Langit cerah terpampang di depannya. Bertabur bintang. Indah, dan dia suka suasana nya.
Mingyu diam-diam mengucap syukur, karena sekarang dia bisa menikmati waktu bersama orang yang dicintainya. Walaupun harus melalui masa-masa yang berat, tapi Mingyu tidak menyesal. Karena ia menemukan Wonwoo. Itu sudah lebih dari cukup baginya.
Dan aku harap, juga cukup bagi kita semua. Sampai jumpa!
The end.
