Perjalanan ke Khamr (Bagian Pertama)


Khamr adalah negeri di seberang laut utara Talavara, di sebuah pulau kecil. Yang Mulia Katsuki memang melamar Lady Ochako sekitar dua bulan lalu untuk berbagai tujuan seperti memperkuat bisnis antar negara.

Khamr terkenal sebagai tempat transit teramai. Terdengar sedikit aneh, tapi Ochako adalah seorang Spellcaster. Dia adalah pengguna ilmu hitam yang sudah ahli. Ada rumor menyebutkan dia bahkan bertapa di Kuil selama tiga tahun hanya untuk memperkuat dirinya. Bukan tanpa alasan, Lady Ochako adalah wanita terkuat di Khamr, dan itu berhasil menjadikannya sebagai Kepala Keamanan di Negeri tersebut.

Sejak ia mendapatkan jabatan, Khamr tidak pernah mengalami gangguan. Negeri Khamr berbentuk Republik, pemerintahan dipegang oleh seseorang bernama Shindo Yo. Melihat peluang kerjasama, maka Talavara berniat menjalin hubungan dengan menikahi seorang Spellcaster ternama. Meski Shouto sendiri tidak mengerti dimana daya tarik seorang Spellcaster. Mereka hanya seorang pengguna ilmu hitam, tidak lebih.

"Bagaimana dengan perbekalan?"

"Tidak ada kendala."

Hari ini Shouto bertugas mengantar Yang Mulia Katsuki, pemimpin negaranya menuju Khamr. Denki diberi amanah menjaga istana, sedang Jirou—entahlah. Shouto sendiri jarang berjumpa dengan wanita itu karena kesibukan masing-masing. Lagipula mereka bertiga juga bukan teman akrab.

Perjalanan ke Khamr membutuhkan waktu tiga hari dengan menaiki kapal. Banyak orang menyebut Khamr sebagai Surga Impian semua orang, karena banyak sekali hal yang ditawarkan di sana. Khamr adalah tempat transit paling ramai, jelas saja perubahan seperti itu adalah salah satu fase menuju negeri penuh toleransi. Di sana banyak budaya bercampur, membaur jadi satu. Tidak lagi ada batasan.

"Todoroki, kau bisa beristirahat dulu."

"Aku baik-baik saja."

Seseorang yang menyapanya barusan adalah Iida Tenya, salah seorang saudagar dari Talavara yang telah menjalankan bisnisnya hingga mancanegara. Kapal yang mereka naiki hari ini adalah miliknya. Yang Mulia Katsuki sudah berada di dalam kapal, sedang Shouto masih membantu mengangkut barang bersama yang lain.

"Bukankah kau harus menjaga Yang Mulia? Di sini biar kami saja."

"Mana bisa aku meninggalkan kalian yang kerepotan."

Tenya pernah beberapa kali bertatap muka dengan Shouto. Jika Yang Mulia Katsuki melakukan perjalanan lewat laut, tentu saja. Ada banyak negeri di seberang lautan, Khamr hanyalah salah satunya.

"Aku bisa memanggil Eijiro nanti. Perjalananmu masih panjang, istirahatlah supaya bisa menjaga Yang Mulia."

"Terima kasih untuk itu." jawab Shouto. Ia lalu meninggalkan kru pengangkut barang dan menaiki kapal untuk menyusul Rajanya.

Di atas dek masih sama, banyak orang berlalu lalang menata persediaan. Shouto memilih tempat sepi di ujung, dekat kepala kapal. Menyandarkan tubuhnya yang pegal karena tidak tidur semalaman.

Dia masih penasaran dengan perempuan berambut hijau itu. Shouto enggan mengakui, tetapi ciri-ciri dan tindakannya sama seperti dalam dongeng yang dibawakan oleh ibunya silam. Pedangnya pun masih berbau darah babi hutan yang ia habisi semalam meski sudah dibersihkan dengan air.

Tapi, jika benar ia seorang penyihir, mengapa tidak ada yang menyebutnya? Kenapa orang-orang menganggap mereka hanyalah dongeng belaka?

Layar dinaikkan setelah beberapa menit Shouto berdiam diri. Kapal ini akan segera berlayar menuju Khamr. Tali diikat kuat pada tiang. Jangkar diangkat oleh sekelompok orang.

Shouto berdiri, menengok ke samping, Tenya melambai kepada mereka. Embusan angin yang terasa di helai rambut Shouto menjadi tanda dimulainya perjalanan mereka menuju Khamr. Lautan terbentang luas di hadapan mereka. Cahaya matahari tampak berkilauan saat menimpa permukaan air laut.

Hari ini sangat cerah, tidak ada tanda akan terjadi badai. Tetapi yang harus mereka waspadai di laut selain cuaca dan navigasi, adalah kemungkinan munculnya sekelompok Bajak Laut. Mereka bergerak secara independen dan menjarah kapal saudagar tanpa panjang bulu. Kecuali kapal yang telah berlabuh di Khamr, itu bisa saja terjadi pada kapal yang masih berlayar ini.

"Todoroki, bagaimana kabarmu? Kau semakin tinggi saja sekarang!"

Entah bagaimana orang-orang selalu berhasil mengenal dirinya. Sedangkan ingatan Shouto terbilang buruk dalam mengingat nama atau wajah seseorang. Seorang pria berambut merah jabrik menyapanya kasual tanpa beban.

"Eijiro, aku Kirishima Eijiro. Tenya-san menyuruhku ikut kapal ini untuk bantu-bantu."

"Oh, maaf, Eijiro. Aku terkejut dan hampir tak mengenalimu."

"Tidak apa. Fwah! Perjalanan ke Khamr pasti menyenangkan! Sudah lama aku juga ingin ke sana! Apa kau juga menantikannya, Todoroki?"

"Tidak juga. Aku hanya mengawal Yang Mulia saja."

"Ayolah kawan, kau harus menikmati hidup ini!"

"Akan kuturuti saranmu."

Kirishima Eijiro adalah seorang nelayan yang tinggal di sekitar di pantai Vichna, Talavara. Selain memancing ikan, dia biasanya disewa oleh Tenya.

Seperti diketahui dari negeri Talavara, kebanyakan penduduk bisa menerapkan seni pedang. Eijiro pernah mengikuti pelatihan yang sama dengan Shouto, Denki, dan Jirou. Tetapi ia mengundurkan diri menjadi calon prajurit karena suatu alasan. Shouto juga tidak tahu apa alasan pemuda itu sampai sekarang. Dia terlihat lebih bahagia menjadi seorang nelayan.

"Mau minum? Aku bawa banyak anggur loh."

"Aku tidak minum anggur." tolak Shouto. Eijiro terkikik geli.

"Ayolah, Shouto. Jangan jadi anak baik terus, aku sebal nih."

"Maaf." Shouto sebenarnya tidak enak menolak permintaan teman, tetapi ia sendiri tidak pernah meminum anggur.

"Haha, kau itu lucu sekali! Aku akan ke dapur, akan kupanggil jika makanannya sudah siap!"

"Aku tidak lapar. Apa Yang Mulia yang memintanya?"

"Iya, tadi sebelum naik kapal. Yang Mulia minta babi panggang."

"Begitu. Terima kasih atas kerja kerasmu."

"Aku pergi dulu, ya! Jangan melamun, Todoroki!"


"Lady, apa kau yakin akan menerima ini? Aku tidak bermaksud menghalangi jalan hidupmu, tapi pertimbangkanlah baik-baik. Apa ini yang kau inginkan?"

Interogasi secara rahasia dilakukan oleh Shindo Yo. Di depannya, seorang perempuan berambut cokelat yang tengah duduk di kursi dan menyisir rambut panjangnya hanya terkekeh geli melihat tingkah Shindo.

"Kau seperti bapak-bapak saja, Shindo-sama."

"Ya, habisnya—itu dari Talavara! Kau tidak cemas, Lady Ochako?"

Ochako tersenyum lembut sembari berusaha menyanggul rambutnya yang panjang sepinggang. "Justru karena dia dari Talavara. Negeri yang kuat akan berdampak pada Khamr juga ke depannya."

"Maksudku, apakah kau mencintainya? Ini adalah pernikahan sekali seumur hidup!"

"Shindo-sama." potong Ochako. "Cintaku pada Khamr melebihi segalanya. Aku akan melakukan apapun demi negeri ini."

Rambut panjangnya selesai disanggul, kemudian Ochako membubuhi jepitan rambut sederhana. Tak lupa dengan kalung mutiara di lehernya. Sentuhan akhir berakhir pada sepasang anting emas yang panjang.

Shindo tidak bisa menghentikan Ochako lagi. Wanita itu tidak akan mendengarkannya.

Shindo sudah mengenal Ochako sejak lama, dari kecil. Gadis itu suka sekali bertapa di tempat-tempat aneh. Keluarga Ochako adalah seorang Spellcaster, dan ia sempat dijauhi karena ini.

Spellcaster adalah pengguna ilmu hitam, bersekutu dan melakukan kontrak dengan setan. Meski Shindo tidak pernah bisa melihat makhluk gaib itu. Kabar persuntingan Ochako sebelumnya sangat menggemparkan seisi negeri, tetapi mereka tak menolak keberadaannya lagi. Sekarang Spellcaster yang mereka anggap terkutuk di masa lalu itu justru akan menjadi penyelamat negeri di masa depan. Dia adalah harapan Khamr.

"Kau mau bertapa lagi?"

Ochako tersenyum lembut. "Tidak. Aku akan berjalan kaki memutari Khamr. Aku harus melakukannya agar pernikahanku tak berakhir buruk."

Shindo tidak tahu apakah itu memang tradisi atau budaya dari garis turunan Spellcaster. Memang mereka sering melakukan ritual aneh. Tapi baru kali ini Shindo mendengar bahwa calon pengantin wanita harus memutari pulau sebelum pernikahannya.

Wajar saja, karena kini hanya Ochako lah satu-satunya Spellcaster di Khamr. Anggota keluarganya yang lain tewas dalam peperangan besar sepuluh tahun lalu dengan Talavara. Inilah alasan mengapa Shindo begitu khawatir.

Pernikahan akan dilaksanakan tiga hari lagi, resepsi di Khamr, selanjutnya di Talavara. Sebenarnya, resepsi di Khamr adalah permintaan Ochako sendiri karena seharusnya resepsi hanya dilakukan di tanah kelahiran mempelai laki-laki, tapi katanya itu adat keluarganya. Dan Yang Mulia Katsuki sama sekali tidak keberatan mengabulkan permintaan calon istrinya. Ochako yang sudah berdandan cantik itu lalu membawa sebuah kendi tanah liat bersamanya.

"Aku akan menemanimu. Kau tidak pakai sepatu? Bagaimana jika kakimu terluka?"

"Anda tidak perlu khawatir, Shindo-sama. Saya tidak akan kenapa-kenapa." Ochako mengingatkan Shindo bahwa dia bisa menjaga dirinya sendiri. Karena dia adalah seorang Spellcaster. Shindo menghela napas pasrah. Memang sulit berhadapan dengan orang keras kepala seperti Ochako.

"Jaga dirimu, Lady."

"Tentu, Shindo-sama."

Ochako memulai ritual mengelilingi pulaunya. Ia berjalan dari pintu rumahnya dan membawa kendi sambil merapal sesuatu. Seperti doa atau semacam itu karena bahasanya yang aneh.

"Bendithiwch fy ngwraig yfory, ni fydd y môr yn ein gwahanu.

Ni fydd y gwynt yn torri ein bondiau,

ni all hyd yn oed tân ein llosgi."

( Berkatilah pernikahan kami esok.

Samudera takkan memisahkan kita,

angin tidak akan memotong ikatan di antaranya,

bahkan api tak akan bisa membakarnya. )

Ochako terus membaca doa tersebut sepanjang langkah kakinya. Orang-orang yang melihatnya sedikit berbisik mengenai keanehan tradisi keluarga Spellcaster. Terlahir sebagai Spellcaster memang sedikit ... rumit. Manusia biasa tidak bisa menerima keberadaan mereka dengan mudah. Menjadi seorang Spellcaster, berarti sudah siap mati di tangan iblis.

Ochako tak menyalahkan pendapat tersebut, karena ia juga melakukan kontrak dengan makhluk tak kasat mata itu. Para Spellcaster menyebutnya Demon.

Setiap Demon mempunyai karakteristik elemen, seorang Spellcaster akan mempunyai kemampuan yang berbeda satu sama lain tergantung dari Demon tersebut. Demon milik Ochako mempunyai elemen tanah, dia bisa menciptakan segala sesuatu yang berhubungan dengan elemennya. Karena itu ia membawa kendi tanah liat ini sebagai simbol Demon miliknya.

Ketika seorang Spellcaster akan menikah, maka Demon yang melakukan kontrak dengannya juga harus menyetujui keputusannya. Untuk mendapat restu dari Demon adalah hal yang sulit. Demon Ochako mengajukan persyaratan; Ochako harus mengitari pulau ini sambil membawa kendi dan membaca mantera pernikahan.

Selain itu, Ochako juga harus mandi dengan bunga kamboja selepas ritual ini. Bagian tersulitnya adalah saat resepsi pernikahan nanti; ia harus meminta darah dari calon mempelai lelakinya untuk dimasukkan ke dalam kendi ini, untuk selanjutnya dibuat pemujaan yang harus dilakukan setiap hari. Ia pun wajib memberi tumbal seekor ayam ketika pemujaan dilaksanakan. Demon memakan mereka agar bisa hidup. Bila Demon mati, maka Spellcaster tersebut juga akan mengalami nasib yang sama.

Hidup seorang Spellcaster sangat bergantung kepada Demon. Mereka makhluk yang mengatur semua tata laku Spellcaster.

Dari cerita turun temurun yang Ochako dengar di keluarganya, Spellcaster adalah manusia yang mencoba menyamai kaum penyihir. Ochako belum pernah bertemu dengan penyihir, dan memang tidak ada yang pernah melihatnya. Namun ia tak akan terkejut bila bertemu dengan salah satu dari mereka.

Ochako meneruskan ritualnya hari ini, berharap calon suaminya tak akan keberatan dimintai darah saat resepsi nanti.


Katsuki berdecak kesal.

Masih sisa dua setengah hari sebelum sampai di Khamr. Dia bosan karena hanya bisa berdiam diri di dalam ruangannya. Dan dia harus seperti ini sampai dua hari ke depan? Jangan bercanda!

Katsuki menyetujui rencana pernikahan ini pun karena desakan kedua orang tuanya. Dia sendiri tidak terlalu mengenal Ochako selain sebagai teman bisnis. Dia adalah wanita yang cukup hebat, ya—mungkin. Katsuki tidak terlalu peduli dengan fakta itu. Yang dia tahu wanita itu adalah Spellcaster yang cukup disegani berbagai negara. Tentu saja karena kemampuannya, memangnya apalagi?

Tidak ada buku yang cukup bagus untuk dibaca. Katsuki sudah menghabiskan semua asupannya siang tadi. Ketika malam, dia bukannya mengantuk. Dia butuh sedikit udara segar.

"Yang Mulia, ada tanda-tanda aneh. Kabut menebal secara tidak wajar."

Seseorang masuk melalui pintu tanpa diketuk. Katsuki tidak terlalu mempermasalahkan hal sepele semacam itu. "Menebal? Maksudmu, Kirishima?"

"Todoroki bilang begitu. Ini bukan kabut malam biasa."

"Aku akan memeriksanya." Katsuki beranjak, melangkah menuju luar. Shouto yang masih mengamati keadaan sekitar segera berbalik saat mendengar langkah kaki.

"Yang Mulia, maaf atas kelancangan saya. Kabut ini tebal sekali, tidak biasanya." Shouto menunjuk ke arah depan. "Bisa-bisa kita tertabrak sesuatu."

"Aku tidak peduli. Apa kau punya solusi, Todoroki?" Katsuki menatapnya.

"Mungkin berhenti sebentar. Saya akan berenang untuk mengeceknya. Aku tidak begitu bisa menjalankan sampan."

"Kau bisa sakit, Todoroki!" sergah Eijiro. Berenang di malam hari tentu adalah ide konyol. Meski sebenarnya, Eijiro lebih tercengang dengan fakta salah satu Ksatria terkuat Talavara tidak bisa membawa sampan. "Solusimu gila!"

"Aku punya ketahanan terhadap dingin, kau tidak perlu khawatir."

"Bukan itu masalahnya!"

"Lalu apa, Eijiro? Yang Mulia, apa Anda keberatan?"

"Tidak sama sekali. Kalau kau memang sanggup, aku tidak akan melarangmu, Todoroki. Tapi jangan salahkan aku, semua resiko kau sendiri yang tanggung."

"Tentu. Eijiro, perintahkan kru lain menurunkan jangkar. Aku akan mulai berenang."

Eijiro memutar mata lelah. Dia mengenal Shouto sejak lama meski jarang bersua. Shouto sedikit ... unik. Pemikirannya kadang tidak masuk akal, tapi itulah dia. Shouto yang kontroversial; kata yang tepat untuk menggambarkannya menurut Eijiro.

"Semoga berhasil, kawan! Hei, turunkan jangkar sebentar!"

Shouto melepas pakaian atasnya dan bersiap terjun ke bawah. Menapaki tangga yang terbuat dari tali, berjalan turun pelan-pelan. Kira-kira lima meter dari posisinya untuk menuju permukaan air laut, mungkin sudah cukup pas.

"Apa menurutmu ini jebakan Bajak Laut, Todoroki? Kudengar mereka mempekerjakan Spellcaster juga." tentu saja Katsuki pernah dihadang bajak laut, saat perjalanan bisnis ke Adia, negara kepulauan di timur laut. Ada beberapa Spellcaster di kapal tersebut. Beruntung masih dapat diatasi karena mereka Spellcaster rendahan. Tidak ada yang bisa menebak masa depan, mungkin saja Bajak Laut kali ini lebih kuat.

"Mungkin saja. Tetapi aku harus tetap memastikan jalan di depan aman, Yang Mulia. Anda bisa kembali. Maaf mengganggu malam-malam."

Katsuki mendengus. "Sejujurnya aku bosan di dalam. Aku akan di sini sementara waktu."

Shouto mengangguk paham, dia lekas melompat dari kapal menuju air. Memang dingin, tapi Shouto baik-baik saja. Ia mulai berenang ke arah depan, melihat apa yang ada di balik kabut.

Katsuki melihat awak kapalnya di belakang berteriak heboh. Lantas ia mendengar suara ayunan pedang. Begitu rupanya. Mereka tahu pola pikir Shouto dan memanfaatkannya.

"Jangan bergerak! Serahkan semua yang kau miliki di kapal ini!" beberapa orang menuju Katsuki dan mengarahkan pedang kepadanya yang sama sekali tidak bersenjata. Katsuki menyeringai.

"Heh, coba saja."

Katsuki menunduk dengan cepat, memutar kaki dan membuat mereka semua terjatuh. Katsuki mengambil paksa salah satu pedang, lalu berbalik mengancam.

"Kepalamu tidak cukup berharga, sayang sekali."


Shouto sudah berenang cukup jauh, tapi tidak ada tanda-tanda mencurigakan. Semua ini hanya kabut. Tetapi Shouto masih belum yakin. Dia memutuskan untuk berenang sedikit lebih jauh lagi.

Tubuhnya cukup tahan terhadap air atau suhu dingin. Kalau ditanya kenapa, Shouto juga tidak tahu. Dari kecil ia sudah seperti ini. Disaat orang lain kedinginan, dia bahkan tidak pernah merasakannya. Mungkin dia memiliki suatu kelainan? Shouto bertanya pada diri sendiri.

Shouto tak menemukan apa-apa. Maka ia memutuskan untuk memutar balik. Kalau memang ini ulah Bajak Laut, mereka pasti sudah menyerang kapal. Shouto tak begitu khawatir, karena semua awak kapal adalah orang Talavara. Mereka bisa menjaga diri mereka sendiri. Tinggal mencari tahu siapa dalang di balik semua ini.

Shouto merasakan sebuah hawa yang aneh. Ia menoleh ke berbagai arah dan menemukan ketidakwajaran di arah jam sembilan.

"Apakah kau Todoroki Shouto yang terkenal itu?"

Shouto bingung, ia sedang berada di air jadi gerakannya akan terhambat. Siapa ... siapa yang memanggilnya? Ia hanya bisa merasakan, namun tak mampu melihat wujudnya karena kabut sialan ini. Shouto terus bersikap waspada.

Syuuuttt!

Shouto buru-buru menurunkan kepala ke dalam air. Ia melihat sesuatu berwarna hitam panjang melintasi permukaan. Telat satu detik, kepalanya mungkin sudah putus saat ini. Ia yakin benda itu cukup tajam karena ia mendengar suara angin terpotong karenanya.

Shouto memunculkan kepala lagi, kali ini kabut mulai menipis. Ia bisa melihat sesosok hitam muncul dengan mata merah menyala. Sayap hitamnya begitu lebar, dengan paruh warna kuning—

Yang Shouto tahu, wujud itu bukanlah manusia maupun Spellcaster.