Anime/manga : Noragami
Disclaimer : Adachitoka-sensei
Warning : typo bertebaran, boyslove, shonen-ai
2. Be a good boy
Matahari senja telah menyinari Kota Yokohama dengan sinar jingganya, membawa kehangatan bagi orang-orang yang baru saja keluar dari kantor ber-ac tempat mereka bekerja. Tidak hanya orang kantoran, anak kecil dan lansia pun dengan wajah berseri-seri membuat piknik kecil-kecillan di sebuah ruang terbuka hijau.
Jalanan kota semakin ramai. Kendaraan beroda empat mendominasi setiap perempatan jalan. Tak hanya itu, siswa dan siswi dari SMA terdekat terlihat mengayuh sepeda mereka di lintasan khusus sepeda. Canda tawa mewarnai kepulangan mereka ke rumah masing-masing-tampak tak peduli dengan beban tugas sekolah yang mereka pikul di bahu, atau mereka sengaja melupakannya?
Sebuah apartemen berdiri tak jauh dari pusat kota. Harga sewanya pun tak terlalu mahal, karena bukan termasuk apartemen elit yang berada di pusat kota. Penghuninya juga didominasi orang-orang berpenghasilan menengah kebawah dan siswa maupun siswi yang bersekolah tak jauh dari sana.
Yukine menatap pintu apartemen yang telah ditempatinya selama 2 hari. Ia merogoh saku celananya untuk mengeluarkan kunci cadangan yang diberika Yato tadi pagi kepadanya. Kemudian, pintu terbuka saat kunci telah diputar. Mata kuning cerahnya terlihat malas saat menangkap seonggok manusia tak berbusana tengah tertidur di sudut sofa.
Yukine melangkah masuk ke dalam ruangan yang masih gelap. Tangannya bergerak mencari saklar lampu. Dan saat saklar ditekan, ruangan pun terang-berbarengan dengan bangkitnya sosok yang teronggok di atas sofa.
"Yukine!"
Yukine memijit pelipisnya, entah sudah berapa kali dalam sehari manusia di depannya ini membuatnya pusing.
"Aku lelah." Yukine melenggang masuk ke kamar—mengabaikan Yato yang terbengong-bengong duduk di atas sofa.
"Hei! Setidaknya kau makan dulu!" Yato bangkit dari posisinya lalu mengekori Yukine yang masih berdiri depan pintu kamarnya…dan Yato. "Kau juga harus mandi! Aku tidak ingin tidur dengan orang yang masih bau keringat sepertimu!" perempatan kecil muncul di dahi Yukine.
"Aku tidak mau tidur denganmu. Kau tidur di sofa saja seperti kemarin." Yukine memutar kenop pintu hendak masuk ke kamar. Yato menahannya.
"Ayo lah Yukine! Badanku sakit tidur di tempat keras seperti itu." rajuk si kepala hitam, namun tak diindahkan oleh Yukine.
"Baiklah, aku yang tidur di sofa!" Yukine berbalik meningglkan kamar mereka, lalu duduk di sofa. Kedua tangannya bersidekap dan wajahnya ditekuk. Imut sekali!"
"Hei! Kau jadi anak bandel ya sekarang, Yukine." Yato ikut duduk di sebelah Yukine. Pandangannya tertuju pada pemuda pirang di sebelahnya, desahan nafas yang cukup keras keluar dari mulut Yato. Sepertinya ia sudah kehabisan akal membujuk pria manis itu.
"Nafasmu bau!" cibir Yukine tanpa menoleh ke arah Yato.
"Yukine…"
Yukine melirik Yato dari sudut matanya. Alisnya sedikit tertekuk karena mendengar Yato berbicara dengan nada sopan, apa lagi pemuda itu tidak membalas cibirannya tadi. Merasa aneh dengan sikap Yato, Yukine pun menoleh sepenuhnya—menatap pria bermanik biru tua di hadapnnya.
"Kau membenciku?"
Terkejut, Yukine pun hanya diam—membiarkan Yato menyelesaikan kalimatnya. "Apa kau masih marah dengan kejadian 3 tahun yang lalu?"
Yukine bisa merasakan jantungnya berhenti sejenak. Pikirannya mulai melayang mengingat kejadian 3 tahun lalu. Saat liburan musim panas di desa. Ketika untuk pertama kalinya, matanya menatap manik sebiru langit—sama seperti yang ada di hadapannya saat ini. Yang berbeda hanya, wajah rupawan itu tidak ternodai darah segar.
"Aku mungkin tidak akan menerima maaf darimu." Yato terlihat menundukkan kepalanya, nampak menyesal dengan segala perbuatannya 3 tahun lalu. "Tapi, aku tidak bisa untuk tidak peduli padamu. Kau itu sudah seperti adikku sendiri!"
Manik kuning cerah itu membundar sempurna. Ia menatap Yato di depannya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Jadi selama ini…dia menyesal?" Yukine membatin. Sedangkan Yato masih menyembunyikan wajahnya—tertunduk dalam.
"Yato…"
"Kau tidak perlu mengasihaniku." Yato mendonggakkan kepalanya, dan saat itu juga air mata dan ingus mengalir deras mengotori wajah tampannya. Yukine sampai bergidik ngeri dan berniat menjauhi pemuda itu. namun, Yukine kalah cepat untuk kabur. Yato berhasil menangkap pergelangan tangannya.
"Yukineee, tolong jangan membenciku!" rengek Yato sambil memeluk tubuh Yukine yang berhasil didekapnya. Ia menggosokkan wajahnya yang dipenuhi lendir menjijikan tersebut di punggung Yukine, tentu pemuda pirang itu merasa jijik. Namun detak jantungnya yang kembali tidak normal lebih mencuri perhatiannya.
Yukine terdiam seperti patung. Sedangkan Yato masih mengucapkan kalimat-kalimat aneh dari balik punggungnya. Ia bisa merasakan wajahnya menghangat seiring dengan dekapan yang Yato buat pada dirinya. Merasakan tubuh Yato tanpa jarak terhadap tubuhnya membuat Yukine merinding seperti kucing yang melihat air. Ia memejamkan kedua matanya—berusaha menenangkan detak jantunggnya yang masih menggila, bisa bahaya kalau Yato menyadarinya.
"Yato…" Yukine berbisik pelan. "Menjauh dariku, dasar menijikan!" teriak Yukine sambil melepas kedua lengan Yato yang melingkari pinggang langsingnya.
Yato bisa melihat wajah Yukine yang sepenuhnya memerah. Merasa bersalah, Yato cepat-cepat mengejar pemuda itu, namun Yukine sudak terlanjur membanting pintu tepat di depan wajahnya.
"Aww!" Yato meringis sakit saat ujung hidung mancungnya menyentuh permukaan pintu.
"Jangan ikuti aku!" Yukine berteriak dari dalam.
"Hei! Aku kan sudah minta maaf!"
"Aku tidak peduli!"
Yukine terduduk di ranjang berukuran qeen size, menatap keluar jendela yang berhadapan langsung dengan matahari terbenam. Meliat senja seperti ini membuat pikirannya melayang. Kenangan tiga tahun lalu, saat dirinya bersama Yato menghabiskan liburan musim mendominasi isi kepalanya.
Mengabaikan Yato yang masih berteriak di luar sana, Yukine merebahkan tubuhnya di atas kasur—membiarkan semua kenangan itu muncul seperti fil rusak di kepalanya.
.
Flashback
Yukine's POV
Matahari terasa begitu terik saat langkahku menginjak halaman rumah. Bunyi hewan khas musim panas tersengar dari segala penjuru. Nenek mengatakan kedapaku kalau hari ini seseorang akan datang ke rumah. Aku tidak tahu siapa dia. Namun nenek berkata aku akan meras senang dengan kedatangan orang itu. jadi dengan perasaan tak sabar aku menunggu orang tersebut di halaman depan—duduk pada bangku kecil yang nenek buat khusus untukku.
Saat pikiranku sibuk membayangkan bagai mana rupa orang yang telah mengirim surat dan berkata ingin bertemu denganku. Tiba-tiba, pintu gerbang yang terbuat dari rakitan bambu bergerak seiring dengan beberapa orang yang menyusul masuk.
"Nak, apa nenek ada di rumah?" tanya seorang wanita paruh baya padaku. Aku melirik sebentar ke arah dua laki-laki yang berdiri di belakangnya. Satunya adalah pria berumur sepantara dengan wanita di depanku, dan satunya lagi adalah remaja bersurai hitap dan bermanik biru cerah.
Seolah waktu berhenti, pandanganku langsung terpaku kepada remaja laki-laki itu. ia membalas tatapanku, lalu tersenyum ramah.
"Waah, kalian sudah datang rupanya!" nenek keluar dari rumah sambil membawa mangkuk besar berisi adonan kue. "Aku baru saja ingin membuatkan kue untuk kalian, tapi sepertinya aku terlambat." Nenek tertawa ramah, lalu disambut juga dengan senyum dari dua orang dewasa di depanku.
"Jangan repot-repot begitu, nek! Kami sudah membawa oleh-oleh untukmu dan Yukine-kun juga." Wanita itu menganggkat lebih tinggi kantong belanja besar yang di bawanya sejak tadi. Aku bahkan tidak menyadarinya.
Wanita itu menyentuh puncak kepalaku—mengacaknya sebentar lalu berjalan melewatiku untuk menghampiri nenek yang masih terkekeh.
"Terakhir kali aku ke sini kau masih sangat kecil, Yukine-kun." Pria dewasa yang ternyata suami dari wanita tadi pun ikut mengacak surai pirangku dengan gemas. Nah, sekarang rambutku sudah berantakan dengan sempurna. "Yato! Ajak Yukine bermain yaa." Dengan begitu, pria tadi pun mengilang di balik pintu bersama nenek dan istrinya.
Aku menatap remaja laki-laki yang lebih tinggi di hadapanku. Ia membalas tatapanku, namun tidak berkata apa pun. Aku menaikkan sebelh alisku bingung.
"Hei!" panggilku karena belum mengetahui namanya. Aku bisa melihat dia berjengit kaget saat aku memanggilnya. Sebuah senyum tersungging di bibirnya.
"Kau melupakanku?"
"Eh?!" aku terkejut dengan pertanyaannya. Bukankah sudah jelas kalau aku dan dia belum pernah bertemu sebelumnya?
Sebagai balasan, aku menggeleng. "Memangnya kita pernah bertemu?"
"Hahaa, kau lucu sekali Yukine." Dia semakin membuatku bingung. Lihatlah, dia tertawa sekarang! Mengejekku, huh?
"Kita pernah bertemu, Yukine." Ia tersenyum lebar sekarang. Namun, sedikit tawanya masih terlihat—remaja itu masih terkekeh rupanya.
"Kapan?" aku memiringkan kepalaku—menatapnya dengan pandangan bingung. Oh, ayo lah, kapan semua kebingan ini berakhir?
"Papa bilang kita bisa bermain bersama." Orang itu tiba-tiba menarik pergelangan tanganku ketimbang menjawab pertanyaanku. Dia menoleh saat aku tak ingin beranjak dari tempatku berdiri. Aku merasa kesal sekarang.
"Hei, jangan menekuk alismu seperti itu. jadi tidak imut lagi kan?" tangannya masih menggenggam pergelanganku. "Namaku Yato. Pahlawanmu!" ucapnya sambil membusungkan dada. Dia terlihat bangga saat mengucapkan kalimatnya tadi.
"Yato? Apa itu nama makanan?" aku bisa melihat raut kesal di wajahnya, namun cepat-cepat berubah seperti semula. "Bercanda. Jangan menganggapnya serius." Aku mengendihkan bahuku, sedangkan remaja laki-laki bernama Yato itu kembali tersenyum.
"Baikla, ayo kita bermain bersama!" lagi-lagi Yato menarik pergelangan tanganku, ingin menolak namun kekuatannya jauh dibandingkan aku. Dia terlihat ceria sambil mengucapkan beberapa kalimat yang aku tak bisa dengar maupun pahami.
Guk!
Suara Shion-anjingku terdengar dari halaman belakang. Aku lupa mengajaknya jalan-jalan hari ini!
"Yato, tunggu!" Aku menghentikan langkahku, dan Yato ikut berhenti karenanya. Kedua manik biru langit nya menatapku. "Aku lupa mengajak Shion jalan-jalan. Aku akan membawanya bersama kita."
"Waah, pasti sangat asik bisa bermain dengan Shion!" Yato melepas genggaman tangannya pada pergelangan tanganku, lalu berlari menuju halaman belakang dengan wajah berseri. Dia terlihat terlalu kekanakan di usianya sekarang ini. Itu membuatku terkekeh sesaat, lalu menyusulnya menuju halaman belakang.
"Shioon! Kau sudah besar yaa!" Yato langsung menerjang Shion yang tengah menggonggong ke arahnya—memeluknya erat seperti memeluk boneka tedy bear. "Aku merindukanmu."
"Eh?!" aku terkejut dengan ucapannya barusan. "Kau pernah bertemu dengan Shion?"
Yato mangabaikan pertanyaanku, dia lebih memilih tertawa bersama Shion yang terlihat begitu akrab dengannya. Bukannya ini kali pertama dia bertemu dengan Shion?
"Yukine! Ayo kita main di sini saja! Bersama Shion tentunya!" Yato terlihat begitu ceria. Aku memilih mengabaikan rasa penasaranku terhadap orang itu, dia seperti tahu segalanya tentangku, namun tidak bagiku. Yato masih orang asing di mataku.
Siang di pertengahan musim panas itu terasa begitu menyenangkan. Kebodohan Yato membuatku selalu tertawa. Dia ternyata orang yang sangat menyenangkan, aku telah salah menilainya.
Sampai saat musim panas hampir berakhir.
Ketika daun-daun mulai berguguran.
Shion sakit. Dan itu membuatku sangat sedih. Yato berusaha menghiburku setiap hari, bahkan dia memilih untuk menginap di rumah kecilku dibanding di villa mewahnya. Yato membantuku mengurus Shion, membantuku membersihkan kandangnya dan memberi makan. Aku sadar Shion tidak akan bertahan lama pada saat itu. aku selalu menangis saat melihat mangkoknya masih penuh. Shion tidak mau makan lagi.
Saat itu Yato ikut berjongkok bersamaku di sebelah Shion yang semakin kurus. Manik birunya menatap Shion dengan pandangan yang tak bisa kumengerti. Tangan kanannya bergerak menyentuh puncak kepala Shion—mengelusnya dengan sayang. Seulas senyum terukir di bibir Yato.
"Kau sudah berjuang menjaga Yukine selama ini. Terima kasih, Shion."
Lagi-lagi, Yato mengatakan hal aneh. Aku mengabaikannya dan memilih menangis lagi. Sangat sedih rasanya akan kehilangan Shion, ia adalah satu-satunya temanku sejak kecil. Aku bertemu dengan Shion saat hari natal. Kata nenek, Shion adalah hadiah natalku dari seseorang yang tak ingin namanya disebut. Awalnya aku penasaran dengan orang itu, namun hal itu tak berlangung lama, karena Shion membuatku lupa dengan rasa penasaranku.
Malam pun tiba. Yato kembali ke villa-nya. Sedikit berberat hati, aku melambaikan tanganku saat menghantarnya pulang. Aku tahu, remaja itu akan kembali ke kota setelah liburan musim panas berakhir.
"Yukine, dua hari lagi…" Yato menggaruk belakang kepalanya. Dia terlihat gugup sekarang. "Aku akan kembali ke Kota, jadi… apa kau mau mengantarku ke stasuin?" aku bisa melihat wajah Yato memerah saat mengatakan kalimatnya. Dia malu rupanya.
Aku memasang senyum terbaikku, lalu berkata dengan semangat, "Tentu!"
Kami pun berpisah di persimpangan jalan. Yato kembali ke villa-nya dan aku pulang ke rumah nenek. Aku menyempatkan diri melihat Shion di halaman belakang. Bisa kulihat bulu putihnya mulai rontok, dan tubuhnya sangat kurus.
Aku mengelus kepalanya, mengucapkan berbagai kata penyemangat yang aku yakini Shion tidak akan mengerti. Tiba-tiba aku memikirkan Yato di saat-saat seperti ini. Rasanya ada yang kurang tanpa dirinya. Dia akan pulang, dan aku pasti akan sangat merindukannya.
"Aku akan merindukannya?" aku membeokan isi pikiranku. Mengapa aku harus merindukan Yato.
Menggelengkan kepala, aku berusaha menghilangkan bayangan Yato dari pikiranku.
Malam pun datang denga sekejap mata. Aku terbangun di tengah malam karena kehausan. Di luar angina berhenbus cukup keras, membuat daun-daun kering terus berguguran.
Saat kakiku melangkah menuju dapur. Aku mendengar suara aneh dari halaman belakang. Pelan-pelan kulangkahkan kakiku menuju arah senbaiknya dari dapur, tujuanku adalah melihat apa yang terjadi di halaman belakangku.
Jantungku teras berhenti berdetak saat melihat sosok itu berdiri di halaman belakang dengan sebuah parang yang berlumuran darah di tangannya. Dia adalah Yato!
Yato berbalik dan kini aku dan dia sedang berhadapan. Manik biru yang biasanya bersinar cerah itu terlihat redup di bawah sinar bulan. Aku menoleh ke arah onggokan gumpalan daging di sebelah Yato berdiri. Saat aku menyadari onggokan yang berlumuran darah itu, rasa mual mulai kurasakan. Aku bisa melihat Yato yang berjalan mendekatiku—masih dengan parang di tangan kanannya.
Yato membunuh Shion?!
Aku terduduk di lantai saking terkejutnya. Sedangkan Yato semakin mendekat ke arahku. Apa aku akan menjadi korban selanjutnya?!
Batinku berteriak panik, namun saat Yato berada cukup dekat denganku. Sebuah tatapan aneh dia berikan kepadaku. Aku bisa melihat darah mengotori pipi putihnya. Bibirnya bergerak—mencoba mengatakan sesuatu padaku.
"Maaf, Yukine…"
.
.
.
tbc
